Politik

Bahaya di Pelupuk Mata

Taut Posted on Updated on

BAHAYA DI PELUPUK MATA

wahabi

Wahabi, di samping dua rekannya (Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir) yang sama-sama keras dan ekstrem, punya andil besar dalam berbagai kekerasan yang selama ini terjadi di seluruh dunia, baik kekerasan doktrinal, kultural, maupun sosial. Namun demikian, kebanyakan umat Islam Indonesia kerap tidak menyadari bahaya laten yang dibawa kelompok-kelompok garis keras ini semata karena kesadaran normatif yang begitu kuat. Umat Islam Indonesia selama ini cenderung melihat Islam sebagai identik dengan Arab, dan sebaliknya. Karena itu, setiap yang datang dari Arab nyaris tidak pernah dicurigai dan mudah diterima. Hal ini disebabkan kesadaran normatif Muslim Indonesia yang melihat Arab sebagai tempat diturunkannya Islam.

Karena alasan inilah umat Islam Indonesia tampak enggan mengkritisi Wahabi yang merupakan paham resmi penguasa Kerajaan Arab Saudi. Sejatinya, sikap hormat tidak perlu menafikan rasionalitas dan sikap kritis. Secara ringkas bisa dikemukakan bahwa agenda utama kelompok-kelompok garis keras adalah untuk meraih kekuasaan politik melalui formalisasi agama. Mereka mengklaim, jika Islam menjadi dasar negara, jika syari’ah ditetapkan sebagai hukum positif, jika Khilafah Islamiyah ditegakkan, maka semua masalah akan selesai.

Semua ini adalah utopia. Jika saja mereka memahami respon Ali ibn Abi Thalib kepada Khawarij menjelang Tahkim,[1] akan sangat jelas bahwa sebaik apa pun ajaran dan pesan agama sebagaimana termaktub dalam kitab suci, semua tergantung pada pembaca dan penganutnya, tentu mereka tidak akan memanfaatkan agama untuk meraih kekuasaan politik. Namun, sudah jamak disuarakan, gerakan-gerakan garis keras (terutama Wahabi) sebenarnya adalah reinkarnasi Khawarij. Karena itu, mustahil neo-Khawarij bersibuk memahami respon ‘Ali tetapi gigih mengkafirkan umat Islam lain yang berbeda dari atau bahkan bertentangan dengan mereka dan memperjuangkan formalisasi agama untuk mencapai tujuan politiknya.

Memang, tentu ada relasi antara berbagai permasalahan sosial dengan pengabaian terhadap ajaran agama. Seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kemiskinan, kebodohan, dan semacamnya. Tapi solusinya bukanlah pada formalisasi agama, melainkan pada perbaikan akhlak idividu-individu sebagai para penganut agama. Solusi formalisasi agama lebih sebagai dalih untuk mencapai suatu tujuan politik daripada untuk memperbaiki permasalahan sosial. Karena permasalahan sebenarnya bukanlah pada agama yang tidak diformalkan tetapi pada para penganut agama yang mengabaikan pesan-pesan luhur agamanya.

Formalisasi agama jelas sangat membahayakan, baik bagi agama itu sendiri maupun penganutnya/bangsa Indonesia. Dengan formalisasi, agama akan diamputasi sedemikian rupa, dilepaskan dari konteks sosial dan kultural masa risalah, disapih dari pertumbuhannya sepanjang sejarah, dan pesan-pesannya akan ditentukan berdasarkan bingkai ideologis dan/atau platform partai politik. Dalam situasi demikian, identitas dan simbol-simbol keagamaan menjadi bagian terpenting, bahkan lebih penting dari substansi pesan agama itu sendiri, untuk diperjuangkan. Mereka mengejar simbol-simbol, bukan mengamalkan substansi ajaran agama.

Beberapa contoh gairah memperjuangkan simbol ini bisa dikemukakan, baik yang bersifat personal maupun publik. Sebuah riwayat menuturkan bahwa Tuhan akan mencintai hamba-hamba-Nya yang mempunyai tanda hitam di dahinya. Berdasarkan riwayat ini, sangat banyak aktivis kelompok garis keras yang berusaha membuat dahinya hitam, padahal yang dimaksudkan adalah banyak bersujud, beribadah, berserah diri kepada Allah swt., berusaha mencinta-Nya dengan sepenuh hati sehingga dia juga akan mencintai seluruh makhluk-Nya. Mereka berpikir bahwa tanda hitam itu akan ditunjukkan sebagai bukti kepada Tuhan kelak di akhirat, padahal Allah swt. melihat hati dan perbuatan, bukan simbol-simbol. Demikian pula dengan jenggot dan pakaian. Dugaan terbaik, hal ini disebabkan tidak adanya kemampuan membedakan antara substansi ajaran agama dari simbol-simbol keagamaan atau budaya. Hal ini wajar, karena pemahaman mereka bersifat harfiah belaka. Namun kemungkinan lainnya, semua ini digunakan sebagai identitas politik untuk membedakan dari kelompok lain yang moderat dan toleran, yang memahami pesan agama lebih pada tataran substansi daripada tataran dan tanda artifisial.

Pembacaan secara harfiah dan mengutamakan simbol-simbol ini akan mengarahkan umat menjadi monolitik, penyeragaman. Tidak heran jika kelompok-kelompok garis keras kemudian menolak pluralisme, baik pluralisme agama-agama maupun dalam agama. Hal ini sangat berbahaya karena tidak akan pernah ada celah untuk perbedaan, setiap yang berbeda, dengan menggunakan term-term teologis, akan divonis kafir, murtad dan semacamnya. Pengkafiran, kebiasaan buruk Khawarij dan para pengikutnya (neo-Khawarij) ini, belakangan sangat subur di Indonesia. Gejala ini seharusnya menyadarkan kita bahwa bahaya sebenarnya bukan jauh di luar negeri, tetapi sudah di dalam selimut.

Dalam hubungannya dengan agama-agama lain, dengan indah Nabi menuturkan, “Naknu abnd’u ‘alldt, abuna wahid wa ummuna syatta” (Kami [para rasul] adalah anak-anak para istri dari seorang laki-laki, ayah kami satu namun ibu kami banyak). Dalam keluarga umat manusia, para rasul mempunyai ayah (agama) yang sama, yakni Islam (dalam arti berserah diri kepada Tuhan), namun mempunyai ibu (syir’ah wa minhaj) yang banyak/berbeda-beda.[2] Ini adalah pengakuan atas pluralisme, dan inilah yang ditolak oleh kelompok garis keras.

Formalisasi hukum Islam sebagai hukum positif melalui Perda-perda Syari’ah di beberapa daerah merupakan strategi “desa mengepung kota” garis keras. “Jika daerah-daerah telah menerapkan syari’ah Islam sebagai hukum positif, maka tidak akan ada alasan untuk menolaknya secara nasional,” jelas tokoh-tokoh kelompok garis keras kepada peneliti kami terkait usaha formalisasi hukum Islam yang mereka lakukan. Sialnya, perda-perda dimaksud lebih merupakan aplikasi harfiah dan parsial atas hukum Islam, maka bisa dipastikan akan menimbulkan distorsi dan reduksi terhadap Islam itu sendiri, di samping diskriminasi dan alienasi terhadap non-Muslim maupun Muslim sendiri.

Seperti diketahui, kelompok-kelompok garis keras memahami teks-teks kegamaan secara harfiah, dan mengabaikan ayat-ayat dan hadits-hadits yang tidak mendukung kepentingan mereka. Maka pesan agama pun direduksi sebatas makna atau pesan yang bisa disampaikan dalam rangkaian huruf-huruf saja sesuai dengan ideologi mereka. Ayat-ayat atau hadits-hadits tentang peminum, pencuri, atau pembunuh misalnya, diturunkan ke dalam diktum hukum yang sangat harfiah dan dengan sanksi bermotif dendam. Pertanyaan mendasarnya, apakah ayat-ayat dan hadits- hadits tersebut dikemukakan memang untuk mencambuki peminum, membuntungi tangan dan kaki pencuri, dan membunuh para pembunuh? Jika jawabannya positif, di mana letak pesan utama Islam sebagai rahmat bagi seluruh makhluk dan misi Kanjeng Nabi Muhammad saw. untuk menyempurnakan akhlak mulia? Ketika rahmat dan akhlak mulia tidak lagi ditemukan dalam aplikasi pesan-pesan agama, maka pasti agama sudah dibaca secara keliru dan pemahaman seperti itu tidak bisa diterima.

Pembacaan secara harfiah dan parsial memang sangat menguntungkan untuk membingkai pesan-pesan agama dengan ideo- logi dan/ atau platform partai politik. Karena dengan dalih makna (harfiah), seseorang atau kelompok tertentu bisa menyembunyikan agenda politiknya pada saat membajak ajaran agama. Siapa pun yang tidak akrab dengan kompleksitas ta’wtl teks-teks keagamaan sebagaimana populer di kalangan ulama Ahlussunnah <wal-]arna’ah, bisa kesulitan menghadapi klaim-klaim teologis kelompok-kelompok garis keras yang didasarkan pada makna-makna harfiah. Bahkan, mereka yang berpendidikan tinggi sekalipun bisa ditipu untuk mendukung agenda politiknya, seperti dibuktikan dalam studi ini bahwa banyak mahasiswa dan para profesional yang simpati dan bahkan menjadi pengikut PKS atau HTI.

Formalisasi agama memang anak kandung pembacaan harfiah atas teks-teks agama dan sangat berbahaya, baik bagi agama itu sendiri, para penganutnya, maupun penganut agama yang berbeda. Pesan-pesan luhur agama direduksi pada tingkat kepentingan ideologis, pemaknaan yang monolitik akan mengarah pada penyeragaman para penganut agama, dan penganut agama yang berbeda akan terpinggirkan, teralienasi dari komunitas umat beragama yang ekstrem. Di sini pluralisme terasa ganjil bagi pejuang formalisasi agama, karena formalisasi dan pemaknaan harfiah ini pula, kelompok-kelompok garis keras sulit menerima kehadiran non-Muslim dan Muslim dengan paham yang berbeda.

Memang, dalam salah satu riwayat diceritakan bahwa Kanjeng Nabi Muhammad saw. berkata, “Aku diperintahkan memerangi siapa pun hingga mereka bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah” (Umirtu an uqdtil al-nds hatta yasyhadu la llak ill Allah). Di tangan kelompok garis keras, ini jelas keteladanan untuk menghabisi non- Muslim, dan perang melawan non-Muslim menemukan landasan legal-teologisnya. Namun ini bukanlah satu-satunya pembacaan. Hadits ini bisa bermakna lain dalam hati siapa pun yang akrab dengan kompleksitas ta’uill dan peduli pada keseluruhan pesan Islam dan misi Nabi saw.

Jika Islam merupakan rahmat bagi seluruh makhluk (bukan hanya Muslim), maka tidak mungkin Nabi menyatakan dirinya diperintahkan membantai non-Muslim. Jika misi Nabi adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia, maka pembunuhan, dari sudut pandang mana pun dan terhadap siapa pun, sangatlah tidak bermoral. Maka hadits ini harus dibaca dalam konteks keseluruhan pesan Islam dan misi Nabi saw. Pembacaan secara parsial hanya akan menyebabkan agama menjadi sumber kebingungan.

Berdasarkan mata rantai transmisinya, hadits ini bisa diterima memang dikemukakan oleh Nabi saw. Namun harus ditekankan, kalimat tauhid sebagai kata kunci dalam hadits tersebut bukanlah dalam makna formal, di dalamnya tidak disertakan penyaksian bahwa Muhammad adalah utusan-Nya. Maka, pertama, kalimat tauhid tersebut menekankan makna hanya menuhankan Allah semata, apa pun agamanya. Dalam ungkapan lain bisa dikemukakan, “hingga mereka berserah diri, tunduk, dan patuh kepada Allah SWT.,” dan tidak menuhankan apa pun selain-Nya, seperti kekuasaan, kekayaan, politik, dan berbagai bentuk arogansi lainnya. Sangat masuk akal kalau mereka harus diperangi, karena siapa pun yang menuhankan kekuasaan, kekayaan, politik, dan semacamnya, sebenarnya menuhankan hawa nafsunya, dan akan melakukan apa pun demi memuaskan pujaannya. Namun tentu saja perang harus dilakukan dalam kerangka akhlak mulia, seperti penyadaran, membela diri, dan semacamnya.

Kedua, perintah memerangi ini bukan dalam konteks memaksa siapa pun masuk Islam. Karena jika dimaknai demikian, akan bertentangan dengan penegasan al-Qur’an sendiri bahwa “tidak ada paksaan dalam agama” {la ikrah fi al-din [QS. 2: 256), maka siapa pun boleh beriman dan siapa pun boleh kafir (fa man sya’a fal-yu’min wa man syd’a fal-yakfur [QS. 18: 29]). Maka perintah memerangi siapa pun yang tidak bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah bukanlah dalam konteks teologis, tetapi sosiologis. Namun di tangan kelompok-kelompok garis keras, makna harfiah inilah yang dipegang teguh dan mereka lupa bahwa “tidak ada paksaan dalam agama,” bahwa “Islam adalah rahmat bagi seluruh makhluk” (bukan Muslim saja), dan bahwa “Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.”

Jelas bahwa literalisme tertutup dan formalisasi agama amat berbahaya, baik pada tataran epistemologis maupun praksis. Maka sangat penting untuk menyadari bahaya laten kelompok-kelompok garis keras yang biasa dengan literalisme tertutup dan mengagendakan formalisasi agama. Formalisasi agama yang diperjuangkan kelompok-kelompok garis keras lebih didorong oleh motivasi politik daripada agama. Dari sudut pandang manapun, sulit menerima politisasi agama sebagai bagian dari ajaran agama, karena formalisasi agama sendiri adalah pengebirian terhadap agama itu sendiri. Bagi mereka, agama sudah menjadi tujuan. Maka agama pun, secara meyakinkan, akan kehilangan pesan-pesan luhurnya, yang tersisa hanyalah simbol-simbol keagungan agama itu sendiri. Ini merupakan salah satu kesalahkaprahan dalam melihat dan memahami agama. Seharusnya, agama dilihat dan diikuti sebagai petunjuk, sebagai jalan, menuju Ilahi agar penganut agama menjadi manifestasi substansi pesan utama dan luhur agama. Ketika agama menjadi tujuan, maka Tuhan pun sirna dalam semesta keagamaan itu sendiri. Dalam konteks inilah, formalisasi agama terlihat jelas tidak didorong oleh motivasi agama, melainkan politik.

Bahaya formalisasi agama menjadi semakin kuat, dalam kasus Indonesia, karena didukung dengan sumber dana yang kuat serta sistem penyusupan yang terencana. Sudah jamak diketahui bahwa dana Wahabi leluasa mengalir ke Indonesia, dari pihak penguasa seperti tidak peduli, seakan dana itu tidak membawa agenda terselubung yang merupakan benih bahaya laten bagi Indonesia.

Di samping sebagai imbalan dalam relasi simbiosa mutualistik antara gerakan-gerakan transnasional dengan kaki tangannya di Indonesia, dana tersebut juga digunakan untuk menyebarkan gagasan formalisasi agama dan membangun sistem penyusupan ke semua bidang kehidupan bangsa Indonesia, mulai dari istana hingga ke kampung-kampung, dalam instansi-instansi pemerintahan dan masyarakat sipil, bahkan dengan cara-cara yang selama ini hampir tak terpikirkan kecuali oleh para penyusup itu sendiri.

Seperti telah dikemukakan, penting disadari bahwa banyak gerakan kelompok garis keras memang sejak awal sudah melakukan rekrutmen dengan sistem sel, dan siapa pun yang berhasil direkrut akan dibina dalam beberapa tahap ‘pembinaan’, seperti ta’rtf (pengenalan dan penanaman ajaran), takwin (pembentukan pribadi sesuai ajaran), dan tanftdz (eksekusi ajaran).[3] Peneliti kami mendapat informasi dari seorang anggota keluarga pendukung PKS di Jakarta bahwa, ketika terjadi perselisihan pribadi di antara dua bibinya, salah seorang darinya mengancam akan melaporkan perselisihan pribadi tersebut ke pengurus partai. Kasus ini mengingatkan pada kontrol pemerintahan komunis-Stalin di Uni Soviet yang sentralistik dan berusaha mengontrol semua aspek kehidupan rakyat.

Dengan perekrutan sistem sel seperti ini, dan dengan dukungan dana yang kuat, penyusupan yang mereka lakukan sangat terencana dan berbahaya. Mereka menyusup ke tempat-tempat peribadatan seperti masjid-masjid, ke dunia pendidikan seperti kampus-kampus dan bahkan ke beberapa pesantren yang biasanya diawali dengan pemberian buku-buku yang mengandung virus gagasan garis keras, ke media massa dan penerbitan, ke dunia bisnis, bahkan ke partai politik dan pemerintahan. Di samping menyusup ke masjid-masjid dan dunia pendidikan, garis keras juga membangun masjid-masjid baru atau merenovasinya dengan dukungan dana Wahabi seperti antara lain di Kabupaten Magelang, dan mendirikan sekolah-sekolah “terpadu” sendiri di bebagai daerah. Ini merupakan bentuk lain perkawainan Wahabi-Ikhwanul Muslimin yang berlangsung di Indonesia.

Memang, bantuan masjid dipandang berguna dan terhormat. Tapi ketika itu disertai dengan syarat agar mendukung partai politik tertentu, agar menerima ajaran tertentu, itu merupakan penyusupan ajaran sekte dan agenda politik. Mereka membangun mesjid bukan untuk menyediakan tempat ibadah, tapi untuk membangun sarana penyebaran ajaran dan kampanye partai. Ini merupakan aksi memanipulasi rakyat yang polos dengan ideologi dan dana asing (Arab Saudi) yang luar biasa besar untuk merebut kekuasaan di negara Republik Indonesia, sementara pada saat yang sama mereka meneriakkan adanya ancaman asing (Barat) terhadap Indonesia. Karena alasan inilah Muhammadiyah mengeluarkan SKPP Muhammadiyah Nomor 149/Kep/I.0/B/2006 yang melarang dan mengamanahkan para pengurus agar mengusir PKS keluar dari Muhammadiyah,

“…Muhammadiyah pun berhak untuk dihormati oleh siapa pun serta memiliki hak serta keabsahan untuk bebas dari segala campur tangan, pengaruh, dan kepentingan pihak manapun yang dapat mengganggu keutuhan serta kelangsungan gerakannya” (Konsideran poin 4).

Segenap anggota Muhammadiyah perlu menyadari, memahami, dan bersikap kritis bahwa seluruh partai politik di negeri ini, termasuk partai politik yang mengklaim diri atau mengembangkan sayap/kegiatan dakwah seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) adalah benar-benar partai politik. Setiap partai politik berorientasi meraih kekuasaan politik. Karena itu, dalam menghadapi partai politik manapun kita harus tetap berpijak pada Khittah Muhammadiyah dan harus membebaskan diri dari, serta tidak menghimpitkan diri dengan misi, kepentingan, kegiatan, dan tujuan partai politik tersebut.” (Keputusan poin 3)

Gaya-gaya seperti ini, yakni menyediakan dan memperbaiki sarana peribadatan (masjid) tetapi untuk tujuan politik, mengingatkan pada kasus ketika KNIL berusaha masuk ke Indonesia dengan membonceng pada Pasukan Sekutu. Usaha demikian selalu dilakukan karena sudah sejak awal merasa bahwa kedatangannya akan ditentang dan ditolak, sejak awal tidak ada rasa percaya diri karena memang berlawanan, bahkan bertentangan, dengan tradisi keberagamaan bangsa Indoensia.

Ada kontradiksi yang jelas antara tradisi dan budaya keberagamaan bangsa Indonesia dengan kelompok-kelompok garis keras yang secara kultural berkiblat ke Timur Tengah. Tradisi keberagamaan bangsa Indonesia kental dengan nilai-nilai spiritualitas yang diwarisi dari generasi ke generasi, tradisi yang sebenarnya dimusuhi oleh kelompok-kelompok garis keras. Tradisi ini mengajarkan dan menekankan pola hidup berdampingan secara damai, baik dengan sesama manusia maupun alam, baik dengan yang berkeyakinan sama maupun beda, yang menerima perbedaan sebagai realitas dan kekayaan yang harus dihargai. Pola keberagamaan demikian tidak akan pernah lekang oleh panas dan tak akan pernah lapuk oleh hujan, akan selalu sesuai dengan perkembangan sejarah dan perkembangan hidup para penganutnya.

Memang, spiritualitas lebih menekankan rasa (Dzauq) dalam beragama, sedangkan rasionalitas (‘Aql) menjadi pendorong di dalamnya. Ini adalah pola keberagamaan para nabi seperti dialami oleh Nabi Ibrahim as. dan Nabi Musa as. ketika mencari dan berusaha mengenal Allah swt. Nabi Muhammad saw. pun, ketika menjelaskan relasi ‘ubuduyah manusia dengan Tuhan menyatakan, “Mengabdilah kepada-Nya seakan-akan kamu melihat-Nya. Namun jika kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.”

Ungkapan seakan-akan menegaskan bahwa potensi inderawi (hiss) dan rasional {‘aql) memang berguna dalam beragama, namun ia harus dilampaui, kemudian rasa (dzauq) yang akan berperan penting dalam merasakan kehadiran Ilahi. Keluasan dan keluhuran ajaran dan pesan agama tidak bisa dibingkai semata oleh akal dan aktivitas jasmaniah, apalagi ideologi dan platform partai politik. Ia hanya bisa ditampung oleh keluasan rasa, kelapangan hati. Dalam konteks inilah, firman Allah swt. dalam hadits kudsi yang menyatakan, “Bumi dan langit-Ku tidak mampu menampung-Ku, tetapi hati hamba-Ku yang beriman,” harus direnungkan secara mendalam. Maka penolakan atas spiritualitas jelas merupakan sebuah arogansi beragama. Dan inilah, terutama, yang ditolak oleh kelompok-kelompok garis keras.

Kelompok-kelompok garis keras sangat berbeda, bahkan hingga tingkat tertentu bertentangan, dengan tradisi dan keberagamaan spiritualistik ini. Mereka telah mereduksi agama menjadi sebatas kerangka tanpa daging, bahkan tanpa jiwa dan perasaan. Hal ini disebabkan pemahaman mereka yang harfiah dan tertutup, yang menyapih agama dari konteks historis, sosial, dan budaya pada masa risalah dan sesudahnya hingga saat ini. Pendekatan ini telah membuat mereka terpaku pada huruf-huruf dan tidak menyadari adanya makna-makna yang lebih luas daripada sekedar yang terkandung dalam huruf-huruf tersebut. Keluhuran dan keluasan agama direduksi sebatas makna-makna harfiah yang tertutup. Tiadanya kesadaran ini pula yang telah membuat mereka membuat klaim-klaim kebenaran sepihak dan pada saat yang sama memvonis salah dan sesat setiap yang berbeda, karena mereka tidak mampu memahamai realitas batin pihak lain. Padahal keberagamaan seseorang tidak diukur oleh aktivitas jasmaniah maupun intelektual, melainkan oleh kedalaman hati tanpa menafikan keduanya.

Sikap monolitik dalam beragama tidak pernah memberi ruang pada perbedaan. Dengan klaim-klaim teologis pula, mereka ingin menegaskan bahwa hanya merekalah yang benar, dan karena itu akan termasuk dalam kelompok yang selamat (ma ana ‘alaih wa ash-habi). Tuduhan-tuduhan kafir dan musyrik kepada orang lain jelas merupakan pembunuhan karakter, rekrutmen psikologis, dan sangat politis. Sulit mencari landasan teologis untuk membenarkan tuduhan-tuduhan demikian. Karena, andai mereka memang memiliki pengamalan keagamaan yang tulus, keyakinan keagamaan yang luas dan mendalam, tentu hati mereka akan lapang melebihi keluasan langit dan bumi, sehingga tidak akan pernah sesak oleh keragaman maupun perbedaan, bahkan dengan pertentangan sekalipun. Keberagamaan yang tulus tidak akan menyediakan ruang untuk kebencian, akan selalu berpikir positif (husn al-zhann) terhadap siapa pun dan lebih mewaspadai realitas dirinya. Sehingga, ketika Kanjeng Nabi Muhammad saw. menyatakan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, Muslim yang sejati tidak akan sibuk mencari siapa yang tidak atau belum termasuk ke dalam Ma Ana ‘Alaih Wa Ash-Habi sehingga pantas dikafirkan, tetapi akan berpikir apakah dirinya sudah memenuhi kategori tersebut.

Keberagamaan yang monolitik jelas menjadi ancaman tidak hanya terhadap keamanan dan keselamatan bangsa Indonesia, tetapi juga terhadap budaya dan tradisi keberagamaan bangsa Indonesia. Pemaksaan selalu menelan korbannya sendiri, cukuplah tragedi Padri sekali saja, dan jangan sampai bahaya laten komunisme tendang lagi. Kelompok-kelompok garis keras tidak hanya mengklaim sebagai yang paling benar di antara sesama Muslim yang lain, mereka berjuang untuk mengubah tradisi dan budaya bangsa Indonesia. Disadari atau tidak, ini merupakan proyek formalisai agama yang akan berujung salah satunya pada realisasi wahabisasi global, penegakan Khilafah Islamiyah, atau Islamisasi negara Indonesia dan melenyapkan NKRI. Karena itu, melawan formalisasi Islam bagai sekali mengayuh dayung dua tiga pulau terlampaui: dengan menolak formalisasi Islam, kita akan menye- lamatkan Islam dari reduksi dan pembajakan demi kepentingan politik, menyelamatkan Pancasila, NKRI, budaya dan tradisi keberagamaan spiritual bangsa Indonesia, dan mengilhami umat Islam di negara-negara lain menolak ajaran palsu gerakan garis keras dan kembali kepada pesan-pesan luhur agama Islam yang benar-benar merupakan Rahmatan Lil-‘Alamin.

Sumber : ILUSI NEGARA ISLAM ILUSI NEGARA ISLAM : Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia

_____________

Catatan Kaki

[1] Dalam peristiwa tersebut Khawarij menemui ‘Ali dan mengutip ayat bahwa “(hak menetapkan) hukum hanya milik Allah (tn al-hukm iUd liLlah), dengan maksud agar ishldh yang ditawarkan Mu’awiyah ditolak dan perang diteruskan hingga yang terakhir ini menyerah. Ali, yang lebih memilih jalan ishldh, menjawab, “Kitab suci tidak membawa maknanya di atas pundaknya. Ia membutuh- kan pembaca untuk menyampaikan maknanya. Dan pembaca itu adalah manusia.” Manusia, potensial mencapai kebenaran, sebagaimana juga potensial jatuh pada kesalahan.

[2] “…Islam datang menguatkan agama-agama, dan membenarkan sebagian premisnya. Namun tidak mengatakan bahwa ia adalah sesuatu yang berbeda dari agama-agama sebelumnya, bahkan sebaliknya. Nabi selalu mengatakan, ‘Aku bukanlah sebagian dari para rasul. Kami bersama, para rasul adalah anak-anak ‘allat.’ ‘Allat adalah para perempuan yang kawin dengan seorang laki-laki. Ayah mereka, anak-anak ‘allat, ayah kami adalah agama yang satu, tauhid. Ibu kami banyak. Ibu-ibu artinya adalah syari’ah-syari’ah, syari’ah banyak. Dalam Islam dikatakan ada perbedaan syari’ah-syari’ah tapi bukan perbedaan agama. Syari’ah berbeda-beda, tapi agama tidak berbeda.” (Penjelasan Mariam Syarif al-Khalifa dalam: Lautan Wahyu: hlam sebagai Rahmatan lil’Alamin, episode 4: “Kaum Beriman,” Supervisor Program: KH. A. Mustofa Bisri, ©LibForAU Foundation).

[3] Untuk deskripsi lengkap mengenai tahapan-tahapan pembentukan sistem penyusupan ini, penting untuk membaca: Haedar Nashir, ibid., h. 7-35.

Gerakan Transnasional di Indonesia

Taut Posted on

GERAKAN TRANSNASIONAL DI INDONESIA

Relasi antara Wahabi dan kelompok-kelompok garis keras lokal memang tidak bisa sepenuhnya ditunjukkan secara organisatoris-struktural, karena lazimnya mereka malu disebut kaki tangan Wahabi. Di samping ada kontak-kontak langsung dengan tokoh-tokoh garis keras transnasional, relasi mereka juga berdasarkan kesamaan orientasi, ideologi, dan tujuan gerakan. Berbagai kelompok garis keras ini bekerjasama dalam beragam aktivitas yang mereka lakukan. Lazimnya, kelompok-kelompok ini memiliki relasi dengan organisasi transnasional yang diyakini berbahaya dan mengancam Pancasila, NKRI, dan UUD 1945, di samping juga merupakan ancaman serius terhadap Islam Indonesia yang santun dan toleran.

Di antara gerakan-gerakan transnasional yang beroperasi di Indonesia adalah, 1) Ikhwanul Muslimin yang didirikan oleh Hasan al-Banna di Mesir hadir di Indonesia pada awalnya melalui lembaga-lembaga dakwah kampus yang kemudian menjadi Gerakan Tarbiyah. Kelompok ini kemudian melahirkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS); 18 2) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dengan gagasan Pan-Islamismenya yang ingin menegakkan Khilafah Islamiyah di seluruh dunia, dan menempatkan Nusantara sebagai salah satu bagian di dalamnya; dan 3) Wahabi yang berusaha melakukan wa- habisasi global. Di antara ketiga gerakan transnasional tersebut, Wahabi adalah yang paling kuat, terutama dalam hal pendanaan karena punya banyak sumur minyak yang melimpah. Namun demikian, ketiga gerakan transnasional ini bahu-membahu dalam mencapai tujuan mereka, yakni formalisasi Islam dalam bentuk negara dan aplikasi syari’ah sebagai hukum positif atau Khilafah Islamiyah.

Kehadiran Wahabi di Indonesia modern tidak bisa dilepaskan dari peran Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Dengan dukungan dana besar dari Jama’ah Salafi (Wahabi), DDII mengirimkan mahasiswa untuk belajar ke Timur Tengah, sebagian dari mereka inilah yang kemudian menjadi agen-agen penyebaran ideologi Wahabi-Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Belakangan, dengan dukungan penuh dana Wahabi-Saudi pula, DDII mendirikan LIPIA dan kebanyakan alumninya kemudian menjadi agen Gerakan Tarbiyah dan Jama’ah Salafi di Indonesia. Dibandingkan dengan HTI, Wahabi memang jauh lebih dekat dengan Ikhwanul Muslimin. Kedekatan ini berawal pada dekade 1950-an dan 1960-an ketika Gamal Abdel Nasser membubarkan Ikhwanul Muslimin yang ekstrem dan melarang semua kegiatannya di Mesir. Banyak dari tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin saat itu melarikan diri meninggalkan negaranya.

  1. Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin didirikan oleh Hasan al-Banna di Mesir pada tahun 1928. Pada dekade ini Mesir dan Palestina dijajah Inggris, Maghreb dan Syria dijajah Prancis, sedangkan Libya dijajah Itali. Secara ideologis, penjajah Timur Tengah ini bisa dilihat dalam beberapa aliran. Inggris menganut liberalisme, sedangkan Itali yang sudah dikuasai Mussolini menganut fasisme. Fasisme (Fascism) berasal dari facses (Latin) atau fascio (Italia) yang adalah simbol otoritas Roma dan berarti batang-batang kecil yang diikat dalam satu-kesatuan dan karena itu sulit dihancurkan atau dipatahkan. Dengan kata lain, fasisme adalah simbol kekuatan melalui persatuan.

Copy (3) of ikhwanulmuslimin
Gambar : IslamicStudies

Tujuan Hasan al-Banna mendirikan Ikhwanul Muslimin, di antaranya, adalah untuk melawan penjajah, mengatasi kemunduran peradaban Islam, dan membawa umat Islam kembali kepada ajaran Islam yang murni. Sayangnya, al-Banna dan para pengikutnya tampak meyakini bahwa ideologi dan sistem gerakan fasisme Itali-Mussolini dan komunisme-Uni Soviet lebih berguna dalam mencapai tujuannya daripada liberalisme yang menjunjung tinggi kebebasan bagi setiap orang untuk mencari kebenaran dan mengamalkan ajaran agamanya. Di samping itu, al-Banna juga berkenal- an dengan gagasan Wahabi, dan sejak awal sekali pola pikir Totalitarianisme-Sentralistik Fasisme, komunisme dan Wahabisme sudah ada dalam DNA Ikhwanul Muslimin.

Secara faktual bisa dikatakan, Ikhwanul Muslimin adalah anak kandung ideologi Barat yang sekaligus memusuhi induknya. Dari fasisme-Mussolini Itali, Ikhwanul Muslimin mengadopsi sistem totalitarianisme dan negara sentralistik, namun menolak nasionalisme. Dari komunisme-Uni Soviet, mereka mengadopsi totalitarianisme, sistem penyusupan dan perekrutan anggota (cell system), strategi gerakan, dan internasionalisme, namun menolak ateisme. Berdasarkan fakta ini beberapa ahli menyebut Ikhwanul Muslimin dan garis keras lainnya sebagai Islamofasisme, yakni sebuah gerakan politik yang bertujuan mewujudkan kekuasaan mutlak berdasarkan pemahaman mereka atas al-Qur’an.[1]

Dalam membangun gerakan, Ikhwanul Muslimin menggunakan jaringan tarekat yang saat itu sangat banyak dan subur di Mesir. Bahkan hingga bisa dikatakan bahwa Ikhwanul Muslimin sendiri pada masa transformatifnya adalah sebuah tarekat namun dengan tujuan politik, bukan spiritual sebagaimana layaknya tarekat tasawuf. Maka dalam waktu yang relatif cepat, Ikhwanul Muslimin berhasil merekrut ratusan ribu anggota. Memang, salah satu motif awal Ikhwanul Muslimin adalah untuk melawan penjajah Inggris di Mesir dan tidak keras terhadap Muslim yang lain. Namun, karena watak dasar gerakan ini bersifat politis yang dikemas dengan busana agama, gairah politik sudah melekat erat dalam DNA gerakan ini. Motif politik dan keinginan merebut kekuasaan dengan semangat fasisme-komunisme ini membuat Ikhwanul Muslimin sering terlibat konflik dengan penguasa.

Berakhirnya penjajahan Inggris ternyata tidak menjadi peluang emas bagi Ikhwanul Muslimin untuk mewujudkan cita-cita politiknya. Merasa punya andil dalam usaha mengakhiri penjajahan, namun kemudian tidak berhasil secara politik, membuat Ikhwanul Muslimin menjadi keras dan fanatik. Hal ini mempertajam konflik dengan pemerintah ketika itu termasuk pembunuhan Perdana Menteri Mesir, Mahmoud an-Nukrashi Pasha pada Desember 1948— dan menyebabkan terbunuhnya pendiri Ikhwanul Muslimin, Hasan al-Banna oleh pemerintah Mesir.

Terbunuhnya Hasan al-Banna tidak membuat Ikhwanul Muslimin ikut mati, tapi semakin keras dan fanatik. Kegagalan politik Ikhwanul Muslimin ini bertemu dengan kekecewaan para opsir muda yang tidak sejalan dengan Raja Faruk ketika itu. Ikhwanul Muslimin tidak menyia-nyiakan peluang politik ini dengan mendukung gerakan para opsir yang berniat melakukan pemberontakan.

Keberhasilan pemberontakan para opsir (Free Officers Revolution) kembali terbukti tidak menjadi peluang bagi Ikhwanul Muslimin untuk meraih kekuasaan politik di Mesir, karena ideologi Ikhwanul Muslimin maupun gerakan para opsir memang berseberangan sejak awal. Gamal Abdel Nasser, salah seorang opsir yang terlibat dalam pemberontakan pada tahun 1954 dan kemudian menjadi Presiden Mesir pada tahun 1956, tidak mau berbagi kekuasaan dengan Ikhwanul Muslimin dan bergerak dengan gagasannya sendiri, Pan-Arabisme berdasarkan sosialisme. Ikhwanul Muslimin kecewa dan merasa dikhianati.

Sayyid Qutb, yang menjadi ideolog dan salah seorang pemimpin Ikhwanul Muslimin setelah al-Banna dibunuh, merasa penguasa ketika itu telah berbuat kejam dan aniaya. Kekecewaan politik Ikhwanul Muslimin membuat Qutb dan pemimpin yang lain bersikap lebih aggresif terhadap lawan-lawan politiknya. Ditangkap dan disiksa di penjara, Qutb menyerang penguasa Mesir melalui tulisan-tulisannya, dan menuduh siapa pun yang tidak mengikuti ideologi kerasnya sebagai murtad, kafir, dan halal darahnya. Karya-karyanya sarat dengan gagasan-gagasan seperti takfir, fir’aun, serta jahiliyah modern, yang dia gunakan untuk mengkategorikan siapa pun yang tidak sejalan dengan ideologinya. Di samping pengaruh gerakan Hizbut Tahrir yang dia peroleh dari pertemuannya dengan tokoh Hizbut Tahrir selama di penjara, semua ini jelas merupakan pengaruh Wahabisme. Di samping itu, gagasan-gagasan seperti revolutionary-vanguard dan International movements juga bermunculan dalam karya-karya Qutb, yang jelas merupakan pengaruh komunisme yang masih kuat pada masa itu.

Dalam tulisan-tulisan Qutb jelas terlihat bahwa para pengikut ideologinya harus memperjuangkan kekuasaan proletariat, supremasi ummah/syari’ah, serta terwujudnya negara Islam dan akhirnya khilafah yang sentralistik melalui revolutionary-vanguard, yaitu para pemimpin garis keras pengikut ideologi Qutb. Gagasan-gagasan Qutb ini mengilhami para pembacanya dari kalangan garis keras melakukan aksi-aksi kekerasan dan mengancam keselamatan jiwa para pejabat negara dan rakyat serta mengacaukan situasi politik tidak hanya di Mesir ketika itu, tetapi di seluruh dunia hingga dewasa ini. Secara ringkas bisa dikatakan, tulisan-tulisan Qutb mengilhami para pengikut ideologinya menggunakan kekerasan untuk meraih kekuasaan.

  1. Perkawinan Wahabi-Ikhwanul Muslimin

Tulisan-tulisan Qutb yang bernada menghasut membuat dia dieksekusi pada tahun 1966. Memang sejak tahun 1954 banyak pemimpin Ikhwanul Muslimin selain Qutb dijebloskan ke penjara oleh Nasser. Langkah represif penguasa Mesir ini membuat banyak tokoh dan anggota Ikhwanul Muslimin merasa tidak aman lagi tinggal di Mesir, dan Arab Saudi menjadi alternatif menarik. Di antara mereka yang melarikan diri ke Arab Saudi adalah Said Ramadan yang termasuk salah seorang pendiri Rabithath al-Alam al-Islami. Said Ramadan menantu Hasan al-Banna kemudian pindah ke Jenewa dan membawa Ikhwanul Muslimin ke Eropa dengan dukungan dana Wahabi untuk menguasai umat Islam Eropa agar menjadi pengikut ideologi Wahabi-Ikhwanul Muslimin. Tariq Ramadan putranya, cucu Hasan al-Banna melalui ibunya, sekarang adalah tokoh intelektual terkenal di Eropa.

Pada tahun 1960-an, Arab Saudi mengundang para tokoh Ikhwanul Muslimin termasuk di antaranya adalah adik kandung Sayyid Qutb, yaitu Muhammad Qutb untuk menyelamatkan diri ke Saudi. Muhammad Qutb kemudian menjadi dosen di King Abdulaziz University, Jedah, dan mengajar Osama bin Laden di antara murid lainnya.

Sikap Saudi ini merupakan refleksi ketakutan penguasa Wahabi atas gerakan Pan-Arabisme Gamal Abdel Nasser yang berdasarkan sosialisme dan jelas merupakan ancaman terhadap dominasi ideologis Wahabi-Saudi. Dengan mengundang Ikhwanul Muslimin, Saudi ingin sekali kayuh melampaui dua hingga tiga pulau. Pertama, Ikhwanul Muslimin yang merupakan musuh Gamal Abdel Nasser bisa menjadi sekutu strategis melawan Pan-Arabisme-Sosialisme Nasser. Kedua, para anggota Ikhwanul Muslimin yang terpelajar bisa membantu Saudi membangun dan memperkuat sistem penyebaran Wahabi ke negara lain di Timur Tengah dan akhirnya ke seluruh dunia (Wahabisasi global).

Pada dekade 60-an ini, perkawinan Wahabi-Ikhwanul Muslimin terjadi dan melahirkan keturunan gerakan garis keras yang banyak di seluruh dunia hingga dewasa ini. Keduanya berbagi fanatisme ideologis, ambisi kekuasaan sentralistik, orientasi internasional, dan formalisasi agama. Wahabi sendiri mempunyai dana besar terutama setelah harga minyak melangit pada tahun 1973 namun kurang atau tidak terdidik, sedangkan Ikhwanul Muslimin cukup terdidik namun tidak punya dana memadai. Kelak terlihat, perkawinan ini memang sangat strategis dan darinya lahir gerakan internasional dengan ideologi, sistem, dan dana yang kuat serta terus berkembang dan meluaskan diri ke seluruh dunia hingga dewasa ini.

Akhir 1970-an dan awal 1980-an merupakan suasana menegangkan bagi penguasa Saudi. Keberhasilan Revolusi Islam Iran pada tahun 1979, ditambah pemberontakan Juhayman al-Uteybi dan anak buahnya yang menduduki Masjidil Haram pada tahun yang sama, sudah cukup membuat penguasa Saudi sangat terancam. Pada dekade ini Presiden Mesir, Anwar Sadat terbunuh; dan Uni Soviet menguasai Afghanistan. Pada dekade 1980-an proyek Wahabisasi global dengan dukungan dana (Saudi) dan sistem (Ikhwanul Muslimin) bergerak jauh lebih cepat. Hal ini dilaksanakan melalui yayasan-yayasan Wahabi seperti Rabithath al-‘Alam al-Islami, al-Haramain, International Islamic Relief Organization (IIRO), dan banyak lainnya. Kelak al-Haramain ini menjadi terkenal saat PBB menyebutnya sebagai “terrorist-funding entity” yang membiayai aksi-aksi teror di banyak belahan dunia, termasuk Indonesia.

Perang Afghanistan melawan Uni Soviet memikat banyak anggota garis keras dari seluruh dunia, termasuk pendiri Laskat Jihad, Ja’far ‘Umar Thalib, dan beberapa pelaku kampanye teror Jamaah Islamiyah, termasuk Hambali, Imam Samudra, dan Ali Ghufron. Bahkan, Jamaah Islamiyah yang didirikan oleh mantan anggota Darul Islam, Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir— punya kaitan erat dengan al-Qaedah melalui Hambali, yang sebelum ditangkap termasuk pengurus inti al-Qaedah.

Secara struktural, para pengurus inti al-Qaedah beretnik Arab dan berasal dari Timur Tengah kecuali Hambali. Hambali adalah komandan militer Jamaah Islamiyah yang berjuang untuk melenyapkan NKRI dan menggantinya dengan khilafah internasional. Jamaah Islamiyah bertanggung jawab atas banyak peledakan bom di Indonesia seperti pemboman hotel Marriott, Bursa Efek Jakarta (BEJ), Bandara Soekarno-Hatta, Bom Bali, pemboman di berbagai gereja, dan usaha pembunuhan Duta Besar Filipina. Bahkan, bom di Masjid Istiqlal yang berskala kecil termasuk aksi JI sebagai usaha menumbuhkan sentimen keagamaan bahwa ada serangan terhadap Islam Indonesia.

Flag_of_al-Qaeda_in_Iraq_design_2.svg
Gambar : commons.wikimedia.org

Al-Qaedah adalah keturunan lain dari perkawinan Wahabi-Ikhwanul Muslimin, yang jelas terlihat dari kehadiran para Wahabi-Saudi yang dipimpin Osama bin Laden (murid Muhammad Qutb) dan Ayman al-Zawahiri bersama para pengikutnya. Al-Zawahiri yang sudah menjadi anggota Ikhwanul Muslimin sejak berusia 14 tahun sangat kuat dipengaruhi Sayyid Qutb, dan adalah pemimpin kedua al-Jihad —dikenal dengan nama Egyptian lslamic Jihad— yang bertanggung jawab atas terbunuhnya Presiden Mesir, Anwar Sadat pada tahun 1981.

  1. Hizbut Tahrir

Mengaku kecewa dengan Ikhwanul Muslimin yang dituding terlalu moderat dan terlalu akomodatif terhadap Barat, Taqiuddin al-Nabhani mendirikan Hizbut Tahrir pada tahun 1952 di Jerusalem Timur yang dikuasai Yordania. Menurut al-Nabhani, umat Islam —ketika itu— sudah dicemari pemikiran dan emosi kapitalisme, sosialisme, nasionalisme dan sektarianisme. Karena itu dia berambisi mendirikan Khilafah Islamiyah internasional yang akan diawali dari teritori Arab dan kemudian teritori Islam non-Arab.

hizbut-tahrir-logo
Gambar : Blackipedia

Setelah al-Nabhani wafat pada tahun 1977, Hizbut Tahrir dipimpin oleh Abu Yusuf Abdul Qadim Zallum yang wafat pada tahun 2003 dan kemudian digantikan oleh Ata Ibn Khaleel Abu Rashta. Radikalisme dan sikap agresif Hizbut Tahrir terus meningkat sejak pendiriannya hingga dewasa ini, karena itu Hizbut Tahrir dilarang di kebanyakan negara Islam di seluruh dunia, dan pusat gerakan internasionalnya sekarang berada di Inggris.[2]

Hizbut Tahrir mengklaim bahwa gagasan-gagasan yang mereka perjuangkan adalah murni Islam. Klaim ini tidak bisa dipisahkan dari situasi pada masa pendirian dan formatifnya di Timur Tengah serta penolakan sepenuhnya terhadap apa pun yang berasal dari atau berkaitan dengan Barat. Padahal, menurut Ed Husain (seorang mantan pemimpin Hizbut Tahrir di Inggris), di samping pengaruh al-Mawardi, pemikiran al-Nabhani jelas dipengaruhi oleh Hegel, Rousseau dan tokoh-tokoh Eropa lainnya. Bahkan, pemikiran politik al-Nabhani —dan dengan demikian Hizbut Tahrir sepenuhnya berasal dari pemikiran politik Eropa. Hanya saja, al-Nabhani mengganti term-term yang berasal dari Barat dengan term-term berbahasa Arab sehingga bernuansa Islam.[3]

Para tokoh Hizbut Tahrir melihat umat Islam dewasa ini berada dalam masa jahiliyyah sebagai akibat runtuhnya khilafah. Mereka bisa mengatasinya dengan mengakhiri ‘ketundukan’ pada Barat, memperoleh kembali identitas kolektifnya, dan yang terpenting menegakkan kembali khilafah internasional dan di dalamnya hukum Islam akan diberlakukan sebagai hukum positif. Dalam kaitan ini, Hizbut Tahrir meyakini bahwa hanya khalifah yang berhak memutuskan perang, karena itu hingga saat ini mereka menjalankan strategi penyusupan dan menunda cara-cara militer dan kekerasan dalam meraih kekuasaan,[4] sampai mereka yakin akan menang dan berhasil dalam merebut kekuasaan untuk mendirikan khilafah mereka.

Ada tiga tahap perjuangan Hizbut Tahrir dalam usaha menegakkan khilafah internasional. Pertama, membangun partai (hizb). Pada tahap ini para agen Hizbut Tahrir melakukan rekrutmen anggota baru, mereka membinanya dalam kurun waktu yang bisa berlangsung selama enam bulan hingga tiga tahun, tergantung pada progres masing-masing mereka. Tahap ini bisa dikatakan sebagai proses cuci otak dan pembentukan pribadi Islami a la Hizbut Tahrir, biasanya dilakukan dalam halaqah-halaqah. Pada tahap ini tokoh atau anggota Hizbut Tahrir juga akan membuka hubungan dengan umat untuk menyampaikan gagasan dan metode perjuangan mereka secara pribadi.

Kedua, berinteraksi dengan masyarakat. Dalam tahap ini, anggota yang telah lulus dari tahap pertama membentuk sel-sel baru dan mulai aktif mengaitkan kasus-kasus lokal dengan masalah-masalah global dan membakar massa untuk membangun ketegangan sosial antara rakyat dan pemerintah, untuk kemudian mulai menawarkan jalan Islam sebagai alternatif keluar dari ketegangan yang telah dibangunnya. Target utama mereka adalah untuk menyusup ke dalam pemerintahan dan militer, agar kelak melapangkan jalan dalam merebut kekuasaan.[5] Di seluruh dunia, tahap kedua inilah yang paling banyak beroperasi, dan agen-agen Hizbut Tahrir sudah aktif di lebih 40 negara, termasuk Indonesia di mana pada 12 Agustus 2007 mereka mengumpulkan lebih dari 80 ribu orang di Gelora Bung Karno untuk menyerukan pendirian Khilafah Islamiyah dan melenyapkan Pancasila dan NKRI.

Ketiga, merebut kekuasaan. Tahap terakhir ini akan dilancarkan setelah mereka yakin akan menang dan berhasil merebut kekuasaan, yang antara lain akan ditandai dengan tingkat keberhasilan mereka menyusup ke dalam pemerintahan dan militer. Setelah berkuasa, mereka siap memaksakan penafsiran tentang Islam a la Hizbut Tahrir dalam semua bidang kehidupan umat manusia.[6]

Secara umum, sebagai akibat dari obsesi ideologi politik mereka, Hizbut Tahrir hampa spiritualitas sehingga gerakan yang dibangunnya kering dan cenderung supremasis. Bahkan, dalam banyak kasus, mayoritas aktivis Hizbut Tahrir tidak mengerti tentang Islam dan hanya mengetahui aspek-aspek yang sangat artifisial. Sangat ironis, bagaimana mungkin mereka yang tidak mengerti tentang Islam akan memperjuangkan Islam.[7] Lemahnya pemahaman yang mendalam ini menjadi penyebab utama mereka terlena dan tergoda memperjuangkan gagasan yang dikemas dalam term-term Arab yang identik dengan Islam. Secara umum, retorika kelompok-kelompok seperti ini adalah pengantar pada aksi-aksi kekerasan. Di dalamnya agama telah dimanipulasi sedemikian rupa untuk menyediakan dorongan teologis bagi para pengikut garis keras agar bersedia melakukan apa pun, hingga membunuh atau bunuh diri sekalipun jika dibutuhkan, demi mencapai tujuan politik mereka.

a. Tiga Aspek Kekerasan

Ketiga gerakan transnasional ini (Wahabi, Ikhwanul Muslimin, dan Hizbut Tahrir), hadir di Indonesia baik secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi. Dengan ideologinya yang kaku, keras, dan ekstrem, didukung kekuatan dana dan sistem penyusupan ala komunisme, gerakan-gerakan transnasional ini menyusup ke hampir semua bidang kehidupan bangsa Indonesia. Ketiganya berusaha mengubah wajah Islam Indonesia yang umumnya santun dan toleran agar seperti wajah mereka yang sombong, garang, kejam, penuh kebencian, dan merasa berhak menguasai. Kekerasan yang mereka lakukan bisa dilihat dalam beberapa aspek.

Pertama, kekerasan doktrinal, yakni pemahaman literal-tertutup atas teks-teks keagamaan dan hanya menerima kebenaran sepihak. Dalam hal ini, literalisme-tertutup telah memutus relasi kongkret dan aktual pesan-pesan luhur agama dari realitas sejarah, sosial, dan kultural. Akibatnya, pesan-pesan luhur agama diamputasi sedemikian rupa dan hanya menyisakan organ yang sesuai dengan ideologi mereka.

Kedua, kekerasan tradisi dan budaya, dampak turunan dari yang pertama. Kebenaran sepihak yang dijunjung tinggi membuat mereka tidak mampu memahami kebenaran lain yang berbeda, dan praktik-praktik keagamaan umat Islam yang semula diakomodasi kemudian divonis sesat, dan pelakunya divonis musyrik, murtad, dan atau kafir. Kelompok-kelompok garis keras menolak eksistensi tradisi, karena itu mereka lazim menolak bermadzhab (alla madzhabiyyah), menolak tradisi tasawuf, dan berbagai praktikyang merupakan buah dari komunikasi teks-teks atau ajaran luhur agama dengan tradisi dan budaya umat Islam di berbagai daerah sepanjang sejarah. Akibatnya, terjadi salah kaprah dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam. Dengan dalih meniru Kanjeng Nabi, para anggota garis keras berpakaian a la busana Arab seperti gamis dan sorban, me- manjangkan jenggot, namun mereka abai atas akhlak Kanjeng Nabi, seperti santun, sabar, rendah hati, pemaaf, dan seterusnya.

Ketiga, kekerasan sosiologis, dampak lanjutan dari dua kekerasan pertama, yakni aksi-aksi anarkis dan destruktif terhadap pihak lain yang dituduh musyrik, murtad, dan/ atau kafir. Kekerasan sosial ini kemudian menyebabkan ketakutan, instabilitas, dan kegelisahan sosial yang mengancam negara di manapun tempat mereka menyusup. Dan akumulasi dari ketiga kekerasan ini kemudian merusak nalar dan logika umat Islam, menyuburkan kesalahkaprahan dalam memahami Islam akibat jargon-jargon teologis yang diteriakkan dengan tidak semestinya. Kebenaran, kemudian, lebih didasarkan pada jargon ideologis, bukan pada substansi pesan luhur agama yang disimbolkan oleh jargon yang bersangkutan.

Menurut seorang pejabat tinggi Departemen Pertahanan Republik Indonesia (Dephan RI), ancaman terhadap Indonesia tidak datang dalam bentuk militer dari luar negeri. Ancaman yang sebenarnya justru berada di dalam negeri, dalam bentuk gerakan ideologi garis keras. Senjata untuk mengatasinya adalah Pancasila.[8]

Afiliasi tokoh-tokoh atau individu-individu aktivis garis keras lokal dengan salah satu gerakan transnasional tersebut terutama disebabkan oleh faktor-faktor seperti keuntungan finansial, kesem- patan untuk mendapat kekuasaan, lingkungan dan atau dislokasi sosial, dan/atau lemahnya pemahaman atas ajaran agama, terutama dalam hal spiritualitas.

Faktor finansial merupakan bisnis terselubung gerakan garis keras. Seorang mantan tokoh Laskar Jihad di Indonesia secara terbuka menyatakan kepada peneliti kami, ketika aktif dalam gerakan dia mendapat tunjangan tak kurang dari Rp 3 juta setiap bulan. Di tengah krisis ekonomi yang berkepanjangan, godaan materi ini sangat berpengaruh bagi mereka yang masih lemah imannya. Hal ini bisa dimengerti, dana yang sangat besar memang bisa menghanyutkan iman dan menjadi lahan bisnis yang sangat menguntungkan para agennya. Keuntungan finansial ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para petualang yang ingin mendapat keuntungan instan tanpa perlu bekerja keras.

Orang-orang yang merasa punya kemampuan namun tidak punya peran sosial yang diimpikan, sering menemukan aktualisasi diri dalam kelompok-kelompok garis keras. Di dalamnya mereka mendapatkan peran dan posisi penting karena mampu merekrut dan mengatur pengikutnya serta menarik perhatian publik. Semakin banyak memperoleh pengikut dan sering muncul dalam liputan pers, semakin terpuaskan keinginannya untuk dianggap penting dan mendapat perhatian publik. Sepertinya publikasi pers menjadi pemuas impian yang telah lama tak tercapai untuk menjadi orang penting dan terkenal. Hal ini terlihat jelas antara lain dalam sebuah interview kolumnis asing dengan salah seorang Pimpinan kelompok garis keras pada bulan April 2007.[9]

Namun faktor terpenting dan barangkali menjadi alasan kebanyakan orang terpesona dengan gerakan garis keras adalah dangkalnya pemahaman mereka tentang agama (baca: ajaran Islam). Jargon-jargon garis keras seperti membela Islam, penerapan syari’ah, maupun penegakan Khilafah Islamiyah, bagi umat Islam yang tidak mempunyai pemahaman mendalam tentang ajaran agamanya bisa menjadi ungkapan yang sangat ampuh dan mempesona. Pada saat yang sama, para penolak jargon-jargon tersebut bisa dengan mudah dituduh menolak syari’ah, bahkan menolak Islam. Tuduhan semacam ini lazim dilontarkan oleh orang-orang yang merasa sok tahu tentang Islam, mereka yang merasa sebagai yang paling benar dalam memahami Islam. Sikap arogan ini membuat mereka lebih suka menyalahkan siapa pun yang tidak sama dengan dirinya, dan tidak mampu melakukan introspeksi. Sikap demikian lahir karena tidak adanya sikap berislam secara sejati, sikap berserah diri seutuhnya kepada Allah swt. dan rendah hati sepenuhnya sebagaimana pesan utama Islam sendiri. Dangkalnya pemahaman ini menjelma menjadi kesalahkaprahan akut, mereka tidak mampu membedakan antara sumber ajaran Islam dari pemahaman atas sumber ajaran tersebut. Mereka juga tidak mampu mengurai kompleksitas relasi antara ajaran agama dengan realitas sosial, budaya, ekonomi, maupun politik. Dalam hal ini, agama yang mengandung pesan-pesan luhur dan sangat menekankan akhlak mulia, kemudian direduksi menjadi seperangkat diktum yang tak berperasaan berdasarkan batasan-batasan ideologis dan/ atau platform partai.

Sungguh sayang, sementara beberapa umat Islam baik yang awam maupun yang berpendidikan tinggi telah dengan tulus mendukung agenda garis keras semata karena terpesona dengan jargon-jargon yang mereka gunakan, para tokohnya terus membangun simbiosa mutualistik —dengan para oportunis, individu yang sangat dangkal pemahamannya tentang Islam, atau yang idealis— yang darinya keuntungan personal diperoleh. Bukanlah sebuah kebetulan bahwa ada kelompok-kelompok garis keras yang merekrut anggota baru dengan sistem sel seperti dilakukan Ikhwanul Muslimin dan HTI, karena dengan cara demmikian mereka bisa lebih mudah dan efektif mengendalikan pengikutnya. Perekrutan dengan sistem sel merupakan media paling mudah untuk reorientasi, atau cuci otak, berdasarkan ideologi gerakan mereka.

Di samping itu, keanggotaan berjenjang dan tertutup ini juga ampuh membungkam pertanyaan para anggota baru atas hal-hal yang bersifat sensitif, termasuk masalah finansial. Gayung bersambut, baik Wahabi maupun para petualang lokal sama-sama mendapat keuntungan. Wahabi yang tidak bisa hadir secara terbuka —karena tentu akan ditolak oleh umat Islam yang mengerti sejarah dan ajaran mereka untuk menanamkan pahamnya di Indonesia, beruntung karena ada para petualang yang bersedia menjadi kaki tangannya untuk menyebarkan ideologi mereka. Sedangkan para petualang lokal mendapat keuntungan finansial dari aliran petrodolar yang luar biasa deras.

Terlepas dari alasan finansial tersebut, bersama-sama dengan Ikhwanul Muslimin dan HTI, Wahabi telah mempengaruhi umat Islam setempat dengan pahamnya yang ekstrem. Walaupun memiliki perspektif yang berbeda, termasuk dalam beberapa detail pemahaman keagamaan, tujuan akhir mereka mirip, yakni formalisasi Islam. Untuk mencapai tujuan ini, kelompok-kelompok garis keras menggunakan segala cara, bahkan yang bertentangan dengan ajaran Islam sekalipun. Fakta ini hanya menegaskan sebaliknya. Jika mereka memang memperjuangkan Islam, tentu mereka akan menghindari cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Prinsip yang lazim menjadi pegangan para ulama Ahlussunnah wal-jamd’ah menegaskan bahwa tujuan tidak bisa membenarkan cara (al-ghdyah la tubarrir al-washilah atau Mari kdna amruhu ma’rufan fal-yakun bi ma’rufin). Artinya, cara tidak akan men-

jadi baik karena tujuannya baik; atau, siapa pun yang mempunyai tujuan baik hendaknya dilakukan dengan cara-cara yang baik pula. Tujuan baik, jika diusahakan dengan cara-cara buruk, tentu akan menodai kebaikan itu sendiri dan bertentangan.[10]

b. Infiltrasi Ideologi Wahabi Pertama di Indonesia: Gerakan Padri

Selama beberapa dekade yang lalu, sebagaimana dipaparkan dalam pelajaran sejarah resmi di sekolah-sekolah, Perang Padri lebih dikenal sebagai perang melawan pendudukan penjajah Belanda. Para Padri dikenal sebagai pahlawan yang dengan gagah berjuang/berperang membela tanah air. Sisi kekerasan dan afiliasi mereka dengan ajaran Wahabi sama sekali tidak terungkap dan hanya beredar di antara para ahli saja. Dalam hal ini, sangat berharga untuk mengetahui penggalan lain sejarah Gerakan Padri tersebut.

Gerakan Padri berawal dari perkenalan Haji Miskin, Haji Abdurrahman, dan Haji Muhammad Arif dengan Wahabi saat menunaikan ibadah haji pada awal abad ke-19, ketika itu Makkah dan Madinah dikuasai Wahabi. Terpesona oleh gerakan Wahabi, sekembalinya ke Nusantara (Indonesia) Haji Miskin berusaha melakukan gerakan pemurnian sebagaimana dilakukan Wahabi, yang juga didukung oleh dua haji yang lain.[11] Pemikiran dan gerakan mereka setali tiga uang dengan Wahabi, mereka memvonis tarekat Syattariyah, dan tasawuf secara umumnya, yang telah hadir di Minangkabau beberapa abad sebelumnya sebagai kesesatan yang tidak bisa ditoleransi, di dalamnya banyak takhayul, bid’ah, dan khurafat yang harus diluruskan, kalau perlu diperangi.[12] Tuanku Nan Renceh, misalnya, memusuhi Tuanku Nan Tuo, gurunya sendiri karena yang disebut terakhir lebih memilih bersikap moderat dalam mengajarkan Islam. Tuanku Nan Renceh juga mengkafirkan Fakih Saghir, sahabat dan teman seperguruannya, dan menyebutnya sebagai raja kafir dan rahib tua hanya karena tidak berbagi pandangan keagamaan dengannya.[13]

Beberapa kekerasan yang dilakukan Padri, selain mengikuti kegemaran Wahabi memusyrikkan, mengkafirkan, dan memurtadkan siapa pun yang berbeda, mereka juga menerapkan hukum yang sama sekali asing dalam diktum hukum Islam, seperti kewajiban memelihara jenggot dan didenda 2 suku (setara dengan 1 gulden) bagi yang mencukurnya; larangan memotong gigi dengan ancaman denda seekor kerbau bagi pelanggarnya; denda 2 suku bagi laki-laki yang lututnya terbuka; denda 3 suku bagi perempuan yang tidak menutup sekujur tubuhnya kecuali mata dan tangan; denda 5 suku bagi yang meninggalkan shalat fardlu untuk pertama kali, dan hukum mati untuk berikutnya.[14]

Para Padri juga melegalkan perbudakan. Tuanku Imam Bonjol, tokoh Padri terkemuka dan dikenal sebagai pahlawan nasional, mempunyai tujuh puluh orang budak laki-laki dan perempuan. Budak-budak ini sebagian merupakan hasil rampasan perang yang mereka lancarkan kepada sesama Muslim karena dianggap kafir.[15]

Kekerasan lain yang dilakukan Padri terhadap sesama Muslim di Minangkabau, antara lain penyerangan terhadap istana Pagaruyung pada tahun 1809. Serangan ini diawali oleh tuduhan Tuanku Lelo, tokoh Padri, bahwa beberapa keluarga raja seperti Tuanku Rajo Naro, Tuanku di Talang, dan seorang anak raja lainnya, tidak menjalankan akidah Islam secara benar dan dianggap kafir, sehingga harus dibunuh. Pembantaian massal pun dilakukan terhadap para anggota keluarga dan pembantu raja, termasuk para penghulu yang dekat dengan istana.[16] Pada tahun 1815, serangan dilakukan kembali dibawah komando Tanku Lintau. Dalam serangan kali ini, gerakan Padri membunuh hampir seluruh keluarga kerajaan yang telah memeluk Islam sejak abad ke-16 itu. Kekejaman Padri tidak hanya dalam hal itu saja. Tercatat, Tuanku Nan Renceh telah menghukum bunuh bibinya sendiri yang sudah tua, dan tidak membolehkan jenazahnya dikubur tetapi dibuang ke hutan, semata karena mengunyah sirih yang diharamkan Wahabi.[17]

Apa yang dilakukan kaum Padri ini sama belaka dengan yang dilakukan oleh Wahabi pada masa formasinya dan oleh pengikutnya seperti al-Qaedah dan Taliban sampai dewasa ini. Gerakan Padri berakhir, di samping karena faktor penjajahan, juga karena secara alamiah bertentangan dengan suasana, tradisi, dan budaya bangsa Indonesia. Fakta ini merupakan bukti kongkret betapa virus Wahabi yang menjangkiti jantung dunia Islam bisa menyebar dengan cepat ke seluruh tubuh dunia Islam. Berakhirnya gerakan Padri tidak mengakhiri penyusupan Wahabi ke Indonesia.

Sumber : Buku ILUSI NEGARA ISLAM ; Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia

__________________________

[1] Gerakan-gerakan revivalis Islam pada umumnya, termasuk Ikhwanul Muslimin di antaranya, menginginkan kembalinya “masa keemasan” Islam, yakni masa Nabi Muhammad saw. dan empat khalifah pertama, ketika kekuasaan berada di satu tangan penguasa tertinggi, khalifah.

[2] Zeyno Baran, Hizb ut-Tahrir: hlam’s Political lnsurgency (Washington: Nixon Center, 2004), h. 16-17.

[3] Ed Husain, The hlamist (London: Penguin Books, 2007), h. 161-164. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul: Matinya Semangat ]ihad: Catatan Perjalanan Seorang hlamis (Jakarta: Pustaka Alvabet, 2008).

[4] 22. Zeyno Baran (2004), h. 19-20.

[5]Zeyno Baran (2004), h. 19-20.

[6] PBNU memperingatkan bangsa Indonesia akan bahaya gerakan transnasional karena bertentangan dengan dan mengancam kelestarian tradisi keberagamaan dan paham Ahlussunnah wal-jama’ah, Pancasila, dan NKRI (baca lampiran 2)

[7] Ed Husain (2007), h. 146-149 dan 208-209.

[8] Penjelasan pejabat Tinggi Departemen Pertahanan Republik Indonesia (Dephan RI) kepada peneliti konsultasi pada tanggal 31 Juli 2008.

[9] Interview Bret Stephens dengan Muhammad Rizieq Shihab, di Petamburan pada 17 April 2008 (artikel lengkap “The Arab Invasion: Indonesia’s Radicalized Muslims Aren’t Homegrown,” bisa dibaca dalam: http://www.opinionjournal. com/columnists/bstephens/7id= 110009951).

[10] “Man kana amruhu ma’rufan fal-yakun bi ma’rufin,” (Siapa pun yang melakukan kebaikan hendaknya [dilakukan] dengan cara-cara yang baik), penjelasaan Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj dalam Lautan Wahyu: hlam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin, episode 5: “Dakwah,” Supervisor Program: KH. A. Mustofa Bisri, ©LibForAll Foundation 2009).

[11] Abdul A’la, “Genealogi Radikalisme Muslim Nusantara: Akar dan Karakter Pemikiran dan Gerakan Padri dalam Perspektif Hubungan Agama dan Politik Kekuasaan,” Pidato Pengukuhan Guru Besar, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Mei 2008 (tidak dipublikasikan), h. 11.

[12] Oman Fathurrahman, Tarekat Shattariyah di Dunia Melayu-Indonesia: Kajian atas Dinamika dan Perkembangannya Melalui Naskah-naskah di Sumatera Barat, Disertasi pada Program Studi Ilmu Susastera Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta 2003 (Tidak dipublikasikan), h. 164, sebagaimana dikutip Abdul Ala, ibid.,h. 14.

[13] Suryadi, “Kontroversi Kaum Padri: Jika Bukan Karena Tuanku Nan Renceh” dalam http://naskahkuno.blogspot.com/2007/ll/kontroversi-kaum-padri-jikabukan.html, seperti dikutip Abdul A’la, ibid., h. 14.

[14]  Abdul A’la, ibid., h. 14-15.

[15] Untuk deskripsi lebih lengkap, baca: Abdul A’la, ibid., h. 15-16.

[16] Lihat Puti Reno Raudha Thaib, “Sejarah Istana Pagaruyung” dalam http”// groups.yahoo.com/group/RantauNet/message/61114, sebagaimana dikutip Abdul Ala, ibid., h. 22-23.

[17] AbdulA , la,ibid.,h. 23.

Obsesi [Nafsu] Penegakan Syari’ah

Taut Posted on Updated on

Obsesi Penegakan Syari’ah

Seperti diketahui, ide dan aspirasi pendirian negara Islam di Indonesia telah melahirkan beragam respon dan tafsiran di masyarakat, baik di kalangan Muslim maupun non-Muslim. Ada yang berpandangan, isu negara Islam sengaja dihembuskan untuk mendiskreditkan kelompok-kelompok Islam, tapi sebagian yang lain mengakui dengan terus terang bahwa ide dan aspirasi pendirian negara Islam dewasa ini benar-benar ada dan akan direalisasikan.[1] Secara historis, Negara Islam Indonesia (NII) atau Darul Islam (DI) pernah dideklarasikan oleh S. Maridjan Kartosuwirjo di Jawa Barat, yang kemudian diikuti oleh Daud Beureuh di Aceh dan Kahar Muzakkar[2] di Sulawesi Selatan. Saat ini, Aceh telah menerapkan hukum Islam, sementara beberapa daerah di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan juga telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Syari’ah Islam.

Apakah perkembangan di tiga daerah itu merupakan wujud dari gejala keberhasilan ide negara Islam, yang kelak akan diikuti oleh daerah lain melalui efek domino? Belum jelas benar, memang. Akan tetapi, isu penegakan syari’ah Islam seperti yang terlihat dalam kasus keluarnya Perda-perda Syari’ah memang telah memunculkan spekulasi yang mengarah pada ide pendirian negara Islam. Apalagi terbukti bahwa beberapa gerakan penegakan syari’ah tersebut mengaitkan dirinya dengan perjuangan NII atau DI, seperti di Cianjur (NII KW9) dan Sulawesi Selatan (melalui Komite Persiapan Penegakan Syari’ah Islam atau KPPSI yang dikaitkan dengan perjuangan Kahar Muzakkar).[3]

Penerapan syari’ah Islam secara formal jelas bertentangan dengan konstitusi. Namun ada celah yang bisa ditempuh untuk mencapai tujuan itu, yakni melalui wewenang otonomi daerah.[4] Para eksponen gerakan garis keras bekerjasama dengan politisi dan pejabat oportunis di daerah memanfaatkan otonomi daerah untuk memberlakukan syari’ah Islam secara formal melalui Perda-perda. Artinya, proses mengislamkan negara melalui penerapan syari’ah secara konstitusional adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Maka strategi yang ditempuh adalah “desa mengepung kota,” yakni melalui formalisasi syari’ah di daerah-daerah dengan Perda-perda Syari’ah. Nantinya, ketika semakin banyak daerah di tanah air yang menerapkan syari’ah sebagai hukum regional, maka langkah menjadikan syari’ah sebagai hukum nasional dan pendirian Negara Islam hanya soal waktu saja. Hal ini bisa disimak dari statemen seorang proponen penegakan syari’ah bahwa, “Kalau masyarakat sudah Islami, syari’ah Islamnya jalan, maka jadi negara Islam dengan sendirinya tanpa diucapkan.”[5]

Saat ini tujuan mereka sudah semakin dekat, yang terlihat dengan pengakuan Mahkamah Konstitusi (MK) pada tahun 2008 bahwa Perda-perda Syari’ah tidak inkonstitusional. Pengakuan MK memang bisa menjadi bukti legalitas formil bahwa Perda-perda Syari’ah konstitusional. Tetapi secara materiil harus disadar bahwa Perda-perda Syari’ah bersifat sektarian, tidak mewakili kepentingan bangsa Indonesia secara keseluruhan, hanya mengakomodasi kepentingan sekelompok kecil dari mayoritas umat Islam, bahkan mengabaikan minoritas non-Muslim. Pengakuan MK ini tentu tidak bisa dilepaskan dari atmosfer dan arah angin pemerintah lima tahun terakhir ini. Pengakuan MK ini juga menunjukkan bahwa Indonesia sekarang sepertinya sedang bergerak dan bergeser dari Ne- gara Pancasila menuju Negara Islam (baca: Islam versi garis keras).

Suasana di Indonesia saat ini bagaikan kodok dalam tempayan di atas tungku untuk direbus, dan sudah dimasukkan sejak air masih dingin. Secara perlahan tapi pasti, tanpa menyadari bahwa dirinya sedang menjalani proses pembunuhan, kodok diam saja dan rileks di dalam tempayan. Pada saat dia sadar, semua sudah terlambat. Penyusupan ideologi memang tidak dirasakan oleh banyak orang gerakan ideologi sering tidak dirasakan dan disadari oleh mereka yang dimasuki. Maka secara sistematis berkembang menjadi besar dan merasuk…. dengan demikian, gerakan ideologis seperti itu akan semakin mekar dan berekspansi secara sistemik, yang dikemudian hari baru dirasakan sebagai masalah serius tetapi keadaan sudah tidak dapat dicegah dan dikendalikan karena telah meluas sebagai gerakan yang dianut oleh banyak orang.[6]

Ada beberapa alasan mengapa akhir-akhir ini muncul tuntutan penerapan syari’ah secara legal formal. Di antara alasan itu, yang terpenting, adalah pandangan bahwa Islam merupakan agama sempurna yang meliputi semua cara hidup secara total.

Maka Islam harus dijadikan sebagai satu-satunya referensi dalam memecahkan berbagai permasalahan bangsa. Lalu lahirlah slogan semacam: “Selamatkan Indonesia dengan syari’ah” (HTI),[7]  atau “Penegakan syari’ah melalui institusi negara merupakan satu-satunya jalan keluar untuk mengatasi kemelut bangsa” (MMI),[8]  atau “krisis multidimensi akan berakhir dengan diberlakukannya syari’ah Islam” (FPI),[9] atau “Islam adalah solusi” (PKS),[10] yang menjadi obsesi kelompok-kelompok garis keras.

Selain itu, tuntutan penerapan hukum Islam juga didesak oleh keinginan yang kuat untuk menampilkan identitas keislaman yang khas di tengah percampuran identitas dalam arus globalisasi dunia.[11] Di samping itu, faktor korupsi, tidak adanya jaminan kepastian hukum, proses peradilan yang tidak independen dan sering direcoki berbagai kepentingan, juga telah memberi alasan pada kelompok-kelompok garis keras untuk menawarkan alternatif hukum, walau permasalahan yang sebenarnya bukan pada aspek diktum hukum melainkan aparat hukum.

Alasan-alasan di atas sangat rapuh sebagai dasar bagi tuntutan penegakkan syari’ah. Bahwa Islam merupakan agama sempurna dan harus menjadi referensi bagi penyelesaian semua persoalan hidup, semua orang Islam punya keyakinan seperti itu. Bahkan, setiap umat beragama meyakini kesempurnaan agamanya. Syari’ah pun sudah menjadi bagian integral kehidupan umat Islam Indonesia sehari-hari selama berabad-abad sejak Islam masuk ke Nusantara. Jadi, tuntutan penerapan syari’ah yang diteriakkan kelompok-kelompok garis keras sangat mengada-ada, seolah-olah umat Islam Indonesia selama ini tidak mengamalkan syari’ah Islam. Kecuali jika yang mereka maksud adalah fiqh yang diterapkan di beberapa negara lain seperti Arab Saudi, Afghanistan di bawah Taliban, dan lain-lain yang berpaham Wahabi. Jika ini yang dimaksudkan, memang “masuk akal” kalau muncul tuntutan yang begitu keras, karena jenis fiqh yang mereka yakini memang keras dan kaku serta menuntut penegakkan secara keras pula sebagai akibat ideologi totalitarian-sentralistik yang mereka adopsi dari kelompok-kelompok garis keras transnasional.

Paham Wahabi sendiri ditegakkan oleh Bani Sa’ud sejak abad 18 dengan kekerasan dan banjir darah. Ketika paham itu dibawamasuk ke Nusantara (Sumatera Barat) pada awal abad 19, meletuslah Perang Padri antara pengikut ajaran Wahabi melawan Muslim lokal, pemangku adat, dan guru-guru tarekat. Rezim Taliban di Afghanistan adalah contoh lain lagi dari penerapan hukuman

la Wahabi yang sangat ekstrem. Ketika berkuasa pada 1996-2001, rezim ini membentuk Departemen Amar Ma’ruf Nahy Munkar yang bertugas mengontrol pengamalan ajaran agama. Polisi agama berpatroli di kota-kota dengan cambuk dan senapan otomatis mencari warga yang melanggar fiqh Taliban. Jika kedapatan warga melanggar syari’ah maka ditangkap, dipukul, atau dipenjara. Aksi-aksi Front Pembela Islam (FPI) yang berperilaku seperti polisi agama dan berpatroli keliling kota sangat mirip dengan aktivitas polisi agama Afghanistan di bawah Taliban.[12]

Apakah tuntutan penegakkan syari’ah yang marak belakangan ini maksudnya adalah syari’ah a la Wahabi? Sangat mungkin. Apalagi jika diperhatikan, hampir semua kelompok garis keras yang menuntut penegakan syari’ah di tanah air berasal dari atau memiliki kaitan ideologis dengan— organisasi-organisasi garis keras transnasional yang lahir di arena konflik Timur-Tengah. Para pemimpin mereka pun kebanyakan keturunan Arab atau mereka yang pernah belajar di Arab Saudi atau negara lain di Timur Tengah yang kemudian kehilangan tradisi keberagamaannya dan menganut paham Wahabi dan Ikhwanul Muslimin atau Hizbut Tahrir. Jadi, yang mereka perjuangkan sebenarnya bukan syari’ah Islam seperti yang dipahami oleh mayoritas umat Islam Indonesia, melainkan “syari’ah Islam” versi Wahabi-Ikhwanul Muslimin. Itu sebabnya, kampanye penegakkan syari’ah oleh kelompok-kelompok garis keras selalu menimbulkan masalah dan keributan di manamana di kalangan umat Islam sendiri. Hal ini berbeda dengan dakwah Islam yang lazim disampaikan para ulama, yang menyampaikan “pesan Islam” yang esensial dan universal, yang memberi kesejukan, bukan keributan.

Sementara derasnya arus modernisasi dan globalisasi yang dianggap berdampak buruk terhadap kehidupan umat Islam juga menjadi alasan tuntutan formalisasi hukum Islam.[13] Sedangkan alasan lain yang dikemukakan adalah untuk membentengi diri dari arus globalisasi, namun yang ditampilkan justru penguatan identitas untuk menegaskan perbedaan dari yang lain. Adalah hak setiap orang untuk memelihara diri dari pengaruh luar, dan ini tidak menjadi masalah. Hal yang menjadi masalah adalah ketika itu dilakukan dengan menggunakan instrumen-instrumen negara yang merupakan milik publik untuk kepentingan sekelompok orang, seperti pemberlakuan Perda Syari’ah yang sering bertolak belakang dengan kemaslahatan umum. Maka, jika umat Islam lain menolak Perda Syari’ah, itu bukan sekadar suatu kewajaran, tetapi juga hak.

Bahkan menjadi kewajiban semua warga negara untuk menyelamatkan negeri ini dari pemaksaan kehendak oleh sekelompok orang dengan mengatasnamakan agama yang berpotensi memecah belah bangsa. Di sini harus ditegaskan pula bahwa itu bukanlah penolakan terhadap Islam itu sendiri, melainkan terhadap pemaksaan dan formalisasi pemahaman mereka tentang bagian tertentu dari Islam.

Kelompok-kelompok garis keras sangat bernafsu membatasikeluasan rahmat Allah, bahkan kebesaran Allah, ke dalam kotak kecil Perda Syari’ah. Lalu mereka memaksa semua orang tunduk pada syari’ah a la Wahabi yang mereka perjuangkan melalui perangkat undang-undang. Sambil memaksa orang lain, mereka mengklaim bahwa Islam adalah rahmat bagi semua orang (Islam rahrnatan liV&lamin). Dan dengan dalih itu mereka memaksa semua orang masuk ke dalam ‘rahmah’, padahal pemaksaan itu sendiri bertentangan dengan semangat rahmah. Alih-alih akan percaya, orang justru akan sinis dengan klaim itu. Akibatnya, doktrin Islam yang mulia itu (Islam rahrnatan lil-‘alamin) menjadi tercemar akibat berbagai tindakan mereka yang tidak segan-segan membajak agama untuk kepentingan kelompok sendiri. Mereka adalah diktator yang berusaha menipu umat Islam dengan bertopeng sebagai juru bicara Tuhan. Ini bukan saja tindakan subversif terhadap negara, melainkan juga bisa menjadi subversi terhadap kebesaran dan kekuasaan Allah subhanahu <wa ta’dld, karena Tuhan melarang pemaksaan dalam bentuk apa pun dalam agama (la ikrah fid-din), dan tidak pernah memberi mandat kepada siapa pun untuk menjadi juru bicara-Nya.

Keluarnya Perda-perda Syari’ah pada umumnya difasilitasi oleh fraksi partai-partai yang mengklaim sebagai partai Islam bekerjasama dengan politisi dan partai oportunis di DPRD daerah bersangkutan dengan dukungan atau desakan dari kelompok-kelompok garis keras. Di daerah seperti Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat bahkan dibentuk Komite Persiapan Penegakan Syari’ah Islam atau KPPSI yang menghimpun berbagai elemen gerakan. Di daerah lain, desakan penerapan syari’ah Islam sering datang dari kalangan garis keras seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI) dan berbagai organisasi kelaskaran yang muncul dengan label Islam seperti Laskar Jihad, Laskar Jundullah, Laskar fi Sabilillah, dan lain-lain yang dari namanya saja tidak menimbulkan simpati pada mayoritas muslim dan umat yang lain. Tak jarang fraksi-fraksi par-tai berhaluan kebangsaan pun kesulitan menolak terlibat dalam proses persalinan Perda-perda Syari’ah tersebut, baik karena alasan mencari aman, takut dituduh anti-Islam, atau karena alasan-alasan pragmatis kekuasaan. Tidak adanya pemahaman yang mendalam dan menyeluruh tentang Islam juga menjadi salah satu alasan sulitnya menolak klaim-klaim dan desakan para agen garis keras.

Tuduhan anti-Islam yang dialamatkan oleh kelompok-kelompok garis keras kepada para penentang Perda Syari’ah pada dasarnya merupakan bentuk teror teologis yang memanfaatkan sentimen keagamaan. Tuduhan ini sangat efektif karena mencip- takan rasa takut di kalangan sebagian orang Islam. Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Abu Bakar Ba’asyir bahkan pernah mengancam, “Jika pemberlakuan syari’ah Islam dihalang-halangi maka umat Islam wajib berjihad,”[14] tegasnya, seakan-akan semua orang Islam setuju dengan pandangannya. Terobsesi dengan pemberlakuan syari’ah Islam secara formal, Ba’asyir selalu mengulang-ulang penegasannya: “Berjihad untuk melawan kaum kuffdr yang menghalangi dan menentang berlakunya syari’ah Islam adalah wajib dan amal yang paling mulia.”[15]  Amir MMI itu menuding penentang Perda Syari’ah sebagai kafir.

Menghadapi tuduhan-tuduhan seperti di atas, anggota DPRD atau pemerintah daerah yang “lemah imannya” mungkin akan gentar mendengar ancaman semacam itu dan/atau sulit menjelaskan perbedaan besar antara Islam dan pemahaman atasnya. Tetapi para ulama yang memahami Islam secara mendalam dan menyeluruh, setia pada kebenaran, akan tahu sepenuhnya bahwa tuduhan itu hanyalah manuver politik semata yang sama sekali tidak memiliki bobot teologis. Ulama yang sejati tidak akan pernah mengkafirkanorang lain. Tuduhan kafir secara membabi buta di atas adalah bukti lain betapa pemahaman para agen garis keras tentang Islam sangat dangkal dan parsial.

Dari waktu ke waktu, grafik penerapan Perda Syari’ah menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi. Jika pada tahun 2003 baru ada 7 daerah yang menerapkan Perda Syari’ah, maka hingga Maret 2007 sudah lebih dari 10 persen dari seluruh daerah di Indonesia yang menerapkan Perda Syari’ah,[16] dan jumlah ini terus bertambah. Bahkan, disahkannya UU APP telah berdampak negatif di beberapa daerah. Hal ini antara lain bisa dilihat dengan dikeluarkannya larangan tari Jaipong yang merupakan tarian khas daerah setempat oleh Gubernur Jawa Barat, H. Ahmad Haryawan, walaupun kemudian menampik telah melarang tarian tersebut. Jika hal semacam ini terus dibiarkan dan mayoritas daerah atas desakan kelompok-kelompok garis keras— menerapkan Perda Syari’ah, maka jalan menuju terbentuknya negara Islam Indonesia memang menjadi terbuka lebar. Padahal secara historis, formalisasi Islam sering atau nyaris tidak pernah menyelesaikan masalah. Bahkan di negara yang memproklamirkan diri sebagai Negara Islam pun, degradasi moral seperti korupsi dan sejenisnya tetap merajalela, kesejahteraan rakyat tetap tidak merata. Dalam ungkapan lain, apa yang dulu ditekan, seperti segmentasi etnis dan kesukuan, manuver-manuver politik, persaingan antarpribadi, spekulasi dan korupsi mencuat kembali pascaislamisasi tersebut.[17]

Sebenarnya, penentangan terhadap Perda-perda Syari’ah bukannya tidak ada. Pendiri Partai Kebangkitan Bangsa atau PKB, KH Abdurrahman Wahid, menyebut Perda-perda Syari’ah yang banyak bermunculan akhir-akhir ini sebagai kudeta terhadap Konstitusi.[18] Sementara tokoh Muhammadiyah Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif menanggapi maraknya Perda Syari’ah yang cenderung diskriminatif, menegaskan bahwa pemerintah pusat harus mengintervensi Perda-perda Syari’ah karena Konstitusi 1945 menjamin kebebasan beragama.[19]  Buya Syafi’i juga menyebut bahwa jika syari’ah Islam benar-benar diterapkan sebagai hukum negara maka perpecahan tidak hanya akan terjadi antara kelompok Muslim dan non-Muslim tetapi juga antarsesama umat Islam sendiri.[20]

Dengan menyebut kalangan non-Muslim, apakah Buya Syafi’i berlebihan? Sepertinya tidak. Dari kalangan non-Muslim, salah satu reaksi atas lahirnya Perda-perda Syari’ah adalah gagasan umat Kristiani untuk menjadikan Manokwari, Papua Barat, sebagai “Kota Injil,” beberapa waktu yang lalu. Kemudian bergulir juga wacana untuk menerapkan “Perda Hindu” di Bali, “Perda Kristen” di Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Timur yang mayoritas penduduknya Nasrani. Menanggapi lahirnya Perda-perda Agama ini Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi mensinyalir bahwa tanda-tanda disintegrasi bangsa sudah terlihat sebagai akibat dari upaya penerapan hukum agama yang dipaksakan.[21]

Organisasi Islam terbesar di dunia, Nahdlatul Ulama (NU), secara resmi menentang pemberlakuan Perda-perda Syari’ah. Rais Syuriah PBNU, KH Sahal Mahfudz mengatakan bahwa, “Kita (NU) menentang pemberlakuan Perda-perda Syari’ah karena akan menjurus kepada perpecahan bangsa. Syari’ah bisa dilaksanakantanpa perlu diformalkan.”[22] Senada dengan itu, KH Hasyim Muzadi menyebut bahwa bahaya kampanye penerapan syari’ah secara formal bukan hanya akan menyebabkan perpecahan bangsa akan tapi juga mengubah Indonesia menjadi negara Islam. [23]

Pihak pemerintah sendiri melalui Menteri Dalam Negeri (ketika itu Muhammad Ma’ruf) pernah menyatakan akan menginventarisasi Perda-perda Syari’ah yang banyak bermunculan di daerah. Menurutnya, Perda-perda itu akan dievaluasi dan diteliti mana yang berpegang pada konsensus nasional yaitu Pancasila, UUD ’45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Dia menegaskan bahwa, Perda yang bertentangan dengan Undang-undang di atasnya dan melanggar kepentingan umum akan dibatalkan.

Namun, niatan pemerintah ini ditentang keras oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Ketua Fraksi PKS DPR, Mahfudz Sidik menyatakan, “Tidak ada dasar bagi pemerintah untuk mencabut Perda-perda yang bernuansa Islam, apalagi sejumlah aturan yang dikeluarkan beberapa Pemda tersebut tidak bertentangan dengan konstitusi. Mereka yang menolak kehadiran Perda-perda Syari’ah itu lebih dilatarbelakangi kekhawatiran dan kecemasan. Bagi masyarakat setempat, Perda-perda tersebut justru mendorong kehidupan mereka lebih baik. Karena itu, pemerintah pusat tidak perlu merespon pihak-pihak yang menolak Perda tersebut. Perda-perda itu tak ada alasan untuk dipersoalkan,” ungkapnya seraya menambahkan bahwa PKS akan tetap mendukung Perda-perda tersebut.[24] Dalam konteks ini, ada kecenderungan kuat bahwa demokrasi dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang tidak demokratis. Demokrasi yang semakin kuat justru bergandengan tangan dengan intoleransi yang semakin pekat, maka tak berlebihan jika PKS dinilai sebagai ancaman demokrasi yang lebih besar dibandingkan dengan Jama’ahIslamiyah, misalnya.[25]

Benarkah Perda-perdaSyari’ah tersebut mendorong kehidupan yang lebih baik, seperti yang diyakini PKS? Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Center for the Study of Religion and Culture (CSRC) Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta yang dipublikasikan belum lama ini justru menunjukkan fakta sebaliknya. Dalam diskusi hasil penelitian tersebut pada 21-22 November 2007 di Bogor, para peneliti mengatakan bahwa tidak ada korelasi antara kesejahteraan masyarakat dengan penerapan Perda Syari’ah; kehidupan masyarakat tidak berubah antara sebelum dan sesudah diberlakukannya Perda-perda Syari’ah. Bahkan diungkapkan bahwa Perda-perda Syari’ah justru memicu terjadinya berbagai pelanggaran hak-hak sipil terutama di kalangan non-Muslim dan perempuan.[26]

Kalangan non-Muslim terkena kewajiban untuk melaksanakan beberapa aspek dari Perda Syari’ah. Di Kabupaten Cianjur, misalnya, dilaporkan seorang perempuan non-Muslim mengaku dipaksa mengenakan jilbab di kantor setiap hari Jumat. Pemaksaan serupa juga menimpa seorang guru di sekolah negeri dan seorang siswi sebuah SMU. Bagi siswi yang menolak, orang tuanya diharuskan mengajukan permohonan dan pernyataan bahwa siswi tersebut adalah non-Muslim. Jilbabisasi juga diberlakukan terhadap keturunan Tionghoa yang bekerja di kantor BCA Cianjur. 40 Kalangan non-Muslim sama sekali tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan penerapan syari’ah Islam di Cianjur, tetapi pada beberapa kasus ternyata aturan Perda syari’ah diberlakukan juga bagi kalangan non-Muslim.[27]

Menurut laporan the Wahid Institute, kaum perempuan non-Muslim di Padang (Sumatera Barat) dan Bulukumba (Sulawesi Selatan) juga terkena kewajiban memakai jilbab setelah keluarnya Perda Syari’ah.[28]  Seorang wali murid Katolik yang 2 anak perempuannya dipaksa memakai jilbab di sekolah negeri di Padang mencoba membujuk anaknya bahwa jilbab hanya sekadar etika berpakaian, jadi sebaiknya peraturan itu diikuti saja. Namun, anak-anaknya merasakan bahwa kewajiban berjilbab itu lebih dari sekadar etika berpakaian. Mereka merasakan bahwa saat ini berada dalam suatu lingkungan yang memusuhi agama mereka. Beberapa siswi lain menyatakan bahwa saat ini rekan-rekannya telah memandang mereka pindah agama ke Islam karena memakai jilbab. Menanggapi kasus-kasus ini, seorang tokoh Katolik di Padang menyatakan bahwa Perda Syari’ah telah menimbulkan dampak psikologis yang cukup serius terhadap kalangan siswi non-Muslim. [29]

Hasil riset CSRC UIN juga menyebutkan bahwa Perda-perda Syari’ah pada umumnya bersifat diskriminatif terhadap kaum perempuan. Perda jilbab, anti-prostitusi, dan larangan keluar malam tanpa muhrim bagi perempuan yang diberlakukan secara serampangan telah menimbulkan ketakutan bagi para wanita untuk beraktivitas di luar rumah pada malam hari. Bahkan di Tangerang, pernah muncul kontroversi menyusul terbitnya Perda No. 8 tahun 2005 yang salah satu isinya (pasal 4) menyebutkan: “Setiap orang yang sikap atau perilakunya mencurigakan sehingga menimbulkan suatu anggapan bahwa ia/mereka pelacur, dilarang berada di ja- lan-jalan umum… atau di tempat lain….” Pasal ini telah memakan korban ketika perempuan-perempuan baik-baik yang bukan peker- ja seks komersial (PSK) pun menjadi sasaran razia dan ditangkap petugas. Kasus ini menyulut kontroversi di berbagai media massa.

Di Aceh, kaum perempuan yang tidak berjilbab dipermalukan dengan dipotong rambutnya di depan umum. Peraturan mengenai jilbab dalam Perda telah mendiskreditkan perempuan yang tidak memakai jilbab, padahal hukum berjilbab itu sendiri masuk dalam ranah khilafiyah, ada ulama yang mewajibkan dan ada yang tidak. [30] Sementara, jilbab sebenarnya adalah budaya, bahkan wanita Kristiani dan Yahudi pun di beberapa daerah Eropa dan Timur Tengah juga mengenakan jilbab.

Selain alasan-alasan yang telah dikemukakan di atas, formalisasi hukum Islam juga menjadi pintu masuk bagi pragmatisme kekuasaan di daerah-daerah. Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada merupakan contoh penting dari kasus ini. Seorang calon Kepala Daerah tidak jarang menawarkan syari’ah sebagai “jualan” mereka untuk menarik perhatian pemilih. Cara ini juga ditempuh elit politik untuk meningkatkan legitimasi keagamaan mereka di mata pu- blik.[31]  Sebagai contoh, Perda Syari’ah Islam di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, dikeluarkan oleh bupati menjelang awal dan akhir masa jabatannya. Di Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, Perda-perda Syari’ah digulirkan oleh bupati untuk membangun citra dirinya yang sempat turun akibat kritik dari beberapa ulama atas kebijakan pembangunan di Kabupaten tersebut.[32] Di Cianjur, seorang calon Bupati yang menjual isu syari’ah Islam ke masyarakat berhasil meraih dukungan massa dan menduduki jabatan bupati.[33]

Dalam kasus-kasus di atas, syari’ah Islam tidak lebih dari sekadar komoditas politik. Kolaborasi antara para politisi oportunis dengan kelompok-kelompok garis keras telah menjadi gejala politik baru yang bertanggung jawab atas keluarnya banyak Perda Syari’ahdi berbagai daerah di tanah air. Kepentingan politik di balik penerapan Perda-perda Syari’ah telah membutakan para elit politik yang haus dukungan massa atas keragaman tafsir dan pengamalan Islam di masyarakat. Semuanya ditundukkan ke dalam satu pemahaman syari’ah versi kelompok garis keras, yaitu syari’ah Wahabi-Ikhwanul Muslimin. Itu sebabnya muatan Perda-perda Syari’ah yang bermunculan di berbagai daerah tidak jauh berbeda dari aturan-aturan hukum yang diterapkan oleh rezim Arab Saudi dan rezim Taliban Afghanistan yang berpaham Wahabi. Sayangnya banyak orang yang tidak menyadari hal tersebut, atau telah terprovokasi oleh kelompok-kelompok garis keras yang selalu siap dengan senjata pamungkasnya: “Ikuti kami atau anda memang anti-Islam dan kafir!”

Tuduhan kafir jelas merupakan manuver politik, siapa pun tidak akan menjadi kafir karena tuduhan tersebut. Kafir lebih disebabkan gerak hati (a’ mal al-qalb) terkait ajaran agama. Jargon-jargon seperti “Islam adalah solusi” dan “Selamatkan Indonesia dengan Syari’ah” adalah retorika simplistis dan komoditas politik sebagai usaha rekrutmen psikologis umat Islam. Apakah seseorang kafir atau mukmin, itu adalah urusan dia dengan Tuhan, bukan urusan orang lain. Tuhan pun tidak memaksakan kehendak-Nya kepada hamba-hamba-Nya, maka alasan apa pula yang bisa membenarkan seseorang boleh memaksakan kehendaknya kepada yang lain, bahkan dalam hal agama sekalipun?

Sumber : Buku Ilusi Negara Islam ; Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia.

_____________________________

[1] Haedar, op., rit., h. 33-34.

[2] lbid., h. 9. Cetak tebal (bold) mengikuti aslinya.

[3] “Intervensi PKS Ke Muhammadiyah Dilakukan Secara Sistematis.” http://www.syirah. com/syirah_ ol/online_ detail.php? id_kategori_ isi= 1734

[4] lbid.

[5] Muhammad al-Khaththat sudah dipecat dari posisinya sebagai Ketua HTI karena melakukan kegiatan yang dilarang oleh Pengrus HT Pusat (Internasion- al), yakni bergabung dengan organisasi Islam lain dengan mengatasnamakan HTI. Baca dalam http://osolihin.wordpress.com/2008/10/20/m-al-khaththat-dikeluarkan-dari-hti-kenapa-ditutup- tutupi/

[6] Wawancara dengan Haedar Nashir di Kantor PP. Muhammadiyah di Jakarta, 20 Februari 2008.

[7] Wawancara, ibid.

[8] “Risalah PKS untuk Mengokohkan Ukhuwah dan Ishlah,” dikeluarkan tanggal 27 September 2007.

[9] Pernyataan Mahfudz Siddiq, Ketua Fraksi PKS di DPR dan Ketua Tim Operasi Media Mukernas Bali. Lihat, “Mukernas PKS Rekomendasikan Tiga Agenda,” Republika, 4 Februaru 2008, h. 3. Lihat juga, “PKS Serukan Bangkit-

kan Semangat Kebangsaan,” Kompas , 4 Februari 2008, h. 3.

[10] Hasyim Muzadi: “Khilafah Islamiyah bukan Gerakan Agama, tapi Gerakan Politik.” Lihat, NU Online, Selasa, 5 September 2006.

[11] “Hasyim Imbau Takmir Masjid NU Waspada,” lihat NU Online, Selasa, 28 November 2006.

[12] “NU Layani Tantangan Kelompok Islam Garis Keras,” lihat NU Onine, Se- lasa, 27 Februari 2007.

[13] “Rebut Kembali Masjid Nahdliyyin, LDNU Kumpulkan Majelis Ta’lim se- Jabotabek,” lihat, NU Online 24 Agustus 2006.

[14] “Dianggap Sesat, Masjid-masjid NU Diambilalih,” lihat. NU Online, Kamis, 25 Mei 2006.

[15] Kantor Berita Nasional Antara, 15 Oktober 2006.

[16]“RMI Kumpulkan Pimpinan Ponpes se-Indonesia Bahas ‘Ancaman’ Ideologi Transnasional,” lihat NU Online, Rabu, 16 Mei 2007.

[17] “Rebut Kembali Masjid Nahdliyyin, LDNU Kumpulkan Majelis Ta’lim se-Jabotabek,” lihat, NU Online, 24 Agustus 2006.

[18] “PBNU Desak Pemerintah Cegah Ideologi Transnasional,” lihat NU Online, 29 April 2007.

[19]

[20] “Caliphate not part of Koran: NU,” lihat Jakarta Post, 25 November 2007.

[21] “PBNU: Khilafah Islamiyah Celakakan Muslim Minoritas di Negara Lain,” lihat NU Online, Kamis, 26 Juli 2007.

[22] KH. Imam Ghozalie Said: “Ideologi Transnasional Sukses, Indonesia

[23] Hadits ini disampaikan dalam konteks kewajiban mengangkat pemimpin, bukan dalam hal kewajiban mendirikan Negara Islam. Karena hanya orang bodoh (jahiliyah) yang tidak akan menyusun tatanan sosial tanpa pemimpin, tanpa pemerintahan. Hadits yang lazim dikutip dalam konteks ini adalah pernya- taan Nabi, “Siapa pun di antara kalian, satu orang atau lebih, yang bepergian, maka wajib menentukan pemimpin.”

[24] Ayat ini berada dalam satu rangkaian kecaman terhadap siapa pun yang

mengamalkan ajaran agama secara parsial, hanya memilih yang sesuai dengan

kepentingan dan kecenderungan pribadinya, bahkan memutarbalikkan pesan-

pesan agama semata demi kepentingan pribadi atau kelompoknya. Mereka dike-

cam sebagai zhalim, fasiq, dan kafir. Nabi pernah menjelaskan bahwa umat-

umat terdahulu telah mengalami kehancuran karena dalam mengamalkan

ajaran agamanya mereka lebih berdasarkan kepentingan dan kecenderungan pri-

badi dan kelompoknya, bukan ketaatan sejati kepada pesan agama. Di tangan

kelompok garis keras, ayat ini telah —secara keliru— dipahami sebagai kewajiban

formalisasi sistem hukum dan bentuk negara.

[25] KH. Imam Ghozalie Said, ibid.

[26] “PBNU Minta Bangsa Indonesia tak Ikuti Ideologi Transnasional,” lihat,

NU Online, Selasa, 15 Mei 2007.

[27] “Major Muslim groups spearhead moderate campaign,” Jakarta Post, 22 Juni

2006.

[28] Ahmad Suaedy dkk. Kata Pengantar: “Fatwa MUI dan Problem Otoritas

Keagamaan” dalam Kala Fatwa Jadi Penjara (Jakarta: The Wahid Institute, 2006),

  1. x-xxv.

[29] Ibid.

[30] http://www.wahidinstitute.org/indonesia/content/view/718/52/

[31] Van Zorge Report, January 29, 2008.

[32] Wawancara dengan seorang responden di Bekasi, Jawa Barat, 11 Februari

2008.

[33] Wawancara dengan seorang responden di Ciputat, Tangerang, Banten, 20

November 2007.

Perang Asimetris Untuk Hancurkan Nasionalisme dan Ideologi

Taut Posted on Updated on

PERANG ASIMETRIS UNTUK HANCURKAN NASIONALISME DAN IDEOLOGI

Game of Chess ca. 1990s
Game of Chess ca. 1990s

Oleh : Herry Darwanto

“Perang Asimetris ini adalah jenis perang yang lain, baru dalam intensitasnya, kuno dalam asal-mulanya. Perang oleh gerilyawan, pemberontak, pengacau, pembunuh; perang dengan dadakan, bukan dengan pertempuran terorganisir; dengan penyusupan, bukan dengan agresi; mencari kemenangan dengan merontokkan dan menyusutkan musuh, bukan dengan menghadapinya…

Mereka memanfaatkan kerusuhan ekonomi dan konflik etnis, mereka berusaha berada dalam situasi yang harus kita masuki. Ini adalah tantangan yang ada di depan kita jika kebebasan harus diselamatkan; suatu strategi yang seluruhnya baru, jenis kekuatan yang seluruhnya berbeda, dan oleh karena itu memerlukan bentuk pelatihan militer yang baru sama sekali.” (Dikutip dari Buffaloe – 2006).

Kutipan diatas tidak diucapkan oleh Presiden Obama untuk mengomentari keonaran di berbagai belahan dunia, namun oleh Presiden John F. Kennedy saat memberikan sambutan di West Point tahun 1962.

Perang Asimetris sudah ada sejak ribuan tahun lalu

Pada masa kini, perang jenis baru ini kemudian dikenal sebagai Perang Asimetris atau Asymmetric warfare, atau Asymmetric engagement, yaitu perang antar dua pihak dengan kekuatan yang kurang lebih seimbang, menggunakan strategi dan taktik yang kurang lebih sama, hanya teknis operasional dan kemampuan memanfaatkan medan yang menentukan siapa pihak yang menang.

Sebetulnya fenomena Perang Asimetris sudah muncul sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, karena semua perang pada dasarnya asimetris, yaitu pihak pertama berusaha mengeksploitasi kekuatan pihak lain yang lebih besar sambil menyerang kelemahannya. Namun istilah perang asimetris semakin populer melalui artikel Andrew JR Mack berjudul Why Big Nations Lose Small Wars dalam jurnal World Politics (1975).

Pertanyaan retorik Mack tersebut didasarkan pada pengamatannya bahwa beberapa negara Eropa yang mempunyai kekuatan militer jauh lebih besar daripada negara-negara Asia dan Afrika yang dijajahnya, ternyata harus angkat kaki menerima kekalahan atas negara-negara kecil tersebut. Beberapa kasus yang disebutkan adalah: Indochina (1946-54), Indonesia (1947-1949), Aljazair, Siprus, Aden, Maroko, dan Tunisia.

Ditambahkan oleh Mack bahwa kekuatan besar yang dikalahkan kekuatan kecil bukanlah fenomena kolonialisme semata, seperti ditunjukkan oleh kasus Vietnam yang bisa mengusir Amerika Serikat yang bukan penjajahnya.

Perang Asimetris Pasca Perang Dunia II

Perang asimetris skala besar yang terjadi pada era setelah Perang Dunia II, selain perang Vietnam diantaranya adalah Perang Saudara Sri Lanka, Perang antara Israel dan Palestina, dan Perang Saudara di Suriah. (sumber: Wikipedia tentang Asymmetric Warfare)

Berikut adalah uraian singkat tentang ke tiga perang asimetris tersebut. Sebagai catatan perang asimetris yang paling dahsyat pada 20 tahun terakhir ini adalah kejadian 11 September 2001 di New York, dimana sekelompok orang menabrakkan pesawat terbang komersial yang dibajaknya ke dua gedung kembar yang menjadi lambang keperkasaan (ekonomi) Amerika Serikat, yang menelan korban sekitar 3.000 orang.

  • Perang Saudara di Sri Lanka, meletus pada tahun 1983, antara pemerintah Sri Lanka dan Tentara Pembebasan Tamil Eelam (LTTE). Perang dimulai dengan pemberontakan LTTE terhadap Pemerintah dan berkembang menjadi konflik besar-besaran, melibatkan perang gerilya dan perang konvensional. LTTE mempelopori penggunaan bom, yang puncaknya dilakukan oleh pembom bunuh diri pria atau wanita, baik di dalam maupun di luar medan perang; menggunakan perahu yang penuh dengan bahan peledak untuk menghancurkan kapal-kapal militer; serta penggunaan pesawat-pesawat ringan yang menargetkan instalasi militer. Hasil akhirnya, pemberontakan dapat diatasi dan Sri Langka tetap utuh.
  • Perang antara Israel dan Palestina, yang sudah berlangsung selama puluhan tahun adalah kasus klasik perang asimetris yang berkepanjangan. Israel memiliki tentara angkatan darat, udara dan laut yang kuat, dengan alutsista canggih yang dapat mengalahkan Palestina (khususnya Hamas). Namun, Palestina menggunakan taktik asimetris, seperti serbuan dadakan, tembakan lintas-perbatasan, serangan roket, bom bunuh diri, dan menurut PM Israel Benyamin Netanyahu (Fitch, 2014): “We use missiles to protect civilians; Hamas use civilians to protect their missiles.” Hingga saat ini, konflik Israel-Palestina masih berlangsung.
  • Perang di Suriah, yang terjadi sejak tahun 2012 lalu hingga sekarang, juga merupakan perang asimetris. Koalisi Nasional Suriah bersama dengan Mujahidin dan Partai Uni Demokratik Kurdi berjuang melawan Pemerintah Suriah melalui cara-cara asimetris untuk menumbangkan kekuasaan Presiden Hafez al As’ad. Para pemberontak tidak mampu terlibat secara simetris menghadapi tentara Suriah sehingga melakukan taktik non-konvensional seperti bom bunuh diri, penyerbuan target-target tertentu, dsb. Konflik antara pemerintah dengan pemberontak berlangsung lama, sampai kemudian muncul ISIS yang memerangi pemerintah Suriah dan Irak sekaligus untuk mendirikan negara sendiri. Sampai saat ini, perang di Suriah juga masih berlangsung.

Fenomena perang asimetris di berbagai negara tersebut mendorong tumbuhnya pemikiran bagaimana menjelaskan “keunggulan” pihak lemah sehingga dapat memenangkan peperangan dengan pihak yang lebih kuat.

Konsep Perang Asimetris

Dalam berbagai literatur pertahanan dan hubungan internasional, istilah asimetris diartikan sebagai perbedaan yang signifikan dalam “kekuatan” dari aktor-aktor yang berlawanan dalam suatu konflik. Kekuatan tersebut diartikan sebagai kekuatan material, seperti tentara profesional berjumlah besar, senjata canggih, ekonomi maju, dan sebagainya. Perang asimetris mencakup konflik antarnegara dan antarkelompok (biasa disebut perang sipil atau perang saudara).

Sedangkan perang simetris, di mana dua pihak memiliki kekuatan militer dan sumber daya yang sama, menggunakan taktik yang mirip secara keseluruhan, hanya berbeda dalam detail dan eksekusinya. Perang asimetris sering disebut juga dengan perang gerilya, pemberontakan, terorisme, konflik intensitas rendah, perang generasi ke 4, perang irreguler, dsb.

Perang asimetris juga merupakan konflik yang melibatkan kekerasan, antara militer formal di satu pihak melawan pihak lain yang informal dan tidak didukung pasukan bersenjata lengkap namun memiliki militansi yang tinggi. Dalam perang asimetris, kedua pihak berusaha untuk mengeksploitasi kelemahan lawan dengan menggunakan strategi dan taktik perang konvensional maupun non-konvensional.

Pihak yang lebih lemah berusaha menggunakan strategi yang lebih jitu untuk mengimbangi kekurangannya dalam kuantitas atau kualitas militer. Strategi pihak yang lemah menghindari tindakan secara militer, yang merupakan kekuatan pihak lawan.

Bagi pihak yang lebih kuat, berperang di negara lain ada batas atau limitasinya. Mereka tidak dapat menggunakan sumber daya melebihi tingkat tertentu, karena berperang memerlukan sumber daya seperti prajurit, dana, dukungan politik, dll. yang diperlukan untuk mengejar tujuan-tujuan lainnya. Tanpa kemenangan cepat, perang bagi negara besar menciptakan potensi terjadinya persoalan politik yang dapat menggeser keseimbangan kekuatan yang mengarah pada penyudahan perang.

Bagi pihak yang lebih lemah, invasi atau penjajahan oleh negara besar menumbuhkan kohesi, meminimalkan kendala dalam menyatukan tekad, dan memaksimalkan kesediaan untuk menanggung bersama biaya yang diperlukan. Negara kecil tidak harus mempertaruhkan kepentingan untuk bertahan, dan melakukan perang tidak selalu menjadi prioritas utama, karena ada tujuan sosial, politik, dan ekonomi lainnya yang harus diperjuangkan. Hal ini membuat negara kecil lebih kuat secara mental, sosial dan politik; walau secara militer dan ekonomi lemah.

Bagaimana negara kecil bisa mengalahkan negara besar dijelaskan oleh Mack (1975). Menurutnya, kemenangan negara kecil atas negara besar disebabkan oleh ketidakmauan negara kecil menghadapi negara besar sesuai terminologi negara besar. Sebaliknya, negara kecil menggunakan terminologi perang yang tidak konvensional dalam menghadapi negara besar, yaitu perang gerilya, terorisme kota, atau bahkan tindakan non-kekerasan.

Namun selain itu, penyebab kekalahan negara besar dari negara kecil adalah menurunnya kapabilitas politik negara besar itu untuk berperang. Kapabilitas politik yang menurun itu antara lain disebabkan oleh meningkatnya aksi sosial menentang perang, seperti yang terjadi di AS pada tahun 1960an.

Kapabilitas politik untuk berperang juga dapat merosot jika peperangan yang tidak seimbang secara militer tersebut berlangsung dalam waktu yang lama, dengan digunakannya cara-cara yang tidak konvensional oleh pihak yang lebih lemah. Perang gerilya yang berlangsung lama membutuhkan biaya yang besar bagi negara besar sekalipun. Maka ada batasan bagi negara besar sejauh apa biaya ini dapat ditoleransi.

Biaya perang yang dianggap berlebihan akan mendorong upaya pembatasan perang dalam diri pemerintah. Sementara itu, publikasi korban yang bukan pelaku perang (non-kombatan) akibat penggunaan senjata canggih yang salah sasaran membangkitkan sisi kemanusiaan masyarakat di negara besar untuk menolak dan kemudian mengakhiri perang. Inilah yang terjadi antara Vietnam dan AS pada tahun 1960an.

Selain faktor politik, faktor ekonomi juga dapat menjadi sebab suatu perang asimetris dimenangkan oleh negara besar. Menurut Mack (1975), Belanda mundur dari Indonesia karena AS mengancam Belanda tidak akan memberi bantuan pembangunan Marshall Plan jika tidak menyelesaikan masalahnya dengan Indonesia yang baru merdeka.

Kesiapan menghadapi Perang Asimetris

Dari mempelajari pengalaman banyak negara menghadapi perang asimetris, Robinson et al. (2014) menyimpulkan perlunya penyesuaian terhadap praktek dan sistem yang ada sebelumnya. Perubahan itu setidaknya meliputi aspek-aspek perencanaan, kelembagaan, operasi, insentif, keterampilan, kekuatan sipil dan koordinasi. Tabel berikut menguraikan tindakan yang diperlukan untuk menghadapi perang asimetris yang perlu dilakukan oleh pihak yang lebih kuat.

Tindakan Menghadapi Perang Asimetris

Lembaga dan Pasukan Khusus

Pada tahun 2006 Gordon R. Sullivan (Jenderal Purn. AS) menyatakan bahwa:

Warfare today has taken on a new form and grown to new levels. The type of warfare is not new, and few of the tactics are new. What is new is that this type of war has recently reached a global level—and the United States and its allies have found themselves ill prepared. Many strategists and theorists have attempted to grasp the concept of the war we are facing today, yet none have adequately given it definition and understanding. (sumber: kata pengantar untuk buku Buffaloe (2006))

Menyadari kekurang-siapan ini, berbagai upaya pembenahan dan penyesuaian dilakukan untuk terus meningkatkan kesiapan Angkatan Bersenjata AS dalam menghadapi perang asimetris. Center for Asymmetric Warfare (CAW) dan Asymmetric Warfare Group (AWG) adalah contoh upaya yang dilakukan AS menghadapi perang asimetris.

Center for Asymmetric Warfare

The Center for Asymmetric Warfare (CAW) didirikan pada tahun 1999, dua tahun sebelum peristiwa 11 September 2001. CAW adalah suatu satuan kerja di Angkatan Laut AS yang dibentuk untuk memperkuat angkatan bersenjata, negara bagian, pemerintah kota, organisasi federal, dan lain-lain dalam melawan, mengendalikan dan mendukung perang global melawan terorisme.

CAW menjadi unit khusus terdepan dalam menghadapi perang asimetris, dengan memberikan pendidikan dan pelatihan, integrasi teknologi, pengujian, dan evaluasi program; dan pengukuran kemampuan untuk berbagai organisasi, termasuk dunia usaha dan LSM, akademia, dan lembaga pemerintah negara lain.

Misi CAW adalah melakukan penelitian, menyelenggarakan pelatihan terfokus, eksperimen lapangan, pengujian dan penilaian untuk meningkatkan kemampuan personel militer dan sipil di semua tingkatan kelembagaannya dalam rangka mencegah, mengurangi, menghadapi, atau merespon, serta melakukan pemulihan terhadap dampak dari ancaman asimetris terhadap ketahanan negara dan keamanan nasional dan global.

Sedangkan visi CAW adalah meningkatnya keselamatan dan keamanan negara dan rakyat Amerika Serikat termasuk sekutu strategisnya melalui pelatihan, eksperimen, perumusan program strategis, taktis, operasional dan lain-lain. CAW mengupayakan berbagai organisasi lintas sektor dan lintas komando, berbagi intelijen dan informasi operasional, berkomunikasi dan berkoordinasi satu sama lain, melakukan perencanaan mengantisipasi ancaman, melaksanakan tindakan operasi pemulihan, dan sebagainya.

Asymmetric Warfare Group

The Asymmetric Warfare Group (AWG) adalah unit khusus di bawah Angkatan Darat AS yang mempunyai misi memberikan bantuan konsultasi operasional kepada Angkatan Darat dan para Komandan Angkatan Gabungan (Joint Force Commanders) untuk meningkatkan efektivitas tempur menghadapi ancaman asimetris. AWG memaparkan observasi dan perspektif penting bagi para komandan senior untuk dipertimbangkan ketika membuat kebijakan dan keputusan mengenai sumber daya pertahanan.

AWG terdiri dari tentara, pegawai sipil Angkatan Darat, dan spesialis yang dikontrak. Setiap anggota AWG diseleksi dan dipilih berdasarkan kemampuan khusus dan pengalaman operasional dengan menggunakan proses nominatif untuk memastikan satuan ini diisi oleh personel yang sangat profesional. AWG mengerahkan pasukannya ke berbagai pelosok dunia untuk mengamati, mengukur,
dan menganalisis informasi tentang situasi kejadian kontemporer yang muncul, khususnya ancaman asimetris dan penanggulangannya secara efektif.

Tugas utama AWG adalah:

  • Mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengkampanyekan solusi mengatasi ancaman melalui praktek-praktek terbaik, peningkatan kemampuan memecahkan masalah, dan penguasaan teknologi penanggulangan ancaman.
  • Mendukung Angkatan Darat dan para Komandan Angkatan Gabungan dengan memberikan saran dan membantu persiapan operasi di wilayah perang untuk mengurangi kerentanan dalam menghadapi ancaman yang ada dan yang akan muncul.
  • Menggelar pasukan AWG ke berbagai pelosok dunia untuk mengamati perkembangan ancaman dan untuk mengidentifikasi tindakan penanganan secara ofensif atau defensif untuk mengalahkan ancaman.
  • Meningkatkan inovasi dan adaptasi kekuatan operasi Angkatan Darat agar menjadi lebih lincah, fleksibel dan mematikan.
  • Mengembangkan pemimpin yang mampu beradaptasi melalui pengembangan organisasi pembelajaran yang terus menerus. AWG memberikan dukungan konsultasi operasional bagi komandan pasukan gabungan dan masing-masing angkatan untuk meningkatkan ketahanan hidup, efektivitas tempur, dan keterampilan teknik mengatasi ancaman dan lain sebagainya.

Penutup

Perang dan damai adalah suatu spektrum, seperti pelangi, namun dapat berubah sewaktu-waktu. Suasana damai yang lama dapat berubah menjadi kerusuhan secara tiba-tiba, karena kebebasan dan demokrasi memungkinkan terjadinya polarisasi dan pengelompokan orang atas dasar apapun: kesamaan ideologi, kesamaan nasib, kesamaan wilayah, dsan lain-lain. Pencetusan gagasan yang dilakukan dengan kekerasan perlu dicegah sejak awal agar tidak membesar menjadi perang asimetris yang dapat membahayakan kedaulatan negara.

Perang asimetris dapat dihadapi oleh negara manapun, baik dalam posisi sebagai negara kuat menghadapi negara atau kekuatan lain yang lebih lemah, maupun dalam posisi sebagai negara lemah dalam menghadapi negara atau kekuatan lain yang lebih besar. Yang kemungkinan akan sering terjadi adalah suatu negara menghadapi kekuatan separatis, teroris, pengacau keamanan, dsb. Karena itu setiap negara perlu mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapinya.

Angkatan bersenjata perlu menjadi lebih gesit, tangguh dan ulet; siap menyesuaikan taktik dan teknik operasional dengan situasi yang dikondisikan pihak yang lebih lemah namun militan dan bisa menggunakan segala macam cara. Tentara harus lebih mampu dan siap bekerjasama dengan berbagai pihak untuk melawan pihak yang lemah namun sering berlindung di tengah kerumunan orang banyak.

Pasukan khusus untuk menghadapi perang asimetris harus siap melakukan operasi gabungan antar matra, termasuk dengan pasukan reguler dan para-militer. Pasukan khusus perlu mengadopsi teknologi baru untuk meningkatkan mobilitas, ketangguhan, waspada terhadap dinamika sosial, didukung dengan persenjataan yang cocok: memojokkan, mengejutkan, melumpuhkan, memingsankan, dan lain sebagainya.

Kekuatan material negara perlu bertumpu pada upaya militer yang cepat tanggap, didukung kapabilitas intelijen yang cermat dan awas setiap saat.

_________________

(Sumber: Herry Darwanto (penulis adalah PNS senior Kementerian Pertahanan)

https://indocropcircles.wordpress.com/2015/12/26/perang-asimetris-untuk-hancurkan-nasionalisme-dan-ideologi/

Referensi dan pustaka:

US Army Builds Fake American City for “Warfare Training”

Kekuatan Media membuat “War on Terror” – Nasionalisme dihancurkan untuk memecah bangsa di dunia

Video: WASPADA! Kekuatan Media kaki-tangan New World Order membuat War on Terror – Nasionalisme dihancurkan untuk memecah negara-negara di dunia:

AKAR IDEOLOGI DAN GERAKAN ISIS ; DARI AL-QAEDA HINGGA KHILAFAH

Taut Posted on Updated on

AKAR IDEOLOGI DAN GERAKAN ISIS ; DARI AL-QAEDA HINGGA KHILAFAH

Oleh ; Ahmad Hilmy Hasan

إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ وَهْىَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ

Sesungguhnya akan terjadi kekacauan dan kekacauan. Barangsiapa yang ingin memecah belah persatuan umat ini sedangkan mereka bersatu (di bawah pemimpin), maka hendaklah kalian penggal leher orang tersebut dengan pedang, siapapun orangnya.”HR. Imam Muslim: 6/22 (4902)

__________________________

Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) header

Keberagaman aliran pada Islam sejak ratusan tahun mulai dimanfaatkan oleh para lawan-lawannya. Apalagi setelah mulai meruncingnya perbedaan kelompok Sunni dan Syiah serta beberapa aliran lainnya yang semakin banyak. Bagi kaum zion dan satanic, hal itu justru menjadi “kartu As” , agar dapat mengadu domba diantara mereka. Maka,Grand Design pun mulai dimainkan. Bagaimana caranya?

Melalui manusia-manusia bergaris keras ini maka akan memunculkan faham-faham yang juga bergaris keras, pelan namun pasti, ajaran ditekuk, dipelintir, digeser, disalah-artikan, lalu merekrut pengikut yang juga bergaris keras. Kemudian ratusan bahkan ribuan orang yang memiliki naluri “satu species” ini pun menjadi alat zion, dimana mereka akan mencuat dan bergerak saat dibutuhkan.

Strategi dalam operasi sangat terselubung bernama  “The Hornet’s Nest” atau strategi“Sarang Lebah Hornet” lalu mulai dimainkan. Strategi yang bertujuan untuk membawasemua ekstrimis-ekstrimis utama dunia untuk bergerak ke satu tempat atau tujuan, dansebagian besar untuk mengguncang stabilitas negara yang dianggap musuhnya, terutama negara-negara Arab. Suatu waktu, sel-sel itu bagai singa yang hanya ditarik ekornya saja, yang tadinya tertidur pun dapat segera mengaum dan bergerak.

Fakta telah membuktikan, jika ditarik sejarahnya, kelompok Mujahiddin, Taliban, Al-Qaeda, Hammas, Bako Haram, Ahmadiyyah, bahkan Islamic Brotherhood dibuat, direstui, dibesarkan dan dibiayai oleh CIA, Mossad dan Zion beserta inteligen barat lainnya, untuk mengobrak-abrik dunia Islam.

Alhasil: bukannya memerangi Zionis, namun mereka justru bergerak untuk memerangi umat Islam itu sendiri, memerangi yang justru satu kepercayaan dengan mereka. Grand Design pun berhasil. Namun sang arsitek pun tetap bermuka serius, bahkan ikut mengutuk mereka lalu memburu mereka pula.

Ketika mereka saling berperang dan saling menghancurkan, tak ada kepentingan yang berarti bagi Zion, AS dan dunia barat untuk turut campur, hingga mereka semua yang bersaudara hancur. Kalah  jadi abu, menang jadi arang. Maka berikutnya, Zion dan sekutunya, tinggal memetik hasilnya.

Semua berawal sejak “Perang Dingin” (Cold War) antara Russia vs. AS, Israel dan dunia Barat. ISIS adalah pecahan dari Al-Qaida buatan AS, dari pecahan Mujahiddin yang juga buatan AS. Mujahiddin berasal dari Pakistan yang sengaja dibuat AS lalu dibawa ke Afganistan oleh AS untuk melawan Russia pada masa perang dingin thn 80-an.[1]

KILAS SEJARAH ISIS DAN HUBUNGANNYA DENGAN AL-QAEDA

“ISIL”, “ISIS”, “Daesh”, dan “NIIS” beralih ke halaman ini.

Negara Islam Irak dan Syam (NIIS atau ISILbahasa Arab: الدولة الإسلامية في العراق والشام), juga dikenal dengan nama Negara Islam Irak dan Suriah (NIIS atau ISIS , /ˈsɪs/), Negara Islam Irak dan asy-Syam,[2] Daesh, atau Negara Islam (NI atau IS),[3] adalah kelompok militan Ekstremis Jihadis Salafi/Wahhabi. Kelompok ini dipimpin oleh dan didominasi oleh anggota Arab Sunni dari Irak dan Suriah. Pada Maret 2015, NIIS menguasai wilayah berpenduduk 10 juta orang di Irak dan Suriah. Lewat kelompok lokalnya, NIIS juga menguasai wilayah kecil di LibyaNigeria, dan Afghanistan. Kelompok ini juga beroperasi atau memiliki afiliasi di berbagai wilayah dunia, termasuk Afrika Utara dan Asia Selatan.

Dalam bahasa Arab, kelompok ini dikenal dengan nama ad-Dawlah al-Islāmiyah fī ‘l-ʿIrāq wa-sy-Syām sehingga terciptalah kata Da’isy atau Daesh (داعش, pengucapan bahasa Arab: [ˈdaːʕiʃ]), singkatan “NIIS” dalam bahasa Arab. Pada tanggal 29 Juni 2014, kelompok ini menyatakan dirinya sebagai negara Islam sekaligus kekhalifahan dunia yang dipimpin oleh khalifahAbu Bakr al-Baghdadi dan berganti nama menjadi ad-Dawlah al-Islāmiyah (الدولة الإسلامية, “Negara Islam” (NI). Sebagai kekhalifahan, NIIS mengklaim kendali agama, politik, dan militer atas semua Muslim di seluruh dunia, dan “keabsahan semua keamiran, kelompok, negara, dan organisasi tidak diakui lagi setelah kekuasaan khilāfah meluas dan pasukannya tiba di wilayah mereka”.[4] Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut NIIS telah melakukan pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan perangAmnesty International melaporkan bahwa kelompok ini telah melakukan pembersihan etnis“berskala sangat besar”. Kelompok ini dicap sebagai organisasi teroris oleh PBB, Uni Eropa dan negara-negara anggotanya,Amerika SerikatIndiaIndonesiaIsraelTurkiArab SaudiSuriah, dan negara-negara lain. Lebih dari 60 negara secara langsung atau tidak langsung berperang melawan NIIS.

Gerakan ISIS bermula dari dibentuknya “Jamah Tauhid dan Jihad” di Iraq pada tahun 2004 oleh Abu Msh’ab Zarqowy. Kemudian pada waktu yang bersamaan Zarqowy menyatakan pembai’atannya terhadap pimpinan tertinggi Al Qoidah Usamah bin Ladin, dengan demikian ia langsung menjadi perwakilan resmi Al Qoidah di Iraq. Ketika Amerika menjajah Iraq pasukan Zarqowy sangat agresif dalam menentang penjajahan tersebut. Hal ini menyebabkan banyak pejuang Iraq yang bergabung dengan pasukan Zarqowy. Meskipun secara idologi mereka berbeda, akan tetapi kondisi perang menyebabkan mereka untuk bergabung dengan segala kekuatan dalam melawan penjajahan Amerika terhadap rakyat Iraq. Dengan berlalunya waktu pengaruh Zarqowy semakin kuat di tengah-tengah para pejuang Iraq dan jumlah pasukannya semakin bertambah dan membesar.

Pada tahun 2006 Zarqowy mengumumkan melalui sebuah rekaman tentang pembentukan ‘Majlis Syura Mujahidin” yang diketuai oleh Abdullah Rosyid Bagdady. Tujuan dari pembentukan “Majlis Syura Mujahidin” ini adalah untuk mengantisipasi perpecahan dikemudian hari antara berbagai kelompok pejuang yang tersebar di berbagai pelosok daerah Iraq. Namun sebulan setelah pernyataannya tersebut Zarqowy terbunuh, lalu posisinya digantikan oleh salah seorang tokoh Al Qoidah yang bernama Abu Hamzah Al Muhajir. Kemudian pada akhir tahun 2006 sebagian besar pasukan “Majlis Syura Mujahidin” berhasil mengambil sebuah keputusan bersama untuk mendirikan Negara Islam Iraq di bawah pimpinan Abu Umar Bagdadi.

Lalu pada tanggal 19 April 2010 pasukan Amerika mengadakan penyerangan udara besar-besaran terhadap salah satu daerah Iraq yang bernama Tsar-tsar. Sehingga terjadilah pertempuran sengit antara pasukan pejuang Iraq dengan penjajah Amerika. Satu minggu setelah pertempuran tersebut pasukan Al Qoidah memberikan pernyataan melalui internet bahwa Abu Umar Bagdadi (Pimpinan Negara Islam Iraq) dan Abu Hamzah Muhajir (Pimpinan Majlis Syura Mujahidin) telah terbunuh dalam pertempuran tersebut di kediaman mereka. Sekitar sepuluh hari berselang dari meninggalnya kedua orang tersebut diadakanlah rapat Majlis Syura Negara Islam Iraq. Dalam rapat Majlis Syura tersebut terpilihlah Abu Bakar Bagdadi sebagai pengganti Abu Umar Bagdadi menjadi Pimpinan Negara Islam Irag.

Abu Bakar Bagdadi, nama aslinya Ibrohim bin ‘Awad bin Ibrohim Al badri lahir disalah satu daerah di Iraq yang bernama Saamuraa’ pada tahun 1971. Ia adalah Alumni S3 Universitas Islam Bagdad yang berprofesi sebagai pengajar/ dosen. Saat Amerika menjajah Iraq Abu bakar Bagdadi bangkit ikut berjuang bersama rakyat Iraq di Saamuraa’, seketika itu ia hanya memimpin sebuah pleton kecil. Kemudian ia berkerjasama dengan beberapa orang yang terindikasi memiliki ideologi teroris untuk membentuk sebuah pasukan perang tersendiri. Saat Zarqowi mengumumkan pembentukan “Majlis Syura Mujahidin” tahun 2006 ia termasuk diantara pimpinan pasukan mujahidin yang bergabung kedalamnya. Saat itu ditunjuklah ia sebagai anggota Majlis Syura sekaligus menduduki posisi untuk menangani bagian pembentukan dan pengaturan urusan kesyariatan dalam “Majlis Syura Mujahidin”. Pada akhirnya ia menjadi orang kepercayaan Abu Umar Bagdadi dan ditunjuk sebagai penggantinya oleh Abu Umar Bagdadi sebagai pimpinan Negara Islam Iraq setelahnya. Inilah sekilas kronologi terpilihnya Abu Bakar Bagdadi sebagai pimpinan Negara Islam Iraq yang kemudian setelah meluaskan sayapnya ke Suriah dan mengklaim daerah-daerah yang sudah dibebaskan oleh para mujahidin lain dari kekuasan Basyar Asad dan menamakan kekuasaanya dengan Negara Islam Iraq dan Syam (ISIS) pada tanggal 9 April 2013.[5]

Setelah terjadinya perperangan di Suriah pada tahun 2011 antara tentara Basyar Asad dengan pasukan penentang penguasa, sebagian kelompok-kelompok mujahidin di Iraq ikut bergabung membantu pasukan penentang penguasa. Pada awal tahun 2014 pasukan penentang penguasa berhasil menguasai sebagian besar dari wilayah suriah, terutama perbatasan antara Suriah dan Iraq. Di antara pasukan yang membantu perjuangan Rakyat Suriah melawan pemerintahan Basyar Asad adalah pasukan Jabhah Nusroh yang merupakan pewakilan Al Qaidah untuk wilayah Syam di bawah pimpinan Abu Muhammad Al Faatih dan lebih popular dengan panggilan Al Jauwlaany. Diantara tokoh-tokoh Al Qaidah yang loyal dengan pasukan Jabhah Nusroh adalah Aiman Zawahiri, Abu Qotadah Palestini dan Abu Muhammad Maqdisi.[6]

Pada tanggal 9 April 2013, Abu Bakar al-Baghdadi mengumumkan melalui sebuah rekaman bahwa pasukan Jabhah Nushrah adalah bagian dari Negara Islam Irak. Dan ia mengganti penyebutan Jabhah Nushrah dengan nama Negara Islam Iraq dan Syam (ISIS). Selang beberapa hari setelah itu, Abu Muhammad al-Jaulani sebagai pimpinan Jabhah Nushrah menjawab pernyataan Abu Bakar al-Baghdadi dalam sebuah rekaman pula. Dalam rekaman tersebut, ia menjelaskan tentang hubungan antara Negara Islam Irak dengan Jabhah Nushrah.

Kemudian, ia menyatakan penolakan keinginan Abu Bakar al-Baghdadi untuk menyatukan Jabhah Nushrah ke dalam Negara Islam Irak yang dipimpin Bagdadi. Setelah itu, ia manyatakan pembaiatannya terhadap pasukan al-Qaeda di Afghanistan. Selang beberapa hari setelah itu, pemimpin al-Qaeda yang lainnya mendukung pernyataan penolakan terhadap klaim Abu Bakar al-Baghdadi. Secara tegas, sekitar bulan November 2013, Aiman Zawahiri menyatakan bahwa ISIS bukan bagian dari al-Qaeda, dan Al-Qaeda berlepas diri dari ISIS yang kejam dan bengis terhadap sesama muslim. Bahkan para tokoh al-Qaeda di berbagai negara menyebut bahwa ISIS adalah kaum Khawarij Kontemporer karena sangat eksrim terhadap orang Islam di luar kelompok mereka, dengan sebutan murtad. Mereka melakukan aksi-aksi kekerasan yang sangat naif terhadap rakyat sipil dan pasukan mujahidin lain, baik di Irak maupun di Suriah.

Pada awalnya, Abu Bakar al-Baghdadi hanya ditugasi untuk menangani urusan pembebasan Iraq, adapun Suriah sudah di bawah kendali pimpinan al-Qaeda Syam. Alasan lain adalah akan terjadinya kekacauan antara sesama kelompok mujahidin yang sedang berjihad di lapangan tempur, bila ada pengklaiman pendirian negara, karena hat ini perlu dibicarakan dengan seluruh elemen yang berjuang dalam pembebasan Suriah. Sejak saat itu, mulailah terjadi gesekan

antara ISIS dengan pasukan-pasukan lain yang sedang berjuang melawan pasukan Bashar Asad di Suriah. Hari demi hari, ISIS semakin menunjukkan kebiadabannya baik terhadap mujahidin lain yang di luar pasukan mereka maupun terhadap rakyat sipil. Mereka meledakkan pos-pos mujahidin dan tempat-tempat pengungsian dengan bom mobil.

Bahkan mereka menghadang konvoi bantuan makanan dan kesehatan di tengah perjalanan yang disalurkan oleh relawan kemanusian dari berbagai Negara Muslim di dunia untuk rakyat Suriah yang sedang berada di pengungsian. Lalu bantuan bahan makanan dan kesehatan tersebut mereka rampas. Bahkan sebagian dari tim relawan yang membawa bantuan kemanusiaan, ada yang mereka siksa atau mereka bunuh.

Pada tanggal 29 Juni 2014, juru bicara ISIS memaklumatkan Abu Bakar al-Baghdadi sebagai Khalifah Muslimin dan nama negera dirubah dari ISIS menjadi Negara Islam. Dari sinilah ISIS melihat setiap orang yang enggan untuk membaiat Abu Bakar al-Baghdadi adalah kafir, karena telah menentang penegakan Negara Islam dan penerapan syariat Islam. Dan mereka melihat memerangi dan membunuh kaum murtad didahulukan dari memerangi orang kafir asli. Karenanya, tidak sedikit kaum Muslimin yang mereka bunuh, baik dari kalangan mujahidin, maupun rakyat sipil dari wanita dan anak-anak dengan cara yang amat keji dan kejam. Perbuatan biadab tersebut mereka sebarkan melalui internet. Tujuan mereka memperlihatkan kekejian tersebut adalah sebagai ancaman dan untuk menghembuskan rasa ketakutan terhadap orang yang enggan menerima keputusan mereka. Semenjak diprolamirkan berdirinya ISIS, sejak itu pula berlangsung pembunuhan dan pembantaian terhadap sesama Muslim dan terhadap jiwa-jiwa lainnya baik di Irak maupun di Suriah.[7]

 AKAR DAN DOKTRIN IDEOLOGI ISIS

Secara singkat dapat dikatakan, ideologi dari ISIS adalah Salafi Jihadi (Crethi, Plethi,2015). Ideologi ini sama dengan Al Qaeda dan Taliban. Bedanya dalam pendekatanya mengenai penegakan Khalifah Islam. Kelompok Jabhat Al Nusra, kelompok Al Qaeda di dalam perang sipil Suriah, yakin bahwa rencana jangka panjangnya menegakkan Kekhalifahan. Namun mereka berpendapat waktunya belum tepat.

Proses lahirnya ISIS sampai mendeklarasikan sebagai Kekhalifahan tidak lepas dari pemikiran yang berkembang di Timur Tengah yang berakar dari pemikiran Wahabi. Paham  Wahabi  dibangun  oleh  Muhammad  bin  Abdul  Wahab  (1115-1206H) atau (1703-1792M),  seorang ulama asal  Uyainah, Najd, di belahan timur Jazirah  Arab.  Ayahnya,  ‘Abdul  Wahab  adalah  hakim  (qadi)  pengikut  madhhab Ahmad  ibn  Hanbal.  Karena  itu  istilah  Salafisme  atau  paham  Salafi  sering  diartikan secara bertukar ganti dengan “Wahabi” (Fahrur Razi).

Selain mengikuti Muhammad bin Abdul Wahhab, mereka juga mengikuti Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ketujuh hijriyah. Ulama yang lebih dahulu dari Abd Wahhab dalam mendakwahkan puritanisme. Karena itu para pegiat dakwah Salafi  pada  umumnya  menaruh hormat  yang  tinggi  kepada  Ibnu  Taimiyyah.

Sekalipun  beberapa  ulama  Mesir  pada  abad  ke-19  yaitu  Muhammad  Abduh, Jamaluddin  al-Afghani,  dan  Rasyid Ridha  dikenal  sebagai  pegiat  puritanisme, tetapi  sebagian  kaum  Salafi  menolak  pemikiran  mereka,  karena  mereka menerima, bahkan menganjurkan umat Islam melakukan rasionalisasi pemikiran dan menerima “modernisme”.

Menurut Fahrur Razi, Wahabi berganti baju menjadi Salafi atau terkadang  Ahl al-Sunnah  yang seringnya tanpa diikuti dengan kata wa al-Jama’ah karena mareka risih disebut wahabi. Selain itu, mereka juga mengalami banyak kegagalan dalam dakwahnya karena penisbatan tersebut.

Roel Meijer dalam Global Salafism : Islam’s New Religious Movement dikutip Fahrur Razi menyebutkan ada empat doktrin Salafi. Pertama,  program  Wahabisme  untuk  kembali  kepada  sumber-sumber  pokok Islam (al-Qur’an dan Hadis), sedang secara faktual mengikuti  madzhab Hanbali.

Hal ini memperlihatkan adanya kondradiksi. Reformer Nasir al-Din al-Bani (1914-1999), seorang yang paling berpengaruh terhadap salafisme modern, seorang pertama yang menggambarkan kontradiksi ini dalam Wahabisme. Stephane Lacroix menunjukkan bahwa al-Bani dipengaruhi oleh reformer salafi liberal akhir abad ke 19, yang menolak pemujaan kuburan syekh dan taqlid, dan mempromosikan ijtihad. Akan tetapi al-Bani lebih radikal dari pada para reformer tersebut dalam hal studi hadis sebagai poin sentral gerakan reformisnya, yang mengarahkannya kepada ilmu pengetahuan.[8]

Kedua,  regulasi  hubungan  antara  orang  mukmin  dan  bukan  mukmin. Kontribusi  Wahabisme  terhadap  Salafisme  adalah  perlakuan  keras  terhadap orang asing dan  sekte-sekte yang non-Wahabi. Di sinilah muncul konsep ajaran al-Wala’ wa al-Bara’  (kesetiaan dan penolakan) atau antara orang mukmin dan bukan  mukmin.  Wilayah  non  Wahabi  disebut  sebagai  negara  orang-orang musyrik  (bilad al-mushrikin). Hal ini dapat digunakan untuk memahami perang dengan kerajaan Ottoman dan invasi ikhwan (pasukan khusus Wahabi) ke Iraq.

Ketiga,  tema  Wahabi  yang  mempengaruhi  Salafisme  dan  telah menjadikannya  radikal  adalah  penolakannya  terhadap  Syi’ism  sebagai  bid’ah dengan dua alasan:

(1)  orang-orang Syi’ah  mengkultuskan imam dan,

(2) orang-orang  Syi’ah  menolak  tiga  Khulafa’  Rashidun  (632-661)  dan  karenanya  orang-orang Syi’ah menolak sahabat Nabi dan otentisitas hadits yang merupakan dasar doktrin wahabi.[9]

Keempat,  ambisiuitas  Wahabisme  yang  diwariskan  kepada  Salafisme modern adalah pada praktik Hisba,  yakni  al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahy ‘an al Munkar.  Meskipun  praktik  ini  berlangsung  lama  dan  telah  eksis  sejak  masa Dinasti  Abbasiyah  (750-1258M)  dan  dinyatakan  oleh  Ibnu  Taimiyah  sebagai bentuk  puncak  jihad,  hal  tersebut  dipertahankan  oleh  Wahabisme  untuk menegaskan sikap moral kerasnya terhadap masyarakat dan meluruskan deviasi seperti  merokok,  memuja  tempat  keramat,  dan  bentuk-bentuk  lain  yang tergolong perbuatan syirik.

Menurut Crethi Plethi (2015) gerakan Salafi ini memfokuskan kepada studi keagamaan dan berdakwah sebagai cara untuk menciptakan masyarakat dan negara Islam. Namun dalam gerakan salafi ini muncul faksi ekstrim yang disebut Salafiyya Jihadiyya (Jihad Salafi). Pandangan ideologis yang mempengaruhi perkembangan salafi muncul dari Sayyid Qutb (1906-1966) yang menginspirasi perlawanan dengan jalan keras (radikal).

Puncak dari karakter ideologi ISIS ini mengumumkan terbentuknya Khilafah Islam 25 Juni 2014 sebagai perlawanan terhadap dunia yang tidak mendasarkan kehidupannya pada ajaran Islam. Ideologi ISIS ini juga berangkat dari paham Sunni yang mendasarkan kepada kehidupan kaum Salafiy. Oleh karena itulah kebangkitan ISIS menimbulkan persoalan baru relasi mereka dengan kelompok Syi’ah. Dari sikap-sikap ISIS terlihat mereka sangat kejam dalam memperlakukan kaum Syi’ah dan kelompok Sunni yang tidak sejalan. Selain itu pendukung ISIS melakukan aksi merusak peninggalan peradaban lama yang dianggap musyrik sebagai refleksi paham yang berakar dari Wahabisme. (Asep Setiawan)

GERAKAN PEMURNIAN DAN LEGITIMASI SALAFIY-WAHABI

Kata “Salafi” diasosiasikan dengan al-Salaf al-Shalih yang bermakna orang terdahulu yang saleh, yakni para ulama klasik  yang menjadikan Al-Qur’an dan Hadith sumber ajaran Islam.[10]

Menurut Abu al-Fadl Muhamad ibnu Manzur, kata Salafi merupakan sebuah bentuk penisbatan kepada al-Salaf yang mana secara bahasa bermakna “orang-orang yang hidup sebelum zaman kita”.[11] Adapun secara terminologi, al-Salaf dapat diartikan sebagai generasi tiga abad pertama sepeninggal Rasulullah, yakni para sahabat Nabi Saw., kemudian para Tabi’in [12], dan Tabi’ al-Tabi’in.[13]

Oleh karena itu, seorang Salafi berarti seseorang yang mengikuti jalan para sahabat Nabi Saw., Tabi’in, dan Tabi’ al-Tabi’in dalam seluruh sisi ajaran dan pemahaman mereka.[14]

Dengan kata lain, Salafi adalah orang atau kelompok yang  memahami Islam dan mempraktikkannya dengan mengambil teladan kepada al-Salaf al-Shalih.[15]

Manhaj Salafi berangkat dari pandangan, bahwa Islam telah sempurna pada zaman Nabi Muhammad dan dua generasi sesudahnya, tetapi dalam perjalanan waktu hingga kini, Islam telah mengalami banyak kontaminasi dan banyak penyimpangan serta tambahan-tambahan yang tidak dikehendaki sebagai akibat dari pengaruh kultur dan berbagai paham serta perjumpaannya dengan masyarakat-masyarakat di berbagai belahan dunia. Untuk itulah mengapa dakwah salafi selalu mengajak memurnikan ajaran Islam dengan cara membersihkan umat dari tambahan-tambahan yang dianggap menyesatkan dan disebut dengan bid’ah  dan khurafat, serta merasa berkewajiban membimbing umat kembali kepada ajaran yang benar menurut ukuran paham mereka, yang menurut mereka pahamnya adalah ajaran sebagaimana dipahami oleh Salafus Saleh. Mereka meyakini bahwa al-Qur’an, Sunnah dan ijma’ ulama cukuplah sudah menjadi petunjuk bagi orang Islam. Semua ulama Salafi menyepakati prinsip ini.

Paham Wahabi dibangun oleh Muhammad bin Abdul Wahab (1115-1206H) atau (1703-1792M),  seorang ulama asal Uyainah, Najd, di belahan timur Jazirah Arab. Ayahnya, ‘Abdul Wahab adalah hakim (qadli) pengikut madhhab Ahmad ibn Hanbal. Karena itu istilah Salafisme atau paham Salafi sering diartikan secara bertukar ganti dengan “wahabi”[16].

Selain mengikuti Muhammad bin Abdul Wahha>b, mereka juga mengikuti Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ketujuh hijriyah. Ulama yang lebih dahulu dari Abd Wahhab dalam mendakwahkan puritanisme. Karena itu para pegiat dakwah Salafi pada umumnya menaruh respek yang tinggi kepada Ibnu Taimiyyah. Sekalipun beberapa ulama Mesir pada abad 19 yaitu Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, dan Rasyid Ridha dikenal sebagai pegiat puritanisme, tetapi sebagian kaum Salafi menolak pemikiran mereka, karena mereka menerima, bahkan menganjurkan umat Islam melakukan rasionalisasi pemikiran dan menerima “modernism”.

Wahabi berganti baju menjadi Salafi atau terkadang Ahl al-Sunnah yang seringnya tanpa diikuti dengan kata wa al-Jama’ah karena mareka risih disebut wahabi. Selain itu, mereka juga mengalami banyak kegagalan dalam dakwahnya karena penisbatan tersebut.[17]

Sejarawan Saudi Uthman ibn ‘Abdullah ibn Bishr memuji Ibn ‘Abdul Wahab sebagai orang yang mendapat berkah dari Tuhan sehingga mampu memahami masalah yang bertentangan dan menunjukkan jalan yang lurus kepada masyarakat. Namun ayah dan kakak kandung Ibn ‘Abdul wahab sendiri telah mencium gelagat tak beres dalam pemikiran pendiri Wahabi ini. Konon, ‘Abdul Wahab diberhentikan dari posisi sebagai hakim dan diperintahkan meninggalkan ‘Uyainah, karena ulah anaknya yang ganjil dan berbahaya ini. ‘Uthman menghindari menceritakan detail perselisihan anak dengan ayah dan kakak kandungnya secara diplomatis dengan mengungkapkan sebagai “percakapan di antara keduanya” (waqa’a baynahu wa bayna abihi kalam)[18]belakangan Sulaiman ibn ‘Abdul Wahab, kakak kandung pendiri Wahabi ini, mengkritik dan menulis penolakan tentang pemikiran adik kandungnya ini, yaitu dalam dua bukunya, al-Sawa’iq al-Ilahiyah fi al-Radd ‘ala al-Wahhabiyah[19] dan Fasl al-Khitab fi al-Radd ‘ala Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab.[20]

Para pengikut Salafi juga mengidentifikasi diri mereka sebagai kelompok Ahl-al-sunnah wa al-Jama’ah yang paling legitimate, mereka meyakini sebagai al-Firqah al-Najiyah, yaitu golongan yang selamat. Mereka juga menyebut dirinya sebagai al-Taifah al-Mansurah, kelompok yang senantiasa ditolong dan dimenangkan oleh Allah. Mereka juga mengklaim diri sebagai Ahl al-Hadith wa al-Athar dikarenakan berpegang teguh pada hadis dan athar di saat orang-orang banyak yang mengedepankan akal.

Di antara pendukung Salafi ada yang mengklaim bahwa paham Salafi telah ada sejak masa Nabi itu sendiri, akan tetapi faktanya Salafi kontemporer pada umumnya merujuk pada Muhammad bin ‘Abdul Wahab dan Ibn Taimiyah serta muridnya, Ibn Qayyim al-Jauziya. Para ulama ini sejatinya adalah pengikut pemikiran  Ahmad bin Hanbal, pendiri madhhab Hanbali yang membela dan menaruh perhatian sangat besar terhadap sunnah sebagai sumber yang harus diperhatikan dalam menetapkan hukum. Apresiasi yang tinggi terhadap Ahmad bin Hanbal oleh kaum Salafi merupakan konsekuensi dari apresiasi mereka terhadap al-Salaf al-Salih. Kaum Salafi menganggap diri mereka sebagai pengikut langsung Nabi Muhammad dan merasa sebagai satu-satunya representasi kaum dalam mewarisi kesalehan Salafus Saleh.

Salah satu perbedaan antara NIIS dan gerakan Islamis atau jihadis lainnya seperti al-Qaeda adalah penekanannya pada eskatologi dan apokaliptisme iman kepada Hari Akhirat dan keyakinan bahwa kedatangan Imam Mahdi sudah dekat. NIIS percaya bahwa mereka akan mengalahkan pasukan “Romawi” (Rum) di kota Dabiq sesuai takdir yang telah digariskan.[21] Mengikuti penafsiran Hadits Dua Belas Imam, NIIS juga percaya bahwa al-Baghdadi akan digantikan oleh empat khalifah yang sah.

Seorang pakar Islamisme militan, William McCants, menulis:

Hari Kiamat memenuhi propaganda Negara Islam. [Hari Kiamat] merupakan nilai jual utama untuk para pejuang asing yang ingin mendatangi tempat-tempat yang diramalkan menjadi ajang pertempuran terakhir [umat Islam]. Perang saudara yang berkobar di negara-negara tersebut [Irak dan Suriah] menguatkan ramalan ini. Negara Islam terus mengompori api-api kiamat. […] Bagi generasi Bin Laden, hari kiamat bukan alasan perekrutan yang efektif. Dua dasawarsa lalu, sejumlah negara di Timur Tengah jauh lebih stabil dan berhasil meredam sektarianisme. Saat itu lebih baik mengangkat isu pemberantasan korupsi dan tirani daripada perlawanan terhadap Antikristus [Dajjal]. Kini, hari kiamat menjadi alasan perekrutan yang dirasa lebih masuk akal.

KESESATAN IDEOLOGI

Berikut ini kita sebutkan beberapa kesesatan ISIS yang paling fatal dan persis sama dengan sifat-siafat Khawarij yang dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi, diantara adalah:

Pertama: Mengklem bahwa pimpinan mereka adalah sebagai Khalifah yang wajib dibai’at dan dita’ati oleh setiap muslim.

Semenjak kemunculan khawarij dalam sejarah Islam mereka selalu mengklem bahwa pemimpin mereka adalah pemimpin yang sah dan mutlak untuk ditaati. Karena menurut mereka seorang pemimpin harus terlepas dari dosa-dosa besar. Bila seorang pemimpin terjatuh kedalam dosa besar maka menurut mereka pemimpin tersebut wajib diganti. Bahkan harus dibunuh karena ia telah kafir dengan dosa tersebut, kecuali taubat dan menyatakan keislamannya kembali. Oleh sebab itu sejak dulu Negara Khawarij tidak pernah stabil dan bertahan lama. Selama pemimpin mereka manusia, maka ia sangat

berpeluang untuk jatuh kedalam dosa. Sangat sulit dan tidak akan pernah ada pemimpin yang bebas dari dosa.

Pengkleman seorang penguasa tentang dirinya sebagai Khalifah umat Islam sudah sering terjadi dalam sepanjang sejarah umat Islam setelah umat Islam mengalami kemunduran dalam kekuatan politik semenjak masa Dinasti Umawiyah, Abasiyah sampai Dinasti Utsmaniyah. Bahkan tidak sedikit pula diantara mereka yang mengaku sebagai Imam Mahdi akhir zaman. Terakhir peristiwa pengkleman tesebut dilakukan oleh kelompok Juhayman di kota Makkah pada tahun 19791[22]. Peristiwa-peristiwa tersebut telah memakan korban yang cukup banyak dari kalangan kaum muslimin. Hal yang melatar belakangi peristiwa-peristiwa serupa biasanya dimulai dari proses dalam pembelajaran agama yang jauh dari bimbingan para ulama. Terutama dalam memahami dalil-dalil yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di akhir zaman. Kemudian ditambah lagi oleh kondisi umat yang memprihatinkan, membuat sebagian orang ingin menjadi pahlawan di siang bolong. Dan sebab yang lebih dominan adalah kecintaan terhadap kekuasaan, sebagian orang ada yang menjadikan argumentasi agama demi mencapai tujuan hawa nafsunya. Maka Abu Bakar Bagdady bukanlah orang pertama yang mengaku dirinya sebagai Khalifah dalam sejarah Islam. Bahkan di antara mereka yang mengaku sebagai Khalifah terdapat orang jauh lebih baik kepribadiannya dari Abu Bakar Bagdadi. Akan tetapi pengakuan mereka tersebut berlaku pada wilayah yang mereka kuasai semata. Disebut khalifah karena ia pengganti penguasa sebelumnya, bukan dalam artian khalifah sebagai penguasa umat Islam di seluruh penjuru dunia[23].

Maka khalifah dalam pengertian tersebut, bisa disamakan pada setiap pemimpin muslim yang memimpin kaum muslimin di wilayah Negara manapun. dijelaskan oleh Syeikh Muhamad Mubarakfuri bahwa pada abad ke 5H banyak sekali penguasa yang menyebut dirinya khalifah. Di Andalus ada lima orang, masing-masing menyebut dirinya khalifah dan termasuk pula penguasa Mesir dan Dinasti Abasiyah di Bagdad, sampai yang mengaku khalifah di berbagai penjuru dunia dari kalangan Alawiyah dan khawarij. Hal inilah yang dimaksud oleh sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam: “Akan terdapat khalifah-khalifah yang terlalu banyak[24]. (HR. Muslim).

Hal yang senada juga dijelaskan imam Nawawi dalam kitabnya “Syarah Shohih Muslim”[25].

Adapun Khilafah dalam artian melindungi segenap umat Islam di seluruh pelosok sedunia, telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bahwa pemerintahan yang berbentuk kekhalifahan seperti ini hanya berlangsung selama 30 tahun setelah beliau wafat. Kemudian setelah itu bentuk pemerintahan akan berubah menjadi kerajaan.

Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:

الخلافة في أمتي ثلاثون سنة ثم ملك بعد ذلك

Kekhilafahan di tengah umatku selama tiga puluh tahun, kemudian setelah kerajaan“.[26]

Kedua: Mengkafirkan setiap muslim yang tidak mau membai’at khalifah mereka.

Salah satu dari kebiasaan orang-orang khawarij sejak dulu kala adalah kegemaran mereka dalam mengkafirkan orang muslim yang tidak mau menerima pandangan dan pendapat mereka. Jika duhulu mereka berani mengkafirkan seperti Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu sahabat yang mulia dan dijamin masuk surga oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam, bagaimana dengan pemimpin setelahnya atau pemimpin-pemimpin yang ada saat ini? Jika zaman sekarang mereka berani mengkafirkan Syeikh Bin Baz bagaimana dengan ulama yang lainnya?

Sesuai dengan berbagai informasi yang kita peroleh dari berbagai sumber, pasukan ISIS sangat mudah mengobral vonis kafir terhadap muslim yang di luar kelompok mereka.

Rasul kita Muhammad shalallahu’alaihi wassalam telah memperingatkan umatnya dari jauh-jauh hari agar mereka tidak bermudah-mudah dalam memponis murtad atau kafir antara sesama mereka. Dimana bila seorang muslim dituduh kafir oleh sorang muslim lain, maka ucapan tersebut melekat pada salah seorang mereka. Bila yang dituduh tidak demikian adanya, maka ucapan tersebut kembali kepada orang yang menuduh kafir.

إِذَا كَفَّرَ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا

Apabila seseorang mengkafirkan saudaranya maka sungguh salah seorang dari keduanya telah terkena kalimat tersebut“.[27]

Dalam riwayat lain berbunyi:

أَيُّمَا امْرِئٍ قَالَ لأَخِيهِ يَا كَافِرُ. فَقَدْ بَاءَ بِهَا أَحَدُهُمَا إِنْ كَانَ كَمَا قَالَ وَإِلاَّ رَجَعَتْ عَلَيْهِ

Siapaun yang berkata kepada saudaranya: Hai kafir! maka sungguh salah seorang dari keduanya telah terkena kalimat tersebut, jika adanya seperti ia ucapkan, dan jika tidak maka ucapan tersebut kembali kepada yang mengucapkannya“.[28]

Ketiga: Menghalalkan darah setiap orang yang tidak mau membai’at khilafah mereka.

Diantara kesesatan khawarij dari sejak dulu kala dengan menghalalkan darah orang yang di luar kelompok mereka. Bahkan sesama kelompok khawarij sekalipun dengan alasan yang sangat sepele mereka dengan mudah melakukan pembunuhan. Meskipun orang yang akan mereka eksekusi nyata-nyata mengucapakan dua kalimat syahadat di hadapan mereka secara jelas, akan tetapi mereka tetap menyiksa dan membunuhnya dengan cara sadis dan kejam. Bahkan mereka meledakkan masjid yang dipenuhi oleh jamaah menunaikan sholat jum’at.

Dalam dokrin ISIS memerangi muslim yang di luar kelompok mereka yang mereka sebut sebagai orang yang murtad lebih utama untuk dibunuh dan diperangi sebelum memerangi orang-orang kafir asli.

Lihatlah bagaimana yang dilakukan oleh pendahulu mereka terhadap seorang sahabat nabi yang bernama Abdullah bin Khabbaab, mereka membunuhnya dan membelah perut isterinya sedang hamil di hadapannya.[29]

Sesuai dengan informasi yang kita dapatkan dari orang yang langsung menyasikan kekejam ISIS, sungguh perbuatan mereka jauh lebih keji, lebih kejam, lebih sadis dan lebih hina dari khawarij-khawarij yang terdahulu.

Bahkan mereka melakukan pembunuhan secara membabi buta, tanpa memperdulikan orang baik atau bukan, orang yang diberi jaminan keamanan atau bukan.

Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:

مَنْ خَرَجَ مِنَ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عُمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلاَ يَتَحَاشَ مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلاَ يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّى وَلَسْتُ مِنْهُ

Barangsiapa yang meninggalkan ketaatan kepada pemimpin dan keluar dari jama’ah (persatuan)! Lalu ia mati, maka ia mati dalam kejahilian. Barangsiapa yang berperang di bawah bendera kesesatan, ia marah demi kelompok tertentu atau karena mengajak kepada kelompok tertentu, atau karena mendukungnya! Lalu ia terbunuh, maka ia terbunuh dalam kajahilian. Barangsiapa yang memberontak atas umatku, ia membunuh orang baik maupun yang jahat, dan tidak memperdulikan orang beriman sekalipun, demikian pula tidak menepati janji bagi orang yang diberi perjanjian! Maka ia tidak termasuk bagian dariku dan aku tidak termasuk bagian darinya“.[30] (HR. Muslim).

Berkata Imam Bukhari: Oleh sebab itu Ibnu Umar memandang mereka adalah seburuk-buruk makhluk, karena mereka mengambil ayat-ayat yang turun tentang orang kafir lalu mereka menjadikannya untuk orang-orang mukmin.

Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam senantiasa memberikan nasehat kepada pasukan yang beliau utus untuk sebuah perperangan agar tidak membunuh anak-anak:

اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ اغْزُوا وَلاَ تَغُلُّوا وَلاَ تَغْدِرُوا وَلاَ تَمْثُلُوا وَلاَ تَقْتُلُوا وَلِيدًا

Berperanglah di jalan Allah dengan menyebut nama Allah! perangi orang yang kafir kepada Allah! Jangan berbuat curang! jangan mengambil harta rampasan perang sebelum pembagian! Jangan lakukan penyiksaan! Dan jangan kalian bunuh anak-anak!”.[31]

Dalam sebuah perperangan Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam mendapatkan kabar ada anak-anak kecil yang terbunuh, lalu beliau bersabda:

مَا بَالُ أَقْوَامٍ جَاوَزَهُمُ الْقَتْلُ الْيَوْمَ حَتَّى قَتَلُوا الذُّرِّيَّةَ، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا هُمْ أَوْلاَدُ الْمُشْرِكِينَ، فَقَالَ: أَلاَ إِنَّ خِيَارَكُمْ أَبْنَاءُ الْمُشْرِكِينَ ثُمَّ قَالَ: أَلاَ لاَ تَقْتُلُوا ذُرِّيَّةً أَلاَ لاَ تَقْتُلُوا ذُرِّيَّةً

Apa gerangan ada kaum pada hari ini melampoi batas dalam membunuh sehingga ada yang membunuh anak-anak. Lalu seseorang berkata: Ya Rasulullah! Mereka tersebut anak-anak orang musyrikin. Beliau menjawab: Bukahkah orang yang terbaik diantara kalian hari ini adalah anak-anak orang musyrikin? Kemudian beliau bersbada: “Ketahuilah, Jangan kalian membunuh anak-anak! Ketahuilah jangan kalian membunuh anak-anak“.[32]

Dalam aksinya orang-orang ISIS tidak segan-segan meledakan masjid yang dipenuhi oleh jama’ah sedang menunaikan sholat Jum’at. Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam melarang melakukan penyerangan terhadap perkampungan yang ada masjid di dalamnya atau terdengar suara azan dari kampung tersebut.

إِذَا رَأَيْتُمْ مَسْجِدًا أَوْ سَمِعْتُمْ مُؤَذِّنًا فَلاَ تَقْتُلُوا أَحَدًا

“Apabila kalian melihat masjid atau mendengar suara Muadzin maka jangan kalian membunuh seorangpun“.[33]

Kalau kita perhatikan di masa kekhalifahan Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu ada sebagian kaum muslimin yang tidak mau membai’at beliau. Akan tetapi beliau tidak pernah mengkafirkan apalagi membunuh mereka. Bahkan orang-orang khawarij yang mengkafirkan dan menentang beliau tidak beliau kafirkan. Meskipun beliau pada akhirnya meninggal karena dibunuh oleh seorang khawarij yang bernama Ibnu Muljam.

Jika Amirul mukminin Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu tidak mau melakukan pemaksaan terhadap orang yang tidak mau membai’at beliau. Lalu apakah Abu Bakar Bagdadi layak untuk memaksa agar orang harus membai’atnya? Tidakkah ia merasa malu terhadap dirinya sendiri.

Keempat: Mewajibkan setiap muslim untuk membatalkan bait’at mereka kepada pemimpin Negara mereka masing-masing.

Hal ini sangat berpontesi menjadikan kaum muslimin untuk dicurigai dan dimata-matai oleh pemerintah mereka, bahkan menyebabkan sebagian mereka ditangkap dan dihukum. Namun apakah mereka mendapat pembelaan dari orang-orang ISIS di sana? Apakah ISIS tahu tentang keadaan mereka dan dapat berbuat sesuatu untuk mereka?

Bahkan yang lebih fatal lagi dari itu semua, hal ini akan memancing terjadinya pemberontakan dan pembunuhan di banyak Negara muslim. Perbuatan mereka jelas-jelas sangat menentang dalil-dalil agama. Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam telah memperingatkan umat terhadap kondisi ini dalam sabdanya:

وَسَتَكُونُ خُلَفَاءُ فَتَكْثُرُ. قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ: فُوا بِبَيْعَةِ الأَوَّلِ فَالأَوَّلِ وَأَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

Akan terdapat khalifah-khalifah yang terlalu banyak”, para sahabat bertanya: apa perintahmu untuk kami? Jawab Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam: “Penuhi bai’at yang pertama terlebih dahulu dan berikan hak mereka, sesungguhnya Allah akan meminta pertanggungjawaban mereka terhadap apa yang Allah tugaskan kepada mereka.[34]

Hadits ini menegaskan kepada kaum muslimin dalam kondisi banyaknya orang mengaku dirinya sebagai kholifah untuk tetap taat dan setia terhadap pemimpin mereka yang pertama.

Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam telah memperingatkan umat Islam tentang bagaimana menyikapi orang yang memecah bela persatuan kaum muslimin. Berkata ‘Arfajah: aku mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:

إِنَّهُ سَتَكُونُ هَنَاتٌ وَهَنَاتٌ فَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُفَرِّقَ أَمْرَ هَذِهِ الأُمَّةِ وَهْىَ جَمِيعٌ فَاضْرِبُوهُ بِالسَّيْفِ كَائِنًا مَنْ كَانَ

“Sesungguhnya akan terjadi kekacauan dan kekacauan, Barangsiapa yang ingin memecah bela persatuan umat ini sedangkan mereka bersatu (dibawah pemimpin), maka hendaklah kalian penggal leher orang tersebut dengan pedang siapapun orangnya.[35]

Hadits ini memberikan ketegasan untuk menjaga persatuan di bawah penguasa yang resmi. Dan kita wajib melakukan penolakan terhadap setiap orang yang berusaha memecah bela antara kaum muslimin dengan pemimpin mereka.

Kelima: Kebodohan mereka tentang ajaran agama terutama perkara yang berkaitan jihad dan khilafah.

Maka sifat-sifat mereka persis sama dengan sifat orang-orang Khawarij yang yang telah digambarkan oleh Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam dalam sunnahnya. Oleh sebab itu tidak ada perbedaan pendapat di tengah para ulama Ahlussunnah untuk menyebut mereka sebagai Khawarij kontemporer. Bahkan tokoh-tokoh dari kalangan kelompok Al Qoidah sendiri menyebut ISIS sebagai kelompok Khawarij yang paling eksrim dalam sejarah.

Berbagai sepak terjang yang dilakukan oleh ISIS terhadap kaum muslimin di luar kelompok mereka. Seperti penyembelihan dan pembunuhan yang mereka lakukan terhadap orang-orang muslim dan nyawa-nyawa yang tidak berdosa adalah bukti kejahilan mereka dengan ajaran agama yang mulia ini. Terlebih-lebih lagi bila kita mendengarkan berbagai alasan mereka dalam melakukan tindakan biadap tersebut. mereka benar-benar persis dengan sifat khawarij yang terdapat dalam hadits-hadits berikut ini.

عن يسير بن عمرو قال قلت لسهل بن حنيف: هل سمعت قول النبي في الخوارج شيئا؟ قال سمعته يقول وأهوى بيده قبل العراق: يخرج منه قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الإسلام مروق السهم من الرمية

Yasir bin Amru bertanya kepada Sahal bin Hanif: Apakah kamu pernah mendengar Nabi shalallahu’alaihi wassalam berbicara tentang Khawarij? Jawab Sahal: Aku mendengar beliau bersabda sambil menunjuk dengan tangannya ke arah Bagdad. “Akan keluar dari daerah sana sekelompok kaum yang gemar membaca Al qur’an akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya.[36]

Para ulama menerangkan maksud dari kata-kata “gemar membaca Al qur’an akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka” mereka tidak memahami tentang apa yang mereka baca dan bacaan tersebut tidak memperbaiki keyakinan mereka, karena isi bacaan mereka tersebut tidak masuk kedalam hati mereka dalam bentuk ilmu. Tentu hal ini yang menyebabkan mereka bodoh tentang ajaran agama. Bahkan digambarkan kecepatan mereka keluar dari agama bagaikan secepat anak panah dari busurnya.

Dalam hadits yang lain diperjelas lagi tentang gambaran kebodohan mereka. Berkata Ali bin Abi tholib radhiallahu ‘anhu aku mendengar Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam bersabda:

سَيَخْرُجُ فِى آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الأَحْلاَمِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

Akan keluar di akhir zaman sekelopok orang, berusia muda, berpikiran dungu. Mereka mengatakan sebaik-baik ucapan manusia. Mereka gemar membaca Al qur’an akan tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya.[37]

Dalam melakukan berbagai aksinya orang-orang khawarij menggunakan simbol-simbol agama dan merasa membela agama Allah. Tetapi tanpa mereka sadari, pada hakikatnya mereka merobohkan agama Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah shalallahu’alaihi wassalam tentang mereka:

سَيَكُونُ فِى أُمَّتِى اخْتِلاَفٌ وَفُرْقَةٌ قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ -إلى أن قال- يَدْعُونَ إِلَى كِتَابِ اللَّهِ وَلَيْسُوا مِنْهُ فِى شَىْءٍ مَنْ قَاتَلَهُمْ كَانَ أَوْلَى بِاللَّهِ مِنْهُمْ

Akan terjadi di tengah-tengah umatku perselisihan dan perpecahan, sekelompok kaum yang indah dalam ungkapan namun buruk dalam perbuatan“. (sampai pada ungkapan beliau): “Mereka mengajak kepada kitab Allah, tetapi mereka tidak termasuk kedalamnya sedikitpun. Orang yang menentang mereka lebih baik di sisi Allah dari pada mereka“.[38]

Dalam lafazh yang lain berbunyi:

يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ وَهُوَ عَلَيْهِمْ

Mereka membaca Al Qur’an, hal itu mereka kira (hujjah) bagi mereka namun sesungguhnya hal itu (hujjah) di atas mereka“.[39]

IDENTITAS DAN PEMBERDAYAAN SALAFISME

Salafisme mempunyai kapasitas untuk mentransformasikan identitas-identitas kaum muda dan migran ke dalam identitas baru sebagai al-firqah al-na>jiyah yang secara langsung memperoleh akses istimewa kepada Sang Khaliq. Salafis dengan demikian, dapat menantang kekuatan hegemoni para lawannya: orang tua, elite, negara, atau dominasi nilai-nilai kultur dan ekonomis dari sistem kapitais global. Salafisme lebih dari Ikhwa>n al-Muslimi>n dan Hizb al-Tahri>r , Salafisme dapat memberdayakan individu-individu dengan menyediakan sebuah model kebenaran dan aksi sosial alternatif universal walaupun dalam bentuk pasif dari penolakannya terhadap agama, kultur, dan system poitik yang ada.[40] Roy menyatakan bahwa kapasitas mobilisasi Salafisme, sebagaimana ditekankan oleh haykel, berada dalam kemampuannya secara moral untuk memperlakukan secara kasar kepada lawannya. Sebagaimana dinyatakan oleh Muhammad Ali Adrouni, bahwa kekuatan dasar Salafisme berada dalam kapasitasnya untuk mengatakan “Kami lebih baik daripada Anda” inilah yang disebut dengan “sense of Superiority

Menurut Roel Meijer “sense of Superiority “ dari Salafisme mempunyai enam aspek.[41] Pertama, ia bukan gerakan revolusioner secara eksplisit, tidak secara langsung menentang stuatus quo. Dengan mengklaim untuk merobohkannya dengan idiologi asing, akan tetapi ia mengklaim untuk membangun pesan moral superior dengan pemurnian struktur-struktur yang ada pada level individual, keluarga, atau komunitas. Kedua, pemberdayaan diserap dari klaimnya terhadap superioritas intelektual dalam pengetahuan agama. Ketiga, Salafisme menyediakan identitas yang kuat terhadap para pengikutnya. Salafisme menarik untuk menjadi beda dalam penampilan. Keempat, ia membolehkan pengikutnya untuk mengidentifikasi jauh lebih mudah dengan umat yang lebih besar daripada konsep persaudaraan. Kelima, ia adalah aktif walaupun tanpak diam ia memberdayakan pengikutnya dengan mendorong mereka untuk secara aktif berpartisipasi dalam misi salafi dan berdakwah. Keenam, sebagaimana semua gerakan keagamaan, ia memiliki tantangan yang sangat hebat tentang ambiguisitas dan fleksibilitas. Meskipun ia mengklaim dirinya bersih dan tegas dalam doktrin dan usaha kerasnya untuk pemurnian, tetapi dalam praktik ia bersikap lunak. Ambiguitasnya membolehkan pengikutnya untuk secara politis menjadi pendukung penguasa atau penentangnya.

DIMENSI POLITIK SALAFISME

Dalam Salafisme, salah satu aspek yang sangat membingungkan dan licin adalah politik. Ini membentuk dilema sentral dalam Salafisme. Seacara tradisional, politik dalam Wahabisme diadopsi dari bentuk nasihat yang disampaikan oleh ulama dibalik layar kepada pemeran di lapangan. Sedang problem sentral Salafisme modern adalah cara bertindak secara non-politis dalam duna politik yang menjadikan media krusial. Islamism menjadi gerakan masa, sedangkan Barat menjadi sangat curiga terhadap hal itu yang sering dihubungkan dengan intoleransi dan terorisme.

Ada tiga bentuk dimensi politik Salafisme yang ditampilkan : 1. tenang dan siluman (pemeran di lapangan mendapat petunjuk dan arahan dibalik layar) 2. penyusupan (penerapan dimensi siluman, tetapi beraksi secara politis sambil membuat fitnah) 3. aktifitas terbuka dengan seruan reformasi politik. Ketika kelompok-kelompok salafis secara terbuka memprogandakan politik, mereka berkedok ke dalam Islamism (Islam politis) dari ukhuwah Islamiah, seperti kasus gerakah al-Shahwa di Saudi dan juga gerakan Jama’ah Islamiah di Mesir. Meskipun hal ini sering terjadi, semangat salafis dilandasi oleh penolakan mereke terhadap dunia dan salah satu di antara aspek-aspek terlemahnya adalah kelemahan dalam kosakata politik. Aktifitas politik yang penting menurut mereka adalah bentuk kekerasan dan jihad.[42]

DIBALIK BERDIRINYA ISIS DAN AL QAEDA

Dalam Bukunya, Hillary Clinton Akui ISIS Rekayasa AS untuk Pecah Belah Timur Tengah

Terkait fenomena munculnya gerakan Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS), sebuah pernyataan mengejutkan dilontarkan mantan Menlu AS Hillary Clinton. Dalam buku terbarunya, “Hard Choice”, Hillary mengakui bahwa gerakan tersebut dibentuk oleh AS bersama sekutunya untuk membuat Timur Tengah senantiasa bergolak. Demikian dilansir harian Mesir, Elmihwar,  sejak Rabu (6/8/2014) lalu.

Dikatakan, ISIS dibentuk dan diumumkan pada 5 Juni 2013 oleh pemerintah AS bersama dan negara-negara barat sekutunya demi memecah belah Timur Tengah melalui gerakan “Arab Springs“.

“Kami telah mengunjungi 112 negara sedunia. Lalu kami bersama-sama rekan-rekan bersepakat mengakui sebuah Negara Islam (Islamic State/IS) saat pengumuman tersebut,” tulis Hillary.

Awalnya gerakan tersebut akan didirikan di Sinai, Mesir, sesuai revolusi yang bergolak di beberapa negara Timur Tengah. Namun saat terjadi kudeta yang digerakkan militer meletus di Mesir, semua rencana itu berantakan.

“Kami memasuki Irak, Libya dan Suriah, dan semua berjalan sangat baik. Namun tiba-tiba meletus revolusi 30 Juni-7 Agustus di Mesir. Itu membuat segala rencana berubah dalam tempo 72 jam,” ungkap istri mantan presiden AS, Bill Clinton, itu.

Pihak barat, menurut Hillary, sempat berpikir untuk menggunakan kekuatan di Mesir. Namun negeri piramida tersebut bukanlah Suriah atau Libya, karena militer negara itu tergolong kuat. Selain itu, warga Mesir cenderung tidak pernah meninggalkan militer mereka.

“Jadi, jika kami gunakan kekuatan melawan Mesir, kami akan rugi. Tapi jika kami tinggalkan, kami pun rugi,” tulisnya. Namun kini AS mengakui bahwa kelompok-kelompok yang mereka ciptakan itu, kini justru semakin membesar bahkan menguat. AS pun memburunya tapi tak berhasil, bahkan kelompok-kelompok ini menjadi susah untuk dihilangkan. (lihat video kesaksian Hillary Clinton).

Mantan karyawan Kontrak US National Security Agency (NSA), Edward Snowden, juga melontarkan pernyataan yang hampir sama.

Edward Snowden, seperti dilansir Global Research, menyebut ISIS sebagai produk kerjasama antara Inggris, Amerika Serikat dan Israel dengan tujuan menciptakan sebuah organisasi teroris untuk menarik semua ekstrimis dunia dalam satu tempat yang dinamakan “Operation The Hornet Nest”  atau “Operasi Sarang Lebah”

Dalam berita itu disebut pula bahwa Snowden mengungkapkan strategi yang dikenal sebagai operasi “sarang lebah” tersebut. Dokumen NSA menunjukkan operasi “sarang lebah” bertujuan melindungi entitas Zionis dengan menciptakan slogan-slogan agama dan Islam.

Menurut dokumen yang dirilis oleh Snowden, satu-satunya solusi untuk melindungi negara Yahudi itu adalah dengan menciptakan musuh di dekat perbatasannya. Bocoran informasi rahasia ini juga mengungkapkan bahwa pemimpin ISIS dan Abu Bakar Al-Baghdadi merupakan jebolan program pendidikan Mossad. Dia diketahui pernah mengikuti pelatihan militer intensif selama satu tahun di bawah kendali Mossad, selain program dalam bidang teologi.

Mantan NSA dan CIA Edward Snowden: Pemimpin ISIS Abu Bakar AlBaghdadi Dilatih Mossad di Israel

Mantan agen NSA dan CIA Edward Snowdenmengungkapkan bahwa pemimpin Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) Abu Bakar AlBaghdadi dilatih di Israel, berbagai sumberIran melaporkan.

Edward Snowden adalah whister-blowers  atau pengungkap rahasia yang dulunya bekerja sebagai agen NSA (National Security Agency) dan juga anggota CIA yang kini masih menjadi buronan AS, dan sementara “ditampung menjadi anak emas” oleh Rusia.

Karena bagi Russia, Edward Snowden adalah aset tak ternilai, dan jika dilepas keluar Rusia sudah dipastikan ia akan mati dibunuh karena dia adalah ancaman yang sangat serius bagi AS dan sekutunya karena memiliki lebih dari satu juta info dan berkas “permainan buruk” AS yang sangat-sangat dirahasiakan dan tak pernah bocor ke publik.

Snowden menambahkan bahwa CIA Amerika dan Intelijen Inggris bekerja sama denganMossad Israel sudah menciptakan organisasi-organisasi teroris yang mampu menariksemua ekstrimis dunia untuk bersatu, dengan menggunakan strategi yang disebut Operation the hornet’s nest atau operasi “Sarang Lebah Hornet“.

Mengapa disebut operasi “Sarang Lebah Hornet”? Mungkin seperti nama operasi-operasi rahasia lainnya, semua hanyalah kiasan kata, namun memiliki makna.

Mari kita tela’ah sebentar tentang pengertian nama operasi rahasia ini, tawon atau lebah Hornet dalam bahasa Indonesia atau Melayu sering juga disebut Lebah Tabuhan, adalah sejenis tawon tabuhan yang suka menyengat dan hidup berkoloni. Mirip dengan tabuhan Eropa (Vespa crabro; European hornet) dan tabuhan raksasa Asia (Vespa mandarinia; Asian giant hornet).

Tawon atau lebah ini banyak dijumpai di daerah Laut Tengah (Mediterranean), termasuk Palestina, tetapi juga di Madagaskar dan India. Akibat terbawa oleh perpindahan manusia, habitatnya mulai menyebar ke Amerika Selatan bahkan sampai ke Mexico.

Jenis ini (bahasa Ibrani: צִרְעָהir’ahtsirah; bahasa Inggris: hornet) disebut-sebut di Alkitab Ibrani atau bagian Perjanjian Lama di Alkitab Kristen sebagai cara Allah untuk mengusir orang-orang di tanah Kanaan sebelum orang Israel datang mendudukinya(wikipedia).

Tabuhan ini adalah jenis tawon terbesar di dunia, ratu panjangnya 25 sampai 35 mm, sedangkan tabuhan jantan dan betina pekerja berukuran lebih kecil.

Sengatnya sangat beracun diantara semua tawon. Hornet berbeda dengan lebah biasa yang hanya bisa menyengat hanya sekali. Namun lebah atau tawon Hornet dapat menyengat berkali-kali.

Ilmuwan telah meneliti, betapa ganasnya tawon Hornet ini karena dapat menyerang dan membunuh secara brutal dengan memasuki sarang lebah lain lalu menyengatinya satu persatu. Hanya dengan 30 ekor pasukan lebah Hornet, mereka dapat menyerang sarang lebah biasa dan membunuh 30.000 lebah lawannya, hanya dalam tempo 3 jam!

Sedangkan jika penyerangan hanya dilakukan oleh satu ekor lebah Hornet, peneliti pernah menemukan: hanya dalam tempo satu menit saja, lebih dari 40-50 lebah lawannya mati!

Lebah Hornet menyerang sarang lebah lainnya untuk mengambil semua yang ada dan berguna bagi mereka, mirip rampasan perang. Mereka memakan dan mengambil larva-larva dan madu milik lawan yang berguna bagi stamina dan energi untuk kawanan mereka, dan sebagian rampasan itu dibawa ke sarang Hornet untuk juga dimakan oleh ratunya.

Itulah cara hidup Lebah Hornet, jadi ada perkiraan bagi kita tentang nama lebah ini, bagaimana cara menyerang lawan.

Boleh jadi, seperti itulah sel-sel terror buatan pro-Zion awalnya dibentuk, namun akhirnya terus membesar dan akhirnya sulit untuk kembali diatur oleh mereka. Tapi keadaan akan menjadi win-win solution bagi pro-Zion, karena apapun resikonya, tetap menguntungkan bagi mereka karena memanfaatkan muslim. Jika tak dapat dikendalikan pun, mereka akan menjelekkan nama Islam di dunia.

Sedangkan strategi politik dalam operasi “Sarang Lebah Hornet” , bertujuan untuk membawa semua gerakan teroris dan ekstrimis utama, ke satu tempat dan sebagian besar diantaranya untuk mengguncang stabilitas suatu negara, terutama negara-negara Arab.

Mantan Agen NSA, Edward Snowden itu juga mengungkapkan bahwa ISIS “California”, Abu Bakar Al Baghdadi juga pernah melakukan pelatihan militer yang canggih dan rahasia oleh intelijen Israel “Mossad”.

Selain pelatihan militer, Al Baghdadi juga mempelajari komunikasi dan keterampilanberbicara dan berpidato didepan umum untuk menarik “teroris” dari seluruh penjurudunia.

Pusat Penelitian Globalisasi atau The Centre for Research on Globalization (CRG), sebuah organisasi non-profit independen di provinsiQuebec, Kanada, yang berfokus pada penelitian dan media, menyampaikan infotentang ini juga, dan menambahkan bahwa“tiga negara menciptakan sebuah organisasi teroris yang mampu menarik semua ekstrimisdunia disatu tempat, dengan menggunakan strategi “sarang lebah hornet” tersebut.

Memang selama ini dicurigai oleh banyak penguak konspirasi teori dari seluruh dunia, bahwa fakta telah membuktikan, jika ditarik sejarahnya, kelompok Mujahiddin, Taliban, Al-Qaeda, Hammas, Bako Haram, bahkan Ikwatul Muslimin dibuat, dibesarkan dan dibiayai oleh CIA, Mossad dan Zion beserta inteligen barat lainnya.

Alhasil: bukannya memerangi Zionis, namun mereka justru bergerak untuk memerangi umat Islam lainnya, memerangi yang justru satu kepercayaan dengan mereka. Grand Design pun berhasil.

Hal ini akhirnya diperkuat pula dengan wawancara Hillary Clinton pada tahun lalu, tentang Mujahiddin dan Taliban saat di Afganistan yang mereka (AS) ciptakan untuk melawan Russia karena pada waktu itu musuh AS dan barat adalah negara komunis termasuk Rusia.

Mereka diciptakan untuk melawan Russia, dan berhasil. Russia mundur dan mereka menang. Dari sanalah muncul pula sempalannya, Al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama bin Laden adalah kaki-tangan atau boneka CIA. (baca: Bukti Al-Qaeda “Organisasi Boneka” Buatan Amerika)

Selama ini pun, semua penguak konspirasi di dunia tak mengakui bahwa Osama telah mati dibunuh. Mengapa? Karena pada tahun 2002 lalu, Osama pernah dikabarkan sudah mati. Beberapa pendapat mengatakan “Apakah dia bisa mati dua kali?”.

Dan jika ia mati dibunuh, pasti ada banyak foto atau video yang beredar, seperti foto Gaddafi atau video Saddam Husein, untuk menunjukkan realitas yang ada, serta menunjukkan betapa “bangganya” AS dan sekutunya telah berhasil mengeksekusi mereka.

Tapi hal itu tidak terjadi untuk Osama. Yang ada hanyalah satu atau dua buah foto saja, dan itupun ternyata hasil olah gambar Photoshopalias cropping-an.

Sebagian lagi para conspiracy theorists malah sangat mempercayai bahwa Osama bin Laden adalah benar agen CIA, dengan kode nama sandi “Tim Osman”. (baca: Code Name: Tim Osman, Wow! Osama bin Laden Adalah Agen CIA!)

Begitu pula apa yang dikatakan oleh Ron Paul yang akhirnya terkuak, ketika AS membuat Hammas yang tadinya berawal untuk melawan PLO di Palestina, yang kini juga justru menguat dan susah untuk dihilangkan. (lihat video kesaksian Ron Paul).

Sedangkan menurut Edward Snowden, para teroris hasil buatan AS, Zion Israel dan sekutunya tersebut justru menguntungkan, karena dengan “membuat musuh” maka akan ada alasan untuk memeranginya.

“Satu-satunya solusi untuk melindungi negara Yahudi adalah menciptakan musuh dekatperbatasannya,” Snowden mengatakan.

Untuk sementara waktu, Snowden masih “diblokir“ di zona internasional yaitu dibandaraMoskow di Rusia karena dia tidak dapat melakukan perjalanan kemana saja dan dimana saja akibat paspornya dicabut lagi baru-baru ini, menjadikannya satu-satunya manusia tanpa kewarganegaraan di planet Bumi.[43]

MUSLIM INDONESIA JADI TARGET REKRUTMEN ISIS

Sejumlah pria Indonesia muncul di video rekrutmen yang dirilis kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Mereka mendesak kaum muslim Indonesia untuk bergabung dalam perjuangan ISIS.

Video rekrutmen berdurasi delapan menit berjudul ‘Join the Ranks’ itu diunggah oleh ISIS. Di dalamnya, dikatakan adalah kewajiban muslim untuk bergabung dengan ISIS dan berjanji saling setia. Video tersebut juga menyertakan sebuah pidato emosional dari seorang pria Indonesia bernama Abu Muhammad al-Indonesi.

“Lakukan semua upaya dengan menggunakan kekuatan fisik dan finansialmu untuk bermigrasi ke Negara Islam. Itu merupakan kewajiban yang diperintahkan Allah,” kata Abu seperti dikutip ABC News, 29 Juli 2014.

Abu Muhammad juga mempertanyakan pilihan hidup pria Muslim di Barat, dan menyerukan pula kepada mereka untuk menemukan motivasi guna mengobarkan jihad.

ISIS Ingin Rekrut Orang Indonesia Karena Orang Indonesia Miliki Jiwa Militansi Yang Tinggi[44]

Kelompok militan yang mendirikan kekhalifahan di Irak, ISIS, tengah mencari dukungan dan merekrut banyak orang, termasuk Warga Negara Indonesia (WNI). Mereka berharap orang Indonesia dapat berubah haluan dengan konsep kekhalifahan.

Pengamat intelijen Wawan Purwanto menilai pergerakan ISIS memang baru-baru ini berkembang dan tanpa ragu terang-terangan mulai mencari anggota. Namun, dia menilai pergerakan yang serupa dengan ISIS sudah lama terjadi.

“Pergerakan dari Timur Tengah pengaruhnya langsung ke Indonesia dan akan tergiring pada penanggungan bahwa mereka mengaitkan unsur persaudaraan dan agama,” ujar Wawan, Kamis 31 Juli 2014.

Wawan menjelaskan, kelompok atau organisasi separatis sengaja menggunakan keyakinan untuk mengaduk perasAan dan berjihad. Layaknya ISIS, dengan berbagai macam cara, tujuannya untuk mewujudkan kekhalifahan.

Dia mencontohkan, kelompok separatis pernah terjadi di Yaman, Suriah, Irak, dan Palestina. Namun, menurut dia pergerakan itu memiliki tujuan yang berbeda-beda.

“Apakah istri kalian menjadi alasan bagi kalian untuk tidak berjihad? Apakah rumah, bisnis, dan kesejahteraan kalian lebih kalian cintai daripada Allah, utusan-Nya, dan jihad di jalan-Nya?” ujar Abu.

Video upaya rekrutmen ISIS ini bukan pertama kalinya diunggah. Bulan Juli 2014 lalu, video rekrutmen lain telah dirilis lebih dulu. Video itu memperlihatkan dua pria Australia yang bergabung dengan ISIS.

Pakar keamanan dari Universitas Monash Australia Profesor Greg Barton, mengatakan ISIS melihat potensi untuk mendapat pengikut kuat di Indonesia.

“Dalam video terbarunya, ISIS mengajak langsung kepada orang-orang Indonesia karena negara itu lahan subur untuk proses rekrutmen. Ada sejumlah pria Indonesia yang sudah bergabung dengan ISIS, dan ISIS melihat potensi untuk mendapatkan lebih banyak pengikut lagi dari Indonesia,” kata Barton.

GERAKAN SALAFI DAN MASA DEPAN ISLAM INDONESIA

Kemunculan gerakan Salafi di Indonesia diawali dengan kembalinya beberapa pemuda Sumatera Barat yang pergi haji sekaligus menuntut ilmu di Kerajaan Arab Saudi pada awal abad ke-19, yang banyak dipengaruhi oleh ide dan gerakan pembaruan yang dilancarkan oleh Muhammad ibn ‘Abd al-Wahhab di kawasan Jazirah Arabia. Pemuda itu adalah Haji Miskin, Haji Abdurrahman, dan Haji Muhammad Arif. Mereka terpesona dengan ideologi Wahhabi yang mereka pelajari selama di sana, sehingga mereka menyebarkan ideologi ini ketika mereka tiba di tanah air. Inilah gerakan Salafiyah pertama di tanah air yang kemudian lebih dikenal dengan gerakan kaum Padri, yang salah satu tokoh utamanya adalah Tuanku Imam Bonjol. Gerakan ini pernah berjaya dalam kurun waktu 1803 – 1832 M. [45]

Perang Padri dikenal sebagai perang melawan penjajah Belanda di daerah Sumatera Barat. Akan tetapi, sisi kekerasan kelompok itu terhadap sesama muslim tidak pernah terungkap. Padahal, perang Padri sesungguhnya adalah peperangan sesama muslim yang mengatasnamakan pemurnian akidah.[46]

Beberapa kekerasan yang dilakukan Padri, selain mengikuti kegemaran Wahhabi yang memusyrikkan, mengkafirkan,memurtadkan, yang dalam hal ini korban mereka adalah Tarikat Sattariyyah dan semua ulama yang sikapnya moderat, seperti Tuankunan Tuo dan Faqih Shaghir, mereka juga memberlakukan hukum hukum yang aneh dalam Islam. Contohnya adalah kewajiban memelihara jenggot dan didenda 2 suku (setara satu gulden) bagi yang mencukurnya; denda 3 suku bagi wanita yang tidak menutup sekujur tubuhnya kecuali mata dan tangan; denda 5 suku bagi mereka yang meninggalkan shalat fardhu untuk pertama kali, dan dihukum mati untuk berikutnya. Mereka juga melegalkan perbudakan, dan konon Tuanku Imam Bonjol memiliki 70 orang budak laki-laki dan perempuan. Budak-budak ini sebagian merupakan hasil rampasan perang yang mereka lancarkan kepada sesama Muslim karena dianggap kafir.[47]

Pada tahun 1809 dan 1815, Istana Pagaruyung dan seluruh keluarga kerajaan beserta pengawal-pengawalnya dibantai oleh Kaum Padri. Mereka membantai saudara mereka sendiri yang telah memeluk Islam sejak abad ke-16 M. Apa yang dilakukan Kaum Padri ini samahalnya dengan yang dilakukan oleh Wahhabi.[48]

Walaupun gerakan Padri berhasil memperkuat elemen Islam dalam sistem sosial dan adat Minangkabau, Wahabisme tidak pernah menjadi aliran dominan di Sumatera Barat.[49] Akhirnya, gerakan Padri lambat laun berakhir, di samping karena faktor penjajahan, juga karena faktor lingkungan, tradisi, dan budaya bangsa Indonesia yang tidak sesuai dengan mereka.[50] Akan tetapi, berakhirnya Gerakan Padri tidak mengakhiri penyusupanWahhabi di Indonesia.

Ajaran Salafi masuk ke Indonesia melalui para sarjana alumni Timur Tengah, terutama mereka yang bersekolah di Universitas-Universitas di Arab Saudi dan Kuwait.

Dua negara ini merupakan basis utama atau sentral gerakan salafi seluruh dunia. Selain itu, dua negara kaya minyak ini juga merupakan sumber utama  pendanaan bagi kelangsungan aktivitas gerakan Salafi.

Persentuhan awal para aktivis pro Salafi di Indonesia dengan pemikiran Salafi terjadi pada tahun 1980-an bersamaan dengan dibukanya Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA) di Jakarta. Lembaga ini kemudian berganti nama menjadi LIPIA yang memberikan sarana bagi mereka untuk mengenal dan mendalami pemikiran-pemikiran para ulama Salaf. Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta merupakan cabang dari Universitas Muhamad Ibnu Suud (King Saud University) di Riyadh.[51]

Dengan karakter Islam Nusantara yang secara tradisional sangat dipengaruhi oleh tasawuf dan tarekat, Wahabisme sulit mendapat pijakan yang kuat di Indonesia dan wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara. Bahkan, dalam banyak kalangan muslim di kawasan ini, istilah ‘Wahabiyah’ atau ‘Wahabisme’ merupakan semacam ‘anathema’, sesuatu yang negatif dan tidak baik. Sebab itu anggapan Wahabiyah kian kuat di Indonesia atau tempat-tempat lain di Asia Tenggara merupakan ketakutan dan kekhawatiran yang berlebihan.[52]

Menurut Grand Mufti Mesir, Dr Ali Jum’ah sesungguhnya ekstrimisme keagamaan tidak punya tempat dalam wacana, doktrin, dan praktik Islam. Karena Islam sangat menekankan paradigma wasat}iyah. Ekstrimisme keagamaan di kalangan umat Islam, dalam pandangannya, haruslah diselesaikan melalui dialog, baik intra-Islam maupun antara Islam dan agama-agama lain. Dialog-dialog tersebut mestilah berdasarkan sikap ikhlas, jujur, dan niat baik. Pada saat yang sama, Dunia Muslim dan Barat harus tetap berusaha membangun “jembatan” yang memungkinkan       dapat tetap berlangsung dialog di antara kedua belah pihak. Inilah salah satu cara paling strategis untuk menyelamatkan masa depan generasi mendatang.[53]

Mike O’Brien, Soliciator General Inggris, menyatakan bahwa orang-orang ekstrimis memiliki agenda-agenda yang eksklusif dan sempit, mereka mendefinisikan ajaran Islam secara sempit dan distorted untuk menjustifikasi tujuan-tujuan politik mereka. Lebih jauh mereka mengklaim sebagai representasi Islam, padahal sikap ekstrem dan kekerasan mereka tidak sesuai dengan Islam yang merupakan agama yang cinta perdamaian. Karena itulah, masyarakat dunia yang cinta damai harus memperkokoh nilai-nilai kebersamaan (shared values) untuk bisa mengahadapi aksi kaum ekstrimis.[54]

Gerakan moderat merupakan komunitas yang mendominasi dunia muslim disebut oleh Abou Fadl sebagai mayoritas diam (Silent Majority), sementara jejak langkah gerakan puritan justru telah memberikan pengaruh yang tidak sebanding dengan jumlah mereka.[55]

Ironisnya pengaruh yang digoreskan oleh gerakan puritan tersebut menginspirasi persepsi yang general, khususnya bagi non muslim Barat, misalnya tulisan utama The New York Times, berjudul “Seeing Green: The Red Menace Is Gone. But Here’s Islam” (Momok Hijau: Bahaya Merah Telah Berlalu. Tetapi Sekarang Islam). Pesan yang terdapat dalam tulisan tersebut adalah “Islam itu satu dan berbahaya”.[56] Di atas fakta ini, Abou Fadl ingin mengklarifikasi pandangan tersebut dengan menunjukkan sebuah fakta bahwa saat ini Islam ada dua pandangan dunia (world view) yang secara paradigmatik bertentangan dan bersaing untuk mendefinisikan kebenaran Iman-Islam.[57]

Masyarakat Islam cinta damai merupakan kelompok mayoritas di dunia terutama di Indonesia, perlu melakukan penguatan-penguatan (empowerment) dalam segala aspek agar mampu memberikan kontribusi positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebanding dengan jumlah mereka yang besar.

Islam wasat}iyah di Indonesia seperti diwakili NU, Muhammadiyah, al-Wasliyah, Mat}laul Anwar, Persis, PUI, Nahdlatul Wat}an, al-Khairat dan sebagainya. harus terus bersinergi dan bergerak menampilkan Islam rahmatan lil ‘a>lami>n dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan demikian kebangkitan peradaban Islam yang menurut para ilmuwan muslim akan muncul dari Negara Indonesia akan menjadi suatu kenyataan.

POTENSI DAN JARINGAN ISIS DI ACEH[58]

Melihat masifnya gerakan ISIS yang mengancam tidak hanya Iraq dan Suriah, melainkan juga Negara-negara Arab lainnya termasuk Afrika, Eropa, Amerika dan juga negara lainnya termasuk Indonesia, maka bahaya ISIS tidak hanya mengancam sistem demokrasi negara-negara modern, melainkan juga terhadap tumbuhkan ideology radikal yang mengancam toleransi dan nilai-nilai universalitas (rahmatal lil ‘alamin).

Aceh merupakan salah satu daerah baru saja keluar dari konflik bersenjata yang berkepanjangan sejak diproklamirkannya Aceh Merdeka (AM/GAM). Namun sebalumnya Aceh juga pernah mendeklarasikan bergabung dengan Negara Islam Indonesia (NII) di bawah Kartosuwiryo. GAM sendiri pada awalnya juga mengkampanyekan akan mendirikan negara Islam yang idelogi kenegaraannya al-Quran dan hadis. Namun pasca trens perang melawan kelompok-kelompok Islam radikal yang dilancarkan oleh US melalaui “agains terrorist” pasca 9/11 ideologi gerakan GAM berubah menjadi secular.

Meskipun demikian, benih-benih aktivis gerakan negara Islam di Indonesia masih tetap eksis yang terpolarisasi dalam berbagai kelompok-kelompok kecil dan cenderung tidak muncul ke permukaan. Kelompok ini tetap melakukan konsolidasi secara tertutup dan proses rekruitmen secara eksklusif.

Ada beberapa kelompok yang berpontensi dan menjadi bagian dari jaringan kelompok ISIS di Indonesia, antara lain:

  1. Sel-sel dari gerakan NII (Negara Islam Indonesia). Kelompok jaringan NII tersebar di seluruh nusantara yang satu sama lain mempunyai agenda mendirikan negara Islam. Secara ideology kelompok ini cenderung mempunyai kesamaan dengan Negara Islam Iraq dan Levant, dimana sistem pemerintahan tidak menganut sistem demokrasi. Karena kenyakinan kedaulatan dalam sistem demokrasi itu ada pada tangan rakyat, sebaliknya sistem negara Islam kedaulatan itu ada pada Allah SWT. Kelompok NII di Indonesia tidak se-progresif di Iraq, karena kondisi keamanan dan stabilitas di Indonesia lebih baik. Namun gerakan ini terus membangun konsolidasi melalui berbagai pengajian-pengajian secara tertutup. Sel-sel kelompok ini menyebar dan “menyamar” dalam berbagai profesi. Beberapa diantaranya juga mencoba meningkatkan kemampuan berperang melalui rakitan bom. Kelompok ini mempunyai potensi besar karena secara ideology mempunyai agenda yang sama dengan ISIS yaitu mendirikan negara Islam. Umumnya sel ini akan bergabung secara sukarela dengan kelompok ISIS di Iraq & Suriah untuk membantu gerakan ISIS di sana, sekaligus menimpa ilmu berperang yang lebih professional, apalagi beberapa anggota ISIS merupakan eks-tentara elit pada masa Saddam Husen
  2. Sel kelompok eks-GAM militan yang tidak menerima MoU Helsinki dan kecewa terhadap pemerintahan Aceh saat ini. Kelompok ini relative kecil dan tidak muncul, hanya beberapa orang yang masih mempunyai ideology kuat terhadap gerakan awal dari GAM, yaitu mendirikan negara Islam di Aceh. Disisi lain, kelompok ini menganggap MoU Helsinki sebagai “pengkhianatan” terhadap ideology pergerakan, dan dianggap sebagai mengulangi sejarah deklarasi lamteh pada masa DI/TII yang dipelopori oleh Hasan Saleh. Kelompok ini masih membangun sel-sel yang menjadikan idelogi negara Islam sebagai “alat” untuk memperkuat jaringannya.
  3. Sel aktivis militant dan radikal lainnya. Sel ini cenderung lebih individualis atau personal, dimana orang-orang yang “mendeklare” diri sebagai bagian dari ISIS karena munculkan simpati dan fans terhadap ISIS karena membawa konsep khilafah islamiyah. Individu ini umumnya tidak mempunyai ilmu agama yang kuat dan fundamental, melainkan muncul fanatif secara berlebihan tanpa mengedepankan rasionalitas. Beberapa kondisi sosio-politico yang berkembang dinegara modern-sekularisme juga ikut mendorong fanatisme dan romantisme sistem kekhalifahan untuk ikut bergabung dalam kelompok negara Islam. Fenomena sosio-politiko itu dimana ia melihat sistem demokrasi yang diperkenalkan oleh Barat menimbulkan kemudharatan, fitnah dan melahirkan orang-orang yang haus kekuasaan, kemiskinan, dan kejahatan structural seperti korupsi yang merajalela. Sementara umat islam terus terbelakang, dan bahkan diam terhadap penindasan di Palestina. Sel-sel militant dan radikal ini karena cenderung menganggap kenyakinan diri yang paling benar (taqlik buta), dan mudah mengkafirkan orang lain yang berbeda prinsip dan atau kenyakinan dengannya.
  4. Sel mantan pejuang di Poso, Ambon, Afganistan, Moro, dll. Kelompok ini tetap membangun komunikasi satu sama lain setelah kembali ke Indonesia. Sebagian diantara mereka sudah disadarkan dari ideology jihadnya, namun sebagian lain masih tetap menyakini bahwa jihad fisabilllah adalah harus berperang melawan musuh-musuh Allah termasuk negara tharoq, yaitu negara yang tidak menjadi Islam (syariat Islam) sebagai landasan beragama. Kelompok ini seperti Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) yang sebelumnya bernama jama’ah islamiyah Indonesia (JII) yang dicap sebagai organisasi teroris oleh US. Kelompok ini merupakan kelompok ideology trans-nasional yang berjuang untuk mendirikan khilafah islamiyah, dan melawan hegemoni dan kolonialisasi US, Israel dan sekutu-sekutunya diseluruh dunia. Beberapa kelompok lainnya juga terdapat Afrika seperti Boko Haram yang mempunyai afiliansi dengan al-Qaeda

____________________

[1] https://indocropcircles.wordpress.com/2014/08/02/isis-dibuat-oleh-cia-dan-mossad-untuk-memecah-islam/

[2] Zelin, Aaron Y. (June 2014). “The War between ISIS and al-Qaeda for Supremacy of the Global Jihadist Movement” (PDF). Research Notes (Washington Institute for Near East Policy) 20. Diakses tanggal 3 Jan 2015.

[3] Tharoor, Ishaan (18 June 2014). “ISIS or ISIL? The debate over what to call Iraq’s terror group”The Washington Post. Diakses tanggal 3 Jan 2016.

[4]  “Abu Bakr al-Baghdadi: The man who would be caliph”The Week. 13 September 2014. Diakses tanggal 7 December 2014.

[5] dzikra.com/wp-content/uploads/2014/09/ISIS_DALAM_TINJAUAN_AHLUSSUNNAH_dzikra.pdf

[6] ibid

[7]

[8] Fahrur Razi, dalam “Global Salafi Jihadi Tantangan Masa Depan Islam Indonesia

[9] Baca anti-Shiism, Guido Steinberg, Jihadi Salafisme and the Sh’is: remark of the intellectual Roots of anti-Shiism dalam Meijer, Global Salafisme, 107-125

[10] Thomas Hegghammer, “Jihadi Salafis or Revolutionaries: On Religion and Politics in the Study of Islamist Militancy”, dalam R Meijer (ed), Global Salafism: Islam’s New Religious Movement (London/New York: Hurst/Columbia University Press, 2009), 247.

[11] Abu al-Fadhl Muhamad ibnu Manzur: Qamus Lisan al-‘Arab, Cet.  Ke 1,Jilid 6, entri Sa-La-Fa (Beirut, Lebanon: Dar al-S}adir, 1410),  330.

[12] Pengikut nabi setelah masa sahabat.

[13] Pengikut nabi setelah masa tabi’in. Hal tersebut sesuai dengan hadith Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang berbunyi: “Sebaik-baik manusia adalah (yang hidup) di masaku, kemudian yang mengikuti mereka (tabi’in), kemudian yang mengikuti mereka (tabi’ al-tabi’in).

[14] Dari kata ini kemudian sering kita dengar kata bentukan lainnya, seperti Salafiyah yang berarti faham atau ajaran Salaf) atau Salafiyyun/Salafiyyin yang merupakan bentuk plural dari kata Salafi.

[15] Meijer, dalam Global Salafism….,3-4, menjelaskan bahwa al-Salaf al-Salih tiga generasi pertama Muslim itu adalah (1) para sahabat Nabi (sampai tahun 690 M),  (2) tabi’in (sampai tahun 790 M), dan (3) atba’ al-tabi’in (sampai tahun 810 M). Periode utama al-Salaf al-S}alih terbatas pada generasi pertama  atau sampai pada masa al-Khulafa’ al-Rashidun.

[16] Istilah wahabi dinisbatkan kepada nama ayah dari Muhammad bin Abdul Wahhab yaitu Abdul Wahhab.

[17] Sa’id Ramadan al-Buti: al-Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah La Madhhab Islami, (Damaskus, Syiria: Dar al-Fikr , 1996), 236.

[18] Uthman ibn ‘Abdullah ibn Bishr, ‘Unwan al-Majd f> Tarikh al-Najd (t.t.,t.t.),8.

[19] Buku ini dicetak menjadi satu buku dengan karya Sayyid Ahmad ibn Zaini dahlan, Mufti Makkah ketika itu yang berjudul Al-Durar a-Sunniyyah  fi al-Radd ‘ala al-Wahabiyyah (Permta Sunni dalam menolak Paham Wahabi), baca dalam : ‘Abdullah al-Qasimi, al-Thaurah al-Wahhabiyyah (Pemberontakan Wahabi), (Koln, Germany: Al-Makel Verlag 2000)

[20] www.ahl al-sunnah.org:Risalah fi al-Radd ‘ala Firaq al-dalal. 1. Lihat pula: Ahmad Zaini Dahlan:al-Futuhat al-Islamiyyah, Vol. 2, (Beirut, Lebanon: Dar Sadir, 1998), 357.

[21] Caris, Charles C.; Reynolds, Samuel (July 2014). “ISIS Governance in Syria”(PDF). Institute for the Study of War.

[22] Lihat: kisahmuslim.com.

[23] Lihat “Tuhfatul Al Ahwadzi”: 6/396.

[24] Ibid: 6/391.

[25]

[26] Lihat: Sunan Tirmizy: 4/503 (2226).

[27] Lihat: Shohih Bukhari: 2/2264 (5753) dan Shohih Muslim: 1/56 (224).

[28] Shohih Muslim: 1/56 (225).

[29] Usudul Ghabah: 2/101.

[30] Lihat: Shohih Muslim: 6/20 (4892) .

[31] Shohih Muslim: 5/139 (4619).

[32] Musnad Ahmad: 3/435 (15627) dan As Silsilah Ash Shohihah: 1/759 (402).

[33] Lihat: Sunan Abu Daud: 2/374 (2637).

[34] Lihat: Shohih Bukhari: 3/1273 (3268) dan Shohih Muslim: 6/17 (4879).

[35] HR. Imam Muslim: 6/22 (4902).

[36] HR. Bukhari: 6/2541 (6535).

[37] HR. Bukhari: 3/1321 (3415) dan Muslim: 3/113 (2511).

[38] HR. Abu Daud: 4/387 (4767).

[39] HR. Imam Muslim : 3/115 (2516).

[40] Meijer, Global Salafisme,13

[41] Ibid,13-14

[42]Ibid,18

[43] https://indocropcircles.wordpress.com/2014/08/02/isis-dibuat-oleh-cia-dan-mossad-untuk-memecah-islam/  diakses 3 Januari 2016

[44] https://indocropcircles.wordpress.com/2014/08/02/isis-dibuat-oleh-cia-dan-mossad-untuk-memecah-islam/

[45] Abu Abdirrahman Al-Thalibi. Dakwah Salafiyah Dakwah Bijak, Meluruskan Sikap Keras Dai Salafi (Jakarta: Hujjah Press) 2006, 10 dan 30-31.

[46] Abdurrahman Wahid (ed.), Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia (Jakarta: The Wahid Institute, 2009),

[47] Ibid,94

[48] Ibid,94-95

[49] Lihat Azyumardi Azra, Kata Pengantar “Ekstrimisme Wahabi Dan Islam Wasat}iyah” Dalam Syaikh Idahram, Mereka memalsukan kitab-kitab karya ulama klasik,Episode kebohongan public sekte Salafi Wahabi,Cetakan ke XV(Yogyakarta : Pustaka Pesantren, 2013),21.

[50] Ibid,  95

[51] http://m.beritakotamakassar.com/index.php/topik-utama-hari-ini/6832-berintikan-akidah-dipelopori-alumni-timur-tengah-.html.

[52] Lihat Azyumardi Azra, Kata Pengantar “Ekstrimisme Wahabi Dan Islam Wasat}iyah”,22.

[53] Ibid, 18

[54] Ibid.

[55] Khaled M.Abou El-Fadl, Selamatkan Islam dari Muslim Puritan, terj. Helmi Mustofa (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta,2006),17.

[56] Dilansir Bruce B, Lawrence dari The New York Times Week in Review, 21 Januari 1996. Lawrence, Islam Tidak Tunggal, 9-10.

[57] Khaled M.Abou El-Fadl, Selamatkan Islam, 17.

[58] http://acehinstitute.org/pojok-publik/sosial-budaya/item/294-potensi-dan-jaringan-isis-di-aceh. Diakses 3 Januari 2016

Dasar Epistemologi dan Konsep Islam Nusantara ; Dari NU Untuk Dunia

Taut Posted on Updated on

 

DASAR EPISTEMOLOGI DAN KONSEP ISLAM NUSANTARA ; DARI NU UNTUK DUNIA[1]

Oleh : Ahmad Hilmy Hasan**

 

Prawacana

ISLAM adalah agama yang universal, sempurna, dinamis, lentur, elastis dan selalu dapat menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.[2] Islam dikenal sebagai salah satu agama yang akomodatif terhadap tradisi lokal dan ikhtilāf ulama dalam memahami ajaran agamanya.[3] Islam dibawa oleh Nabi Muhammad saw. kepada seluruh manusia dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam bidang sosial politik. Beliau membebaskan manusia dari kegelapan peradaban menuju cahaya keimanan.[4]

Universalisme Islam yang dimaksud adalah bahwa risalah Islam ditujukan untuk semua umat, segenap ras dan bangsa serta untuk semua lapisan masyarakat (al-Islam Shalih li Kulli Zamān wa Makān). Ia bukan risalah untuk bangsa tertentu yang beranggapan bahwa mereka bangsa yang terpilih, dan karenanya semua manusia harus tunduk kepadanya. Risalah Islam adalah hidayah dan rahmat Allah untuk segenap manusia.[5]

Sebagaimana dijelaskan dalam Q.S. al-Anbiyā/21 : 107.

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.[6]

Demikian pula dalam Q.S. al-Furqān/25 : 1.

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad), agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam (jin dan manusia).[7]

Universalisme Islam merupakan suatu ajaran yang diterima oleh seluruh umat Islam sebagai akidah. Persoalan universalisme Islam dapat dipahami secara lebih jelas melalui sifat al-Waqi’iyyah (berpijak pada kenyataan obyektif manusia).[8]

Ajaran universal Islam mengenai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara akan terwujud secara substansial, tanpa menekankan simbol ritual dan tekstual.[9] Ajaran Islam bukanlah agama “baru”, melainkan agama yang sudah dikenal dan dijalankan oleh umat manusia sepanjang zaman, karena sejak semula telah terbit dari fitrahnya sendiri.[10] Islam sebagai agama yang benar, agama yang sejati dan mengutamakan perdamaian.[11] Sebagai agama Rahmatan Li al-‘Ālamīn, agama Islam mampu mengakomodasi semua kebudayaan dan perabadan manusia di seluruh dunia.

Meskipun Indonesia merupakan salah satu negara muslim mayoritas di dunia, namun paling sedikit mendapat pengaruh Arabisasi, dibandingkan dengan negara-negara muslim besar lainnya. Dua ciri paling utama dalam kesenian Islam yakni arabesk dan kaligrafi, paling sedikit mempengaruhi budaya Indonesia.

Selain itu, dalam proses Islamisasi di nusantara, penyebaran agama dan kebudayaan Islam tidak menghilangkan kebudayaan lokal dan tidak menggunakan kekuatan militer dalam upaya proses Islamisasi. Hal itu disebabkan karena proses Islamisasi dilakukan secara damai melalui jalur perdagangan, kesenian, dan perkawinan dan pendidikan. Islamisasi juga terjadi melalui proses politik, khususnya pada pemikiran politik Soekarno yang membuka lebar bagi golongan Islam untuk mengislamkan negara dengan wilayah pengaruh yang relatif besar.[12]

Untuk mengetahui hal itu, harus dipahami dalam konteks budaya Indonesia mengalami dualisme kebudayaan, yaitu antara budaya keraton dan budaya populer di tingkat bawah (masyarakat). Dua jenis kebudayaan ini sering dikategorikan dalam kebudayaan tradisional.

A.Mustofa Bisri atau Gus Mus (Rais ‘Aam PBNU) mengungkapkan, saat ini dunia sedang melirik Indonesia sebagai referensi keislaman, sudah tidak lagi melirik ke Islam di Timur-Tengah yang hingga kini masih terjadi banyak keributan. “Sampean (kalian) jangan bingung, mana yang Islam mana yang bukan Islam. Sana kok membunuh orang, sini kok membunuh orang juga. Sana kok ngebom, sini kok ngebom. Itu Islam dengan sesama Islam, apa non-Islam dengan non-Islam ?”. Kita dibingungkan oleh kondisi Islam di Timur Tengah selama ini sebagai kiblat Islam, khususnya Saudi Arabia, tetapi kenyataannya banyak pihak yang tidak cocok dengan Saudi Arabia.

Kacau balau, antara politik dan agama sudah campur aduk ora karu-karuan. Akhirnya terjadi di negara-negara yang penduduknya mayoritas tidak muslim timbul Islamophobia. Ketika melihat orang Islam, pada ketakutan karena takut dibunuh, takut dibom. Pokoknya yang anti Islam semakin lama semakin meningkat gara-gara umat Islam yang tidak mencerminkan keislaman yang rahmatan lil alamin, tapi justru Laknatan Lil ‘Alamin,”.

Untuk itulah, Jam’iyyah Nahdlatul Ulama (NU) membuat tema pada muktamar ke-33 lalu tentang Islam Nusantara “Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. “Tapi pada geger, kaget-kaget bagi orang yang tidak pernah ngaji. Kalau pernah ngaji pasti tahu idhofah (penyandaran) mempunyai berbagai makna, dalam arti mengetahui kata Islam yang disandarkan dengan kata Nusantara,”.

Gus Mus mencontohkan istilah “air gelas” apakah maknanya airnya gelas, apa air yang di gelas, apakah air dari gelas, apa gelas dari air. Padahal bagi santri di pesantren sudah diajari untuk memahami seperti itu. Secara sederhana, Gus Mus menjelaskan maksud Islam Nusantara yakni Islam yang ada di Indonesia dari dulu hingga sekarang yang diajarkan Walisongo.

Islam ngono iku seng digoleki wong kono, Islam yang damai, guyub (rukun), ora petentengan, dan yang Rahmatan lil ‘Alamin. Walisongo memiliki ajaran-ajaran Islam yang mereka pahami secara betul dari ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Walisongo tidak hanya mengajak bil Lisan, tapi juga bil Hal, tidak mementingkan formalitas, tetapi inti dari ajaran Islam,”.

PEMBAHASAN

DASAR EPISTEMOLOGI DAN KONSEP ISLAM NUSANTARA ; DARI NU UNTUK DUNIA

Nusantara Islam is a distinctive Islam resulting from vivid, intense and vibrant interaction, contextualization, indigenization and vernacularization of universal Islam with Indonesian social, cultural and religious realities–this is Islam embedded. Nusantara Islamic orthodoxy (Ash’arite theology, Shafi’i school of law, and Ghazalian Sufism) nurtures the Wasathiyyah character a justly balanced and tolerant Islam. Nusantara Islam, no doubt, is very rich with Islamic legacy a shining hope for a renaissance of global Islamic civilization”.[13]

DASAR EPISTEMOLOGI DAN KONSEP ISLAM NUSANTARA

Dalam kajian filsafat ilmu, epistemologi membahas sumber, struktur, metode dan validitas satu pengetahuan. Epistemologi juga dipahami sebagai ilmu yang mengkaji keaslian, pengertian, struktur, metode dan validitas ilmu pengetahuan. Dalam konteks Islam Nusantara, kita perlu mengkaji historisitas pemikiran keislaman yang dikembangkan oleh NU, serta dinamikanya dari waktu ke waktu.

Kajian historis atas pemikiran keislaman NU sangat penting, karena Ormas yang mampu bertahan (survive) sampai hari ini memiliki pengalaman sejarah yang berbeda, dan unik. Selain itu, tipologi pemikiran keislaman yang dikembangkan satu ormas merupakan hasil dialektika antara ajaran Islam yang dikaji oleh komunitas, realitas sejarah di sekitar dan mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan oleh anggota ormas. Dari sini kemudian lahir interpretasi versi masing-masing ormas. Dalam pandangan penulis, lembaran panjang sejarah Islam di mana pun merupakan pergumulan masyarakat Islam untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Islam yang mereka kaji dalam ruang dan waktu tertentu.

Karena itu, kalau pun setiap ormas di negeri ini memiliki kesimpulan yang unik dalam melihat realitas sosial, politik, ekonomi, budaya, dan agama, hal itu lebih disebabkan kecenderungan corak pemikiran (‘ideologi’) dan bahkan cara pandang (paradigma) atas dinamika yang sudah terbangun sejak lama, dan melatarbelakangi berdirinya satu ormas. Iya, sikap ormas adalah hasil ijtihad yang dipengaruhi oleh ruang dan waktu.(Red-pen).

Konsep Islam Nusantara[14] belakangan nyaring digaungkan. Di mana konsep tersebut merupakan Islam khas ala Indonesia yang merupakan gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air.

Istilah Islam Nusantara agaknya ganjil didengar, sama dengan Islam Malaysia, Islam Saudi, Islam Amerika, dan seterusnya, karena bukankah Islam itu satu, dibangun di atas landasan yang satu, yaitu Alquran dan Sunnah ? Memang betul, Islam itu hanya satu dan memiliki landasan yang satu, akan tetapi selain memiliki landasan Nuṣūṣ al-Syarīah (Alquran dan Sunnah), Islam juga memiliki acuan Maqāṣīd al-Syarīʻah (tujuan syariat). Maqāṣīd al-Syarīʻah sendiri digali dari nash-nash syariah melalui sekian Istiqrāꞌ (penelitian).

Azyumardi Azra,[15] ketika menjelaskan tentang apa sesungguhnya makna terdalam dari konsep Islam Nusantara. Bagi Azra, “Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia. Ortodoksi Islam Nusantara (kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali) menumbuhkan karakter Wasathiyah yang moderat dan toleran. Islam Nusantara yang kaya dengan warisan Islam (Islamic legacy) menjadi harapan renaisans peradaban Islam global”.

Memang, filologi adalah salah satu pilar di antara pilar-pilar ilmu lain untuk menggali kekayaan sastra, budaya, dan tradisi intelektual Islam Nusantara. Dalam sebuah perbincangan via surat elektronik, Fachry Ali yang alumni FAH tahun 1984 itu menyapa Azra, katanya:

“…Now, as the dean of the Adab Faculty, using your own phrase on the obligation of developing philology at the UIN, it has become your Fardlu ‘Ain to make a thorough study on this subject matter: a Ciputat intellectual history…”.

Said Aqil Siradj menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah ajaran atau sekte baru dalam Islam sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Menurut Kiai Said, konsep itu merupakan pandangan umat Islam Indonesia yang melekat dengan budaya nusantara. Ia menjelaskan, umat Islam yang berada di Indonesia sangat dekat dengan budaya di tempat mereka tinggal dan inilah yang menjadi landasan munculnya konsep Islam Nusantara.

Dalam konsep tersebut kata dia, menggambarkan umat Islam Indonesia yang menyatu dengan budaya hasil kreasi masyarakat yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.  Terang Kiai Said ;

“Kita harus menyatu dengan budaya itu, selama budaya itu baik dan tidak bertentangan itu semakin membuat indah Islam, kita tidak boleh menentang atau melawannya. Terkecuali budaya yang bertentangan dengan syariat, seperti zinah, berjudi, mabuk dan lainnya,”

Dalam sebuah perbincangan ringan dengan Komaruddin Hidayat (saat masih menjabat Rektor UIN), Susilo Bambang Yudhoyono (saat telah lengser sebagai Presiden RI ke-6) bersaksi bahwa masyarakat Muslim internasional sangat banyak berharap agar Indonesia menjadi prototype peradaban Islam di era kontemporer, mengingat karakter masyarakatnya yang multikultural, multietnik, moderat, dan jauh lebih toleran dibanding negara-negara Muslim lain. Itu pula yang mendorong Komarudin Hidayat menggebu-gebu dan bermimpi Indonesia memiliki ikon pendidikan tinggi Islam yang disegani dunia.

Begitu dua kata yang tersusun dari entitas agama dan budaya ini ramai dibincangkan, barulah para tokoh NU berikhtiar merumuskan definisinya. Prof Isom Yusqi,[16] misalnya, menyebutkan bahwa Islam Nusantara merupakan “istilah yang digunakan untuk merangkai ajaran dan paham keislaman dengan budaya dan kearifan lokal Nusantara yang secara prinsipil tidak bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam”.[17] Kemudian, KH Afifuddin Muhajir,[18] memaknai Islam Nusantara sebagai “pemahaman, pengamalan, dan penerapan Islam dalam segmen fiqih mu’amalah sebagai hasil dialektika antara nash, syari’at, dan ‘urf, budaya, dan realita di bumi Nusantara” (NU Online, 27/6). Begitu juga Abdul Moqsith Ghozali, menyebut Islam Nusantara sebagai “Islam yang sanggup berdialektika dengan kebudayaan masyarakat”.[19]

Gus Mus juga menjelaskan, NU membuat tema muktamar tentang Islam Nusantara. “Tapi geger, kaget-kaget bagi orang yang tidak pernah ngaji. Kalau pernah ngaji pasti tahu idhofah (penyandaran) mempunyai berbagai makna, dalam arti mengetahui kata Islam yang disandarkan dengan kata Nusantara,” jelasnya.

Gus Mus mencontohkan istilah “air gelas” apakah maknanya airnya gelas, apa air yang digelas, apakah air dari gelas, apa gelas dari air. padahal bagi santri di pesantren sudah diajari untuk memahami seperti itu. Secara sederhana, Gus Mus menjelaskan maksud Islam Nusantara yakni Islam yang ada di Indonesia dari dulu hingga sekarang yang diajarkan Walisongo.[20] Walisongo menurut Gus Mus, memiliki ajaran-ajaran Islam yang mereka pahami secara betul dari ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. “Walisongo tidak hanya mengajak bil lisan, tapi juga bil hal, tidak mementingkan formalitas, tetapi inti dari ajaran Islam,” tegas Gus Mus.

Ketum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PP IPNU) Khairul Anam Haritsah menilai, konsep Islam Nusantara dapat menjalankan program deradikalisasi dari pemerintah. Pasalnya, Islam Nusantara menonjolkan sisi kebhinekaan dan jauh dari doktrin-doktrin kekerasan.

Hal itu diungkapkan Khairul Anam dalam Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan dengan tema Perspektif Islam Nusantara dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara di Jakarta, Senin (6/7). Kata Khairul ;

Islam Nusantara itu merangkul bukan memukul, Islam Nusantara itu menasehati bukan menyakiti, dan Islam Nusantara itu mengajak bukan mengejek. IPNU akan mendukung kehidupan berbangsa agenda MPR dengan membumikan Islam Nusantara. Indonesia kaya akan budaya, suku, ras dan agama,”.

Dia mengatakan, Islam Nusantara merupakan cara pandang Islam sesuai dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Artinya, Islam Nusantara memandang perbedaan sebagai sebuah kekayaan dan rahmat Tuhan bukan menuding, menyalahkan, menyesatkan, bahkan mengkafirkan.

Dirinya meyakini, konsep Islam Nusantara dapat menekan ancaman radikalisme di Indonesia. Apalagi banyak tokoh ulama dari Timur Tengah mempelajari relasi agama dengan negara seperti semangat Pancasila di Indonesia yang mampu menyeimbangkan nasionalisme dengan Islam sebagai agama.

Menurutnya, konflik di Timur Tengah banyak terjadi lantaran tidak adanya sikap nasionalisme atau kecintaan Tanah Air sehingga rawan akan perang saudara.

Wakil Ketua Badan Sosialisasi MPR Zainut Tauhid menambahkan, NU di Indonesia secara konsisten melaksanakan ajaran Islam moderat, anti kekerasan. Bahkan Islam Nusantara pernah dinyatakan Gus Dur melalui konsep “Pribumisasi Islam” dalam konteks berbangsa dan bernegara. Jelas Zainut ;

Konsep yang ditekankan adalah Islam yang kompatibel dengan nilai-nilai budaya yang ada di masyarakat tetapi juga tidak menolak nilai-nilai baru yang terus muncul sepanjang untuk kebaikan masyarakat,”

Ulama kita zaman dahulu sudah terlalu banyak yang mereka lakukan. Di antaranya adalah melakukan penelitian dengan menjadikan nash-nash syariat, hukum-hukum yang digali dari padanya, ʻillat-ʻillat dan hikmah-hikmahnya sebagai obyek penelitian. Dari penelitian itu diperoleh kesimpulan bahwa di balik aturan-aturan syariat ada tujuan yang hendak dicapai, yaitu terwujudnya kemaslahatan[21] manusia di dunia dan akhirat.

Ulama Uṣūl Fiqh membagi Maslahat kepada tiga bagian, yaitu :

  • MaslahatMuʻtabarah, yaitu maslahat yang mendapat apresiasi dari syariat melalui salah satu nashnya seperti kearifan dan kebijakan dalam menjalankan dakwah islamiah.
  • MaslahatMulghāh, yaitu maslahat yang diabaikan oleh syariat melalui salah satu nashnya seperti menyamaratakan pembagian harta pusaka (warisan) antara anak laki-laki dan anak perempuan.
  • MaslahatMursalah, yaitu kemaslahatan yang terlepas dari dalil, yakni tidak memiliki acuan nash khusus, baik yang mengapreasiasi maupun yang mengabaikannya seperti pencatatan akad nikah.

Tujuan negara dalam Islam sejatinya sejalan dengan tujuan syariat, yaitu terwujudnya keadilan dan kemakmuran yang berketuhanan yang Maha Esa, negara yang memiliki dimensi kemaslahatan duniawi dan ukhrawi seperti tersebut sesungguhnya sudah memenuhi syarat untuk disebut negara Khilāfah, sekurang-kurangnya menurut konsep al-Mawardi. Dalam hal ini menurut beliau, “الامامة موضوعة لخلافة النبوة فى حراسة الدين وسياسة الدنيا” ; kepemimpinan Negara diletakkan sebagai kelanjutan tugas kenabian dalam menjadi agama dan mengatur dunia.

Sementara itu, Maqāṣīd al-Syarīʻah sekurang-kurangnya penting diperhatikan dalam dua hal :

  1. Dalam memahami Nuṣūṣ al-Syarīah, nash-nash syariat yang dipahami dengan memperhatikan Maqāṣīd al-Syarīʻahakan melahirkan hukum yang tidak selalu tekstual tetapi juga kontekstual-empirik.
  2. Dalam memecahkan persoalan yang tidak memiliki acuan nash secara langsung. Lahirnya dalil-dalil sekunder (selain Alqur’an dan Sunnah) merupakan konsekuensi logis dari posisi maslahat sebagai tujuan syariat. Di antara dalil-dalil sekunder adalah; al-Qiyās, Istiḥsān, Saddu al-Zarīʻah, ʻUrf, dan Maṣlaḥah Mursalahseperti disinggung di atas.

Al-Qiyās ialah memberlakukan hukum kasus yang memiliki acuan nash untuk kasus lain yang tidak memiliki acuan nash karena keduanya memiliki ʻillat (alasan hukum) yang sama.

Istihsān ialah kebijakan yang menyimpang dari dalil yang lebih jelas atau dari ketentuan hukum umum karena ada kemaslahatan yang hendak dicapai.

Sadd al-Zarīʻah ialah upaya menutup jalan yang diyakini atau diduga kuat mengantarkan kepada mafsadat (kerusakan).

ʻUrf adalah tradisi atau adat istiadat yang dialami dan dijalani oleh manusia baik personal maupun komunal. ʻUrf seseorang atau suatu masyarakat harus diperhatikan dan dipertimbangkan di dalam menetapkan hukum sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Mengabaikan ʻUrf yang sahih seperti tersebut bertentangan dengan cita-cita kemaslahatan sebagai tujuan (Maqāṣid) syariat.

Sebagian ulama mendasarkan posisi ʻUrf sebagai Hujjah Syarʻiyyah pada fiman Allah,

خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (al-Aʻrāf: 199)

Dan sebagian yang lain mendasarkan pada hadis riwayat Ibn Masʻūd,

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

Apa yang oleh kaum muslimin dipandang baik, maka baik pula menurut Allah.

Al-Sarakhsi mengungkapkan dalam kitab al-Mabsūṭ :

الثابت بالعرف كاالثابت بالنص

Yang ditetapkan oleh ʻUrf sama dengan yang ditetapkan oleh Nash.

Pada titik ini perlu ditegaskan bahwa Islam bukanlah budaya karena yang pertama bersifat Ilahiyah sementara yang kedua adalah Insaniyah. Akan tetapi, berhubung Islam juga dipratikkan oleh manusia, maka pada satu dimensi ia bersifat insaniah dan karenanya tidak mengancam eksistensi kebudayaan.

Selain Nuṣūṣ al-Syarīʻah dan Maqāṣīd al-Syarīʻah, Islam juga memiliki Mabādiꞌ al-Syarīʻah (prinsip-prinsip syari’at). Salah satu prinsip syariat yang paling utama sekaligus sebagai ciri khas agama Islam yang paling menonjol adalah al-Wasaṭhiyyah (Moderat). Hal ini dinyatakan langsung oleh Allah SWT dalam firman-Nya,

وَكَذلِك جَعَلْناكُم أُمَّةً وَسَطا لِتَكُوْنُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكَم شَهِيدًا

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…”(al-Baqarah: 143)

Wasaṭhiyyah yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata Moderasi/Moderat memiliki beberapa makna. Salah satu maknanya adalah al-Wāqiʻiyyah (realistis). Realistis di sini tidak berarti Taslīm atau menyerah pada keadaan yang terjadi, akan tetapi berarti tidak menutup mata dari realita yang ada dengan tetap berusaha untuk menggapai keadaan yang ideal.

Banyak kaidah Fikih yang mengacu pada prinsip Wāqiʻiyyah, di antaranya:

 الضرر يزال

اذا ضاق الامر اتسع واذا اتسع ضاق

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

النزول الى الواقع الأدنى عند تعذر المثل الأعلى

دارهم ما دمت فى دارهم، وحيهم ما دمت فى حيهم

Dakwah beberapa Wali Songo mencerminkan beberapa kaidah di atas. Secara terutama adalah Kalijaga dan Sunan Kudus. Sunan Kalijaga misalnya sangat toleran pada budaya lokal. Ia berkeyakinan bahwa masyarakat akan menjauh jika pendirian mereka diserang. Maka mereka harus didekati secara bertahap, mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis (penyesuaian antara aliran aliran) dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Keraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut tidak hanya kreatif, tapi juga sangat efektif (wa Yadkhulūna fī Dīn Allahi Afwājān). Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.

Demikian juga dengan metode Sunan Kudus yang mendekati masyarakatnya melalui simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Ada cerita masyhur, suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al-Baqarah yang berarti “Seekor Sapi”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Suatu pendekatan yang agaknya meng-copy paste kisah 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Perlu juga dikemukakan perbedaan prinsip antara Fikih ibadat (ritual) dan muamalat (sosial). Salah satu kaidah Fikih ibadat mengatakan “الله لا يعبد الا بما شرع” / Allah tidak boleh disembah kecuali dengan cara yang disyari’atkan-Nya. Sebaliknya kaidah Fikih muamalat mengatakan, “المعاملات طلق حتى يعلم المنع” / Muamalat itu bebas sampai ada dalil yang melarang.

Paparan di atas dikemukakan untuk menjelaskan Manhaj Islam Nusantara sebagaimana dibangun dan diterapkan oleh Wali Songo serta diikuti oleh ulama Ahli al-Sunnah di Negara ini dalam periode berikutnya.

Sehingga, Islam Nusantara ialah faham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat.

ISLAM MODERAT KONTEKS NUSANTARA DALAM PERSPEKTIF HISTORIS

Dalam Islam, rujukan beragama memang satu, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits, namun fenomena menunjukkan bahwa wajah Islam adalah banyak. Ada berbagai golongan Islam yang terkadang mempunyai ciri khas sendiri-sendiri dalam praktek dan amaliah keagamaan. Tampaknya perbedaan itu sudah menjadi kewajaran, sunatullah, dan bahkan suatu rahmat. Quraish Shihab mencatat bahwa ;

Keanekaragaman dalam kehidupan merupakan keniscayaan yang dikehendaki Alah. Termasuk dalam hal ini perbedaan dan keanekaragaman pendapat dalam bidang ilmiah, bahkan keanekaragaman tanggapan manusia menyangkut kebenaran kitab-kitab suci, penafsiran kandungannya, serta bentuk pengamalannya”.[22]

Yang menjadi permasalahan adalah dapatkah dari yang berbeda tersebut dapat saling menghormati, tidak saling menyalahkan, tidak menyatakan paling benar sendiri (Truth Claim), dan bersedia berdialog, sehingga tercermin bahwa perbedaan itu benar-benar rahmat. Jika ini yang dijadikan pijakan dalam beramal dan beragama, maka inilah sebenarnya makna konsep “Islam moderat”. Artinya, siapa pun orangnya yang dalam beragama dapat bersikap sebagaimana kriteria tersebut, maka dapat disebut berpaham Islam yang moderat. Walaupun dalam Islam sendiri konsep “Islam moderat” tidak ada rujukannya secara pasti[23], akan tetapi untuk membangun ber-Islam yang santun dan mau mengerti golongan lain, tanpa mengurangi prinsip-prinsi Islam yang sebenarnya, konsep “Islam moderat” tampaknya patut diaktualisasikan.

Berpaham Islam moderat sebagaimana disebutkan, sebenarnya tidaklah sulit mencari rujukannya dalam sejarah perkembangan Islam, baik di wilayah asal Islam itu sendiri maupun di Indonesia. Lebih tepatnya, Islam moderat dapat merujuk, jika di wilayah tempat turunnya Islam, kepada praktek Islam yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, khususnya al-Khulafa al-Rashidin, sedangkan dalam konteks Indonesia dapat merujuk kepada para penyebar Islam yang terkenal dengan sebutan Walisongo.

Generasi pengusung Islam moderat di Indonesia berikutnya, hanya sekedar miniatur, mungkin dapat merujuk kepada praktek Islam yang dilakuakan organisasi semacam Muhammadiyah dan NU (Nahdatul Ulama). Ber-Islam dalam konteks Indonesia semacam ini lebih cocok diungkapkan, meminjam konsepnya Syafi’i Ma’arif, dengan ber-“Islam dalam Bingkai Keindonesiaan”.[24] Azyumardi Azra juga kerap menyebut bahwa Islam moderat merupakan karakter asli dari keberagamaan Muslim di Nusantara.[25]

Sebagaimana dikatakan, ketika sudah memasuki wacana dialog peradaban, toleransi, dan kerukunan, sebenarnya ajaran yang memegang dan mau menerima hal tersebut lebih tepat disebut sebagai moderat. Jadi, ajaran yang berorientasi kepada perdamaian dan kehidupan harmonis dalam keberbagaian/kebhinekaan, lebih tepat disebut moderat, karena gerakannya menekankan pada sikap menghargai dan menghormati keberadaan “yang lain” (the other). Term moderat adalah sebuah penekanan bahwa Islam sangat membenci kekerasan, karena bedasarkan catatan sejarah, tindak kekerasan akan melahirkan kekerasan baru. Padahal, Islam diturunkan Allah adalah sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh masyarakat dunia).[26]

AKAR ISLAM MODERAT INDONESIA SEBAGAI EMBRIO LAHIRNYA ISLAM NUSANTARA

Sejak kedatangan Islam di bumi Indonesia, sepanjang menyangkut proses penyebarannya sebagai agama dan kekuatan kultur, sebenarnya ia telah menampakkan keramahannya. Dalam konteks ini, Islam disebarkan dengan cara damai, tidak memaksa pemeluk lain untuk masuk agama Islam, menghargai budaya yang tengah berjalan, dan bahkan mengakomodasikannya ke dalam kebudayaan lokal tanpa kehilangan identitasnya. Ternyata sikap toleran inilah yang banyak menarik simpatik masyarakat Indonesia pada saat itu untuk mengikuti ajaran Islam. Sementara itu, Walisongo adalah arsitek yang handal dalam pembumian Islam di Indonesia.

Menurut catatan Abdurrahman Mas’ud,[27] Walisongo merupakan agen-agen unik Jawa pada abad XV-XVI yang mampu memadukan aspek-aspek spiritual dan sekuler dalam menyiarkan Islam. Posisi mereka dalam kehidupan sosio-kultural dan religius di Jawa begitu memikat hingga bisa dikatakan Islam tidak pernah menjadi the religion of Java, jika sufisme yang dikembangkan oleh Walisongo tidak mengakar dalam masyarakat. Rujukan ciri-ciri ini menunjukkan ajaran Islam yang diperkenalkan Walisongo di Tanah Jawa hadir dengan penuh kedamaian, walaupun terkesan lamban tetapi meyakinkan. Berdasarkan fakta sejarah, bahwa dengan cara menoleransi tradisi lokal serta memodifikasinya ke dalam ajaran Islam dan tetap bersandar pada prinsip-prinsip Islam, agama baru ini dipeluk oleh bangsawan-bangsawan serta mayoritas masyarakat Jawa di pesisir utara.

Transmisi Islam yang dipelopori Walisonggo merupakan perjuangan brilian yang diimplementasikan dengan cara sederhana, yaitu menunjukkan jalan dan alternatif baru yang tidak mengusik tradisi dan kebiasaan lokal, serta mudah ditangkap oleh orang awam dikarenakan pendekatan-pendekatannya konkrit dan realistis, tidak njelimet, dan menyatu dengan kehidupan masyarakat. Model ini menunjukkan keunikan sufi Jawa yang mampu menyerap elemen-elemen budaya lokal dan asing, tetapi dalam waktu yang sama masih berdiri tegar di atas prinsip-prinsip Islam.[28]

Demikian pula dikatakan, bahwa proses pergumulan Islam dengan kebudayaan setempat yang paling intensif terlihat pada zaman Walisongo. Masa ini merupakan masa peralihan besar dari Hindu-Jawa yang mulai pudar menuju fajar zaman Islam. Keramahan terhadap tradisi dan budaya setempat itu diramu menjadi watak dasar budaya Islam pesantren. Wajah seperti itulah yang manjadikan Islam begitu mudah diterima oleh berbagai etnis yang ada di Nusantra. Hal ini terjadi karena ada kesesuaian antara agama baru (Islam) dan kepercayaan lama. Setidaknya, kehadiran Islam tidak mengusik kepercayaan lama, tetapi sebaliknya kepercayaan tersebut diapresiasi dan kemudian diintegrasikan ke dalam doktrin dan budaya Islam.[29]

Tampaknya Walisongo sadar, bagaimana seharusnya Islam dibumikan di Indonesia. Mereka paham bahwa Islam harus dikontekstualisasikan, tanpa menghilangkan prinsip-prinsip dan esensi ajaran, sesuai dengan kondisi wilayah atau bumi tempat Islam disebarkan. Inilah yang kemudian dikenal dengan konsep “pribumisasi Islam”. Gagasan ini dimaksudkan untuk mencairkan pola dan karakter Islam sebagai suatu yang normatif dan praktek keagamaan menjadi sesuatu yang kontekstual. Dalam “pribumisasi Islam” tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing. Lebih konkritnya, kontekstual Islam dipahami sebagai ajaran yang terkait dengan konteks zaman dan tempat. Perubahan waktu dan perbedaan wilayah menjadi kunci untuk kerja-kerja penafsiran dan ijtihad. Dengan demikian, Islam akan mampu terus memperbaharui diri dan dinamis dalam merespon perubahan zaman. Selain itu, Islam dengan dinamis/lentur mampu berdialog dengan kondisi masyarakat yang berbeda-beda dari sudut dunia yang satu ke sudut yang lain. Kemampuan beradaptasi secara kritis inilah yang sesungguhnya akan menjadikan Islam dapat benar-benar Shalih Li kulli Zaman wa Makan[30] (cocok untuk setiap zaman dan tempat).

Pertanyaan yang muncul kemudian adalah apakah praktek Islam sebagaimana yang diajarkan Walisongo dan diamalkan oleh sebagian besar masyarakat Jawa dapat disebut Islam kaffah atau Islam yang benar. Beragam pandangan pun muncul terkait dengan hal ini, baik dari beberapa golongan dalam Islam sendiri maupun para pengamat asing dan dalam negeri. Misalnya, Geertz adalah salah satu tokoh yang menyangsikan ke-Muslim-an mayoritas orang Jawa, karena fenomena sinkretisme begitu nyata di kalangan mereka.[31] Cliffort Geertz merupakan tokoh penting dalam studi Islam Jawa yang mengatakan praktek keagamaan orang Jawa campur aduk dengan unsur-unsur tradisi-tradisi non Islam. Menurutnya, kelompok priyayi dan abangan dengan jelas mencerminkan tipisnya pengaruh Islam dalam kehidupan orang Jawa. Bahkan, dalam pandangannya, kelompok yang diangap paling Islami, yaitu santri tidak terlepas dari pengaruh tradisi pra-Islam. Identitas ke-Islaman orang Jawa kurang lebih sama dengan “Islam Nominal”.[32]

Sebaliknya, pengamat lain menyebutkan, mungkin benar bahwa Islam di Asia Tenggara secara geografis adalah periferal, Islam nominal, atau Islam yang jauh dari bentuk “asli” yang terdapat dan berkembang di pusatnya, yaitu Timur Tengah. Akan tetapi, Islam di Asia Tenggara periferal dari segi ajaran perlu diuji secara kritis. Jadi, tidak berarti tradisi intelektual yang berkembang di Asia Tenggara sejak masa awalnya terlepas dari “tradisi besar” Islam. Bahkan, khususunya sejak abad ke-17, dapat disaksikan semakin tingginya intensitas dan kontak intelektual keagamaan antara Timur Tengah dengan Nusantara, yang pada esensinya bertujuan mendekatkan “tradisi lokal” Islam di Asia tenggara dengan “tradisi besar” (tradisi normatif dan idealistik) sebagaimana terdapat dalam sumber-sumber pokok ajaran Islam al-Qur’an dan Sunnah.[33]

Demikian pula, berdasarkan kesimpulan Mark Woodward, kalau ditelaah secara mendalam dan ditinjau dari segi perspektif Islam secara luas, didapati bahwa hampir seluruh ajaran, tradisi, dan penekanan yang bersifat spiritual yang selama ini berkembang dalam masyarakat Jawa, pada dasarnya bersumber dari ajaran Islam di Timur Tengah. Apa yang dikenal dalam upacara keagamaan Jawa, seperti grebeg, selametan, kalimasodo, dsb adalah bagian dari ajaran Islam. Selain itu, doktrin Kawula Gusti, Martabat Tujuh[34] dan tradisi wayang yang dikenal dan dilestarikan dalam masyarakat Jawa, dapat ditelusuri asal usulnya dari tradisi tasawuf Islam.[35]

Sejalan dengan pernyataan Woodward dan Azra, dapatlah dibenarkan bahwa tidak satu pun budaya di dunia ini yang tidak sinkretik, karena semua budaya pasti memiliki aspek historisnya yang tidak tunggal dan dengan demikian bersifat sinkretik.[36] Baik agama maupun budaya tidak dapat mengelak dari proses yang tak mungkin terhindarkan, yakni perubahan. Memang benar, ajaran agama sebagaimana tercantum secara tekstual dalam kitab suci, kata demi kata tetap seperti keadaannya semula. Akan tetapi, begitu ajaran agama harus dipahami, ditafsirkan, dan diterjemahkan ke dalam perbuatan nyata dalam suatu setting budaya, politik, dan ekonomi tertentu, maka pada saat itu pemahaman yang didasari ajaran agama tersebut pada dasarnya telah berubah menjadi kebudayan.[37]

Menurut Fazlur Rahman, memang secara historis sumber utama Islam adalah wahyu Ilahi yang kemudian termuat dalam kitab yang di sebut al-Qur’an. Namun, kitab ini tidak turun sekaligus dalam jangka waktu berbarengan, melainkan turun sedikit demi sedikit dan baru terkumpul setelah beberapa puluh tahun lamanya. Oleh karena itu, wahyu jenis ini merupakan reaksi dari kondisi sosial-historis yang berlangsung pada saat itu. Hubungan antara pemeluk dan teks wahyu dimungkinkan oleh aspek normatif wahyu itu, adapun pola yang berlangsung berjalan melalui cara interpretasi (penafsiran). Teks tidak pernah berbicara sendiri, dan ia akan bermakna jika dihubungkan dengan manusia. Apa yang diperbuat, disetujui, dan dikatakan oleh Rasul adalah hasil usaha (ijtihad) Rasul memahami dimensi normatif wahyu. Sementara itu, upaya interpretasi Rasul terhadap teks dipengaruhi oleh situasi historis yang bersifat partikular pada masanya. Bahkan, tidak jarang Rasul sendiri sering mengubah interpretasinya terhadap al-Qur’an jika diperlukan.[38]

Terjadinya pluralitas budaya dari penganut agama yang sama tidak mungkin dihindari ketika agama tersebut telah menyebar ke wilayah begitu luas dengan latar belakang kultur yang beraneka ragam. Dalam interaksi dan dialog antara ajaran agama dengan budaya lokal yang lebih bersifat lokal itu, kuat atau lemahnya akar budaya yang telah ada sebelumnya dengan sendirinya akan sangat menentukan terhadap seberapa dalam dan kuat ajaran agama yang universal mencapai realitas sosial budaya lokal. Pluralitas wajah agama itu dapat pula diakibatkan respons yang berbeda dari penganut agama yang sama terhadap kondisi sosial, budaya, maupun ekonomi yang mereka hadapi. Dari perspektif inilah dapat diterangkan mengapa, misalnya, gerakan Islam yang selama ini dikenal sebagai “modernis” yakni Muhammadiyah cenderung memperoleh dukungan yang kuat di daerah perkotaan, sedangkan NU yang sering disebut sebagai golongan ”tradisional” memperoleh pengaruh luas di daerah pedesaan.[39]

Jadi, yang perlu digarisbawahi adalah meskipun suatu agama itu diajarkan oleh Nabi yang satu dan kitab suci yang satu pula, tetapi semakin agama tersebut berkembang dan semakin besar jumlah penganut serta semakin luas daerah pengaruhnya, maka akan semakin sukar pula kesatuan wajah dari agama tersebut dapat dipertahankan. Karena, sewaktu ajaran dan agama yang berasal dari langit itu hendak dilendingkan ke dataran empirik, maka mau tidak mau harus dihadapkan dengan serangkaian realitas sosial budaya yang sering kali tidak sesuai atau bahkan bertentangan dengan ajaran agama yang hendak dikembangkan.[40]

“Tidak ada satu pun agama yang tidak berangkat dari sebuah respon sosial. Semua bertolak dan bergumul dari, untuk, dan dengannya. Ketika agama yang merupakan titah suci Tuhan berdialektika dengan relitas sosial, berarti ia masuk pada kubangan sejarah, atau menyejarah. Sejarah, ruang, dan waktu adalah penguji kebenaran serta kekokohan eksistensi agama. Sebagai penguji, sejarah tentu memiliki seperangkat bahan ujian. Bahan itu adalah unsur-unsur budaya setempat, fenomena dan budaya baru, serta rasionalitas.”[41]

Sekali lagi, perselingkuhan antara agama dan tradisi adalah sunatullah. Tradisi adalah pemikiran manusia yang profan atas teks-teks keagamaan yang sakral. Dengan demikian, relasi Islam dan tradisi dalam pemikiran umat Islam sangatlah erat. Memahami Islam tanpa sokongan penguasaan warisan intelektual para pendahulu amat sulit mencapai titik kesempurnaan. Namun, tradisi bukanlah segalanya, ia tetap dalam ketidak sempurnaannya sebagai buah pemikiran yang amat sarat nilai. Ia harus disikapi secara proporsional dan tidak boleh dikurangi atau dilebih-lebihkan dari kepastian sebenarnya.[42]

MINIATUR ISLAM MODERAT

Fakta moderasi Islam itu dibentuk oleh pergulatan sejarah Islam Indonesia yang cukup panjang. NU adalah organisasi Islam yang sudah malang-melintang dalam memperjuangkan bentuk-bentuk moderasi Islam, baik lewat institusi pendidikan yang mereka kelola maupun kiprah sosial-politik-keagamaan yang dimainkan. Oleh karena itu, kedua organisasi ini patut disebut sebagai dua institusi civil society yang amat penting bagi proses moderasi negeri ini. NU merupakan organisasi sosial-keagamaan yang berperan aktif dalam merawat dan menguatkan jaringan dan institusi-insitusi penyangga moderasi Islam, bahkan menjadikan Indonesia sebagai proyek percontohan toleransi bagi dunia luar.[43] Dikatakan pula, sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU selama ini memainkan peran yang signifikan dalam mengusung ide-ide keislaman yang toleran dan damai.[44]

Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, NU adalah organisasi Islam yang paling produktif membangun dialog di kalangan internal masyarakat Islam, dengan tujuan membendung gelombang radikalisme. Dengan demikian, agenda Islam moderat tidak bisa dilepas dari upaya membangun kesaling-pahaman (mutual understanding) antar peradaban.[45]

Sikap moderasi NU pada dasarnya tidak terlepas dari akidah Ahlusunnah waljama’ah (Aswaja) yang dapat digolongkan paham moderat. Dalam Anggaran Dasar NU dikatakan, bahwa NU sebagai Jam’iyah Diniyah Islamiyah berakidah Islam menurut paham Ahlussunah waljamaah dengan mengakui mazhab empat, yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Penjabaran secara terperinci, bahwa dalam bidang akidah, NU mengikuti paham Ahlussunah waljamaah yang dipelopori oleh Imam Abu Hasan Al-Asy’ari, dan Imam Abu Mansyur Al-Maturidi. Dalam bidang fiqih, NU mengikuti jalan pendekatan (al-mazhab) dari Mazhab Abu Hanifah Al-Nu’man, Imam Malik ibn Anas, Imam Muhammad ibn Idris Al-Syafi’i, dan Ahmad ibn Hanbali. Dalam bidang tasawuf mengikuti antara lain Imam al-Junaid al-Bagdadi dan Imam al-Ghazali, serta imam-imam yang lain.[46]

Perkataan Ahlusunnah waljama’ah dapat diartikan sebagai “para pengikut tradisi Nabi Muhammad dan ijma’ (kesepakatan) ulama”.[47] Sementara itu, watak moderat (tawassuth) merupakan ciri Ahlussunah waljamaah yang paling menonjol, di samping juga Itidal (bersikap adil), Tawazun (bersikap seimbang), dan Tasamuh (bersikap toleran), sehingga ia menolak segala bentuk tindakan dan pemikiran yag ekstrim (tatharruf) yang dapat melahirkan penyimpangan dan penyelewengan dari ajaran Islam. Dalam pemikiran keagamaan, juga dikembangkan keseimbangan (jalan tengah) antara penggunaan wahyu (naqliyah) dan rasio (‘aqliyah) sehingga dimungkinkan dapat terjadi akomodatif terhadap perubahan-perubahan di masyarakat sepanjang tidak melawan doktrin-doktrin yang dogmatis. Masih sebagai konsekuensinya terhadap sikap moderat, Ahlussunah waljama’ah juga memiliki sikap-sikap yang lebih toleran terhadap tradisi di banding dengan paham kelompok-kelompok Islam lainnya. Bagi Ahlussunah, mempertahankan tradisi memiliki makna penting dalam kehidupan keagamaan. Suatu tradisi tidak langsung dihapus seluruhnya, juga tidak diterima seluruhnya, tetapi berusaha secara bertahap di-Islamisasi (diisi dengan nilai-nilai Islam).[48]

Pemikiran Aswaja sangat toleransi terhadap pluralisme pemikiran. Berbagai pikiran yang tumbuh dalam masyarakat muslim mendapatkan pengakuan yang apresiatif. Dalam hal ini Aswaja sangat responsif terhadap hasil pemikiran berbagai madzhab, bukan saja yang masih eksis di tengah- tengah masyarakat (Madzhab Hani, Malik, Syafi’i, dan Hanbali), melainkan juga terhadap madzhab-madzhab yang pernah lahir, seperti imam Daud al-Dhahiri, Imam Abdurrahman al-Auza’i, Imam Sufyan al-Tsauri, dan lain-lain.[49]

Model keberagamaan NU, sebagaimana disebutkan, mungkin tepat apabila dikatakan sebagai pewaris para wali di Indonesia. Diketahui, bahwa usaha para wali untuk menggunakan berbagai unsur non-Islam merupakan suatu pendekatan yang bijak. Bukankah al-Qur’an menganjurkan sebuah metode yang bijaksana, yaitu “serulah manusia pada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yag baik” (QS. An-Nahl: 125).32. Dalam mendinamiskan perkembangan masyarakat, kalangan NU selalu menghargai budaya dan tradisi lokal. Metode mereka sesuai dengan ajaran Islam yang lebih toleran pada budaya lokal. Hal yang sama merupakan cara-cara persuasif yang dikembangkan Walisongo dalam meng-Islam-kan pulau Jawa dan menggantikan kekuatan Hindu-Budha pada abad XVI dan XVII. Apa yang terjadi bukanlah sebuah intervensi, tetapi lebih merupakan sebuah akulturasi hidup berdampingan secara damai. Ini merupakan sebuah ekspresi dari “Islam kultural” atau “Islam moderat” yang di dalamnya ulama berperan sebagai agen perubahan sosial yang dipahami secara luas telah memelihara dan menghargai tradisi lokal (local wisdom) dengan cara mensubordinasi budaya tersebut ke dalam nilai-nilai Islam.[50]

NILAI-NILAI AJARAN ISLAM NUSANTARA ; LAHIRNYA PANCASILA

Satu lagi contoh penting dari bagaimana ulama Nusantara memahami dan menerapkan ajaran Islam adalah lahirnya Pancasila. Pancasila yang digali dari budaya bangsa Indonesia diterima dan disepakati untuk menjadi dasar negara Indonesia, meskipun pada awalnya kaum muslimin keberatan dengan itu, karena yang mereka idealkan adalah Islam secara eksplisit yang menjadi dasar negara. Namun, akhirnya mereka sadar bahwa secara substansial pancasila adalah sangat Islami.[51] Sila pertama yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan Tauhid dalam akidah ke-Islaman. Sedangkan sila-sila yang lain merupakan bagian dari representasi Syari’at.

Tabel 01.

Nilai-nilai Ajaran Islam dalam Pancasila

PANCASILA

1.       Ketuhanan Yang Maha Esa Jika manusia mengakui kekuasaan yang tertinggi[1] konsep ketuhanan Yang Maha Esa tidak lain adalah apa yang disebut dengan “Tauhid” demikian antara lain berbunnyi keputusan muktamar Nahdatul Ulama ke-26 di Situbondo pada tahun 1984. Tafsir ini tidak dimaksud untuk menafikan hak hidup agama-agama lain yang diatur di Indonesia. Karena “Tauhid” itulah keyakinan yang terdalam dan yang paling awal (perimordial) dari semua agama-agama yang ada di dunia. Al-Qur’an menyatakan sebagai berikut:

dan tidak pernah mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku“. (QS al-Anbiya‟ [21]: 25).

Akidah ke-Esan Tuhan (Tauhid) tersebut tidak tergoyahkan meskipun kita tahu masing-masing umat punya cara keberagamaan yang berbeda

2.       Kemanusiaan yang Adil dan Beradab Manusia pertama kali diciptakan Allah adalah Nabi Adam As. Sebgai Abu Basyar dengan Siti Hawa sebagai Ummul al-Basyar. Kemudian keturunan nabi adam itu sebagai umat yang satu (ummatu wahidah) (Q.S. Al-Baqarah/2:212. Substansi ayat ini mengajarkan agar manusia hidup dan berada dalam kebersamaan. Berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang direalisasikan dengan berbagai macam aktifitas serta bermacam hubungan antara sesamanya. Kebersamaan merupakan sarana atau ruang gerak bagi manusia dalam memenuhi tuntutan kebutuhan hidupnya sendiri. Ketergantungan inilah yang menjadikan manusia sebagai makhluk sosial, oleh Aristoteles disebutkan sebagai makhluk Zon Politicon.[2] karena esensi kemanusiaan yang bersifat Ilahiah itulah Allah Swt menegaskan harkat dan martabat manusia anak cucu Adam sebagai mengatasi makhluk-makhluk lainnya:

Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan dilautan Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengankelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS al-Isra’[17]: 70).[3]

Dalam rangka menghormati martabat manusia,[4] nyawa manusia itu sakral dan tak bisa dilanggar dan setiap usaha harus di buat untuk melindunginya[5] Islam memberikan kebebasan kepada umat manusia untuk berserikat menjalin persahabatan dan kerjasama dengan siapa pun, tanpa paksaan dari pihak lain,[6] setiap orang berhak diperlakukan sesuai dengan hukum, dan hanya sesuai dengan hukum, setiap orang berhak dan berkewajiban untuk membela hak-hak orang lain dan hak-hak komunitas secara umum, dalam membela hak-hak pribadi maupun publik, setiap orang tidak boleh diskriminasikan.[7] Dengan demikian, memuliakan manusia, sebagai gambar Allah dan khalifahnya pada hakikatnya adalah memuliakan Allah, Tuhan yang Maha Esa, Pun sebaliknya, menghinakan manusia dan kemanusiaan adalah penghinaan kepada Allah Swt. Dalam hidup bernegara Indonesia, dengan alasan apapun, tidak boleh terjadi pelecahan terhadap harkat dan martabat manusia

3.       Persatuan Indonesia Dari kata-kata „Satu‟ (Wahid dalam bahasa arab), “persatuan‟ (wahidah) menggambarkan konsep menyatunya unsur-unsur yang berbeda, dalam satu derap langkah bersama karena memiliki dan ingin mencapai cita-cita yang juga sama. Dalam bahasa islam disebut dengan “Jama’ah” dalam islam nilai-nilai persatuan merupakan perintah Allah yang tertuang dalam al-Qur,an agar kaum muslimin tetap berpegang teguh kepada aturan-aturannya dan tidak terpecah-pecah. Demikian pula perintah Allah Swt. agar kaum muslim tidak mengikuti sikap umat terdahulu (Jahiliyah) setelah datangnya petunjuk, seperti tertuang dalam ayat:

Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka.…….. (Ali imran: ayat 105)

Ajaran-ajaran ini benar-benar di pegang oleh kaum muslimin bukan hanya sekedar ajaran yang amalkan, akan tetapi sudah merupakan behavior yang berwujud dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan. Hal ini terlihat dalam aktivitas sehari-hari berupa pengalaman shalat berjamaah shalat jum’ah dan terutama pada saat kaum muslimin bersama-sama berwukuf di’AROFAH, bernaung di bawah tenda yang sama dengan pakaian yang sama pula.Disinilah tanpak sekali anjuran islam tentang persatuan.

Persatuan merupakan perintah Allah Swt yang harus dipegang teguh oleh setiapmanusia, baik pada saat damai lebih-lebih pada saat berada dalam jurang perpecahan karena persatuan dipandang sebagai kekuatan. Apabila panitia Sembilan dan BPUPKI mencantumkan perinsip persatuan dalam pancasila dan dijabarkan dalam UUD‟ 45, bukan merupakan sesuatau yang baru, karena mereka yang duduk di dalam panitia-panitia tersebut sangat meamahami bahwa di samping persatuan merupakan perintah Allah juga merupakankekuatan yang sangat di perlukan dalam menuju cita-cita kemerdekaan.[8]

 Persatuan saling berbagi tanggung jawab demi mencapai tujuan mulia ini sungguhsejalan dengan firman Allah sebagai berikut:

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, (dalam kontekskeindonesiaan cita-cita menegakkan keadilan sosial) secara bersama-sama dan janganlahkamu bercerai berai, (QS Ali imran [3]: 103)

Dan saling kerjasamalah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan dan janganlahbekerja sama dalam dosa dan permusuhan, dan bertakwalah kepada allah, sesungguhnya siksaan allah (akibat permushan keengganan bekerjasama dan tolong menolong) sagatlah keras adanya (QS. al-Maidah [5]: 2)

Upaya membangun berbangsa dan bernegara atas landasan kebangsaan yang majemuk (plural) diatas bumi ini pertama kali dirintis oleh Muhammad Rasulullah SAW lebih 14 abad lalu, persisnya tahun 622 M di Madinah. Sebagaimana diketahui, pemerintahan Rasulullah SAW di Madinah adalah pemerintahan/Negara yang dibangun diatas landasan penghargaan terhadap kebinekaan agama, tradisi dan suku. Prinsip ini tertuang dengan gamblang dalam naskah konstitusi Negara Madinah yang dikenal luas dengan sebutan[9]  Piagam Madinah[10]

4.       Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan Di dalam al-qur‟an terdapat perintah supaya permus yawarahan dalam urusan dunia seperti:

Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu…. (Ali-Imran: 159)

.… Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawrah antara mereka (al- Syura : 38)

Perinsip syura dalam islam tidak berbentuk demokrasi absolute melainkan demokrasiketuhanan (teodemokrasi) seperti termuat dalam al-qur;an dan hadis serta praktik yang telahdilaksnakan oleh nabi muhammad serta sahabat-sahabatnya. Demokrasi ketuhanan dalamajaran islam hanya berkisar mengenai urusan umat. Jadi penerapannya hanya yaitu urusan-urusan kesejahteraan, hidup bermasyarakat, bernegara, berperang, dan lain-lain yang brsangkut paut dengan umat. Dalam menyelesaikan urusan umat hendak mbermusyawarah mufakat yang dijiwai oleh prinsip-prinsip yang termuat dalam al-Qur‟an dan Sunnah.[11]

Tak ada satupun di dunia ini yang lepas dari pengetahuan, dan kasih sayang Tuhan.Ringkasnya, Tuhan mengetahui dan mengatur semua aspek kehidupan makhluknya, termasukmanusia. Namun demikian, kemaha kuasaanya dikendalikan oleh kasih sayang-Nya. AllahSwt bisa saja membuat semua manusia menjadi satu umat saja (QS.11: 118), tapi itu tidakdilakukannya dan dibiarkannya.[12] Hal demikian melambangkan bahwa tuhan sendirisebenarnya sebagai penguasa jagat raya tidak persifat otoliter meskipun memilki kekuasaanyang tidak sebanding dengan makhluk ciptaannya dengan memberi kebebasan kepada setiapmakhluk untuk memilih apa yang menjadi keinginannya. Konsekuensi dari ayat inimenciptakan perbedaan yang pada inti untuk menyelesaikan perbedaan itu diperlukanmusyawarah. Bahkan kisah yang tidak kala spektakuler ketika Nabi melakukan isra dan mi‟raj kesiratul muntaha yang terjadi dialok negosiasi dengan tuhan dalam hal minta keringananshalat lima waktu yang awalnya lima puluh sehari semalam menjadi lima waktu kejadian inimenyadarkan kita bahwa tuhan saja sebagai penguasa segala kehidupan di alam raya ini masihmelakukan musyawarah dengan Nabi Muhammad untuk menentukan hukum kepadahambanya.

5.       Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia Keadilan: dari kata al-‘Adl (adil) yang secara harfiah berarti “lurus”, “seimbang”.Dalam fiqih, “’Adil‟ pertama-tama berarti memperlakukan setiap orang secara setara, tanpadiskriminasi berdasarkan hal-hal yang bersifat subjektif. Dalam kitab al-Mufasshal fi Fiqh ad-Da’wah, Abul Qasim al-Amadi menulis :

keadilan adalah konsep yang merengkuh setiap orang, atau setiap komunitas; tanpadipengaruhi perasaan subjektif suka tidak suka, atau faktor keturunan, atau status soal kaya-miskin, kuat lemah; intinya menakar setiap orang dengan takaran yang sama dan menimbangdengan timbangan yang sama, sebagai manusia, hamba allah dan ciptaanya.”

Dengan kata lain, unsur pertama keadilan adalah „kesetaraan‟ perbedaan suku ras dan semisal tidak boleh menjadi alasan untuk mendiskriminasikan orang lain keanekaragaman bahasa, budaya maupun warna kulit adalah salah satu tanda kebesaran Allah Swt.

Dan di antara tandatanda kekuasaanNya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui. (QS ar-Rum [30]: 22)

 Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-aki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya saling mengenal

Seandainya kaum muslimin [saat itu] ngotot dengan Islam formalnya dan kelompok lain bersikeras dengan sekulerismenya barang kali sampai saat ini negara Indonesia belum lahir. Itulah pentingnya berpegang pada kaidah “درء المفاسد مقدم على جلب المصالح” / Menolak mudarat didahulukan daripada menarik maslahat.

Pemahaman, pengalaman, dan metode dakwah ulama Nusantara, sejauh ini telah memberikan kesan yang baik, yaitu Islam yang tampil dengan wajah sumringah dan tidak pongah, toleran tapi tidak plin-plan, serta permai nan damai.

Dalam kehidupan bernegara, lanjut Masdar, Gus Dur dan kiai NU lainnya tidak menganut adanya doktrin agama secara formal, yakni adanya negara Islam. Karena dalam pandangan Gus Dur dan para kiai NU, Islam itu ruh, esensi, dan nilai universal. Negara dengan berbagai sistem politik, sejarah, dan struktur kekuasaannya tidak menjadi penting, sebab yang terpenting adalah esensi nilai Islam yang dikandungnya.

“Kebernegaraan yang digarisbawahi Islam yang pertama adalah untuk menggelar keadilan bagi segenap rakyatnya. Yang kedua, strateginya harus dengan musyawarah, liberation,” kata pria kelahiran Purwokerto, Jawa Tengah, 58 tahun lalu itu.

Dua hal pokok ini, kata Masdar, sangat ditekankan dalam ajaran Islam. Bukan soal merek negara, batas, maupun sistem pemerintahan presidensial dan parlementer suatu negara.

Menurut Rais Syuriah PBNU itu, Islam yang terkait dengan ajaran kehidupan masyarakat Indonesia lebih bersifat terbuka. Dalam hal ini, formalitas keislaman menjadi sama sekali tidak penting, karena yang lebih penting adalah esensinya.

Maka dari pandangan kiai yang kemudian diartikulasikan lebih tajam Oleh Gus Dur, Indonesia dengan Pancasila sama sekali tidak ada masalah dari perspektif Islam. Karena yang terpenting bukan merek negara, tapi substansinya.

Perspektif kiai seperti ini, kata Masdar, tidak ada jarak sama sekali dengan konsep NKRI yang tidak menyebut negara Islam, meski semua landasan konstitusinya disebutkan dalam bahasa ke-Indonesia-an yang mengadopsi kultur lokal di dalamnya.

Sikap kebangsaan yang sejalan dengan ke-Islaman itu terkait erat dengan rumusan ‘Pribumisasi Islam’ yang digaungkan Gus Dur. Salah satu contohnya bisa dilihat dalam kehidupan pesantren.

Menurut Gus Dur, Islam yang berkembang di pesantren umumnya adalah Islam yang direbumikan, disesuaikan dengan budaya setempat. Islam dihayati dalam pola kehidupan masyarakatnya, diungkapkan dalam bahasa masyarakat, dan diamalkan sesuai konteks tempat umat Islam itu berada, terutama berkaitan dengan amaliyah non-ritual.

Karena Islam tidak mengingkari eksistensi kebudayaan, kebangsaan, maupun kesukuan umatnya. Ini digarisbawahi oleh Alquran, ‘saya ciptakan kalian lelaki dan perempuan dan kami jadikan kaian bersuku/berbangsa,” ungkap Masdar.

Maka, menurut Masdar, jelas sekali konsistensi sikap Gus Dur pada kebhinekaan. Pesantren, yang sangat berpengaruh besar terhadap pemikiran Gus Dur, adalah tempat di mana tradisi untuk menghormati orang dari lingkungan apa pun, baik mazhab maupun agama berjalan dalam korior esensi nilai. Terlebih, lanjut Masdar, pesantren sangat populer dengan ucapan “wallahua’lam” yang bermakna Allah lebih tahu mana yang benar, setiap kali kiai atau santri menyampaikan tafsir keagamaan.[64]

Saat ini, dunia Islam di Timur Tengah tengah dibakar oleh api kekerasan yang berujung pada pertumpahan darah. Ironisnya, agama Islam acapkali digunakan sebagai justifikasi bagi pengrusakan-pengrusakan tersebut. Maka cara berislam penuh damai sebagaimana di Nusantara ini kembali terafirmasi sebagai hasil tafsir yang paling memadai untuk masa kini.

Yang menjadi pekerjaan rumah bersama adalah bagaimana nilai-nilai keislaman yang telah dan sedang kita hayati ini, terus dipertahankan. Bahkan, kita harus berupaya ‘mengekspor’ Islam Nusantara ke seantero dunia, terutama ke bangsa-bangsa yang diamuk kecamuk perang tak berkesudahan, yaitu mereka yang hanya bisa melakukan kerusakan (fasād) tapi tidak kunjung melakukan perbaikan (ṣalāḥ). Tugas kita sebagai elit-elit muda Nahdlatul Ulama adalah mengenalkan Allah yang tidak hanya menjaga perut hamba-Nya dari kelaparan, tapi juga menenteramkan jiwa dari segala kekhawatiran,

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ، الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوْعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” (Quraisy: 3-4)

KH A Mustofa Bisri mengungkapkan, saat ini dunia sedang melirik Indonesia sebagai referensi keislaman, sudah tidak lagi melirik ke Islam di Timur-Tengah yang hingga kini masih terjadi banyak keributan. Ungkap Rais ‘Aam PBNU itu saat menyampaikan tausiyah di Pengajian Pitulasan Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Ahad (12/7) malam.

“Sampean (kalian) jangan bingung, mana yang Islam mana yang bukan Islam. Sana kok membunuh orang, sini kok membunuh orang juga. Sana kok ngebom, sini kok ngebom. Itu Islam dengan sesama Islam, apa non-Islam dengan non-Islam ?

Kiai yang akrab disapa Gus Mus itu merasa bingung karena kondisi Islam di Timur Tengah selama ini sebagai kiblat Islam, khususnya Saudi Arabia, tetapi kenyataannya banyak pihak yang tidak cocok dengan Saudi Arabia.  “Kacau balau, antara politik dan agama sudah campur aduk ora karu-karuan. Akhirnya terjadi di negara-negara yang penduduknya mayoritas tidak muslim timbul Islamophobia. Ketika melihat orang Islam, pada ketakutan karena takut dibunuh, takut dibom,” sindir Gus Mus.[65]

Karakter Islam Indonesia yang sedemikian memikat dunia itu tentunya tidak terbentuk tiba-tiba, melainkan diawali dengan lahirnya tradisi, budaya, dan kesusastraan Islam sufistis sejak awal abad ke-16. Michael Laffan,[66] menjelaskan bahwa wajah Islam Indonesia tidak mulai dibentuk pada masa kolonial seperti banyak diasumsikan oleh para sarjana. Ia adalah kelanjutan dan buah dari pertemuan beragam tradisi, budaya, intelektualitas, dan agama yang telah saling berinteraksi sejak awal masuknya Islam ke wilayah ini. Tradisi Arab, Cina, India, dan Eropa, semuanya berjalin berkelindan membentuk karakter Wasathiyah seperti dijelaskan Azra di atas.

Kalau masyarakat Muslim dunia berharap agar karakter Islam Nusantara menjadi inspirasi perdamaian global, lalu siapa di sini yang akan menjadi “guardian”nya ? Siapa yang akan menjaga, merawat, mewarisi, mengkaji, dan menyebarkan gagasan-gagasan Islam kultural tersebut serta menerjemahkannya dalam ranah yang lebih praksis agar memberikan kontribusi riil terhadap peradaban dunia ?

PENJELASAN BAGI YANG KONTRA 

Wacana tentang Islam Nusantara telah memunculkan perdebatan di kalangan umat Islam. Katib Syuriyah PBNU, KH Afifuddin Muhajir, mencoba memberikan penjelasan tentang apa itu sebenarnya maksud dari Islam Nusantara.

Dalam tulisannya yang dimuat dalam situs resmi NU http://www.nu.or.id, KH Afifuddin Muhajir, menyebutkan bahwa istilah Islam Nusantara akhir-akhir ini mengundang banyak perdebatan sejumlah pakar ilmu-ilmu keislaman. Sebagian menerima dan sebagian menolak. Alasan penolakan mungkin adalah karena istilah itu tidak sejalan dengan dengan keyakinan bahwa Islam itu satu dan merujuk pada yang satu (sama) yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah.

Menurutnya, kadang suatu perdebatan terjadi tidak karena perbedaan pandangan semata, tetapi lebih karena apa yang dipandang itu berbeda. KH Afiffuddin memberikan jawaban bagi mereka yang menolak “Islam Nusantara”.

Seperti jamak diketahui, kata KH Afifuddin[67], Al-Quran sebagai sumber utama Agama Islam memuat tiga ajaran.

Pertama, ajaran akidah, yaitu sejumlah ajaran yang berkaitan dengan apa yang wajib diyakini oleh mukallaf menyangkut eksistensi Allah, malaikat, para utusan, kitab-kitab Allah, dan hari pembalasan.

Kedua, ajaran akhlak/tasawuf, yaitu ajaran yang berintikan Takhalli dan Tahalli, yakni membersihkan jiwa dan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat terpuji.

Ketiga, ajaran syariat, yaitu aturan-aturan praktis (al-ahkam al-‘amaliyah) yang mengatur perilaku dan tingkah laku mukallaf, mulai dari peribadatan, pernikahan, transaksi, dan seterusnya.

Yang pertama dan kedua, kata beliau, sifatnya universal dan statis, tidak mengalami perubahan di manapun dan kapanpun. Tentang keimanan kepada Allah dan hari akhir tidak berbeda antara orang dahulu dan sekarang, antara orang-orang benua Amerika dengan benua Asia.

Demikian juga, bahwa keikhlasan dan kejujuran adalah prinsip yang harus dipertahankan, tidak berbeda antara orang Indonesia dengan orang Nigeria. Penipuan selalu buruk, di manapun dan kapanpun. Dalam segmen keyakinan dan tuntunan moral ini, Islam tidak bisa di-embel-embeli dengan nama tempat, nama waktu, maupun nama tokoh.

Sementara yang ketiga, yaitu ajaran syari’at, masih harus dipilah antara yang tsawabith/qath’iyyat dan ijtihadiyyat. Hukum-hukum qath’iyyat seperti kewajiban shalat lima kali sehari semalam, kewajiban puasa, keharaman berzina, tata cara ritual haji, belum dan tidak akan mengalami perubahan (statis) walaupun waktu dan tempatnya berubah.

Shalatnya orang Eropa tidak berbeda dengan salatnya orang Afrika. Puasa, dari dahulu hingga Kiamat dan di negeri manapun, dimulai semenjak Subuh dan berakhir saat kumandang azan Maghrib.

Dikatakannya, penjelasan Al-Quran dan As-Sunah dalam hukum Qath’iyyat ini cukup rinci, detail, dan sempurna demi menutup peluang kreasi akal. Akal pada umumnya tidak menjangkau alasan mengapa, misalnya, berlari bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwa saat haji. Oleh karena itu akal dituntut tunduk dan pasrah dalam hukum-hukum Qath’iyyat tersebut.

Sementara itu, hukum-hukum Iijtihadiyyat bersifat dinamis, berpotensi untuk berubah seiring dengan kemaslahatan yang mengisi ruang, waktu, dan kondisi tertentu. Hukum kasus tertentu dahulu boleh jadi haram, tapi sekarang atau kelak bisa jadi boleh.  Al-Quran dan As-Sunah menjelaskan hukum-hukum jenis ini secara umum, dengan mengemukakan prinsip-prinsipnya, meski sesekali merinci. Hukum ini memerlukan kreasi ijtihad supaya sejalan dengan tuntutan kemaslahatan lingkungan sosial.

Para tabi’in berpendapat bahwa boleh menetapkan harga (tas’ir), padahal Nabi Muhammad SAW melarangnya. Tentu saja mereka tidak menyalahi As-Sunah.  Perbedaan putusan itu karena kondisi pasar yang berubah, yaitu bahwa pada masa Nabi SAW harga melambung naik karena kelangkaan barang dan meningkatnya permintaan, sedangkan pada masa tabi’in disebabkan keserakahan pedagang. (Nailul Authar, V, 220) Di sini, para tabi’in membedakan antara-apa yang disebut ekonomi modern dengan-pasar persaingan sempurna dari pasar monopoli atau oligopoli misalnya.

Para tabi’in juga memfatwakan larangan keluar menuju masjid untuk perempuan muda karena melihat zaman demikian rusak, banyak laki-laki berandal yang sering usil hingga berbuat jahil, (Al-Muntaqa Syarḥul Muhadzdzab, I, 342) padahal Nabi sendiri bersabda supaya jangan sampai perempuan dilarang keluar menuju masjid.

Dalam pengertian hukum yang terakhir ini kita sah dan wajar menambahkan pada ‘Islam’ kata deiksis, seperti Islam Nusantara, Islam Amerika, Islam Mesir, dan seterusnya. Makna Islam Nusantara tak lain adalah pemahaman, pengamalan, dan penerapan Islam dalam segmen fiqih mu’amalah sebagai hasil dialektika antara nash, syari’at, dan ‘urf, budaya, dan realita di bumi Nusantara.

Dalam istilah “Islam Nusantara”, tidak ada sentimen benci terhadap bangsa dan budaya negara manapun, apalagi negara Arab, khususnya Saudi sebagai tempat kelahiran Islam dan bahasanya menjadi bahasa Al-Qur’an. Ini persis sama dengan nama FPI misalnya, saya benar-benar yakin kalau anggota FPI tidak bermaksud bahwa selain mereka bukan pembela Islam.

Namun sayangnya, di tengah diskursus yang menarik tersebut, masih ada kesalahpahaman dari sementara kalangan, terutama pihak yang kontra terhadap topik Islam Nusantara ini. Menurut masyarakat yang tampaknya masih awam terhadap pengertian Islam Nusantara, misalnya, Islam Nusantara dianggap sesat dan menyesatkan, karena dikira anti-Arab dan hendak melakukan pribumisasi-nusantarasasi Islam yang bermuara pada sinkretisme. Dalam pemahaman mereka, sinkretisme yang ada dalam Islam Nusantara diwujudkan dalam, misalnya, wudhu dengan air kembang; membenci bahasa Arab sehingga adzan dan shalat dengan bahasa Indonesia; mengkafani jenazah dengan kain batik; arah kiblat dan pergi haji ke gunung atau candi di Indonesia;  dan beragam tuduhan menggelikan lainnya.[68]

Sedangkan sanggahan yang lebih baik datang dari sebagian pihak yang lebih memiliki pemahaman, tetapi menolak Islam Nusantara – terutama, menurut hemat penulis, semata karena alasan berbeda afiliasi organisasi. Bagi kelompok ini, Islam Nusantara perlu ditolak karena terlalu Jawa-sentris, sehingga ketika dipaksakan justru dapat memicu disintegrasi antar sesama muslim di Indonesia. Menurut mereka, adanya Islam Nusantara yang Jawa-sentris dapat memicu juga lahirnya Islam Minang, Islam Aceh, Islam Makassar, Islam Lombok, dan lain-lain, sebagai sikap ketidakpuasan terhadap Islam Nusantara. Selain itu, Islam Nusantara juga dapat memantik munculnya Islam Malaysia, Islam China, Islam Eropa, Islam Amerika, dan lain-lain.

Kelompok terakhir ini sepertinya belum mengetahui, atau sekurangnya lupa, bahwa terdapat jaringan ulama Nusantara yang membentang luas secara geografis dari seluruh wilayah Indonesia saat ini, hingga Malaysia, Brunei Darussalam, dan Patani (Thailand). Pada masa Tanah Hijaz belum dikuasai oleh Kerajaan Saudi Arabia yang didukung oleh ulama Wahabi, ulama Nusantara berperan cukup penting di sana. Banyak ulama Nusantara yang belajar di tanah kelahiran Islam tersebut, dan tak sedikit pula yang menjadi pengajar di sana. Sebagai identitas terhadap orang-orang yang datang dari kawasan yang kini Asia Tenggara tersebut, diberikan nisbah sesuai negeri asalnya, al-Jawi. Bagi yang pernah membaca sekilas sejarah yang menyebut nama ulama al-Jawi ini, barangkali mengira bahwa yang dimaksud sebagai “Jawi” adalah Pulau Jawa saja.

Padahal, sebutan al-Jawi ini berlaku untuk semua orang yang berasal dari kawasan geografis yang membentang di Asia Tenggara kini. Sebagai contohnya, ada nama besar Syeikh Abdurrauf bin Ali al-Jawi al-Fansuri al-Singkili di Aceh, Syekh Abdul Samad bin Abdullah Al-Jawi Al-Falimbani di Palembang, dan Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain al-Fathani al-Jawi di Patani (Thailand). Semuanya memakai nisbah al-Jawi sekalipun tidak berasal ataupun tinggal di Pulau Jawa. Selain itu, Ahmad Baso (2012), mengungkapkan sejarah jaringan kyai-santri, guru-murid, baik secara langsung maupun melalui tulisan,terjalin secara luas mulai dari wilayah-wilayah yang penulis singgung di atas, bahkan hingga ke daerah Kepala Burung dan Fakfak di Pulau Papua. Luasnya cakupan geografis ini, sejak zaman dahulu memang lazim disebut sebagai “Jawi”, “Negeri Bawah Angin”, dan “Nusantara” – terma yang menjadi bahan diskusi hangat kali ini. Selain dari aspek kesejarahan yang menihilkan sangkaan Jawa-sentris terhadap Islam Nusantara, secara esensial pun Islam Nusantara tidak hendak melakukan Jawanisasi.

Dalam ukhuwwah (persaudaraan) yang terjalin antara ulama dari berbagai daerah di Nusantara, pada zaman dahulu maupun saat ini, tidak tampak adanya upaya radikal dari ulama Jawa untuk melakukan Jawanisasi di wilayah-wilayah di luar Pulau Jawa. Di Pulau Sumatera, misalnya, Islam sudah lebih dahulu berkembang daripada di Pulau Jawa, sehingga motif melakukan Jawanisasi Sumatera tidak menemukan bentuknya. Di Banjar Kalimantan, meskipun Islam masuk di sana sebagai syarat yang diberikan Sultan Demak atas dukungan politik pada Raja Banjar, tidak juga didapati upaya Jawanisasi Banjar yang berlebihan. Demikian juga di Lombok, yang mana Islamnya memiliki “citarasa” tersendiri dalam wujud Islam Wetu Telu, atau di Makassar, yang baru masuk Islam di awal abad ke-17 tetapi langsung gigih dalam menyebarkan agama tauhid tersebut. Sepanjang sejarah, harus diakui bahwa tidak ada upaya Jawanisasi terhadap model beragama yang ada di Nusantara.

Sebagai sebuah model keislaman, tentunya Islam Nusantara menjadi payung bagi “sub model” Islam Aceh, Islam Minang, Islam Jawa, Islam Lombok, Islam Banjar, Islam Makassar, Islam Melayu, Islam Patani, dan Islam-Islam “yang lain” di wilayahnya. Sebagai payung, Islam Nusantara akan menaungi dan mengayomi model keislaman yang berangkat dari tradisi dan kearifan lokal dalam koridor agama Islam, di manapun ia berada. Islam Nusantara bersifat lentur tetapi teratur. Terhadap hal ini, Zastrouw al-Ngatawi (2015), menyatakan bahwa sebenarnya Islam Nusantara tidak terbatasi oleh batasan-batasan geografis, karena ia dapat menjadi semacam “school of thought” dalam aspek apapun. Oleh karena itu, jika nantinya Islam Nusantara memancing lahirnya model keislaman yang lain, seperti Islam Arab, Islam Amerika, Islam Eropa, Islam Tiongkok, dan lain sebagainya, tidaklah menjadi persoalan sepanjang tetap di dalam kerangka Islam sesuai ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW.[69]

Tertarik untuk mendengar kesimpulan Prof. Quraish Shihab menanggapi Islam Nusantara. Seperti banyak cendikiawan, beliau enggan untuk sebatas pro kontra, melainkan fokus pada substansi budaya dan memberi penjelasan yang mencerahkan bagi kita. Akulturasi antara budaya dan agama dapat dikategorikan menjadi tiga, menolak, merevisi atau membenarkan. Kadang Islam menolak budaya yang ada, budaya yang bertentangan dan tidak baik.

Dahulu perempuan Makkah lebih dulu berhubungan seks dengan 10 lelaki, lalu kalau hamil, dia bisa memilih salah satunya menjadi suami. Namun ada juga yang melalui proses lamaran, membayar mahar dan persetujuan dua keluarga. Islam kemudian menolak yang pertama dan menerima yang ke dua. Kadang Islam merevisi budaya yang sudah ada.

Sebelum Islam datang, orang Makkah sudah melalukan ritual thawaf mengelilingi ka’bah dengan telanjang, untuk melambangkan kesucian. Lalu direvisi menjadi memakai pakaian ihram.  Kadang Islam menerima sepenuhnya. Seperti budaya pakaian Arab, lelaki berjubah, perempuan berjilbab. Begitu juga seperti yang dilakukan oleh Walisongo menanggapi budaya memberi sesajen, direvisi menjadi tasyakuran. Budaya Nyadran yang mengalirkan kerbau ke pantai juga direvisi menjadi kepalanya saja yang dihanyutkan. Budaya ini kemudian diartikan sebagai wujud syukur dan peduli pada sesama.

Inilah contoh ulama masa lalu dalam menerapkan dakwah dengan cara-cara yang damai sehingga Islam dianut oleh mayortas masyarakat Indonesia. Tentu tidak bisa dibayangkan jika Walisongo dulu menerapkan dakwah ala PKS, HTI dan FPI. Dikit-dikit kafir, bid’ah, harus pakai sorban, jubah karana sunnah, jilbab harus panjang (sebagian yang mengaku ustad, memanfaatkan, melabeli produknya sebagai jilbab syar’ie dsb). Mungkin sampai sekarang Islam tidak akan menjadi agama mayoritas di Nusantara.

Islam Nusantara Dari Kacamata Politik kita tidak bisa menutup mata bahwa efek pilpres masih terasa hingga saat ini. Sehingga apapun kebijakan dan isu yang terjadi di tanah air, pada akhirnya hanya terbagi menjadi nomer satu atau salam dua jari. Lihat saja saat pernyataan Menag soal tidak perlu ada paksaan (sweeping) menutup warung ketika ramadhan diplintir sedemikian rupa. Begitu juga dengan munculnya istilah Islam Nusantara, rakyat oposisi langsung menyebutnya baju baru dari liberal. Spesialisasi suara sumbang soal agama Islam muncul dari kelompok yang sama (PKS, HTI, FPI). Tiga kelompok mengatasnamakan Islam ini sangat bernafsu untuk menguasai NKRI. Bedanya PKS menerima jalur demokrasi dengan menjadi partai politik. Sementara HTI dan FPI tetap hanya menjadi ormas. Namun ketiganya mengusung visi yang sama, “Khilafah Islamiyah”.

Bukan sebuah kebetulan juga kalau ketiganya tergabung dalam gerbong yang sama. Kalaupun ketiganya sering mengekak dan menyatakan berbeda visi, tetap saja pada kenyataanya mereka satu semangat khilafah. Sealam dengan Kompasianer Mabuk Permanen. Beruntung Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama adalah organisasi terpisah dengan partai politik. Konsep yang hati-hati dan luar biasa sekali. Seberbeda apapun pilihan politik PAN dan PKB tidak akan merembet atau membawa-bawa islam dan menggunakannya sebagai komuditas politik. Sehingga tidak perlu heran kalau cendikiawan NU dan Muhammadiyah tetap bisa ‘balas pantun‘ di panggung Mata Najwa beberapa waktu lalu.[70]

Itulah sedikit wajah Islam Nusantara. Islam yang melebur dengan budaya tanpa perlu menghapusnya, namun merevisi agar tidak syirik dan sesuai syariat. Jadi kalau sekarang ada yang menyindir agar pakaian ihram diganti menggunakan kebaya atau batik, jelas orang seperti ini perlu mengaji dengan Kyai, atau butuh sedikit piknik agar otaknya tidak sempit dan penuh pikiran negatif. Begitu juga yang mengagungkan jubah, gamis serta surban namun kelewat batas dan mengklaim bahwa itu adalah pakaian Islam. Padahal semua itu adalah budaya yang tujuannya adalah untuk menutup aurat.

Beberapa orang hanya fokus pada dalil sunnah mengenakan jubah, gamis dan surban, namun kemudian lupa keharusan untuk tidak menonjolkan diri dari yang lain (takabbur). Nabi Muhammad meskipun datang membawa Islam, beliau tidak lantas berpenampilan berbeda. Tidak mentang-mentang nabi lantas mengenakan pakaian yang berbeda dengan mayoritas masyarakat sekitar. Tentu konteksnya menjadi berbeda ketika mengenakan jubah di desa yang mayoritas memakai sarung dan baju biasa. Ada kesan berbeda, menonjol. Nah hal seperti ini yang tidak diperbolehkan karena akan menimbulkan kesan sombong dan berpotensi riya’ bagi yang mengenakannya. Jadi kalau ada orang yang masih kaku menangkap bahwa jubah dan surban itu sunnah dan titik, mereka juga perlu mengaji.

Ini jadi sama seperti pertanyaan apakah hukum melakukan sex ? Tentu saja halal jika sudah suami istri, dan melakukannya di dalam kamar atau ruang tertutup. Jangan sampai mentang-mentang suami istri, mentang-mentang halal, lantas bermain di pinggir jalan. Semua ada ruang dan waktunya. .

Sementara Nusron Wahid mewakili GP Ansor mengungkapkan bahwa selama ini para tokoh kita menghadirkan agama sebagai doktrin, bukan sebagai realitas sosial. Orang beragama itu seharusnya menggembirakan. Tapi hari ini seakan-akan menakutkan, orang sekarang seakan belum sah beragama jika belum mengatakan orang lain berdosa. Ya kita sama-sama tahu lah siapa yang dimaksud oleh Nusron.

Kita tentu rindu dengan sosok sepeti Gus Dur yang dengan candaannya selalu berhasil membuat orang berpikir, Kyai Hasyim Asyari yang tidak kaku dalam mengambil kebijakan dan Kyai Ahmad Dahlan yang begitu visioner serta revolusioner. Tapi kini zaman berubah. Prof. Quraish Shihab yang kemampuannya diakui dunia, begitu dihargai oleh rakyat Malaysia, Singapore dan Brunei, kemudian dituduh sesat oleh orang yang baru belajar Islam. Bagaimana bisa orang baru masuk Islam tiba-tiba dijadikan panutan lalu menyalahkan mufassir ternama, penulis buku berkualitas, pemikir dan meraih gelar pendidikan yang tinggi ? Atmosfer yang gila ini memang sudah tidak lucu lagi. Islam yang kita kenal damai dan selalu mau mendengar pendapat orang lain lalu menjadi kelompok keTuhanan yang mengkafir-kafirkan orang lain.

Buruknya sebagian orang ikut terpengaruh dengan istilah-istilah konspirasi yang dipromosikan oleh mereka. Kondisinya nyaris sama seperti isu pilpres dimana Kang Jalal katanya akan menjadi Menteri Agama, katanya Kementrian Agama akan dihapus, lalu kebijakan boleh mengosongkan kolom agama bagi penganut agama yang belum disahkan undang-undang lalu diplintir bahwa di KTP kita nanti tidak akan ada lagi kolom agama. Kini pola yang sama mereka terapkan pada Islam Nusantara selayaknya kampanye hitam (black campain), fitnah dan sejenisnya untuk menyerang kubu yang berseberangan, baik secara politik maupun ideologi.

INDONESIA BISA JADI PEMBAWA PESAN ISLAM DAMAI, KATA ULAMA AMERIKA[71]

Ulama dari Amerika Serikat Mohamad Bashar Arafat mengatakan Indonesia bisa menjadi pembawa pesan ke masyarakat global bahwa Islam adalah agama yang cinta damai (peacefull) dan anti kekerasan (not violance).
“Saya melihat Indonesia dapat menyampaikan pesan Islam yang damai karena masyarakat majemuk yang mengagumkan yang dimiliki negara ini,” kata Mohamad Bashar Arafat kepada Antara di Jakarta, Senin. Pendiri Civilizations Exchange and Cooperation Foundation (CECF) itu mengatakan Indonesia perlu maju untuk menunjukkan dan membawa pesan mengenai koeksistensi dan keragaman budaya dan agama yang terjalin dengan harmonis kepada masyarakat dunia.

Dia mengungkapkan bahwa serangan teroris yang menewaskan banyak orang di Paris belum lama ini, yang diklaim oleh kelompok ISIS, telah mencoreng citra Islam secara umum, terutama di negara-negara Barat.

“Setelah serangan di Paris itu, 63 persen warga Amerika setuju dengan pandangan-pandangan negatif tentang Islam. Hal ini berarti ada sesuatu (pandangan) yang salah dengan kita (Muslim) yang harus kita ubah,” ujar dia.

Arafat menekankan bahwa Islam bukan hanya tentang Timur Tengah, dan dunia Arab tidak merepresentasikan Islam secara utuh dan benar bila masyarakat di negara-negara Arab tidak bertindak sesuai dengan Al Quran. “Pidato dari Presiden Indonesia (Susilo Bambang Yudhoyono) tahun lalu itu sangat baik. Kita harus memberitahu orang-orang bahwa Islam itu bukan hanya di Timur Tengah. Islam juga ada di Indonesia dan negara lain,” kata dia.

Oleh karena itu, dia kembali menekankan bahwa Indonesia dapat menjadi contoh sekaligus pembawa pesan yang menunjukkan Islam sebagai agama yang Rahmatan lil ‘Alamin (rahmat bagi seluruh alam).

Arafat juga mengatakan bahwa CECF akan menandatangani sebuah nota kesepahaman dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah untuk bekerja sama menyuarakan Islam yang damai di masing-masing negara. “Kami akan menyerukan suara Islam dari NU dan Muhammadiyah di Amerika Serikat, dan sebaliknya kedua organisasi Muslim itu akan menyerukan suara Islam dari Amerika Serikat di Indonesia,” ujar dia.

Respon Internasional soal Islam Nusantara. Dalam diskusi tentang Islam Nusantara di PBB, Dr. James B. Hoesterey dari Universitas Emory di Atlanta, Georgia, menganggap Islam Nusantara sebagai gagasan yang layak dicontoh oleh dunia internasional.  “Sebagai seorang antropolog yang sudah lama melakukan penelitian di Indonesia, saya senang bahwa dunia luar dan wakil-wakil serta duta besar dari negara masing-masing dapat mendengarkan sedikit lebih dalam mengenai Islam di Indonesia yang mungkin tidak sama dengan Islam di negara mereka, misalkan Arab Saudi. Kalau kita lihat ke depan, mungkin Indonesia bisa menjadi contoh,” kata Dr. James.

Sementara Dr. Chiara Formichi[72], mengatakan banyak pelajaran yang bisa dipetik dari Islam di Indonesia.  “Gagasan Islam Nusantara sangat erat dengan budaya dan sejarah Indonesia. Saya tidak tahu bisa diterapkan di negara lain atau tidak, tetapi yang jelas bisa menjadi contoh untuk mengerti mengapa seseorang memeluk Islam,” katanya.[73]

ISLAM NUSANTARA, DARI NU UNTUK DUNIA

 Sebagaimana diketahui, prinsip yang dianut oleh Nahdlatul Ulama Afganistan mengadopsi prinsip-prinsip yang dianut oleh NU berdasarkan petunjuk para ulama salaf (pendahulu).

Akhir-akhir ini panggung diskusi publik kita diramaikan oleh tema Islam Nusantara, terutama sejak kejadian pembacaan al-Qur’an dalam sebuah acara di Istana Negara oleh seorang Qori’ yang juga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.Qiro’ah tersebut menjadi buah bibir masyarakat karena, sebagaimana disebutkan oleh pembawa acara, menggunakan langgam khas Nusantara, tilawah (cara membaca) al-Qur’an yang kurang lazim didengar oleh sebagian masyarakat.

Setelah kejadian tersebut, tak pelak timbul pro-kontra yang cukup panjang, apalagi Pemerintah, melalui Presiden Jokowi dan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, menyatakan dukungannya terhadap tilawah tersebut. Dukungan yang diberikan Pemerintah sebenarnya tidak hanya terhadap Qiro’ah berlanggam Nusantara, tetapi lebih besar daripada itu, yakni dukungan terhadap Islam Nusantara. Menurut Presiden Jokowi, ia mendukung Islam Nusantara, karena merupakan “Islam kita, yang penuh sopan santun, tata krama, dan toleransi”.[74]

Ramainya panggung diskusi publik seputar Islam Nusantara ini juga seiring dengan rencana Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjadikan tema Muktamar NU ke-33 di Jombang, 1-5 Agustus 2015 lalu. Menurut Ketua Muktamar tersebut, H Imam Aziz, dipilihnya tema tersebut tidak terlepas dari agenda jam’iyyah NU menjelang seabad usianya. Islam Nusantara, sebagai model keislaman yang dianut oleh Nahdliyin (warga NU), perlu untuk ditunjukkan posisi strategisnya sebagai agen Islam Rahmatan lil ‘Alamin di Indonesia dan di seluruh dunia. Terkait peran NU di Indonesia, tentu saja sudah menjadi pengetahuan umum bahwa NU yang lahir pada tahun 1926 merupakan organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, sehingga sudah barang tentu memiliki peran yang signifikan bagi perjalanan bangsa dan negara ini.

Kemudian, mengenai kiprah NU di panggung dunia, selain beberapa kali pengurusnya hadir dalam beberapa forum pro-perdamaian dan pro-toleransi Internasional,  NU juga menginspirasi, antara lain, ulama Afghanistan untuk membentuk organisasi masyarakat yang bertujuan untuk kemaslahatan umat. Berawal dari pertemuan dengan PBNU pada 2013, saat ini ulama Afghanistan sudah membentuk Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA), organisasi masyarakat yang berprinsip tawasut (moderat), tawazun (seimbang-equal), adalah (keadilan), tasamuh (toleran),dan musyarokah (serikat-persatuan). Sebagaimana diketahui, prinsip yang dianut oleh NUA tersebut mengadopsi prinsip-prinsip yang dianut oleh NU berdasarkan petunjuk para ulama salaf (pendahulu).

DINAMIKA PROBLEMATIK DAN TANTANGAN ; NU DAN TANGGUNGJAWAB UMAT ISLAM NUSANTARA

Di tanggal 31 Januari 2015 lalu, NU telah berumur ± 89 tahun. Dan umur NU akan menjadi satu abad, tepatnya pada 31 Januari 2026 nanti. Menjelang satu abad pada 2026 nanti, tentunya banyak hal yang harus dipersiapkan bagi organisasi terbesar di Indonesia ini. NU kini mempunyai banyak pekerjaan dan garapan yang harus diselesaikan. Sehinga nama NU tidak sekedar formalitas/papan nama, tetapi benar-benar organisasi sosial-keagamaan yang berperan sebagai pengayom umat dan kalangan pesanten. Namun, kenyataannya, NU saat ini sepertinya sudah meninggalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Khittah 1926. NU selalu ditarik pada ranah politik praktis. Maka, tidak salah jika NU selalu mendapat kritikan baik dari kalangan luar maupun dari warganya sendiri. NU saat ini sudah tidak lagi mengurus umat, melainkan selalu dibuat mainan para elit-elitnya, untuk kepentingan pribadi.

Setidaknya, ada dua tantangan besar yang harus dihadapi NU di usia satu abad ini.

  • Gelombang arus Globalisasi dan Neoliberalisme.

Globalisasi dan neoliberalisme ini adalah ideologi lanjutan dari kapitalisme yang saat ini diadopsi sebagian besar negara-negara berkembang dan telah dipraktikkan negara-negara maju dan yang menjadi korban dari sistem ini adalah negara-negara yang sedang berkembang tanpa terkecuali adalah Indonesia. Disini harus ditegaskan bahwa neoliberalisme bukan hanya ide-ide pasar bebas (free market) dan kenijakan pro perusahaan-perusahaan besar asing transnasional dan negara-negara maju,melainkan ia juga merupakan bagian dari upaya-upaya negara maju dan perusahaan-perasahaan besara negara maju untuk menguasai negara-negara miskin (seperti indonesia) dengan cara yang strategis dan halus, bukan dengan senjata.[75]

Beberapa persoalan yang terjadi di kalangan NU, di samping masalah sosial, politik, dalam masalah ekonomi warga NU juga masih sangat memprihatinkan karena belum ada langkah yang solutif untuk sedikit mengangkat kesejahteraan ekonomi warganya (Jam’iyah maupun Jama’ah). Muncul juga fenomena dikalangan warga NU yang berlatar belakang ekonomi menengah ke atas hanya memanfaatkan kekayaan pribadi untuk kepentingan sendiri. Tidak berbanding linear dengan kondisi masyarakat menengah ke bawah, dimana ribuan bahkan jutaan TKI yang saat ini berada di luar negeri menjajakan jasanya menjadi PRT dan lain sebagainya dan mayoritas dari mereka adalah orang-orang atau warga NU, seberapa komitmen NU mendampingi-memayungi mereka terkait hukum dan HAM dan mafia ? Sehingga disinilah letak pentingnya merefleksikan kembali gerakan Nahdlatul Tujjar. Dan berbagai rintangan-rintangan juga hambatan warga NU lainnya di usia satu abad ini.[76]

Indonesia bersama dengan Malaysia, Philippines, Singapura, Thailand, Cambodia, Laos, dan Myanmar dan Vietnam akan dimulai Asean Free Trade Area pada tahun 2015 ini. AFTA sendiri memiliki tujuan untuk meningkatkan perdagangan antar anggota ASEAN, menarik investor–investor asing untuk masuk pasar ASEAN, dan terakhir untuk menjadikan kawasan ASEAN sebagai pasar yang kompetitif dan memiliki daya saing yang kuat di kawasan dunia. Dalam poin–poin yang terdapat dalam ASEAN SUMMIT 4 di Singapura, Indonesia setuju menjadi bagian dari AFTA. Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Presiden Indonesia menjadi wakil dari Indonesia dalam pertemuan tersebut. Kebijakan ini tentu amat berdampak pada pemerintah hari ini, dimana rezim pemerintahan pasca Soeharto memikul beban berat untuk menyiapkan Indonesia untuk menjadi bagian dari AFTA 2015. Hal itu bisa dilihat dalam berbagai kebijakan rezim pemerintah pasca Soeharto, seperti kebijakan Import bahan pokok hingga kenaikan upah buruh. Hingga hari ini, masih banyak terjadi pro-kontra terkait AFTA akhir 2015 nanti. Pro-kontra ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, namun juga di banyak negara-negara ASEAN seperti Filipina dan Vietnam.

Namun terlepas dari pro-kontra yang terjadi, terdapat sebuah hal yang menarik untuk kita kaji lebih jauh yaitu pengaruh AFTA 2015 terhadap peta politik pendidikan Indonesia, dimana hal ini menjadi sebuah keharusan bagi IPNU-IPPNU sebagai organisasi Pelajar yang bergerak dalam ruang-dinamika pendidikan untuk mengetahui, memahami dan mengkritisi. Kebijakan AFTA 2015 ini memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pendidikan di Indonesia, terlebih di dalam perspektif kajian ekonomi-politik dan bisnis-politik. Dalam kajian ekonomi politik, perspektif liberalisme amat kental dalam kebijakan AFTA 2015 ini. Dimana sesuai dengan konsep liberalisme, dalam kebijakan AFTA 2015 banyak menekankan konsep produsen, perusahaan, dan konsumen sebagai sebuah aktor-aktor yang paling berperan dalam perdagangan.

Hal ini dapat dilihat dalam tujuan-tujuan AFTA yang saya sebutkan di atas, terlebih lagi tujuan untuk meningkatkan investor asing di dalam kawasan ASEAN. Hal ini tentu akan melemahkan peran negara dalam mengatur perdagangan, namun lebih mengedepankan peran aktor-aktor dalam perdagangan (produsen, konsumen, dan perusahaan) yang tentu saja akan membuka peluang investasi besar –besaran oleh perusahaan asing di Indonesia.  Sistem pendidikan merupakan faktor utama dalam mempersiapkan SDM (Sumber Daya Manusia) di Indonesia, dimana sesuai dengan Pasal 31 ayat 1 dan 2 Undang Undang Dasar 1945 dalam perubahannya yang ke-empat. Dalam pasal tersebut tercantum bahwa ; “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”..

Dari point diatas dapat dilihat besarnya tanggung jawab pemerintah terhadap setiap warga negara terhadap pendidikan. Pendidikan merupakan sebuah landasan utama dalam pembangunan sebuah bangsa dan negara. Dalam era globalisasi yang semakin rumit ini, tidak dipungkiri bahwa pendidikan merupakan landasan awal warga negara untuk mendapatkan keahlian dan pengetahuan yang digunakan untuk bersaing dengan warga negara lain. Dengan kata lain, daya saing sebuah negara, dapat dilihat dengan kemampuan dan pengetahuan SDM-nya. Indonesia tentu memiliki kebijakan– kebijakan dalam pendidikan dalam menghadapi persaingan pasar bebas yang akan diberlakukan akhir 2015 nanti.

Hubungan antara sistem pendidikan dengan kesiapan Indonesia sebagai sebuah negara menghadapi persaingan pasar bebas tentu akan menjadi sebuah bahasan yang menarik. Pengaruh pasar bebas yang akan disusung 2015 nanti didalam sistem pendidikan Indonesia sudah dapat kita rasakan hari ini, dimana peran pemerintah yang akan dilemahkan dalam perdagangan bebas akan menjadi sebuah tantangan besar untuk membuat kebijakan-kebijakan baik untuk menyiapkan Indonesia maupun untuk melewati tantangan AFTA 2015. Hal ini dapat kita lihat dalam Permendikbud 49/2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Dimana beban belajar 144 SKS harus diselesaikan mahasiswa dalam 4-5 tahun atau 8-10 semester. Bila sampai 5 tahun tidak kunjung lulus, mahasiswa terancam di drop-out (DO). Hal ini tentu akan sangat ganjil bagi beberapa-orang,yang mungkin bertanya_dimana hubungan peraturan kementerian tersebut dengan AFTA 2015.

Namun, hubungan ini akan terlihat jelas apabila kita melihat kesiapan Indonesia terhadap AFTA 2015, terutama kesiapan SDM (Sumber Daya Manusia) Indonesia dalam skema perdagangan bebas. Mahasiswa, terutama para Mahasiswa calon sarjana (S1) merupakan angkatan kerja tertingi di Indonesia, hal itu bisa kita lihat dalam jumlah sarjana di Indonesia yang bisa mencapai sekitar 360.000–500.000 per tahun (berdasarkan data tahun 2010-2013) dan masalah penyerapan tenaga kerja sarjana yang masih kurang di Indonesia. Maka kebijakan Menteri Pendidikan ini bisa disebut sebagai salah satu kebijakan untuk menghadapi tantangan kesiapan SDM untuk AFTA 2015.

AFTA 2015 sendiri akan menjadi ajang dimana para investor asing akan berlomba-lomba untuk dapat berinvestasi dikawasan ASEAN. Indonesia sebagai salah satu anggota AFTA juga akan menjadi sasaran para investor asing untuk berinvestasi. Dengan adanya investasi asing yang semakin besar, maka akan banyak perusahaan multinasional yang membutuhkan tenaga kerja lokal yang memiliki SDM yang mumpuni di bidangnya. Oleh karena itu, kebijakan Permendikbud nomor 49 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi dibuat untuk memenuhi permintaan tenaga kerja perusahaan multinasional yang akan berinvestasi di Indonesia saat AFTA 2015 nanti dimulai, hal ini juga dipengaruhi karena kurangnya tingkat penyerapan tenaga kerja dari dalam negeri.

Dengan adanya Pemendikbud 49/2014 tersebut, maka diharapkan pada tahun 2017-2019 Indonesia memiliki SDM dengan keahlian yang cukup untuk bersaing dalam AFTA 2015. Namun selain untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM Indonesia untuk bersaing dalam AFTA 2015, kebijakan ini juga diberlakukan untuk menekan angka subsidi pendidikan ditingkat sarjana (S1) di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang juga memiliki nilai cukup signifikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diharapkan dapat digunakan untuk membangun infrastruktur negara.

Terlepas dari masalah tersebut, kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini dapat dinilai sebagai sebuah kebijakan yang amat pragmatis dalam menyelesaikan masalah kesiapan SDM dan penyerapan tenaga kerja di Indonesia, karena kebijakan ini tidak menyelesaikan apa yang menjadi masalah pokok penyerapan tenaga kerja di Indonesia. Dengan kata lain, kebijakan ini hanya menyentuh permukaan dari masalah pengangguran di Indonesia. Dalam perspektif merkantilis didalam ekonomi politik, tentu sajahal ini amat mengkhawatirkan. Karena, Angkatan kerja merupakan sebuah asset sebuah negara dan mengelola tenaga kerja merupakan tanggung jawab sebuah negara dan demi kepentingan negara. Angkatan kerja yang dikuasai oleh investor asing tentu amat merugikan sebuah negara,karena negara tersebut dapat dinilai lalai dan lemah dalam memperhatikan asset-asset nya.[77]

  • Munculnya Kelompok-kelompok Varian Islam Transnasional (Wahabi-Ikhwani).

Kelompok-kelompok varian Islam transnasional itu tidak seaqidah dengan NU. Mereka gencar masuk pada daerah-daerah jantung NU dan sepertinya mau merubah amaliah yang telah mentradisi di kalangan NU pesantren. Jika dahulu salah satu faktor pendorong lahirnya NU adalah untuk menghadapi globalisasi wahabi, maka sekarang NU dikepung oleh berbagai kelompok Islam berjenis lain yang semakin bertambah besar dan massif gerakannya dan berpotensi menarik kelompok-kelompok baru bahkan menarik kelompok ulama’ yang tidak memiliki perangkat canggih dalam menata masa depan. Dan lebih dari itu, dalam konteks negara-bangsa mereka mempunyai misi besar (hayalan) merubah Indonesia menjadi negara Islam. Dimana dalam kesejarahan, atmosfer ini sudah muncul sejak insiden Perang Padri hingga muncul gerakan NII dan GAM.[78]

Selain itu, kritik-kritik yang muncul dari banyak kalangan elit muda yang tidak puas dengan gerak lamban NU dalam merespon kondisi-kondisi sosial selama ini. Akibatnya, ketidakpuasan itu, kalangan muda membentuk Non Governance Organization (NGO) atau Organisasi Non-Pemerintah (ORNOP). Munculnya Ornop tentu saja juga merupakan bagian dari gelombang besar masyarakat sipil yang muncul sejak 1980-an dan juga hasil pencerahan yang dilakukan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kala itu.

Kritik-kritik itu juga muncul berkaitan dengan pentingnya NU memahami masalah-masalah global dan nasional yang kompleks. Kalangan muda sering mempertanyakan  kualitas gerakan sosial-keagamaan NU yang dianggap berhenti di tingkat formal saja. Sementara, di tingkat praksis, dalam gerakan sosial, kualitasnya masih jauh dari apa yang diharapkan warga NU.

Di samping itu, Empat rukun yang harus dipenuhi sebuah negara untuk menuju Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur, yaitu: Ulama, Pengusaha, Rakyat dan Pemimpin/Ulil Amri. Sayangnya, 4 rukun itu kini tumpang tindih saling mengambil alih kekuasaan masing-masing, saling melemahkan bahkan berusaha mematikan lawan sehingga berimplikasi bagi munculnya sindrom-sindrom kekalahan. Ulama NU yang seharusnya istiqamah di jalan dakwah agama (sesuai komitmen kembali ke Khithah), kini justru ikut campur di dunia politik dan bisnis. Pengusaha yang seharusnya menjadi motor penggerak ekonomi kini juga ikut turun dalam urusan politik dan berubah menjadi kapitalis-kapitalis lokal sebagai pendukung kapitalis internasional. Rakyat yang seharusnya menjadi pemilik saham utama dalam sebuah negara, justru menjadi yang paling tertindas. Sehingga pemimpin yang diidam-idamkan tidak pernah lahir dari sistem yang ada. Lantas bagaimana mungkin kita mengidam-idamkan Baldatun Thoyyibatun wa Robbun Ghofur jika rukun-rukunnya tak terpenuhi … ???

Tentu masih dan akan banyak lagi masalah-masalah yang akan muncul dalam perjalanan dinamika organisasi kedepan seiring perubahan masyarakat dan diperlukan sikap yang dewasa secara organisatoris untuk menyikapinya.

SIKAP DAN TINDAKAN ATAS DINAMIKA

Dalam kondisi yang demikian sulit dan rumitnya, para pengusung Islam Nusantara harus menyiapkan diri dan semakin memantapkan langkah dalam menerima pertanyaan, kritikan dan juga tanggapan sinis dari masyarakat. Semua itu ada manfaatnya, terutama untuk mengukuhkan bangunan epistemology dari Islam Nusantara sebagai brand baru, yang kemunculannya sudah dinanti oleh dunia.

Setidaknya ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh NU sebagai pengusung konsep Islam Nusantara ;

  1. Merumuskan bangunan pengetahuan Islam Nusantara. Ke depan, Islam Nusantara tidak terbatas menjadi topik pembicaraan di forum-forum informal dan bahan komentar di jejaring media sosial. Tetapi sangat mungkin menjadi bahan diskusi serius bagi para ilmuwan dunia. Karena itu, bangunan epistemology Islam Nusantara harus segera digali dan dirumuskan.
  2. Melakukan sosialisasi yang terorganisir kepada publik. Hal ini supaya nama ‘Islam Nusantara’ tidak diplintir kesana dan kemari. Mengingat dewasa ini masih saja ada pihak-pihak yang secara sengaja menyebarkan informasi yang memancing emosi pembaca.
  3. Mengajak beberapa elemen di Indonesia yang memiliki kesamaan visi dalam menampilkan wajah Islam yang ramah, damai. Sehebat apa pun gagasan dan konten Islam Nusantara tidak bisa hanya diusung oleh sebagian kecil pihak. Apabila orang-orang yang tidak bertanggung jawab jumlahnya lebih besar, maka pesan Islam Nusantara akan dipahami oleh masyarakat secara keliru. Karena itu, seluruh elemen yang dimiliki bangsa ini harus diajak dan libatkan dalam menawarkan wajah Islam Nusantara yang ramah dan menjawab problem dunia modern.
  4. Melakukan pemahaman metodologi pemikiran filosofis terutama dalam masalah-masalah sosial dan budaya.
  5. Agar nu tidak larut dalam gerakan berbasis negara islam / khilafah, maka NU harus mencoba mengawinkan faham kerakyatan dengan aswaja dengan kerangka NKRI dalam rangka menghadapi liberalisme ideologi islam transnasional.
  6. Nahdlatul ‘Ulama memilikimanhaj Ahlusunnah wal Jama’ah yang dijadikan sebagai landasan berpikir Nahdlatul ‘Ulama (Fikrah Nahdliyah). Adapun ciri-ciri dari Fikrah Nahdliyah antara lain[79] :
  7. Fikrah Tawassuthiyah(pola pikir moderat), artinya Nahdlatul ‘Ulama senantiasa bersikap tawazun (seimbang) dan I’tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan.
  8. Fikrah Tasamuhiyah(pola pikir toleran), artinya Nahdlatul ‘Ulama dapat hidup berdampingan secara damai dengan berbagai pihak lain walaupun aqidah, cara piker, dan budayanya berbeda.
  9. FikrahIshlahiyyah (pola pikir reformatif), artinya Nahdlatul ‘Ulama selalu mengupayakan perbaikan menuju kea rah yang lebih baik (al ishlah ila ma huwa al ashlah).
  10. Fikrah Tathawwuriyah(pola pikir dinamis), artinya Nahdlatul ‘Ulama senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam merespon berbagai persoalan.
  11. Fikrah Manhajiyah(pola pikir metodologis), artinya Nahdlatul ‘Ulama senantiasa menggunakan kerangka  berpikir  yang mengacu kepada Manhaj yang telah ditetapkan oleh Nahdlatul ‘Ulama.

Konsep Fikrah Nahdliyah  itulah yang menyebabkan Nahdlatul ‘Ulama nampak sebagai organisasi social-keagamaan yang sangat moderat, toleran, dinamis, progressif dan modern.

  1. Mentransformasikan nilai-nilai Aswaja dalam kehidupan modern untuk memetakan arah pergerakan NU ke depan dan menyiapkan kader-kader militan berspektif masa depan dalam menghadapi Asean Free Trade Area/ pasar bebas asia; menyiapkan ekonom-ekonom NU yang berspektif kerakyatan, calon-calon jenderal, guru, sarjana yang berbasis Aswaja NU dan ekonom-ekonom yang berani membangun dan mengembangkan koperasi di lingkungan masyarakatnya.
  2. Menegaskan kerangka-kerangka ekonomi kerakyatan dan faham kerakyatan sesuai Anggaran Dasar NU. Dengan harapan dapat memandu kebangkitan faham kerakyatan atau ekonomi kerakyatan.
  3. Elit muda NU harus berani mengubah sikap ketergantungan kepada Founding Agency, dan berani melakukan eksperimen-eksperimen untuk membentuk fraksi besar kaum muda yang konsolidatif, massif, berskala lokal maupun nasional agar ikut dapat serta dalam menentukan perubahan (transformasi) di tingkat politik dan ekonomi.

Penyusun prihatin dengan beberapa pihak yang kurang bijak dalam menawarkan dan menerima nilai-nilai atau pemikiran ke-Islaman dewasa ini. Fanatisme yang berlebihan dari penganut organisasi ke-Islaman terkadang justru melahirkan sikap ekstrim, permusuhan, dan kebencian dalam memandang kelompok lainnya yang justru menunjukkan cara Islam yang tidak Rahmatan Lil ‘Alamin. Tulisan ini penulis maksudkan sebagai ajakan untuk berfikir besar, menjadi muslim yang berkontribusi bagi kelangsungan umat manusia dunia. Dari Islam Nusantara untuk kelangsungan dunia. Wallahu a’lam.

Selamat Belajar dan Berjuang,

Nilai Taqwa Tergantung Dua Proses tersebut

[1] Disampaikan untuk menyemangati agenda MAKESTA PAC. IPNU-IPPNU Kecamatan Badegan PK. IPNU-IPPNU Madrasah Aliyah “HASAN MUNADI” Pohsawit Karangan Badegan. Hari Selasa s.d Kamis, 15-17 Desember tahun 2015

**Ketua Umum Domisioner Dewan Kerja Ranting Gerakan Pramuka Kecamatan Mlarak Tahun 2004-2005, Sekretaris Umum Domisioner PAC. IPNU Kec. Badegan Masa Khidmad 2010 s.d 2012, Pengurus UKM Seni dan Budaya SEIBA Badan Eksekutif  Mahasiswa Keluarga Mahasiswa INSURI Ponorogo 2012 s.d 2013, Koord. Domisioner Departemen Pengembangan Jaringan & Informasi Pengurus Rayon Tarbiyah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) tahun 2012-2013, Departemen Kaderisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) PK. INSURI Ponorogo 2013-2014, Ketua 1 Bidang Keagamaan dan Dakwah Islamiyah, Advokasi dan Pengembangan Wirausaha dan Pengembangan Seni Budaya Pengurus Komisariat PMII Insuri Ponorogo 2014 s.d 2015, Bendahara 2 PAC. Gerakan Pemuda ANSOR Kec. Sampung Masa Khidmad 2013 s.d 2014, Departemen Pendidikan dan Kaderisasi PAC. Gerakan Pemuda ANSOR Kecamatan Badegan 2014 s.d Sekarang, Ketua Umum Karang Taruna “BHIRAWA” Desa Karangjoho Masa Bhakti 2014 s.d 2017.

[2] Setelah Nabi Muhammad saw. wafat, masyarakat terus berkembang, masalah baru terus berkembang dan bermunculan dengan tiada akhirnya, sementara wahyu Allah dalam bentuk Alquran dan al-Sunnah telah berakhir setelah beliau wafat. Sedang agama yang memasuki zaman, situasi sosial dan kulturalnya berbeda dengan situasi tempat berdirinya, maka agama itu pasti menghadapi problematika baru. Jika ia mempertahankan autentisitasnya sesuai dengan aslinya sebagaimana yang dibawa oleh pendirinya sepanjang masa, dari masa ke masa dalam pagar kepranataan yang tidak tembus oleh pemikiran baru, maka charisma agama itu tidak tersentuh dan tidak akan berkembang. Lihat: Said Agil Husin al-Munawar, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki (Cet. III; Jakarta: Ciputat Press, 2003), h. 287-288.

[3] Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam (Cet. I; Bandung: Pustaka Islamika, 2008), h. 275-276.

[4] Lihat: Shāfī al-Rahmān al-Mubār Kafūrī, al-Rahīq al-Makhtūm: Bahts fī al-Sīrah al-Nabawiyyah ‘alā Shahibihā Afadal al-Shalah wa al-Salām (Cet. XXI; Mesir: Dār al-Wafā, 2010), h. 21. Lihat pula: Hamilton A. R. Gibb, Studies on The Civilization of Islam (USA:Beacon Press, 1962), h. 3.

[5] Lihat: ‘Umar ‘Abd al-Jabbār, Khulāshah Nūr al-Yaqīn fī Sīrah Sayyid al-Mursalīn (Surabaya : Sālim Nabhān, t. th.), h. 5. Lihat pula: Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban (Cet. I ; Jakarta: Paramadina, 1992), h. 425.

[6] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Semarang : Toha Putra, 2007), h. 461.

[7] Ibid, hlm. 502

[8] Lihat: M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Quran:Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Cet. I; Bandung: Mizan, 2007), h. 330-331.

[9] Sebab, betapapun universalnya suatu ajaran, jika dikemas secara tekstual, apalagi jika berlabel agama, niscaya akan berubah menjadi parsial dan eksklusif yang justru akan mengaburkan makna universalitas agama itu sendiri. Lihat: Hamka, Islam: Rahmah untuk Bangsa (Cet. I; Jakarta: Wahana Semesta Intermedia, 2009), h. 29-31.

[10] M. Dawam Rahardjo, Paradigma Al-Quran: Metodologi Tafsir dan Kritik Sosial (Cet. I; Jakarta : PSAP Muhammadiyah, 2005), h. 132-133.

[11] Lihat: Bruce Lawrence, The Quran: A Biography, diterj. Aditya Hadi Pratama, Al-Qur’an : Sebuah Biografi (Cet. I; Bandung: Semesta Inspirasi, 2008), h. 2-4.

[12] Muhammad Hari Zamharir, Agama dan Negara: Analisis Kritis Pemikiran Politik Nurcholish Madjid (Cet. I; Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2004), h. 175.

[13] Islam Nusantara adalah Islam yang khas yang dihasilkan dari hidup, intens dan bersemangat interaksi, kontekstualisasi, pribumisasi dan vernacularization Islam yang universal dengan sosial, budaya dan agama Indonesia realitas-ini Islam tertanam. Islam Nusantara ortodoksi (Asy’ariyah teologi, sekolah Syafi’i hukum, dan Ghazalian tasawuf) memelihara karakter Wasathiyyah Islam adil seimbang dan toleran. Islam Nusantara, tidak diragukan lagi, sangat kaya dengan warisan Islam harapan bersinar untuk kebangkitan peradaban Islam global

[14] Nahdlatul Ulama (NU) beberapa bulan yang lalu menggelar Muktamar ke-33 tahun di Jombang, Jawa Timur. Gelaran yang sudah dimulai sejak 1 Agustus hingga 5 Agustus 2015 itu mengusung tema utama “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia.

[15] Cendekiawan Muslim Indonesia, Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

[16] Direktur Program Pascasarjana STAINU Jakarta,

[17] (NU Online, 25/6).

[18] Katib Syuriyah PBNU dan Guru Utama Fiqh-Ushul Fiqh di Pesantren Sukorejo, Situbondo

[19] (NU Online, 29/6)

[20]Islam ngono iku seng digoleki wong kono, Islam yang damai, guyub (rukun), ora petentengan (tidak mentang-mentang), dan yang rahmatan lil ‘alamin,” terangnya.

[21] Kemaslahatan (Malaah) semakna dengan kebaikan dan kemanfaatan. Namun, yang dimaksud dengan maslahat dalam konteks ini adalah kebaikan dan kemanfaatan yang bernaung di bawah lima prinsip pokok (al-kulliyāt al-khams), yaitu Hifdu al-Dīn, Hifd al-ʻAql, Hifdu al-Nafs, Hifdu al-Māl, dan Hif al-ʻIr.

[22] M. Quraish Shihab, (2007), Secercah Cahaya Ilahi: Hidup Bersama Al-Qur’an, Bandung: Mizan, hlm.52.

[23] Hanya saja istilah “Islam moderat” mungkin lebih dekat dengan konsep umatan wasatan (menjadi umat yang tengah-tengah), terutama dalam amaliah keagamaan.

[24] Lihat buku Ahmad Syafi’i Ma’arif, (2009), Islam dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan; Sebuah Refleksi Sejarah, Bandung: Mizan.

[25] Lihat M. Hilaly Basya, “Menelusuri Artikulasi Islam Moderat di Indonesia”, http://www.madina sk.com/index.php?option=com, diakses tanggal 23 Juli 2009.

[26] Ibid

[27] Abdurrahman Mas’ud, (2006), “Dari Haramain ke Nusantara : Jejak Intelektual Arsitek Pesantren”, Jakarta: Kencana, hlm. 54-58.

[28] Ibid, hlm 67

[29] Abdul Mun’im DZ, “Pergumulan Pesantren dengan Kebudayaan”, dalam Badrus Sholeh (ed.), (2007), Budaya Damai Komunitas Pesantren, Jakarta: LP3ES, hlm. 41.

[30] M. Imdadun Rahmat, “slam Pribumi, Islam Indonesia”, dalam M. Imdadun Rahmat (et al.), (2003), Islam Pribumi: Mendialogkan Agama Membaca Realitas, Jakarta: Erlangga, hlm. xx-xxi.

[31] Ahmad Syafi’i Ma’arif, (2009), op. cit, hlm. 60-61.

[32] Lihat Hendro Prasetyo, “Mengislamkan Orang Jawa: Antropologi Baru Islam Indonesia”, Islamika No.3, Januari-Maret 1994, hlm. 75.

[33] Azyumardi Azra, (2000), Renaisans Islam Asia Tenggara: Sejarah Wacana dan Kekuasaan, Bandung: Rosdakarya, hlm. 8.

[34] Sufi lain yang juga terkenal adalah Syamsuddin Sumatrani (w. 1039 H/1630 M). Ia mungkin murid Hamzah Fansuri dan sebagai perumus ajaran martabat tujuh pertama di Nusantara beserta pengaturan nafas pada waktu zikir. Syamsuddin diduga berafiliasi dengan tarekat Syattariyyah, karena ia mengadopsi ajaran martabat tujuh

Muhammad ibn Fadhlullah al-Burhanpuri (w. 1519 M) yang berafiliasi kepada tarekat Syattariyyah, melalui adaptasi dari teori emanasi Ibn al-’Arabi. Tarekat ini menjadi sangat populer di kalangan orang-orang Nusantara setelah kematiannya.

[35] Alwi Shihab, (1997), Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, Bandung: Mizan, hlm. 314.

[36] Ibid, hlm 79

[37] Bambang Pranowo, (1999), Islam Faktual: Antara Tradisi dan Relasi Kuasa, Yogyakarta: Adicita, hlm. 20.

[38] Lihat Hendro Prasetyo, op. cit, hlm. 80.

[39] Bambang Pranowo, (1999), op. cit, hlm. 19.

[40] Ibid, hlm 18

[41] Said Agiel Siradj, “Tradisi dan Reformasi Keagamaan”, Republika, 2 Juni 2007.

[42] Ibid

[43]Novriantoni Kahar, ”Islam Indonesia Kini: Moderat Keluar, Ekstrem di Dalam?”, http://islamlib.com/id/artikel/islam-indonesia-kini-moderat-keluar-ekstrem-di-dalam/, diakses tanggal 23 Juli 2009.

[44] Ahmad Zainul Hamid. “NU dalam Persinggungan Ideologi: Menimbang Ulng Moderasi Keislaman Nahdatul Ulama”. Afkar, Edisi No. 21 Tahun 2007. hlm. 28.

[45] M. Hilaly Basya, op. cit.

[46] Mujamil Qomar, (2002), NU Liberal; Dari Tradisionalisme Ahlusunnah ke Universalisme Islam, Bandung: Mizan, hlm. 62.

[47] Zamakhsyari Dhofier, (1994), Tradi Pesantren; Studi Tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakarta: LP3ES, hlm.148.

[48] Ibid, hlm. 65.

[49] Husein Muhammad, “Memahami Sejarah Ahlus Sunnah Waljamaah: Yang Toleran dan Anti Ekstrem”, dalam Imam Baehaqi (ed.), (1999), Kontroversi Aswaja, Yogyakarta: LKiS, hlm. 40.

[50] Abdurrahman Mas’ud, (2004), Intelektual Pesantren: Perhelatan Agama dan Tradisi. Yogyakarta: LKiS, hlm. 9.

[51] Menurut Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) KH Masdar Farid Masudi, penerimaan ini merupakan pilihan by design, bukan pilihan by accident. Oleh NU, Pancasila dan UUD 1945 dijadikan sebagai jembatan antara kenegaraan dan ke-Islaman. Kata Masdar Farid saat ditemui Metro TV, 14 September 2012 :

 “Gus Dur dan umumnya kiai menganggap Pancasila dan UUD 1945 sudah islami secara konsep. Di sana ada tujuan keadilan dan ada manhaj atau strategi mencapai keadilan, (contohnya) pada sila keempat. Malah masih ada tiga sila yang lain.”

[52] Tijani Abd. Qadir Hamid, Pemikiran Politik Dalam Al-Qur’an, cetakan pertama, ( Jakarta : gema insane press, 2001) Hlm 57

[53] Said Husin Agil al-Munawar, “Fiqih Hubungan Antara Umat Beragam”, cetakan ketiga, (Jakarta : Ciputat Pres, 2005) hlm. 1

[54] Masdar Farid Mas‟udi, “Syarah UUD 1945 Perspektif Islam” , op, cit Hlm.  40

[55] Ibid, …

[56] Badri khaeruman, “Hukum Islam dalam Perubahan Sosial”,  cetakan pertama (Bandung: Cv Pustaka setia, 2010) hlm. 307

[57] Masdar farid mas‟udi, loc, cit

[58] Badri khaeruman, “Hukum Islam dalam Perubahan Sosial, op., cit Hlm. 308-30

[59] M. Abdul Karim, Mengali Muatan Pancasila dalam Perspektif Islam ,cetakan pertama (Yogyakarta: surya raya, 2004) Hlm, 75-76

[60] Masdar farid mas‟udi, Syarah UUD 1945 Perspektif islam, op, cit  hlm43-44

[61] Disebut sebagai piagam tertulis pertama dalam sejarah umat manusia yang dapat dibandingkan dengan pengertian konstitusi dalam arti modern. Piagam ini dibuat atas persetujuan bersama antara Nabi Muhammad saw dengan wakil-wakil penduduk kota madinah tak lama setelah beliau hijrah dari mekkah keyastrib, nama kota madinah sebelumnya, pada 622 M. para ahli menyebut piagammadinah tersebut dengan berbagai istilah yang berlainan satu sama lain, lihat JimlyAsshiddiqie, “Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara”, cetakan kelima (Jakarta: pt: Rajagrafindo persada, 2013),  hlm 85

[62] Ibid, hlm. 80-82

[63]The Wahid Institute Sending Plural and Peaceful Islam dan Gerakan Bhineka Tunggal Ika Ma’arif, “Ilusi Negara Islam Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia”, cetakan pertama (Jakarta : PT Desantara Utama Media, 2009)  hlm. 114

[64]https://www.facebook.com/notes/kongkow-bareng-gus-dur/bagi-gus-dur-dan-kiai-nu-pancasila-sudah-islami/10152605676690165/

[65]Pokoknya yang anti Islam semakin lama semakin meningkat gara-gara umat Islam yang tidak mencerminkan keislaman yang rahmatan lil alamin, tapi justru Laknatan lil Aalamin,” tambah Gus Mus di hadapan ratusan hadirin

[66] Dalam bukunya The Makings of Indonesian Islam : Orientalism and the Narration of a Sufi Past (2011)

[67] Guru utama fiqih dan ushul fiqih di Ma’had Aly Pesantren Salafiyah As-Syafi’iyyah, Sukorejo, Situbondo

[68] Terhadap tuduhan kelompok ini, Rijal Mumazziq Z., Menyatakan bahwa Islam Nusantara tidak mungkin anti-Arab. Menyitir pendapat sastrawan Remi Sylado yang menyebut bahwa 9 dari 10 kosakata dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Asing, ia menegaskan bahwa masyarakat pesantren, pendidikan khas Islam Nusantara, masih menggunakan kitab-kitab berbahasa Arab. Sehingga, terlepas dari tidak mungkinnya beragam tuduhan tadi dijalankan oleh umat Islam, sikap anti-Arab merupakan hal yang mustahil.

[69] Dawam Multazam, Santri Islam Nusantara STAINU Jakarta dalam NU Online

[70] Said Aqil : Saat itu hari raya di Indonesia serempak. Karena kebetulan baik secara hisab dan rukyatul hilal hasilnya sama. Lalu ada orang Madura nelpon, ya saya jelaskan. Lalu dia bilang ; “Loh NU ini kerjanya apa kok bisa sama ?” Abdul Mukti: mungkin yang membedakan tawarehnya, kalau Muhammadiyah 11 kalo NU 23. Said Aqil: “… ya sebenarnya Muhammadiyah juga 23, cuma diskon”. Lihatlah betapa tokoh Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah selalu tenteram, damai, lucu dan yang terpenting bisa diterima oleh siapapun.

[71] Jakarta (ANTARA News)

[72] Pakar sejarah Islam di Indonesia dari Universitas Cornell di Ithaca, New York

[73] Dikutip oleh Maryati dari web NU Online

[74] (BBC Indonesia, 14/6)

[75] Tujuan imperialisme neoliberal adalah melakukan ekspansi finansial ke negara-negara miskin dan berkembang dengan maksud, sebagaimana dinyatakan oleh William K. Tabb (Tabb, 2001:109), untuk menghindari krisis domestik mereka. Dengan cara melakukan kolonialisasi finansial dan menguras kekayaan alam, pertambangan, laut, dan hutan dari negara-negara miskin itulah maka negara-negara maju akan bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan energi mereka dan merekapun tetap bisa eksis dalam jangka panjang dan tetap menjadi pusat dunia. Dengan demikian, mereka bekerja dengantiga tingkatan ; level dunia internasional, level nasional negara-bangsa, dan level masyarakat bawah. Nur Khaliq Ridwan, NU dan Neoliberalisme ; “Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad”, cetakan pertama (Djogjakarta:2008) LkiS, Hlm. 154

[76] Ibid, hlm 125

[77] http://www.academia.edu/8980983/Pengaruh_AFTA_2015_dengan_Pendidikan_di_Indonesia

[78] Nur Khaliq Ridwan, “NU dan Neoliberalisme, Tantangan dan Harapan Menjelang Satu Abad”, cetakan pertama (Djogjakarta, LkiS 2008) hlm. 2

[79] Yusuf Hasyim, Aswaja Annahdliyah; Dari Madzhabi Menuju Manhaji dalamhttp://aswajacenterpati.wordpress.com/2012/04/02/aswaja-annahdliyah-dari-madzhabi-menuju-manhaji/ di akses Selasa, 8 Januari 2014

POSISI FILSAFAT ISLAM DALAM MASALAH KEMANUSIAAN

Taut Posted on Updated on

POSISI FILSAFAT ISLAM DALAM MASALAH  KEMANUSIAAN

Meluaskan Wawasan dan Semangat Pluralistik

Salah satu sumber keprihatinan kita terhadap kondisi psikososial umat Islam kontemporer adalah lambatnya kelompok ini mentas dari “masa pubertas” intelektualnya. Hal ini ditandai dengan ciri terobsesinya sebagian umat dengan simbol-simbol formalisme-legalistik, pemahaman keagamaan yang simplistik, kurangnya apresiasi terhadap penafsiran rasionalistik atas agama, dan kecenderungan untuk merasa paling benar sendiri—yakni dalam kaitannya dengan kemungkinan dialog antar maupun interkeyakinan (inter and intrafaithdialogues). Di sisi lain, kelompok lain umat yang sebenarnya lebih siap untuk mengambil sikap terbuka tampak gamang dalam menghadapi tantangan realitas zaman yang menuntut kemampuan apropriasi, yaitu kemampuan memahami, dan mengambil dari orang lain tanpa hanyut ke dalamnya.

Sebagai gantinya, sebagian dari kita pun terdorong untuk mengambil jalan pintas dan mudah, yakni bersikap eksklusif terhadap sumber-sumber kebijaksanaan dan pengetahuan di luar lingkungannya seraya mengobral cap sesat dan berbahaya. Atau, kalau tidak, sebagian yang lain malah cenderung mengorbankan jati-diri kita di altar sekularisme atau pluralisme keagamaan radikal.

Sebelum yang lain-lain, di sini filsafat bisa mengambil peranan, yaitu untuk membuka wawasan berpikir umat untuk bersikap lebih sophisticated, adil, dan apresiatif dalam meneliti berbagai agama dan kepercayaan yang dianut oleh berbagai kelompok manusia. Dengan cara ini, diharapkan umat Islam lebih siap untuk memajukan nilai-nilai keterbukaan, pluralitas, dan inklusivitas sehingga dapat melihat hikmah-hikmah yang mungkin dipungut dari berbagai sumber—suatu sikap yang jelas-jelas dianjurkan oleh agamanya sendiri.

Demi Memecahkan Krisis Modernisme

Evolusi ilmu penge­tahuan dan kebudayaan manusia telah sampai ke zaman yang memaksa kita untuk berpikir holistik, sistemik, dan reflektif untuk memahami realitas dalam memecahkan problem-problem besar yang diakibatkannya. Krisis ekologis, misalnya, mengentakkan kesadaran manusia untuk menggugat pandangan kosmologi modern—yang atasnya sains modern dikembangkan—yang bersifat parsial dan positivistik-antroposentrik, yang telah dianut hampir tiga abad. Krisis ini menggugah, antara lain, seorang filosof analitik dari Norwegia, Arne Naess, melakukan hijrah intelektual untuk menjadi pelopor apa yang disebut Gerakan Ekologi Dalam (Deep Ecology Movement) pada pertengahan dasawarsa 1970-an. Dengan Ekologi Dalam, ia merunut akar persoalan dalam kekeliruan peradaban modern dalam me­lihat dan menempatkan posisi lingkungan alam semesta kita dan bentuk hubungan manusia dengannya—yakni, pandangan teknologistik yang bersikap eksploitatif.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan juga mendorong Thomas S. Kuhn, seorang saintis, mencoba memahami gerak laju ilmu pengetahuan sebagai dibentuk oleh “paradigma” yang diterima luas pada setiap masa—sebuah kumpulan keya­kinan dan pemahaman tentang alam semesta yang berkorelasi erat dengan metafisika dan nilai (The Structure of Scientific Revolutions). Maka, dalam rangka mencari sains yang lebih sesuai dengan ke­butuhan manusia, Fritjof Capra—seorang ahli fisika yang lebih belakangan—terpaksa menoleh ke hikmah Timur, khususnya Taoisme, untuk membangun kembali bangunan ilmu pengetahuan yang sudah telanjur dirongrong oleh relativime dan skeptisisme (The Tao of Physics). Kedua contoh di atas tampaknya kembali menunjukkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan tidak bisa terpisahkan dari induknya, yakni filsafat. Dengan kata lain, pemisahan keduanya secara paksa telah terbukti menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan, ekologi, krisis keyakinan yang melahirkan alienasi, dan sebagainya.

Di Dunia Islam, kenyataan pelepasan sains dari filsafat ini bahkan berakibat lebih buruk lagi.

Dalam sebuah kesempatan Konferensi Sains dan Agama di Yogyakarta, para ahli sains di Dunia Islam ditanya tentang sebab-sebab kemunduran sains di wilayah ini. Berbagai jawaban masuk akal pun diberikan. Akan tetapi, jawaban Prof. Osman Bakar menarik perhatian kita karena menyebut-nyebut permusuhan terhadap filsafat di negara-negara Muslim selama beberapa abad belakangan ini sebagai sebab-utama persoalan ini. Bagaimana tidak? Sejarah peradaban Islam hingga kira-kira abad ke-15 dengan jelas menunjukkan bahwa dorongan bagi berkembangnya sains di negara-negara Muslim—bahkan jauh lebih dulu dan (sempat) jauh lebih maju dibandingkan dengan perkembangan yang sama di belahan dunia lain—adalah berkembang suburnya filsafat. Kenyataannya, sains pada “masa-masa emas” peradaban Islam itu dikembangkan oleh orang-orang yang lebih dikenal sebagai filosof: Ibn Hayyan, Al-Biruni, Ibn Sina, Al-Razi, Al-Thusi, dan sebagainya. Apalagi, pada masa-masa itu, fisika (thabî‘iyyah) merupakan bagian integral dari filsafat, di samping metafisika (mâ ba‘d al-thabî‘ah). Dan, perlu diungkapkan di sini, betapapun spekulatifnya sifat filsafat Yunani, kaum filosof Muslim ini mendapatkan dorongan untuk mementingkan alam empiris dari Al-Quran. Metode kritis dan analitis serta kekayaan kosmologi filsafat yang dikombinasikan dengan semangat—dalam istilah Iqbal—antiklasik Al-Quran ini terbukti telah menjadi kekuatan luar biasa bagi pengembangan sains di dunia Muslim pada masa itu.

Fenomena yang sama, yakni dipegangnya inisiatif pengembangan sains awal oleh para filosof ini, terjadi pula di Barat. Meskipun demikian, dalam perkembangannya kemudian, pelan-pelan sains dilepaskan dalam kesatuan-organiknya dengan filsafat. Hal ini terjadi bersamaan dengan ditemukan dan diterima luasnya apa yang belakangan disebut sebagai metode ilmiah (scientific method) sejak masa Rene Descartes (1596-1650) dan Roger Bacon (1214-1292). Di satu sisi, hal ini tampak sebagai telah mendorong sains untuk berkembang lebih cepat lagi oleh apa yang tampak sebagai penekanan-eksklusif atas rasionalitas dan eksperimen yang terbuka lebar untuk verifikasi (eksperimental)—dibandingkan dengan ketika ia masih menjadi bagian organik filsafat yang, betapapun juga, spekulatif. Namun, ada tiga hal yang perlu disinggung di sini.

Pertama, pelepasan sains dari filsafat—selain bagi beberapa orang berarti hilangnya kesempatan bagi sains untuk bisa mengambil manfaat dari kekayaan filsafat—telah pula melepaskan sains dari transendentalisme dan religiusitas yang terkandung dalam filsafat. Setidak-tidaknya, sains melepaskan diri dari etika, yang selama ini selalu merupakan bagian dari filsafat. (Kenya­taannya, belakangan pelepasan ini juga merugikan filsafat sendiri. Pesatnya perkembangan dan luasnya penerimaan sains modern di kalangan masyarakat telah pula mendorong filsafat untuk menjadi lebih “sekuler” sebagaimana dapat dilihat dalam perkembangan filsafat modern, setidak-tidaknya seabad belakangan ini). Hal ini belakangan telah menimbulkan persoalan etika dalam pengembangan dan penerapan sains modern, sehubungan dengan munculnya kemungkinan pengembangan dan penerapan sains yang menabrak persoalan nilai-nilai (values) kemanusiaan yang telah diterima luas selama ini. Persoalan cloning dan eugenika, sehubungan dengan dikembangkannya proyek genome manusia (human genome project) yang membuka kemungkinan manipulasi genetik, hanyalah salah satu contohnya.

Kedua, pada kenyataannya sains tak pernah bisa benar-benar terlepas dari filsafat, yakni metafisika. Jadi, yang terjadi hanyalah pergeseran dari metafisika yang bersifat transendental kepada metafisika yang, dalam banyak hal, sekuler.

Ketiga, kerugian yang timbul dari pemisahan sains dari filsafat tak hanya terbatas pada hilangnya kesempatan bagi sains untuk mengambil manfaat dari kekayaan filsafat di bidang metafisika (kosmologi dan ontologi) serta arah yang bisa diberikan oleh filsafat bagi perkembangan sains (etika atau aksiologi), tetapi juga dalam bidang epistemologis. Seperti disebutkan juga oleh beberapa saintis terkemuka, antara lain Schrödinger, Capra, dan Oppenheimer, sains telah kehilangan kesempatan bagi pengembangan fakultas atau daya intuitif—yang memang diandalkan dalam filsafat (klasik) sebagai salah satu alat pengetahuan di samping indra.

Nah, jika dalam hal sains kealaman (natural science)—yang biasa disebut sebagai “sains keras” (hard science) saja begitu besar peran filsafat, apatah pula dalam sains sosial ataupun budaya?

Dan itu semua baru separo cerita. Karena, kenyataannya, krisis modernisme tidak berhenti pada krisis epistemologis dan ekologis saja. Krisis yang lebih akut lagi adalah krisis-krisis eksistensial yang menyangkut hakikat dan makna kehidupan itu sendiri. Manusia modern mengalami kehampaan spiritual, krisis makna, dan legitimasi hidup, serta kehilangan visi dan mengalami keterasingan (alienasi) terhadap dirinya sendiri. Menurut Seyyed Hossein Nasr dalam The Plight of Modern Man, krisis-krisis eksistensial ini bermula dari pemberontakan manusia modern kepada Tuhan. Mereka telah kehilangan harapan akan kebahagiaan masa depan seperti yang dijanjikan oleh Renaisans, Abad Pencerahan, sekulerisme, saintisme, dan teknologisme. Di sinilah terletak peran kedua kajian filsafat, yaitu mendekonstruksi paradigma modernisme sedemikian seraya mengembalikan nilai-nilai transendental dan holistik.

Pada gilirannya, filsafat juga akan membantu memecahkan salah satu problem krusial pemikiran keagamaan sekarang ini. Yakni, perlunya dilahirkan perumusan pemahaman agama yang dapat mengintegrasikan secara utuh dan tanpa dikotomi antara visi Ilahi dan visi manusiawi.

Filsafat sebagai Basis Berbagai Sistem Kehidupan

Bukan hanya di bidang pengembangan sains, berbagai bidang lain kehidupan manusia—entah itu ekonomi, politik, sosial, apalagi keagamaan—pun tak pernah bisa dilepaskan dari persoalan-persoalan filosofis yang menjadi fondasinya. Termasuk di dalamnya, makna sejati kemanusiaan, keadilan, persamaan, kesejahteraan, dan kebahagiaan sebagai tujuan semua solusi persoalan, serta banyak soal mendasar lainnya.

Barangkali itu sebabnya mengapa beberapa dekade belakangan ini menyaksikan tuntutan sebagian kaum Muslim di dunia, tak terkecuali di Indonesia akan perlunya “Islamisasi” berbagai bidang kehidupan. Entah itu ekonomi, politik—lewat, antara lain, tuntutan pemberlakuan syariat—dan sebagainya. Sebuah tuntutan yang sah, tentu saja, selama maknanya dipahami dengan benar.

Pertama, seperti telah diungkapkan dalam perbincangan mengenai perkembangan sains sebelum ini, harus dipahami bahwa sistem-sistem yang tampak begitu bersifat duniawi itu sesungguhnya dibangun atas dasar suatu “metafisika” juga. Misalnya, ekonomi liberalistik didasarkan pada keyakinan akan sifat rasional mekanisme kehidupan. Yakni, bahwa kehidupan ini akan paling baik meng­urusi dirinya jika dibiarkan sendiri, dengan sesedikit mungkin intervensi atau campur tangan negara. Hidup punya “invisible hand”-nya sendiri. Inilah suatu sistem yang dibangun atas kepercayaan laissez faire laissez passer. Sedemikian sehingga tindakan-tindakan afirmatif untuk memberikan fasilitas khusus bagi bagian masyarakat yang kurang beruntung di beberapa negara—khususnya di AS—dikritik sebagai akan merusak mekanisme invisible hand itu.

Hal ini, tak bisa tidak, terkait dengan konsep seseorang atau satu kelompok tentang suatu persoalan filosofis yang amat mendasar, yakni tentang definisi keadilan. Apakah yang disebut adil itu? Apakah itu berarti memberikan kesempatan yang sama bagi semua orang meskipun hal itu bisa mengakibatkan kesenjangan akibat perbedaan kemampuan-awal berbagai kelompok masyarakat yang ada, sebagaimana yang dipraktikkan di negara yang berpandangan ekonomi liberal? Ataukah seperti yang diterapkan di negara-negara kesejahteraan (welfare state) yang menerapkan sistem ekonomi campuran? Ataukah “sama rata sama rasa” sebagaimana yang dibayangkan dalam masyarakat komunis tertentu yang memujikan campur tangan negara secara besar-besaran? Apa pendapat Islam mengenai soal ini?

Soal yang lain lagi, misalnya Marxisme mengkritik kapitalisme karena memberikan penghargaan terlalu besar pada sumber daya kapital dan me­nomorsekiankan sumber daya manusia, sehingga Marx menyebut adanya “sur­plus value of labour”—Apa kata Islam tentang ini? Tentu masih banyak soal filosofis seperti ini yang harus terlebih dulu dijawab sebelum kita bisa menawarkan sebuah sistem Islami, atau yang setidak-tidaknya dapat merevisi beberapa kelemahan yang ada dalam sistem-sistem yang ada sekarang ini.

Demikian pula dalam politik. Pilihan antara pengembangan negara otoritarian, atau apa yang disebut sebagai demokrasi terpimpin, ataupun demokrasi liberal, terkait erat dengan suatu isu filosofis mendasar. Yakni, di mana sesungguhnya letak kewenangan (authority) dalam masyarakat? Apakah pada sekelompok bangsawan (aristokrasi), raja, intelektual, ulama, atau siapa saja yang punya kelebihan (meritokrasi), atau agamawan (dalam suatu negara teokrasi), kelompok yang kuat secara militer, atau pada rakyat banyak (demokrasi)? Kita ingat bahwa Plato memberikan kewenangan kepada raja-filosof, sementara filsafat Nietzche pernah dipahami sedemikian, sehingga dianggap se­bagai memberikan pembenaran bagi pengembangan suatu fasisme militeristik model Naziisme. Yang lain lagi berpendapat bahwa seharusnya kaum terpelajarlah yang paling tahu tentang bagaimana dan ke mana seharusnya kehidupan ini diarahkan untuk kepentingan semua pihak. Akhirnya, kita sudah akrab pada argumentasi para pendukung demokrasi hingga sampai sejauh menyatakan bahwa “suara rakyat adalah suara tuhan” (vox populi vox dei). Lagi-lagi, apa pendapat Islam mengenai soal ini? Adakah Islam memberikan kewenangan pada khalifah, ulû al-amr, ahl al-hall wa al-‘aqd, wilâyah al-faqîh, atau pada ijmâ‘ dan syûrâ yang mencakup semua warga negara lewat sebuah lembaga representatif atau parlemen?

Bagi kaum Muslim, filsafat diperlukan sekarang ini demi melanjutkan proyek dekonstruksi yang disebutkan di muka, yaitu dengan merekonstruksi fondasi filsafat bagi pengembangan solusi terhadap krisis eksistensial manusia modern tersebut. Dalam kerangka ini, filsafat Islam dapat memberikan kontribusi penting dengan menawarkan pandangan-dunia yang utuh, holistik, dan penuh makna kepada manusia modern, baik dalam kajian epistemologi, metafisika, etika, kosmologi, dan psikologi yang merupa­kan manifestasi nilai tauhid. Dalam sifat-sifatnya yang seperti inilah diharapkan manusia dapat memperoleh-kembali pegangan-hidup yang, pada saat yang sama, dapat memuasi tuntutan-intelektualnya.

Dari uraian di atas, sedikitnya ada tiga manfaat yang bisa diperoleh dengan mengembalikan filsafat ke dalam wacana pengembangan berbagai sistem kehidupan.Pertama, filsafat bisa membekali kita untuk memajukan sikap kritis dalam melihat sistem-sistem yang ada sekarang ini. Kedua, filsafat bisa mendorong kaum Muslim agar benar-benar memahami kompleksitas persoalan dalam upayanya membangun sistem-sistem kehidupan Islami. Ketiga, hanya dengan penguasaan akan isu-isu filosofis mendasar seperti ini kaum Muslim, atau kelompok mana pun juga, dapat berpartisipasi dalam upaya mencari sistem-sistem terbaik bagi kepentingan semua orang. Karena, pada dasarnya, perbedaan muncul terutama dalam tataran isu-isu filosofis mendasar ini, sementara model-model yang dikembangkan di atasnya setelah itu relatif lebih bebas nilai (value free).

Masih Ihwal Manfaat Filsafat: Dari Kebahagiaan, via Kesuksesan Bisnis, hingga Keimanan

Aristoteles pernah mengajarkan kepada kita tentang eudamonia Aristotelian—yakni kebahagiaan intelektual, sebagai hasil dari perenungan filosofis, dari kegiatan berfilsafat—yang peraihannya merupakan tujuan puncak kehidupan manusia. Argumentasinya sederhana saja. Manusia pada dasarnya adalah “hewan rasional atau intelektual” (homo Sapien). Maka, dia akan mendapati kebahagiaannya pada kepuasannya—kepuasan-puncaknya, yakni tentu setelah kebutuhan-kebutuhan fisikal (dan, mungkin, sosial)-nya telah terpenuhi—dalam perenungan intelektual dan filosofis. Tidak percaya? Anda tinggal mencobanya, demikian kata para filosof. Maka, akan Anda dapati ia tak bisa diperbandingkan dengan kesenangan fisikal dan sosial belaka.

Bahkan, tak sedikit yang berpendapat bahwa filsafat bisa membuka pintu bagi “kebahagiaan praktis”. Ah, yang benar saja, barangkali demikianlah reaksi-segera orang ketika mendengar pernyataan ini. Kenyataannya, bukankah kita dapati bahwa sebagian filsafat, khususnya filsafat Barat modern sejak tahun 1960-an—termasuk eksistensialisme dan posmodernisme—justru mempromosikan kehidupan sebagai absurditas, sebagai tragedi. Ingat Sartre dan Camus, atau Foucault dan Lyotard. Bagi yang tidak percaya pada kemungkinan filsafat membawa orang kepada kebahagiaan, saya persilakan Anda membaca buku karya Alain De Botton yang berjudul The Conso­lations of Philosophy. Boleh juga dilengkapi dengan Plato, Not Prozac! karya Louis Marinoff2, yang juga sama-sama best-seller. Di dalamnya kedua penulis itu—sebagai bagian dari orang-orang yang menyebut diri mereka philosophy practitioners (filosof prak­tik, persis seperti dokter praktik atau medical prac­titioners)—mendemonstrasikan manfaat filsafat untuk menjawab persoalan-persoalan praktis dan immediate kehidupan, termasuk masalah pekerjaan, keluarga, perkawinan, dan lain-lain. Siapa tahu, setelah itu Anda akan teryakinkan.

Tak sulit dipahami, kebahagiaan terkait amat erat dengan kemampuan kita mengelola perasaan (emosi)—kesedihan, kekecewaan, frustrasi, kesepian, dan sebagainya. Selain dari agama, pengelolaan emosi dikendalikan oleh rasio. Di sinilah, filsafat—yang pada esensinya memang bersifat rasional—dapat banyak membantu. Sebagai ilustrasi, penulis buku Consolations of Philosophy juga menulis sebuah buku lain yang berjudulStatus Anxiety. Dalam buku ini, si penulis mengerahkan penguasaan-filosofisnya untuk menunjukkan betapa hampir seluruh sumber kesengsaraan kita terdapat pada kegelisahan yang terkait dengan status kita dalam masyarakat. Kita sedih karena tak dianggap sukses, atau tak dianggap paling hebat, atau paling terhormat. Setelah menganalisis persoalan itu, penulisnya kemudian menawarkan berbagai cara untuk mengatasi kegelisahan-status seperti itu agar dapat meraih kebahagiaan hidup. Bertrand Russel, seorang filosof analitik yang tak diragukan kehebatannya, juga menulis sebuah buku berjudul The Conquest of Happiness, yang di dalamnya ia berupaya mengungkapkan, betapapun secara “populer”, kemampuan-kemampuan-filosofisnya dalam mengupas persoalan cara-cara mencapai kebahagiaan.

Meski pada awalnya bersifat keagamaan, filsafat juga membahas persoalan-persoalan eskatologis (keakhiratan), terkait dengan ketakutan banyak orang terhadap misteri kehidupan setelah mati. Belum lagi pembahasan metafisis filsafat merupakan bahan-bahan yang solid bagi upaya menjawab pertanyaan-pertanyaan eksistensial mendasar tentang makna kehidupan manusia di dunia ini. Juga bagi pengembangan semacam spiritualisme. Bukankah kekeringan spiritualisme sering kali menjadi sumber penderitaan manusia modern? Akhirnya, keterkaitan erat filsafat dengan psikologi menunjukkan kepada kita perannya dalam mem­bantu menjawab masalah-masalah psikologis manusia pada umumnya, yang merupakan penghalang bagi pencapaian suatu kehidupan yang bahagia.

Belakangan, orang mulai mengatakan bahwa berfilsafat pun bisa membawa kepada kebahagiaan (baca: kesuksesan) ekonomi dan bisnis. Mana mungkin? Kali ini, saya akan mengajak Anda untuk melancong bersama Tom Morris, dengan cara membaca karya penulis ini yang berjudul If Aristotle Ran General Motor3. Buku ini mendemonstrasikan betapa kebijaksanaan-kebijaksanaan kuno Aristoteles bisa membimbing seorang pengusaha kepada kesuksesan bisnis. Lebih jauh dari itu, dua penulis lain—Gay Hendricks dan Kate Ludeman, dalam buku-keduanya yang berjudulThe Corporate Mystic4 —malah menyebutkan bahwa di antara 11 karakter pengusaha dan eksekutif sukses di AS adalah spiritualitas dan pengetahuan diri. Spiritualitas, seperti yang akan dibahas dalam judul berikut, adalah juga ciri filsafat, khu­susnya filsafat Islam. Juga pengetahuan diri.

 Sebelum ini, kita pun telah banyak disuguhi oleh penerapan pikiran-pikiran filosofis, seperti Taoisme, Buddhisme termasuk Zen, bahkan “filsafat perang” Sun Tzu dalam meraih kesuksesan dalam (organisasi) bisnis. Sudah lama juga kita tahu bahwa banyak pengusaha dan eksekutif sukses adalah para penikmat karya sastra dan novel-novel serius. Mereka mengaku telah banyak menimba pelajaran-pelajaran berharga yang membimbing mereka dalam menjalankan kepemimpinan-bisnis mereka dari karya-karya sedemikian.

Memang, filsafat membawa kita terutama untuk membahas masalah-masalah yang masuk ke alam metafisis, yakni alam khayal (alam imajinal atau mundus imaginalis)5  dan bahkan alam ruhani. Pembahasan filsafat, khususnya filsafat Islam, mengangkat kita dari eksistensi sehari-hari yang umumnya bersifat fisikal dan indrawi ke “dunia lain” yang di dalamnya pengertian agama dan keimanan beroperasi. Kenyataan inilah yang kiranya bisa mendekatkan diri kita kepada (pengetahuan) tentang elemen-elemen keimanan termasuk tentang Tuhan, Malaikat, Nabi, Hari Akhir, dan sebagainya.

Buat saya, filsafat punya manfaat lain. Dan, percaya atau tidak, itu adalah meningkatkan keimanan. Bagaimana boleh? Seperti kata Rudolf Otto, salah satu aspek Tuhan—sebagai pusat agama atau keimanan—adalah misterium tremendum (misteri yang mengandung kedahsyatan). Inilah aspek ke-Tuhan-an yang, pada gilirannya, berpeluang menimbulkan ketercekaman—untuk tak menyebutnya ketakutan. Aspek ketuhanan ini perlu sebagai sarana untuk menimbulkan ketaatan dan penghambaan kepada hukum Tuhan di antara para penyembahnya. Namun, Tuhan juga memiliki aspekfascinans, aspek penimbul pesona, rasa cinta. Nah, seperti kata pepatah, tak kenal maka tak sayang. Salah satu jalan untuk menimbulkan rasa cinta atau sayang ini adalah memahami. Dalam hal ini, memahami Tuhan dan ciptaannya. Di sinilah filsafat, betapapun spekulatifnya, memberi kita berbagai penjelasan tentang misteri-puncak (the ultimate mystery) ini. Filsafat, dalam perwujudan-khas seperti yang akan disebutkan dalam judul yang langsung mengikuti judul ini, mengajari kita tentang proses penciptaan, tentang hierarki wujud (hierarchy of being), tentang alam semesta dan posisi manusia di dalamnya, tentang tujuan-hidupnya, dan berbagai jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti ini.

Akan tetapi, perlu diketahui, terdapat perbedaan di antara berbagai aliran filsafat. Maksud saya, berbicara secara umum, filsafat Barat modern memang ditandai sejenis pemikiran yang cenderung melihat hidup sebagai kumpulan misteri yang terpecah-pecah bagai jigsaw puzzle yang tak bisa terselesaikan, tidak jelas tujuan dan maknanya. Betapapun juga, lewat perenungan-lanjutnya, para pemikir seperti ini masih merasa bahwa kehidupan ini tetaplah worthwhile (berharga).

Nah, kalau kita kembali pada sejarah filsafat pramodern (yakni, sebelum abad ke-20), bahkan hingga awal masa modern, kita dapati bahwa filsafat masih menyimpan suatu ciri yang bisa disebut sebagai transendental, malah religius. Bahkan, pada diri seseorang yang biasa disebut sebagai tokoh aliran (psikologi) pragmatisme seperti William James—yang hidup persis pada awal abad ke-20—religiusitas itu terasa amat kental (James amat terkenal dengan bukunya yang berjudul The Varie­ties of Religious Thought, di samping beberapa buku psikologi-filosofis yang ditulisnya). Dalam filsafat seperti inilah, yang sudah diletakkan dasar-dasarnya sejak para filosof Yunani, pembicaraan mengenai peran filsafat sebagai alat untuk men­capai kebahagiaan sejati tampak memiliki arti.

Akhirnya, bukankah Aristoteles juga menyatakan bahwa “hidup yang tidak direnungi adalah hidup yang tak layak dijalani”?

Apa Itu Filsafat Islam

Jika orang ditanya, apa perbedaan agama dan fil­safat, maka jawaban-standarnya adalah sebagai berikut. Filsafat mulai dari keragu-raguan, sementara agama mulai dari keimanan. Jawaban ini, meski sepintas tampak memuaskan, tak terlalu tepat jika dirujukkan kepada filsafat pramodern, khususnya Islam. Pertama, tak benar bahwa agama Islam menyatakan bahwa penganutannya bermula dari iman. Dalam Islam, dalam hal ini paham rasionalistik Islam (ta‘aqqulî), keimanan datang belakangan setelah atau, paling cepat, bersamaan dengan akal. Menurut paham ini, agama harus dipahami secara rasional. Bahkan, bagi sebagian orang, adalah menjadi tugas setiap individu Muslim untuk berupaya sampai kepada kepercayaan (‘aqîdah) yang benar tentang Islam lewat pemikirannya sendiri. Dengan demikian, sampai batas tertentu keragu-raguan—skeptisisme sehat—memang dipromosikan di sini. “Agama,” kata sang Nabi, “adalah akal. Tak ada agama bagi orang yang tidak berakal.”

Kedua, tak pula benar bahwa filsafat Islam sepenuhnya mulai dari keragu-raguan. Seperti segera akan kita lihat, ciri filsafat Islam bukanlah terutama terletak pada skeptisisme. Ciri yang membedakan filsafat Islam dari pendekatan tradisional (ta‘abbudî) dan teologis adalah pada metode yang digunakannya. Kalau dalam yang disebut belakangan metode yang digunakannya bersifat dialektik (jadalî), maka dalam filsafat Islam—meski sama-sama rasional-logis—metode yang diterapkan adalah demonstrasional (burhânî). Teologi berangkat dari keimanan terhadap sifat kebenaran-mutlak bahan-bahan tekstual kewahyuan—Al-Quran dan Hadis. Para teolog membangun argumentasinya secara dia­lektis berdasarkan keyakinan baik-buruk teks­tual, dan dari situ berupaya mencapai kebenaran-kebenaran baru. Sementara, kaum filosof membangun argumentasinya melalui pijakan apa yang dipercayai dan disepakati secara umum sebagai premis-premis kebenaran primer (primary truth). Meski demikian, pada praktiknya—sesungguhnya tak beda dengan peran pandangan-dunia dalam aliran filsafat apa pun—ia tak pernah benar-benar lepas dari bayang-bayang pandangan-Dunia Islam. Sejak awal sejarahnya—termasuk pada pemikiran-pemikiran yang lebih murni bersifat Aristotelian—nuansa religius memang tak pernah absen dalam filsafat Islam. Nuansa tersebut datang lewat Stoisisme dan Neoplatonisme Yunani, ajaran Kristen Helenistik—setidak-tidaknya lewat Philo, orang Mesir pemikir Kristen Helenistik pertama—dan, tentu saja, ajaran agama Islam sendiri. Mulai dari keyakinan yang sudahtaken for granted mengenai keberadaan Tuhan dengan sifat-sifatnya; fenomena nabi sebagai pesuruh Tuhan; hingga kepercayaan mengenai adanya sifat ruhaniah, teleologis-rasional, dan holistik segenap unsur alam semesta dan, pada saat yang sama, pandangan ihwal sifat hierarkis wujud (hierarchy of being atau marâtib al-wujûd) yang berada di dalamnya. Hierarki wujud ini bermula dari Tuhan yang murni bersifat imaterial hingga kemaujudan yang paling rendah dan bersifat material murni, melewati malaikat, dan manusia yang merupakan campuran kedua unsur ini. Nuansa religius ini muncul dengan lebih kuat setelah periode Ibn Rusyd bersama lahirnya filsafat isyrâqiyyah(iluminisme), ‘irfân (teosofi atau tasawuf filosofis), dan hikmah (teosofi transenden). Dalam aliran-aliran ini, tradisi—Al-Quran dan Hadis—teologi, serta mistisisme sudah merupakan ramuan tak terpisahkan bersama metode peripatetik (masysyâ’î) Aristotelian. (Meski demikian, orang tak bisa gagal melihat perbedaannya dengan mistisisme, karena secara metodologis mistisisme tak meyakini metode rasional dalam mencapai kebenaran).

Jadi, memang filsafat Islam pada akhirnya bisa dilihat sebagai gabungan antara pemikiran liberal dan agama. Ia bisa disebut sebagai liberal dalam hal pengandalannya pada kebenaran-kebenaran primer dan metode demonstrasional untuk mem­bangun argumentasi-argumentasinya. Pada saat yang sama, pengaruh keyakinan religius atau quasi religius amat dominan, baik dalam penerimaan kesepakatan mengenai apa yang dianggap sebagai kebenaran-kebenaran primer tersebut, maupun dalam pemilihan premis-premis lanjut dalam silogisme mereka.

Demikian pula halnya dengan epistemologi filsafat Islam. Akal, bahkan dalam alirannya yang lebih peripatetik, tak pernah dipahami sebagai semata-mata rasio (ratio ataureason) yang bersifat cerebral (terkait dengan otak) belaka. Masih sebagaipengaruh Neoplatonisme, akal sejak awal sejarah filsafat Islam selalu terkait dengan Nous. DanNous pasti bukan sekadar rasio. Bahkan Tuhan, dalam Neoplatonisme identik denganNous. Barangkali memang, seperti dilakukan banyak orang, menerjemahkan ‘aql dengan intelek (intellect) jauh lebih tepat. Tercakup di dalam konsep intelek ini, bahkan lebih utama dari rasio, adalah apa yang disebut dengan intuisi atau “ilham” (pencerahan, iluminasi, atau isyrâq), atau terkadang disebut se­bagai “kesadaran poetik”. Sebagaimana Nous bersifat imaterial atau ruhani, maka Nous yang merupakan daya (quwwah) untuk mempersepsinya juga mencakup yang ruhaniah.

Sejak awal sejarah filsafat Islam ketika pengaruh Aristotelianisme masih amat kuat—apalagi dalam bentuk mistisisme, iluminisme, teosofi, dan hikmah—akal (‘aql) selalu dipahami secara bertingkat-tingkat, dari akal material hingga apa yang mereka sebut sebagai “akal suci” (al-‘aql al-qudsî), bahkan akal kenabian. Akal dalam aktualisasi-puncaknya ini dikaitkan dengan kemampuan untuk melakukan kontak (ittishâl) dengan Akal Aktif (Al-‘Aql Al-Fa‘ ‘âl)—sejenis Intelek yang, oleh sementara pemikir Muslim, diidentikkan dengan Malaikat Jibril sebagai pembawa wahyu atau ilham.

Alhasil, orang boleh saja mempersoalkan kemurnian sifat “filosofis” Filsafat Islam. Kenyataannya, dalam segenap keliberalan metodenya, pengaruh religiusitas masih bekerja dengan kuat dalam pemikiran para tokohnya. Nah, apakah dengan demikian pemikiran yang berada di bawah pengaruh ajaran-ajaran (“dogma-dogma”) masih bisa disebut sebagai filsafat—yang mestinya liberal dalam proses berpikirnya?

Buat yang berpikiran demikian, Anda mung­kin bisa belajar dari Oliver Leaman, seorang profesor ahli sejarah filsafat Islam di Amerika Serikat. Menggemakan kembali pandangan Fazlur Rahman dan Toshihiko Izutsu sebelumnya, dia mengakui: “Pada masa yang lampau, saya sempat menganggap (tasawuf dan mistisisme yang banyak mewarnai filsafat Islam, khususnya pasca-Ibn Rusyd—HB) sebagai bukan filsafat sama sekali, dan lebih erat terkait dengan teologi dan pengalaman religius yang subjektif. Saya menganggap bentuk-bentuk pemikiran ini sebagai indikasi-indikasi suatu bentukschwarmerei atau keliaran, yang saya pandang sebelah mata dengan gaya pelecehan Kantian. Saya sekarang berpikiran bahwa pada masa lampau pendekatan saya terhadap cara-cara berfilsafat ini terlalu terbatas. (Sesungguhnya, bahkan teologi dan tasawuf) memiliki kaitan yang jauh lebih banyak dengan tradisi peripatetik (yang bersifat rasional-analitik—HB).” (Oliver Leaman, An Introduction to Classical Islamic Philosophy, Cambridge University Press, Cambridge, UK, 2002, hh. xi-xii.)

Lagi pula, persoalan pengaruh ajaran agama pada filsafat Islam hanya terkait dengan apa—yang dalam filsafat sains disebut sebagai context of discovery (konteks penemuan). Padahal rasional atau ilmiah tidaknya suatu karya pemikiran seharusnya  dinilai dari context of justification (konteks justifikasi atau pembenaran). Karena, bahkan dalam hard science sekalipun, boleh jadi suatu penemuan (discovery) terjadi secara sama sekali tak “ilmiah” atau rasional. Bahkan, bukan tak ada suatu teori ilmiah yang ditemukan lewat mimpi, misalnya. Contohnya adalah penemuan rumus benzena oleh Kekule. Kenyataan itu tak lantas berarti bahwa rumus yang ditemukan Kekule itu harus dianggap tidak ilmiah. Tolok ukurnya pada apakah penemuan tersebut bisa dijustifikasi secara ilmiah atau tidak. Kenyataannya, teori-teori atau pandangan-pandangan dalam filsafat Islam—meski mungkin penemuannya terjadi di bawah pengaruh agama—justifikasinya bersifat sepenuhnya rasional.

Dari uraian di atas, beberapa kesimpulan kiranya bisa ditarik. Pertama, filsafat Islam bisa disebut demikian—bukan “sekadar” filsafat Muslim atau filsafat Arab—karena sifat-menentukannya ajaran Islam di dalamnya. (Bahkan, bukan hanya filsafat Islam pasca-Ibn Rusyd yang memang menjadikan teks-teks tradisi sebagai bahan ramuan filsafatnya, filosof Muslim peripatetik sejak Al-Kindi hingga Ibn Rusyd dikenal dengan upaya inkorporasi atau sedikitnya penyejajaran ajaran-ajaran Islam dengan prosedur rasional. Ibn Sina malah dikenal dengan karya tafsir Al-Quran, sementara Ibn Rusyd adalah juga seorang ahli fiqh yang terkenal dengan empat jilid karya fiqh-nya yang berjudul Bidâyah Al-Mujtahid). Meski demikian, ia tak kehilangan sifat filosofisnya dan “hak”-nya untuk diapresiasi sebagai se­jenis filsafat karena kesetiaannya kepada kegiatan rasiosinasi (ratiocination) dalam segenap prosedur berpikirnya. Inilah kesimpulan kedua yang dapat kita tarik.

Akhirnya, sedikit tanggapan kiranya perlu diberikan kepada pernyataan sebagian orang yang mereduksi apa yang selama ini disebut sebagai filsafat Islam sebagai sekadar “contekan” filsafat Yunani. Pernyataan seperti ini kiranya hanya bisa muncul dari orang yang tak cukup akrab dengan filsafat Islam. Bukan saja, seperti telah disinggung di atas, warna ajaran Islam tersebar di mana-mana dalam segenap tema “tradisional” filsafat Yunani, kenyataannya filsafat Islam telah menyumbangkan banyak tema baru ke dalam khazanah filsafat, termasuk dalam epistemologi dan ontologi filsafat. Karena tulisan seringkas ini bukanlah tempat bagi pembahasan yang terperinci, maka saya hanya ingin mengajak Anda untuk membaca judul “Kontribusi Filosof Muslim kepada Filsafat” yang ditulis Muthahhari mengenai soal ini.  Dalam tulisan tersebut, Muthahhari menyatakan bahwa filsafat Islam telah menyumbangkan banyak problem baru yang sama sekali tak pernah dibahas filsafat sebelumnya, di samping lebih banyak lagi pengembangan lebih lanjut problem-problem yang sudah pernah dibahas sebelumnya.6

__________

1    Menurut versi lain tamsil ini, ketika sang ulama tersadar, dia mendapati lilin yang dipakainya untuk membaca telah lama mati. Namun, dilihatnya pula ruangannya masih terang. Baru kemudian dia sadari, persis di belakangnya berdiri istrinya—yang rupanya telah lama ikut membaca dengan pelita di tangannya.

2    Edisi Indonesia kedua buku ini telah diterbitkan oleh Penerbit Teraju masing-masing dengan judul The Consolations of Philosophy: Filsafat sebagai Pelipur Lara dan Plato not Prozac!: Berfilsafat sebagai Terapi Praktis Persoalan Sehari-hari.

3    Edisi bahasa Indonesianya berjudul Sang CEO Bernama Aristoteles, Mizan, Bandung, 2003.

4    Edisi bahasa Indonesianya berjudul The Corporate Mystic, Penerbit Kaifa, Bandung, 2002.

5    Mengenai makna alam khayal ini, lihat Bab 10, “Tingkatan-Tingkatan Wujud Menurut para Hukamâ’.”

6    Edisi bahasa Indonesia berjudul Filsafat Hikmah, Mizan, 2002. Di antara problem-problem baru tersebut adalah problem-problem utama yang berkaitan dengan eksistensi, seperti realitas fundamental eksistensi (ashâlah al-wujûd), kesatuan eksistensi (wahdah al-wujûd), eksistensi mental (al-wujûd al-dzihnî), hukum-hukum noneksistensi, kemustahilan apa-apa yang sudah tak wujud untuk kembali (wujud), problem “menjadikan” (ja‘l), kriteria kebutuhan sesuatu akan sebab, sifat konseptual (i‘tibârât) kuiditas, hal-hal terpahamkan yang bersifat sekunder (al-ma‘qûlât al-tsanawiyyah), sebagian dari jenis-jenis prioritas (taqaddum), berbagai jenis hudûts, berbagai jenis kemestian, kemustahilan, dan kemungkinan, sebagian dari jenis-jenis unitas multiplisitas, gerak substansial (al-harakah al-jauhariyyah), immaterialitas jiwa hewani (al-nafs al-hayawâniyyah), dan immaterialitas intelektualnya (tajarrud ‘aqlî). Karakter fisik (hal-hal) yang baru (tercipta dalam waktu) dan karakter ruhani (hal-hal) yang baka (jismâniyyah al-hudûts wa rûhâniyyah al-baqâ’), penggerakan melalui penundukan (fâ‘iliyyah bi al-taskhîr), kesatuan tubuh dan jiwa, karakter kombinasi materi dan forma, kesatuan dalam keserbaragaman daya-daya jiwa, pandangan bahwa relasi akibat dengan sebabnya adalah tatanan relasi iluminasionis, kebangkitan fisik di alam barzakh (barzakh), diketahuinya waktu sebagai dimensi keempat, prinsip realitas sederhana (qâ‘idah bâsith al-haqîqah), dan sifat sederhana pengetahuan Ilahi meski karakternya terperinci. Itu semua belum termasuk sejumlah topik problem-problem yang mengalami perkembangan. Termasuk di dalamnya adalah problem-problem kemustahilan, ihwal regresi tanpa ujung, nonmaterialitas jiwa, bukti-bukti bagi eksistensi Wujud Mutlak Ada, Kesatuan Wujud Mutlak Ada, kemustahilan munculnya “yang banyak” dari “yang satu”, kesatuan subjek dan objek (ittihâd al-‘âqil wa al-ma‘qûl), serta hakikat subtansial bentuk-bentuk spesifik (al-shuwar al-nau‘iyyah).

By Dr. Haidar  Bagir 

(Pendiri dan pembina Islamic College for Advanced Studies (ICAS),   STFI Sadra, STAI Madina Ilmi,  dan Penerbit Mizan )

Sumber ;

https://ahmadsamantho.wordpress.com/2012/04/21/posisi-filsafat-islam-dalam-masalah-kemanusiaan/