Religions

Isu Separatisme Dalam Politik Luar Negeri Indonesia ; Kasus Aceh Dan Papua

Taut Posted on

Isu Separatisme Dalam Politik Luar Negeri Indonesia ; Kasus Aceh Dan Papua

Secara umum dapat diketahui adanya beberapa faktor yang berpengaruh terhadap orientasi pelaksanaan kebijakan luar negeri RI selama pemerintahan Abdurrahman Wahid, baik yang berdimensi domestik maupun internasional. Kondisi domestik Indonesia selama 18 bulan masa pemerintahannya dianggap sebagai faktor yang paling menentukan dalam perumusan dan implementasi kebijakan luar negeri pemerintahan Abdurrahman Wahid. Sedangkan faktor-faktor yang berdimensi internasional dipandang sebagai determinan penting sebab, sebagai suatu negara, Indonesia tidak hanya memperhatikan apa yang terjadi di dalam negerinya, tetapi juga harus beradaptasi dengan perkembangan dan dinamika yang terjadi di lingkungan eksternalnya. Oleh karena itu, kombinasi dari faktor-faktor tersebut perlu dicermati dalam menganalisis kebijakan luar negeri pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Menurut Dewi Fortuna Anwar, pada masa pemerintahan Presiden Wahid Indonesia menghadapi berbagai permasalahan yang pada gilirannya memunculkan krisis multidimensional. Pertama, Indonesia masih belum mampu keluar dari krisis ekonomi yang mulai mendera bangsa ini sejak pertengahan Juli 1997, sehingga perekonomian Indonesia menjadi sangat tergantung pada bantuan asing terutama dari IMF (International Monetary Fund), yang bukan saja jumlahnya tidak memadai, tetapi juga telah menjadi beban yang membatasi ruang gerak Indonesia. Kedua, pemerintahan baru yang legitimate dan lebih demokratis daripada rezim yang memerintah sebelumnya ternyata belum mampu menegakkan hukum dan menciptakan stabilitas politik secara keseluruhan. Krisis ekonomi yang berkepanjangan dan fanatisme komunal yang berlebihan telah mendorong terjadinya berbagai konflik sosial di beberapa daerah. Kondisi yang kacau dan tidak stabil itu semakin menjatuhkan citra Indonesia di mata internasional sehingga menyurutkan minat para investor untuk menanamkan modalnya di Indoesia. Hal ini berarti semakin menyulitkan upaya pemulihan perekonomian Indonesia. Ketiga, Indonesia juga menghadapi ancaman disintegrasi nasional terutama dengan menguatnya aksi separatisme di Aceh dan Papua. Keempat, polarisasi yang semakin tajam antara para elit politik menyebabkan pemerintahan menjadi cenderung tidak stabil dan tidak efektif. Krisis multidimensional tersebut mengakibatkan posisi pemerintah menjadi semakin sulit dan lemah.

Masalah disintegrasi bangsa seperti yang tampak dalam upaya separatisme di Aceh dan Papua, selain ikut mengganggu stabilitas politik domestik Indonesia juga dapat menjadi ancaman terhadap kepentingan nasional Indonesia di fora internasional. Selain itu terdapat pula kekhawatiran jika persoalan separatisme tersebut tidak ditangani secara serius, maka akan mengancam tidak saja masa depan pemerintahan Abdurrahman Wahid, tetapi juga stabilitas Indonesia secara keseluruhan. Penyelesaian masalah disintegrasi bangsa, menurut Ketua MPR Amien Rais, lebih penting daripada pemulihan perekonomian karena menyangkut kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia. Selain itu stabilitas politik dan keamanan di Indonesia juga turut menentukan stabilitas politik dan keamanan di Asia Tenggara.

Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa faktor kekuatan eksternal dapat menjadi pendorong terjadinya disintegrasi nasional seperti yang terjadi di Jerman, India, Korea, Turki dan yang paling terasa ialah pemisahan Timor Timur dari Negara Kesatuan RI. Munculnya separatisme lebih disebabkan oleh masalah domestik, namun keberhasilannya seringkali ditentukan oleh dukungan eksternal dari negara-negara lain. Disintegrasi nasional di Aceh dan Papua adalah permasalahan dalam negeri Indonesia, namun mendapat perhatian yang serius dari masyarakat internasional. Dalam konteks demikian, sangat beralasan apabila pemerintahan Abdurrahman Wahid menetapkan penyelesaian permasalahan disintegrasi bangsa di Aceh dan Papua sebagai salah satu prioritas kebijakan luar negerinya.

Pemerintahan Abdurrahman Wahid telah menetapkan suatu strategi kebijakan luar negeri yang disebut “ecumenical” diplomacy. Pada intinya, ecumenicaldiplomacy adalah upaya diplomasi untuk merangkul dan memperluas kerjasama dengan sebanyak mungkin negara sahabat yang dianggap mampu mendukung tercapainya tujuan nasional Indonesia. Sebagai implementasinya, Presiden Abdurrahman Wahid melakukan kunjungan diplomatik ke berbagai negara untuk membicarakan permasalahan disintegrasi bangsa di Aceh dan Papua. Melalui kunjungan diplomatik tersebut, pemerintah RI berhasil mendapatkan dukungan dan pengakuan atas integrasi nasional RI dari para pemimpin negara-negara ASEAN, Jepang, RRC, Amerika Serikat, Kuwait, Yordania dan Qatar. Selain itu, dukungan juga diberikan oleh negara-negara lain melalui forum multilateral antara lain dari ASEAN+3, ARF di Bangkok (Juli 2000), ASEM Summit di Seoul, (Oktober 2000), ASEAN–EU Ministerial Meeting di Laos, (Desember 2000), Uni-Eropa (15 negara anggota dan negara-negara asosiasinya) secara terpisah dan juga dari pemerintah Australia.

Dalam upaya mencegah internasionalisasi separatisme Papua, pemerintah RI telah mengirimkan misi diplomatik ke KTT Pacific Islands Forum(PIF) ke-31 di Tarawa Kiribati, (6 Oktober 2000) guna meminta dukungan bagi integrasi nasional Indonesia. Hasil yang positif diperoleh pemerintah RI berupa pengakuan bahwa Presidium Dewan Papua adalah kelompok separatis.

Namun ada dua hal yang kontradiktif berkenaan dengan hasil upaya  diplomatik pemerintahan Abdurrahman Wahid tersebut. Pertama, usaha-usaha internasionalisasi isu separatisme di Aceh dan Papua tetap berlangsung. Aktifis Gerakan Aceh Merdeka (GAM)  yang berada di Malaysia, Amerika Serikat, dan Swedia terus berusaha melakukan pendekatan kepada pemerintah setempat dan berbagai LSM internasional agar mendukung perjuangannya. Sementara itu, Presidium Dewan Papua telah melakukan pendekatan bilateral kepada negara-negara Pasifik Selatan seperti Vanuatu, Nauru, Kepulauan Cook, dan Papua New Guinea. Pendekatan multilateral dilakukan melalui Pacific Island Forum (PIF), dan pendekatan global  melalui Perserikatan Bangsa Bangsa.

Hasil yang paling nyata dari upaya internasionalisasi tersebut ialah keberhasilan Gerakan Aceh Merdeka dalam membangun suatu jaringan internasional yang mencakup cabang-cabang organisasi GAM di Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Amerika Serikat. Markas besar jaringan internasional GAM berada di Norsborg, Swedia. Para aktivis GAM melakukan kegiatan internasionalisasi setiap isu yang menyangkut Aceh melalui jaringan internasional tersebut. Presidium Dewan Papua sendiri telah berhasil membawa isu separatisme Papua ke dalam forum regional dan internasional seperti pada KTT PIF ke-31 dan The Millenium Summit PBB September 2000. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan disintegrasi bangsa di Aceh dan Papua tetap berpotensi menjadi isu internasional.

Kedua, terjadi penguatan tekad dan upaya rakyat Aceh dan Papua untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Aspirasi kemerdekaan itu secara eksplisit dinyatakan oleh berbagai komponen masyarakat Aceh dalam Sidang Raya Rakyat Aceh Untuk Kedamaian (Sirarakan) 14 November 2000. Sementara di Papua, Presidium Dewan Papua (PDP) mengeluarkan  sebuah  resolusi hasil Kongres Rakyat Papua II, 29 Mei – 4 Juni 2000 yang berbunyi “Tidak mengakui isi New York Agreement 15 Agustus 1962 tentang integrasi Irian Barat ke Negara Kesatuan RI dan menyatakan keluar dari Negara Kesatuan RI.”

Bila ditelaah secara mendalam, komitmen politik berupa dukungan internasional atas integrasi nasional Indonesia tidak berhasil meredam upaya gerakan-gerakan kemerdekaan di Aceh dan Papua. Hal ini berarti bahwa strategi kebijakan luar negeri yang dijalankan pemerintahan Abdurrahman Wahid tidak efektif dalam menyelesaikan permasalahan disintegrasi bangsa di Aceh dan Papua. Asumsi ini didukung oleh kondisi aktual di kedua daerah tersebut, yakni permasalahannya justru semakin meluas dan rumit.

Perlu kiranya disampaikan di sini bahwa kebijakan umum dalam rangka menyelesaikan   permasalahan disintegrasi bangsa di Aceh dan Papua mencakup kebijakan domestik dan kebijakan luar negeri. Implementasi kebijakan luar negeri memang diarahkan keluar yurisdiksi Indonesia, akan tetapi dampaknya diharapkan dapat saling mendukung dengan upaya penyelesaian yang dilakukan di dalam negeri. Oleh karena itu, keefektifannya pun diukur melalui kinerja diplomasi dibandingkan dengan tingkat penyelesaian permasalahan disintegrasi bangsa yang menjadi prioritasnya.

Muncul permasalahan mengapa strategi kebijakan luar negeri yang dijalankan pemerintahan Abdurrahman Wahid tidak efektif dalam menyelesaikan permasalahan disintegrasi nasional di Aceh dan Papua.

Berbagai studi yang telah dilakukan tentang kebijakan luar negeri pemerintahan Abdurrahman Wahid secara umum lebih banyak menyoroti perihal faktor-faktor yang mempengaruhi proses perumusan dan implementasi kebijakan luar negeri tersebut. Sedangkan penyelidikan tentang faktor-faktor yang menyebabkan ketidakefektifan kebijakan luar negeri pemerintahan Abdurrahman Wahid sejauh ini belum banyak dilakukan. Sehingga studi ini bertujuan untuk memberikan kontribusi dalam bidang tersebut, terutama yang berkaitan dengan permasalahan disintegrasi bangsa.

Dalam hal memilih level atau tingkat analisis, ditetapkan unit analisis dan unit eksplanasi. Unit analisis adalah unit yang perilakunya dideskripsikan, dijelaskan, dan diramalkan. Unit analisis disebut juga “variabel dependen”. Sedangkan unit eksplanasi adalah unit yang pengaruhnya terhadap unit analisis dijelaskan, disebut juga ”variabel independen”. Dengan kata lain, unit eksplanasi merupakan faktor yang mempengaruhi unit analisis.

Menurut Kenneth Waltz ada tiga tingkat analisis yaitu individu, negara bangsa, dan  sistem internasional. Dalam penelitian ini unit analisisnya ialah negara bangsa karena perilaku yang dideskripsikan dan dijelaskan ialah kebijakan luar negeri pemerintahan Abdurrahman Wahid yang merupakan wujud dari perilaku negara bangsa. Sedangkan unit eksplanasinya ialah negara bangsa dan sistem internasional. Unit eksplanasi negara bangsa secara spesifik berupa situasi politik domestik terutama dinamika konflik di Aceh serta Papua, sedangkan situasi sistem internasional mencakup sikap ataupun reaksi dari berbagai negara terhadap situasi domestik tersebut.

Argumen utama dalam studi ini adalah strategi kebijakan luar negeri pemerintahan Abdurrahman Wahid tidak efektif dalam menyelesaikan permasalahan disintegrasi nasional karena ketidakefektifan pemerintahanan telah mengurangi kepercayaan internasional terhadap pemerintahan Abdurrahman Wahid. Ketidakefektifan pemerintahan dalam hal ini mencakup pelaksanaan  fungsi-fungsi pemerintahan yang dijalankan di dalam negeri terutama yang berkaitan dengan penyelesaian masalah disintegrasi bangsa di Aceh dan Papua.

Konflik Etnik Dan Intermestik Isu

Bab ini fokus pada penyelidikan teoritis mengenai sebab-sebab terjadinya konflik etnik, dan bagaimana menghubungkan isu separatisme sebagai bagian dari konflik berdimensi politik, ekonomi dan etnisitas dengan implementasi kebijakan luar negeri.

Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, definisi, dan proposisi untuk mendeskripsikan dan menjelaskan suatu fenomena sosial dengan cara merumuskan hubungan antarkonsep.

Teori dalam ilmu hubungan internasional harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

Pertama, harus dapat menunjukkan unit-unit yang terlibat dan hubungan antarunit tersebut, sehingga dapat menunjukkan bahwa fenomena tersebut patut untuk dipelajari, selain itu teori juga harus dapat mendeskripsikan konfigurasi unit-unit yang saling berinteraksi dalam suatu fenomena.

Kedua, harus dapat menggambarkan faktor-faktor penentu yang menyebabkan terjadinya suatu fenomena.

Ketiga,  mendeskripsikan dan juga menjelaskan kecenderungan perubahan dalam suatu fenomena serta berbagai faktor yang menjadi penyebab terjadinya perubahan itu.

Dalam penelitian ini fungsi teori ialah sebagai landasan untuk merumuskan hipotesis serta instrumen analisis untuk mendeskripsikan dan menjelaskan fenomena sosial yang menjadi permasalahan penelitian ini.

2.1 Teori Kepentingan Nasional dan Fungsi Kebijakan Luar Negeri Indonesia 

Salah satu hukum dasar yang telah diakui dan diyakini oleh para ilmuwan hubungan internasional ialah kebijakan luar negeri suatu negara yang pada hakikatnya merupakan aksi negara tersebut terhadap negara atau aktor lain selalu didasari oleh kepentingan nasional negaranya, interaksi antara kebijakan luar negeri dari berbagai negara disebut sebagai politik internasional, kebijakan luar negeri selalu diarahkan untuk mencapai tujuan nasional yang merupakan elaborasi dari kepentingan nasionalnya. Jadi kebijakan luar negeri merupakan alat dari negara dalam mencapai kepentingan nasional di arena internasional.

Menurut Thomas W. Robinson yang mengacu pada pendapat Hans J. Morgenthau,  kepentingan nasional dapat dikategorikan sebagai berikut:

  1. Kepentingan primer, yaitu kepentingan yang berkaitan dengan perlindungan keamanan fisik, politik, identitas budaya, kedaulatan, dan kelangsungan hidup negara dari ancaman pihak luar. Kepentingan ini akan dipertahankan oleh suatu bangsa melalui cara apapun dan tidak dapat diperjualbelikan.
  2. Kepentingan sekunder, yaitu kepentingan mengenai perlindungan terhadap warga negara termasuk yang ada di luar negeri. Kepentingan ini merupakan pengembangan dari kepentingan primer.
  3. Kepentingan permanen, yaitu kepentingan yang sifatnya relatif konstan untuk jangka waktu yang lama.
  4. Kepentingan variabel, yaitu kepentingan yang menyesuaikan dengan perubahan dalam jangka waktu relatif singkat.
  5. Kepentingan umum, yaitu kepentingan yang diterapkan negara dalam suatu area geografis yang luas dan meliputi berbagai bidang.
  6. Kepentingan khusus, merupakan kepentingan yang dibuat berdasarkan ruang dan waktu.

Berdasarkan kategori di atas, Robinson kemudian mengelompokkan kepentingan suatu negara dalam melakukan interaksi dengan negara lain, yaitu:

  1. Kepentingan identik (identical interest), yaitu kepentingan antar dua atau lebih negara yang memiliki kemiripan.
  2. Kepentingan saling melengkapi (complementary interest), yaitu kepentingan antar beberapa negara, walaupun tidak memiliki kemiripan tetapi dapat menjadi dasar bagi suatu persetujuan pada isu tertentu.
  3. Kepentingan yang bertentangan (conflicting interest), yaitu kepentingan yang tidak termasuk dalam kedua jenis kepentingan di atas. Kepentingan ini dapat ditransformasikan menjadi kepentingan identik atau kepentingan yang saling melengkapi melalui jalur diplomasi, perjalanan waktu atau peristiwa tertentu, demikian juga sebaliknya.

Namun pembagian dan pengelompokan kepentingan nasional seperti tersebut di atas, tidak berarti bahwa kepentingan nasional suatu negara  termasuk ke dalam hanya salah satu dari semua kategori tersebut. Sebab mungkin saja kepentingan primer, umum, dan permanen, serta dalam interaksinya dengan negara lain merupakan kepentingan identik.

Teori yang menyangkut kepentingan primer, permanen, khusus, serta kepentingan yang saling melengkapi (complementary interest) digunakan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan kepentingan nasional Indonesia serta kepentingan negara-negara lain dalam interaksinya dengan Indonesia.

Observasi yang tidak jauh berbeda dengan yang dikemukakan oleh Robinson mengenai pembagian kepentingan nasional suatu negara dilakukan oleh John T. Rourke. Menurut Rourke, Kepentingan nasional suatu negara ialah tujuan-tujuan dari negara yang dinyatakan oleh rezim yang memerintah yang mewakili bangsanya. Rourke membagi kepentingan nasional berdasar atas tiga dimensi, yaitu:

  1. Dimensi isu, yang mencakup isu keamanan fisik, isu kesejahteraan umum, isu lingkungan politk (kedaulatan), dan isu kohesi nasional (persatuan nasional dan identitas nasional).
  2. Dimensi waktu, yaitu kepentingan jangka panjang dan kepentingan jangka pendek yang harus segera dicapai karena sangat menentukan pencapaian kepentingan jangka panjang.
  3. Dimensi prioritas, yaitu kepentingan primer dan kepentingan sekunder.

Teori ini dapat juga digunakan untuk memperkuat penjelasan mengenai kepentingan nasional Indonesia.

Terkait dengan kepentingan nasional Indonesia, maka ada beberapa fungsi yang dimiliki oleh kebijakan luar negeri Indonesia.            Studi yang dilakukan oleh Franklin B. Weinstein mengidentifikasi tiga fungsi yang dapat diperankan oleh kebijakan luar negeri Indonesia, yaitu:

  1. Mempertahankan kemerdekaan nasional Indonesia dari setiap ancaman yang berbentuk agresi pihak luar.
  2. Memobilisasi sumber daya ekonomi dari luar untuk kepentingan pembangunan nasional.
  3. Berkaitan dengan memenangkan ataupun meredam kompetisi politik domestik.

Elaborasi terhadap pendapat Weinstein tersebut dikemukakan oleh Dewi Fortuna Anwar yang merumuskan fungsi-fungsi kebijakan luar negeri Indonesia berdasarkan realitas sosial, politik, ekonomi, pertahanan keamanan, dan budaya Indonesia saat ini. Dewi Fortuna Anwar menyatakan paling tidak ada lima fungsi yang harus dijalankan kebijakan luar negeri Indonesia, yaitu:

  1. Membantu upaya pemulihan perekonomian nasional terutama dengan cara menarik investasi ke Indonesia dan memperluas peluang pasar bagi ekspor.
  2. Dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa, kebijakan luar negeri berfungsi untuk mencegah internasionalisasi isu-isu ketidakpuasan daerah dan untuk menegaskan dukungan internasional atas keutuhan wilayah Indonesia.
  3. Mencegah semakin  tajamnya polarisasi dan perpecahan di kalangan elit dan masyarakat Indonesia. Kebijakan luar negeri bisa berfungsi sebagai perekat melalui penciptaan visi bersama tentang hal-hal yang ingin dicapai di tingkat regional dan global.
  4. Kebijakan luar negeri sebagai simbol rasa bangga terhadap negara dan bangsa Indonesia.
  5. Tetap menjaga stabilitas keamanan dan kerjasama yang erat di kawasan Asia Tenggara.

Pendapat Dewi Fortuna Anwar digunakan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan kebijakan luar negeri pemerintahan Abdurrahman Wahid dalam kaitannya dengan penyelesaian masalah disintegrasi bangsa di Aceh dan Papua.

2.2 Pelaksanaan Diplomasi (The Conduct of Diplomacy) dan Tujuan Politik    Diplomasi

Diplomasi sebagai cara atau metode dalam rangka implementasi kebijakan luar negeri, pada hakikatnya merupakan suatu proses komunikasi yang terdiri dari tiga elemen yaitu negosiasi, penyampaian isyarat (signaling), dan diplomasi publik (public diplomacy). Negosiasi terjadi ketika kedua pihak atau lebih saling berbicara baik secara langsung maupun tidak langsung melalui perantaraan mediator, signaling atau penyampaian isyarat tertentu kepada pemerintah negara lain dapat berupa kata-kata ataupun tindakan, sedangkan diplomasi publik melibatkan suatu praktek untuk mempengaruhi khalayak yang lebih luas yang meliputi pembentukan opini publik di suatu negara tertentu atau di tingkat global.

Rourke menambahkan bahwa diplomasi sebagai suatu proses komunikasi akan dapat berjalan efektif bila memperhatikan hal-hal seperti sifat komunikasi, level pelaksananya, kemungkinan terlaksananya suatu jenis pendekatan tertentu, derajat keterbukaan atau kejujuran dalam membahas suatu isu, metode dalam berkomunikasi, dan keperluan untuk mengaitkan isu tertentu dalam suatu perundingan.

Negosiasi langsung atau tidak langsung. Negosiasi langsung memiliki kelebihan yaitu dapat menghindarkan terjadinya suatu misinterpretasi atau kekeliruan dalam menafsirkan pesan yang seringkali dilakukan oleh pihak ketiga selaku mediator. Dari segi waktu, negosiasi langsung juga lebih efisien. Namun negosiasi tidak langsung juga dapat dipertimbangkan sebagai alternatif dalam hal pemberian legitimasi politik terutama bila pihak-pihak yang berkonflik tidak ingin atau enggan memberikan tingkat legitimasi politik tertentu. Negosiasi tidak langsung misalnya menggunakan jasa pemerintah negara lain, individu, organisasi/LSM, dan fotokopi suatu naskah perjanjian atau pernyataan tertentu.      

Diplomasi tingkat tinggi atau tingkat rendah. Seorang pengambil keputusan tentang pelaksanaan diplomasi suatu negara harus mempertimbangkan level pelaksana dari diplomasi itu, karena tingkatan pejabat pemerintahan akan menunjukkan urgensi suatu isu dan besar kecilnya komitmen yang dibuat terhadap suatu isu tertentu. Selain itu level pelaksana juga menunjukkan intensitas reaksi yang diberikan terhadap suatu isu.

Kekerasan atau hadiah. Suatu pepatah yang kerapkali diacu para diplomat dan para jenderal dalam cerita heroik tradisional menyatakan bahwa anda sebaiknya “membeli” apa yang tidak bisa anda “menangkan” merupakan sesuatu yang logis untuk dipertimbangkan.

Penggunaan kekerasan akan efektif bila ditunjang oleh kekuatan, keinginan, dan kemampuan yang memadai dan di samping itu suatu pengerahan kekuatan militer untuk berperang selalu menimbulkan korban walau sekecil apapun. Sedangkan hadiah atau reward akan lebih prospektif dalam penyelesaian suatu sengketa dan kerugiannya secara material dapat diminimalisir.Reward dapat berupa komitmen politik ataupun statemen yang persuasif. Ancaman dan manuver militer tertentu juga merupakan suatu reward selain tindakan konsiliasi.

Jujur atau berbohong. Penilaian untuk seorang diplomat bukanlah jujur atau tidak jujur, namun hal yang paling penting adalah penyampaian maksud secara implisit dan dapat dipahami secara utuh oleh diplomat lainnya.

Berkomunikasi dengan kata atau tindakan. Kata-kata biasanya memungkinkan tingkat fleksibilitas yang lebih tinggi. Sedangkan tindakan misalnya berupa manuver militer, dan aksi boikot dalam suatu perundingan dapat menimbulkan suatu dampak yang lebih dramatis.

Mengaitkan beberapa isu atau perundingan secara terpisah. Upaya untuk merundingkan isu-isu yang saling dikaitkan secara bersamaan dipandang sebagai upaya  penting untuk mencapai kesepakatan yang berorientasi pada hubungan skala luas. Membicarakan suatu isu secara terpisah dan bertahap sangat efektif dalam rangka membangun suatu komitmen kuat dan hubungan baik dalam jangka panjang. Hal ini juga dilakukan demi menghindari pembahasan isu yang sulit dan sensitif sebelum benar-benar ada komitmen yang kuat.

Meminimalkan atau memaksimalkan ruang lingkup sengketa. Demi tujuan-tujuan tertentu suatu sengketa dapat dimaksimalkan konteksnya misalnya dengan memandang urgensinya terhadap stabilitas kemanan regional dan global. Namun sebaliknya suatu sengketa seringkali dipersempit konteksnya dari ruang lingkup nasional menjadi lokal atau multilateral menjadi bilateral.

Alternatif yang dipilih dalam melaksanakan diplomasi sangat tergantung pada kepentingan nasional dan kekuatan nasional tiap negara. Menurut S. L. Roy, efektifitas diplomasi suatu negara sangat dipengaruhi oleh kekuatannya. Negara yang di dalam negerinya dilanda oleh pertikaian elit dan massa, ketidakstabilan pemerintahan, dan kebangkrutan keuangan akan sulit dipercaya oleh negara-negara lain sehingga diplomasinya menjadi tidak efektif.

Tujuan utama diplomasi suatu negara ialah menjamin kedaulatan politik dan integritas teritorialnya. Hal ini dapat dicapai dengan membina hubungan yang baik dan erat dengan negara-negara tetangga, dan negara lain yang memiliki kesamaan kepentingan. Upaya menetralisir negara-negara yang bersikap memusuhi juga perlu dilakukan, misalnya dengan cara melakukan pendekatan dan negosiasi yang konstruktif.

Asumsi teoritik dari Roy dan teori dari Morgenthau digunakan untuk menganalisis dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi efektifitas pelaksanaan strategi kebijakan luar negeri pemerintahan Abdurrahman Wahid. Sedangkan teori tentang pelaksanaan diplomasi menurut Rouke digunakan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan interaksi antara pemerintah Indonesia dan negara-negara lain mengenai permasalahan disintegrasi bangsa di Aceh dan Papua

2.3 Teori Konflik Domestik

Studi yang dirangkum oleh Michael E. Brown mengenai fenomena konflik domestik di berbagai negara Afrika dan Asia yang meliputi kompetisi antarmasyarakat dengan kekerasan, kudeta militer, perang antarsuku, kampanye ideologi melalui praktek militerisasi, insurgensi, perang sipil, dan revolusi menunjukkan adanya suatu permasalahan yang secara umum mencakup upaya pembangunan masyarakat sipil, tertib politik, dan hubungan konfliktual antara pemerintah pusat dan daerah.  Dari hasil studi tersebut, Brown mengidentifikasi empat kelompok faktor penyebab terjadinya konflik domestik, yaitu faktor struktural, faktor politik, faktor sosial  ekonomi, faktor budaya dan  persepsi.

Faktor struktural. Yang dapat digolongkan sebagai faktor struktural penyebab konflik domestik adalah weak state, intra state security concern, dan ethnic geography. Weak state merupakan titik awal bagi terjadinya dua faktor yang lain. Yang dimaksud dengan weak state atau negara yang lemah adalah suatu kondisi yang menunjukkan adanya legitimasi kekuasaan pemerintah tidak cukup kuat untuk menjadi landasan hukum operasionalisasi seluruh regulasi yang mengatur berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Legitimasi yang lemah ini mengakibatkan tidak efektifnya kontrol terhadap wilayah perbatasan, disfungsi berbagai institusi politik dan pemerintahan, serta mendorong destabilisasi sistem politik secara keseluruhan. Weak state terjadi karena korupsi yang membudaya di setiap level birokrasi, ketidakefektifan dari aparat pemerintah, dan kegagalan pembangunan ekonomi. Para ilmuwan seringkali menyebut kondisi seperti itu sebagai collapse state.

Ketika negara dalam keadaan lemah dan tidak mampu memberi pelayanan keamanan yang efektif bagi seluruh kelompok sosial dalam masyarakatnya, biasanya suatu kelompok sosial yang merasa eksistensinya terancam oleh aktivitas kelompok sosial lain, cenderung untuk menciptakan aparat keamanannya sendiri. Hal ini menunjukkan adanya ketidakpercayaan masyarakat terhadap aparat keamanan negara yang diwujudkan dalam pembentukan berbagai pasukan paramiliter. Ketidakpastian keamanan dan munculnya kelompok paramiliter disebut sebagai intra state security concern.

Faktor ketiga yang juga tergolong dalam faktor struktural adalah ethnic geography. Konsep ini mengacu pada komposisi etnik dalam suatu wilayah tertentu yang meliputi heterogenitas etnik dan hubungan antara etnik mayoritas dengan etnik minoritas. Ada kecenderungan bahwa semakin heterogen suatu komposisi etnik di suatu wilayah, akan semakin besar pula potensi konflik di daerah tersebut. Namun beberapa kasus menunjukkan bahwa suatu wilayah yang tingkat heterogenitasnya rendah tidak menunjukkan kohesi antarakelompok etnik. Oleh karena itu heterogenitas menjadi faktor potensial bila ditunjang oleh faktor lain, misalnya sikap dan perlakuan kelompok etnik mayoritas terhadap kelompok etnik minoritas.

Faktor politik. Brown mengidentifikasi 4 kondisi yang dapat digolongkan sebagai faktor politik penyebab konflik domestik, yaitu institusi politk yang diskriminatif, ideologi nasional yang eksklusif, perpolitikan antarkelompok, dan elit politik. Rasa ketidakpuasan dapat muncul apabila institusi politik dalam suatu negara tidak merepresentasikan seluruh kelompok politik yang ada. Suatu sistem politik hanya didominasi oleh sekolompok kecil individu atau golongan yang memonopoli seluruh proses dan keputusan politik serta bertindak represif kepada berbagai kelompok yang menjadi oposisinya. Ketidakpuasan terhadap sistem politik yang diskriminatif tersebut kerapkali direalisasikan melalui cara-cara non-konvensional seperti demonstrasi dan pemogokan serta tindakan-tindakan kekerasan.

Selain institusi politik yang diskriminatif, nasionalisme yang menjadi identitas sosial politik suatu negara juga tidak berasal dari perpaduan antara berbagai paham sosio-kultural dan politik dari seluruh komponen bangsa, melainkan terbentuk dari dominasi paham nasional suatu etnik tertentu. Dalam kondisi demokrasi yang labil dan belum mapan, nasionalisme etnisitas berkembang dengan subur sebagai reaksi atas paham kebangsaan yang eksklusif tersebut. Tidak jarang terjadi keinginan untuk keluar dari eksklusifitas ideologi nasional yang dianggap sempit tersebut oleh berbagai kelompok etnik yang merasa identitasnya terpinggirkan. Kompetisi politik antarkelompok dalam suatu sistem demokrasi yang masih labil dan belum mapan biasanya disertai oleh aksi kekerasan di kalangan massa. Politik kekerasan antarkelompok dapat semakin parah bila disusupi oleh kepentingan elit politik oportunis.

Faktor sosial ekonomi. Brown menyebutkan bahwa krisis ekonomi, sistem ekonomi yang diskriminatif, serta ketidakmerataan hasil-hasil pembangunan dan modernisasi dapat mendorong terjadinya konflik domestik. Krisis ekonomi berkepanjangan yang melumpuhkan perekonomian negara menimbulkan ketidaktertiban sosial dalam masyarakat, misalnya inflasi tinggi dan pengangguran dapat memicu peningkatan kriminalitas. Sementara itu pemerintah tidak memiliki sumber keuangan yang cukup untuk membiayai upaya penegakan keamanan, sehigga terjadi keresahan sosisal yang pada akhirnya menyebabkan ketidakpercayaan terhadap pemerintah dan negara. Kebangkrutan ekonomi tersebut semakin memperkuat upaya-upaya kelompok etnik atau daerah tertentu untuk memisahkan diri.

Perekonomian negara yang dikelola secara despotis yang menyebabkan tidak meratanya distribusi hasil pembangunan menimbulkan ketimpangan pembangunan dan aksi-aksi protes untuk memperjuangkan akses yang lebih besar terhadap pengelolaan perekonomian. Protes yang keras muncul dari kelompok-kelompok sosial di daerah yang memiliki sumber daya ekonomi besar namun mendapat hasil yang tidak sebanding dengan sumber daya yang mereka miliki. Sentralisasi dan nepotisme ditengarai sebagai sebab utama separatisme di berbagai daerah.

Di banyak negara sedang berkembang, modernisasi justru menghasilkan dampak yang kontraproduktif. Kemajuan teknologi dianggap sebagai suatu ancaman bagi kelangsungan tradisi budaya masyarakat lokal. Modernisasi semakin menimbulkan rasa kesadaran terhadap identitas pribadi dan identitas orang lain, sehingga semakin tampak perbedaan di antara mereka. Perbedaan-perbedaan tersebut dianggap ancaman terhadap identitas pribadinya. Modernisasi yang semakin memisahkan ideologi kebangsaan dari masyarakatnya merupakan ruang kosong yang mengundang hadirnya paham fundamentalis. Bagi negara, fundamentalisme ini merupakan ancaman terhadap integrasi nasional yang harus ditindak secara represif.

Faktor budaya dan persepsi. Perlawanan oleh kelompok-kelompok etnik dalam suatu negara tidak hanya didorong oleh faktor struktural, politik, sosial-ekonomi, tetapi juga oleh adanya diskriminasi kebudayaan dan persepsi etnik tentang sejarah masa lalunya. Diskriminasi kebudayaan misalnya sistem pendidikan yang diskriminatif dan kebudayaan nasional yang cenderung menunjukkan dominasi kebudayaan satu kelompok etnik tertentu. Sedangkan pengalaman sejarah suatu etnik semisal kejayaan dan kemerdekaan yang telah dinikmati di masa lampau cenderung menimbulkan sentimen etnik yang tidak mau tunduk pada etnik lain. Perlawanan terhadap diskriminasi itu semakin keras bila pemerintah memilih alternatif tindakan militer untuk menegakkan “kebudayaan nasional”.

Selain eksposisi yang dikemukakan oleh Brown, ilmuwan lain seperti misalnya Edward Azar mengemukakan pemikiran yang tidak jauh berbeda tentang sebab-sebab terjadinya konflik etnik. Secara garis besar Azar mencoba menjelaskan konflik internal melalui pendekatan yang lebih etnosentris yaitu dengan meninjaunya dari kebutuhan dasar komunal itu sendiri yang berupa keamanan, pengakuan, dan peneriman, serta akses yang adil bagi institusi politik dan pengelolaan ekonomi. Sedangkan faktor negara dipandang Azar dalam konteks hubungannya dengan negara lain yaitu apakah hubungan antarnegara itu akan dapat memenuhi aspirasi kelompok komunal ataukah justru mengecewakan mereka.

Azar mengemukakan argumentasinya dengan cara membalik logika ilmuwan hubungan internasional selama ini yang dianggapnya terlalu patuh pada pemilihan menurut level analisis. Azar menekankan pada pentingnya kelompok etnik untuk dijadikan sebagai unit analisis dan bukan hanya level individu, negara, dan sistem ala Kenneth Waltz.

Untuk keperluan penelitian ini utamanya demi menghindari kontradiksi antara teori yang digunakan dengan level analisis sebagai alat bantu analisis, maka teori yang digunakan bukan teori dari Azar.

Kajian atau studi yang lebih komprehensif mengenai sebab-sebab terjadinya konflik etnik ataupun konflik antara etnik dan pemerintah dirangkum oleh Michael E. Brown dan Summit Ganguly. Brown dan Ganguly memasukkan faktor kebijakan pemerintah ke dalam suatu rangkaian faktor-faktor yang dibedakan menjadi faktor elit dan massa, serta faktor internal dan eksternal seperti terlihat dalam Tabel 1.1

Tabel 1.1

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hubungan Antar Etnik.

Internal

Eksternal

Level Elit

Elit domestik dan kebijakan pemerintah

Aktor regional dan internasional

Level Massa

Faktor domestik dan pembangunan

Faktor regional dan pembangunan

Sumber : Michael E. Brown and Summit Ganguly, “Introduction” dalam Michael E. Brown and Summit Ganguly, eds, Government Policies and Ethnic Relations in Asia and Pasific (Cambridge, MA and London : Asia, 1997), h 7.

Faktor domestik dan pembangunan meliputi Ethnic Geography, warisan masa sebelum dan saat terjadinya kolonialisme, serta hubungan antaretnik itu sendiri. Fokus perhatian juga diberikan pada faktor-faktor yang mencakup intra state security concern, dan pola diskriminasi sosial dan kultural.

Faktor regional dan pembangunan dikaitkan dengan masalah sosial, ekonomi dan politik di daerah perbatasan antar negara. Misalnya imigran gelap, pencurian harta benda dan kekayaan alam milik penduduk negara tetangga, serta  yang paling besar dampaknya ialah bila kelompok etnik di negara tetangga melindungi kelompok etnik separatis di negara lain.

Keterlibatan aktor regional dan internasional dalam masalah etnisitas suatu negara dapat menjadi eskalator konflik internal. Intervensi negara asing ataupun organisasi internasional dapat bermotifkan upaya kemanusiaan ataupun demi mencegah perluasan konflik di suatu negara menjadi konflik regional.

Kompetisi politik antarkelompok, provokasi elit oportunis dan pemaksaan ideologi nasional tertentu merupakan wujud dari kepentingan dan keputusan dari elit politik dan pemerintah. Sedangkan penjelasan yang lebih spesifik mengenai faktor kebijakan pemerintah dalam kaitannya dengan masalah etnisitas ialah menyangkut kelalaian pemerintah dalam memenuhi kebutuhan dasar dari kelompok etnik yang terdiri dari keamanan, pengakuan dan penerimaan atas identitas etnik, akses yang adil atas institusi politik, dan partisipasi dalam perekonomian.

Kerangka teori yang dikemukakan Brown dan Ganguly terutama tentang peran kebijakan pemerintah dalam hubungan antaretnik sangat berguna untuk mendeskripsikan dan menjelaskan perkembangan masalah disintegrasi bangsa di Aceh dan Papua pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Penting untuk diperhatikan bahwa kemajuan teknologi informasi dan globalisasi dapat memperbesar kemungkinan bagi aktor-aktor regional dan internasional untuk melibatkan diri dalam masalah etnonasionalisme di suatu negara, baik karena masalah itu dianggap dapat membahayakan stabilitas regional dan global maupun karena adanya hubungan antaretnik yang bersifat transnasional. Oleh karena itu, masalah disintegrasi nasional yang mencakup di dalamnya persoalan etnonasionalisme merupakan masalah domestik yang memiliki implikasi global (intermestic issue).

2.4 Disintegrasi Nasional dan Diplomasi Internasional;

Ketidakefektifan pemerintahan. Dalam studi politik terdapat dua permasalahan besar yang pada dasarnya menjadi pusat kajian disiplin ilmu politik tersebut. Pertama, bagaimana menciptakan suatu pemerintahan yang efektif. Kedua, bagaimana mewujudkan suatu sistem politik yang demokratis.

Efektivitas pemerintahan berkaitan dengan upaya membentuk mekanisme administrasi yang mampu mewujudkan tujuan-tujuan yang telah ditetapkan pemerintah. Hampir sebagian besar negara-negara Dunia Ketiga menghadapi permasalahan efektivitas pemerintahan. Sementara negara-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa Barat telah mampu mengatasinya.

Dengan mengacu pada uraian singkat diatas dapatlah dikatakan bahwa konsep ketidakefektifan pemerintahan memiliki arti ketidakmampuan suatu pemerintahan dalam mewujudkan tujuannya.

Konseptualisasi yang mengacu pada konsep instable government danweak state juga dapat dilakukan untuk mendefinisikan ketidakefektifan pemerintahan.

Konsep instable government memiliki dua asosiasi yaitu: pertama, pemerintah  yang mudah digoyang dan berubah secara tidak teratur. Kedua, yang merupakan implikasi dari asosiasi pertama yakni pemerintah yang tidak lagi didukung oleh rakyatnya, dan tidak berhasil dalam memenuhi kebutuhan rakyatnya seperti keamanan, keadilan, serta kesejahteraan.

Weak state atau negara yang lemah adalah suatu kondisi yang memperlihatkan legitimasi kekuasaan pemerintah tidak cukup kuat sebagai landasan hukum operasionalisasi seluruh regulasi yang mengatur berbagai aspek kehidupan masyarakatnya. Legitimasi yang lemah ini mengakibatkan tidak efektifnya kontrol terhadap wilayah perbatasan, disfungsi berbagai institusi politik dan pemerintah, serta mendorong destabilisasi sistem politik secara keseluruhan. Weak stateterjadi karena korupsi membudaya di setiap level birokrasi, ketidakcakapan dari aparat pemerintah, dan kegagalan pembangunan ekonomi. Para ilmuwan seringkali menyebut kondisi tersebut sebagai collapse state.

Dalam penelitian ini, konsep ketidakefektifan pemerintahan yang digunakan adalah merujuk pada masalah keefektifan pemerintahan menurut Mohtar Mas’oed.

Kepercayaan internasional. Upaya mendefinisikan konsep kepercayaan internasional dapat dilakukan melalui pengembangan makna konsep kepercayaan.

Dalam Longman Dictionary of Contemporary English, kepercayaan atautrust memiliki 8 arti. Namun dari kedelapan arti yang ada hanya 2 yang paling mendekati untuk keperluan konseptualisasi dalam penelitian ini, yaitu:

Pertama, suatu kondisi yang diberikan kepada orang lain berupa kepedulian dan dukungan bersifat material maupun nonmaterial.

Kedua, tindakan yang mencakup upaya untuk melindungi dan mengontrol harta benda dan uang demi keuntungan pihak lain.

Dari kedua definisi tersebut di atas kepercayaan internasional terhadap suatu negara bisa berarti kondisi yang diberikan kepada suatu negara tertentu oleh negara lain berupa kepedulian dan dukungan bersifat material maupun nonmaterial demi keuntungan negara penerima.

Strategi kebijakan luar negeri.

Pemerintahan Abdurrahman Wahid memiliki konsepsi strategi kebijakan luar negeri yang disebut ecumenical” diplomacy. Konsep ini memiliki arti merangkul semua negara untuk memperluas kerja sama dan persahabatan yang saling menguntungkan.

Strategi kebijakan luar negeri yang tidak efektif.

Pada dasarnya kebijakan luar negeri memiliki dua elemen pokok yaitu tujuan nasional dan instrumen untuk mencapainya. Elemen tujuan nasional dapat diketahui dari kepentingan nasional suatu negara pada periode tertentu. Elemen instrumen merupakan strategi diplomasi yang diterapkan dalam rangka mencapai kepentingan nasional. Bila kedua konsep tersebut dikaitkan, maka tampak suatu relasi logis, yaitu strategi kebijakan luar negeri dikatakan efektif apabila strategi diplomasinya dapat mencapai tujuan nasional yang telah ditetapkan, sebaliknya strategi kebijakan luar negeri tidak efektif bilamana tujuan nasional tersebut tidak berhasil dicapai.

Disintegrasi nasional.

Jargon disintegrasi nasional cenderung diidentikkan dengan keutuhan territorial suatu negara, meskipun sebenarnya kedua konsep tersebut tidak sepenuhnya sama. Pandangan sederhana tersebut diulas kembali oleh David Miller. Miller menyatakan bahwa disintegrasi nasional memiliki dua asosiasi penting; negara teritorial dan negara bangsa. Asosiasi pertama mereduksi konsep negara menjadi suatu entitas politik administrasi yang memiliki wewenang penuh atas suatu wilayah geografis tertentu. Masalah yang muncul dari asosiasi ini adalah legalitas dan legitimasi kewenangan yang dimiliki negara atas wilayah atau teritori. Asosiasi kedua mengisyaratkan adanya entitas yang terus menerus berinteraksi satu sama lain. Negara sebagai entitas politik administrasi hidup bersama dengan komunitas sosial yang memiliki aspirasi politik untuk dapat mandiri (self determining aspiration). Aspirasi ini menimbulkan dinamika komunitas yang tidak selalu selaras dengan gerak otoritas negara. Self determining aspiration  pada gilirannya memunculkan  aspirasi untuk berpemerintahan sendiri (self governing aspiration).

 Pembahasan lebih lanjut tentang konsep disintegrasi nasional seperti yang dikemukakan oleh Miller tampaknya sejalan dengan yang dikemukakan oleh Milton J. Esman yakni, pola konflik pusat dan pinggiran (center and periphery). Menurut Esman, klaim-klaim untuk mendapatkan kebebasan dari pemerintah pusat biasanya sangat efektif di daerah-daerah dengan ikatan-ikatan etnik, budaya, dan bahasa yang kuat. Seringkali gerakan-gerakan kemerdekaan ini secara khusus amat aktif di daerah-daerah yang jauh dari pusat pemerintahan. Daerah-daerah tersebut kemungkinan besar adalah daerah-daerah pertama yang mengalami dampak negatif dari sentralisasi kekuasaan, dan oleh karena itu menunjukkan reaksi yang kuat.

Esman juga menguraikan permasalahan disintegrasi bangsa yang muncul dari adanya konflik pusat dan pinggiran dapat dibagi menjadi tiga tingkatan. Pertama,beberapa konflik akan muncul dalam bentuk ketegangan-ketegangan yang merintangi usaha-usaha nasional yang membutuhkan dua atau lebih kelompok etnik untuk bekerja sama secara lebih kooperatif. Kedua, konflik juga bisa berbentuk oposisi politik terhadap program-program pemerintah pusat, biasanya karena anggota-anggota dari suatu kelompok etnik percaya bahwa kementerian-kementerian pusat bertindak sebagai agen dari satu masyarakat etnik yang berkompetisi. Ketiga, konflik yang paling ekstrem akan berbentuk gerakan-gerakan separatis yakni suatu kelompok etnik atau koalisi minoritas berupaya melepaskan diri dari pemerintah pusat.

Untuk menggunakan eksistensi teoritik dari konsep-konsep di atas perlu kiranya disusun definisi operasional yang merupakan prosedur pengukur eksistensi suatutheoritical concept dalam dunia empiris.

Ketidakefektifan pemerintahan.

Prosedur untuk mengukur adanya ketidakefektifan pemerintahan merupakan kelanjutan dari upaya konseptualisasi sebelumnya seperti yang dikemukakan oleh Mohtar Mas’oed.

Pada era globalisasi yang pesat dewasa ini, setiap masyarakat politik yang diwakili oleh pemerintah sebagai wujud dari negara menghadapi elaborasi yang tidak terhindarkan terutama berkaitan dengan fungsi-fungsinya. Secara garis besar terdapat tiga fungsi utama pemerintahan yaitu: 1) memelihara legitimasi kekuasaan atas seluruh warga negara dan teritorinya, 2) mengelola perekonomian dan 3) yang berhubungan erat dengan kesejahteraan rakyat dalam hal ini pemenuhan kebutuhan barang dan jasa.

Efektifitas pemerintahan diukur dari derajat keberhasilan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut. Dengan demikian maka dapat disusun indikator-indikator ketidakefektifan pemerintahan sebagai berikut:

 Ketidakmampuan memelihara keabsahan kekuasaan dalam yurisdiksinya dapat dilihat melalui indikator-indikator yaitu:

  1. Ketidakberhasilan meredam upaya-upaya penentangan terhadap  pemerintah pusat ataupun gerakan separatisme di suatu daerah.
  2. Ketidakmampuan menciptakan stabilitas keamanan diseluruh yuridiksinya.

Ketidakberhasilan dalam mengelola perekenomian dapat dilihat misalnya adanya krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Tidak terlaksananya fungsi pemenuhan kebutuhan barang dan jasa bagi rakyatnya dapat diketahui melalui indikator-indikator angka  pengangguran dan kemiskinan yang tinggi, sarana kesehatan dan pendidikan yang tidak memadai, serta buruknya kondisi sarana transportasi dan telekomunikasi.

Kepercayaan internasional.

Konsep ini diukur melalui tingkat kesedian berbagai negara untuk membantu negara tertentu baik secara ekonomi, politik, maupun militer. Berdasar atas operasionalisasi tersebut, maka dapat disusun tingkat penurunan derajat kepercayaan internasional terhadap suatu negara yakni dari percaya menjadi kurang percaya dan akhirnya menjadi tidak percaya. Tingkatan tersebut dapat diketahui melalui indikator sebagai berikut:

  1. Penundaan pemberian bantuan ekonomi.
  2. Menghentikan kerjasama dalam bidang militer seperti penghentian penjualan senjata dan kerjasama penjagaan keamanan di wilayah perbatasan.
  3. Menunjukkan simpati kepada pihak-pihak tertentu yang menjadi lawan pemerintah suatu negara misalnya:
    1. Memberi ijin tinggal dan beroperasi di negaranya bagi kelompok  separatis dari suatu negara tertentu.
    2. Memberi dukungan finansial kepada kelompok separatis dari suatu negara tertentu.
    3. Menghadiri ataupun menyelenggarakan acara-acara resmi yang bertujuan mencari dukungan bagi perjuangan kelompok separatis dari suatu negara tertentu.
    4. Statement keprihatinan terhadap kondisi domestik atau kebijakan dalam bidang tertentu.

Apabila indikator-indikator di atas masih dalam bentuk statement atau pernyataan, maka hal itu menunjukkan penurunan derajat dari percaya menjadi kurang percaya. Apabila indikator-indikator tersebut telah diwujudkan dalam tindakan nyata, maka hal itu menunjukkan penurunan derajat kepercayaan dari kurang percaya menjadi tidak percaya ataupun dari percaya langsung menjadi tidak percaya.

Strategi kebijakan luar negeri yang tidak efektif.

Suatu kerangka yang dapat digunakan untuk operasionalisasi konsep strategi kebijakan luar negeri yang tidak efektif adalah kerangka analisis yang sama dengan yang digunakan dalam konseptualisasinya.

Dari uraian Esman tentang tingkatan-tingkatan konflik pusat dan daerah, tingkatan permasalahan disintegrasi nasional yang dijadikan ukuran untuk menentukan keefektifan strategi kebijakan luar negeri adalah separatisme. Oleh karena itu, ketidakefektifan strategi kebijakan luar negeri diukur melalui tingkat penyelesaian permasalahan separatisme tersebut.

Berdasarkan operasionalisasi di atas, ketidakefektifan strategi kebijakan luar negeri terlihat dari adanya ketidakberhasilan diplomasi untuk menyelesaikan permalasahan separatisme yang bahkan  semakin meluas dan ada indikasi menjadi suatu isu international.

Penelitian ini merupakan suatu penelitian yang pada dasarnya bersifat kompleks, namun untuk mempermudah melakukan analisis, penelitian ini difokuskan pada implementasi kebijakan luar negeri dan kebijakan domestik pemerintahan Abdurrahman Wahid pada Nopember 1999 sampai dengan Juli 2001, terutama yang berkaitan dengan upaya menyelesaikan permasalahan disintegrasi bangsa di Aceh dan Papua. Mengenai reaksi internasional yang diteliti ialah respon dari berbagai negara terhadap perkembangan permasalahan disintegrasi bangsa di Aceh dan Papua pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid. Sekalipun demikian perlu kiranya diketengahkan data yang memperlihatkan respon suatu negara tertentu pada masa sebelum pemerintahan Abdurrahman Wahid dalam rangka memperoleh analisis yang lebih tajam.

Kebijakan Domestik Di

Aceh Dan Papua

Permasalahan disintegrasi bangsa yang terjadi di Aceh dan Papua pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid merupakan warisan dari rezim sebelumnnya. Penyelesaian masalah disintegrasi bangsa tersebut adalah kepentingan nasional Indonesia yang bersifat primer dan permanen karena menyangkut eksistensi bangsa dan negara kesatuan RI serta harus diperjuangkan untuk jangka waktu yang tidak terbatas.

            Momentum reformasi dan demokratisasi setelah berakhirnya pemerintahan orde Baru semakin menguatkan semangat self determination danself governing di kedua daerah itu. Pemerintahan Abdurrahman Wahid dalam rangka menyikapi fenomena tersebut lebih memilih kebijakan yang pada intinya merupakan suatu pendekatan persuasif. Kebijakan yang diambil mencakup beberapa poin penting, yaitu:

  1. Penyelesaian harus tetap diupayakan dalam kerangka negara kesatuan RI yaitu melalui pemberlakuan otonomi khusus bagi Aceh dan Papua.
  2. Menghentikan kekerasan dan menciptakan keamanan di kedua daerah. Dalam upaya ini aparat kepolisian memegang sepenuhnya komando di lapangan dan TNI menjadi komponen pendukungnya.
  3. Meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat Aceh dan Papua melalui percepatan pembangunan di bidang sosial dan ekonomi.
  4. Mempromosikan dialog yang konstruktif demi terciptanya penyelesaian politik dengan gerakan-gerakan separatis di Aceh dan Papua.
  5. Pengadilan terhadap para pelanggar HAM di Aceh dan Papua, baik yang berasal dari kalangan sipil maupun militer

 

ANCAMAN TERHADAP WAWASAN NUSANTARA

hqdefault

Konsep wawasan nusantara tidak dapat dipisahkan dari kekuatan bagi Indonesia untuk tetap bertahan menjaga eksistensinya. Konsep wawasan nusantara sudah disusun sedemikian rupa agar dapat menjadi konsep yang menjadi pilar kekuatan Indonesia. Akan tetapi dalam perjalanan waktu, kekuatan dari konsepsi ketahanan wawasan nusantara itu semakin rapuh karena adanya berbagai ancaman yang dapat mengganggu kelangsungan konsep wawasan nusantara ini dalam menyokong derajat kekuatan Indonesia untuk menjaga keutuhan negara. Kita harus jeli dalam melihat adanya ancaman bagi konsep wawasan nusantara kita supaya kita dapat menyusun tindakan-tindakan pencegahan sebelum wawasan nusantara itu sendiri rusak.

Kita dapat menganalisa ancaman tersebut dengan membaginya dalam dua faktor berdasarkan darimana sumber ancaman itu berasal, yaitu ancaman secara internal dan eksternal. Ancaman internal adalah ancaman bagi wawasan nusantara yang berasal dari negeri sendiri. Tidak dapat dipungkiri kalau banyak faktor dan pihak di dalam negeri, yang dapat medegradasi kekuatan wawasan nusantara dengan sengaja atau tidak. Sedangkan ancaman yang kedua bersifat eksternal, yaitu ancaman yang berasal dari luar negeri. Apalagi saat ini dunia dilanda arus globalisasi dan Indonesia termasuk yang masuk ke dalam arus tersebut, sehingga terkadang kita tidak dapat mempertahankan hal-hal yang seharusnya menjadi kepentingan nasional kita. Selain itu, untuk menganalisa ancaman eksternal ini, kita dapat membaginya menjadi ancaman eksternal state vs state dan state vs ultrastate.Dalam melihat ancaman dari luar negeri, kita tidak dapat menyamakan semuanya berasal dari permasalahan antar negara, tetapi dapat juga permasalahan itu muncul dari hubungan negara Indonesia dengan aktor-aktor non negara.

a. Ancaman Internal

  1. Gerakan separatisme

Gerakan separatisme hingga saat ini masih menjadi isu keamanan dalam negeri yang mengancam keutuhan wilayah Indonesia dan mengancam wibawa pemerintah serta keselamatan masyarakat. Gerakan separatis di Indonesia dilakukan dalam bentuk gerakan separatis politik serta gerakan separatis bersenjata. Hingga kini masih terdapat potensi gerakan separatis di beberapa wilayah yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkeinginan untuk memisahkan diri dari NKRI dengan mengeksploitasi kelemahan penyelenggaraan fungsi pemerintahan.

Bangsa Indonesia menyadari dan memiliki komitmen bahwa berada dalam wadah NKRI merupakan putusan politik yang tepat dan final. Oleh karena itu, separatisme menjadi ancaman langsung terhadap keutuhan wilayah NKRI. Adanya kelompok separatis di beberapa wilayah Indonesia merupakan bibit-bibit potensi ancaman yang selalu akan mengancam keutuhan wilayah Indonesia, terlebih lagi karena akar masalah separatisme banyak dipicu oleh ketimpangan pada pemberian hak politik, ekonomi, serta keadilan kepada masyarakat sehingga menyebabkan ketidaknyamanan masyarakat untuk berada dalam naungan NKRI akan terus menjadi potensi separatisme.

Dari anatomi ancaman yang berdimensi separatisme, gerakan separtisme tersebut mengambil dua pola perjuangan, yakni gerakan separatisme yang tidak menggunakan pergerakan persenjataan dan gerakan separatisme yang dengan jalan melakukan pergerakan bersenjata. Sejak Indonesia berdiri, gerakan separatisme yang terjadi di beberapa wilayah telah melakukan berbagai usaha untuk memisahkan diri. Isu separatisme bagi Indonesia ditempatkan sebagai ancaman pertahanan karena gerakan separatisme mengancam secara langsung keutuhan Indonesia. Oleh karena itu, penanganan separatisme menjadi salah satu ancaman yang dianggap sebagai prioritas paling utama untuk diperhatikan dengan sudut pandang pertahanan maupun politk. Sejalan dengan era globalisasi serta perkembangan nilai-nilai demokrasi, pihak-pihak tertentu telah berusaha memanfaatkannya untuk meningkatkan gerakannya untuk memisahkan diri. Kita dapat lihat dengan apa yang terjadi beberapa waktu lalu ketika Presiden Indonesia hendak ditahan di Belanda atas tuntutan salah satu gerakan separatis yang berasal dari Indonesia yaitu RMS. Dengan memanfaatkan nilai-nilai demokrasi dan HAM yang dianggap sebagai nilai universal, maka gerakan separatis mencoba untuk menarik dukungan demi kepentingan mereka.

Beberapa tahun yang lalu Indonesia baru saja menyelesaikan konflik separatis di Aceh dengan pendekatan politik dan penggunaan cara damai. Kondisi yang sudah terbina dengan baik di wilayah tersebut perlu dijaga bersama agar pembangunan di Aceh dapat diakselerasi. Akan tetapi masih ada  beberapa wilayah masih tampak adanya kelompok-kelompok tertentu yang masih berusaha memisahkan diri dari NKRI. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa ancaman separatisme masih tetap diperhitungkan sebagai ancaman utama bagi masa depan keutuhan negara dan wawasan nusantara.

  1. Konflik Komunal

Indonesia dengan kondisi yang sangat heterogen dalam suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) memiliki potensi terjadinya konflik bernuansa SARA atau yang disebut konflik komunal. Konflik komunal pada dasarnya merupakan gangguan keamanan dalam negeri yang dapat berdampak pada stabilitas nasional. Dalam skala tertentu konflik komunal dapat berkembang meluas sehingga mengancam jiwa masyarakat banyak dan menjadi ancaman pertahanan karena membahayakan keselamatan bangsa. Pada gradasi tertentu konflik tersebut bereskalasi secara cepat, selain dapat membahayakan keselamatan masyarakat banyak, juga mengakibatkan terganggunya roda pemerintahan sipil. Konflik komunal pada dasarnya menjadi ranah fungsi pertahanan nirmiliter, namun apabila dibiarkan akan dapat bereskalasi secara cepat sehingga mengancam keselamatan bangsa atau berakibat terganggunya roda pemerintahan atau pelayanan umum. Konflik komunal dapat pula dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memprovokasi atau memecah belah masyarakat.

Demografi Indonesia yang sangat heterogen berimplikasi terhadap potensi konflik yang berdimensi suku, agama, ras, dan antargolongan. Di masa lalu Indonesia pernah mengalami beberapa konflik komunal yang terjadi di beberapa wilayah, seperti yang terjadi di Kalimantan, Ambon dan Maluku Utara, serta Poso. Konflik komunal mengancam persatuan dan kesatuan bangsa serta menjadi sumber ancaman yang mengganggu stabilitas keamanan nasional. Demografi Indonesia yang heterogen serta masyarakatnya yang memiliki masalah dari berbagai aspek kehidupan, baik sebagai individu maupun dalam hubungan kelompok atau golongan, sangat rentan untuk dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang menjadi penggerak konflik komunal. Di samping itu, berkembangnya ajaran sesat di sejumlah wilayah yang mendapat penentangan keras dari masyarakat akan menjadi pendorong timbulnya konflik komunal di masa-masa datang.

  1. Isu Politik dan Ekonomi

Bagi Indonesia, faktor politik menjadi penentu kelanjutan sistem pemerintahan. Sebaliknya, kondisi politik yang fluktuatif dapat mengganggu stabilitas nasional, dan pada spektrum tertentu dapat menjadi ancaman terhadap keutuhan bangsa. Ancaman berdimensi politik yang bersumber dari dalam negeri dapat berupa penggunaan kekuatan berupa mobilisasi massa untuk menumbangkan suatu pemerintahan yang berkuasa, atau dapat bentuk menggalang kekuatan politik untuk melemahkan kekuasaan pemerintah.

Sedangkan dalam hal ancaman ekonomi, hingga kini Indonesia masih berjuang dalam hal inflasi dan pengangguran yang tinggi, infrastruktur yang tidak memadai, penetapan sistem ekonomi yang belum jelas, ketimpangan distribusi pendapatan, dan ekonomi biaya tinggi. Pendapatan per kapita masyarakat yang sangat rendah merupakan bentuk ancaman berdimensi ekonomi yang berakibat terhadap kemiskinan yang berpengaruh langsung terhadap pendidikan dan kesehatan. Distribusi pendapatan yang tidak merata telah mengakibatkan ketimpangan yang besar, yakni kesenjangan antara yang kaya dan yang miskin menjadi semakin lebar. Kondisi ini berpotensi terhadap ketidakstabilan keamanan nasional.

b. Ancaman Eksternal

            Ancaman eksternal dapat dibagi menjadi dua sifat, yaitu yang berasal dari sebuah negara (state) maupun dari aktor non negara (non state). Kecenderungan perkembangan global mempengaruhi karakteristik ancaman dengan munculnya isu-isu keamanan baru yang memerlukan penanganan dengan pendekatan yang lebih komprehensif dan integratif. Isu keamanan tersebut, antara lain, adalah terorisme, ancaman keamanan lintas negara, dan proliferasi senjata pemusnah massal. Munculnya isu-isu keamanan baru tidak terlepas dari globalisasi, kemajuan teknologi informasi, penguatan identitas primordial, dan peran aktor non-negara, dan bagi negara-negara berkembang, isu keamanan baru banyak dipengaruhi oleh kondisi masyarakat yang kebanyakan masih terbelakang, terutama di bidang ekonomi dan pendidikan. Yang pertama kita akan membahas ancaman eksternal berupa state,antara lain:

  1. Kondisi Keamanan Internasional

Kondisi keamanan global diwarnai oleh meningkatnya intensitas ancaman keamanan asimetris dalam bentuk ancaman keamanan lintas negara. Aksi perompakan, penyelundupan senjata dan bahan peledak, penyelundupan wanita dan anak-anak, imigran gelap, pembalakan liar, dan pencurian ikan merupakan bentuk ancaman keamanan lintas negara yang paling menonjol. Meningkatnya aksi ancaman keamanan lintas negara tersebut telah mempengaruhi kondisi keamanan global sehingga isu-isu tersebut menjadi isu keamanan bersama yang memerlukan penanganan secara sungguh-sungguh. Indonesia, dengan garis pantai yang sangat panjang, sangat rawan dengan ancaman keamanan lintas negara, seperti perompakan, penyelundupan narkotika dan obat terlarang (Narkoba), penyelundupan senjata dan bahan peledak, penyelundupan manusia, dan pembalakan hutan secara liar yang diselundupkan melalui laut. Ancaman keamanan lintas negara tersebut telah sangat merugikan Indonesia dari segi ekonomi dan dari segi kehormatan bangsa.

Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di antara Benua Asia dan Australia serta Samudra Hindia dan Pasifik, di satu sisi mempunyai posisi strategis sekaligus tantangan besar dalam mengamankannya. Sesuai dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982, Indonesia memiliki tiga ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia) dan empat choke points yang strategis bagi kepentingan global, yakni di Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makasar. ALKI serta choke points tersebut merupakan bagian wilayah yang rawan terhadap ancaman keamanan maritim, terutama perompakan bersenjata.

  1. Konflik Teritorial dan Perbatasan dengan Negara Tetangga 

Isu perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar cukup beragam dan kompleks, di antaranya menyangkut eksistensi, status kepemilikan, konversi lingkungan, pengamanan, dan pengawasannya. Indonesia dengan beberapa negara yang berbatasan dengan wilayah Indonesia masih mempunyai sejumlah persoalan batas wilayah, baik perbatasan darat maupun laut yang hingga kini belum tuntas. Masalah perbatasan yang belum selesai menjadi sumber potensi ancaman pertahanan yang berpotensi konflik bersenjata di masa mendatang. Persoalan perbatasan yang belum tuntas tersebut di antaranya perbatasan darat dengan dan perbedaan rezim laut dengan Malaysia, batas laut dengan Singapura, penetapan batas ZEE dengan Thailand yakni di perairan selatan Laut Andaman, perbatasan laut dengan Filipina, batas ZEE dengan Palau, serta batas laut antara Indonesia Timor Leste dan Australia setelah kemerdekaan Timor Leste.

Dari semua isu perbatasan, wilayah Ambalat yang diklaim oleh Malaysia serta sepuluh titik yang masih bermasalah di Kalimantan merupakan “titik api” yang ke depan berpotensi menjadi sumber sengketa. Demikian pula, persoalan yang terkait dengan pulau terluar, seperti pengerukan pasir di Pulau Nipah dan sekitarnya, menjadi masalah serius karena terkait eksistensi pulau terluar yang makin kritis. Eksistensi pulau-pulau kecil terluar sangat vital dalam penentuan batas wilayah Indonesia, yakni berfungsi sebagai titik pangkal penarikan batas wilayah NKRI. Selain itu, pulau-pulau kecil terluar rawan terhadap tindakan diperjualbelikan atau disewakan secara tidak sah kepada pihak lain atau warga negara asing. Dari beberapa kasus ditemukan beberapa pulau kecil yang dikelola oleh perseorangan, bahkan ada pulau-pulau milik Indonesia yang dikelola oleh pihak asing.

Dua hal yang telah disebutkan diatas adalah ancaman-ancaman yang berasal dari luar/eksternal yang berasal dari aktor negara/ state. Ancaman eksternal yang kedua berasal dari aktor yang diluar ikatan negara/ non state, antara lain:

  1. Penetrasi Ideologi

Ancaman berdimensi ideologi yang berasal dari luar dapat berbentuk penetrasi nilai-nilai individualisme dan materialisme yang berusaha mendesak nilai-nilai komunalisme, spiritualisme, dan gotong-royong yang telah berakar di masyarakat. Ancaman penetrasi ideologi ini dapat melalui unsur politik, pendidikan, sosial budaya, dan juga ekonomi. Ancaman berdimensi politik dilakukan oleh suatu negara melalui tekanan politik, atau dapat pula dilakukan oleh aktor yang bukan negara dengan menggunakan isu-isu global sebagai kendaraan untuk menyerang atau menekan Indonesia.

Selain itu, penetrasi ideologi juga dapat masuk melewati kebijakan politik. Dalam teori Politik Internasional, politik  merupakan instrumen utama yang menggerakkan perang, yakni perang merupakan kelanjutan dari politik dengan cara lain. Ini membuktikan bahwa ancaman politik dapat menumbangkan suatu rezim pemerintahan, bahkan dapat menghancurkan suatu negara secara total. Pelaksanaan penegakan HAM, demokratisasi, penanganan lingkungan hidup, dan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan akuntabel selalu menjadi komoditas politik bagi masyarakat internasional untuk mengintervensi suatu negara dan hal ini dirasakan pula oleh Indonesia.

2. Penetrasi Budaya 

Ancaman dari luar berupa penetrasi nilai-nilai budaya dari luar negeri yang sulit dibendung mempengaruhi tata nilai sampai pada tingkat lokal. Kemajuan teknologi informasi mengakibatkan dunia menjadi desa global dengan interaksi antar masyarakat terjadi secara langsung. Yang terjadi tidak hanya transfer informasi, tetapi juga transformasi dan sublimasi nilai-nilai luar secara serta-merta dan sulit dikontrol. Sebagai akibatnya, terjadi benturan peradaban, sehingga lambat-laun nilai-nilai persatuan dan kesatuan bangsa semakin terdesak oleh nilai-nilai individualisme. Misalnya saja dengan makin merebaknya nilai individualisme, maka pribadi dasar bangsa Indonesia yaitu persatuan dan gotong-royong akan makin terancam eksistensinya/ Penetrasi nilai-nilai budaya dari luar negeri yang sulit dibendung sering kali menyebabkan terjadinya benturan peradaban yang mengancam nilai-nilai lokal di Indonesia. Hal ini juga dapat kita lihat dalam bidang perekonomian.

Keadaan dunia masa kini yang sedang mengalami proses globalisasi seperti ini, nilai-nilai tentang bagaimana perekonomian harus dijalankan, memakai pedoman universal yaitu neoliberalisme. Cita-cita dari ideologi ini adalah membuka kesempatan yang sangat besar bagi tiap individu untuk mengembangkan kemampuan dan kepentingan ekonominya, dengan menggunakan kebijakan negara sebagai jalan pelicin menuju tujuan tersebut. Ketika paham tersebut makin menyebar dan diakui sebagai sebuah ideologi perekonomian tunggal yang dianggap dapat memajukan perekonomian sebuah negara, maka pada saat itulah masa depan wawasan nusantara dapat terancam. Hal tersebut cukup beralasan karena ideologi tersebut sangat bertentangan dengan pribadi dan cita-cita bangsa Indonesia. Selain itu karena adanya kebebasan individu yang terlalu besar, maka akan menimbulkan ketimpangan yang cukup memprihatinkan di dalam tatanan sosial berbangsa.

Freeport dan Dinamika Konfliknya ; Waspadalah ! 2016-2018 Indonesia Akan Banjir Isu Separatis dan Koflik SARA
blogger-image-383392157

Punya gunung emas belum tentu menjadi berkah, melainkan juga musibah. Minyak dan emas selalu terkait dengan darah dan nyawa manusia. Cadangan emas di bawah bumi Papua yang saat ini dikelola Freeport masih memiliki cadangan jutaan kilogram emas lagi yang baru habis dieksploitasi pada tahun 2056.
Kontrak Karya (KK) Freeport habis di tahun 2021. Pernah terjadi MoU antara pemerintahan SBY dengan Freeport di tahun 2009 yang lalu untuk memperpanjang lagi s/d tahun 2041. Tapi dengan berlindung kepada UU Minerba yang menyebutkan bahwa KK baru bisa dievaluasi 2 tahun sebelum kontrak habis, maka Jokowi membatalkan MoU tersebut.
Amerika kebakaran jenggot. Jika Freeport tidak diperpanjang kontraknya, maka cadangan emas milik Amerika yang menjadi pondasi mata uang Dollar di seluruh dunia bakal rontok. Amerika tetap ingin menancapkan kukunya di Freeport, apapun taruhannya. Negosiasi ulang KK Freeport baru bisa dilaksanakan pada tahun 2019, dimana Jokowi masih berkuasa s/d Oktober 2019. Opsi Amerika cuma ada 2; perpanjang kontrak Freeport (meski ada beberapa penyesuaian) atau hancurkan Indonesia.
Waspadalah! 2016-2018 bangsa ini bakal diserang isu separatis dan konflik SARA. Kelompok radikal bakal kebanjiran transfer uang Dollar dan Real. Pentolan kelompok intoleran itu aslinya cuma menjalankan peran sebagai event organizer bernama ‘Kerusuhan’. Terima order, terima fulus, bikin kerusuhan di sana-sini, dan kirim laporan kepada sang juragan. “Gereja dibakar, masjid dibakar, larangan membangun masjid, larangan membangun gereja”, makin berseliweran beritanya di sosial media. Mereka yang ingin beragama tetapi miskin pengetahuan, bakal jadi korban hasutan provokator yang memimpin mereka angkat senjata. Isu Sunni-Syiah yang sukses menghancurkan Suriah dan Irak akan diduplikasi di republik ini.
Aceh dan Papua adalah titik masuk potensial bagi Amerika untuk men-Suriahkan NKRI. Para oportunis yang mendompleng kepentingan Amerika bakal berpesta-pora. Parpol-parpol busuk ikut menunggangi kepentingan Amerika untuk menggulingkan pemerintahan yang sah. Dengan konsesi bahwa jika Jokowi terguling dan mereka berkuasa, maka KK Freeport bakal diperpanjang.
Hura-hara dan kegaduhan politik makin banyak. Demo buruh dan mahasiswa bakal merajalela. Karena ada bandar besar yang membiayai mereka. Buruh dan mahasiswa adalah obyek penderita dari para aktivis yang melakukan konspirasi dengan parpol busuk yang melacurkan diri kepada Amerika.
Bangsa ini terancam, negeri ini sedang memasuki episode bencana yang sudah di depan mata. Tapi warganya masih sibuk berkelahi akibat aspirasi politiknya yang beda afiliasi. Masih ribut melakukan dikotomi sebagai pendukung Prabowo atau pendukung Jokowi. Sibuk dengan onani politik bersama TV One atau Metro TV.
__________________________
2. http://analisishankamnas.blogspot.co.id/2014/12/ancaman-terhadap-wawasan-nusantara_16.html
3. http://www.muslimedianews.com/2015/11/waspadalah-2016-2018-indonesia-akan.html

 

Kembali ke Ilmu Pengetahuan Suci Tradisional dan Kearifan Abadi (Perennialism)

Taut Posted on

KEMBALI KE ILMU PENGETAHUAN SUCI TRADISIONAL DAN KEARIFAN ABADI (PERENNIALISM) ; Untuk Menyelesaikan Krisis Multidimensi Manusia Modern

Dalam Bab ini, penulis ingin mencoba untuk mengetahui beberapa penjelasan singkat yang menjadi saran atau resep dari cara pandang alternatif untuk mengatasi krisis multidimensi manusia modern yang telah disebabkan oleh pandangan dunia materialistik-sekuler dalam modernisme-materialisme, yaitu dengan menghidupkan kembali Traditional Sacred Science, atau kearifan tradisional yang sakral/suci yang merupakan Sophia Perennialism atau Kearifan  dan Kebijaksanaan Abadi yang dibawa oleh para Nabi Allah dan orang-orang suci (para filosof-irfani dan para wali dan panditha-pujangga) sepanjang sejarah umat manusia.

Filsafat dan Tradisi Kenabian

Menurut Seyyed Hossein Nasr ketika ia menulis dalam pengantarnya tentang hubungan antara Filsafat dan Kenabian: “Dalam iklim budaya saat ini di Barat serta bagian lain dari dunia yang dipengaruhi oleh modernisme dan postmodernisme, filsafat dan kenabian dipandang sebagai dua hal yang sangat berbeda, dan di mata banyak orang, pendekatannya dianggap bertentangan dengan pemahaman tentang sifat realitas.

Sepertinya tidak begitu, bagaimanapun, dalam kasus ini berbagai peradaban tradisional sebelum munculnya dunia modern. Juga tidak terjadi bahkan hari ini untuk sejauh bahwa pandangan dunia tradisional telah bertahan. Tak perlu dikatakan, dengan “kenabian/nubuwah” berarti kita meramalkan masa depan, tetapi kenabian membawa pesan dari perintah dari yang lebih tinggi atau lebih dalam realitas “kenabiannya” yang  jelas sebagaimana dalam dunia Mesir kuno, Yunani klasik, dan Hindu, jika tidak berbicara tentang Monoteisme Abrahamik di mana peran kenabian jadi pusatnya.

Jika kita tidak membatasi pemahaman kita tentang kenabian kepada tampilan Ibrahimik itu, kita bisa melihat adanya kenabian dalam iklim keagamaan yang sangat beragam di hampir semua yang tidak hanya dari makna hukum, etika dan spiritual, tetapi juga dari satu sapiensial (kebijaksanaan-kearifan) bersangkutan dengan pengetahuan.

Kita melihat kenyataan ini dalam dunia resi di India dan Dukun agama (Shamans) dalam perdukunan yang beragam sebagaimana dalam iatromantis (Nabi-Penyembuh) di dalam agama Yunani dan Taoisme yang abadi, dalam penerangan Buddha dan kemudian di dalam master Zen Buddha yang memiliki pengalaman pencahayaan/pencerahan atau satori, serta para nabi dari agama-agama Iran seperti Zoroaster dan tentu saja para nabi Abrahamik. Akibatnya dalam semua dunia ini, kapanpun dan di manapun filsafat dalam arti universal telah berkembang, telah berhubungan dengan kenabian dalam berbagai cara.”[47]

Bahkan jika kita membatasi definisi Filsafat dengan aktivitas intelektual di Yunani kuno, yang pemahaman sejarah Barat modern anggap sebagai tempat asal spekulasi filosofis, hubungan antara filsafat dan kenabian dapat dilihat menjadi sangat dekat pada saat asal-usul paling awal filsafat Yunani. Kami juga menyadari bahwa kerenggangan hanya terjadi kemudian, tapi  tidak dipisahkan satu sama lain pada awal tradisi filsafat Yunani. Mari kita hanya mempertimbangkan tiga tokoh yang paling penting pada asal spekulasi filsafat Yunani. Pythagoras, yang dikatakan telah menciptakan istilah Filsafat, itu tentu bukan filsuf biasa seperti Descartes atau Kant. Dia dikatakan telah memiliki kekuatan kenabian yang luar biasa dan dirinya seperti seorang nabi yang mendirikan sebuah komunitas religius baru.[48] Kaum Muslim sebenarnya menyebutnya monoteis (muwahhid) dan beberapa menyebutnya sebagai seorang nabi.

Orang yang sering disebut “Bapak logika Barat dan Filsafat“ adalah Parmenides, yang biasanya ditampilkan sebagai rasionalis, yang kebetulan telah menulis sebuah puisi berkualitas biasa-biasa saja. Tapi sebagaimana hasil studi baru-baru ini, Peter Kingsley secara brilian telah jelas menunjukkan, jauh dari menjadi rasionalis dalam pengertian modern, ia telah terbenam dalam dunia kenabian dalam arti agama Yunani dan merupakan seorang pelihat yang visioner.[49] Dalam puisinya, yang berisi pesan-pesan filosofis, Parmenides telah terpimpin ke dunia lain oleh Putri Matahari yang datang dari Istana  Cahaya (Mansion of Light) yang terletak di tingkat eksistensi yang terjauh.[50]  Jawaban untuk Pertanyaan bagaimana perjalanan ini berlangsung adalah “inkubasi”, “sebuah praktek spiritual yang terkenal dalam agama Yunani, di mana seseorang akan diam beristirahat sepenuhnya, sampai jiwanya akan dibawa ke tingkat realitas yang lebih tinggi, dan misteri keberadaan akan terungkap.

Dengan demikian Parmenides melakukan perjalanan batin sampai ia bertemu “para dewa/malaikat Tuhan” yang mengajarkan segala yang penting, yaitu, mengajarkan kepadanya apa yang dianggap menjadi puncak  asal spekulasi filsafat Yunani. Sungguh luar biasa bahwa ketika “Dewa” menemui Parmenides, Dewa menyebut dia sebagai Kouros, artinya anak muda. Fakta ini luar biasa dan menarik karena dalam tradisi Islam istilah yang sangat tepat untuk ksatria spiritual (Futuwwah dalam bahasa Arab, dan jawãnmardi di bahasa Persia) dikaitkan dengan kata untuk pemuda (FATA / Jawan), dan ksatria spiritual ini dikatakan telah ada sebelum Islam dan telah diberi kehidupan baru dalam Islam di mana sumbernya dikaitkan dengan ‘Ali bin Abi Thalib [51], yang menerima Islamnya dari Nabi dan di mana hal itu diintegrasikan ke dalam tasawuf. Selain itu, Syaidina Ali telah dikaitkan oleh sumber-sumber Islam tradisional dengan pendirian metafisika Islam. [52]

Sosok lain Yunani yang diberi gelar kouros adalah Epimenides dari pulau Kreta yang juga berangkat ke dunia lain, di mana ia bertemu Keadilan dan yang membawa kembali hukum ke dunia ini. Seperti Parmenides, ia juga menulis puisi. Sekarang Epimenides dikenal sebagai nabi-penyembuh atau iatromantis yang kepadanya semuanya telah terungkap melalui inkubasi (Meditasi/uzlah) pada saat ia berbaring tak bergerak di sebuah gua selama bertahun-tahun.[53]  Parmenides terkait dengan tradisi ini. Perjalanan Iatromantis ke dunia lain seperti dukun shamans dan tidak hanya mereka telah mampu menggambarkan perjalanannya, tetapi juga menggunakan bahasa sedemikian rupa untuk membuat perjalanan ini mungkin bagi orang yang lainnya untuk memahaminya. Mereka menggunakan mantra/doa-doa dalam puisi mereka yang kita juga lihat di karya-karya Parmenides. Mereka juga memperkenalkan cerita dan legenda Timur bahkan sejauh Tibet dan India, yang sangat menarik karena komunitas Parmenides di Anatolia di Italia selatan itu sendiri dipuji berasal dari Timur di mana dewa Apollo telah mengadakan penghargaan khusus sebagai model ilahi dari iatromantis yang ia terinspirasi sebagai nabi untuk menulis puisi hipnotis yang berisi pengetahuan tentang realitas.

Penggalian arkeologis dalam beberapa dekade terakhir di Velia di Italia selatan, yang merupakan rumah Parmenides, telah mengungkapkan prasasti yang menghubungkan secara langsung ke Apollo daniatromantis.Sebagaimana Kingsley tulis, “Kami sedang dipertunjukkan bahwa Parmenides sebagai anak dewa Apollo, yang bersekutu dengan tokoh-tokoh puisi iatromantis misterius, yang ahli dalam penggunaan puisiincantory dan untuk membuat perjalanan ke dalam dunia.”[54]  Jika kita ingat bahwa, bila berbicara secara esoteric: “Apollo bukanlah dewa Cahaya tetapi Cahaya Tuhan itu sendiri”[55],  menjadi jelas seberapa dalam filsafat, sebagai mana diuraikan oleh  Pastor Yunani Parmenides, terkait tentang saat asal usulnya dengan kenabian bahkan dipahami dalam terminology (Nabi) Ibrahimik telah menyediakan seseorang dengan tidak mengabaikan makna batin kenabian yang segera kita akan bahas. Sebuah tradisi semua para imam penyembuh telah diciptakan dalam pelayanan Apollo Oulios (Apollo Sang Penyembuh), dan dikatakan bahwa Parmenides adalah pendirinya. Sangat menarik untuk dicatat bahwa meskipun aspek-aspek ajaran Parmenides kemudian dilupakan di Barat, mereka diingat justru dalam kalangan filsafat Islam di mana sejarawan Muslim yang tergabung dalam filsafat tidak hanya Islam, tetapi juga filsafat Yunani yang erat dengan kenabian[56]. Seseorang harus ingat di sini terkenal diktum Arab: yanba ‘al-Hikmah min Mishkat al-nubuwwah, yaitu “filsafat/hikmah muncul dari  ceruk kenabian”

Menarik untuk dicatat bahwa guru Parmenides telah dikatakan jelas miskin dan bahwa apa yang diajarkannya di atas segalanya kepada murid-muridnya adalah keheningan (nyepi) atau hesychia. Ini sangat penting bahwa figur yang kemudian seperti Plato, berusaha untuk memahami Parmenides yang menggunakan istilah hesychia lebih daripada kata lain untuk menggambarkan pemahaman berikutnya terhadap realitas. “Bagi Parmenides, melalui keheningan itu kita datang ke keheningan. Melalui keheningan kita mengerti keheningan. Melalui praktek keheningan kita datang untuk mengalami realitas yang ada di luar dunia indra ini.[57] “Sekali lagi itu adalah kepentingan yang luar biasa untuk mengingat penggunaan hesychia terkait dengan diwujudkan oleh ajaran esoterik dari Gereja Ortodoks, ajaran yang tujuannya adalah pencapaian kesucian dan gnosis/irfan.

Dalam puisi Parmenides dia diberitahu secara eksplisit oleh para dewa (Tuhan YME) untuk mengambil apa yang dia telah pelajari, untuk diajarkan kembali ke dunia dan menjadi utusan-Nya.  Kingsley membuat jelas apa artinya istilah utusan dalam konteks ini.  “Ada satu nama tertentu yang menggambarkan dengan baik  jenis utusan Parmenides yang menemukan dirinya menjadi: nabi (prophets).  Arti sebenarnya dari kata ‘nabi’ tidak ada hubungannya dengan kemampuan melihat (peramal)  ke masa depan. Istilah itu hanya berarti seseorang yang tugasnya adalah untuk berbicara atas nama suatu “kekuatan besar, seseorang atau sesuatu yang lain.”[58]“Fungsi kenabian” Parmenides ini termasuk tidak hanya menjadi seorang filsuf, penyair, dan penyembuh tetapi juga, seperti Epimenides, seorang pembawa hukum.

Hubungan antara Parmenides dan kenabian, bagaimanapun, tidak terutama hanya dalam hubungan sosial, hukum, dan eksoteris, tapi lebih dalam, yang memulai dan esoteris. Puisinya, jika dipahami dengan benar, itu sendiri merupakan inisiasi ke dunia lain, dan “semua tanda-tanda bahwa hanya orang bodoh akan memilih untuk melewatkan, adalah bahwa ini adalah teks untuk inisiasi (bai’at).”[59]  Dalam hal ini ia bergabung dengan  Pythagoras dan Empedocles yang filsafatnya juga ditujukan hanya untuk mereka yang mampu menerima pesannya dan berbicara dengan benar secara dimensi esoteris (batiniah) ketimbang dimensi eksoteris(syariah-lahiriyah) dari agama Yunani, yang membutuhkan inisiasi untuk pemahaman penuh. Sungguh luar biasa lagi dalam pertanyaan ini, bagaimana filsafat Islam menyerupai begitu banyak visi dan pemikiran  filosofis figur tokoh-tokoh pra-Socrates seperti Pythagoras, Parmenides, dan Empedocles, yang semuanya sangat dihormati oleh para filosof Islam, terutama dari mazhab Isyraqi (illuminationist/Pencerahan bathin).

Menjupai  sosok misterius Empedocles, sekali lagi kita melihat seorang filsuf yang juga seorang penyair serta penyembuh dan yang dianggap oleh banyak orang sebagai juga seorang nabi. “Selain sebagai seorang dukun(Sorcerer), dan penyair, ia juga seorang nabi dan penyembuh. Salah satu nabi-penyembuh yang saya telah bicarakan tentangnya.”[60]   Empedocles juga menulis tentang kosmologi dan ilmu alam seperti fisika, tetapi bahkan dalam hal ini domain karya-karya ini tidak ditulisnya hanya untuk sekedar memberikan fakta-fakta, tetapi “untuk menyelamatkan jiwa manusia”[61],  sangat mirip dengan kosmologi sejumlah filsuf Islam, termasuk Suhrawardi dan bahkan Ibnu Sina dalam bukunya Visionary resital.[62] Apa yang penting adalah menyadari sebagian besar dari semua bahwa Empedocles melihat dirinya sebagai seorang nabi dan puisinya sebagai karya esoteris (kebatinan/ruhaniyah).

Menarik untuk menyebutkan bahwa ketiga tokoh tersebut yang datang pada asal-usul tradisi filsafat Yunani juga adalah penyair/sastrawan. Ini merupakan karakteristik dari banyak filosof yang berkembang selama berabad-abad di bawah sinaran matahari kenabian. Kita hanya butuh untuk ingat bahwa para bijak Hindu kuno juga penyair/sastrawan dan juga para bapak  pemikiran filsafat Hindu dalam arti tradisional atau banyak orang bijak Cina yang menyatakan ekspresi dirinya dalam bentuk puisi. Dalam dunia monoteisme Nabi Ibrahim, hal ini harus terlihat di antara sejumlah filsuf Yahudi dan Kristen, tetapi lagi-lagi ini dapat ditemukan terutama di kalangan filsuf Islam seperti Ibnu Sina, Nasir-I Khusraw, Umar Khayyam, dan Suhrawardi  sampai ke Afdal al-Din Kasyani, Mir Damad, dan Mulla Sadra sampai ke Haji Mulla Hadi Sabziwari, yang hidup pada abad ketiga belas masehi.[63]

Dalam dunia di mana kita hidup saat ini, filsafat telah direduksi menjadi hanya sekedar rasionalisme atau terlebih  menjadi irrationalism dan di mana tidak hanya esoterisme, tetapi bahkan agama itu sendiri itu ditolak atau dipinggirkan, interpretasi yang diberikan tentang para pendiri Filsafat Barat tersebut di atas akan ditolak dalam banyak kalangan, dan hubungan antara filsafat dan kenabian pada umumnya dan filsafat, puisi dan esoterisme pada khususnya akan dihentikan atau dianggap sebagai konsekuensi yang kecil saja.

Tapi anehnya bagi pembaca Barat, hubungan antara filsafat, kenabian, dan esoterisme, justru ditegaskan oleh sejumlah sarjana Barat kontemporer, yang ditemukan menjadi pusat tradisi filsafat Islam, yang dengannya sebagian besar dari buku-buku SH Nasr ini akan peduli. Kami telah menyertakan pembahasan tokoh-tokoh Yunani di sini untuk menunjukkan bahwa hubungan antara filsafat dan kenabian, meskipun terputus ke tingkat yang semakin besar di Barat dari akhir Abad Pertengahan dan seterusnya, adalah sangat penting, tidak hanya untuk pemahaman Filsafat Islam, tetapi juga untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang asal-usul filsafat Barat itu sendiri, asal-usul bahwa filsafat Barat telah berbagi saham dengan filsafat Islam, tetapi dapat dipahami dengan cara yang sangat berbeda oleh dua arus pemikiran filsafat Barat yang datang kemudian, yang semakin besar menjauhkan diri dari filsafat perennial dan dari teologi Kristen.

Tentu saja ada mode-mode dan derajat kenabian yang berbeda, sebuah fakta bahwa  jika seseorang menyadarinya, ketika mempelajari berbagai tradisi agama dan bahkan jika seseorang membatasi diri untuk tradisi tunggal, seperti yang kita lihat dalam Yudaisme dan Islam di mana peran kenabian Yunus atau Daniel tidak sama seperti yang dilakukan Musa atau Nabi Islam (Muhammad SAW). Namun ada unsur-unsur umum dalam berbagai pemahaman kenabian sejauh tantangan yang dimiliki filsafat yang bersangkutan. Pertama-tama kenabian menyiratkan tingkatan realitas, apakah ini dipertimbangkan sebagai  hirarki objektif atau subyektif. Jika hanya menjadi ada satu tingkat realitas obyektif yang terkait dengan dunia jasmani dan subyektif dengan kesadaran biasa, kami menganggapnya sebagai satu-satunya bentuk kesadaran yang sah dan diterima, kenabian sebagai fungsi membawa pesan dari dunia lain atau tingkat Kesadaran lain, akan menjadi tidak berarti karena akan ada dunia lain atau tingkat kesadaran, dan suatu klaim bahwa keberadaan mereka akan ditolak dan dianggap sebagai halusinasi subyektif. Seperti pada kenyataannya dengan kasus saintisme modern dan pandangan umum desakralisasi dunia, yang keduanya mengecualikan perspektif Realitas transenden mereka dan tingkat yang lebih tinggi dari keberadaan (eksistensi) vis-à-vis dunia ini serta Diri imanen dan tingkat kesadaran yang lebih dalam dari yang biasa-biasa saja.

Tetapi dalam dunia di mana semua realitas kenabian telah dijalankan dengan satu atau lain cara, penerimaan tingkat yang lebih tinggi dari realitas dan/atau level kesadaran yang lebih dalam yang telah diambil untuk diberikan sebagai cara yang benar untuk memahami sifat dari realitas total di mana manusia hidup.[64]Diformulasikan dengan cara ini, pernyataan ini termasuk monoteisme Ibrahim bersama dengan agama-agama India, Taoisme dan Konghucu serta agama kuno Mediterania dan Iran, dan Shamanisme bersama dengan Buddhisme, yang menekankan tingkat kesadaran daripada derajat eksistensi objektif.

Di dalam dunia ini, di mana semua kenabian merupakan realitas utama, yang menciptakan konsekuensi, yang dengannya filsafat harus berurusan. Kenabian memberikan ajaran moral dan hukum, etika, politik, dan hukum  bagi masyarakat, sehingga filsafat harus mempertimbangkannya. Selain itu, klaim kenabian memberikan pengetahuan tentang hakikat realitas, termasuk pengetahuan tentang Asal atau Sumber dari segala sesuatu, dari penciptaan kosmos dan strukturnya atau kosmogoni dan kosmologi, sifat jiwa manusia, yang akan mencakup apa yang tepat harus disebut “Pneumatology” dan psikologi tradisional dan akhir segala hal, hal akhirat atau eskatologi.  Buah dari kenabian adalah pengetahuan tentang semua aspek utama dari realitas yang dialami atau spekulasi tentang manusia, termasuk sifat ruang dan waktu, bentuk dan substansi, hukum sebab-akibat/kausalitas, takdir, dan berbagai masalah lain yang dengannya filsafat secara umum juga bersangkutan.

Selain itu, bentuk-bentuk tertentu dari kenabian harus dilakukan dengan pengetahuan batin, dengan esoteris dan mistiskal, dengan visi tingkat lain dari realitas yang tidak dimaksudkan untuk masyarakat umum yang luas. Kita telah melihat hubungan asal-usul filsafat Yunani dengan dimensi esoteris agama Yunani, dan kita dapat menemukan banyak contoh lain dalam tradisi-tradisi lain, termasuk tradisi agama Buddha dan khususnya Islam, di mana filsafat menjadi terkait lebih dalam di abad kemudian dengan dimensi batin wahyu Quran. Hubungan antara filsafat dan esoterisme, yang merupakan dimensi kenabian sebagaimana didefinisikan di sini dalam arti universal, juga memiliki sejarah panjang di Barat yang berlangsung sampai gerakan Romantic Jerman.

Dari abad ketujuh belas dan seterusnya, filsafat Barat merasa dipaksa untuk berfilsafat tentang gambaran dunia yang dilukis oleh ilmu pengetahuan modern dan menjadi lebih  merupakan hamba ilmu pengetahuan modern terutama dengan pemikiran Emanuel Kant, dan mencapai banyak puncaknya pada abad kedua puluh dengan filsafat Anglo-Saxon, yang lebih sedikit terikat daripada jejak logika pada pandangan dunia ilmiah.

Dalam cara yang serupa, di berbagai dunia tradisional di mana realitas kenabian dan wahyu adalah menjadi pusatnya, apakah perwujudan dari kenabian ini telah menjadi kitab suci atau bentuk lain dari pesan yang dibawa dari surga atau utusan Tuhan sebagai mana dalam kasus para avatar Hindu, Buddha, atau Kristus, filsafat tidak punya pilihan selain untuk mengambil realitas sentral ini menjadi pertimbangannya. Filsafat harus berfilsafat tentang sesuatu, dan di dunia tradisional tersebut bahwa sesuatu selalu mencakup realitas yang terungkap melalui kenabian, yang berkisar dalam bentuk dari iluminasi dari rhesi Hindu dan Buddha, seperti Tuhan Allah berbicara kepada Nabi Musa di Gunung Sinai atau malaikat Jibril yang mewahyukankan Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam dunia tradisional pertanyaan tersebut, filsafat belum menjadi sesederhana teologi, karena beberapa orang telah berpendapat begitu, kecuali satu batasan definisi positivistik filsafat modern, jika dalam kenyataannya tidak ada filsafat non-Barat atau dalam hal ini filsafat Barat abad pertengahan, yang tidak membicarakannya.

Tetapi jika kita menerima definisi filsafat yang diberikan oleh orang yang dikatakan pertama kali telah menggunakan istilah itu yaitu Pythagoras – dan melihatnya sebagai cinta (philo) kepada Shopia (kebenaran), atau jika kita menerima menurut definisi Plato filsafat sebagai “praktek persiapan kematian” yang menurut filosofinya meliputi aktivitas intelektual dan latihan rohani, maka pasti ada banyak mazhab filsafat di berbagai dunia tradisional, beberapa yang masih ada sampai sekarang, hanya dalam bentuk lisan sebagai salah satunya yaitu  tradisi pribumi Australia (aborigin) dan penduduk asli Amerika (indian),[65] sementara yang lain telah menghasilkan volume tulisan-tulisan filosofis selama berabad-abad.

            Bahkan jika ada orang yang memutuskan untuk hanya berurusan dengan karya-karya filsafat tertulis, orang bisa menulis volume tentang subjek filsafat di tanah kenabian yang berurusan dengan Tao dan tradisi filsafat Konfusianisme Cina, dengan orang-orang Tibet dan Buddhisme Mahayana termasuk mazhab-mazhab Jepang, semua yang memiliki karakteristik khusus mereka sendiri, dan tentu saja dengan tradisi filsafat yang sangat kaya dari Hindu India.

Kita juga bisa beralih ke dunia tradisi agama Ibrahimik dan menulis tentang mazhab filsafat Yahudi, Kristen dan Islam dari perspektif kegiatan filosofis dalam dunia yang didominasi oleh kenabian. Juga tak satu pun menemukan perawatan semacam ini benar-benar lengkap paralel untuk tiga adik tradisi-agama Ibrahimik,  meskipun terkenal kesamaan, karena sementara konsepsi kenabian Yahudi dan Islam dan kitab sucinya yang berdekatan, namun bahwa Kekristenan agak berbeda, di mana pendiri agamanya (Yesus) dipandang sebagai inkarnasi dari Keilahian, berbeda dalam banyak hal baik dari materi Yahudi dan pandangan Islam. Perbedaan ini sangat penting secara filosofis seperti yang kita lihat dalam perlakuan filosofis inkarnasi dalam filsafat Kristen dan “filsafat kenabian” dalam konteks Islamnya. [66]

Untuk memberikan argumen mengapa kita perlu untuk mencari saran atau resep alternatif untuk memecahkan masalah dan krisis modernisme, saya menemukan beberapa artikel yang baik dan jelas dari situs The Center of Science Sacred (http://www.centerfor sacredsciences.org) bellow:

Mengapa Kita Perlu Pandangan Dunia yang Baru?

Ketika astronom Polandia Nicholas Copernicus, hampir lima ratus tahun yang lalu, mengusulkan bahwa matahari-lah, dan bukan bumi, yang menjadi pusat alam (tata surya), ia memulai sebuah revolusi ilmiah yang telah mengubah kehidupan manusia dengan cara yang dramatis dan belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk satu hal, ilmu pengetahuan dan teknologi (sains-tek) baru yang dilahirkan ini mungkin telah membuat perbaikan yang cepat dalam bidang-bidang seperti pertanian, manufaktur, obat-obatan, perjalanan, komunikasi dan pendidikan, yang kesemuanya telah memperbaiki standar hidup untuk sebagian besar populasi dunia. Namun, karena seperti yang mungkin menyambut perkembangan ini, hal ini tidak datang tanpa harga. Seiring dengan manfaatnya yang tidak dapat dipungkiri, sains-teknologi ini telah juga membawa di belakangnya sejumlah masalah yang tidak terduga. Kelebihan dan kepadatan penduduk, pencemaran lingkungan, degradasi ekologi (menurunnya kualitas lungkungan), pemanasan global, dan penemuan senjata pemusnah massal, semuanya telah mengancam kita dengan bencana yang jauh bisa lebih besar daripada apa pun akibat perkembangan ilmu pengetahuan yang telah begitu jauh terjadi. [67]

Bagaimanapun yang lebih mengkhawatirkan, adalah kenyataan bahwa meskipun solusi teknologi bagi banyak masalah-masalah ini sudah diketahui, tampaknya kita semakin tidak mampu mempersiapkan diri untuk melaksanakannya. Kelumpuhan psiko-spiritual ini menjadi poin kolektif kami, yang lebih halus namun kita harus tidak/kurang serius membayarnya dengan harga mahal, karena sains-teknologi dengan tidak perlu diragukan lagi, telah merusak keimanan seperti – hilangnya bantalan moral dan spiritual.

Sebenarnya, kerugian ini tidak datang begitu banyak dari sains per-se (yang, tegasnya, hanyalah merupakan metode), tapi dari kita telah menerima pandangan dunia materialisme-nya yang menjadi basis sains-teknologi.  Masalah pada pandangan dunia materialisme ini adalah bahwa banyak penjelasan tentang bagaimana kosmos bekerja, bertentangan penjelasannya dengan yang  pandangan-dunia agamis yang lebih tua, yang telah memberikan panduan moral dan spiritual bagi sebagian besar sejarah umat manusia. Apalagi, mengingat keberhasilan yang tampak dari penjelasan materialis itu telah menjadi lebih mengeras dan sulit bagi orang yang terdidik untuk menganggap serius setiap penjelasan keagamaan.  Apakah para petani modern, misalnya, akan mengandalkan doa-doa dan mantera, daripada pupuk untuk meningkatkan hasil panen? Apakah ibu-ibu modern akan memilih ritual perdukunan tinimbang obat antibiotik untuk mengobati infeksi anaknya?

Perbedaan antara penjelasan yang ditemukan di dalam pandangan-dunia materialis ini dengan pandangan-dunia agamis mungkin tidak dengan sendirinya menjadi masalah, jika bukan karena fakta bahwa fungsi penting dari setiap pandangan dunia adalah untuk memberi pengikutnya pertimbangan internal yang koheren dan konsisten tentang realitas. Akibatnya, bila kita mempertanyakan satu aspek dari pandangan dunia tentu menimbulkan pertanyaan terhadap semua aspek lainnya juga. Dalam merusak penjelasan agama tentang cara kerja kosmos (alam Semesta), pandangan dunia materialisme juga menggerogoti nilai-nilai moral dan spiritual agama-agama tradisional yang telah mapan. Dan, yang membuat keadaan menjadi lebih buruk, karena pandangan dunia materialisme tidak mengakui dimensi spiritual dari kosmos, maka pada dasarnya tidak mampu memasok nilai-nilai spiritual dan moral itu sendiri.

Akibatnya, hari ini banyak orang (terutama di Barat) yang telah meninggalkan pandangan-dunia agama mereka sama sekali dan hidup dalam kekosongan moral dan spiritual. Orang lain telah menyerah kepada sejenis ‘skizofrenia filosofis’ di mana mereka bergantung pada pandangan dunia materialisme untuk pelaksanaan urusan praktis mereka, sementara mencari pandangan dunia agama yang bertentangan untuk membimbing kehidupan rohani mereka.

Pertanyaannya, kemudian, secara alami muncul: “Apakah mungkin untuk menciptakan pandangan dunia baru yang dapat menjelaskan dengan baik keberhasilan ilmu pengetahuan modern sambil mempertahankan nilai-nilai fundamental moral dan spiritual? Sebelum menjawab pertanyaan penting ini, bagaimanapun, kita pertama harus jelas mengenai apa pengertian pandangan dunia itu.

Definisi Pandangan Dunia (Worldview)

Secara ringkas, pandangan dunia adalah sebuah konsep yang koheren, yang disepakati tentang peta kosmos. Secara lebih spesifik, pandangan dunia dapat memasok suatu komunitas tertentu dengan:

  • asumsi dasar tentang apa yang nyata dan apa yang tidak nyata, dan kriteria untuk membedakan apa yang benar dari apa yang salah;
  • terminologi untuk membahas asumsi-asumsi dasar dan kriteria tersebut, dan untuk menarik kesimpulan logis darinya;
  • nilai-nilai yang memberikan bimbingan moral dan spiritual bagi tindakan-tindakan kita;
  • contoh-contoh historis yang berfungsi sebagai model peran tentang bagaimana asumsi-asumsi dasar dan nilai-nilai bisa berhasil digunakan dalam rangka untuk memberikan makna hidup kita dan koherensinya.

Apakah kita menyadarinya atau tidak akan hal itu, semua kita memiliki pandangan dunia. Sebagian besar dari kita menerima pandangan dunia kita dari masyarakat di mana kita dilahirkan dan tetap berkomitmen untuk itu sepanjang hidup kita. Beberapa dari kita, bagaimanapun juga, menghadapi situasi atau memiliki pengalaman yang tidak dapat dijelaskan dengan pandangan dunia yang kita warisi tersebut. Ini biasanya berupa endapan krisis kepercayaan yang dapat diselesaikan dalam satu dari dua cara: entah kita sampai pada pemahaman yang lebih dalam tentang pandangan dunia yang  kita warisi, yang menunjukkan bagaimana dapat menjelaskan situasi anomali (keanehan) atau pengalaman, atau kita mengubahnya dengan pandangan dunia lain, yang dianut oleh sebuah komunitas yang berbeda, yang telah memiliki penjelasan built-in untuk anomali yang kita temui.

Kadang-kadang seluruh anggota komunitas akan menghadapi anomali yang tidak dapat dijelaskan oleh pandangan dunia yang ada. Ketika ini terjadi, masyarakat secara keseluruhan memasuki masa krisis. Orang-orang di masyarakat mulai kehilangan indera arah. Mereka tidak lagi merasa jelas tentang apa yang mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukannya. Pada titik ini, anggota kaum intelektual masyarakat mulai mencari pandangan dunia baru. Jika mereka gagal untuk menemukannya, masyarakat akhirnya akan hanyut ke sejenis disintegrasi (perpecahan) yang digambarkan oleh Yeats sebagai: “Hal-hal yang berantakan, pusat tidak bisa menahannya; anarki dilepaskan atas dunia.” Konflik antara pandangan dunia ilmu pengetahuan materialisme dan pandangan-dunia agama tradisional telah membawa umat manusia hanya kepada krisis seperti itu, dan krisis ini hanya bisa diselesaikan melalui penciptaan pandangan dunia baru.

Kami, penulis buku ini dan beberapa sarjana yang ada di Center for Sacred Sciences,  percaya adalah sangat mungkin untuk menciptakan pandangan dunia baru di mana kebenaran sains dan agama dipandang sebagai cara yang cocok (kompatibel) dalam melihat Realitas dasar yang sama. Ada beberapa alasan mengapa kami percaya hal  ini mungkin:

A New Worldview

Beberapa ilmuwan di Center for Sacred Sciences (Pusat Ilmu Suci), sama seperti kami, percaya adalah mungkin untuk menciptakan sebuah pandangan dunia baru di mana kebenaran sains dan agama dipandang sebagai cara yang kompatibel (cocok satu sama lain) dalam melihat Realitas dasar yang sama.[68] Ada beberapa alasan mengapa kami percaya hal ini mungkin:

1. Fisika Modern Bertentangan Materialisme

Alasan pertama adalah bahwa munculnya fisika kuantum pada kuartal pertama abad kedua puluh telah memberikan gambaran bahwa pandangan dunia materialisme ilmiah tidak dapat lagi dipertahankan. Asumsi dasar dari pandangan dunia materialisme adalah bahwa benda-benda fisik ada secara independen dari kesadaran, yang dianggap sebagai epiphenomenon hanya proses fisik yang terjadi di otak. Menurut fisika kuantum, bagaimanapun, ini tidak benar. Benda-benda tidak ada dalam cara yang pasti terlepas dari kesadaran subjek yang mengamati mereka. Kedua aspek realitas kesadaran dan kesadaran-benda tidak dapat dipisahkan.[69]. Dengan demikian, bukti ilmu itu sendiri bertentangan dengan perhitungan murni materialistik alam semesta. Akibatnya, ilmu pengetahuan telah harus meninggalkan pandangan dunia materialism-nya dan saat ini sedang mencari beberapa penjelasan lain untuk hasil temuannya.

Ini tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan saat ini telah memberikan bukti untuk pandangan dunia spiritual, sebagaimana beberapa pemikir modern secara prematur menyimpulkannya. Bagaimanapun ini berarti bahwa materialisme adalah tidak pernah dapat lagi memberikan dasar yang kuat untuk ilmu pengetahuan. Dengan demikian, suatu hambatan yang besar untuk setiap pemulihan hubungan antara sains dan agama telah efektif telah dihapus.

2. Kesepakatan Perjanjian antara Mistikus

Alasan kedua kita percaya adalah mungkin untuk menciptakan pandangan dunia yang komprehensif berasal dari perkembangan modern dalam pemahaman kita tentang perbedaan antara tradisi-tradisi keagamaan. Seringkali konsep agama sendiri telah bertentangan dengan satu sama lain, masing-masing mengklaim bahwa pandangan dunia tertentu sendiri adalah satu-satunya yang sah. Tapi situasi ini, juga telah berubah. Selama beberapa dekade terakhir para ulama-ilmuwan dan para penerjemah telah menyediakan sebuah badan pengetahuan yang semakin besar dari teks asli kitab suci yang diambil dari semua tradisi agama besar di dunia. Dari perspektif global yang diberikan oleh studi perbandingan teks-teks ini, kita sekarang dapat mulai melihat bahwa, sementara para filsuf dan teolog dari berbagai tradisi ini masih memiliki banyak perbedaan pendapat tentangNature ofUltimate Reality, hal ini tidak terjadi dengan mistik (dunia kebatinan/ruhaniyah/spiritualitas). Sebaliknya, kesaksian mereka menunjukkan tingkat kesepakatan yang sangat tinggi. Antara lain, mereka semua bersikeras bahwaNature of Ultimate Reality bisa langsung direalisasikan meskipun Gnosis (Ma’rifat/Pencerahan) yang melampaui segala pandangan dunia, bahkan dari orang-orang tradisi mereka sendiri. Jika kita mengambil Realisasi mistis ini atau Gnosis untuk membentuk wawasan inti yang memunculkan berbagai tradisi agama, maka semua yang diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan agama adalah untuk membuat sambungan antara sains dan mistisisme (Irfan).

__________

[47] Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from its Origin to the Present, State University of New York Press, 2006

[48] Kita harus ingat bahwa Pythagoras mendirikan sebuah masyarakat religious di Croton yang berpusat di sekitar Apollo, dam dia menyediakan peraturan kehidupan seperti para Nabi lain para pendiri agama-agama. Lihatlah Kenneth S. Guthrie, kompilasi dan terjemahan., The Pythagorean Sourcebook and Library, (Grand Rapids, MI: Phanes, 1987); khususnya lihatlah “The Life of Pythagoras” oleh  lamblichus.pp.57ff. di mana di sana bahkan ada perbandingan bahwa Pythagoras sebagai makhluk ilahiyah dan diidentifikasikan sebagai Dewa Apollo itu sendiri (p.80). Lihat juga misalnya karya agunhg Peter Kingsley, Ancient Philosophy, Mystery and Magic (Oxford: Clarendon, 1995), yang terkait dengan baiuk Pythagoras maupun Empedocles

[49] Lihat Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom (Inverness, CA: The Golden Sufi Center, 1999); and Reality,(Inverness, CA: The Golden Sufi Center, 2004). Untuk kutipan berikutnya yang akan diambil dari Peter Kingsley,In the Dark Places of Wisdom, and Peter Kingsley, Reality

[50] Dalam apa yang diikuti tentang  Parmenides, Seyyed Hossein Nasr telah menunjukkan dalam karya Kingsley, Reality. Pp. 31ff

[51] Lihat Seyyed Hossein “Spiritual Chivalry”, in ed. S.H. Nasr, Islamic Spirituality, Vol. 2 (New York: Crossroad, 1991), pp.304-15

[52] Lihat juga:  ‘Allamah Sayyid Muhammad Husayn Tabataba’I, Ali wa al-Hikmat al-ilahiyyah, in his Majmu a-yi rasa’il, Syayyid Hadi Khusrawshahi (ed). (Tehran: Daftar-i- Nashr-I farhang-I Islami, 1370, A.H. [solar], pp. 191ff

[53] Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom, p.33

[54] Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom p.40

[55] Martin Lings, The Secret of Shakespeare (New York: Inner Traditions International, 1984), p. 18

[56] Di dalam teks Islami, Nabi Idris atau Ukhnukh (Enoch), yang diidentikkan dengan Hermes, telah diberi gelarAbu al-Hukama,atau Bapak Para Filosof,.  Lihat “Hermes and Hermetic Writing in the Islamic World”in Nasr, Islamic Life anf Thought , (Chicago: ABC International Group, 2001), pp.102-19

[57] Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom.,p.46

[58] Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom.p.87

[59] Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom p.62

[60] Ibid., p.320. See also Kingsley, Ancient Philosophy, Mysticism, and Magic, in Passim.

[61] Kingsley, Reality, P.323

[62] See, S.H. Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines  (Albany: State University of New York Press, 1993), Chapter 15, “Nature and The Visionary Recitals,” pp.263-74

[63] Lihat Huston Smith, Forgotten Truth (San Fransico: Harper, 1992), especially chapter 3, “Levels of Selfhood,” pp.60-95; also Rene Guenon, The Multiple States of being, Trans. Joscelyn Godwin (Burdett, NY: Larson, 1984).

[64] Lihat Huston Smith, Forgotten Truth  (San Francisco: Harper, 1992), especially chapter 3, “Levels of Reality,” pp. 34-59; and Chapter 4, “Levels of Selfhood,” pp.60-95; also Rene Guenon, The Multiple Stages of Being,Trans. Joscelyn Godwin (Burdett, NY: Larson, 1986).

[65] Kita hanya perlu membaca tentang ajaran besar tokoh bijaksana Sioux Elk Hitam untuk menyadari filosofi yang mendalam apa yang ada meskipun secara lisan antara orang-orang untuk siapa kenabian adalah realitas pusat kehidupan spiritual mereka. Lihat Joseph E. Browrn, The Pipe Suci (New York: Pengguin Metaphysical Library, 1986).

[66] Henry Corbin telah sangat peduli dengan issue ini dalam banyak karyanya yang kita akan beralih kemudian setelah volume ini.

[67] An New Worldview, http://www.centerfor sacredsciences.org,  accessed at October  2010

[68] Dalam Pandangan dunia Islami kita percaya bahwa alam semesta, manusia dan Tuhan adalah dalam SATU REALITAS (In Islamic worldview we believe that universe, man and God are in One Reality). Inilah konsep “Wahdat al-Wujud” dalam konsep ‘Arabi, or konsep “Al-Shalat al-Wujud” dalam istilah Mulla Sadra

[69] Dalam ajaran Mulla Sadra, ini diterangkan dengan konsep  “Itihad baina Aqil wa Ma’qul

Menuju Paradigma Sains Islam Nusantara

Taut Posted on Updated on

Menuju Paradigma Sains Islam Nusantara

By:

Ahmad Yanuana Samantho, MA

 AND ALLAH HAS BROUGHT YOU FORT FROM THE WOMBS OF YOUR MOTHER – YOU DID NOT KNOW ANYTHING – AND HE GAVE YOU HEARING AND SIGHT AND HEARTS THAT YOU MAY GIVE THANKS.”

( QS AN-NAHL, 16: 78 )

Latar: Krisis Multidimensional Akibat Modernisme-Materialisme

Secara hipotetis-filosofis dapat dikatakan bahwa krisis multidimensional mutakhir yang dihadapi umat manusia saat ini adalah efek negatif dari Modernisme dan Postmodernisme yang telah semakin meningkat dan terbukti secara bersamaan dari hari ke hari di era kontemporer ini. Sayangnya tidak cukup jumlah orang yang menyadari bahwa krisis multidimensional global dalam seluruh kehidupan asasi manusia hari ini benar-benar berakar lebih dalam pada  paradigma filosofis Modernisme mereka.

Masalah utama modernisme (dan juga postmodernisme) pada kehidupan manusia modern disebabkan oleh dominasi pandangan dunia sekuler-materialistik (materialisme, humanisme sekuler dan sekularisme) yang bercampur dengan agnostisisme, antropho-sentrisme dan ateisme, sebagai alat dan “filosofi dasar” ideologi materialisme liberalisme-kapitalisme.[1]

Pada gilirannya dominasi ini modernisme sekuler-materialistik ini telah menyebabkan banyak masalah krusial dan gawat bagi kehidupan manusia di bumi. Krisis multidimensi  yang terjadi  dari hari ke hari, telah menakutkan sebagian besar orang di dunia saat ini, tanpa manusia modern dapat memecahkan masalah mendasar mereka secara tuntas dan komprehensif. Masalah ini akan penulis elaborasi  dalam deskripsi analitis berikutnya tentang masalah modernisme,  kritik modernisme dan postmodernisme juga dan solusi alternatif untuk masalah tersebut menurut sudut pandang Seyyed Hossein Nasr.

Dalam mengambarkan kondisi kehidupannya, menurut Nasr, manusia modern telah terusir ke tepian lingkaran roda realitas eksistensialnya (keberadaan nyatanya), yang jauh dari porosnya. Ini adalah krisis eksistensial yang diderita oleh manusia modern, karena mereka melupakan realitas diri mereka sendiri. Nasr menulis:

“Dunia masih terlihat oleh diatur kekuatan dan elemen yang  kosong dari suatu horizon spiritual, bukan karena tidak hadirnya cakrawala spiritual  seperti  itu, tapi karena mereka  seringkali memandang lanskap kontemporernya  seperti manusia yang tinggal di tepian lingkaran roda eksistensi dan karena itu memandang segala sesuatu dari pinggiran lingklaran roda. Dia tetap acuh tak acuh terhadap jari-jari roda dan benar-benar tidak menyadari Sumbu dan Pusatnya, yang bagaimanapun tetap tak pernah diakses ke tengahnya dari pinggirannya.”

“Masalah kehancuran yang dibawa teknologi kepada lingkungan, yang menyebabkan krisis ekologi dan sejenisnya, semua itu  adalah masalah akibat penyakit amnesia atau lupa diri yang diderita manusia modern serta post-modern. Manusia modern telah lupa siapa hakikat jati dirinya. Hidupnya berada di pinggiran lingkaran eksistensinya sendiri, walau ia telah mampu untuk mendapatkan kuantitas pengetahuan yang banyak tapi dangkal kualitas ilmu pengetahuan dunianya. Dia telah memproyeksikan citra kulit luaran dan dangkal pengetahuan tentang dirinya mengenai dunia.”[2]

Menurut Nasr,  di Barat manusia pertama-tama memberontak terhadap pengaruh Langitan akibat pengaruh falsafah-ideologi humanisme zaman Renaissance di Eropa Abab 16; pada saat awal ilmu modern hadir mewujud. Antropologi humanistik renaissance adalah latar belakang yang mendorong Revolusi Ilmiah pada abad ketujuh belas dan penciptaan Ilmu pengetahuan (science) yang meskipun di satu sisi bersifat non-manusiawi, dalam arti lain, akal rasional manusia dianggap yang paling anthropomorphic dan bentuk ilmu pengetahuan yang paling mungkin, itu yang menjadikan nalar humanis dan data empiris yang hanya didasarkan pada indera manusia sebagai satu-satunya kriteria untuk keabsahan (validitas) semua pengetahuan.[3]

Nasr juga menyatakan bahwa dekadensi kemanusiaan di zaman modern ini disebabkan oleh hilangnya kemanusiaan dari humaniora di zaman modern ini, yang disebabkan oleh karena manusia  telah kehilangan pengetahuan langsung tentang dirinya sendiri dan juga tentang Diri yang sejatinya, yang sebenarnya ia selalu memilikinya, dan karena ketergantungannya pada sebuah sudut pandang luar, sebuah pengetahuan tentang dirinya sendiri yangsupevisial (dibuat-buat), yang ia berusaha untuk mendapatkan dari luar lingkaran. Secara harfiah adalah pengetahuan “dangkal” yang diambil dari pingir lingkaran dan tanpa sebuah kesadaran diri akan poros roda dan jari-jari yang dapat menghubungkan dia seperti sinar cahaya matahari ilahiah.[4]

Modernisme, sebagai sebuah pandangan dunia materialistik-sekuler dan paradigma filosofis yang masih dominan pada sebagian besar kebanyakan orang di dunia sejak zaman modern sampai sekarang, secara hipotetis atau sangat diasumsikan oleh Nasr, telah menyebabkan banyak masalah dan mendorong krisis multidimensional bagi kehidupan manusia. Masalah-masalah ini akan dipelajari dan dielaborasi lebih jelas dan dikaji secara  kritis bukti-buktinya dalam pandangan cahaya Filsafat Islam dan metodologinya (secara ontologis & epistemologis) oleh penulis.

Masalah kedua yang muncul sebagai reaksi ekstrim terhadap modernisme – adalah munculnya “fundamentalisme” ekstrim  paham keagamaaan di mana mereka melakukan penafsiran harfiah (literal) yang salah dan aplikasi religius yang salah (terutama dalam aspek eksoterisme/kulit luaran Islam) yang diajarkan hari ini. Pada satu sisi hal ini juga akhinya telah menyebabkan berbagai bencana terorisme dan kekerasan yang mengatasnamakan  ajaran Agama Islam dan Tuhan.

Apa yang benar-benar terjadi pada modernisme, berapa banyak aspek kehidupan modern telah menjadi krisis kemanusiaan dan kehancuran? Bagaimana hal ini dapat menyebabkan kerusakan dan mendorong krisis multidimensional manusia modern sampai beberapa waktu terakhir? Apa masalah utama dan karakteristik prinsip dalam paradigma modernisme yang menyebabkan krisis multidimensional global manusia modern saat ini, termasuk gerakan kekerasan fundamentalisme literal keagamaan ?

Setelah kita mengidentifikasi dan menguraikan permasalahan & krisis modernisme, seberapa jauh kita bisa menawarkan paradigma alternatif baru untuk memecahkan masalah tersebut? Apa itu paradigma alternatif baru yang dapat memecahkan masalah tersebut menurut Seyyed Hossein Nasr? Berapa jauh terkait dengan beberapa kesadaran baru, Sophia Perrenialism (kebijaksanaan abadi) dan mistisisme (ilmu suci tradisional) yang telah meningkat dan terlahir kembali di waktu kontemporer baru-baru ini? Bagaimana dan mengapa relevan dengan Teori Fisika Quantum dalam melihat kosmologi baru? Dapatkah filsafat, tradisi dan agama bersatu dan akan menyelaraskan dalam satu paradigma baru holistik-integral (terpadu dan menyeluruh) di masa depan?

Apa yang disarankan oleh Seyyed Hossein Nasr ini tentang pentingnya Traditional Sacred Science (Ilmu Pengetahuan Sakral/Suci Tradisional) serta Sophia Perennialisme (Kearifan Kuno-Abadi) ini, ternyata menurut hipothesis penulis menemukan relevansi dan signifikasinya dengan warisan kearifan lokal asli Nusantara atau dengan nilai-nilai dan ajaran tradisional sakral/suci Nusantara yang telah menjadi semacam Sophia Perennialism,yang mungkin tak hanya akan bermanfaat bagi masa depan bangsa kita, tetapi juga akan bermanfaat bagi masa depan kemanusiaan sedunia.

 Tujuan

Hasil penelitian penulis yang ditulis dalam buku ini mencoba untuk mengetahui, mengidentifikasi dan menganalisis berbagai bencana dan krisis multidimensi global manusia modern dan apa penyebab utamanya secara prinsipil?

Setelah kita mengidentifikasi dan mengelaborasi problema dan krisis modernisme, penulis akan berusaha mencari alternative paradigma baru untuk memecahkan berbagai masalah ini dari akarnya berdasarkan resep yang disarankan oleh Seyyed Hossein Nasr di abad modern ini dan juga oleh para bijak berstari serta para orang suci serta Nabi Allah sepanjang sejarah kemanusiaan di dunia ini.

Penelitian yang mendahului proses penulisan buku ini yang didahului oleh penelitian thesis magister filsafat Islam penulis, juga akan menganalisa, sejauh mana hal ini terhubung dengan beberapa kesadaran baru, Sophia perennialism dan mysticism (Traditional Sacred Science) yang telah bermunculan dan lahir kembali di zaman kontemporer mutakhir ini?  Bagaimanakah hal in terkait dan relevan dengan kemunculan teori fisika baru Quantum Physics dan pandangan kosmologis baru? Dapatkah filsafat  (termasuk science) dan agama bersatu dan menjadi harmonis dalam sebuah paradigma baru yang integral holistic di masa depan.

Jawaban nyata atas pertanyaan dan masalah ini, mudah-mudahan akan menawarkan layanan bagi basis intelektual, filosofis dan spiritual untuk memecahkan masalah secara radikal dan fundamental. Dengan kata lain, penelitian ini akan menyajikan saran untuk mengaktualisasikan atau meng-aktivasi “pergeseran paradigma” menuju paradigma yang holistik dan integral yang mendekati untuk memahami Realitas: integrasi dan harmonisasi antara Tuhan Allah, manusia dan alam semesta, dalam sudut pandang  Filsafat Islam atau pandangan dunia Islam.

Penelitian ini juga mencoba untuk mengungkap dan mendeskripsikan beberapa perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan penemuan terbaru seperti terkait dengan teori Fisika Quantum dan beberapa fakta yang mengarah untuk membuka realitas alam semesta dan spiritual makhluk yang tidak terpisahkan. Sejalan dengan kemajuan ilmu baru pada Quantum Physic, penelitian ini juga mencoba untuk menyajikan kesinambungan dan hubungan antara fakta & teori dengan beberapa pendekatan pengajaran mistis yang dilayani oleh tasawuf dan Irfan (Mistisisme Islam) dan mistisisme agama-agama lainnya. Penelitian ini juga akan menyajikan dan menguraikan dan wacana penting tentang hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama sebagai konsekuensi dari penelitian inti keseluruhan dalam penulisan thesis ini.

Signifikansi

Buku yang dikembangkan dari hasil penelitian Program Magister Filsafat Islam (2010) ini tentu sangat penting dan akan memberikan banyak manfaat dan signifikansi untuk kehidupan sehari-hari saat ini dan masa depan kita. Setidaknya hasil penelitian ini sangat signifikan untuk meningkatkan dan membuat dekonstruksi yang berlanjut pada reformulasi (dan rekonstruksi) dari paradigma kita secara filosofis. Pada gilirannya, pada tingkat epistemologi dan aksiologi, pendekatan paradigma holistik dan integral ini dan nilai-nilai dalam pencerahan Filsafat Islam dan Tasawuf Islam (Irfan & Tasawuf) dapat memecahkan banyak masalah manusia modern secara bertahap, baik untuk tujuan individu dan juga dalam sistem sosial-ekonomi-politik-budaya dan di dalam supremasi percerahan terbaru, dan peradaban yang lebih baik.

Lebih spesifik, manfaat yang saya harap dapat tercapai setelah thesis dan buku ini diselesaikan adalah penelitian ini dapat berfungsi sebagai pedoman untuk menyusun ulang filsafat ilmu kita (atau minimal epistemologinya) dan kemudian dapat menjabarkan pandangan dunia baru dan sebuah ideologi yang dapat memainkan peran penting sebagai pedoman untuk proyek rekonstruksi kurikulum ilmu baru dan untuk melakukan penulisan ulang semua isi buku teks dalam ilmu pengetahuan dan teknologi untuk keperluan pendidikan dan akademik  menuju rekonstruksi peradaban manusia baru dalam cahaya misi Islam Rahmatan lil ‘Alamin.

Tentu saja ada telah ada beberapa studi yang berkaitan dengan kritik pada modernisme menurut pandangan Seyyed Hossein Nasr, seperti apa yang teman penulis di ICAS Jakarta, Humaedi telah tulis dalam thesisnya berjudul: “Konsep Nasr dalam Knowledge: Pengetahuan Sakral, kontribusi kepada Epistemologi Modern”.

Tentu saja bahwa beberapa studi yang juga berkaitan dengan pandangan Seyyed Hossein Nasr dan kritiknya kepada modernisme dan post modernisme sangat berguna untuk penelitian penulis sebagai referensi, terutama untuk  pemahaman dan deskripsi latar belakang thesis penulis & rumusan masalah yang  akan penulis pelajari.

Penelitian thesis penulis lebih fokus pada relevansi resep Nasr atau saran untuk mempromosikan ilmu pengetahuan suci atau pandangan tradisional agamis dan mistisisme atau esoterisme sebagai kebijaksanaan abadi (Sophia Perennis) untuk memecahkan masalah modernisme dan postmodernisme. Paradigma alternatif  tentang Sacred Science dan Perennial Wisdom ini akan diikuti oleh elaborasi penulis terkait dengan kecenderungan terbaru dan wacana dalam pengembangan atau penemuan ilmu fisika baru terutama dalam teori fisika kuantum yang memiliki hubungan yang kuat dengan kesadaran (consciousness) yang baru dalam ilmu: filsafat ilmu pengetahuan integral dan holistik dan pandangan agama (Paradigma holistik-Integral). Pendekatan ini dan pilihan untuk topik ini, saya pikir masih unik dan memiliki studi asli di bidang penelitian Filsafat Islam.

Sumber utama saya untuk penelitian thesis ini adalah beberapa buku penting dan mendasar di antara keduanya dari Seyyed Hossein Nasr seperti “The Plight of Modern Man” and “The Need for A Sacred Science”,“The Knowledge and The Sacred”,  “Ideal and Reality” and “Islamic Philosophy from Its Origin to the Present, Philosophy in The Land of Prophecy”,  dll.

Sumber-sumber primer akan dibandingkan, dielaborasi dan dikompilasi dengan sumber-sumber sekunder yang terkait dengan wacana tentang wacana Perennialisme, ilmu pengetahuan dan agama, teori fisika baru Quantum Physic, seperti: “The Greatest Achievement in Life: Five Traditions of Mysticism, Mystical Approaches to Life”, oleh R.D Krumpos; “Tawheed and Science: Essays on The History and Philosophy of Islamic Science” oleh Osman Bakar; “Nature, Human Nature and God, …”, (terjemahan Indonesianyta berjudul: “Menemukan Tuhan dalam Sains Kontemporer dan Agama”) oleh  Ian G Barbour; “The Web of Live, A New Synthesis of Mind and Matter”, oleh Fritjof Capra; and “The Holy Qur’an and The Sciences” by Mehdi Golshani;   “Revolusi Integralisme Islam : Merumuskan Paradigma Sains dan Teknologi Islami”,  oleh  Armahedi Mahzar,  sebagaimana dapat kita lihat dalam daftar pustaka saya (referensi) di halaman terakhir dari thesis ini, serta beberapa artikel yang memuat kearifan lokal Nusantara sebagai warisan budaya dan Peradaban Adiluhung Nusantara yang masih tersisa, yang bisa menjadi contoh betapa Leluhur Nusantara sudah mewariskan Kearifan Perennial dan Traditional Sacdred Science tersebut.

MASALAH KRISIS MODERNISME:

Krisis Multidimensional yang Disebabkan oleh Paradigma Ontologis–Epistemologis    Materialialisme-Sekulerisme Barat dalam Ilmu Dan Kebudayaan

. Pengertian Modernisme

Modernisme yang masih memainkan peran hegemonik dan berpengaruh besar di dunia saat ini, telah mendapatkan dasar gerakannya  sejak Renaissance di Perancis (abad ke-14-17 M) dan beberapa revolusi sosial-politik pada setengah pertama abad kesembilan belas di Eropa.

Modernisme yang  kita kaji di sini adalah kompilasi dari beberapa filsafat modern barat. Dalam pemahaman umum:

“Modernisme, dalam definisi yang paling luas, adalah pemikiran modern, dan karakter yang mudah menjadi usang atau baru dalam praktek ekonomi, sosial dan politik. Lebih khusus lagi, istilah modernism ini  menggambarkan seperangkat kecenderungan budaya dan berbagai gerakan budaya yang terkait, yang awalnya timbul dari perubahan masyarakat Barat dalam skala luas dan jauh jangkauannya di akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh. Istilah ini mencakup kegiatan dan hasil dari mereka yang meninggalkan hal-hal yang ‘tradisional’ dalam bentuk seni, arsitektur, sastra, keyakinan agama, organisasi sosial dan kehidupan sehari-hari yang merupakan  kondisi dari sepenuhnya muncul dunia industri.”[5]

Modernisme menolak kepastian yang tersisa dari pemikiran Pencerahan (Enlightenment), dan juga menolak keberadaan (eksistensi) Tuhan Yang Maha Pengasih, Tuhan Pencipta Yang Maha Kuat[6]. Ini bukan untuk mengatakan bahwa semua modernis atau gerakan modernis menolak semua agama atau semua aspek pemikiran Pencerahan, melainkan modernisme yang dapat dilihat sebagai selalu mempertanyakan aksioma zaman sebelumnya.

Karakteristik penting dari modernisme adalah kesadaran diri. Hal ini sering kali menyebabkan eksperimen dengan berbagai bentuk, dan pekerjaan yang menarik perhatian pada proses dan bahan yang digunakan (dan kecenderungan lanjut abstraksi)[7]. Saran paradigmatik penyair Ezra Pound adalah untuk “Make it New!” Apakah motto “membuat yang baru” dari kaum modernisme merupakan era sejarah baru yang bisa diperdebatkan. Filsuf dan komposer Theodor Adorno memperingatkan kita:

“Modernitas adalah sebuah kategori kualitatif, bukan kronologis, karena hal seperti itu tidak dapat direduksi menjadi bentuk abstrak, dengan kebutuhan yang sama itu harus kembali pada koherensi permukaan konvensional, penampilan harmoni, urutan yang dikuatkan hanya dengan replikasi.” [8]

Adorno ingin kita memahami modernitas sebagai penolakan terhadap rasionalitas palsu, harmoni, dan koherensi pemikiran, seni, dan musik era Pencerahan dari Jerman. Tapi masa lalu membuktikannya lengket. Perintah umum Pound yang penting untuk membuat baru, dan nasihat Adorno untuk menantang koherensi palsu dan harmoni, menghadapi penentangan TS Eliot tentang hubungan antara seniman ke tradisi. Eliot menulis:

“Kita sering akan menemukan bahwa tidak hanya yang terbaik, tapi bagian yang paling individu dari karya seorang penyair, mungkin orang-orang di mana penyairnya mati, nenek moyangnya menegaskan keabadian mereka yang paling penuh semangat.” [9]

Sarjana sastra Peter Childs menyimpulkan kompleksitasnya:

“Ada paradoks jika tidak ada kecenderungan menentang ke arah posisi revolusioner dan reaksioner, takut terhadap hal yang baru dan menyenangkan pada hilangnya yang tua, nihilisme dan antusiasme fanatik, kreativitas dan keputusasaan.” [10]

Oposisi ini melekat pada modernisme: itu adalah yang dalam arti luas penilaian budaya masa lalu yang berbeda dengan zaman modern, pengakuan bahwa dunia menjadi lebih kompleks, dan bahwa “otoritas final” lama (seperti: Tuhan, pemerintah, ilmu pengetahuan, dan penalaran) yang akan menjadi tunduk pada pengawasan kritis intens.

Interpretasi mutahir tentang modernisme sangatlah bervariasi. Beberapa reaksi membagi abad ke-20 ke dalam modernisme dan postmodernisme, sedangkan yang lainnya melihat mereka sebagai dua aspek dari gerakan yang sama.

Untuk memahami resume singkat tentang modernisme, saya mengutip dari penjelasan tentang Filsafat Barat Modern dari Sang Dosen di The Islamic College for Advanced Study (ICAS) Jakarta, 2004, Dr. Fransisco Budi Hardiman, di bawah ini: [11]

  • Arus Utama dan Karakteristik Filsafat Modern:

Menurut Fransico Budi Hardiman, Ph.D dalam kuliah-kuliahnya di ICAS Universitas Paramadina tahun 2004 yang penulis ikuti, ada beberapa arus utama dalam Filsafat Barat Modern (Modernisme), yaitu:

  1. Rasionalisme (Descartes, Spinoza, Leibniz, Malebranche, Pascal)
  2. Empirisme (Hobbes, Locke, Berkeley, Hume)
  3. Kritisisme (Kant)
  4. Idealisme (Fichte, Schelling, Hegel, Schopenhauer)
  5. Materialisme (Feuerbach, Marx)
  6. Positivisme (Comte, Mach)
  7. Eksistensialisme (Kierkegaard)
  8. Vitalisme (Nietzsche)

Modern” berarti  yang “baru” dan “sekarang”. Modern adalah orientasi temporal  ‘di sini dan sekarang’ [tidak ada ‘di sana dan di masa lalu’ dari mentalitas abad pertengahan]. Istilah ini berhubungan dengan konsep waktu: kemajuan linear [bertentangan dengan konsep siklus waktu]. Konsep kunci dari modernitas: “kemajuan teknologi”, “revolusi”, “pertumbuhan ekonomi”.

Tiga Karakteristik Filsafat moderen:

  1. Berpusat pada masalah kesadaran atau subjektivitas manusiawi [bertentangan dengan theo-sentrisme]
  2. Radikalisasi konsep epistemologis kritik [bertentangan dengan dogmatisme]
  3. Teleologis dan Konsep kemajuan sejarah umat manusia [bertentangan dengan status quo]
  • 1)  Filsafat Modern Adalah Filsafat Subjek:

Secara keseluruhan kita dapat melihat filsafat modern Barat sebagai program penelitian tentang masalah epistemologis dan metafisik kesadaran seperti itu [subjek atau subjectum]. Jadi Habermas menyebutkan itu filosofi Subjek [die Subjekt philosophie] [12]

  1. Asal usul kesadaran (misalnya Descartes dan Locke)
  2. Perkembangan kesadaran (misalnya Hegel, Kierkegaard, Comte)
  3. Runtuhnya kesadaran (misalnya Schopenhauer, Nietzsche)
  • Kritik Sebagai Konsep Sentral Dalam Filsafat Modernisme:

Kritik adalah dianggap rata-rata dari proses emansipasi; yang  berfungsi sebagai:

  1. Refleksi pengetahuan diri (kritik pengetahuan atau epistemologi)
  2. Pemecah benteng manipulasi ideologis (kritik ideologi atau pencerahan)
  3. Perjuangan melawan ketidakadilan politik (kritik terhadap rezim atau revolusi)

Catatan: Kritik bukanlah penolakan belaka terhadap sesuatu, tapi negasi wajar dengan kondisi epistemologis yang kompleks. Ini berasal selama munculnya ilmu pengetahuan alam modern yang mereka sangat skeptis terhadap pemikiran metafisik abad pertengahan. Kritik adalah seorang pembela faktual.

3) Sejarah Memiliki Struktur Teleologis (Kebermanfaatan):

Sejarah tidak sewenang-wenang, namun memiliki akhir yang dapat diantisipasi. Para idealis Jerman mencoba menemukan skema rasional di balik peristiwa empiris sejarah. Mereka percaya bahwa ‘telos’ sejarah adalah kebebasan manusia dan masyarakatnya. Proses peradabannya cara untuk kebebasan manusia.

Marx percaya bahwa manusia (khususnya kaum proletar) adalah aktor sejarah yang mendorong ke ujungnya melalui transformasi sosial (revolusi). Baginya akhir dari sejarah adalah masyarakat tanpa kelas.

Comte menyatakan bahwa ujungnya masyarakat positivis, peradaban ilmiah dari umat manusia.

Hegel melukiskan akhir sejarah sebagai rekonsiliasi akhir gagasan dengan diri, yaitu sejarah yang tahu diri.

Catatan: pemikiran teleologis (Kebermanfaatan) adalah sumber dari utopianisme dalam teori sosial modern.

C. Renaissance dan Filsafat Humanisme [13]

Semangat filsafat modern mulai dibangun di zaman Renaissance. Kelahiran kembali peradaban Yunani dan Romawi di Italia selama abad ke-16 tercermin dalam banyak aspek budaya seperti sastra, arsitektur, filsafat, seni dll. Agen utama gerakan renaissance itu adalah kaum humanis seperti Dante, Petrarkha, Rabelais, Thomas Morus, dll. Para humanis mengajarkan kefasihan bicara, sejarah, puisi, moral (sebanding dengan sofis di Yunani kuno).

Manusia sebagai Makhluk Alami (Natural Being): budaya Renaissance memandang manusia sebagai makhluk alami. Dia tidak datang dari langit, tetapi tumbuh dari bumi dan dilengkapi dengan bakat alam dan vitalitas. Jadi figur-figur patung telanjang di galeri renaissance yang mengagungkan keindahan alami manusia ini adalah ciri khas kebangkitan kembali peradaban Yunani di Eropa.

Manusia sebagai Individu: Individu (bukan  kolektif) adalah tema sentral dari seni dan sastra dalam budaya renaissance. Dalam filsafat barat paradigma-pergeseran terjadi selama renaissance, yaitu dari pemikiran theo-sentrisme abad pertengahan menjadi pemikiran antroposentrisme (individualism) modern.

Machiavelli dan “Virtu”: teori kekuasaan Machiavelli adalah contoh dari pergeseran paradigma ini: menurut dia kekuatan politik bukanlah  karunia Tuhan Allah yang diterima melalui keberuntungan (Italia: Fortuna), tetapi sesuatu yang bisa dirampas melalui usaha manusia dan keahliannya (Italia: virtu). Manusia (dalam hal ini sang pangeran) – bukan Tuhan – adalah pusat kekuasaan, dan dari tangannya-lah daya kekuasaan tumbuh, dan stabil dengan tangannya itu, yaitu melalui strategi rasional.

Reformasi Protestan, Renaissance memahami subjektivitas manusia sebagai kemampuan rasional. Tapi reformasi menekankan iman itu sebagai subyektif. Keduanya adalah sama dalam pemberontakan mereka melawan mentalitas abad pertengahan yang berpusat pada ‘alasan obyektif’ atau ‘iman obyektif’. [14]:

  • Hubungan Antara Agama Dan Sains

Menurut Nancey Murphy, diskusi filosofis tentang hubungan antara ilmu pengetahuan modern dan agama secara historis telah cenderung berfokus pada ke-Kristenan, karena dominasinya di Barat. Hubungan antara ilmu pengetahuan dan agama Kristen telah terlalu kompleks untuk dijelaskan oleh model ‘perang’ yang dipopulerkan oleh AD White (1896) dan JW Draper (1874). Perhitungan yang memadai dari dua abad terakhir membutuhkan perbedaan antara posisi konservatif dan liberal. Kristen konservatif cenderung melihat teologi dan ilmu pengetahuan sebagai sebagian yang saling beririsan dalam  tubuh pengetahuan. Firman Allah dinyatakan (diwahyukan) di tengah ‘dua buku’:  Alkitab dan alam Semesta. Idealnya, sains dan teologi harus menyajikan perhitungan  yang konsisten tentang realitas yang tunggal; tetapi sebenarnya ada kasus di mana hasil capaian yang ilmu pengetahuan miliki rupanya  bertentangan Kitab Suci, khususnya berkaitan dengan usia alam semesta dan asal-usul spesies manusia.[15]

Kaum Liberal cenderung untuk melihat ilmu pengetahuan dan agama sebagai pelengkap tetapi  tidak berinteraksi satu sama lain, karena memiliki kekhawatiran yang begitu berbeda untuk membuat konflik tidak mungkin. Pendekatan ini dapat ditelusuri ke Immanuel Kant, yang telah membedakan dengan tajam antara akal murni (sains) dan alasan praktis (moralitas). Versi kontras ilmu pengetahuan yang lebih baru, yang berkaitan dengan apa dan bagaimana dunia alam, dan agama, yang berkaitan dengan makna, atau kontras ilmu dan agama karena mempekerjakan bahasa yang berbeda.

Namun, sejak 1960-an semakin banyak sarjana dengan kecenderungan teologis liberal yang telah mengambil minat dalam ilmu pengetahuan dan telah membantah bahwa dua disiplin tersebut dapat diisolasi satu sama lain. Topik dalam ilmu pengetahuan yang menawarkan poin bermanfaat untuk dialog kosmologi dengan teologi termasuk teori Big Bang dan implikasi yang mungkin untuk doktrin penciptaan, konstanta ‘fine-tuning kosmologi dan kemungkinan implikasi dari hal ini untuk argumen desain, dan evolusi dan genetika, dengan implikasinya terhadap pemahaman baru dari individu manusia.

Mungkin impor yang lebih besar adalah hubungan langsung antara ilmu pengetahuan dan teologi. Fisika Newton memupuk pemahaman tentang alam dunia sebagai ditentukan secara ketat oleh hukum-hukum alam; ini pada gilirannya memiliki konsekuensi serius untuk memahami tindakan ilahi dan kebebasan manusia. Perkembangan abad kedua-puluh seperti fisika kuantum dan teori kekacauan telah memanggil fisikawan untuk merevisi pandangan tentang sebab-akibat. Kemajuan dalam filsafat ilmu pada paruh kedua abad kedua puluh memberikan keterangan yang jauh lebih canggih pengetahuan daripada yang tersedia sebelumnya, dan ini memiliki implikasi penting untuk metode argumen dalam teologi.

  • Agama dan Pendahulu Ilmu Pengetahuan Barat

Kepentingan Barat dalam perhitungan sistematis alam adalah warisan dari tradisi Yunani kuno dan bukan dari tradisi Ibrani, yang cenderung berfokus pada dunia manusia. Konsep alam Yunani tidak ditetapkan lebih terhadap konsep alam super, seperti yang telah berabad-abad yang lebih baru, sehingga sangat mungkin untuk mengatakan bahwa filsafat alam Yunani adalah inheren teologis. Sarjana Kristen awal terbagi dalam pendekatan mereka tentang filsafat alam Yunani, beberapa membuat penggunaan besar untuk tujuan apologetik[16],  yang lain menolaknya[17]

Setelah jatuhnya Roma, pusat keilmuan bergeser ke arah timur. Para ilmuwan  Islam di Abad Pertengahan sebagian besar bertanggung jawab untuk melestarikan pelajaran dari orang Yunani, serta untuk perkembangan ilmiah yang signifikan dari mereka sendiri dalam bidang optik, kedokteran, astronomi dan matematika. Melalui Muslim di Spanyol karya ilmiah yang penting Aristoteles diperkenalkan ke Eropa Barat pada abad kedua belas. Pengaruh karya ini pada pemikiran Kristen memuncak di “Two Summas“-nya Thomas Aquinas (Aquinas, T., Aristotelianisme).

  • Ilmu Pengetahuan Modern Awal dan Pandangan Dunia

Pada akhir abad kesembilan belas, White (1896) dan Draper (1874) telah mempromosikan pandangan sains dan agama sebagai musuh tradisionalisme. Namun, sejarah revisionis pada akhir abad kedua puluh menyajikan gambaran yang jauh lebih kompleks. Memang benar bahwa Gereja Katolik telah membungkam Galileo pada tahun 1633, sehingga  konsepsi  mekanisme materi René Descartes dikutuk, dan sensor yang menakutkan, memiliki efek umumnya mengerikan bagi  teori ilmiah sepanjang abad ketujuh belas. Namun, harus dicatat bahwa tidak semua pendeta Katolik menentang Galileo. Selain itu, sejumlah ilmuwan terbesar abad ini adalah Katolik: Pierre Gassendi, Marin Mersenne, Blaise Pascal dan Nicolas Steno, serta Galileo dan Descartes. Orde Jesuit adalah rumah bagi sejumlah ilmuwan yang bukan saja ahli teori yang luar biasa tapi memberikan kontribusi signifikan terhadap ilmu pengetahuan eksperimental.

            Pada periode modern awal, sulit untuk membedakan konflik antara sains dan agama di satu sisi dari konflik intra teologis dan konflik antara ilmu baru dan sintesis skolastik Aristotelian di sisi lain. Perkara  Galileo perlu ditafsirkan ulang dalam penerangan  dari kedua komplikasi ini, karena tidak mungkin untuk memahami resistensi terhadap astronomi Galileo tanpa menyadari fakta bahwa itu mempertanyakan seluruh tatanan sosio-politik yang telah mapan tentang gambaran kosmos dan tempat manusia di dalamnya.  Urusan itu juga tentang perjuangan internal gereja mengenai interpretasi yang tepat dari Kitab Suci. Perkara Galileo yang  mengikuti Agustinus bahwa Kitab Suci harus ditafsiran ulang dan harus direvisi ketika ditemukan konflik dengan ilmu pengetahuan lainnya. Hal ini menempatkan dia dalam konflik dengan para pendeta gereja konservatif lainnya yang mengadopsi strategi interpretatif lebih literalis. Sebuah komplikasi lebih lanjut adalah kenyataan bahwa ilmu baru sering bebas dicampur dengan sihir dan astrologi, yang Gereja Katolik mengutuknya baik karena mereka bereksperimen dengan iblis dan karena kecurigaan bahwa mereka membenarkan pandangan determinisme Calvinis terhadap pandangan kehendak bebas Katolik.

Robert Merton (1938) berpendapat bahwa puritanisme telah mempromosikan revolusi ilmiah, tesis ini masih diperdebatkan lebih dari setengah abad kemudian. Sementara tesis Merton itu dilebih-lebihkan, ada kemungkinan bahwa doktrin Reformed tertentu dari kedaulatan Allah – bahwa kedaulatan Allah mengecualikan semua kontribusi aktif dari makhluk yang lebih rendah untuk karya ciptaaNya – membuat konsepsi ilmiah dan materi filosofis modern sebagai kelembaman atau pasif lebih diterima oleh Isaac Newton, Robert Boyle dan Protestan selain itu.

Di sini sekali lagi adalah penting untuk mengenali interaksi Aristoteles dan sengketa intra-teologis. Konsepsi Mekanis materi adalah penolakan langsung baik dari konsepsi magis Neo-Platonisme dan dari teleologis Aristotelian dan pandangan organik, bahwa ‘bentuk’ yang melekat pada zat yang menyediakan kekuatan dan tujuan built-in. Pada saat yang sama, itu ditindaklanjuti dengan keyakinan teologis pertama diungkapkan oleh teolog nominalis di akhir abad pertengahan. Ini adalah salah satu ironi besar dalam sejarah, kemudian, bahwa konsepsi mekanika Newton tentang materi alam semesta telah begitu cepat berkembang menjadi murni materialis dan pandangan determinis Pierre Simon de Laplace, yang terakhir ini benar-benar tidak sesuai dengan agama.

G.     Geologi, Evolusi dan Usia Planet Bumi

Fisika dan astronomi adalah fokus ilmiah utama bagi para teolog di abad XVII dan XVIII; geologi dan biologi mengadakan tempat analog di abad kesembilan belas dan kedua puluh. Selama berabad-abad, narasi Alkitab tentang Penciptaan sampai tentang Kristus dan Pengadilan Terakhir yang diproyeksikan telah memberikan garis besar kerangka piutang dari alam serta sejarah manusia. Misalnya, kisah Nabi Nuh dan banjirnya menyediakan  penjelasan yang berguna tentang fosil laut yang ditemukan di atas permukaan laut. Namun, pada abad ketujuh belas, sejarah rentang pendek yang dihitung dari Alkitab ditantang dari sejumlah arah. (James Ussher, seorang Uskup Agung Irlandia abad ketujuh belas, telah dikreditkan dengan perhitungan bahwa penciptaan terjadi hanya  4004 tahun sebelum Kristus). Meskipun upaya sporadis untuk mendamaikan sejarah geologi dengan kitab Kejadian (Gennesis) berlanjut hingga saat ini, pada abad kedelapan belas besar sejumlah ahli geologi sudah mengakui bahwa hipotesis Banjir tidak bisa menjelaskan pengembangan ilmu pengetahuan tentang stratifikasi batu dan penempatan fosil. Sejarah lebih lama dari Bumi, sebelum sejarah manusia, harus dianggap. Pada saat yang sama  catatan Mesir dan Cina memanggil untuk  mempertanyakan sejarah jangka pendek manusia jika dihitung dari Alkitab.

Sementara beberapa oposisi kontemporer untuk teori evolusi yang melibatkan  “kronologi bumi yang lebih muda”,  reaksi negatif kepada buku  Charles Darwin, pada abad kesembilan belas, The Origin of Species (1859) yang lebih sering berisi keberatan terhadap Darwinisme sosial dan klaim bahwa manusia berkerabat dengan ‘hewan yang lebih rendah”; reaksi negatif lain berfokus pada kenyataan bahwa seleksi alam telah memberikan sebuah alternatif rancangan ilahi untuk menjelaskan kesiapan organisme dengan lingkungan mereka, sehingga merusak argumen aplogetik yang penting. Meskipun demikian, banyak teolog dan orang beriman lainnya siap menerima teori dan menilai perubahan yang diperlukan dalam teologi untuk menjadi yang bermanfaat daripada sekadar akomodasi, (lihat Darwin, teori Evolution).

  • Ilmu Biologi

Teori evolusi adalah masalah panas  yang mengejutkan lagi pada akhir abad kedua puluh. Sebuah jajak pendapat Gallup yang diterbitkan dalam majalah AS News and World Report  (23 Desember 1991) melaporkan bahwa mayoritas orang Kristen Amerika Utara skeptis mengenai paradigma evolusi makro. Penjelasan terbaik untuk perlawanan ini mungkin adalah kenyataan bahwa masalah ini telah menjadi dibingkai dalam hal penciptaan, dibandingkan kesempatan sebagai pertimbangan asal-usul spesies manusia. Bahwa masalah dapat dirumuskan dalam hal ini adalah karena sebagian untuk teori tindakan ilahi (yang cacat) yang mengkontraskan tindakan kreatif Tuhan dengan proses alami, daripada membiarkan bahwa Tuhan dapat bekerja melalui proses alam, termasuk yang melibatkan peristiwa acak. Kontroversi ini diperparah oleh penggunaan  biologi evolusioner untuk  propaganda ateisme.

Ilmu Genetika menyediakan area baru bagi dialog antara agama dan ilmu biologi. Studi menunjukkan dasar genetika tentang karakteristik dan perilaku manusia yang menimbulkan pertanyaan tentang status pribadi manusia – misalnya, pertanyaan tentang kehendak bebas dan determinisme – yang telah menjadi bagian provinsi filsafat dan agama. Kepentingan tertentu adalah studi kembar yang menunjukkan faktor genetik dalam perilaku keagamaan (misalnya, Eaves et al. 1990).

Penelitian genetik secara umum dan rekayasa genetik pada khususnya telah mengangkat sejumlah pertanyaan etis yang berhubungan dengan etika teologis. Sebagai contoh, sementara sebagian orang menikmati pengobatan genetik untuk penyakit, banyak yang menentang intervensi rekayasa genetik, yang akan mempengaruhi semua generasi berikutnya. Beberapa keberatan didasarkan pada posisi kuasi-religius: ilmuwan seharusnya tidak ‘berperan sebagai Tuhan’. Garis batas pemikiran panggilan untuk pemeriksaan teologis: tidakkah manusia itu sendiri diciptakan untuk berpartisipasi dalam proses kreatif Allah yang sedang berlangsung? Perlu dicatat bahwa pada tahun 1991, US National Institutes of Health telah memberikan hibah pertama pernah ke lembaga Pusat Teologi dan Ilmu Pengetahuan Alam  (Berkeley, California) untuk mempelajari implikasi teologis dan etis dari Human Genome Initiative, proyek untuk memetakan DNA manusia .

  • Kosmologi

Kosmologi fisik adalah cabang ilmu yang mempelajari alam semesta secara keseluruhan. Dimulai pada tahun 1920-an, perkembangan di bidang ini telah memicu perdebatan yang hidup yang berhadapan antara teologi dan sains. Teori The Big Bang, yang berdasarkan perluasan alam semesta dan berbagai data lain, mendalilkan bahwa alam semesta berasal dari sebuah ‘singularitas’  yang sangat padat, sangat panas sekitar 15 sampai 20 milyar tahun lalu. Banyak orang Kristen, termasuk Paus Pius XII, telah menyambut teori ini sebagai konfirmasi dari ajaran Alkitab tentang penciptaan. Tidak hanya orang-orang beragama yang melihatnya seperti itu; Frederick Hoyle membela model steady-state (keadaan mapan) alam semesta, di mana atom hidrogen terwujud di seluruh rentang waktu yang tak terbatas, sebagian karena ia melihatnya sebagai lebih kompatibel dengan ateisme-nya .

      Diskusi antara para teolog tentang relevansi-kosmologi Big Bang dengan doktrin penciptaan melibatkan kontroversi atas sifat teologi. Sebagaimana disebutkan di atas, telah umum di kalangan teolog liberal sejak Schleiermacher untuk mengklaim bahwa makna religius yang sepenuhnya independen dari fakta ilmiah. Para teolog yang memegang posisi ini mengklaim bahwa doktrin penciptaan, harus melakukan dengan hubungan dari semua yang ada hanya kepada Tuhan, dengan mengatakan apa-apa tentang asal-usul temporal alam semesta, dan karena itu sama-sama kompatibel dengan model kosmologi.

Sebuah wilayah penelitian yang lebih baru yang telah disebabkan spekulasi teologis dapat disebut sebagai masalah prinsip anthropoid. Sejumlah faktor di alam semesta awal harus disesuaikan dengan cara yang sangat tepat untuk menghasilkan alam semesta yang kita miliki. Faktor-faktor ini meliputi massa alam semesta, kekuatan empat gaya dasar (elektromagnetisme, gravitasi, dan kekuatan nuklir kuat dan lemah), dan lain-lain. Perhitungan menunjukkan bahwa jika salah satu dari angka-angka ini telah menyimpang bahkan sedikit dari nilai sebenarnya, alam semesta akan berkembang dengan cara yang sangat berbeda, membuat kehidupan seperti yang kita tahu itu – dan mungkin kehidupan apapun – tidak mungkin. Sebuah contoh dari penyerasan gelombang (‘fine-tuning‘) diperlukan adalah bahwa jika rasio kekuatan elektromagnetisme dengan gravitasi telah bervariasi sebanyak satu bagian dalam 1040, tidak akan ada bintang seperti matahari kita.

Banyak yang mengklaim bahwa penyelarasan gelombang dari alam semesta untuk kehidupan membutuhkan penjelasan. Untuk beberapa orang, tampaknya memberikan dasar untuk argumen desain baru (argumen keberadaan Tuhan). Yang  lain percaya bahwa hal itu dapat dijelaskan dalam istilah ilmiah -misalnya, dengan menyarankan bahwa ada jauh lebih banyak alam semesta, baik sejaman dengan kita sendiri atau secara berurutan, yang masing-masing melembagakan  konstanta fundamental yang berbeda. Yang  satu atau lebih dari alam semesta ini akan diharapkan untuk dapat mendukung kehidupan, dan itu hanya di rupa alam semesta sehingga pengamat akan hadir untuk meningkatkan pertanyaan tentang penyelarasan gelombang. Apakah penyelarasan gelombang diambil sebagai bukti keberadaan Tuhan atau tidak, ia memiliki konsekuensi penting bagi teologi yang beberapa filsuf percaya bahwa itu berpendapat terhadap perhitungan intervensionis melanjutkan penciptaan dan tindakan ilahi, karena prasyarat untuk keberadaan manusia dibangun ke alam semesta dari awal.

J.      Fisika dan Metafisika

Berbagai perkembangan dalam fisika sejak akhir abad kesembilan belas telah mempertanyakan pandangan dunia determinis. Fisika kuantum telah memperkenalkan ketidakpastian ke dalam pandangan dunia fisika. Teori Quantum umumnya memungkinkan hanya untuk prediksi probabilistik mengenai kelas peristiwa, bukan untuk prediksi peristiwa individu. Tidak jelas apakah pembatasan ini hanya mewakili batas pengetahuan manusia, atau apakah itu menandakan ketidakpastian asli di alam. [18]

Namun, pendapat ilmiah cenderung ke arah pandangan yang kedua. Dengan demikian, kebanyakan fisikawan menolak determinisme dari pandangan dunia Newtonian, setidaknya pada tingkat ini. ‘non-lokalitas Quantum’ mengacu pada fakta aneh bahwa elektron dan entitas sub-atom lainnya yang pernah berinteraksi terus berperilaku dengan cara yang terkoordinasi, bahkan ketika mereka terlalu jauh untuk setiap interaksi kausal dikenal dalam waktu yang tersedia. Fenomena ini secara radikal disebut mempertanyakan gambaran alam semesta Newtonian sebagai partikel diskrit yang bergerak, berinteraksi dengan cara kekuatan fisik yang dikenal. Jika determinisme Newtonian memiliki implikasi yang kuat untuk teori tindakan ilahi, itu pasti terjadi bahwa perkembangan dalam fisika kuantum ini harus memiliki implikasi teologis juga. Apa implikasi ini masih sangat banyak pertanyaan terbuka.

Sebuah perkembangan yang lebih baru, yang melintasi fisika dan ilmu-ilmu alam lainnya, adalah teori chaos.[19] Ini adalah studi tentang sistem yang perilakunya sangat sensitif terhadap perubahan kondisi awal. Apa artinya ini dapat diilustrasikan dengan contoh dari dinamika klasik: gerakan bola biliard diatur dalam cara langsung oleh hukum Newton, tapi sangat sedikit perbedaan dalam sudut dampak tongkat biliard telah sangat memperbesar efek setelah beberapa tabrakan; Selain itu, perbedaan awal yang membuat perbedaan besar dalam perilaku kemudian terlalu kecil untuk diukur, sehingga sistem secara intrinsik tak terduga. Sistem chaos ditemukan di seluruh alam – dalam sistem termodinamika yang jauh dari keseimbangan, dalam pola cuaca dan bahkan pada populasi hewan. Teori chaos relevan dengan diskusi tentang tindakan ilahi bukan karena sistem chaos yang tak tentu (yaitu, tidak ditentukan secara kausal/sebab-akibat) dan dengan demikian terbuka untuk tindakan ilahi tanpa melanggar hukum alam. Sebaliknya pengakuan mana-mana sistem chaos menunjukkan keterbatasan intrinsik dari pengetahuan manusia, dan mengarah pada kesimpulan negatif tetapi penting yang satu ini jarang (atau tidak pernah) dalam posisi untuk tahu bahwa Allah tidak bertindak dalam proses alami.

Perkembangan lain seluruh ilmu pengetahuan dengan implikasi penting bagi masalah determinisme dan tindakan ilahi adalah pengakuan dari ‘penyebab atas-bawah’. Ilmu pengetahuan dapat dipahami sebagai sebuah hirarki di mana ilmu yang lebih tinggi mempelajari sistem yang lebih kompleks: fisika mempelajari hal yang terkecil, komponen yang paling sederhana dari alam semesta; kimia mempelajari organisasi partikel fisik yang kompleks (atom dan molekul); biokimia mempelajari senyawa kimia yang sangat kompleks yang membentuk organisme kehidupan, dan sebagainya. Impian para positivis logis adalah untuk memberikan penjelasan tentang ilmu-ilmu di mana hukum ilmu tingkat tinggi semua bisa dikurangi dengan hukum fisika. Konsep reduksionisme jelas diikuti secara alami dari reduksionisme ontologis yang telah menjadi prinsip penting dari pandangan dunia ilmiah modern: jika semua entitas dan sistem yang pada akhirnya terdiri dari entitas dipelajari oleh fisika, perilaku mereka seharusnya dapat dipahami dalam kerangka hukum fisika. Jadi ontologis dan reduksionisme jelas memerlukan reduksionisme kausal, atau “penyebab atas-bawah’. Jika hukum fisika yang deterministik, kami memiliki perhitungan deterministik seluruh alam. Namun, hal itu telah menjadi jelas bahwa perilaku entitas pada berbagai tingkat hirarki kompleksitas tidak selalu bisa dipahami sepenuhnya dari segi perilaku bagian mereka; memperhatikan interaksi mereka dengan fitur non-tereduksi dari lingkungan mereka juga diperlukan. Dengan demikian, negara atau perilaku dari sistem-tingkat yang lebih tinggi penerapan pengaruh kausal atas-bawah pada komponen-komponennya.

Arthur Peacocke (1990) telah menggunakan perkembangan ini dalam pemikiran ilmiah untuk mengusulkan arah baru untuk memahami tindakan ilahi. Dalam padangan bukunya ‘panentheist’, alam semesta adalah ‘ada di dalam’ Tuhan Allah, dan pengaruh Tuhan di alam semesta kemudian dapat dipahami oleh analogi dengan penyebab atas-bawah seluruh hirarki tingkat alami. Sementara usulan ini tidak menjawab pertanyaan tentang bagaimana Allah mempengaruhi peristiwa tertentu dalam kosmos, itu membubarkan masalah lama determinisme kausal.

  • Kritik terhadap Modernisme

Hal ini sangat penting bagi kami sebagai pemikir muslim untuk memahami paradigma modernisme dalam cara yang lebih kritis dan lebih komprehensif, dalam pandangan integral dan holistik, baik dalam dasar analisis filosofis-agama dan juga dalam pengaruh dan efek negatif yang disebabkan oleh paradigma modern yang memimpin dan mengarahkan banyak aspek dan dimensi budaya, ilmu, peradaban manusia dan ekologi di bidang hegemonik Filsafat Modern Barat di sebagian besar bagian dari dunia baru-baru ini secara global.

Dalam menggambarkan penderitaan manusia modern Seyyed Hossein Nasr dengan  tegas menulis:

“Manusia modern telah membakar tangannya dalam api yang ia sendiri telah nyalakan ketika ia membiarkan dirinya lupa siapa diri dia. Setelah menjual jiwanya dalam cara Faust untuk mendapatkan kekuasaan atas lingkungan alam, ia telah menciptakan situasi di mana kontrol lingkungan sangat berubah menjadi pencekikan, yang membawa di belakangnya tidak hanya pemusnahan lingkungan, tetapi juga, pada akhirnya, tindakan bunuh diri”.[20]

 Krisis multidimensional kita baru-baru ini hari ini harus diidentifikasi, dianalisis, dan dikaji untuk memecahkan banyak masalah yang disebabkan oleh pelaksanaan paradigma modernisme dan post-modernisme (barat).

Merujuk kepada Seyyed Hossein Nasr, penyebab krisis multi-dimensional manusia modern adalah krisis eksistensial. Nasr mengatakan:

“Dunia masih terlihat oleh Kekuatan dan elemen yang mengatur sebagai cakrawala tanpa kehadiran spiritualitas, tetapi juga karena mereka yang memandang lanskap kontemporer adalah manusia yangpaling sering tinggal di tepian lingkaran roda eksistensinya dan karena itu memandang segala sesuatu dari pinggiran. Dia tetap acuh tak acuh terhadap jari-jari dan benar-benar tidak menyadari sumbu dan Pusat, yang bagaimanapun tetap tak pernah diakses kepadanya melalui mereka. ” [21]

Menurut pendapat saya, apa yang  Nasr bicarakan tentang krisis eksistensial manusia modern adalah sangat benar. Karena mereka telah melupakan realitas keberadaan eksistensial mereka sebagai makhluk spiritual di luarcasing jasmani mereka, dan mereka telah lupa sumber utama dari mana mereka datang, dan ke mana hidup mereka akan berakhir dan jiwa mereka akan kembali, maka kehidupan duniawi untuk manusia modern  itu tak berarti dan tanpa-guna. Dari tradisi Islam kita tahu beberapa hadits itu; “Siapa pun yang telah lupa diri mereka, mereka akan lupa Tuhan Allah mereka”, “Siapa yang tahu diri mereka, sehingga mereka akan mengetahui siapa Tuhan Allah mereka”.

Lebih jelas, kelupaan manusia modern ini pada Realitas eksistensial mereka digambarkan oleh Nars sebagai berikut:

Masalah kehancuran lingkungan akibat kemajuan teknologi, krisis ekologi dan sejenisnya, semua masalah derita manusia modern serta postmodern berasal dari penyakit amnesia atau lupa diri dari mana manusia berasal. Manusia modern telah lupa siapa diri dia yang sebenarnya. Mereka hidup di pinggiran lingkaran eksistensinya sendiri, ia telah mampu untuk mendapatkan pengetahuan secara kuantitatif mengejutkan tentang dunia tetapi secara kualitatif dangkal. Dia telah memproyeksikan citra externalized dan dangkal dirinya atas dunia.”[22]

Menurut Armahedi Mahzar dalam teks Pendahuluannya untuk buku karya Hussain Heriyanto tentang “Paradigma Holistik”, bahwa dalam pertengahan abad yang lalu, telah disadari perlunya adanya perubahan paradigma atau kecenderungan  merubah paradigma yang lebih baru dalam ilmu pengetahuan. Paradigma adalah asumsi filosofis yang menjadi dasar-dasar atau prinsip-prinsip dasar untuk setiap bidang peradaban seperti ilmu pengetahuan dan teknologi. Paradigma yang dominan di awal abad terakhir adalah paradigma materialistik-mekanistik yang dikenal sebagai Paradigma Cartesian-Newtonian.[23]

Keberhasilan teori gravitasi dan mekanika Newton, yang telah diperkuat dengan teori lain seperti metode hipotetik deduktif yang rasional-spekulatif yang dikembangkan oleh Rene Descartes, dengan  metode eksperimen-induktif dan obyektif-empirik berlebihan, yang dikembangkan oleh Roger Bacon.

Descartes telah mencoba untuk menemukan sebuah filosofi   yang tak tergoyahkan dalam rangka memerangi sikap skeptis, ia menggunakan indubtability (tidak meragukan) keraguan dirinya sebagai landasan filsafatnya (“Aku Berfikir maka Aku Ada” / “Co gito ergo sum”). Selain itu, adanya ego dari peragu dan pemikir adalah wajar didasarkan pada fondasi itu. Dia memperkenalkan kejelasan dan keunikan sebagai kriteria indubitability,yang ia membuat standar untuk membedakan ide-ide yang benar dari ide-ide yang salah. Dia juga berusaha untuk menggunakan pendekatan matematis untuk filsafat, dan bahkan berusaha untuk memperkenalkan logika baru.

Oleh karena itu, untuk mulai dengan keraguan sebagai titik awal untuk berdebat dengan kaum skeptis adalah wajar. Namun, jika seseorang membayangkan bahwa tidak ada yang begitu jelas dan pasti, dan bahkan keberadaan peragu harus disimpulkan dari keraguan, ini tidaklah akan valid. Sebaliknya keberadaan ego sadar dan berpikir setidaknya sama jelasnya dan tentu sebagai adanya keraguan itu sendiri yang merupakan salah satu dari negara-negara tersebut.

Pemikiran Descartes  sangat layak untuk dihargai dalam memerangi skeptisisme di jamannya, tetapi kita tidak dapat menerima ide utamanya tentang ‘cogito ergo sum’ ​​(“Aku Berfikir maka  aku Ada”),[24] karena, ide utama Descartes (dengan ide Newtonian tentang prinsip-prinsip mekanik) adalah dasar-dasar yang telah mengembangkan dan mendirikan paradigma materialistik dan mekanistik pada filsafat Barat dan ilmu Pengetahuan. Paradigma materialistik–mekanistik ini, dan sekularisme, bertentangan dengan filsafat Islam tentang  Eksistensi Spiritual dan Realitas Tunggal.

Paradigma materialistik-mekanistik dalam sains, yang berdasarkan pada metode Cartesian dan Newtonian  tentang “hipotesa (deduktif)-eksperimental (induktif)”, telah membawa kecenderungan reduksionisme-materialistik. Oleh karena itu, kehidupan, bahkan kesadaran telah dikurangi menjadi dipandang  hanyalah sekedar merupakan gerakan mekanistik-material belaka. Arus utama ide sekuler ini menyebar dan mempengaruhi berbagai bidang filsafat-ideologi, budaya dan ilmu pengetahuan kehidupan manusia modern. Misalnya Adam Smith berbicara tentang “mekanisme pasar” mengenai  ekonomi, Charles Darwin dalam biologi berbicara tentang “mekanisme evolusi” dan psikolog Sigmund Freud, bicara tentang “mekanisme pertahanan psikologis”. Semuanya serba mekanis.

Mekanisme-Reduksionisme ini, yang berakhir pada ontologi atomistik dan mekanistik ini, secara otomatis menolak dan mengabaikan peran ilahi di alam semesta (sekularisme) dan bahkan meniadakan keberadaan Tuhan. Hal ini bertentangan dengan realitas dan keyakinan pokok tradisi suci dan agama-agama dunia dan terutama Islam.

Selain itu, seperti yang dinyatakan oleh Armahedi Mahzar, M.Sc dalam ceramahnya tentang  Filsafat Ilmu Islami di ICAS Paramadina University:  “Dominasi Paradigma Cartesian-Newtonian pada ilmu pengetahuan  modern, telah membawa dan menjebak peradaban manusia kepada kegelapan krisis multidimensi bagi kehidupan manusia. Krisis ini, baik berupa krisis internal maupun eksternal. Krisis internal paradigma ini ditunjukkan oleh Prinsip Relativitas Einstein, prinsip Heisenberg  tentang “ketidakpastian, dan Teorema Gödel tentang “ketidaklengkapan”.

Krisis eksternal ilmu modern (yang ber-Paradigma Cartesian-Newtonian/ materialistik-mekanistik) ini yang menyebabkan beberapa masalah kritis seperti: pemusnahan massal manusia oleh militer dengansenjata nuklir, senjata kimia, dan senjata biologis pemusnah massal; degradasi lingkungan yang disebabkan oleh depletions, polusi, degradasi, dan kehancuran lingkungan; fragmentasi sosial yang disebabkan oleh industrialisasi, urbanisasi & fragmentasi sosial; keterasingan psikologis manusia dari lingkungan alam, sosial, dan teknologis. [25]

Kritik eksternal terhadap ilmu pengetahuan modern terjadi pada setidaknya tiga kritik :

  • Teologi (ilmu pengetahuan bersifat parsial dengan menolak Realitas Supernatural),
  • Filsafat :
    1. Kritik filosofis fenomenolog (ilmu hanyalah men-skema-kan pengalaman manusia);
    2. Kritik filosofis Post-strukturalisme (ilmu hanya cerita lain);
  • Kritik ideologis yang dilakukan oleh kaum:
    1. Neo-Marxisme (bahwa ilmu pengetahuan hanyalah untuk kepentingan pemodal),
    2. Neo-Feminisme (bahwa ilmu pengetahuan hanyalah untuk kepentingan laki-laki),
    3. Ekologi Radikal (bahwa ilmu pengetahuan adalah hanya untuk kepentingan manusia, bukan lingkungan) &
    4. Etnisis Agama (bahwa ilmu pengetahuan adalah hanya untuk kepentingan orang ras kulit putih).[26]

Sebagai kesimpulan hipotetik, ternyata kita dapat mengatakan bahwa ilmu pengetahuan modern tidaklah benar-benar lengkap, tidaklah rasional, tidaklah objektif, dan tidaklah netral.  Mengapa hal itu dapat terjadi dalam ilmu modern atau paradigma Cartesian-Newtonian? Pertama, menurut teori penulis, hal itu mungkin disebabkan oleh epistemologi ilmu pengetahuan modern terlalu  over-rasionalisme, ‘over-empirisme, ‘over-reduksionisme, alias lebay (berlebihan pada aspek rasionalisme-empirisme dan reduksionisme semua fakta alam semesta). Epistemologi semacam ini lebih mempengaruhi paradigma ontologis, berupa: materialisme, mekanisme, atomisme; dan membawa paradigma aksiologis tentang netralisme, humanisme dan individualisme.

Jadi kalau kita ingin selamat dunia-akhirat, kita harus mau meninjau ulang dan merekonstruksi paradigma sains dan kemanusiaan kita menjadi paradigma holistik dan integral sesuai dengan arah prinsip Tauhid Islam tentang Ketuhanan, alam dan manusia. Yang pertama-tama, kita harus memulainya dari rekonstruksi epistemologisnya. Oleh karena itu, di sini dalam buku  ini saya ingin mengkaji dan melakukan rekonstruksi dalam pikiran kita untuk mencari jalan keluar dan solusi filosofis untuk memecahkan masalah utama dan krisis kehidupan manusia dan peradaban modern yang sedang sakit dan sekarat ini.

Dalam pemikiran Seyyed Hossein Nasr, untuk tujuan melakukan rekonstruksi terhadap paradigma baru ini, seperti untuk memecahkan masalah krisis modernisme, solusi multidimensi yang penting, yang paling signifikan dan relevan adalah bahwa kita harus kembali kepada Worldview (pandangan dunia) Tradisional kita yang merupakan Ilmu Pengetahuan Suci/Sakral/Divine/Ilahiyah, yang merupakan Sophia Perrenialsme dan Metafisika Transenden yang masih memainkan peran sebagai fundamen filosofis mendasar dan pondasi kecerdasan spiritual-intelektual yang holistik dan integral dari umat manusia sepanjang zaman lintas peradaban.

Dalam buku What Is Traditions, S.H. Nasr menjelaskan hubungan antara tradisi dan agama-agama dari perspektif filsafat perennial yang dapat diringkas sebagai berikut: sifat tradisi adalah merangkul semua agama, dan pada agama itulah terletak  asal-usul tradisi tersebut.  Dipahami dalam pengertian agama ini adalah apa yang mengikat manusia dengan Tuhan dan pada saat yang sama mengikat orang-orang satu sama lain. Agama Hindu dan Buddha Dharma, al-Din al-Islam, agama Tao, dan yang sejenisnya, adalah erat terkait dengan makna dari tradisi panjang tersebut, tapi tidak identik dengan itu, walaupun tentu saja dunia atau peradaban yang diciptakan oleh Hindu, Buddha, Taoisme, Yahudi, Kristen, Islam, atau dalam hal ini agama otentik lainnya, adalah dunia tradisional (SH Nasr, 1989, hal.67).

Dari perspektif itu, tradisi, karena itu bertentangan prinsip modernisme. Tradisionalisme ini seolah ingin menumbangkan kejahatan dunia modernisme dalam rangka menciptakan sesuatu kehidupan yang normal (Needleman [end] 1974). Tujuannya bukan untuk menghancurkan apa yang positif dari dunia modern, tetapi untuk menghapus selubung ketidaktahuan dan kebodohan yang memungkinkan ilusi muncul sebagai kenyataan, yang negatif sebagai positif dan yang palsu sebagai benar (SH Nasr 1989).

Sebagaimana Prof. Dr. Mulyadhi Kartanegara telah tulis dalam makalahnya bahwa: “Jika kita membandingkan antara perlakuan filosofis atau tantangan dalam 1.000 tahun yang lalu, tantangan filosofis yang dihadapi oleh umat Islam saat ini lebih serius dan lebih radikal, karena tantangan yang dihadapi oleh al-Ghazali pada zaman itu berasal dari filsuf yang masih sangat percaya dengan realitas metafisik, tetapi tantangan yang dihadapi oleh Muslim Intelektual hari ini berasal dari filsuf dan ilmuwan yang telah kehilangan kepercayaan kepada Tuhan YME dan pada pondasi metafisik lainnya.”[27]

Tidak cukup dengan itu, mereka juga telah menyebarkan pandangan anti-metafisik mereka dengan menyerang landasan metafisik seperti dikatakan sebagai ilusi (khayalan) dan tak berarti.  Jadi tantangan yang lebih dan lebih serius dan radikal, karena mereka tidak hanya memberikan penafsiran non-ortodoks dengan realitas metafisik, tetapi juga mereka melakukan negasi/penolakan itu dengan menyerang status ontologis dari realitas metafisik itu sendiri .

Tantangan filosofis yang paling berbahaya untuk dunia metafisik yang berasal dari “Positivisme“. Menurut pandangan Positivisme, satu-satunya realitas yang ada adalah bahwa kenyataan “positif”, hanyalah yang dapat teramati oleh indera. Semua yang di luar dunia fisik (metafisika) hanyalah dianggap spekulasi pikiran manusia yang belum tentu kebenaran realitas ontologisnya dari kesadaran manusia. Konsep-konsep keagamaan pada Tuhan, akhirat, malaikat, dan makhluk ghaib lainnya, diasumsikan sebagai ciptaan pikiran manusia pada awal dari perkembangan mereka. (sebagaimana pandangan Freud).  Pada perkembangan selanjutnya, manusia merevisi konsep agama mereka dengan mengembangkan sistem filosofis yang lebih rasional. Tapi pandangan terakhir itu, menurut mereka, masih berbasis ilusi karena mereka masih percaya pada dunia metafisik. Yang terbaru dan paling sempurna dalam perkembangan pemikiran manusia adalah di tingkat positivisme, di mana manusia menemukan bahwa satu-satunya yang dianggap benar dari realitas hanyalah dunia fisik yang dapat diverifikasi secara obyektif dan positif. Apa yang mereka dapat hasilkan bukanlah sistem kepercayaan religius atau sistem filsafat rasional tetapi ilmu berdasarkan pengamatan akal semata.

Pengaruh positivisme yang lebih besar – dan tentu saja lebih berbahaya sebagai tantangan filosofis dan teologis agamawan – bagi kita – karena mereka memiliki banyak pendukung dari para ilmuwan dari berbagai disiplin, seperti astronomi, biologi, psikologi dan bahkan sosiologi. Pengaruh itu bisa dilihat misalnya, dari tidak sukanya banyak ilmuwan untuk melihat entitas metafisik, seperti Tuhan atau malaikat, sebagai penyebab utama dan sumber untuk alam semesta. Dalam pandangan mereka, Tuhan telah berhenti menjadi apa pun. Dia telah berhenti sebagai pencipta, pemelihara,  pemberi rezeki dan manajer dari alam semesta. Mereka lebih memilih untuk melihat alam semesta sebagai mekanika raksasa yang dijalankan oleh hukum alam, dan fenomena alam yang dapat dijelaskan oleh hukum alam semesta daripada menganggap sebagai ciptaan Tuhan.

Pandangan naturalis positivis ini mudah diketemukan dalam karya-karya atau pernyataan dari ilmuwan Barat yang terkenal dan berpengaruh, seperti Pierre de Laplace, Darwin, Freud, dan Emile Durkheim. Meskipun tidak semua ilmuwan setuju dengan pandangan mereka, tetapi pengaruh mereka dalam ilmu alam masih besar dan dominan. Mereka masih dianggap sebagai “nabi ilmu pengetahuan”. Jadi pemikiran mereka masih memiliki tantangan substantif dan mengancam sistem keimanan Islami. Pierre de Laplace (w. 1827), seorang astronom dan matematikawan Perancis yang dikenal sebagai penemu teori “Big Bang” (bersama-sama dengan Emanuel Kant), merasa tidak perlu bicara tentang Tuhan, ketika dia menjelaskan teori penciptaan alam semesta dalam bukunya The Celestial Mechanism. Alasannya adalah, baginya, Tuhan Allah adalah hipotesis yang tidak diperlukan dalam penjelasan astronomi, atau dalam pernyataannya sendiri nya: “Je nai pas besoin de cet hypothesie.

Charles Darwin (w. 1882) seorang naturalis Inggris yang terkenal dengan teori evolusinya, menyatakan bahwa semua makhluk biologis di alam semesta ini bukan Ciptaan Tuhan Allah Yang Maha Bijaksana, tetapi hanya hasil dari hukum mekanisme seleksi alam. Dalam otobiografinya, Darwin mengatakan: “Ada waktu sebelumnya, dapat dikatakan bahwa bukti keberadaan Allah adalah harmoni dan ketertiban alam. Tapi setelah teori seleksi alam ditemukan, kita tidak bisa mengatakan bahwa kapak bersama kerang laut yang indah, harus menjadi makhluk agent luar dirinya (Tuhan), sama seperti kita mengatakan bahwa engsel sambungan pintu bersama kapak bukan ciptaan Tuhan.”

Pengaruh pandangan positivisme juga muncul dalam Sigmund Freud (w. 1939), seorang dokter dan penemu psiko-analisis. Dalam bukunya The Future of an Illusion, Freud melihat agama sebagai ilusi ini yang berasal dari ketidak-berdayaan manusia dalam menghadapi kekuatan alam eksternal dan daya imajinatif internal dalam dirinya sendiri. Kebangkitan agama dalam waktu yang pertama dari perkembangan umat manusia, ketika mereka belum menggunakan akal mereka (rasio) untuk menghadapi dunia eksternal dan dunia internal, sehingga mereka harus mengontrol dan menekan daya eksternal tersebut dengan bantuan eksternal yang efektif. Karena mereka tidak dapat mengontrol dengan akal mereka, sehingga kebutuhan “kontra efek emosional” untuk mengontrol dan menekan apa yang dia tidak bisa menanggungnya secara rasional. Jika agama dipandang sebagai ilusi, maka secara otomatis agama yang percaya dengan realitas metafisik seperti Allah, malaikat, roh dan akhirat juga dianggap khyalan/ilusi. Itu masalah sama yang telah menjadi pemikiran filsuf Perancis dan sosiolog Emile Durkheim  (w. 1917). Dalam karya-karyanya, ia melihat agama hanya sebagai proyeksi dari nilai-nilai sosial, dan Tuhan hanyalah  ciptaan masyarakat itu sendiri, dan bukan entitas pribadi metafisikal, seperti yang kita percayai.

Serangan untuk metafisika juga dilakukan terhadap sistem Epistemologi Islam, terutama yang berkaitan dengan sumber-sumber pengetahuan. Karena negasi/penolakan ke dunia metafisik, sehingga satu-satunya sumber pengetahuan, untuk kaum positivis hanyalah pengalaman, atau dalam kata lain, sesuatu yang masuk akal. Mereka tidak percaya kepada sumber-sumber lain, yang sangat penting dalam Epistemologi Islam, seperti: akal, intuisi dan wahyu dari Allah. Laplace mengatakan: “Saya tidak mempercayai apa pun kecuali akibat langsung dari pengamatan dan perhitungan.” Jadi mereka tidak percaya pada wahyu dan juga “pengalaman mistik” sebagai salah satu sumber pengetahuan. Meskipun dalam tradisi epistemologi Islam, bahwa ada tiga sumber pengetahuan – yang Mulla Sadra (w.1050/1640) seorang filsuf muslim di abad ke-17, sebut sebagai ” burhan, irfan danQur’an“- yang diterima sebagai sumber pengetahuan yang valid sebagai yang hal yang sama dengan akal inderawi.[28]

Kaum Positivis, tentu saja, hanya menerima indra (via pengamatan) sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang valid dan satu-satunya yang terpercaya. Sumber pengetahuan lainnya, seperti wahyu dan intuisi, dianggap tidak bisa dipercaya karena tidak mendasarkan pada realitas tetapi pada ilusi manusia. Alasan mengapa mereka mengatakan itu adalah karena wahyu dan pengalaman mistik membutuhkan hubungan yang erat dengan alam metafisik, sehingga validitasnya tergantung pada status keberadaan (ontologi) metafisika alam itu sendiri. Setelah keberadaan alam metafisik ditolak, maka validitas sumber pengetahuan – yang bergantung pada mereka – juga secara otomatis ditolak. Karena wahyu dan pengalaman mistik memiliki karakteristiknya, maka validitas mereka dapat diterima jika kita menegaskan status ontologis wilayah metafisiknya. Sekali keberadaan realitas yang ditolak, maka kemungkinan adalah, bahwa wahyu dan pengalaman mistik yang didasarkan pada mereka juga ditolak secara otomatis dan dianggap tidak memiliki dasar logis. Bahkan kita tahu apa yang terjadi jika wahyu (dalam hal ini al- Qur’an) ditolak sebagai sumber pengetahuan yang valid, sehingga semua sistem kepercayaan, teologi, dan filsafat-mistik  Islam akan runtuh. Inilah yang Prof. Mulyadhi Kartanegara sebut sebagai tantangan filosofis kontemporer serius dari positivisme Barat yang telah menganggap tiadanya Sistem Epistemologi Islam. Maka Kita sebagai intelektual muslim memiliki kewajiban untuk memberikan respon filosofis yang sama, bahkan lebih baik dan lebih meyakinkan daripada argumen mereka.[29]

Tantangan lain yang berkaitan dengan serangan dari kaum positivis terhadap metafisika, juga telah mempengaruhi bangunan etika Islam, baik secara agama dan secara filosofis, tentu saja sampai tingkat tertentu berdasarkan perintah Allah SWT. Tetapi jika keberadaan Tuhan itu sendiri sebagai entitas metafisik ditolak, ajaran etika Islam sehingga kehilangan dasar mereka. Freud mengatakan: “Jika validitas norma etika berdasarkan Perintah Tuhan, sehingga masa depan etika berdiri dan runtuh dengan ada atau tidak adanya Kepercayaan pada Tuhan. Dan karena Freud menganggap bahwa bila iman keagamaan menghilang, jadi dia percaya bahwa jika kita mempertahankan hubungan antara agama dan etika, itu akan menghancurkan nilai-nilai moral untuk dirinya sendiri. “

Oleh karena itu, bagi modernism Freud, satu-satunya sistem etika yang mereka terima adalah sistem etika humanisme saja, berdasarkan pengetahuan dan kebijaksanaan manusiawi, bukan berasal dari sumber transenden lainnya. Untuk mereka, apa yang disebut sebagai wahyu, yang tidak sekedar pemikiran manusia (dalam hal ini: Nabi), dan bukan sebagai emanasi (pancaran ciptaan) dari alam ilahi, yang mereka tolak keberadaannya.  Jadi, nilai-nilai apa saja yang ada dalam wahyu dilihat tidaklah mutlak dan tidak dapat diterapkan untuk sepanjang waktu, seperti yang diyakini oleh pengikutnya. Wahyu, untuk mereka serta pemikiran manusia lainnya, dan tentu saja relatif dan tenggelam di bawah perubahan ruang dan waktu, sehingga dapat berubah jika diperlukan oleh zaman. Ini adalah pandangan kaum positivis tentang nilai-nilai etika skriptural, yang serta karya-karya filsafat umum, yang aneh dan tidak stabil terhadap perubahan dan bahkan total wajib dikoreksi .

Kritik yang sama juga ditujukan kepada pengalaman mistik mereka dan keabsahannya sebagai etika yang bias. Kaum Positivis pernah mengasumsikan pengalaman mistik sebagai salah satu halusinasi. Bahkan mereka mengalamatkan validitas pengalaman intelektual yang mendukung realitas metafisik. Semua itu mereka lakukan karena mereka telah kehilangan iman kepada alam metafisik. Bagi mereka, satu-satunya dasar yang dapat kepercayaan untuk etika adalah justru pengetahuan berdasarkan pengalaman dengan alam. Etika menurut Freud tidak didasarkan pada kepercayaan agama yang merupakan “ilusi”, tapi dengan memberdayakan akal manusia.

Ini adalah beberapa tantangan yang dihadapi oleh Cendekiawan Muslim saat ini, tantangan yang lebih radikal dan serius dari tantangan yang dihadapi oleh Muslim Intelektual pada saat al-Ghazali.[30]

L. Krisis Eksistensial: Sumber Krisis Multidimensional

Menurut Dr. Hussein Heriyanto, dunia Eropa abad keenam belas telah menyatakan kedaulatan manusia itu sendiri. Dengan berakar pada rasionalisme, manusia (di Barat/Eropa) merasa telah menemukan identitasnya melalui gerakan renaissance, dengan filsafat antroposentrisme/pemikiran modern, reformasi dan pencerahan (enlightenment/Aufklarung). Dengan motto Sapere Aude (berani berpikiran sendiri! )  manusia menghendaki otonom dan bebas dari segala belenggu otoritas dan tradisi (agama & budaya). Zaman Aufklarung, abad ke-18 Masehi, adalah puncak dari kekuatan optimisme dan rasionalisme sebagai pengganti kesejahteraan pembawa obor iman umat manusia.[31]

Manusia modern telah memberontak terhadap cara pandang metafisik atau pemikiran teologis. Langit suci dihancurkan oleh interpretasi prematur kosmologi Copernican. Ilmu pengetahuan transendental Ilahiyah didesakralisasi (sekularisasi) melalui rasionalisme dan empirisme. Pesona alam semesta ini dihancurkan oleh ‘cogito ergo sum’ dari Descartes dan mekanika Newton.  Agama dan gereja bersama-sama dengan pendetanya lah yang meminggirkannya. Nilai-nilai moral tradisional dibuang. Norma agama dikatakan sebagai belenggu kebebasan dan otonomi subjek.

Seiring dengan perkembangan kesadaran modernitas, sekularisasi adalah menjadi klaim historis dan kesadaran manusia modern. Sekularisasi adalah suatu proses di mana manusia berpaling dari “dunia luar” (di luar dunia atau akhirat) dan hanya terfokus pada “kehidupan di sini dan sekarang”. Dengan sekularisasi ini, orang-orang merasa bebas dari kontrol dan komitmen terhadap nilai-nilai agama. Kesadaran sekuler diwujudkan dalam pemisahan agama dari dimensi kehidupan, terutama dalam bidang sains, sosial, ekonomi, dan politik. Agama hanya dipandang sebagai fenomena warisan budaya dan manusia. Agama hanyalah subjek belaka antropologi dan sejarah.

Pendulum peradaban manusia, yang mengarah kepada pemberontakan terhadap agama manusia modern, terus terjadi. Setelah agama, teologi dan metafisika berhasil dihapus dari wacana ilmiah, kehidupan sosial dan kemanusiaan, dengan membuatnya hanya sebagai urusan murni individual; pemberontakan diarahkan langsung ke jantung keyakinan agama, yaitu Tuhan Allah. Feuerbach menyebutkan bahwa yang disebut Tuhan itu tidak lain adalah cita-cita (ciptaan pikiran) manusia, yang hanya merupakan proyeksi dari nilai-nilai harapan kemanusiaan itu sendiri, seperti pengetahuan, kekuasaan dan kemuliaan. Oleh karena itu, Feuerbach mengusulkan untuk menghapuskan dan menggantinya dengan teologi antropologi. Karl Marx menyebutkan Tuhan sebagai karakter atau konsep penemuan kapitalis-borjuis untuk membius kaum proletar. Kemudian Nietzsche menyatakan pembebasan kematian Tuhan sebagai puncak dari swasembada manusia.

Namun, tidak cukup berhenti di situ, oposisi sekuler dan pelecehan ateisme terhadap agama terus berlangsung. Kaum Positivis ini menilai agama sebagai satu susunan khayalan (ilusi dan delusi) apa pun, karena mereka tidak dapat diverifikasi secara logis ilmiah. Freud bahkan menyebutkan kesadaran beragama adalah produk atau sublimasi dari aspirasi libido seksual yang tidak dapat disalurkan; bahwa orang-orang beragama adalah orang-orang yang memiliki penyakit mental.

Jarum jam sejarah terus bergerak. Abad ke-20 adalah masa menuai badai. Psikoanalisis Freud tidak hanya menghina agama. Melampaui harapan manusia modern, sejauh ini menjatuhkan prestise dan kebanggaan rasionalitas psikoanalisis dan kesadaran otonomi subjek. Freud yang sangat dipengaruhi oleh Darwinisme, mengumumkan hasil penelitiannya, bahwa sebagian besar perilaku manusia didorong oleh libido biologis semata, insting bawah sadar hewaniyah; bahwa rasio kesadaran manusia yang dimainkan hanyalah sedikit seperti dari puncak gunung es di lautan yang merupakan alam bawah sadar manusia. Darwinisme dan Freudianisme telah mengguncang pilar keimanan manusia modern dengan kehebatan rasio.

Abad ke-20 dan 21 adalah abad menuai badai. The “New Left“, yang dipelopori oleh tokoh-tokoh Mazhab Frankfurt melengkapi kejatuhan rasionalitas modernisme. Melalui analisis filosofis-sosiologis dan psikoanalisis, mereka mengekspos perilaku masyarakat modern seperti keserakahan terhadap sumber daya alam, irasionalitas, konsumerisme, tirani, hegemoni, fasisme, tribalisme. Horkheimer mengatakan bahwa kebebasan individu saat ini adalah palsu, karena kebebasan hanya dibayangkan saja, sementara pada kenyataannya individu secara tidak sadar diperbudak oleh masyarakat yang didorong oleh kekuatan pasar dan modal.  Individu dan masyarakat modern didorong oleh “kekuatan impersonal”  kapitalisme-konsumerisme yang digaungkan oleh dunia periklanan dan hiburan, dan pasar raya (mall), dan pasar modal. “Kekuatan impersonal” itu siang-malam menarik dan menjanjikan semua harapan. Orang-orang modern terpesona dengan slogan iklan dan hiburan, dan mereka bersedia untuk memberikan diri mereka diperbudak oleh “kekuatan impersonal”. Manusia modern telah menjadi robot dan sekrup kecil mesin sosial yang  tidak bisa lagi berpikir jernih memilih apa yang benar-benar baik baginya, berdasarkan sifat kesadarannya sendiri.

Akibatnya, proyek pembebasan manusia, yang diprakarsai oleh renaissance, reformasi, dan Aufklarung telah gagal, karena manusia modern telah dibelenggu oleh mitos-mitos baru, berhala baru, ilusi baru, takhayul baru, dan dewa-dewa baru, yang diromosikan secara intenfif dan masif serta global oleh kekuatan intelektual konspirasi illuminati-freemasonry global.

Dunia di abad ke-20 sampai ke awal abad 21, telah menuai badai. Perkembangan terbaru dari setiap ilmu pengetahuan, melampaui harapan dan harapan manusia modern, manusia modern telah merusak kepercayaan dari pemahaman ilmiah positivisme[32], yang tampaknya sejauh ini menjadi dua pilar iman mereka .

Munculnya fisika modern dengan munculnya teori relativitas Einstein dan Mekanika kuantum telah merubuhkan teori mekanika klasik dan paradigma mekanistik-positivis Newtonian yang selama tiga abad dianut oleh manusia modern. Alam semesta faktual adalah misteri yang ternyata menyimpan review tak berujung. Kesadaran muncul pada manusia modern, terutama di kalangan akademisi dan berpendidikan, bahwa mereka belum tahu apa-apa tentang seluruh alam semesta dan realitas; bahwa manusia secara faktual dan alam semesta saling berhubungan secara mendalam.

Kesadaran ini, untuk mereka yang berpendidikan, dapat menghancurkan keinginan manusia modern untuk membungkuk dan mengeksploitasi alam, karena secara bersamaan alam telah memberontak terhadap eksploitasi sewenang-wenang manusia, dalam bentuk polusi udara, air dan tanah, memanasnya iklim dan cuaca global, penipisan lapisan ozon. Pada tingkat teori, yaitu epistemologi dan kosmologi, kesadaran yang mengguncang kepercayaan manusia modern dalam ilmu pengetahuan. Akibatnya, pergerakan skeptisisme dan nihilisme yang telah dikembangkan yang tidak lagi memiliki apresiasi ilmu  pengetahuan dan juga bahkan, terhadap semua pengetahuan manusia. Generasi sofisme modern telah dilahirkan kembali. Manusia telah mundur 2500 tahun kembali ke zaman sofisme Yunani klasik .

Abad ke-20 ke abad ke-21 menuai badai. Ilmu pengetahuan dan teknologi diandalkan oleh manusia modern untuk mencapai kebahagiaan ternyata berbalik mengancam eksistensi manusia itu sendiri. Dua perang dunia yang besar telah terjadi dengan ratusan juta korban manusia dengan rekayasa teknologi senjata. Berbagai senjata canggih, mulai dari senjata kimia untuk bom nuklir, yang dirancang untuk membunuh banyak manusia, atau setidaknya digunakan untuk mengancam dan menggertak negara-negara lain, seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap negara-negara yang tidak mau menyerah kepada arogansi Amerika Serikat & Israel.

Manusia modern melihat bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi secara faktual tidak berkorelasi positif terhadap kesejahteraan umat manusia. Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan di ulang tahun PBB 24 Oktober 1999 lalu, menyebutkan bahwa abad ke-20 sebagai abad paling gelap dan paling keras dalam sejarah umat manusia, abad yang paling ramai dengan cerita penderitaan manusia. Para pemikir yang bijaksana dan intelektual akan mengkhawatirkan munculnya berbagai bencana kemanusiaan dan bencana alam di abad ke-21 mendatang[33]. Oleh karena itu, Anthony Giddens menyebutkan saat ini ditandai dengan ketidakpastian yang diproduksi yaitu periode ketidakpastian dan menyebabkan konsekuensi risiko tinggi.[34]

Kisah penderitaan manusia untuk menemukan realitasnya sendiri, belum berakhir. Krisis modernisme tidak berhenti pada irasionalitas dan krisis moral, krisis epistemologis, krisis ekologi dan krisis kekerasan saja. Tapi krisis modernisme, yang juga melanda Indonesia, tidak berhenti hanya pada krisis epistemologis dan metodologis seperti ini. Lebih akut, terjadi pada tingkat ontologis berkenaan dengan krisis eksistensial manusia mengenai sifat, tujuan dan makna dalam hidupnya. Manusia modern telah dilemparkan ke dalam sebuah krisis eksistensial, kehampaan spiritual, krisis legitimasi makna dan misi hidupnya, serta kehilangan penglihatan dan terasing dari alam semesta, dari Tuhan dan dirinya sendiri. Albert Camus menjelaskan bagaimana segala upaya manusia untuk menemukan esensi dari siapa dia, selalu bertemu dengan kegagalan, sehingga sampai kesimpulan bahwa hidup ini adalah tidak masuk akal, tidak memiliki arti. Kehidupan adalah seperti orang yang berjuang untuk mendaki gunung tanpa harapan tidak akan pernah mencapai tujuan. Albert Camus sehingga mempertanyakan mengapa manusia, yang tidak tahu dan tidak punya tujuan dalam hidup masih akan hidup di dunia yang tidak berarti ini. Mengapa manusia tidak lebih baik bunuh diri?

Abad ke-20 abad ke-21 menuai badai. Setelah 6 abad manusia menyatakan kedaulatannya dan menyatakan kematian Tuhan sendiri, situasi sekarang terbalik. Jarum sejarah telah mengguncang sendi kepercayaan manusia modern; rukun iman mereka itu jatuh. Rasionalitas , subjek otonom, antroposentrisme, positivisme, ilmu pengetahuan dan teknologi, kini bersiap-siap menjadi puing-puing fosil peradaban. Energi yang hilang. Roh telah menghilang. Bulan Purnama dari peradaban manusia modern telah menjulang di kelopak mata. Manusia modern telah meninggal.

Manusia harus mati? Beberapa dari mereka kemudian membuat dirinya tampil seperti dalam perilaku Cheerful Robot (robot yang ceria), orang yang mencoba melarikan diri dari kecemasan mental mereka dan kecemasan eksistensial dengan menerjunkan diri dalam hiburan, kesenangan sensual (terutama seksual), konsumsi produk-produk mewah, melakukan perjalanan ke tempat terdekat yang menyenangkan, dan sibuk dengan daya tarik permainan yang beragam. Semua itu dilakukan secara tidak sadar, dan sepenuhnya tunduk pada rekayasa psikologis kapitalis-imperialis “pedagang kesenangan”. Banyak lagi yang berperilaku seperti zombie, zombie yang menghantui di jalan-jalan mencari mangsa, tanpa emosi berdarah dingin, bertindak anarkis–destruktif, seperti yang ditampakkan oleh bebagai aksi terorisme seperti serangan militant ISIS di Syiria dan Serangan Koalisi Arab Saudi kepada sesama Muslim di negeri Yaman (2015) atau pembantaian rakyat Palestina oleh tentara Israel.

Lebih Jauh, terutama di kalangan terdidik, ditandai dengan kecemasan eksistensial mereka dengan meninggalkan eksistensi mereka sendiri, yaitu dengan mengambil sikap apatis, skeptis terhadap semua hal, nihilistik, dan jika perlu, bunuh diri dan bergelimang dengan kemabukan minuman keras, candu dan narkoba.[35]

Menurut Dr. Jalaluddin Rakhmat: “Ketika mereka menyingkirkan Tuhan Allah, mereka sebenarnya tidak hanya terasing dari Allah. Mereka terlemparkan ke dunia tanpa mengetahui ke mana mereka harus pergi. Mereka tersesat. “Sebagai hasil dari proyek kedaulatan manusia yang diresmikan oleh Renaissance dan Aufklarung (reformasi) yang telah gagal, karena manusia modern telah dibelenggu oleh mitos-mitos baru, berhala baru, ilusi baru,  takhayul baru, dan para dewa baru! Orang-orang telah terbelenggu oleh petualangan liarnya sendiri, sampai hilang dan terlemparkan dari dirinya sendiri, terasing dari alam semesta dan dari Tuhan Yang Sejati.[36]

Krisis eksistensial ini berlandaskan pada aspek ontologis atau masalah metafisika yang telah ditutup korelasi dan implikasinya dengan mode epistemologis Barat modern mereka dalam pengembangan ilmu pengetahuan modern, jadi kita juga harus menjelaskan dan mendiskusikan masalah-masalah epistemologis ilmu modern.

M. Memahami Epistemologi

Istilah epistemologi digunakan pertama kali pada tahun 1854 oleh JF Feriere. Epistemologi adalah cabang filsafat yang mencoba untuk menjawab pertanyaan dasar seperti yang Kant Katakan: “Was  kann ich wissen?” (“Apa yang bisa saya ketahui?”).[37] Karena jawabannya adalah tentang masalah pusat pemikiran manusia, sehingga epistemologi memiliki posisi sentral, sebagai mana Ayn Rand sebutkan, epistemologi adalah dasar dari ilmu-ilmu filosofis. Epistemologi merupakan salah satu bidang utama Filsafat. Hal ini berkaitan dengan sifat, sumber dan batas pengetahuan.[38]

Istilah Epistemologi ini berasal dari kata Yunani: ‘Episteme’ dan ‘Logos’. Episteme berarti ‘pengetahuan’ atau ‘kebenaran’ dan ‘logos‘ berarti ‘berpikir’, ‘kata’, atau ‘teori’. Runes mengatakan bahwa ‘epistemologi adalah cabang filsafat yang menjelaskan sumber, struktur, dan metode dan validitas pengetahuan.[39]

Pada abad ke-5 SM, para sofis Yunani mempertanyakan kemungkinan pengetahuan yang dapat diandalkan dan obyektif. Dengan demikian, seorang sofis terkemuka, Gorgias, berpendapat bahwa tidak ada yang benar-benar ada, bahwa jika sesuatu memang ada itu tidak bisa diketahui, dan bahwa jika pengetahuan itu mungkin, itu tidak bisa dikomunikasikan. Sofis lain yang menonjol, Protagoras, menyatakan bahwa tidak ada pendapat seseorang dapat dikatakan lebih benar dari yang lain, karena masing-masing adalah satu-satunya hakim dari pengalaman sendiri.[40]

Plato, mengikuti gurunya yang terkenal Socrates, mencoba untuk menjawab kaum Sofis dengan mendalilkan adanya dunia yang berubah dan tak terlihat bentuknya, atau ide-ide, tentang mana yang dimungkinkan untuk memiliki pengetahuan yang tepat dan pasti. Hal-hal yang orang melihat dan menyentuhnya, yang mereka pertahankan, adalah salinan sempurna dari bentuk-bentuk murni yang dipelajari dalam matematika dan filsafat. Dengan demikian  hanya penalaran abstrak dari disiplin ilmu ini yang menghasilkan pengetahuan sejati, sedangkan ketergantungan pada persepsi rasa menghasilkan pendapat tidak jelas dan tidak konsisten. Mereka menyimpulkan bahwa kontemplasi filosofis dunia gaib adalah bentuk tujuan tertinggi dari kehidupan manusia.

Epistemologi juga dapat didefinisikan sebagai ‘The Theory of Knowledge’. Epistemologi dalam penjelasannya terdiri dari dua bagian: ‘epistemologi umum’ dan ‘epistemologi khusus’ atau ‘teori pengetahuan khusus’, terutama untuk pengetahuan ilmiah; sehingga dapat menyebutkan sebagai “Filsafat Ilmu”[41]. The Philosophy of Science  (Pengetahuan) dan Epistemologi tidak dapat dipisahkan satu dari yang lain. Filsafat Ilmu didasarkan pada epistemologi, terutama pada masalah validitas ilmiah.[42] Validitas ilmiah terdiri dari tiga konsep teori kebenaran: korespondensi, koherensi, dan pragmatis. Korespondensi membutuhkan keselarasan antara ide dan fakta eksternal (alam semesta), kebenarannya adalah empiris-deduktif; koherensi membutuhkan keharmonisan antar pernyataan logis, kebenaran ini bersifat formal-deduktif; sementara pragmatis memerlukan kriteria instrumental atau kebutuhan, kebenaran ini adalah bersifat fungsional.

Produk Korespondensi adalah ilmu-ilmu empiris seperti: fisika, kimia, biologi, sosiologi; produk koherensi adalah ilmu abstrak seperti: matematika dan logika, sedangkan produk-produk pragmatis diterapkan ilmu seperti: kedokteran. Jadi epistemologi merupakan dasar fundamental filsafat ilmu, terutama untuk membuat identifikasi untuk pengetahuan ilmiah, atau pengetahuan sehari-hari, dan bagaimana menggunakan metodologi yang tepat dan prosedur untuk mendapatkan pengetahuan ilmiah.[43]

  • Implikasi Agama Kristen terhadap Ilmu Pengetahuan /Sains

Sebagian besar entri ini difokuskan pada implikasi dari ilmu agama. Namun, juga terjadi bahwa agama memiliki implikasi bagi ilmu pengetahuan. Telah dikatakan bahwa ajaran Kristen adalah kontributor penting untuk kebangkitan ilmu pengetahuan modern: kebebasan Allah mensyaratkan bahwa fitur dari dunia alam tidak bisa disimpulkan apriori dari prinsip-prinsip rasional, namun kebaikan dan kesetiaan Tuhan menyatakan bahwa dunia tidak akan begitu kacau untuk dapat dipahami. Keberadaan agama adalah pengingat yang berharga bahwa ada batas-batas luar yang tidak bisa dijelasan secara ilmiah, dan doktrin-doktrin yang membantu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berada di luar batas-batas itu. Era Newtonian melihat pemisahan filsafat alam (science) dari teologi natural, dan sejak saat itu telah menjadi anggapan metodologis dari ilmu yang harus memberikan penjelasan murni alami. Ilmu pengetahuan telah demikian menetapkan batas-batas kompetensi sendiri, tapi ini tidak berarti bahwa apa yang di luar kompetensinya karena itu tidak penting (atau tidak ada/eksis).

Kosmologi dan fisika menimbulkan pertanyaan yang mereka tidak bisa menjawabnya: Mengapa proses alam berperilaku seperti hukum? Apa yang menyebabkan Big Bang? Mengapa ada alam semesta sama sekali? Sementara teologi dan sains dapat berinteraksi dengan cara yang kecil dalam setiap domain yang tepat, itu adalah di sini bahwa penjelasan teologis datang dengan sendirinya.

  • Hubungan Tak langsung antara Metafisika dan Epistemology

Jika konflik langsung antara teologi Kristen dan berbagai teori ilmu pengetahuan modern telah sering ditekankan, efek merusak pada teologi adalah konflik tak langsung antara agama dan ilmu pengetahuan yang telah terlalu sedikit menerima perhatian. Interaksi tak langsung ini dapat dianggap di bawah judul metafisika dan epistemologi.

Pandangan Mekanika Descartes tentang materi sebagai perpanjangan murni, yang disertai dengan pandangan pikiran sebagai  ‘berpikir substansial ala Descartes’,  yang telah meresmikan dualisme metafisik,  yang telah menggantikan pandangan yang lebih tua dan lebih bernuansa pandangan antropologi Kristen. Sejauh dualisme ini telah terbukti secara filosofis tidak bisa dipertahankan, Kristen, dengan pandangannya tentang jiwa dan kehidupan setelah kematian, telah muncul dipertahankan juga.

Gambaran alam semesta sebagai Jarum jam seperti suatu sistem partikel yang bergerak tertutup, yang diatur ketat oleh hukum fisika (gambaran yang dicontohkan pada abad kesembilan belas oleh karya Laplace), menciptakan masalah dalam memandang tindakan ilahiyah Tuhan. Berbagai deisme populer menawarkan akun yang paling masuk akal: Tuhan adalah pencipta alam semesta, dan bertanggung jawab atas hukum alam, tetapi tidak memiliki interaksi yang berkelanjutan dengan dunia alam atau dengan sejarah manusia. Alternatif untuk theis (mereka yang masih percaya Tuhan) adalah perhitungan intervensi ajaib atau pertimbangan Allah sebagai penopang imanen proses alam (Miracles). Yang pertama tampaknya membuat Allah irasional (bertentangan dengan ketetapan Tuhan Allah sendiri) atau tidak kompeten (perlu menyesuaikan sistem).             Pandangan yang terakhir membuatnya sulit untuk mempertahankan rasa lebih keterlibatan pribadi Tuhan Allah dalam kehidupan manusia daripada yang mungkin untuk Deists tersebut. Sebagian besar perbedaan antara kaum Kristen liberal dan konservatif dapat ditelusuri ke dalam teori tindakan Tuhan: kaum konservatif cenderung untuk mengambil Tuhan yang bisa intervensi, sebuah pandangan kaum liberal tentang Tuhan yang imanentis (menyelemuti).

Epistemologi. Teolog abad pertengahan memiliki dua set kategori epistemologis yang mereka miliki, yang berkaitan dengan scientia (pengetahuan demonstratif atau ilmiah) dan yang berkaitan dengan opinio(‘kemungkinan’ keyakinan, termasuk yang didasarkan pada otoritas). Jadi kesimpulan teologis tersebut yang tidak bisa disimpulkan dari prinsip-prinsip pertama yang bisa dengan senang hati didasarkan pada otoritas tak tercela, sangat bernuansa firman Allah. Namun, pada periode modern, berbagai ilmu pengetahuan yang dikontrak oleh bidang matematika dan logika formal; Hume dan Kant keduanya memberikan kritik kuat argumen deduktif bagi keberadaan Allah dan teologi alam pada umumnya. Selanjutnya, ketika kemungkinan pengetahuan mengambil rasa pengetahuan kontemporer berdasarkan bukti empiris yang berat, menarik menjadi tidak relevan bagi otoritas, dan yang paling dinilai mustahil untuk memberikan bukti empiris untuk klaim teologis. Jadi pertanyaan sentral bagi para teolog modern liberal adalah bagaimana, jika teologi adalah mungkin sama sekali.

            Teologi liberal menyimpang dari rekening yang lebih tradisional sebagai hasil dari strategi untuk memenuhi masalah yang diangkat langsung atau tidak langsung oleh ilmu pengetahuan. Setelah Friedrich Schleiermacher, banyak teolog liberal telah memahami agama untuk membentuk bola sendiri dari pengalaman, tidak berhubungan dengan pengetahuan ilmiah. Doktrin teologis adalah ekspresi dari kesadaran religius, bukan rekening dari alam supranatural. Tuhan bekerja secara imanen, bukan oleh intervensi,  baik dalam dunia alam atau sejarah manusia. Dengan demikian teologi liberal telah menghindari konflik langsung dengan ilmu pengetahuan modern, pada biaya (atau dengan konsekuensi menguntungkan) dari revisi sangat radikal tentang konsep agama dan teologi. Namun, Isu Ian Barbour dalam Sains dan Agama (1966) mempresentasikan gambaran ensiklopedis titik-titik di mana klaim ilmiah yang relevan dengan pemikiran keagamaan, dan dalam Mitos, Model, dan Paradigma (1974) ia berpendapat kesamaan epistemologis yang signifikan antara ilmu pengetahuan dan agama. Sejak saat itu, semakin banyak ilmuwan ulama dari sayap liberal dari Kristen telah mulai memanggil divisi modern wilayah dipertanyakan.

  1. Pentingnya Merevisi Epistemologi tersebut

Mengapa epistemologi sangat penting bagi kehidupan manusia? Menurut Murthadha Muthahhari: “Dalam era baru-baru ini, banyak filsafat sosial, mazhab pemikiran (Mazhab), isme, ideolog , itu sudah hal penting, karena semua orang perlu memiliki suatu bentuk pemikiran tertentu bahwa kegiatan kehidupannya akan bergantung pada dan berdasarkan itu. Pada zaman kontemporer sering ada konflik yang terjadi di antara berbagai ideologi dan aliran pemikiran dari banyak kelompok, masyarakat, bangsa, negara.”[44]

Bahkan menurut Samuel J. Huntington, katanya ada ‘pertentangan peradaban’ di milenium ketiga di dunia. Saat ini, kita melihat Militer Amerika dan Inggris yang menaklukkan sumber-sumber alam yang besar seperti minyak dan gas dan untuk melindungi ambisi Zionisme-Israel  telah membuat Irak dan Afghanistan serta Syiria diserang dan diinvasi.

Semuanya dilakukan oleh manusia didasarkan pada pemikiran dan ideologinya. Dan ‘ideologi’ tertentu tergantung pada ‘pandangan dunia’ tertentu.[45] Sementara ‘pandangan dunia’ didasarkan pada epistemologi dalam filsafatnya. Itulah sebabnya epistemologi sangat penting untuk kajian dan penelitian.

Menurut Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi dalam Buku Daras  Filosofis (Philosophycal Instructions), Sebuah Pengantar Filsafat Islam Kontemporer [46]: “Ada serangkaian masalah mendasar yang dihadapi manusia sebagai makhluk sadar yang kegiatannya muncul dari  kesadarannya; dan jika manusia menjadi lalai dalam usahanya untuk menemukan jawaban yang benar untuk masalah ini, ia akan menemukan diri fakta sebaliknya dari ia telah melintasi batas antara kemanusiaan dan kebinatangan. Tetap dalam keraguan – selain ketidakmampuan untuk memenuhi kebenaran nuraninya – tidak akan ada yang memungkinkan manusia untuk menghilangkan kecemasan tentang kemungkinan tanggung jawab-nya. Ia akan ditinggalkan merana atau, seperti yang kadang-kadang terjadi, berubah menjadi makhluk yang berbahaya. Karena solusi yang keliru dan menyimpang, seperti materialisme dan nihilisme, tidak bisa memberikan kenyamanan psikologis atau sebagai makhluk sosial yang baik, kita harus mencari penyebab mendasar korupsi individual dan sosial dalam pandangan dan pikiran yang menyimpang. Oleh karena itu tidak ada pilihan lain kecuali untuk mencari jawaban atas masalah ini dengan tegas dan resolusi tak kunjung padam. Kita tidak mungkin berusaha sampai kita membangun cadangan dasar bagi kehidupan manusia kita sendiri dan dengan cara ini membantu orang lain juga, dan menangkap pengaruh dalam masyarakat pikiran yang tidak benar dan ajaran yang menyimpang, yang saat ini.

Sekarang bahwa perlunya sebuah upaya intelektual dan filosofis telah menjadi jelas dan tidak ada ruang yang telah ditinggalkan untuk keraguan atau ketidakpastian, tetap bagi kita untuk mengambil langkah pertama dalam perjalanan wajib ini dan tidak dapat dihindari atas mana kita telah selesaikan dengan menghadap ke pertanyaan berikut:  Apakah akal manusia dapat memecahkan masalah ini?

Pertanyaan ini membentuk inti tentang masalah di mana epistemologi dipusatkan. Sampai kita memecahkan masalah cabang filsafat ini, kita tidak akan dapat sampai pada solusi terhadap masalah-masalah ontologi atau untuk cabang lain dari filsafat. Sampai nilai pengetahuan intelektual ditentukan, klaim yang disajikan sebagai solusi nyata untuk masalah tersebut akan menjadi sia-sia dan tidak dapat diterima. Akan selalu tetap ada pertanyaan seperti tentang bagaimana kecerdasan dapat memberikan solusi yang tepat untuk masalah ini.

Banyak tokoh terkenal dari filsafat Barat, seperti Hume, Kant, August Comte, dan semua kaum positivis yang telah melakukan kesalahan. Dengan pandangan yang tidak benar, mereka telah tidak dapat menemukan dasar-dasar budaya masyarakat Barat, dan bahkan para sarjana dari ilmu-ilmu lainnya, mereka telah tersesatkan terutama kalangan psikolog behavioris. Sayangnya, pemukulan dan penghancuran gelombang ajaran tersebut juga telah menyebar ke bagian lain dari dunia, dan terpisah dari puncak yang tinggi dan tebing ketidakpastian dengan alasan yang tersisa dan menetapkan latar filsafat ilahi, semuanya kurang lebih telah datang di bawah pengaruh mereka.

Oleh karena itu, kita harus berusaha untuk mengambil langkah pertama yang mantap dengan meletakkan dasar-dasar bagi rumah ide-ide filosofis kita dengan kokoh dan sampai tegap, dengan bantuan Tuhan Yang Maha Esa, kita layak untuk menapak melalui tahap lainnya dan tiba di tujuan yang kita inginkan.

Q. Epistemologi dan Bahasa

Pergeseran dari epistemologi abad pertengahan ke empirisme modern memerlukan revisi radikal dalam epistemologi agama. Berbagai strategi yang digunakan selama periode modern untuk menunjukkan teologi menjadi epistemologis yang terhormat. Namun, peningkatan prevalensi ateisme di kalangan ilmiah menunjukkan bahwa strategi ini belum berhasil. Pada titik dalam sejarah intelektual di mana beberapa akan menyebutnya sebagai akhir periode modern, teori pengetahuan telah cukup berubah bahwa pertanyaan tentang status epistemic teologi perlu diperiksa lagi. Perhatian kita di sini akan hanya dengan perubahan yang berkaitan langsung dengan ilmu pengetahuan.

            Pernyataan teolog terkadang telah berhenti dengan alasan bahwa mereka menggambarkan keadaan urusan yang tak terbayangkan. Namun, teori fisika kuantum dan perkembangan ilmiah baru lainnya menggambarkan realitas fisik yang sama tak terbayangkan dan, sebagian orang akan mengatakan, panggilan ke dalam logika tradisional pertanyaan dua-nilai. Argumen ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa pandangan pengetahuan lebih rendah hati daripada periode modern disebut untuk; realitas yang lebih kompleks dan misterius dari apa bahasa kita dan konsep memungkinkan kita untuk menangkap .

Hal ini sering dikatakan (terutama oleh para teolog) bahwa teologi berbeda secara radikal dari ilmu pengetahuan dalam hal ilmu pengetahuan yang obyektif sementara semua ilmu agama adalah pengetahuan diri –yang melibatkan, produk dari interaksi antara Tuhan dan subjek manusia. Cara lain di mana ilmu pengetahuan telah marah terhadap pandangan tua pengetahuan, dan mempersempit perbedaan antara ilmu pengetahuan dan teologi, dalam pengakuan bahwa pengetahuan ilmiah itu sendiri adalah interaktif. Pengukuran interaksi dengan fenomena yang diukur, terutama pada tingkat sub-atomik.

Kebanyakan pemikir modern telah dinilai mustahil untuk memberikan dukungan empiris untuk teologi. Namun, dimulai dengan karya Ian Barbour (1974), telah ada penyelidikan dari cara di mana penalaran teologis menyerupai ilmu pengetahuan, termasuk rekening data yang sesuai untuk teologi. Perkembangan ini dimungkinkan oleh kemajuan dalam filsafat ilmu yang menunjukkan ilmu itu sendiri menjadi lebih rumit, dan lebih manusiawi, usaha yang  diasumsikan daripada kaum positivis.

SARAN SEYYED HOSSEIN NASR : “KEMBALI KE ILMU PENGETAHUAN SUCI TRADISIONAL DAN KEARIFAN ABADI (PERENNIALISM)” Untuk  Menyelesaikan Krisis Multidimensi Manusia Modern

Dalam Bab ini, saya ingin mencoba untuk mengetahui beberapa penjelasan singkat yang menjadi saran atau resep dari cara pandang alternatif untuk mengatasi krisis multidimensi manusia modern yang telah disebabkan oleh pandangan dunia materialistik-sekuler dalam modernisme-materialisme, yaitu dengan menghidupkan kembali Traditional Sacred Science, atau kearifan tradisional yang sakral/suci yang merupakan Sophia Perennialism atau Kearifan  dan Kebijaksanaan Abadi yang dibawa oleh para Nabi Allah dan orang-orang suci (para filosof-irfani dan para wali dan panditha-pujangga) sepanjang sejarah umat manusia.

  • Filsafat dan Tradisi Kenabian

Menurut Seyyed Hossein Nasr ketika ia menulis dalam pengantarnya tentang hubungan antara Filsafat dan Kenabian: “Dalam iklim budaya saat ini di Barat serta bagian lain dari dunia yang dipengaruhi oleh modernisme dan postmodernisme, filsafat dan kenabian dipandang sebagai dua hal yang sangat berbeda, dan di mata banyak orang, pendekatannya dianggap bertentangan dengan pemahaman tentang sifat realitas.

Sepertinya tidak begitu, bagaimanapun, dalam kasus ini berbagai peradaban tradisional sebelum munculnya dunia modern. Juga tidak terjadi bahkan hari ini untuk sejauh bahwa pandangan dunia tradisional telah bertahan. Tak perlu dikatakan, dengan “kenabian/nubuwah” berarti kita meramalkan masa depan, tetapi kenabian membawa pesan dari perintah dari yang lebih tinggi atau lebih dalam realitas “kenabiannya” yang  jelas sebagaimana dalam dunia Mesir kuno, Yunani klasik, dan Hindu, jika tidak berbicara tentang Monoteisme Abrahamik di mana peran kenabian jadi pusatnya.

Jika kita tidak membatasi pemahaman kita tentang kenabian kepada  tampilan Ibrahimik itu, kita bisa melihat adanya kenabian dalam iklim keagamaan yang sangat beragam di hampir semua yang tidak hanya dari makna hukum, etika dan spiritual, tetapi juga dari satu sapiensial (kebijaksanaan-kearifan) bersangkutan dengan pengetahuan.

Kita melihat kenyataan ini dalam dunia resi di India dan Dukun agama (Shamans) dalam perdukunan yang beragam sebagaimana dalam iatromantis (Nabi-Penyembuh) di dalam agama Yunani dan Taoisme yang abadi, dalam penerangan Buddha dan kemudian di dalam master Zen Buddha yang memiliki pengalaman pencahayaan/pencerahan atau satori, serta para nabi dari agama-agama Iran seperti Zoroaster dan tentu saja para nabi Abrahamik. Akibatnya dalam semua dunia ini, kapanpun dan di manapun filsafat dalam arti universal telah berkembang, telah berhubungan dengan kenabian dalam berbagai cara.”[47]

Bahkan jika kita membatasi definisi Filsafat dengan aktivitas intelektual di Yunani kuno, yang pemahaman sejarah Barat modern anggap sebagai tempat asal spekulasi filosofis, hubungan antara filsafat dan kenabian dapat dilihat menjadi sangat dekat pada saat asal-usul paling awal filsafat Yunani. Kami juga menyadari bahwa kerenggangan hanya terjadi kemudian, tapi  tidak dipisahkan satu sama lain pada awal tradisi filsafat Yunani. Mari kita hanya mempertimbangkan tiga tokoh yang paling penting pada asal spekulasi filsafat Yunani. Pythagoras, yang dikatakan telah menciptakan istilah Filsafat, itu tentu bukan filsuf biasa seperti Descartes atau Kant. Dia dikatakan telah memiliki kekuatan kenabian yang luar biasa dan dirinya seperti seorang nabi yang mendirikan sebuah komunitas religius baru.[48] Kaum Muslim sebenarnya menyebutnya monoteis (muwahhid) dan beberapa menyebutnya sebagai seorang nabi.

Orang yang sering disebut “Bapak logika Barat dan Filsafat“ adalah Parmenides, yang biasanya ditampilkan sebagai rasionalis, yang kebetulan telah menulis sebuah puisi berkualitas biasa-biasa saja. Tapi sebagaimana hasil studi baru-baru ini, Peter Kingsley secara brilian telah jelas menunjukkan, jauh dari menjadi rasionalis dalam pengertian modern, ia telah terbenam dalam dunia kenabian dalam arti agama Yunani dan merupakan seorang pelihat yang visioner.[49] Dalam puisinya, yang berisi pesan-pesan filosofis, Parmenides telah terpimpin ke dunia lain oleh Putri Matahari yang datang dari Istana  Cahaya (Mansion of Light) yang terletak di tingkat eksistensi yang terjauh.[50]  Jawaban untuk Pertanyaan bagaimana perjalanan ini berlangsung adalah “inkubasi”, “sebuah praktek spiritual yang terkenal dalam agama Yunani, di mana seseorang akan diam beristirahat sepenuhnya, sampai jiwanya akan dibawa ke tingkat realitas yang lebih tinggi, dan misteri keberadaan akan terungkap.

Dengan demikian Parmenides melakukan perjalanan batin sampai ia bertemu “para dewa/malaikat Tuhan” yang mengajarkan segala yang penting, yaitu, mengajarkan kepadanya apa yang dianggap menjadi puncak  asal spekulasi filsafat Yunani. Sungguh luar biasa bahwa ketika “Dewa” menemui Parmenides, Dewa menyebut dia sebagai Kouros, artinya anak muda. Fakta ini luar biasa dan menarik karena dalam tradisi Islam istilah yang sangat tepat untuk ksatria spiritual (Futuwwah dalam bahasa Arab, dan jawãnmardi di bahasa Persia) dikaitkan dengan kata untuk pemuda (FATA / Jawan), dan ksatria spiritual ini dikatakan telah ada sebelum Islam dan telah diberi kehidupan baru dalam Islam di mana sumbernya dikaitkan dengan ‘Ali bin Abi Thalib [51], yang menerima Islamnya dari Nabi dan di mana hal itu diintegrasikan ke dalam tasawuf. Selain itu, Syaidina Ali telah dikaitkan oleh sumber-sumber Islam tradisional dengan pendirian metafisika Islam. [52]

Sosok lain Yunani yang diberi gelar kouros adalah Epimenides dari pulau Kreta yang juga berangkat ke dunia lain, di mana ia bertemu Keadilan dan yang membawa kembali hukum ke dunia ini. Seperti Parmenides, ia juga menulis puisi. Sekarang Epimenides dikenal sebagai nabi-penyembuh atau iatromantis yang kepadanya semuanya telah terungkap melalui inkubasi (Meditasi/uzlah) pada saat ia berbaring tak bergerak di sebuah gua selama bertahun-tahun.[53]  Parmenides terkait dengan tradisi ini. Perjalanan Iatromantis ke dunia lain seperti dukun shamans dan tidak hanya mereka telah mampu menggambarkan perjalanannya, tetapi juga menggunakan bahasa sedemikian rupa untuk membuat perjalanan ini mungkin bagi orang yang lainnya untuk memahaminya. Mereka menggunakan mantra/doa-doa dalam puisi mereka yang kita juga lihat di karya-karya Parmenides. Mereka juga memperkenalkan cerita dan legenda Timur bahkan sejauh Tibet dan India, yang sangat menarik karena komunitas Parmenides di Anatolia di Italia selatan itu sendiri dipuji berasal dari Timur di mana dewa Apollo telah mengadakan penghargaan khusus sebagai model ilahi dari iatromantis yang ia terinspirasi sebagai nabi untuk menulis puisi hipnotis yang berisi pengetahuan tentang realitas.

Penggalian arkeologis dalam beberapa dekade terakhir di Velia di Italia selatan, yang merupakan rumah Parmenides, telah mengungkapkan prasasti yang menghubungkan secara langsung ke Apollo dan iatromantis.Sebagaimana Kingsley tulis, “Kami sedang dipertunjukkan bahwa Parmenides sebagai anak dewa Apollo, yang bersekutu dengan tokoh-tokoh puisi iatromantis misterius, yang ahli dalam penggunaan puisi incantory dan untuk membuat perjalanan ke dalam dunia.”[54]  Jika kita ingat bahwa, bila berbicara secara esoteric: “Apollo bukanlah dewa Cahaya tetapi Cahaya Tuhan itu sendiri”[55],  menjadi jelas seberapa dalam filsafat, sebagai mana diuraikan oleh  Pastor Yunani Parmenides, terkait tentang saat asal usulnya dengan kenabian bahkan dipahami dalam terminology (Nabi) Ibrahimik telah menyediakan seseorang dengan tidak mengabaikan makna batin kenabian yang segera kita akan bahas. Sebuah tradisi semua para imam penyembuh telah diciptakan dalam pelayanan Apollo Oulios (Apollo Sang Penyembuh), dan dikatakan bahwa Parmenides adalah pendirinya. Sangat menarik untuk dicatat bahwa meskipun aspek-aspek ajaran Parmenides kemudian dilupakan di Barat, mereka diingat justru dalam kalangan filsafat Islam di mana sejarawan Muslim yang tergabung dalam filsafat tidak hanya Islam, tetapi juga filsafat Yunani yang erat dengan kenabian[56]. Seseorang harus ingat di sini terkenal diktum Arab: yanba ‘al-Hikmah min Mishkat al-nubuwwah, yaitu “filsafat/hikmah muncul dari  ceruk kenabian”

Menarik untuk dicatat bahwa guru Parmenides telah dikatakan jelas miskin dan bahwa apa yang diajarkannya di atas segalanya kepada murid-muridnya adalah keheningan (nyepi) atau hesychia. Ini sangat penting bahwa figur yang kemudian seperti Plato, berusaha untuk memahami Parmenides yang menggunakan istilah hesychia lebih daripada kata lain untuk menggambarkan pemahaman berikutnya terhadap realitas. “Bagi Parmenides, melalui keheningan itu kita datang ke keheningan. Melalui keheningan kita mengerti keheningan. Melalui praktek keheningan kita datang untuk mengalami realitas yang ada di luar dunia indra ini.[57] “Sekali lagi itu adalah kepentingan yang luar biasa untuk mengingat penggunaan hesychia terkait dengan diwujudkan oleh ajaran esoterik dari Gereja Ortodoks, ajaran yang tujuannya adalah pencapaian kesucian dan gnosis/irfan.

Dalam puisi Parmenides dia diberitahu secara eksplisit oleh para dewa (Tuhan YME) untuk mengambil apa yang dia telah pelajari, untuk diajarkan kembali ke dunia dan menjadi utusan-Nya.  Kingsley membuat jelas apa artinya istilah utusan dalam konteks ini.  “Ada satu nama tertentu yang menggambarkan dengan baik  jenis utusan Parmenides yang menemukan dirinya menjadi: nabi (prophets).  Arti sebenarnya dari kata ‘nabi’ tidak ada hubungannya dengan kemampuan melihat (peramal)  ke masa depan. Istilah itu hanya berarti seseorang yang tugasnya adalah untuk berbicara atas nama suatu “kekuatan besar, seseorang atau sesuatu yang lain.”[58] “Fungsi kenabian” Parmenides ini termasuk tidak hanya menjadi seorang filsuf, penyair, dan penyembuh tetapi juga, seperti Epimenides, seorang pembawa hukum.

Hubungan antara Parmenides dan kenabian, bagaimanapun, tidak terutama hanya dalam hubungan sosial, hukum, dan eksoteris, tapi lebih dalam, yang memulai dan esoteris. Puisinya, jika dipahami dengan benar, itu sendiri merupakan inisiasi ke dunia lain, dan “semua tanda-tanda bahwa hanya orang bodoh akan memilih untuk melewatkan, adalah bahwa ini adalah teks untuk inisiasi (bai’at).”[59]  Dalam hal ini ia bergabung dengan  Pythagoras dan Empedocles yang filsafatnya juga ditujukan hanya untuk mereka yang mampu menerima pesannya dan berbicara dengan benar secara dimensi esoteris (batiniah) ketimbang dimensi eksoteris (syariah-lahiriyah) dari agama Yunani, yang membutuhkan inisiasi untuk pemahaman penuh. Sungguh luar biasa lagi dalam pertanyaan ini, bagaimana filsafat Islam menyerupai begitu banyak visi dan pemikiran  filosofis figur tokoh-tokoh pra-Socrates seperti Pythagoras, Parmenides, dan Empedocles, yang semuanya sangat dihormati oleh para filosof Islam, terutama dari mazhab Isyraqi (illuminationist/Pencerahan bathin).

Menjupai  sosok misterius Empedocles, sekali lagi kita melihat seorang filsuf yang juga seorang penyair serta penyembuh dan yang dianggap oleh banyak orang sebagai juga seorang nabi. “Selain sebagai seorang dukun(Sorcerer), dan penyair, ia juga seorang nabi dan penyembuh. Salah satu nabi-penyembuh yang saya telah bicarakan tentangnya.”[60]   Empedocles juga menulis tentang kosmologi dan ilmu alam seperti fisika, tetapi bahkan dalam hal ini domain karya-karya ini tidak ditulisnya hanya untuk sekedar memberikan fakta-fakta, tetapi “untuk menyelamatkan jiwa manusia”[61],  sangat mirip dengan kosmologi sejumlah filsuf Islam, termasuk Suhrawardi dan bahkan Ibnu Sina dalam bukunya Visionary resital.[62] Apa yang penting adalah menyadari sebagian besar dari semua bahwa Empedocles melihat dirinya sebagai seorang nabi dan puisinya sebagai karya esoteris (kebatinan/ruhaniyah).

Menarik untuk menyebutkan bahwa ketiga tokoh tersebut yang datang pada asal-usul tradisi filsafat Yunani juga adalah penyair/sastrawan. Ini merupakan karakteristik dari banyak filosof yang berkembang selama berabad-abad di bawah sinaran matahari kenabian. Kita hanya butuh untuk ingat bahwa para bijak Hindu kuno juga penyair/sastrawan dan juga para bapak  pemikiran filsafat Hindu dalam arti tradisional atau banyak orang bijak Cina yang menyatakan ekspresi dirinya dalam bentuk puisi. Dalam dunia monoteisme Nabi Ibrahim, hal ini harus terlihat di antara sejumlah filsuf Yahudi dan Kristen, tetapi lagi-lagi ini dapat ditemukan terutama di kalangan filsuf Islam seperti Ibnu Sina, Nasir-I Khusraw, Umar Khayyam, dan Suhrawardi  sampai ke Afdal al-Din Kasyani, Mir Damad, dan Mulla Sadra sampai ke Haji Mulla Hadi Sabziwari, yang hidup pada abad ketiga belas masehi.[63]

Dalam dunia di mana kita hidup saat ini, filsafat telah direduksi menjadi hanya sekedar rasionalisme atau terlebih  menjadi irrationalism dan di mana tidak hanya esoterisme, tetapi bahkan agama itu sendiri itu ditolak atau dipinggirkan, interpretasi yang diberikan tentang para pendiri Filsafat Barat tersebut di atas akan ditolak dalam banyak kalangan, dan hubungan antara filsafat dan kenabian pada umumnya dan filsafat, puisi dan esoterisme pada khususnya akan dihentikan atau dianggap sebagai konsekuensi yang kecil saja.

Tapi anehnya bagi pembaca Barat, hubungan antara filsafat, kenabian, dan esoterisme, justru ditegaskan oleh sejumlah sarjana Barat kontemporer, yang ditemukan menjadi pusat tradisi filsafat Islam, yang dengannya sebagian besar dari buku-buku SH Nasr ini akan peduli. Kami telah menyertakan pembahasan tokoh-tokoh Yunani di sini untuk menunjukkan bahwa hubungan antara filsafat dan kenabian, meskipun terputus ke tingkat yang semakin besar di Barat dari akhir Abad Pertengahan dan seterusnya, adalah sangat penting, tidak hanya untuk pemahaman Filsafat Islam, tetapi juga untuk pemahaman yang lebih mendalam tentang asal-usul filsafat Barat itu sendiri, asal-usul bahwa filsafat Barat telah berbagi saham dengan filsafat Islam, tetapi dapat dipahami dengan cara yang sangat berbeda oleh dua arus pemikiran filsafat Barat yang datang kemudian, yang semakin besar menjauhkan diri dari filsafat perennial dan dari teologi Kristen.

Tentu saja ada mode-mode dan derajat kenabian yang berbeda, sebuah fakta bahwa  jika seseorang menyadarinya, ketika mempelajari berbagai tradisi agama dan bahkan jika seseorang membatasi diri untuk tradisi tunggal, seperti yang kita lihat dalam Yudaisme dan Islam di mana peran kenabian Yunus atau Daniel tidak sama seperti yang dilakukan Musa atau Nabi Islam (Muhammad SAW). Namun ada unsur-unsur umum dalam berbagai pemahaman kenabian sejauh tantangan yang dimiliki filsafat yang bersangkutan. Pertama-tama kenabian menyiratkan tingkatan realitas, apakah ini dipertimbangkan sebagai  hirarki objektif atau subyektif. Jika hanya menjadi ada satu tingkat realitas obyektif yang terkait dengan dunia jasmani dan subyektif dengan kesadaran biasa, kami menganggapnya sebagai satu-satunya bentuk kesadaran yang sah dan diterima, kenabian sebagai fungsi membawa pesan dari dunia lain atau tingkat Kesadaran lain, akan menjadi tidak berarti karena akan ada dunia lain atau tingkat kesadaran, dan suatu klaim bahwa keberadaan mereka akan ditolak dan dianggap sebagai halusinasi subyektif. Seperti pada kenyataannya dengan kasus saintisme modern dan pandangan umum desakralisasi dunia, yang keduanya mengecualikan perspektif Realitas transenden mereka dan tingkat yang lebih tinggi dari keberadaan (eksistensi) vis-à-vis dunia ini serta Diri imanen dan tingkat kesadaran yang lebih dalam dari yang biasa-biasa saja.

Tetapi dalam dunia di mana semua realitas kenabian telah dijalankan dengan satu atau lain cara, penerimaan tingkat yang lebih tinggi dari realitas dan/atau level kesadaran yang lebih dalam yang telah diambil untuk diberikan sebagai cara yang benar untuk memahami sifat dari realitas total di mana manusia hidup.[64] Diformulasikan dengan cara ini, pernyataan ini termasuk monoteisme Ibrahim bersama dengan agama-agama India, Taoisme dan Konghucu serta agama kuno Mediterania dan Iran, dan Shamanisme bersama dengan Buddhisme, yang menekankan tingkat kesadaran daripada derajat eksistensi objektif.

Di dalam dunia ini, di mana semua kenabian merupakan realitas utama, yang menciptakan konsekuensi, yang dengannya filsafat harus berurusan. Kenabian memberikan ajaran moral dan hukum, etika, politik, dan hukum  bagi masyarakat, sehingga filsafat harus mempertimbangkannya. Selain itu, klaim kenabian memberikan pengetahuan tentang hakikat realitas, termasuk pengetahuan tentang Asal atau Sumber dari segala sesuatu, dari penciptaan kosmos dan strukturnya atau kosmogoni dan kosmologi, sifat jiwa manusia, yang akan mencakup apa yang tepat harus disebut “Pneumatology” dan psikologi tradisional dan akhir segala hal, hal akhirat atau eskatologi.  Buah dari kenabian adalah pengetahuan tentang semua aspek utama dari realitas yang dialami atau spekulasi tentang manusia, termasuk sifat ruang dan waktu, bentuk dan substansi, hukum sebab-akibat/kausalitas, takdir, dan berbagai masalah lain yang dengannya filsafat secara umum juga bersangkutan.

Selain itu, bentuk-bentuk tertentu dari kenabian harus dilakukan dengan pengetahuan batin, dengan esoteris dan mistiskal, dengan visi tingkat lain dari realitas yang tidak dimaksudkan untuk masyarakat umum yang luas. Kita telah melihat hubungan asal-usul filsafat Yunani dengan dimensi esoteris agama Yunani, dan kita dapat menemukan banyak contoh lain dalam tradisi-tradisi lain, termasuk tradisi agama Buddha dan khususnya Islam, di mana filsafat menjadi terkait lebih dalam di abad kemudian dengan dimensi batin wahyu Quran. Hubungan antara filsafat dan esoterisme, yang merupakan dimensi kenabian sebagaimana didefinisikan di sini dalam arti universal, juga memiliki sejarah panjang di Barat yang berlangsung sampai gerakan Romantic Jerman.

Dari abad ketujuh belas dan seterusnya, filsafat Barat merasa dipaksa untuk berfilsafat tentang gambaran dunia yang dilukis oleh ilmu pengetahuan modern dan menjadi lebih  merupakan hamba ilmu pengetahuan modern terutama dengan pemikiran Emanuel Kant, dan mencapai banyak puncaknya pada abad kedua puluh dengan filsafat Anglo-Saxon, yang lebih sedikit terikat daripada jejak logika pada pandangan dunia ilmiah.

Dalam cara yang serupa, di berbagai dunia tradisional di mana realitas kenabian dan wahyu adalah menjadi pusatnya, apakah perwujudan dari kenabian ini telah menjadi kitab suci atau bentuk lain dari pesan yang dibawa dari surga atau utusan Tuhan sebagai mana dalam kasus para avatar Hindu, Buddha, atau Kristus, filsafat tidak punya pilihan selain untuk mengambil realitas sentral ini menjadi pertimbangannya. Filsafat harus berfilsafat tentang sesuatu, dan di dunia tradisional tersebut bahwa sesuatu selalu mencakup realitas yang terungkap melalui kenabian, yang berkisar dalam bentuk dari iluminasi dari rhesi Hindu dan Buddha, seperti Tuhan Allah berbicara kepada Nabi Musa di Gunung Sinai atau malaikat Jibril yang mewahyukankan Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam dunia tradisional pertanyaan tersebut, filsafat belum menjadi sesederhana teologi, karena beberapa orang telah berpendapat begitu, kecuali satu batasan definisi positivistik filsafat modern, jika dalam kenyataannya tidak ada filsafat non-Barat atau dalam hal ini filsafat Barat abad pertengahan, yang tidak membicarakannya.

Tetapi jika kita menerima definisi filsafat yang diberikan oleh orang yang dikatakan pertama kali telah menggunakan istilah itu yaitu Pythagoras – dan melihatnya sebagai cinta (philo) kepada Shopia (kebenaran), atau jika kita menerima menurut definisi Plato filsafat sebagai “praktek persiapan kematian” yang menurut filosofinya meliputi aktivitas intelektual dan latihan rohani, maka pasti ada banyak mazhab filsafat di berbagai dunia tradisional, beberapa yang masih ada sampai sekarang, hanya dalam bentuk lisan sebagai salah satunya yaitu  tradisi pribumi Australia (aborigin) dan penduduk asli Amerika (indian),[65] sementara yang lain telah menghasilkan volume tulisan-tulisan filosofis selama berabad-abad.

            Bahkan jika ada orang yang memutuskan untuk hanya berurusan dengan karya-karya filsafat tertulis, orang bisa menulis volume tentang subjek filsafat di tanah kenabian yang berurusan dengan Tao dan tradisi filsafat Konfusianisme Cina, dengan orang-orang Tibet dan Buddhisme Mahayana termasuk mazhab-mazhab Jepang, semua yang memiliki karakteristik khusus mereka sendiri, dan tentu saja dengan tradisi filsafat yang sangat kaya dari Hindu India.

Kita juga bisa beralih ke dunia tradisi agama Ibrahimik dan menulis tentang mazhab filsafat Yahudi, Kristen dan Islam dari perspektif kegiatan filosofis dalam dunia yang didominasi oleh kenabian. Juga tak satu pun menemukan perawatan semacam ini benar-benar lengkap paralel untuk tiga adik tradisi-agama Ibrahimik,  meskipun terkenal kesamaan, karena sementara konsepsi kenabian Yahudi dan Islam dan kitab sucinya yang berdekatan, namun bahwa Kekristenan agak berbeda, di mana pendiri agamanya (Yesus) dipandang sebagai inkarnasi dari Keilahian, berbeda dalam banyak hal baik dari materi Yahudi dan pandangan Islam. Perbedaan ini sangat penting secara filosofis seperti yang kita lihat dalam perlakuan filosofis inkarnasi dalam filsafat Kristen dan “filsafat kenabian” dalam konteks Islamnya. [66]

Untuk memberikan argumen mengapa kita perlu untuk mencari saran atau resep alternatif untuk memecahkan masalah dan krisis modernisme, saya menemukan beberapa artikel yang baik dan jelas dari situs The Center of Science Sacred (http://www.centerfor sacredsciences.org) bellow:

  • Mengapa Kita Perlu Pandangan Dunia yang Baru?

Ketika astronom Polandia Nicholas Copernicus, hampir lima ratus tahun yang lalu, mengusulkan bahwa matahari-lah, dan bukan bumi, yang menjadi pusat alam (tata surya), ia memulai sebuah revolusi ilmiah yang telah mengubah kehidupan manusia dengan cara yang dramatis dan belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk satu hal, ilmu pengetahuan dan teknologi (sains-tek) baru yang dilahirkan ini mungkin telah membuat perbaikan yang cepat dalam bidang-bidang seperti pertanian, manufaktur, obat-obatan, perjalanan, komunikasi dan pendidikan, yang kesemuanya telah memperbaiki standar hidup untuk sebagian besar populasi dunia. Namun, karena seperti yang mungkin menyambut perkembangan ini, hal ini tidak datang tanpa harga. Seiring dengan manfaatnya yang tidak dapat dipungkiri, sains-teknologi ini telah juga membawa di belakangnya sejumlah masalah yang tidak terduga. Kelebihan dan kepadatan penduduk, pencemaran lingkungan, degradasi ekologi (menurunnya kualitas lungkungan), pemanasan global, dan penemuan senjata pemusnah massal, semuanya telah mengancam kita dengan bencana yang jauh bisa lebih besar daripada apa pun akibat perkembangan ilmu pengetahuan yang telah begitu jauh terjadi. [67]

Bagaimanapun yang lebih mengkhawatirkan, adalah kenyataan bahwa meskipun solusi teknologi bagi banyak masalah-masalah ini sudah diketahui, tampaknya kita semakin tidak mampu mempersiapkan diri untuk melaksanakannya. Kelumpuhan psiko-spiritual ini menjadi poin kolektif kami, yang lebih halus namun kita harus tidak/kurang serius membayarnya dengan harga mahal, karena sains-teknologi dengan tidak perlu diragukan lagi, telah merusak keimanan seperti – hilangnya bantalan moral dan spiritual.

Sebenarnya, kerugian ini tidak datang begitu banyak dari sains per-se (yang, tegasnya, hanyalah merupakan metode), tapi dari kita telah menerima pandangan dunia materialisme-nya yang menjadi basis sains-teknologi.  Masalah pada pandangan dunia materialisme ini adalah bahwa banyak penjelasan tentang bagaimana kosmos bekerja, bertentangan penjelasannya dengan yang  pandangan-dunia agamis yang lebih tua, yang telah memberikan panduan moral dan spiritual bagi sebagian besar sejarah umat manusia. Apalagi, mengingat keberhasilan yang tampak dari penjelasan materialis itu telah menjadi lebih mengeras dan sulit bagi orang yang terdidik untuk menganggap serius setiap penjelasan keagamaan.  Apakah para petani modern, misalnya, akan mengandalkan doa-doa dan mantera, daripada pupuk untuk meningkatkan hasil panen? Apakah ibu-ibu modern akan memilih ritual perdukunan tinimbang obat antibiotik untuk mengobati infeksi anaknya?

Perbedaan antara penjelasan yang ditemukan di dalam pandangan-dunia materialis ini dengan pandangan-dunia agamis mungkin tidak dengan sendirinya menjadi masalah, jika bukan karena fakta bahwa fungsi penting dari setiap pandangan dunia adalah untuk memberi pengikutnya pertimbangan internal yang koheren dan konsisten tentang realitas. Akibatnya, bila kita mempertanyakan satu aspek dari pandangan dunia tentu menimbulkan pertanyaan terhadap semua aspek lainnya juga. Dalam merusak penjelasan agama tentang cara kerja kosmos (alam Semesta), pandangan dunia materialisme juga menggerogoti nilai-nilai moral dan spiritual agama-agama tradisional yang telah mapan. Dan, yang membuat keadaan menjadi lebih buruk, karena pandangan dunia materialisme tidak mengakui dimensi spiritual dari kosmos, maka pada dasarnya tidak mampu memasok nilai-nilai spiritual dan moral itu sendiri.

Akibatnya, hari ini banyak orang (terutama di Barat) yang telah meninggalkan pandangan-dunia agama mereka sama sekali dan hidup dalam kekosongan moral dan spiritual. Orang lain telah menyerah kepada sejenis ‘skizofrenia filosofis’ di mana mereka bergantung pada pandangan dunia materialisme untuk pelaksanaan urusan praktis mereka, sementara mencari pandangan dunia agama yang bertentangan untuk membimbing kehidupan rohani mereka.

Pertanyaannya, kemudian, secara alami muncul: “Apakah mungkin untuk menciptakan pandangan dunia baru yang dapat menjelaskan dengan baik keberhasilan ilmu pengetahuan modern sambil mempertahankan nilai-nilai fundamental moral dan spiritual? Sebelum menjawab pertanyaan penting ini, bagaimanapun, kita pertama harus jelas mengenai apa pengertian pandangan dunia itu.

  • Definisi Pandangan Dunia (Worldview)

Secara ringkas, pandangan dunia adalah sebuah konsep yang koheren, yang disepakati tentang peta kosmos. Secara lebih spesifik, pandangan dunia dapat memasok suatu komunitas tertentu dengan:

  • asumsi dasar tentang apa yang nyata dan apa yang tidak nyata, dan kriteria untuk membedakan apa yang benar dari apa yang salah;
  • terminologi untuk membahas asumsi-asumsi dasar dan kriteria tersebut, dan untuk menarik kesimpulan logis darinya;
  • nilai-nilai yang memberikan bimbingan moral dan spiritual bagi tindakan-tindakan kita;
  • contoh-contoh historis yang berfungsi sebagai model peran tentang bagaimana asumsi-asumsi dasar dan nilai-nilai bisa berhasil digunakan dalam rangka untuk memberikan makna hidup kita dan koherensinya.

Apakah kita menyadarinya atau tidak akan hal itu, semua kita memiliki pandangan dunia. Sebagian besar dari kita menerima pandangan dunia kita dari masyarakat di mana kita dilahirkan dan tetap berkomitmen untuk itu sepanjang hidup kita. Beberapa dari kita, bagaimanapun juga, menghadapi situasi atau memiliki pengalaman yang tidak dapat dijelaskan dengan pandangan dunia yang kita warisi tersebut. Ini biasanya berupa endapan krisis kepercayaan yang dapat diselesaikan dalam satu dari dua cara: entah kita sampai pada pemahaman yang lebih dalam tentang pandangan dunia yang  kita warisi, yang menunjukkan bagaimana dapat menjelaskan situasi anomali (keanehan) atau pengalaman, atau kita mengubahnya dengan pandangan dunia lain, yang dianut oleh sebuah komunitas yang berbeda, yang telah memiliki penjelasan built-in untuk anomali yang kita temui.

Kadang-kadang seluruh anggota komunitas akan menghadapi anomali yang tidak dapat dijelaskan oleh pandangan dunia yang ada. Ketika ini terjadi, masyarakat secara keseluruhan memasuki masa krisis. Orang-orang di masyarakat mulai kehilangan indera arah. Mereka tidak lagi merasa jelas tentang apa yang mereka lakukan, atau mengapa mereka melakukannya. Pada titik ini, anggota kaum intelektual masyarakat mulai mencari pandangan dunia baru. Jika mereka gagal untuk menemukannya, masyarakat akhirnya akan hanyut ke sejenis disintegrasi (perpecahan) yang digambarkan oleh Yeats sebagai: “Hal-hal yang berantakan, pusat tidak bisa menahannya; anarki dilepaskan atas dunia.” Konflik antara pandangan dunia ilmu pengetahuan materialisme dan pandangan-dunia agama tradisional telah membawa umat manusia hanya kepada krisis seperti itu, dan krisis ini hanya bisa diselesaikan melalui penciptaan pandangan dunia baru.

Kami, penulis buku ini dan beberapa sarjana yang ada di Center for Sacred Sciences,  percaya adalah sangat mungkin untuk menciptakan pandangan dunia baru di mana kebenaran sains dan agama dipandang sebagai cara yang cocok (kompatibel) dalam melihat Realitas dasar yang sama. Ada beberapa alasan mengapa kami percaya hal  ini mungkin:

A New Worldview

Beberapa ilmuwan di Center for Sacred Sciences (Pusat Ilmu Suci), sama seperti kami, percaya adalah mungkin untuk menciptakan sebuah pandangan dunia baru di mana kebenaran sains dan agama dipandang sebagai cara yang kompatibel (cocok satu sama lain) dalam melihat Realitas dasar yang sama.[68] Ada beberapa alasan mengapa kami percaya hal ini mungkin:

1. Fisika Modern Bertentangan Materialisme

Alasan pertama adalah bahwa munculnya fisika kuantum pada kuartal pertama abad kedua puluh telah memberikan gambaran bahwa pandangan dunia materialisme ilmiah tidak dapat lagi dipertahankan. Asumsi dasar dari pandangan dunia materialisme adalah bahwa benda-benda fisik ada secara independen dari kesadaran, yang dianggap sebagai epiphenomenon hanya proses fisik yang terjadi di otak. Menurut fisika kuantum, bagaimanapun, ini tidak benar. Benda-benda tidak ada dalam cara yang pasti terlepas dari kesadaran subjek yang mengamati mereka. Kedua aspek realitas kesadaran dan kesadaran-benda tidak dapat dipisahkan.[69] Dengan demikian, bukti ilmu itu sendiri bertentangan dengan perhitungan murni materialistik alam semesta. Akibatnya, ilmu pengetahuan telah harus meninggalkan pandangan dunia materialism-nya dan saat ini sedang mencari beberapa penjelasan lain untuk hasil temuannya.

Ini tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan saat ini telah memberikan bukti untuk pandangan dunia spiritual, sebagaimana beberapa pemikir modern secara prematur menyimpulkannya. Bagaimanapun ini berarti bahwa materialisme adalah tidak pernah dapat lagi memberikan dasar yang kuat untuk ilmu pengetahuan. Dengan demikian, suatu hambatan yang besar untuk setiap pemulihan hubungan antara sains dan agama telah efektif telah dihapus.

2. Kesepakatan Perjanjian antara Mistikus

Alasan kedua kita percaya adalah mungkin untuk menciptakan pandangan dunia yang komprehensif berasal dari perkembangan modern dalam pemahaman kita tentang perbedaan antara tradisi-tradisi keagamaan. Seringkali konsep agama sendiri telah bertentangan dengan satu sama lain, masing-masing mengklaim bahwa pandangan dunia tertentu sendiri adalah satu-satunya yang sah. Tapi situasi ini, juga telah berubah. Selama beberapa dekade terakhir para ulama-ilmuwan dan para penerjemah telah menyediakan sebuah badan pengetahuan yang semakin besar dari teks asli kitab suci yang diambil dari semua tradisi agama besar di dunia. Dari perspektif global yang diberikan oleh studi perbandingan teks-teks ini, kita sekarang dapat mulai melihat bahwa, sementara para filsuf dan teolog dari berbagai tradisi ini masih memiliki banyak perbedaan pendapat tentang Nature of Ultimate Reality, hal ini tidak terjadi dengan mistik (dunia kebatinan/ruhaniyah/spiritualitas). Sebaliknya, kesaksian mereka menunjukkan tingkat kesepakatan yang sangat tinggi. Antara lain, mereka semua bersikeras bahwa Nature of Ultimate Reality bisa langsung direalisasikan meskipun Gnosis (Ma’rifat/Pencerahan) yang melampaui segala pandangan dunia, bahkan dari orang-orang tradisi mereka sendiri. Jika kita mengambil Realisasi mistis ini atau Gnosis untuk membentuk wawasan inti yang memunculkan berbagai tradisi agama, maka semua yang diperlukan untuk menjembatani kesenjangan antara ilmu pengetahuan dan agama adalah untuk membuat sambungan antara sains dan mistisisme (Irfan).

E. Koneksi antara Sains dan Mistisisme (Irfan)

Pada kenyataannya, ada dua koneksi antara sains dan mistisisme. Yang pertama, berkaitan dengan kesamaan dalam metodologi mereka. Sama seperti para para ilmuwan mempertahankan bahwa kebenaran teori mereka dapat diverifikasi (diuji kebenarannya) oleh siapa saja yang melakukan pengamatan yang tepat dan eksperimen, para mistikus juga mempertahankan bahwa Kebenaran ajaran mereka dapat diverifikasi oleh siapa saja yang bersedia untuk melakukan disiplin dan praktek spiritual yang sesuai. Dengan demikian, perbedaan antara ilmu pengetahuan dan agama tidak (karena banyak orang mengira) bahwa salah satu bergantung pada penyelidikan empiris dan yang lainnya pada keyakinan yang membuta. Sebaliknya, perbedaan terletak pada domain yang akan diselidiki dan jenis kebenaran yang akan diverifikasi.

Picture 1: Diagram hubungan antara Science and Mysticism

Sementara para ilmuwan memfokuskan investigasi mereka pada perilaku objek dalam kesadaran, para mistikus berkonsentrasi  pada kesadaran subjek – yang ‘diri’ atau ‘aku’ kepada siapa objek itu tampil. Dan sementara para ilmuwan berusaha untuk mengembangkan teori-teori yang lebih halus dan komprehensif tentang bagaimana realitas bekerja, para mistikus berusaha untuk Mewujudkan Kebenaran tentang alam fundamental yang terletak di luar jangkauan teori apapun. Perlu dicatat bahwa, jauh dari menempatkan sains dan mistisisme dalam konflik, perbedaan-perbedaan antara domain masing-masing dan fungsi sebenarnya apa yang membuat kompatibilitasnya mungkin.

Tidak hanya ilmu pengetahuan dan mistisisme memiliki metodologi yang paralel/sejajar, tetapi mistik benar-benar dapat memberikan pemahaman spiritual/filosofis yang koheren tentang bagaimana ilmu pengetahuan bekerja. Salah satu ajaran penting yang disepakati oleh para mistikus dari semua tradisi menyangkut hubungan antara kesadaran dan objek-nya hubungan yang sangat terletak di jantung dari krisis filosofis dalam fisika modern (seperti yang telah kita lihat).  Apa yang para mistikus klaim bahwa perbedaan antara subjek pada kesadaran dan benda-benda yang timbul dalam kesadaran adalah imajiner. Pada kenyataannya, Kesadaran (tentang Allah, Brahman, Buddha-Pikiran, atau Tao) merupakan lahan dasar yang  tak berbentuk (Formless Ground) dari mana semua bentuk timbul sebagai tak terpisahkan sebagai gelombang yang timbul dari lautan yang tunggal. Dengan demikian, ajaran-ajaran mistisisme mengambil tepat di mana teori-teori ilmiah modern telah meninggalkannya. Dan itu ada di sini, pada saat ini antara dua domain mereka, bahwa kontinuitas sebenarnya antara ilmu pengetahuan dan mistisisme mulai menampakkan dirinya. (lihat dan renungkan kembali diagram hubungan sains dan mistisisme di atas).

Setelah ini dipahami, masalah membangun pandangan dunia baru pada dasarnya bermuara untuk formulasi pertanyaan: “Dapatkah kontinuitas (keberlangsungan) antara ajaran-ajaran mistisisme dan teori-teori ilmiah dinyatakan dalam bahasa ketat tunggal yang dipahami oleh keduanya?

  • E. Peran Matematika

Hal ini membawa pada alasan terakhir untuk kita percaya bahwa pandangan dunia baru adalah sangat mungkin. Sudah ada bahasa yang dapat mengekspresikan kesinambungan antara sains dan mistisisme. Bahkan, bahasa ini pada awalnya dikembangkan untuk tujuan ini oleh keturunan mistikus Yunani kuno yang dimulai dengan Pythagoras dan Plato. Dan, meskipun sebagian besar telah kehilangan pandangan tentang asal-usul mistik sendiri, hari ini diakui sebagai bahasa universal ilmu pengetahuan modern. Kami, tentu saja, mengacu pada bahasa matematika.

Terlepas dari kenyataan bahwa kekuatan sains mengagumkan justru berasal dari kemampuannya untuk hubungan menyatakan hubungan matematis antara fenomena fisik, pertanyaan yang dimiliki ilmuwan yang paling bingung sendiri adalah: Mengapa karya ini, mengapa alam semesta ini obyektif begitu sempurna mematuhi persamaan matematik yang berasal dari pikiran subjektif ? Hebatnya, jika klaim mistik adalah benar – bahwa perbedaan antara kesadaran dan benda-benda adalah imajiner – maka pertanyaan yang mendalam ini memiliki jawaban yang radikal meskipun sederhana: Matematika tidak menggambarkan dunia objek yang ada secara independen; namun  menciptakan benda-benda ini dengan tindakan imajinasi dalam Kesadaran itu.

Bahkan, proses ini telah diberikan formulasi matematis yang eksplisit. Dalam karya yang berpengaruh: Law of  Forms (1969), matematikawan G. Spencer-Brown menunjukkan bagaimana, mulai dari kekosongan yang tak berbentuk, tindakan sederhana membuat perbedaan secara alami dapat menimbulkan hukum yang paling primitif yang mendasari logika dan aritmatika. Sekarang, jika kita mengambil kekosongan (suwung) ini adalah bahwa Kesadaran tak berbentuk yang disaksikan oleh kaum mistik, bahasa pembedaan ini dapat memberikan ekspresi matematika yang tepat untuk beberapa ajaran mistik tertinggi (misalnya, seperti yang digambarkan di Thomas McFarlane “The Play of Distinction“). Terlebih lagi, pekerjaan berikutnya oleh Jack Engstrom, Louis Kauffman, Jeffrey James, dan Thomas McFarlane membawa kita percaya bahwa untuk seluruh tubuh matematika yang dipekerjakan oleh ilmu pengetahuan modern dapat ditelusuri kembali dari undang-undang tentang bentuk (laws of forms) di garis yang tak terputus antara bentuk yang sama dan Void (kekosongan) yang dari mereka muncul.

Jika ini terbukti menjadi kasus, maka kedua temuan ilmu pengetahuan modern serta ajaran-ajaran mistik telah akan dibawa ke dalam lingkup bahasa yang umum untuk semacam pandangan dunia baru yang hanya kita miliki dalam pikiran. Dalam pandangan dunia seperti kebenaran ilmu pengetahuan akan terlihat mengalir mulus dari dalam Realitas Kebenaran yang lebih disadari oleh para mistikus dari semua tradisi keagamaan, sedangkan tradisi-tradisi itu sendiri akan dipandang sebagai berbagai cabang dari Tradisi Besar yang tunggal yang telah menghiasi kemanusiaan dengan moral yang sangat diperlukan dan bimbingan rohani sejak fajar kerberadaan spesies kita.

Membantu untuk membangun dan mengembangkan cara pandangan dunia seperti ini adalah salah satu tujuan utama Pusat Ilmu Suci didirikan. Mereka tidak berada di bawah ilusi bahwa pandangan dunia baru dapat sepenuhnya dibangun atau disebarluaskan dalam semalam. Pemenuhan visi seperti itu adalah tugas sejarah yang mungkin memakan waktu beberapa generasi untuk menyelesaikan. [70]

  • F. Tradisionalisme, Filsafat Perennial, dan Studi Islam

Salah satu aspek yang paling dikenal dari penolakan terhadap modernisme Barat telah terjadi di pinggiran pertemuan peradaban Eropa dengan Islam. Meskipun para ilmuwan sosial yang bekerja dalam studi Timur Tengah telah merasa aman mampu mengabaikan Filsafat perennial/abadidan eksponen Tradisi, para spesialis dalam studi agama tiba-tiba memiliki lebih banyak eksposur ke mazhab pemikiran post-modern ini. [71]

The Journal of the American Academy of Religion telah menampilkan artikel tentang eksponen Perennialism,[72] dan Konsultasi Esotericism dan Perennialism (dengan organisasi saudaranya, Academy Hermetik) yang telah selama beberapa tahun menyelenggarakan panel makalah pada konferensi tahunan AAR. Asal-usul filosofi ini dapat dicari dalam posisi tradisionalis yang dikembangkan oleh sejumlah pemikir ultramontane Katolik Perancis abad kesembilan belas, terutama Joseph de Maistre (w. 1821), L. de Bonald (w. 1840), dan FR de Lammenais (w. 1854). Tradisionalisme pada dasarnya merupakan filsafat sejarah yang menentang rasionalisme para filsuf Pencerahan, dan tradisi yang terlalu ditinggikan (terutama gereja Katolik) ke posisi otoritas ilahi dan mutlak. Jadi ini adalah oposisi ekstrem dari beberapa tradisionalis kepada modernisme sehingga mereka dikucilkan pada tahun 1855 untuk penolakan mereka terhadap akal (reason).

Namun kritik tradisionalis kepada modernisme masih memegang daya banding, dan kemudian diadopsi oleh anggota okultisme dan esoteris bawah tanah Perancis pada pergantian abad. Adalah gagasan penting dari tradisi, yang bahkan untuk Lammenais termasuk wahyu primitif atau primordial yang tidak terbatas pada agama Kristen (ini nanti akan muncul kembali sebagai monoteisme primitif Wilhelm Schmidt). Tradisi suci bisa diberi nomor dalam bentuk jamak, dan dengan demikian semua agama itu harus dianggap sebagai manifestasi dari Filsafat Perennial yang satu dan abadi (frase “filsafat perennial” dari karya Latin Philosophia perennis oleh sarjana Renaissance Augustinus Steuchus, ditulis dalam tahun 1540, dan itu kemudian dijemput oleh Leibniz, tapi tidak halnya dengan implikasi ekumenis yang luas seperti dalam Tradisionalisme kontemporer).

Apa yang sangat relevan untuk studi Islam adalah bahwa, meskipun penghormatan teoretis mereka untuk Katolikisme, sebagian besar penganut Filsafat perennial/abadilebih tertarik dengan Islam, meskipun ada beberapa yang lebih erat terkait dengan Buddhisme (Marco Pallis, AK Coomaraswamy) atau Taoisme (de Pourvourville). Apa daya tarik tradisionalisme, dan mengapa mayoritas tradisionalis menemukan Islam menjadi tradisi suci tunggal yang memenuhi aspirasi mereka?

Ketidakpuasan terhadap ekses dari Pencerahan Eropa dan modernisme tampaknya menjadi alasan utama. Abad kesembilan belas melahirkan sejumlah keturunan ideologis yang memiliki pengaruh yang sangat buruk: nasionalisme pseudo-agama, keyakinan positivistik dalam ilmu pengetahuan, rasisme dan evolusionisme sebagai alasan untuk imperialisme yang tak terkendali, erosi peran publik agama. Terhadap usaha Promethean ini yang kaum Perennialists bertahan lebih dari manusia yang punya otoritas wahyu primordial, gnosis ilahiyah disesuaikan untuk memberi rahmat kepada keadaan yang berbeda dalam bentuk agama, dan pandangan sejarah devolutionistic yang melihat modernitas sebagai pemberontakan yang direndahkan dan setan terhadap realitas.

Dengan tempat ini dalam pikiran, kita dapat melihat bagaimana Islam sebagai tradisi suci secara alami akan menempati posisi sentral. Penekanan teologis persatuan Islam, konsep historiografi Islam sebagai wahyu terakhir dalam urutan turunnya kenabian, dan posisi oposisi dari negara-negara Islam sebagai blok terbesar mengalami kolonisasi Eropa, semuanya membuat sudut pandang alami tradisionalis Islam untuk mencari afiliasi otentik. Kristen telah babak belur terlalu parah dan rusak untuk melayani sebagai tempat berlindung (ultra-Katolik Rama Coomaraswamy menganggap kepausan saat ini tidak sah karena telah meninggalkannya ritual abad pertengahan). Hal ini tidak mudah untuk mengkonversi ke agama Hindu, Yahudi ortodoks, atau tradisi suku, dan agama Buddha mungkin bukan pilihan yang valid di Barat. Yang tampaknya meninggalkan Islam.

Kaum Tradisionalis yang berpindah agama ke Islam, beberapa di antaranya berafiliasi dengan tarekat Sufi Alawi-Shadhili, termasuk pelukis Swedia Ivan Aguéli (`Abd al-Hadi, d. 1917), esotericists Perancis: Leon Champrenaud (`Abd al-Haqq) dan René Guenon (‘Abd al-Wahid Yahya, d. 1951 di Kairo), dan rekan Guenon yang orang Swiss, Titus Burckhardt dan Frithjof Schuon (Isa Nur al-Din, sekarang tinggal di Bloomington, Indiana). Terjemahan dari teks-teks mistik Islam mereka (terutama dari mazhab Ibn `Arabi) dan serangkaian buku tentang Islam dan agama menemukan pembaca yang menerimanya. Jurnal Perancis, Études Traditionnelles, dan imbangannya yang berbahasa Inggris, Tommorow, yang kemudian dinamai Studies in Comparative Religion mempopulerkan pandangan mazhab ini, perwakilan koleksi esai ditemukan dalam The Sword of Gnosis (1974), yang diedit oleh Jacob Needleman. Perspektif tradisionalis kini dibagi bersama terutama oleh sejumlah kecil intelektual tapi berpengaruh, pada sebagian besar Muslim di Eropa dan Amerika, tetapi semakin juga di negara lain seperti Pakistan, Indonesia dan Malaysia. Buku-bukunya  yang dikaji semuanya ditulis oleh penulis Muslim yang tradisionalis, penganut Filsafat perennial/abadidalam arti hanya menjelaskan, meskipun masing-masing memiliki penekanan khusus dan sudut pandangnya sendiri.

King of the Castle karya Charles Le Gai Eaton adalah ulangan dari karya yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1977, dengan kata pengantar singkat baru yang mengomentari karakter pribadi dari buku dan asal usulnya dari karya yang lebih tua disebut The Riches Vein (1947). Tujuannya adalah “untuk mewartakan keanehan zaman modern dan membuka kedok pretensinya”. Judul ironisnya menggambarkan situasi manusia modern dalam hal permainan satu-upmanship anak-anak. Dalam serangkaian delapan esai seperti bab (tidak ada indeks), Eaton berturut-turut mengambil topik  masyarakat, ekonomi, antropologi filosofis, dan agama. Lebih bersedia memberikan komentar secara langsung sebagai konservatif politik daripada tradisionalis lainnya, Eaton dikutip telah melihat totalitarianisme (baik Nazi dan Komunis) sebagai produk modernitas anti-tradisional yang paling khas.

Serangan terhadap pejabat birokrasi dibenarkan oleh kebangkitan nostalgia kemerdekaan pengusaha kecil dan petani (di sini konservatif Katolik Gustave Thibon disebut dalam faksi yang mendukung). Gayanya intens, dramatis, dan ironis verging pada sarkasme ketika modernitas ditujukan (yaitu, sebagian besar waktu). Otoritas spiritual seperti Al-Qur’an dan Rumi yang sering dikutip, dan banyak analogi dan anekdot yang digunakan sebagai kaitan untuk menggantung argumen. Tujuan utamanya, bagaimanapun, tidak menganjurkan mistik, tetapi untuk menanamkan doktrin yang akan memperkuat daya tahan seseorang terhadap  kekuatan korosif modernitas; ini merupakan khotbah yang diperpanjang, dari posisi Islam universal, memperjuangkan peran agama yang kesepian di zaman yang jahat.

Martin Lings yang dikenal sebagai Islamicists dalam  studi kaligrafi Al Qur’an, untuk biografi Sufi Aljazair Syaikh Ahmad al-`Alawi (A Sufi Saint of the Twentieth Century), dan untuk biografi Nabi Muhammad. Sebelumnya sebagai seorang kurator naskah Oriental di British Museum, ia juga menulis tentang Shakespeare dan mata pelajaran lain. Buku kecil ini adalah kumpulan dari sepuluh esai tentang simbolisme dalam berbagai tradisi agama. Bab pertama, “What is Symbolism?” menggunakan contoh-contoh Al-Qur’an untuk mendefinisikan simbol sebagai refleksi dari realitas yang lebih tinggi dalam gambar yang mengungkapkan hubungan antara mikrokosmos ke makrokosmos; pengetahuan tentang hubungan ini, diperoleh melalui kitab suci dan ritual tradisional, yang diperlukan untuk mengatasi jatuh dari kesempurnaan manusia primordial. Esai berikutnya mencerminkan relatif tentang pentingnya simbol seperti benteng batu bentrok yang menghalangi jalan ke dunia spiritual (“The Decisive Boundary”), polaritas (“The Simbolism of Pairs), trinitas (“The Symbolism of the Triad of Primary Colours“), Raja-Paus/King-Pontiff (“The Archetypes of Devotional Homage“), dan liturgi suci (“The Language of the Gods“). Topik yang lebih khusus dipertimbangkan dalam “The QuranicSimbolisme of Water“,The Symbolism of the Luminaries in Old Lithuanian Songs“, “The Seven Deadly Sins” dan “The Symbolism of the Mosque and the Cathedral.” Metode analisis yang digunakan adalah komparatif, mengikuti Coomaraswamy dalam menggunakan beberapa contoh dari tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda dan mengurangi mereka untuk makna metafisik tunggal. Lings percaya diri untuk menggunakan satu tradisi untuk menjelaskan yang lain, misalnya, Brahma, Siwa, dan Wisnu menjelaskan Trinitas Kristen, sedangkan Injil Yohanes menggambarkan karakter Nabi Muhammad. Buku ini adalah contoh yang baik dari program penafsiran dari metafisika tradisionalis sebagai disistematis-kan oleh Schuon.

Karya Seyyed Hossein Nasr Traditional Islam and the Modern World (Tradisional Islam dan Dunia Modern) adalah kumpulan dari delapan belas esai yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1987, yang membela Islam tradisional terhadap kedua modernisme (apakah Eropa atau Islam) dan yang bertentangannya: fundamentalisme (ekstrimisme-radikalisme, pent). Nasr, yang terkenal karena banyak studi ilmu pengetahuan Islamnya, budaya, dan spiritualitas, di sini menyinggung beragam subjek dalam upaya untuk memperbaiki, tidak hanya distorsi standar Orientalisme, tetapi juga salah tafsir yang berasal dari jurnalisme politik, Marxisme, dan apa yang disebut “kebangkitan kembali Islam.”

Bagian pertama, “Facets of the Islamic Tradition (Wajah Tradisi Islam), membahas jihad, etos kerja, dan hubungan pria-wanita untuk menunjukkan gagasan tradisi sebagai wahyu suci yang mencakup segalanya melalui sejarah dan alam. Bangunan eksplisit Filsafat perennial/abadiini menurut Guenon dan Schuon, bagian ini khusus mengikat touchstones/tombol sentuh Tradisi Islam: istilah din dan sunnah, koleksi hadits standar (baik Sunni dan Shi`i), dan tasawuf Safawi Iran. Pada saat yang sama, mungkin akan dikatakan bahwa abstraksi sangat neologisme tertentu yang digunakan di sini (misalnya, “Islamicity/keislaman“,Syariat“), dan ketegangan sintetis transendensi sejarah seperti antara Sunni dan Syiah, titik arah alam baru-baru ini dan sifat retrospektif pertahanan tradisi.

Bagian II, “Traditional Islam and Modernism,” menggali lebih lanjut tetang kontras antara kurangnya prinsip-prinsip antropomorfik modern dan keutuhan dan karakteristik transendensi dari sikap tradisional. Kritik Nasr tentang sifat modernistik (terutama pengurangan politik agama kepada ideologi dan etika) sering cerdik dan mengungkapkan.

Bagian III, “Tradition and Modernism—tensions in Various Cultural Domains” (Ketegangan Tradisi dan Modernisme di Berbagai Wilayah Budaya,)”  membangun kritik modernisme kumulatif dengan tujuh esai yang segera memanggil intelektual Muslim untuk peduli kepada penderitaan mereka. Area utama yang dibahas di sini adalah pendidikan, filsafat, dan arsitektur, dalam semua yang, menurut pendapat Nasr pengaruh Barat secara sistematis telah mengikis dasar asli Islam di sebagian besar negara-negara Muslim.

Bagian IV, “Western Interpreters of the Islamic Tradition  (Penafsir Barat atas Tradisi Islam)” memberikan kesaksian hangat tentang sedikit sarjana Eropa yang telah melampaui Orientalisme dengan keterlibatan pribadi yang intens dengan Islam. Seorang Katolik (Louis Massignon), seorang Protestan (Henry Corbin), dan Muslim (Titus Burckhardt) telah ditampilkan sebagai pengingat bahwa mungkin telah terjadi pertemuan spiritual asli dengan Islam pada bagian dari intelektual Barat yang belum menyerah pada sekularisme dan modernisme. Bagian penutup “Postscript” menambahkan mesianisme ke daftar tanggapan Muslim terhadap modernisme, dan memberikan refleksi akhir tentang pentingnya modernisme itu sendiri, berbagai tren yang biasa disatukan sebagai “fundamentalisme”, dan wakil-wakil yang tersisa dari Islam tradisional. Nasr berbicara dengan penuh semangat tapi ironisnya abai dari kebutuhan untuk dimensi intelektual terhadap kritik modernisme. Buku ini mungkin adalah contoh terbaru terbaik dari perspektif tradisionalis Islam.

Volume yang disunting oleh Seyyed Hossein Nasr, Islamic Spirituality Manifestation adalah pasangan dari Islamic Spirituality Foundation. Kedua volume tentang Islam ini telah berusaha untuk menghindari historisisme dan skeptisisme rasionalistik, yang keduanya kecenderungan yang digambarkan sebagai asing bagi  Islam.

Sebagai bagian dari seri Spiritualitas Dunia, buku ini memperlakukan tasawuf sebagai aspek batin atau spiritual Islam, dan editor menggambarkan koleksi ini dari artikel sebagai upaya pertama untuk memperlakukan tasawuf dalam skala global. Seperti dalam volume pertama, penulis artikel terpisah ini adalah sebagian besar umat Islam (termasuk sejumlah tradisionalis).

Pendahuluan dan Prelude tentang Tarekat Sufi ini adalah kontribusi oleh Nasr, yang diikuti oleh dua puluh lima esai tentang topik yang terpisah.

Bagian Satu, “Spiritualitas Islam yang diwujudkan dalam tasawuf di dalam Ruang dan Waktu,” berisi lima belas esai tentang sufi tertentu, mazhab, dan daerah.

Bagian Kedua, “Sastra Islam sebagai Cermin Spiritualitas Islam,” memiliki enam esai tentang sastra Islam dalam bahasa Arab, Persia, Turki, Indo-Muslim, Melayu, dan literatur Afrika.

Bagian Ketiga, “Pesan Spiritual Seni dan Pemikiran Islam”, memiliki empat esai umum topik khusus tentang teologi dan filsafat, ilmu yang tersembunyi, musik dan tari, dan seni. Sayangnya tidak ada daftar ilustrasi selain dari kredit judul untuk tujuh belas foto yang direproduksi di sini. Dalam jumlah ruang terbatas yang tersedia, maka hal tersebut pasti memerlukan tinjauan singkat dan ringkasan yang akan membantu terutama untuk siswa dalam mencari orientasi pertama bibliografi topik tertentu.

Sejumlah penulis sarjana terkemuka dalam studi tasawuf (yaitu KA Nizami, A. Schimmel, J. Nurbaksh) yang memiliki presentasi padat terpaksa dibuat dalam penjelasan penuh rinci di tempat lain. Namun, beberapa artikel singkat dan sepintas yang mengecewakan, sejauh menjadi tidak lebih dari daftar nama; yang sangat tidak memadai adalah artikel tentang sastra Sufi Arab, subjek yang berteriak untuk perlakuan penuh.

Menurut Carl W. Ernst artikel yang paling sukses adalah oleh William Chittick tentang  Ibn `Arabi dan Rumi, yang merupakan esai programatik oleh Nasr tentang “Teologi, Filsafat, dan Spiritualitas,” dan survei yang dilakukan oleh Jean-Louis Michon tentang “Tarian Suci dan Musik dalam Islam”. Karena tidak semua kontributor berbagi perspektif filosofis yang sama, kita tidak mendapatkan dari sebuah volume pandangan Perennialist atau tasawuf yang jelas dan seragam

Apa arti penting dari mazhab tradisionalis untuk studi Islam? Penolakan mereka terhadap historisisme menimbulkan kesulitan bagi sebagian besar ahli tentang Islam, apakah dia humanis atau ilmuwan sosial. Jika premis dari Filsafat Perennial kebobolan, maka banyak aparat keulamaan/kesarjanaan modern, yang mengakui produk Pencerahan, telah dihukum. Sketsa yang diberikan di atas mencoba untuk menguraikan latar belakang intelektual tradisionalisme sebagai respon terhadap modernisme Eropa; penempatan sejarah ironisnya membuat Tradisionalisme tidak tradisional atau khas Islam. Sebelum krisis budaya tertentu yang disebabkan oleh modernisme, itu tidak perlu dan tidak mungkin untuk merumuskan pembelaan tradisi seperti itu. Namun kita juga dapat melihat mengapa Filsafat perennial/abadiakan menjadi pilihan yang menarik bagi para pemikir Muslim dalam mencari posisi yang melawan imperialisme budaya Barat yang sekuler. Jika pemikir Muslim menerima alasan otonom pencerahan Eropa, tidak ada lagi ruang untuk transendensi, maupun pembenaran intelektual untuk Muslim sisanya. Tradisionalisme, kemudian, adalah kritik teologis terhadap modernisme yang telah menemukan titik kumpul alami dalam tradisi yang paling terancam oleh Barat, yaitu Islam. Modernisme ditantang di berbagai bidang. Penegasan perlunya doktrin suci dan Tradisi, bagaimanapun, terus terang otoriter, dan itu hanya akan menarik bagi minoritas; sementara saingannya fundamentalis yang berusaha untuk mencari pengikut massal, Tradisionalisme akan terus menjadi pilihan intelektual untuk beberapa Muslim (dan non-Muslim) dalam dunia post-modern.

Dalam bukunya What is Tradition, S.H. Nasr menjelaskan hubungan antara tradisi dan agama dari perspektif filsafat perennial yang dapat diringkas sebagai berikut: Sifat tradisi adalah merangkul semua, dan agama terletak pada asal-usul tradisi tersebut. Dipahami dalam pengertian agama ini adalah apa yang mengikat manusia dengan Tuhan dan pada saat yang sama mengikat orang-orang satu sama lain. Agama Hindu dan Buddha Dharma, al-din al-Islam, Taoist Tao, dan sejenisnya erat terkait dengan makna dari tradisi panjang tersebut, tapi tidak identik dengan itu, walaupun tentu saja dunia atau peradaban yang diciptakan oleh Hindu, Buddha, Taoisme, Yahudi, Kristen, Islam, atau dalam hal ini agama otentik lainnya, adalah dunia tradisional (SH Nasr 1989 hal.67). Dari perspektif itu, tradisi karena itu bertentangan prinsip modernisme. Ini ingin membunuh dunia modern dalam rangka menciptakan sesuatu normal (Needleman (end) 1974). Tujuannya bukan untuk menghancurkan apa yang positif dari modernism, tetapi untuk menghapus selubung ketidaktahuan modernism yang memungkinkan ilusi muncul sebagai nyata, negatif positif dan palsu sebagai benar (SH Nasr 1989).

G. Filsafat perennial/abadi (Filsafat yang Abadi)

The philosophia perennis atau Filsafat perennial/abadi menegaskan bahwa wawasan langsung ke dalam sifat dari Realitas adalah kemungkinan universal manusia – apakah itu bisa diperoleh setelah latihan disiplin spiritual dan studi kitab suci tertentu, atau melalui sepenuhnya pengalaman pencerahan  menjadi persatuan tak terduga dengan Tuhan atau the Ultimate. Hasil dari kesadaran tersebut adalah keyakinan bahwa kita telah berasal dari Satu Sumber tunggal dan proses pembangunan spiritual kita itu selesai dan disempurnakan ketika kita kembali kepada Yang Satu itu.

Menyebut  perennial  ini adalah untuk mengatakan bahwa wawasan semacam itu muncul kembali dalam waktu dan tempat yang beragam, yang tidak terbatas pada budaya khusus, kelas, atau masyarakat tertentu. Dalam kata-kata yang lebih formal, filosofi ini telah digambarkan sebagai “metafisika yang mengakui Realitas illahiyah di balik segala dunia benda, jiwa dan pikiran; psikologi yang menemukan dalam diri seseorang yang identik dengan Realitas illahiyah dan etika yang menempatkan tujuan akhir [seseorang] dalam pengetahuan tentang latar Imanen (yang mencakup/meliputi) dan Transenden (yang luhur) dari segala sesuatu. “

Dalam kata lain, istilah philosophia perennis dimaksudkan untuk menggambarkan filosofi yang telah dirumuskan oleh orang-orang yang telah mengalami penyatuan  (Itihad / Manunggaling) langsung dengan Allah atau The Ultimate. Betapapun  singkatnya, pengalaman itu mengubah pemikiran orang yang mengalaminya, sehingga mereka tidak pernah sama lagi. Penyataan pengalaman tersebut, dapat ditangkap, namun tampak samar-samar dalam simbol-simbol yang disediakan oleh bahasa manusia atau apapun ekspresi yang artistik, namun sering kali diulang selama berabad-abad oleh orang-orang dari semua ras, jenis kelamin, budaya dan keyakinan agama, yang terbuka kepada Perennial Philosophy.

Lebih dari setengah abad yang lalu, Aldous Huxley memberikan judul ini kepada sebuah antologi yang ia edit. Dalam jenis pengalaman yang berpusat padanya, apakah yang disebut yang kuno atau primordial atau mistis, selubung materialitas adalah pinjaman  dan kepastian yang keliru yang akan terhalau.

Untuk para pembaca, antologi Huxley mungkin dapat memvalidasi dan memverifikasi saat  di mana self-knowledge seseorang merasa bergerak melampaui keterbatasan diri dari sekedar “a foul stinking lump of himself,(sebuah benjolan bau busuk dari dirinya sendiri),” sebagai mana teks Inggris klasik tentang instruksi spiritual, The Cloud of Unknowing telah menggambarkannya. Apakah teks-teks seperti instruksi spiritual dan pengalaman mistik tradisional ini masih bernilai saat ini? Filsafat Perennial merespon dengan tegas, Ya !

Salah satu cara untuk mengungkapkan wawasan sentral dari Filsafat perennial/abadi adalah dengan kalimat  That Thou Art, yang diambil dari bahasa Sansekerta dari kitab Upanishad kuno. Ungkapan ini mengajarkan bahwa Diri abadi yang imanen diwujudkan menjadi satu dengan Prinsip Absolute/Mutlak dari semua Eksistensi, dan bahwa takdir sejati manusia adalah untuk menemukan fakta ini untuk diri mereka sendiri, untuk mengetahui Siapa dan Apakah mereka sebenarnya. Di antara ekspresi hidup lain dari pandangan ini adalah:

  • BYAZID OF BISTUM: “Saya pergi dari Tuhan Allah kepada Tuhan Allah, sampai mereka menangisi saya dari dalam diri saya,” O Dia – Aku”!
  • ST. CATHERINE OF GENOA: “Saya adalah (bagian dari) Tuhan Allah, juga saya tak mengenali yang lain kecuali Tuhan Allah sendiri.”
  • YUNG-CHIA-TA-SHIH: “Cahaya batin adalah di luar dari pujian dan sikap menyalahkan, seperti ruang, itu tidak mengenal batas, bahkan di sini, di dalam diri kita, pernah mempertahankan ketenangan dan kepenuhannya, hanya ketika Anda memburunya, Anda kehilangan itu. Anda tidak dapat memegang itu, tapi pada saat yang sama, Anda tidak bisa menyingkirkan itu. “
  • MEISTER ECKHART:. “Semakin Tuhan ada dalam segala hal, semakin Dia berada di luar mereka, semakin Dia berada di dalam, semakin tanpanya. Hanya yang transenden, yang lainnya yang lengkap, dapatkah menjadi yang imanen tanpa mengubah oleh yang menjadi di dalamnya yang berdiam.”
  • Dan apakah itu yang Engkau dapat menemukan dirinya untuk menjadi?
  • RUYSBROECK: “Dalam Realitas Kemenyatuan yang dikenal dengan mistik … kita tidak bisa berbicara makhluk apapun lagi, melainkan hanya dari satu Being (Keberadaan) … Ada kita semua adalah Satu sebelum penciptaan kita, karena ini adalah esensi-super kita. “
  • ST. BERNARD: “Siapakah Tuhan Allah? Saya bisa memikirkan tidak ada jawaban yang lebih baik daripada siapa Dia. Tidak ada yang lebih sesuai dengan kekekalan sebagaimana Tuhan Allah. Jika Anda sebut Allah itu baik, atau Maha Besar, atau Maha memberkati atau Maha Bijaksana, atau apa pun semacam ini.., itu termasuk dalam kata-kata ini, yaitu, Dia lah. “

Bagaimana seseorang dapat mencapai kepastian batin itu?

Filsafat Perennial menawarkan jawaban yang tampaknya paradoks. Hambatan bagi pengetahuan Kemenyatuan (Unitive) itu adalah kesadaran obsesif menjadi diri yang terpisah.Yang dilampirkan kepada aku, saya atau milik saya, tidak termasuk pengetahuan unitive tentang Allah.

  • WILLIAM LAW: “Manusia tidak berada di neraka karena Allah marah dengan mereka … mereka berdiri di bagian kedaaan perpecahan dan pemisahan dengan gerakan mereka sendiri, yang mereka telah membuatnya untuk diri mereka sendiri.
  • ST. JOHNTHE CROSS: “Jiwa yang masih melekat pada apa pun, betapapun banyaknya kebaikan yang mungkin ada di dalamnya, tidak akan sampai pada kebebasan kesatuan ilahiyah … yang diselenggarakan oleh ikatan kasih sayang manusiawi, … betapapun mereka mungkin sedikit, kita tidak bisa, selagi masih ada, membuat jalan kita kepada Tuhan Allah. “
  • ALDOUS HUXLEY: “Kita melewati dari waktu kepada keabadian ketika mengidentifikasi dengan spirit/semangat dan melewati lagi dari keabadian kepada waktu ketika kita memilih untuk mengidentifikasi dengan tubuh.”
  • Bantuan apa yang tersedia?
  • PHILO DARI ALEKSANDRIA: “Mereka berada di jalan kebenaran yang memahami Tuhan Allah dengan cara yang ilahi, diterangi oleh Cahaya (Cahaya di atas Cahaya.)”
  • Kapan tersedia? Pertimbangkan afirmasi berikut ini:
  • JOEL GOLDSMITH:. “Saya dalam persatuan dengan Kecerdasan Ilahiyah masa lalu, masa kini dan masa depan. Tidak ada rahasia spiritual yang tersembunyi dari saya … Ada Being yang Transendental ini dalam diri saya, yang adalah saya dan yang saya memiliki akses Itu selamanya …. Kesadaran ilahiyah yang tak terbatas dari Tuhan Allah, Kesadaran dari masa lalu, dan masa sekarang dan masa depan, adalah kesadaran saya saat ini. “
  • ALDOUS HUXLEY:.. “Kita berada di dalam sebuah proses menyapu kembali menuju titik yang sesuai dengan tempat awal di kebinatangan kita, tapi ada ketidaksamaan di atasnya. Sekali lagi kita hidup tinggal di saat itu. Kehidupan sekarang dari makhluk yang cintanya telah mengusir rasa takut, visi telah mengambil tempat harapan duniawi, dan mementingkan diri sendiri telah menghentikan egoisme positif dari puasnya kenangan dan egoisme negatif penyesalan.”
  • “Saat ini adalah satu-satunya singkapan melalui mana jiwa bisa lewat dari waktu ke dalam kekekalan, di mana karunia kasih bisa lulus dari keabadian ke dalam jiwa, dan di mana cinta dapat lulus dari satu jiwa pada waktunya untuk jiwa lain dalam waktu.

Lebih dari dua puluh lima abad telah berlalu sejak apa yang telah disebut Filsafat perennial/abadi pertama kali berkomitmen untuk ditulis; dan dalam perjalanannya berabad-abad telah ditemukan ekspresi, kadang bersifat parsial, kadang lengkap, kadang dalam bentuk ini, kadang dalam hal itu, lagi dan lagi. Dalam tradisi kenabian Vedanta dan  Ibrani, dalam Tao The King and Dialog Plato, dalam kitab Injil menurut St John dan teologi Mahayana, dalam Plotinus dan Aeropagite, di antara para Sufi Muslim Persia dan mistikus Kristen Abad Pertengahan dan Renaissance, Filsafat perennial/abadi telah dibicarakan hampir dalam semua bahasa di Asia dan Eropa, dan telah membuat penggunaan istilah dan tradisi dari setiap salah satu agama yang lebih tinggi. Tetapi di bawah semua kebingungan ini dalam tradisi lisan dan mitos, dari sejarah lokal dan doktrin partikularistik, tetap ada Faktor umum Tertinggi yang merupakan Filsafat perennial/abadi dalam apa yang  kimiawi-nya disebut dalam keadaan murni. Kemurnian akhir ini tidak pernah, tentu saja, akan dapat diungkapkan oleh pernyataan lisan filsafat, bagaimana pun pernyataan ini tak-dogmatis, namun sengaja sinkretis. Kenyataan bahwa itu ditetapkan pada waktu tertentu oleh seorang penulis tertentu, menggunakan ini atau bahasa itu, secara otomatis membebankan bias sosiologis dan pribadi tertentu pada doktrinnya begitu dirumuskan. Ini hanyalah tindakan kontemplasi ketika kata-kata dan bahkan kepribadian yang melampaui, bahwa dalam keadaan murni Filsafat perennial/abadi sebenarnya dapat diketahui. Catatan yang ditinggalkan oleh orang-orang yang telah dikenal dengan cara ini membuatnya sangat jelas bahwa mereka semua, apakah Hindu, Buddha, Yahudi, Tao, Kristen, atau Islam, sedang berusaha untuk menggambarkan Fakta dasarnya sama yang tak terlukiskan.

Tulisan suci asli dari kebanyakan agama adalah puitis dan tidak sistematis. Teologi, yang umumnya mengambil bentuk sebuah komentar yang menalar perumpamaan dan kata-kata mutiara dari kitab suci, cenderung membuat penampilan pada tahap berikutnya dari sejarah agama. Bhagavad Gita menempati sebuah posisi perantara antara Kitab Suci dan teologi; karena itu menggabungkan kualitas puitis yang pertama dengan methode yang   jelas yang kedua.  Buku yang dapat dijelaskan, yang ditulis Ananda K. Coomaraswamy dalam bukunya yang Mengagumkan:  Hindu dan Budha , “Sebagai sebuah ringkasan dari seluruh doktrin Veda yang dapat ditemukan dalam Veda sebelumnya, dalam Brahmana dan Upanishad, dan karena itu menjadi dasar dari semua perkembangan yang kemudian, yang dapat dianggap sebagai fokus dari semua agama India”,  yang juga merupakan salah satu ringkasan paling jelas dan paling komprehensif dari Filsafat Perennial yang pernah telah dibuat.

Oleh karena itu nilainya itu bertahan, tidak hanya untuk orang India, tetapi untuk seluruh umat manusia.

Pada intinya dari Filsafat perennial/abadi kita menemukan empat doktrin fundamental.

Pertama: dunia fenomenal materi dan kesadaran individual – dunia benda dan hewan dan manusia dan bahkan para dewa – adalah manifestasi dari Latar Ilahiyah  di mana semua realitas parsial memiliki keberadaan mereka, dan bila terlepas dari-NYA, mereka akan tidak ada (tidak eksis).

Kedua: manusia mampu tidak hanya dapat mengetahui tentang Latar Ilahiyahnya dengan penalaran; mereka juga dapat menyadari keberadaan-Nya oleh intuisi langsung, yang lebih unggul dari penalaran diskursif. Pengetahuan langsung ini menyatukan yang mengetahui dengan apa yang diketahui.

Ketiga: manusia memiliki sifat alami ganda, ego fenomenal dan Diri yang abadi, yang merupakan batiniah manusia, semangat (spirit/ruh), percikan keilahian dalam jiwa. Hal ini dimungkinkan bagi seorang manusia, jika ia menginginkan, untuk mengidentifikasi dirinya dengan Semangat (Spirit/Ruh), dan oleh karena itu dengan Latar Ilahiyah, yang merupakan sifat yang sama atau mirip dengan Semangat (Spirit/Ruh),.

Keempat: kehidupan manusia di bumi hanya memiliki satu ujung dan tujuan: untuk mengidentifikasi dirinya dengan Diri abadinya dan sebagainya untuk datang ke pengetahuan kemenyatuan (unitive/itihad)  dengan Latar Ilahiyah.

Dalam agama Hindu yang doktrin pertamanya dari empat doktrin yang dinyatakan dalam istilah yang paling kategoris. Landasan/Latar  Ilahiyah/Ketuhanan adalah Brahman, Tuhan Yang Maha Pencipta, Yang Maha mempertahankan dan mengubah aspek yang diwujudkan trinitas Hindu. Sebuah hirarki manifestasi yang menghubungkan benda mati dengan manusia, dewa, para dewa tinggi, dan Ketuhanan yang tak dapat dibedakan dari luar.

Dalam Landasan/Latar Ketuhanan  Mahayana Buddhisme disebut Pikiran atau Cahaya Kesunyian Murni, tempat para dewa tertinggi telah diambil oleh Dhyani-Buddha.

Konsepsi serupa yang cocok sempurna dengan Kristen dan kenyataannya telah dihibur, secara eksplisit maupun implisit, oleh banyak mistik Katolik dan Protestan, ketika merumuskan filsafat agar sesuai fakta yang diamati oleh intuisi super-rasional. Jadi, bagi Eckhart dan Ruysbroeck, ada ruang dalam tanpa dasar (Abyss) Ketuhanan yang mendasari Trinitas, seperti Brahman mendasari Brahma, Wisnu dan Siwa. Suso bahkan telah meninggalkan diagram gambar dari hubungan kehidupan antara Ketuhanan, Trinitas Tuhan dan Makhluk. Dalam gambaran yang sangat memancing rasa ingin tahu dan menarik ini, rantai manifestasi menghubungkan simbol misterius Latar Ilahiyah dengan tiga Pribadi Tritunggal, dan Tritunggal pada gilirannya terhubung dalam skala yang turun dengan malaikat dan manusia. Yang Terakhir ini, seperti gambaran jelas menunjukkan, dapat membuat salah satu dari dua pilihan. Mereka dapat baik menjalani kehidupan manusia lahiriah, kehidupan kedirian yang separatis; dalam hal ini mereka hilang (karena, dalam kata-kata dari Theologia Germanica, “tidak ada yang terbakar di neraka tapi akibat diri sendiri”). Atau mereka dapat mengidentifikasi diri mereka dengan batiniah manusia, dalam hal ini menjadi mungkin bagi mereka, seperti Suso tunjukkan, untuk naik lagi, melalui pengetahuan unitive, kepada Trinitas dan bahkan, di luar Trinity mereka, dengan Ultimate Unity (Kemenyatuan Mutlak) dari Ground/ Latar Ilahiyah.

Dalam tradisi Islam rasionalisasi seperti pengalaman mistik langsung ini akan menjadi berbahaya bagi kaum unortodoks. Namun demikian, kita memiliki kesan, pada saat membaca teks-teks sufi tertentu, bahwa yang penulis mereka lakukan adalah benar, memunculkan  alhaqq, the Real, sebagai Latar/Landasan Ilahiyah atau Kesatuan/Keesaan Allah (Tauhidullah), yang mendasari aspek aktif dan pribadi Ketuhanan.

Doktrin kedua dari Filsafat perennial/abadi – adalah bahwa mungkin untuk mengetahui latar Ilahi oleh intuisi langsung yang  lebih tinggi daripada penalaran diskursif – yang dapat ditemukan dalam semua agama besar dunia. Seorang filsuf yang puas hanya untuk mengetahui tentang Realitas utama – secara teoritis dan melalui desas-desus – dibandingkan dengan Buddha dengan laki-laki gembala sapi lain. Mohammad bahkan menggunakan metafora lumbung rumahan. Baginya filsuf yang belum menyadari metafisika adalah seperti keledai yang hanya membawa beban buku. Para guru Kristen, Hindu, guru Tao tidak kurang tegas menulis tentang pretensi absurd bila hanya belajar dari penalaran analitik. Dalam kata-kata Buku Doa Anglikan, kehidupan kekal kita, sekarang dan selanjutnya, “berdiri dalam pengetahuan tentang Allah”; dan pengetahuan ini tidak diskursif, tetapi “di dalam hati”,  intuisi supra-rasional, langsung, sintetis dan abadi .

Doktrin ketiga Perennial Philosophy, bahwa yang menegaskan sifat ganda manusia, jika mendasar dalam semua agama yang lebih tinggi. Pengetahuan unitive (kemenyatuan/Manunggaling) Latar/Landasan Ilahiyah sebagai kondisi yang diperlukannya, telah siap untuk pengorbanan diri dan amal baik. Hanya dengan cara pengorbanan diri dan amal baik yang bisa membersihkan kita dari kejahatan, kebodohan dan ketidaktahuan yang merupakan hal yang kita sebut kepribadian kita, dan yang mencegah kita dari menyadari percikan keilahian yang menerangi batiniah manusia, tapi percikan dalam ini mirip dengan latar Ilahiyah. Dengan mengidentifikasi diri dengan yang pertama kita bisa datang ke pengetahuan unitive kedua. Fakta-fakta empiris dari kehidupan spiritual ini telah dirasionalisasikan dalam berbagai teologi dari berbagai agama. Hindu secara kategoris menegaskan bahwa Engkau Itu – bahwa berdiamnya Atman sama dengan Brahman. Untuk Kristen ortodoks tidak ada identitas antara percikan Tuhan dan Tuhan. Penyatuan jiwa manusia dengan Tuhan terjadi – penyatuan begitu lengkap sehingga kata pendewaan diterapkan untuk itu; tetapi bukan penyatuan identik substantial/zat. Menurut teologi Kristen, orang suci (santo) adalah” didewakan”, bukan karena Atman adalah Brahman, tetapi karena Tuhan Allah telah berasimilasi pada jiwa manusia yang dimurnikan ke substansi ilahiyah  dengan tindakan karunia kasih Nya. Teologi Islam tampaknya membuat perbedaan serupa. Sufi, Mansur al-Hallaj, yang dieksekusi karena memberikan kata-kata “Persatuan” dan “Penuhanan” yang makna literalnya sama dengan yang ada dalam tradisi Hindu. Untuk tujuan kita ini, bagaimanapun, fakta penting adalah bahwa kata-kata ini benar-benar digunakan oleh orang Kristen dan Muslim pengikut Muhammad atau Mohamedan untuk menggambarkan fakta-fakta empiris realisasi metafisika dengan cara langsung, intuisi super-rasional .

Dalam kaitan dengan tujuan akhir manusia, semua agama yang lebih tinggi dalam perjanjian lengkap. Tujuan hidup manusia adalah penemuan kebenaran, pengetahuan unitive Ketuhanan. Sejauh mana pengetahuan unitiveini dicapai di bumi akan menentukan sejauh mana itu akan dinikmati di akhirat. Kontemplasi kebenaran adalah tujuan akhir, tindakan adalah alat. Di India, di Cina, di Yunani kuno, di Eropa Kristen, hal ini dianggap sebagai bagian yang paling jelas dan aksiomatik dari ortodoksi. Penemuan mesin uap yang dihasilkan revolusi industri, tidak hanya dalam teknik industri, tetapi juga jauh lebih signifikan dalam filsafat. Karena mesin bisa dibuat semakin lebih maju dan lebih efisien, orang Barat kemudian percaya bahwa manusia dan masyarakat secara otomatis akan mendaftarkan perbaikan moral dan spiritual yang sesuai. Perhatian dan kesetiaan datang yang harus dibayar, bukan untuk keabadian, tapi untuk masa depan utopis datang dianggap sebagai lebih penting bahwa keadaan pikiran tentang keadaan eksternal, dan akhir kehidupan manusia dianggap tindakan, dengan kontemplasi sebagai sarana untuk mencapai tujuan itu. Doktrin-doktrin palsu dan historis, yang menyimpang dan sesat kini secara sistematis diajarkan di sekolah-sekolah kita dan diulang, hari demi hari, oleh para penulis naskah iklan anonim yang, lebih dari guru-guru lain, memberikan orang dewasa Eropa dan Amerika dengan filosofi pada saat mereka ini hidup. Dan propaganda ini telah begitu efektif sehingga bahkan orang Kristen yang mengaku menerima ajaran sesat tanpa bertanya dan cukup sadar lengkap ketidakcocokan dengan agama mereka sendiri atau orang lain.

Keempat doktrin yang merupakan Filsafat perennial/abadi dalam bentuk minimal dan dasar. Seorang manusia yang dapat mempraktekkan apa yang orang India menyebutnya Jnana yoga (disiplin diskriminasi metafisik antara yang nyata dan tampak) tak meminta apa-apa lagi. Hipotesis yang bekerja sederhana ini sudah cukup untuk tujuan-Nya. Tapi diskriminasi tersebut sangat sulit dan hampir tidak dapat dipraktekkan, pada setiap tingkat pada tahap awal kehidupan spiritual, kecuali oleh orang yang diberkahi dengan jenis tertentu dari konstitusi mental. Itulah sebabnya sebagian besar pernyataan dari Filsafat Perennial/abadi telah memasukkan doktrin lain, menegaskan keberadaan satu atau lebih adalah reinkarnasi manusia dari Latar (Ground) Ilahiyah, yang oleh mediasi dan rahmat penyembah dibantu untuk mencapai tujuannya – bahwa pengetahuan unitive Ketuhanan, manusia dan kebahagiaan yang hidup yang kekal. Bhagavad Gita adalah salah satu pernyataan seperti itu. Di sini, Krishna adalah inkarnasi Latar Ilahi dalam bentuk manusia. Demikian pula, dalam teologi Kristen dan Buddha, Yesus dan Gautama adalah inkarnasi keilahian. Namun, sementara di dalam Hindu dan Buddha lebih dari satu Inkarnasi Ketuhanan adalah mungkin (dan dianggap sebenarnya telah terjadi), bagi orang Kristen telah ada dan bisa hanya satu.

Sebuah Inkarnasi dari Ketuhanan dan, pada tingkat lebih rendah, setiap saint (wali) yang teosentris, bijak atau nabi adalah manusia yang tahu siapa dia dan karena itu dia dapat secara efektif mengingatkan manusia lain dari apa yang telah membiarkan diri mereka lupa: yaitu, bahwa jika mereka memilih untuk menjadi apa yang mereka sudah berpotensi, mereka juga bisa selamanya bersatu dengan Ground/Latar Ilahiyah.

Ibadah dari Inkarnasi dan perenungan sifat-sifat-Nya yang bagi kebanyakan pria dan wanita adalah persiapan terbaik untuk pengetahuan unitive Ketuhanan. Namun apakah pengetahuan itu sendiri dapat dicapai dengan cara ini adalah pertanyaan lain. Banyak penganut mistik Katolik telah membenarkan bahwa, pada tahap tertentu dari doa kontemplatif, di mana, menurut para teolog paling otoritatif, kesempurnaan kehidupan Kristen akhirnya terdiri, perlu untuk mengesampingkan semua pikiran dari Inkarnasi sebagai hal yang mengganggu dari pengetahuan yang lebih tinggi itu yang telah menjelma. Dari fakta ini telah muncul kesalahpahaman di banyak intelektual dan sejumlah kesulitan. Di sini, misalnya, adalah apa yang Abbot Josh Chapman tulis dalam salah satu Surat Spiritual mengagumkan-nya: “Masalah rekonsiliasi (bukan hanya menyatukan) mistisisme dengan agama Kristen lebih sulit. The Abbot (Abbot Marmion) mengatakan bahwa St Yohanes of The Cross adalah seperti penuh spons kekristenan. Anda dapat menekan semuanya, dan teori mistis tetap penuh. Akibatnya, selama lima belas tahun atau lebih, aku benci St Yohanes of Th Cross dan memanggilnya sebagai seorang Buddhis. Aku mencintai St Teresa, dan membaca-nya berulang-ulang,  pertama Dia seorang Kristen, hanya secara sekunder seorang mistik. Kemudian saya menemukan bahwa saya telah menyia-nyiakan lima belas tahun, sejauh doa khawatir. “Namun, ia menyimpulkan, meskipun dari karakter “Buddhis”, praktik mistisisme (atau, untuk memasukkannya ke dalam istilah lain, realisasi  Filsafat perennial/abadi) membuat orang Kristen jadi yang baik. Dia mungkin telah menambahkan bahwa hal itu juga membuat umat Hindu yang baik, Buddha yang baik, Tao yang baik, Muslim yang baik dan Yahudi yang baik.

Solusi untuk masalah Abbot Chapman harus dicari dalam domain, bukan filsafat, tetapi psikologi. Manusia tidak dilahirkan identik. Ada banyak temperamen dan konstitusi yang berbeda; dan dalam setiap kelas psiko-fisik seseorang dapat menemukan orang-orang pada tahap perkembangan spiritual yang berbeda. Bentuk ibadah dan disiplin spiritual yang mungkin berharga untuk satu individu mungkin tidak berguna atau bahkan positif berbahaya bagi yang lain yang memiliki kelas yang berbeda dan berdiri, dalam kelas itu, pada tingkat lebih rendah atau lebih tinggi dari perkembangan. Semua ini jelas diatur dalam Gita, di mana fakta-fakta psikologis terkait dengan kosmologi umum melalui dalil dari Gunas.

Krishna, yang ada di sini adalah potongan mulut/lisan Hindu dalam segala manifestasinya, sangat alamiah menemukan bahwa manusia yang berbeda harus memiliki metode yang berbeda dan bahkan tampaknya obyek ibadah berbeda. Semua jalan menuju Roma – asalkan, tentu saja, bahwa itu adalah Roma dan bukan kota lain yang wisatawan benar-benar ingin mencapainya. Sikap serupa amal inklusivitas, agak mengejutkan dalam Islam, dengan indah dinyatakan dalam perumpamaan Musa dan penggembala hewan, diberitahu oleh Jalaluddin Rumi dalam buku kedua dari Masnawi.  Dan lebih eksklusif dalam tradisi Kristen masalah dari temperamen dan tingkat pembangunan ini telah diselidiki dalam hubungannya dengan cara Maria dan cara Martha pada umumnya dan khususnya untuk panggilan dan pengabdian pribadi individu .

Kami sekarang harus mempertimbangkan prasyarat etis dari Filsafat Perennialism-abadi. “Kebenaran”, kata St. Thomas Aquinas, “adalah akhir final  untuk seluruh alam semesta, dan kontemplasi kebenaran adalah pekerjaan utama dari kebijaksanaan.” Kebajikan moral, katanya di tempat lain, milik kontemplasi, memang tidak esensial dasarnya, tetapi sebagai predisposisi/pendahuluan yang diperlukan. Kebajikan, dengan kata lain, bukanlah akhir, tetapi sarana yang sangat diperlukan untuk pengetahuan tentang realitas ilahiyah. Shankara, komentator tentang Gita, yang terbesar dari India, memegang doktrin yang sama. Tindakan yang benar adalah cara untuk pengetahuan; untuk itu memurnikan pikiran, dan itu hanya untuk memurnikan pikiran dari egoisme bahwa intuisi Latar Ilahiyah bisa datang.

Pengorbanan diri, menurut Gita , dapat dicapai dengan praktek dua kebajikan – cinta inklusif bagi semua dan ketidak-melekatan (nonattachment), yang terakhir adalah hal yang sama seperti yang “ketidakpedulian yang suci”, di mana St Francois de Sales tidak pernah lelah bersikeras. “Dia yang mengacu setiap tindakan kepada Tuhan Allah”, tulis Camus, meringkas ajaran tuan gurunya”, dan tidak memiliki tujuan menyimpan kemuliaan-Nya, yang akan menemukan sisanya di mana-mana, bahkan di tengah-tengah keributan paling kejam. “Selama kita berlatih ketidakpedulian suci ini ke hasil dari tindakan”,  tidak ada pekerjaan yang sah yang akan memisahkan kita dari Tuhan Allah; Sebaliknya, hal itu dapat kita jadikan sarana penyatuan yang lebih dekat. “Di sini kata ‘halal’ memasok kualifikasi yang diperlukan untuk pengajaran yang, tanpa itu, tidak lengkap dan bahkan berpotensi berbahaya.  Beberapa tindakan pada hakekatnya adalah jahat atau tidak; dan tidak adanya niat baik, tidak ada kesadaran yang menawarkan mereka kepada Allah, tidak ada penolakan dari buah dapat mengubah karakter dasar mereka. Ketidakpedulian Kudus membutuhkan untuk diajarkan dalam hubungannya tidak hanya dengan satu set perintah yang melarang kejahatan, tetapi juga dengan konsepsi yang jelas tentang apa yang di Delapan Jalan Buddha disebut sebagai “mata pencaharian yang benar.” Dengan demikian  untuk Buddhis, penghidupan benar tidak sesuai dengan pembuatan senjata mematikan dan minuman keras; bagi orang Kristen abad pertengahan, dengan pengambilan bunga rente dan dengan berbagai praktek monopoli yang sejak datangnya dianggap sebagai bisnis yang sah baik. John Woolman, Quaker Amerika, memberikan contoh yang paling mencerahkan dari cara di mana seorang manusia bisa hidup di dunia, saat berlatih ketidak-melekatan (non-attachment) sempurna dan tersisa sangat sensitif terhadap klaim penghidupan yang benar. Jadi, meskipun itu akan menjadi menguntungkan dan sempurna halal baginya untuk melihat gula India Barat dan rum kepada pelanggan yang datang ke tokonya, Woolman menahan diri dari melakukannya, karena hal-hal ini adalah produk dari tenaga kerja budak. Demikian pula, ketika ia berada di Inggris, itu akan menjadi baik halal dan nyaman bagi dia untuk bepergian dengan pemanggul kursi/kereta. Namun demikian, ia lebih suka untuk membuat perjalanannya dengan berjalan kaki. Mengapa? Karena kenyamanan perjalanan cepat hanya bisa dibeli dengan mengorbankan kekejaman besar untuk kuda dan kondisi kerja yang paling mengerikan untuk anak laki-laki-pemanggul. Di mata Woolman itu, sistem transportasi seperti itu adalah intrinsik yang tidak diinginkan, dan tidak ada jumlah pribadi non-ikatan bisa membuat apa-apa, tapi tidak diinginkan. Jadi dia memanggul sendiri ranselnya dan berjalan.

Di halaman-halaman sebelumnya Huston Smith telah mencoba untuk menunjukkan bahwa Filsafat perennial/abadi dan prasyarat etika  yang merupakan Faktor umum tertinggi, hadir dalam semua agama besar di dunia. Untuk menegaskan kebenaran ini tidak pernah lebih penting daripada imperatif pada saat ini. Tidak pernah akan ada perdamaian abadi kecuali dan sampai manusia datang untuk menerima filsafat hidup yang lebih memadai untuk fakta kosmik dan psikologis  ini, daripada pemberhalaan gila terhadap iklan nasionalisme dan iman apokaliptik manusia dalam Kemajuan menuju Yerusalem Baru yang mekanik. Semua elemen dari filosofi ini hadir, seperti telah kita lihat, dalam agama-agama tradisional. Namun dalam situasi yang ada tidak ada kesempatan sedikit pun bahwa salah satu agama-agama tradisional akan memperoleh penerimaan universal. Orang Eropa dan Amerika akan melihat tidak ada alasan untuk diubah menjadi Hindu, misalnya, atau Buddhisme.

Dan orang-orang Asia tidak dapat diharapkan untuk meninggalkan tradisi mereka sendiri untuk tulus untuk mengaku Kristen, yang oleh kaum imperialis yang selama empat ratus tahun dan lebih, telah secara sistematis diserang, dieksploitasi, dan ditindas, dan sekarang berusaha untuk menyelesaikan  penghentian karya perusakan oleh “upaya mendidik” mereka.  Tapi bahagianya masih ada Faktor umum tertinggi dari semua agama  dalam pandangan Filsafat Perennial yang selalu dan di mana-mana menjadi sistem metafisik para nabi, orang-orang suci/kudus dan orang bijak. Hal ini sangat mungkin bagi orang untuk tetap menjadi Kristen yang baik, Hindu, Budha, atau Muslim yang baik dan walau belum bersatu dalam perjanjian penuh pada ajaran-ajaran dasar Perennial Philosophy.

Bhagavad Gita mungkin adalah pernyataan kitab suci yang paling sistematis dari Filsafat perennial/abadi ke sebuah dunia saat perang, sebuah dunia yang, karena tidak memiliki prasyarat intelektual dan spiritual untuk perdamaian, hanya bisa berharap untuk menambal semacam gencatan senjata bersenjata yang genting, ia berdiri menunjuk, jelas dan jelas-jelas, satu-satunya jalan untuk melarikan diri dari kebutuhan diri dikenakan penghancuran diri. Untuk alasan ini kami harus berterima kasih kepada Swami Prabhavananda dan Mr. Isherwood karena telah memberi kita versi baru dari buku ini – versi yang dapat dibaca, tidak hanya tanpa rasa sakit kusamnya estetika yang diakibatkan oleh terlalu banyak terjemahan bahasa Inggris dari bahasa Sansekerta, tapi secara positif dengan kenikmatan.

  1. Inti Mistik Tradisi Agama Besar

Enam agama besar telah membentuk peradaban utama yang ada saat ini: ketiga agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan tiga agama Timur (Hindu, Buddha, dan Taoisme/ Konghucu). Agama-agama ini tampaknya cukup bertentangan satu sama lain ketika kita lihat dari luar, atau dari bentuk eksoteris mereka. Tidak hanya apakah mereka memiliki ritual, doa dan ajaran yang berbeda tetapi dalam banyak kasus doktrin mereka yang paling mendasar tentang sifat Realitas tampaknya bertentangan satu sama lain. Misalnya, Yudaisme menagatakan: “Jangan ada Allah lain selain Aku” tampaknya berdiri bertentangan secara langsung dengan penyembahan orang Hindu terhadap tiga juta dewa. Ketuhanan Tritunggal Kekristenan  kontras tajam dengan Jalan Taoisme yang tak berbentuk, sementara prinsip utama Islam: “Tidak ada tuhan selain Allah”, muncul benar-benar bertentangan dengan desakan Buddhisme bahwa tidak ada Tuhan sama sekali. [73]

Jika kita menggali lebih dalam, bagaimanapun, kami menemukan dalam masing-masing tradisi agama itu, aspek batin atau esoteris, aliran ajaran yang diberikan oleh kaum mistik – orang  pria dan wanita mereka yang mengklaim telah memiliki Realisasi langsung, atau Gnosis (Makrifat), dari Alam Realitas Mutlak. Apalagi jika kita membandingkan kesaksian mistik ini tentang Sifat Realitas ini, kami menemukan bahwa, meskipun ada pemisahan luas dalam waktu, tempat,  bahasa, dan budaya, mereka sangat mirip – begitu banyak sehingga banyak sarjana telah datang untuk melihat mereka sebagai ajaran yang  merupakan filsafat abadi tunggal yang, seperti beberapa bunga tak tertahankan, terus mekar lagi dan lagi dalam jiwa manusia.

Salah satu tujuan utama dari Pusat Ilmu Suci (Center for Sacred Sciences) adalah untuk melestarikan dan mempromosikan ajaran mistik ini dan untuk menunjukkan secara tepat apa yang mereka memiliki kesamaan. Di sini, misalnya, sembilan point disepakati oleh mistikus dari semua tradisi besar, bersama-sama dengan contoh kutipan yang menunjukkan Kesepakatan ini.

  1. Semua mistikus setuju bahwa Ultimate Reality (Realitas Mutlak) – apakah itu disebut Allah, Brahman, sifat-Buddha, En-Sof, Tuhan, atau Tao tidak bisa dipahami sepenuhnya oleh pikiranmanusia atau dinyatakan dalam kata-kata. (Bahkan, arti kata mistik berhubungan dengan kata bisu, yang keduanya berasal dari akar kata mustes Yunani, yang berarti “tutup-mulut.”)

“Tao yang dapat diberi nama bukanlah Tao yang sejati.” – Lao Tzu (Tao)

“Roh tertinggi adalah tak dapat diukur, tidak dapat dipahami, di luar konsepsi, tidak pernah dilahirkan,  di luar penalaran,  di luar pikiran.” – Upanishad (Hindu)

“Kata dan kalimat yang diproduksi oleh hukum sebab-akibat dan saling mengkondisikan  – mereka tidak bisa mengungkapkan Realitas tertinggi.”  – Lankavatara Sutra (Buddha)

“Salah satu yang yang melampaui semua pikiran,  tidak dapat dibayangkan oleh semua pikiran.” – Dionysius, anggota majelis Areopagus (Kristen)

“Kaum Gnostik (Arifin) tahu, tapi apa yang mereka ketahui tidak bisa dikomunikasikan. Hal ini tidak dalam kuasa para pemilik maqom (kedudukan) paling menyenangkan ini … untuk membentuk kata yang akan menunjukkan apa yang mereka ketahui.” – Ibn ‘ Arabi ( Muslim )

 

  1. Alasan Realitas Mutlak tidak dapat ditangkap oleh pikiran atau dikomunikasikan dengan kata adalah bahwa pikiran dan kata-kata, menurut definisi, membuat perbedaan dan, karenanya,merupakan dualitas. Bahkan tindakan sederhana penamaan sesuatu menciptakan dualitas karena membedakan hal yang diberi nama dari semua hal lain yang tersisa, yang tidak disebutkan namanya. Namun, para mistikus dari semua tradisi besar setuju bahwa segala perbedaan adalah khayalan dan bahwa Alam Ultimate Reality adalah non-ganda.

“Pada dasarnya hal-hal,  tidaklah dua tapi satu.  Semua dualitas adalah yang secara palsu dibayangkan.” – Lankavatara Sutra (Buddha)

“Tidak peduli apa seorang manusia tertipu mungkin berpikir bahwa dia memahami, dia benar-benar melihat Brahman dan tidak lain selain Brahman. … Alam semesta ini, yang ditumpangkan pada Brahman, tidak lain hanyalah sebuah nama.” – Shankara (Hindu)

“Jika kita akan melihat hal-hal yang benar-benar, mereka adalah asing untuk kebaikan, kebenaran dan segala sesuatu yang mentolerir perbedaan apapun. Mereka adalah kawan karib dari Yang Satu, yang telanjang dari apapun keragaman dan perbedaan.”  Meister Eckhart (Kristen)

“Kesatuan yang ada, di sisi lain dari deskripsi dan keadaan. Tidak ada sesuatu tapi dualitas memasuki lapangan permainan  kata-kata itu.” – Rumi (Muslim)

“Segala sesuatu yang Ada adalah sebagai Satu; Perbedaan antara “hidup” dan “mati”, “tanah” dan “laut”, telah kehilangan maknanya. – Master Hasid Anonim (Yahudi)

 3. Meskipun mistik tidak dapat mendefinisikan Realitas Mutlak dalam kata-kata, mereka masih menggunakan kata-kata untuk menunjuk kepada Hal yang melampaui kata-kata. Misalnya, semua mistikus setuju bahwa, sementara Realitas Mutlak itu merupakan sifat sejati dari segala sesuatu, dalam dirinya sendiri Hal ini adalah bukan.

“Neti neti” (bukan ini, bukan itu) – Upanishad (Hindu)

“Kekosongan (shunyata) … adalah sifat utama dari segala sesuatu yang ada.” – Lama Yeshe (Buddha)

“Makhluk-makhluk segudang di dunia yang lahir dari sesuatu, dan sesuatu dari bukan apa-apa.” – Lao Tzu (Tao)

“Ini adalah dalam kecerdasan kita, jiwa dan tubuh, di surga, di bumi, dan sementara tetap sama dalam Dirinya sendiri, Hal ini sekaligus dalam, di sekitar dan di atas dunia, langit-super, esensi-super, sebuah matahari, bintang, api, air, semangat, embun, awan, batu, batu, semua itu adalah; semua hal ini bukanlah apa-apa. – Dionysius, anggota majelis Areopagus (Kristen)

“Dia tidak disertai dengan keapaan, kami juga tidak menganggap hal itu kepada-Nya. Negasi dari kekosongan dari-Nya merupakan salah satu sifat penting-Nya. – Ibn ‘Arabi (Muslim)

“Tuhan Allah yang tersembunyi, menjadi yang terdalam Being-Ketuhanan sehingga untuk membicarakan-NYA, kita tidak  memiliki kualitas atau atribut. – Gerson Scholem (Yahudi)

 

  1. Meskipun mistik mengatakan Realitas Mutlak bukanlah suatu hal, mereka juga setuju bahwa kekosongan ini atau ke-bukan-apa-apa-an adalah vakum belaka. Hal ini bersinar dengan terang Roh Murni, Kesadaran Primordial, Pikiran Buddha, atau Kesadaran Diri

“Dia adalah Abadi di antara hal-hal yang berlalu, Kesadaran murni makhluk yang sadar.” – Upanishad (Hindu)

“Semua Buddha dan semua makhluk hidup tidak lain adalah Satu Pikiran, selainnya  yang tidak ada.” Huang Po(Buddha)

“Lampu di mana jiwa diterangi, agar dapat melihat dan benar-benar memahami segala sesuatu … adalah Tuhan Allah sendiri.” – St . Augustine (Kristen)

“Dia adalah roh kosmos, pendengaran-Nya, penglihatan-Nya, serta tangan-Nya. Melalui Dia kosmos mendengar, melalui Dia itu melihat, melalui Dia itu berbicara, melalui Dia itu menggenggam, melalui Dia berjalan.” – Ibn ‘Arabi (Muslim)

“Pikiran ini berasal dari sumber yang luhur dan benar-benar bersatu di atas; itu terbagi hanya karena masuk ke dalam alam semesta perbedaan.” – Menahem Nahum (Yahudi)

  1. Kaum Mistik dari semua tradisi juga setuju bahwa ketika perbedaan yang diciptakan oleh imajinasi diambil untuk menjadi nyata – khususnya perbedaan antara subyek’ dan ‘obyek‘ , ‘aku’ dan ‘lainnya’, ‘diri’ dan ‘dunia‘ – kita kehilangan pandangan Sifat Mutlak dari Realitas dan jatuh ke dalam delusi/khayalan. Ini adalah penyebab semua penderitaan kita.

“Disfungsi mendasar pikiran kita mengambil bentuk pemisahan antara saya dan yang lainnya. Kita secara palsu berpegang pada “Aku” yang merupakan lampiran cangkokan diri sendiri pada saat yang sama seperti yang kita pahami dari “yang lain” yang merupakan dasar dari penghindaran.” – Bokar Rinpoche (Buddha)

“Selama rasa “aku” dan “milikku”  tetap ada, terikat menjadi kesedihan dan inginkan dalam kehidupan individu. – Anandamayi Ma (Hindu)

“Setiap orang memiliki banyak alasan untuk kesedihan tapi dia sendiri memahami alasan universal yang mendalam bagi kesedihan yang dia alami.” –Cloud of Unknowing (Kristen)

“Selama Anda adalah ‘kamu’,  Anda akan sengsara dan miskin.” – Javad Nurbaksh (Muslim)

“Bagaimana bisa setiap kapal (kendaraaan)  yang terbatas berharap untuk mengandung Tuhan yang tak berujung? Oleh karena itu, melihat diri Anda sebagai bukan apa-apa; satu-satunya yang merasa bukan apa-apa dapat berisi kepenuhan Kehadiran.” – Menahem Nahum (Yahudi)

6. Fakta bahwa perbedaan pada akhirnya tidak berarti nyata, bahwa kita bukan diri yang benar-benar terpisah. Dalam Realitas, semua mistikus menyatakan, Alam Sejati kita adalah Tuhan Allah, Brahman, Buddha – Nature, Tao, atau Kesadaran itu

“Jati Diri kita yang Sangat adalah Buddha, dan terpisah dari alam ini tidak ada yang lain selain Buddha.” – Hui-Neng (Buddha)

“Setelah meninggalkan ke samping  Hidup dan Kematian, sekarang ia benar-benar dengan Transmutasi universal.” – Kuo Hsiang   (Tao)

“Allah adalah Diri sendiri Seseorang, nafas-nafas dari seseorang yang bernafas, kehidupan dari hidup seseorang, Atman.” – Anandamayi Ma (Hindu)

“Beberapa orang sederhana berpikir bahwa mereka akan melihat  Tuhan Allah seolah-olah Dia sedang berdiri di sana dan mereka di sini.  Hal ini tidak begitu. Tuhan dan saya, kita adalah satu.”  Meister Eckhart (Kristen)

“Engkau adalah Dia, tanpa salah satu dari keterbatasan ini. Kemudian jika kamu mengetahui keberadaan-Mu sendiri dengan demikian, maka engkau tahu Tuhan Allah; dan jika tidak, maka tidak.” – Ibn ‘Arabi (Muslim)

“Untuk saat ini ia tidak lagi dipisahkan dari Tuan Guru, dan lihatlah dia tuannya dan Gurunya dia.” – Abraham Abulafia (Yahudi)

  1. 7. Meskipun kebenaran identitas seseorang dengan Realitas Mutlak tidak dapat ditangkap oleh pikiran, semua mistikus bersaksi bahwa Hal ini dapat Direalisasikan/Diwujudkan atau Dikenalimelalui Kebangkitan Makrifat/Gnostik (Pencerahan) yang olehnya – pikiran melewati berpikir sama sekali .

“Saatnya akan datang ketika pikiran Anda tiba-tiba akan berhenti seperti tikus tua yang menemukan dirinya di dalam cul-de-sac. Kemudian akan ada orang terjun ke hal yang tidak diketahui dengan teriakan, “Ah, ini!” –Yun Man(Buddha)

“Ketika cermin dari pikiran saya menjadi jelas … saya melihat bahwa Tuhan Allah tidak lain dari pada saya  dan pengetahuan non-dualistik  ini benar-benar menghancurkan semua pikiran dari “kamu” dan “Saya”. Aku datang untuk mengetahui bahwa seluruh dunia ini tidak berbeda dari Tuhan Allah. – Lalleshwari (Hindu)

“Di sini, menyangkal semua bahwa pikiran dapat mengandungnya, dibungkus sepenuhnya dalam hal yang tak berwujud dan tak terlihat, ia milik sepenuhnya Dia yang kepadaNya, orang yang berada di luar segalanya. Di sini  yang tidak diri sendiri maupun orang lain, seseorang sangat disatukan oleh ketidaktahuan yang tidak aktif sama sekali dari semua pengetahuan, dan tahu di luar pikiran dengan tak mengetahui apa-apa. – Dionysius, anggota majelis Areopagus (Kristen)

“Dia hanya melihat Tuhan sebagai apa yang ia lihat, mengamati pelihat untuk menjadi sama dengan yang terlihat. Ini cukup, dan Tuhan Allah adalah pemberi rahmat, Panduan.”- Ibn ‘Arabi (Muslim)

“Hal ini dengan turun ke kedalaman diri sendiri bahwa manusia mengembara melalui semua dimensi dunia; dalam dirinya sendiri ia mengangkat hambatan yang memisahkan satu lingkungan  dari yang lain; dalam diri sendiri, akhirnya , ia melampaui batas-batas nalar dan pada akhir dari jalan, tanpa, seolah-olah, satu langkah di luar dirinya, ia menemukan bahwa Tuhan Allah adalah ‘semuanya’ dan ada ‘apa-apa kecuali dia’.” – Gerson Scholem (Yahudi)

  1. Semua mistikus setuju bahwa mewujudkan Identitas kita dengan Realitas Mutlak ini membawa kebebasan dari penderitaan dan kematian .

“Ketika seorang manusia mengenal Tuhan Allah, ia bebas: kesedihannya berakhir, dan kelahiran dan kematian tidak ada lagi.” – Upanishad (Hindu)

“Apa itu penderitaan? Apa itu kematian? Pada kenyataannya, mereka tidak memiliki eksistensi apapun. Mereka muncul dalam kerangka manifestasi yang dihasilkan oleh pikiran yang terbungkus dalam sebuah ilusi. … Dalam kekosongan pikiran, tidak ada kematian. Tidak ada yang meninggal. Tidak ada penderitaan dan tidak takut.” – Bokar Rinpoche (Buddha)

“Ketika penangkapan palsu dinegasikan … dari jantung hati yang tercerahkan, maka “kematian akan ditelan selamanya dan Allah akan menghapus air mata dari setiap wajah.” – Abraham Abulafia (Yahudi)

“Tiba-tiba  saya menyadari … ” itu benar-benar seperti ini, pada kenyataannya tidak ada satu hal! ” Dengan pikiran tunggal ini, semua belitan yang rusak. Tiba-tiba, seolah-olah beban seratus pound jatuh ke tanah dalam sekejap. Seolah-olah kilat telah menembus tubuh dan menembus kecerdasan.”- Kao – P’an – Lung (Konghucu)

“Manusia ini tinggal di satu Cahaya dengan Allah, dan karena itu tidak ada dalam dirinya baik penderitaan atau berlalunya waktu, tapi keabadian yang tak berubah.”  Meister Eckhart (Kristen)

“Aku telah diselamatkan dari ego dan kehendak-diri, hidup atau mati, apa penderitaan! Tapi hidup atau mati, saya tidak punya tanah air selain Karunia Allah.” – Rumi (Muslim)

9. Akhirnya, mistikus dari semua tradisi setuju bahwa ajaran mereka tentang Sifat Realitas Mutlak tidak harus diambil pada keimanan itu sendiri. Sama seperti teori-teori ilmiah yang dapat diverifikasi oleh siapa saja yang bersedia untuk melakukan eksperimen yang tepat, ajaran-ajaran mistis dapat diverifikasi oleh siapa saja yang bersedia untuk terlibat dalam praktek-praktek spiritual yang tepat dan disiplin. (Ini, kebetulan, adalah mengapa kita di Pusat percaya ajaran dan praktik mistis yang dikatakan benar merupakan ilmu pengetahuan yang kudus.)

“Mereka yang mempraktekkan tahu apakah realisasi dapat dicapai atau tidak, sama seperti mereka yang minum air tahu apakah itu panas atau dingin.“ – Dogen (Buddha)

“Kebenaran murni Atma , yang terkubur di bawah dunia Maya dan efek Maya, dapat dicapai dengan meditasi, kontemplasi dan disiplin spiritual lainnya seperti orang berpengetahuan Brahman mungkin meresepkan.”    –Shankara (Hindu)

“Jika Anda tidak mencuci batu dan pasir, bagaimana Anda dapat memilih emas? Turunkan kepala dan masuklah ke dalam lubang terbuka membosankan yang non-reifikasi, hati-hati mencari jantung langit dan bumi dengan tekad kuat. Tiba-tiba, Anda akan melihat hal yang asli!” – Liu I- ming (Tao)

“Para patriarkh membuka saluran pikiran di dunia, mengajarkan semua orang yang datang ke dunia bagaimana menggali dalam diri mereka musim semi air kehidupan, untuk bersatu dengan sumber mereka, akar kehidupan mereka.” – Menahem Nahum (Yahudi)

“Jalan orang sufi adalah cara dari gnosis (Irfan) yang tepat dari Tuhan Allah, dan pengetahuan tentang cara-cara beragam pelatihan diri yang diperlukan untuk Arif bi Allah (Mengenal Allah)” – ‘Abd al-Wahab Sya’rani(Muslim)

“Jika Anda mengikuti ajaran saya, maka Anda benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan datang ke sebuah Makrifat (Gnosis) dari kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” – Yesus dari Nazaret(Kristen)

  1. Apakah Fisika Quantum dan Spiritualitas terkait ?

Sangatlah berharga untuk mendiskusikan pertanyaan tentang fisika kuantum dan spiritualitas bersama-sama, untuk melihat hubungan antara mereka dari sudut pandang Gereja Baru dan juga dari perspektif Filsafat Islam Nusantara. Ada alasan mendesak untuk mendiskusikan link ini, karena ada orang yang ingin mengidentifikasi hal-hal ini. Ada perasaan yang meluas bahwa entah bagaimana mereka terhubung, tetapi di beberapa ‘zaman baru’ orang ingin mengatakan bahwa fisika kuantum mengatakan pada kita tentang spiritualitas. Kita tahu dari Swedenborg Scientific Association bahwa ada sambungan yang tidak begitu sederhana, jadi kita perlu memahami lebih terinci apa yang sedang terjadi.

  1. Peran Pikiran

Semua filsuf Muslim percaya bahwa di atas indra ada jiwa rasional. Ini memiliki dua bagian: intelek praktis dan teoritis. Intelek teoritis bertanggung jawab untuk pengetahuan; intelek keprihatinan praktis sendiri hanya dengan manajemen yang tepat dari tubuh melalui ketakutan hal tertentu sehingga dapat melakukan yang baik dan menghindari yang buruk. Semua filsuf Muslim utama, dimulai dengan al-Kindi, menulis risalah tentang sifat dan fungsi intelek teoritis, yang dapat disebut sebagai rumah pengetahuan.

Selain indra dan intelek teoritis, filsuf Muslim termasuk dalam diskusi mereka dari instrumen pengetahuan faktor ketiga. Mereka mengajarkan bahwa dunia ilahi berisi, antara lain, kecerdasan, yang terendah dari yang adalah apa yang al-Kindi menyebut Akal Pertama (al-‘Aql al-Awwal), lebih dikenal dalam filsafat bahasa Arab sebagai ‘agen intelek’ (al -‘aql al-fa’al), nama yang diberikan kepadanya oleh al-Farabi, or’the pemberi bentuk ‘(Wahib as-suwar). Mereka berpendapat bahwa dunia di sekitar kita diperlukan untuk pencapaian pengetahuan filosofis. Beberapa, seperti Ibnu Bajja, Ibnu Rusyd dan kadang-kadang Ibnu Sina, mengatakan bahwa universal dicampur dalam imajinasi yang telah berasal dari dunia luar melalui indera pada akhirnya dimurnikan sepenuhnya oleh cahaya intelek agen, dan kemudian tercermin ke intelek teoritis.

Al-Farabi dan pandangan umum Ibnu Sina, bagaimanapun, adalah bahwa ini universal membayangkan hanya menyiapkan akal teoritis untuk penerimaan universal dari intelek agen yang sudah berisi mereka. Ketika mengekspresikan pandangan ini, Ibnu Sina menyatakan bahwa itu bukan universal dalam imajinasi sendiri yang ditransmisikan ke intelek teoritis tapi bayangan mereka, yang dibuat ketika cahaya intelek agen ditumpahkan pada universal ini. Hal ini mirip, katanya, untuk bayangan obyek, yang tercermin pada mata ketika sinar matahari dilemparkan pada objek itu. Sedangkan cara di mana universal dalam imajinasi dapat mempersiapkan akal teoritis untuk pengetahuan pada umumnya tidak jelas, itu samar-samar berkomentar oleh al-Farabi dan Ibnu Sina bahwa persiapan ini adalah karena kesamaan universal ini ke universal murni, dan untuk keakraban intelek teoritis dengan universal dibayangkan karena kedekatannya dengan imajinasi. Dengan kata lain, keakraban intelek ini dengan apa yang menyerupai benda yang tepat mempersiapkan untuk itu. Penerimaan dari benda-benda ini dari intelek agen.

  1. filosofis dan Pengetahuan Nabi

Cara kenabian adalah jauh lebih mudah dan sederhana path (lihat Prophecy). Tidak perlu mengambil tindakan apapun untuk menerima universal ilahi yang diberikan; satu-satunya persyaratan tampaknya menjadi milik jiwa yang kuat mampu menerima mereka. Sedangkan cara filosofis bergerak dari imajinasi ke atas untuk intelek teoritis, cara kenabian mengambil jalur sebaliknya, dari intelek teoritis untuk imajinasi. Untuk alasan ini, pengetahuan filsafat adalah pengetahuan tentang sifat dari hal-hal sendiri, sementara pengetahuan tentang nubuatan adalah pengetahuan tentang sifat dari hal-hal seperti terbungkus dalam simbol-simbol, bayangan imajinasi.

Kebenaran filosofis dan kenabian adalah sama, tetapi dicapai dan dinyatakan secara berbeda. Ibnu Tufail yang Hayy ibn Yaqzan adalah ilustrasi terbaik dari harmoni filsafat dan agama (lihat Ibnu Tufail). Yang disebut teori kebenaran ganda salah memandang dua jalur ini untuk pengetahuan sebagai dua jenis kebenaran, sehingga menghubungkan Ibnu Rusyd pandangan asing untuk filsafat Islam. Salah satu kontribusi paling penting dari filsafat Islam adalah upaya untuk mendamaikan filsafat Yunani dan Islam dengan menerima jalur filosofis dan kenabian sebagai mengarah ke kebenaran yang sama.

Filsuf Muslim setuju bahwa pengetahuan intelek teoritis melewati tahap. Bergerak dari potensi ke aktualitas dan dari aktualitas untuk refleksi pada kenyataannya, sehingga memberikan intelek teoritis nama masing-masing potensi kecerdasan, kecerdasan yang sebenarnya dan diperoleh intelek. Beberapa filsuf Muslim menjelaskan bahwa yang terakhir adalah yang disebut ‘diperoleh’ karena pengetahuan datang untuk itu dari luar, sehingga dapat dikatakan untuk memperolehnya. Intelek yang diperoleh adalah pencapaian manusia tertinggi, keadaan suci yang conjoins manusia dan alam ilahi oleh conjoining intelek teoritis dan agen.

Mengikuti jejak Alexander dari Aphrodisias, al-Farabi, Ibn Bajja dan Ibnu Rusyd percaya bahwa kecerdasan teoritis potensi oleh alam, dan karena itu hancur kecuali menggenggam benda abadi, universal penting, untuk diketahui dan berpengetahuan adalah satu . Ibnu Sina menolak pandangan bahwa kecerdasan teoritis potensi oleh alam. Dia berpendapat sebaliknya bahwa itu adalah kekal oleh alam karena kecuali itu, itu tidak dapat memahami benda-benda yang kekal. Baginya, kebahagiaan dicapai dengan menggenggam ini intelek tentang obyek kekal, untuk menggenggam seperti menyempurnakan jiwa. Filsuf Muslim yang percaya keabadian yang dicapai hanya melalui pengetahuan juga setuju dengan Ibnu Sina pengetahuan yang sempurna dan kesempurnaan adalah kebahagiaan.

  1.  Konsep Pengetahuan Islam[17]

Berbagai isu epistemologis telah dibahas dalam filsafat Islam dengan orientasi berbeda dari epistemologi Barat. Upaya saat ini sedang dilakukan untuk memahami isu-isu dasar epistemologis dalam hal orientasi itu.

Dengan pandangan ini, dilakukan usaha dalam makalah ini untuk menggambarkan nuansa yang berbeda dan konotasi dari ilm istilah ‘, yaitu, pengetahuan, dalam konteks Islam. Diharapkan upaya singkat ini akan berfungsi sebagai langkah untuk dasar masa depan untuk pembangunan kerangka kerja untuk teori Islam pengetahuan.

Dalam teori Islam pengetahuan, istilah yang digunakan untuk pengetahuan dalam bahasa Arab adalah ‘ilm, yang, seperti Rosenthal telah dibenarkan menunjukkan, memiliki konotasi yang lebih luas daripada sinonim dalam bahasa Inggris dan bahasa Barat lainnya. Pengetahuan di dunia Barat berarti informasi tentang sesuatu, ilahi atau ragawi, sedangkan ‘ilm adalah istilah yang mencakup semua meliputi teori, aksi dan pendidikan. Rosenthal, menyoroti pentingnya istilah ini dalam peradaban Islam dan Islam, mengatakan bahwa hal itu memberi mereka bentuk yang khas.

Dapat dikatakan bahwa Islam adalah jalan “pengetahuan.” Tidak ada agama atau ideologi lain telah begitu banyak menekankan pentingnya ‘ilm. Dalam Al Qur’an kata ‘alim telah terjadi di 140 tempat, sementara al-‘ilm di 27. Dalam semua, jumlah total ayat di mana’ ilm atau turunannya dan kata-kata terkait yang digunakan adalah 704. Hal ini penting untuk dicatat bahwa pena dan buku sangat penting untuk akuisisi pengetahuan. Wahyu Islam dimulai dengan kata iqra ‘(‘ baca! ‘Atau’ membaca! ‘).
Menurut Al-Qur’an, kelas pengajaran pertama untuk Adam dimulai segera setelah penciptaan dan Adam diajarkan ‘semua Nama’.

Allah adalah guru pertama dan panduan mutlak kemanusiaan. Pengetahuan ini tidak disampaikan untuk bahkan para malaikat. Dalam Ushul al-Kafi ada tradisi yang diriwayatkan oleh Imam Musa al-Kazim (‘a) bahwa’ ilm adalah tiga jenis: ayatun muhkamah (tanda-tanda yang tak terbantahkan dari Allah), faridatun ‘Adilah (hanya kewajiban) dan sunnah al-qa’ imah (didirikan tradisi Nabi [s]). Ini berarti bahwa ‘ilm, pencapaian yang wajib bagi semua umat Islam meliputi ilmu-ilmu teologi, filsafat, hukum, etika, politik dan kebijaksanaan disampaikan kepada umat oleh Nabi
‘Ilm adalah tiga jenis: informasi (sebagai lawan ketidaktahuan), hukum alam, dan pengetahuan dengan dugaan. Jenis pertama dan kedua pengetahuan dianggap berguna dan akuisisi mereka dibuat wajib. Adapun jenis ketiga, yang mengacu pada apa yang dikenal melalui dugaan dan dugaan, atau disertai dengan keraguan, kami akan mengambil yang menjadi pertimbangan nanti, karena dugaan atau keraguan kadang-kadang penting untuk pengetahuan sebagai sarana, tetapi bukan sebagai tujuan.

Dalam dunia Islam, gnosis (ma’rifah) dibedakan dari pengetahuan dalam arti perolehan informasi melalui proses logis. Dalam dunia non-Islam yang didominasi oleh tradisi Yunani, hikmah (kebijaksanaan) dianggap lebih tinggi dari pengetahuan. Tapi ilm dalam Islam ‘bukanlah pengetahuan belaka. Hal ini identik dengan gnosis (ma’rifah). Pengetahuan dianggap berasal dari dua sumber: ‘aql dan’ ilm huduri (dalam arti pengetahuan tanpa perantara dan langsung diperoleh melalui pengalaman mistik).
Hal ini penting untuk dicatat bahwa ada banyak penekanan pada pelaksanaan intelek dalam Al-Qur’an dan tradisi, terutama dalam hal ijtihad.

Latihan intelek (‘aql) adalah sangat penting dalam literatur Islam seluruh, yang memainkan peran penting dalam pengembangan semua jenis pengetahuan, ilmu pengetahuan atau sebaliknya, di dunia Muslim. Pada abad kedua puluh, pemikir Muslim India, Iqbal di Rekonstruksi nya Agama Pemikiran dalam Islam, menunjukkan bahwa ijtihad adalah prinsip dinamis dalam tubuh Islam. Dia menyatakan bahwa banyak sebelum Francis Bacon prinsip induksi ilmiah ditekankan oleh Al-Qur’an, yang menyoroti pentingnya observasi dan eksperimen di tiba pada kesimpulan tertentu. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa fuqaha dan mufassirun Muslim memanfaatkan metode analisis linguistik dalam menafsirkan perintah Alquran dan sunnah Nabi (S). Al-Ghazalis Tahatut al-Falasifah mungkin risalah filosofis pertama yang memanfaatkan metode analisis linguistik untuk mengklarifikasi isu-isu filosofis tertentu.

Ada dibuat perbedaan antara hikmat (hikmah) dan pengetahuan dalam filsafat pra-Islam yang dikembangkan di bawah pengaruh pemikiran Yunani. Dalam Islam tidak ada perbedaan seperti itu. Mereka yang membuat perbedaan itu dipimpin Muslim berpikir ke arah Islami berpikir. Para filsuf seperti al-Kindi, al-Farabi dan Ibnu Sina dianggap hakims (filsuf) dan dalam kapasitas ini unggul ‘ulama’, dan fuqaha kesalahpahaman ini mengakibatkan serangan al-Ghazali pada filsuf. Islam adalah agama yang mengajak pengikutnya untuk latihan kecerdasan mereka dan memanfaatkan pengetahuan mereka untuk mencapai kebenaran hakiki (haqq). Pemikir Muslim mengadopsi jalan yang berbeda untuk mencapai tujuan ini. Mereka yang disebut filsuf mengabdikan diri untuk logika dan metode ilmiah dan sufi derogated mereka, meskipun beberapa dari mereka, seperti Ibnu Sina, al-Farabi dan al-Ghazali mengambil jalan ke jalan mistik dalam pencarian mereka dari kebenaran pada tahap tertentu . ‘Ilm mungkin tidak diterjemahkan sebagai pengetahuan belaka; harus ditekankan bahwa itu adalah juga gnosis atau ma’rifah. Satu mungkin menemukan unsur-unsur pengalaman mistik dalam tulisan-tulisan filsuf Muslim. Dalam tradisi filsafat Barat ada perbedaan antara pengetahuan tentang Ilahi dan pengetahuan yang berkaitan dengan dunia fisik. Tapi dalam Islam tidak ada perbedaan seperti itu. Ma’rifah adalah pengetahuan utama dan muncul dari pengetahuan tentang diri (Man ‘arafa nafsahu fa qad’ arafa Rabbbahu, ‘Satu yang menyadari diri seseorang sendiri menyadari Tuhannya’). Proses ini juga mencakup pengetahuan tentang dunia fenomenal. Oleh karena itu, kebijaksanaan dan pengetahuan, yang dianggap sebagai dua hal yang berbeda di dunia non-Muslim, adalah satu dan sama dalam perspektif Islam.

Dalam diskusi pengetahuan, pertanyaan penting muncul adalah bagaimana seseorang dapat mengatasi keraguannya mengenai doktrin tertentu tentang Tuhan, alam semesta, dan manusia. Hal ini umumnya percaya bahwa dalam Islam, sejauh keyakinan yang bersangkutan, tidak ada tempat untuk meragukan dan mempertanyakan keberadaan Tuhan, kenabian Muhammad dan perintah Ilahi, bahwa Islam mengharuskan pengajuan tegas untuk perintah nya. Kepercayaan umum ini adalah kesalahpahaman dalam terang penekanan Islam pada ‘aql.
‘Ilm disebut dalam banyak ayat-ayat Alquran sebagai’ cahaya ‘(nur), dan Allah juga digambarkan sebagai nur utama. Ini berarti bahwa ‘ilm dalam pengertian umum adalah identik dengan’ cahaya ‘dari Allah. Lampu ini tidak bersinar selamanya untuk semua orang percaya. Jika kadang-kadang tersembunyi oleh awan keraguan yang timbul dari pikiran manusia. Keraguan kadang-kadang ditafsirkan dalam Quran sebagai kegelapan, dan kebodohan juga digambarkan sebagai kegelapan di sejumlah ayat nya. Allah digambarkan sebagai nur, dan pengetahuan juga dilambangkan sebagai nur. Ketidaktahuan adalah kegelapan dan ma’rifah ringan. Dalam ayat al-kursi Allah berfirman: (Allah adalah Terang langit dan bumi …

Allah adalah Master orang percaya dan Dia menuntun mereka keluar dari kegelapan menuju cahaya). Biasanya kegelapan ditafsirkan sebagai ketidakpercayaan dan ringan seperti iman kepada Allah. Ada begitu banyak orang-orang yang berjuang melawan kegelapan bisa mencapai ayat dalam Al-Quran serta tradisi para nabi yang menekankan cahaya itu.
Dalam ilm Islam ‘tidak terbatas pada perolehan pengetahuan saja, tetapi juga mencakup aspek sosial-politik dan moral. Pengetahuan tidak sekedar informasi; membutuhkan orang-orang percaya untuk bertindak atas keyakinan mereka dan berkomitmen untuk tujuan, yang bertujuan Islam di Mencapai.

Islam tidak pernah menyatakan bahwa hanya teologi berguna dan ilmu-ilmu empiris tidak berguna atau berbahaya. Konsep ini dibuat bersama oleh ulama semi-melek huruf, atau oleh timeservers di antara mereka yang ingin menjaga Muslim umum di kegelapan kebodohan dan iman buta sehingga mereka tidak akan mampu menentang penguasa yang tidak adil dan menolak ulama melekat pada pengadilan tiran . Sikap ini mengakibatkan kecaman tidak hanya ilmu pengetahuan empiris tetapi juga ‘ilm al-kalam dan metafisika, yang mengakibatkan penurunan Muslim dalam politik dan ekonomi. Bahkan saat ini segmen besar masyarakat Muslim, baik orang biasa dan banyak ulama menderita penyakit ini. Sikap yang tidak sehat dan anti-pengetahuan ini melahirkan beberapa gerakan, yang dianggap buku SD teologi sebagai cukup untuk seorang Muslim, dan berkecil asimilasi atau penyebaran pengetahuan empiris sebagai mengarah ke melemahnya iman.

Setelah penurunan penyelidikan filosofis dan ilmiah di timur Muslim, filsafat dan ilmu berkembang di Muslim barat karena usaha dari para pemikir asal Arab seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Tufail, Ibnu Bajja, dan Ibn Khaldun, bapak sosiologi dan filsafat sejarah. Filsafat Ibn Khaldun dari sejarah dan masyarakat adalah berbunga karya awal oleh para pemikir Muslim di bidang etika dan ilmu politik seperti yang dari Miskawaih, al-Dawwani, dan Nasir al-Din al-Tusi. Kredit untuk memberikan perhatian serius untuk filsafat sosial-politik pergi ke al-Farabi, yang menulis buku tentang masalah ini di bawah judul Madinat al-Fadilah, Ara ‘ahl al-Madinat al-Fadilah, al-Millah al-Fadilah, Fusul al-Madang, Sirah Fadilah, K. al-Siyasah al-Madaniyyah, dll

Muslim tidak pernah mengabaikan masalah-masalah ekonomi dan sosial-politik lainnya yang berkaitan dengan fisik serta realitas sosial. Mereka memberikan kontribusi kaya untuk peradaban manusia dan dianggap oleh penyelidikan berani dan bebas mereka di berbagai bidang pengetahuan bahkan dengan risiko yang dikutuk sebagai bidat atau lebih tepatnya orang-orang kafir. Percaya sejati dan teguh dalam keyakinan Islam, seperti al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibnu Bajja, al-Haytham, Ibn ‘Arabi dan Mulla Sadra, dan dalam beberapa kali Sayyid Ahmad Khan, Iqbal dan al-Maududi pun tak luput fatwa kufur oleh partisan imitasi buta yang memusuhi prinsip ijtihad, penelitian dan pemikiran kritis.

Seiring dengan astronom, matematikawan, ilmuwan alam Muslim dan dokter seperti Ibnu Sina, Zakariyya al-Razi, dan lain-lain yang berperan dalam pengembangan pengetahuan dan peradaban manusia, itu akan menjadi tidak adil untuk tidak menyebutkan kontribusi yang signifikan dari Ikhwan al-Safa (Majelis Purity) sekelompok ulama Syi’ah Ismailiyah-dan pemikir yang menulis risalah asli pada berbagai mata pelajaran filosofis dan ilmiah, upaya yang menandakan upaya pertama untuk mengkompilasi sebuah ensiklopedi dalam

Singkatnya, mungkin dibenarkan mengklaim bahwa teori Islam pengetahuan bertanggung jawab untuk mekar dari budaya penyelidikan bebas dan berpikir ilmiah rasional yang juga mencakup lingkup teori dan praktek.

G. Epistemologi di Pikiran Islam

Meskipun ada anggapan bahwa filsafat Islam adalah perluasan dari filsafat Yunani, [18] sejarah menunjukkan bahwa hanya karena rantai yang menghubungkan dunia Islam dengan Yunani melalui asimilasi antara budaya. Karya filsuf Muslim seperti al-Kindi (d 260 H / 873), al-Farabi (d 339 H / 950), Ibnu Sina (d 428 H / 1037), al-Ghazali (d 505 H / 1111), dan Ibn Rusyd (d 595 H / 1198).

Filsafat kenabian, adalah merek dagang dari filsafat Islam yang tidak dapat ditemukan dalam karya-karya Yunani itu. Salah satu buku Ibnu Bajja (d 533 H / 1138 M) dan Ibnu Tufail (d 581 H / 1185 M) “Hayy bin Yaqzhan” asli. Pada sudut pandang ini, al-Qur’an membawa doktrin benar-benar baru untuk mengamati Tuhan dan alam semesta, juga hukum yang belum diperkenalkan oleh filsafat Yunani.

Dalam Al-Qur’an dan hadits, ada banyak ayat yang berkaitan dengan pengetahuan, baik pentingnya atau keterbatasan pengetahuan serta. [19] Pertanyaan apakah filsafat dan wahyu bisa dihubungkan bersama adalah karya besar dari filsuf Muslim seperti al Kindi . Filsuf lain Ibn Rusyd dalam bukunya “Fashl al-Maqal” (Treatise Tegas) menjelaskan bahwa tidak ada kontradiksi antara filsafat (hikmah) dan agama. [20]

Setelah berabad-abad dari menurunnya minat dalam pengetahuan rasional dan ilmiah, filsuf Gramedia Ibn Rusyd dan filsuf Islam lainnya dari bergerak membantu untuk mengembalikan kepercayaan di akal dan pengalaman, pencampuran metode rasional dengan iman ke dalam sistem terpadu keyakinan. Ibn Rusyd diikuti Aristoteles dalam mengenai persepsi sebagai titik awal dan logika sebagai prosedur intelektual untuk sampai pada pengetahuan yang dapat diandalkan alam, tapi ia menganggap iman dalam otoritas kitab suci sebagai sumber utama keyakinan agama.

  1. Ilmu dalam filsafat Islam [21]

           Islam mencoba untuk mensintesis akal dan wahyu, pengetahuan dan nilai-nilai, dalam pendekatan untuk mempelajari alam. Pengetahuan yang diperoleh melalui upaya manusia yang rasional dan melalui Al-Qur’an dipandang sebagai pelengkap: keduanya ‘tanda-tanda Allah’ yang memungkinkan manusia untuk mempelajari dan memahami alam. Antara abad kedua dan kedelapan AH (abad kedelapan dan kelima belas AD), ketika peradaban Islam berada di puncaknya, metafisika, epistemologi dan studi empiris alam menyatu untuk menghasilkan ledakan of’scientific semangat ‘. Para ilmuwan dan ulama seperti Ibn al-Haytham, al-Razi, Ibnu Tufail, Ibnu Sina dan al-Biruni ditumpangkan ide Plato dan Aristoteles akal dan objektivitas iman Islam mereka sendiri, sehingga menghasilkan sebuah sintesis yang unik dari agama dan filsafat. Mereka juga menempatkan penekanan besar pada metodologi ilmiah, memberikan pentingnya pengamatan sistematis, eksperimen dan membangun teori.

Awalnya, penyelidikan ilmiah ini disutradarai oleh praktek sehari-hari Islam. Misalnya, perkembangan astronomi dipengaruhi oleh fakta bahwa waktu salat Muslim didefinisikan astronomis dan arahnya didefinisikan secara geografis. Pada tahap selanjutnya, pencarian kebenaran untuk kepentingan diri sendiri menjadi norma, yang menyebabkan banyak penemuan-penemuan baru dan inovasi. Ilmuwan Muslim tidak mengakui batas-batas disiplin antara ‘dua budaya’ ilmu pengetahuan dan humaniora, dan sarjana individu cenderung sebagai aturan umum menjadi polymaths. Baru-baru ini, para sarjana Muslim telah mulai mengembangkan filsafat Islam kontemporer ilmu dengan menggabungkan konsep-konsep dasar Islam seperti ‘ilm (pengetahuan), khilafah (perwalian alam) dan istisla (kepentingan umum) dalam kerangka kebijakan ilmu pengetahuan yang terintegrasi.

  1. Ilmu dan metafisika

       Inspirasi Muslim untuk studi alam datang langsung dari Al-Qur’an. Al-Qur’an secara khusus dan berulang kali meminta umat Islam untuk menyelidiki fenomena alam secara sistematis, tidak hanya sebagai kendaraan untuk uunderstanding alam tetapi juga sebagai sarana untuk semakin dekat dengan Allah. Dalam Surah 10, misalnya, kita membaca:
“Dia itu yang telah membuat matahari cahaya bersinar dan bulan cahaya [tercermin], dan telah ditentukan untuk itu fase sehingga Anda mungkin tahu bagaimana menghitung tahun dan untuk mengukur [waktu] … di alternatif malam dan siang , dan dalam semua bahwa Allah telah menciptakan di langit dan di bumi, ada pesan memang untuk orang-orang yang bertakwa “(QS 10: 5-6).

Al-Qur’an juga mencurahkan sekitar sepertiga dari ayat-ayat untuk menggambarkan kebajikan alasan. Penyelidikan ilmiah, berdasarkan alasan, dengan demikian terlihat dalam Islam sebagai bentuk ibadah. Akal dan wahyu adalah metode komplementer dan terintegrasi untuk mengejar kebenaran.

Filsafat ilmu dalam Islam klasik adalah produk dari fusi metafisika ini dengan filsafat Yunani. Tempat ini lebih jelas daripada dalam teori Ibnu Sina pengetahuan manusia (lihat Ibnu Sina) yang, berikut al-Farabi, transfer skema Qur’an wahyu untuk filsafat Yunani. Dalam Al Qur’an, Sang Pencipta alamat satu orang – Nabi – melalui agen malaikat Gabriel; di Ibnu Sina skema Neo-Platonisme, kata ilahi ditularkan melalui akal dan pemahaman untuk apapun, dan setiap, orang yang peduli untuk mendengarkan. Hasilnya adalah campuran dari rasionalisme dan etika. Untuk sarjana dan ilmuwan Muslim, nilai-nilai yang obyektif dan baik dan jahat adalah karakteristik deskriptif dari realitas yang tidak kalah ‘ada’ dalam hal-hal daripada kualitas mereka yang lain, seperti bentuk dan ukuran. Dalam kerangka ini, semua pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang Allah, dapat diperoleh dengan alasan saja. Kemanusiaan memiliki kekuatan untuk mengetahui serta bertindak dan dengan demikian bertanggung jawab untuk hanya dan tidak adil tindakan. Apa filosofi ini mensyaratkan baik dari segi studi alam dan membentuk perilaku manusia digambarkan oleh Ibnu Tufail dalam novel intelektualnya, Hayy ibn Yaqzan. Hayy adalah manusia yang terjadi secara spontan yang terisolasi di sebuah pulau. Melalui kekuasaannya dari pengamatan dan penggunaan kecerdasan, Hayy menemukan fakta umum dan khusus tentang struktur material dan spiritual alam semesta, menyimpulkan keberadaan Tuhan dan tiba di sistem teologis dan politik (lihat Epistemologi dalam filsafat Islam; Etika dalam filsafat Islam).

Sementara Mu’tazilah ulama memiliki perbedaan filosofis serius dengan lawan utama mereka, para teolog Asy’ariyah, kedua sekolah menyetujui studi rasional alam. Dalam bukunya al-Tamhid, Abu Bakr al-Baqillani mendefinisikan ilmu sebagai ‘pengetahuan dari objek, karena benar-benar’. Sementara bereaksi terhadap pelanggaran Mu’tazilah pada domain iman, kaum Asy’ariyah mengakui perlunya studi obyektif dan sistematis alam. Memang, beberapa ilmuwan terbesar dalam Islam, seperti Ibn al-Haytham (d. 1039), yang menemukan hukum dasar optik, dan al-Biruni (d. 1048), yang diukur lingkar bumi dan membahas rotasi bumi pada porosnya, adalah pendukung teologi Asy’ariyah (lihat Ash’ariyya dan Mu’tazilah).

 Perhatian keseluruhan ilmuwan Muslim adalah penggambaran kebenaran. Ibn al-Haytham menyatakan, ‘kebenaran dicari untuk kepentingan diri sendiri’, dan al-Biruni dikonfirmasi dalam pengantar nya al-Qanun al-Mas’udi: ‘. Saya tidak menghindari kebenaran dari sumber apa pun datang’ Namun, ada perselisihan tentang cara terbaik untuk kebenaran rasional. Untuk Ibnu Sina, pertanyaan umum dan universal datang pertama dan menyebabkan pekerjaan eksperimental. Dia mulai nya al-Qanun fi’l-tibb (Kanon Kedokteran), yang merupakan teks standar di Barat sampai abad kedelapan belas, dengan diskusi umum tentang teori obat. Untuk al-Biruni, bagaimanapun, universal keluar dari praktis, karya eksperimental; teori yang dirumuskan setelah penemuan. Namun demikian baik, kritik adalah kunci untuk kemajuan menuju kebenaran. Ibn al-Haytham menulis, ‘adalah wajar untuk semua orang menganggap ilmuwan menguntungkan …. Namun, Allah tidak diawetkan ilmuwan dari kesalahan dan tidak dijaga ilmu dari kekurangan dan kesalahan ‘(lihat Sabra 1972). Inilah sebabnya mengapa para ilmuwan begitu sering tidak setuju di antara mereka sendiri. Mereka yang peduli dengan ilmu pengetahuan dan kebenaran, Ibn al-Haytham melanjutkan, ‘harus mengubah diri menjadi kritikus bermusuhan’ dan harus mengkritik ‘dari setiap sudut pandang dan dalam semua aspek’. Secara khusus, kekurangan dalam karya pendahulu seseorang harus kejam terkena akan. Ide-ide Ibn al-Haytham, al-Biruni dan Ibnu Sina, bersama dengan banyak ilmuwan Muslim lainnya, meletakkan dasar-dasar dari ‘semangat ilmiah’ seperti yang kita telah datang untuk tahu itu.

  1. Metodologi

‘Metode ilmiah’ (lihat metode ilmiah), seperti yang dipahami saat ini, pertama kali dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim. Pendukung kedua Mu’tazilism dan Ash’arism menempatkan banyak penekanan pada pengamatan sistematis dan eksperimen. Desakan pada pengamatan akurat berlimpah ditunjukkan dalam zij, literatur buku pegangan astronomi dan meja. Tersebut terus diperbarui, dengan para ilmuwan memeriksa dan mengoreksi karya ulama sebelumnya. Dalam pengobatan, pengamatan klinis rinci dan sangat akurat Abu Bakar Muhammad al-Razi pada awal abad ketiga AH (abad kesembilan AD) memberikan kami dengan model universal. Al-Razi adalah orang pertama yang mengamati secara akurat gejala cacar dan dijelaskan banyak sindrom ‘baru’. Namun, itu tidak hanya pengamatan akurat yang penting; sama-sama signifikan adalah kejelasan dan presisi dimana pengamatan dijelaskan, seperti yang ditunjukkan oleh Ibnu Sina dalam tulisan-tulisannya.

Penekanan pada konstruksi model dan bangunan teori dapat dilihat dalam kategori sastra astronomi Islam dikenal sebagai ‘ilm al-haya, atau’ ilmu struktur (alam semesta) ‘, yang terdiri dari eksposisi umum prinsip-prinsip yang mendasari teori astronomi. Itu pada kekuatan dari kedua akurat observasi dan model pembangunan yang astronomi Islam melancarkan serangan ketat pada apa yang dianggap satu set ketidaksempurnaan di Ptolemaic astronomi (lihat Ptolemy). Ibn al-Haytham adalah orang pertama yang menyatakan dengan tegas bahwa pengaturan yang diusulkan untuk gerakan planet di Almagest yang ‘palsu’. Ibnu Shatir (d. 1375) dan astronom di observatorium terkenal di Maragha, Adharbayjan, dibangun pada abad ketiga belas oleh Nasir al-Din al-Tusi, mengembangkan beberapa Tusi dan teorema untuk transformasi model eksentrik menjadi yang epicyclic. Itu model matematis ini bahwa Copernicus digunakan untuk mengembangkan gagasan tentang heliosentris, yang memainkan peran penting dalam Eropa ‘revolusi ilmiah’.

Terlepas dari ilmu-ilmu eksakta, daerah yang paling tepat dan menarik di mana pekerjaan teoritis memainkan peran penting adalah obat. Dokter Muslim berusaha untuk meningkatkan kualitas materia medica dan penggunaan terapi mereka melalui pengembangan teori terus. Penekanan juga ditempatkan pada pengembangan terminologi yang tepat dan memastikan kemurnian obat, perhatian yang menyebabkan sejumlah bahan kimia awal dan prosedur fisik. Sejak penulis Muslim penyelenggara baik pengetahuan, teks murni farmakologi mereka sendiri sumber untuk pengembangan teori. Evolusi teori dan penemuan obat baru terkait pertumbuhan kedokteran Islam untuk kimia, botani, zoologi, geologi dan hukum, dan menyebabkan elaborasi luas klasifikasi Yunani. Pengetahuan farmakologi sehingga menjadi lebih beragam, dan menghasilkan jenis baru sastra farmakologis. Sebagai sastra ini dianggap subjek dari sejumlah perspektif disiplin ilmu yang berbeda dan berbagai macam arah baru, ada mengembangkan cara baru dalam memandang farmakologi; daerah baru dibuka untuk eksplorasi lebih lanjut dan penyelidikan lebih rinci. Pembuatan kertas membuat publikasi yang lebih luas dan lebih murah daripada menggunakan perkamen dan papirus, dan ini pada gilirannya membuat pengetahuan ilmiah jauh lebih mudah diakses oleh siswa.

Sementara para ilmuwan Muslim ditempatkan iman yang cukup besar dalam metode ilmiah, mereka juga menyadari keterbatasan. Bahkan sangat percaya pada realisme matematika seperti al-Biruni berpendapat bahwa metode penyelidikan adalah fungsi dari sifat investigasi: metode yang berbeda, semua sama-sama valid, diminta untuk menjawab berbagai jenis pertanyaan. Al-Biruni sendiri memiliki jalan lain untuk sejumlah metode. Dalam risalahnya tentang mineralogi, Kitab al-Jamahir (Kitab Batu Mulia), dia adalah yang paling tepat dari ilmuwan eksperimental. Namun, dalam pengantar studi tanah-melanggar nya India ia menyatakan bahwa ‘untuk melaksanakan proyek kami, belum memungkinkan untuk mengikuti metode geometrik’; Oleh karena itu ia resort untuk sosiologi komparatif.

Karya seorang sarjana dari kaliber dan perkembang-biakan al-Biruni pasti menentang klasifikasi sederhana. Menurut dia, pada mineralogi, geografi, kedokteran, astrologi dan berbagai macam topik yang berurusan dengan kencan festival Islam. Al-Biruni adalah produk tertentu dari filsafat ilmu yang mengintegrasikan metafisika dengan fisika, tidak atribut baik posisi superior atau inferior, dan menegaskan bahwa keduanya layak studi dan sama-sama valid. Selain itu, metode belajar penciptaan besar Allah – dari pergerakan bintang-bintang dan planet-planet dengan sifat penyakit, sengatan semut, karakter kegilaan, keindahan keadilan, kerinduan spiritual manusia, ekstasi dari mistik – semua sama-sama valid dan bentuk pemahaman di daerah masing-masing penyelidikan. Dalam kedua filosofi dan metodologi, Islam telah berupaya sintesis lengkap ilmu pengetahuan dan agama.

Polymaths seperti al-Biruni, al-Jahiz, al-Kindi, Abu Bakar Muhammad al-Razi, Ibnu Sina, al-Idrisi, Ibnu Bajja, Omar Khayyam, Ibnu Zuhr, Ibn Tufayl, Ibn Rusyd, al-Suyuti dan ribuan ulama lainnya tidak terkecuali tetapi aturan umum dalam peradaban Muslim. Peradaban Islam dari periode klasik adalah luar biasa untuk jumlah polymaths itu diproduksi. I

  1. Islamic Concept of Knowledge[17]

Berbagai isu epistemologis telah dibahas dalam filsafat Islam dengan orientasi berbeda dari epistemologi Barat. Upaya saat ini sedang dilakukan untuk memahami isu-isu dasar epistemologis dalam hal orientasi itu.

Dengan pandangan ini, dilakukan usaha dalam makalah ini untuk menggambarkan nuansa yang berbeda dan konotasi dari ilm istilah ‘, yaitu, pengetahuan, dalam konteks Islam. Diharapkan upaya singkat ini akan berfungsi sebagai langkah untuk dasar masa depan untuk pembangunan kerangka kerja untuk teori Islam pengetahuan.

Dalam teori Islam pengetahuan, istilah yang digunakan untuk pengetahuan dalam bahasa Arab adalah ‘ilm, yang, seperti Rosenthal telah dibenarkan menunjukkan, memiliki konotasi yang lebih luas daripada sinonim dalam bahasa Inggris dan bahasa Barat lainnya. Pengetahuan di dunia Barat berarti informasi tentang sesuatu, ilahi atau ragawi, sedangkan ‘ilm adalah istilah yang mencakup semua meliputi teori, aksi dan pendidikan. Rosenthal, menyoroti pentingnya istilah ini dalam peradaban Islam dan Islam, mengatakan bahwa hal itu memberi mereka bentuk yang khas.

Dapat dikatakan bahwa Islam adalah jalan “pengetahuan.” Tidak ada agama atau ideologi lain telah begitu banyak menekankan pentingnya ‘ilm. Dalam Al Qur’an kata ‘alim telah terjadi di 140 tempat, sementara al-‘ilm di 27. Dalam semua, jumlah total ayat di mana’ ilm atau turunannya dan kata-kata terkait yang digunakan adalah 704. Hal ini penting untuk dicatat bahwa pena dan buku sangat penting untuk akuisisi pengetahuan. Wahyu Islam dimulai dengan kata iqra ‘(‘ baca! ‘Atau’ membaca! ‘).

Menurut Al-Qur’an, kelas pengajaran pertama untuk Adam dimulai segera setelah penciptaan dan Adam diajarkan ‘semua Nama’.

Allah adalah guru pertama dan panduan mutlak kemanusiaan. Pengetahuan ini tidak disampaikan untuk bahkan para malaikat. Dalam Ushul al-Kafi ada tradisi yang diriwayatkan oleh Imam Musa al-Kazim (‘a) bahwa’ ilm adalah tiga jenis: ayatun muhkamah (tanda-tanda yang tak terbantahkan dari Allah), faridatun ‘Adilah (hanya kewajiban) dan sunnah al-qa’ imah (didirikan tradisi Nabi [s]). Ini berarti bahwa ‘ilm, pencapaian yang wajib bagi semua umat Islam meliputi ilmu-ilmu teologi, filsafat, hukum, etika, politik dan kebijaksanaan disampaikan kepada umat oleh Nabi

‘Ilm adalah tiga jenis: informasi (sebagai lawan ketidaktahuan), hukum alam, dan pengetahuan dengan dugaan. Jenis pertama dan kedua pengetahuan dianggap berguna dan akuisisi mereka dibuat wajib. Adapun jenis ketiga, yang mengacu pada apa yang dikenal melalui dugaan dan dugaan, atau disertai dengan keraguan, kami akan mengambil yang menjadi pertimbangan nanti, karena dugaan atau keraguan kadang-kadang penting untuk pengetahuan sebagai sarana, tetapi bukan sebagai tujuan.

Dalam dunia Islam, gnosis (ma’rifah) dibedakan dari pengetahuan dalam arti perolehan informasi melalui proses logis. Dalam dunia non-Islam yang didominasi oleh tradisi Yunani, hikmah (kebijaksanaan) dianggap lebih tinggi dari pengetahuan. Tapi ilm dalam Islam ‘bukanlah pengetahuan belaka. Hal ini identik dengan gnosis (ma’rifah). Pengetahuan dianggap berasal dari dua sumber: ‘aql dan’ ilm huduri (dalam arti pengetahuan tanpa perantara dan langsung diperoleh melalui pengalaman mistik).

Hal ini penting untuk dicatat bahwa ada banyak penekanan pada pelaksanaan intelek dalam Al-Qur’an dan tradisi, terutama dalam hal ijtihad.

Latihan intelek (‘aql) adalah sangat penting dalam literatur Islam seluruh, yang memainkan peran penting dalam pengembangan semua jenis pengetahuan, ilmu pengetahuan atau sebaliknya, di dunia Muslim. Pada abad kedua puluh, pemikir Muslim India, Iqbal di Rekonstruksi nya Agama Pemikiran dalam Islam, menunjukkan bahwa ijtihad adalah prinsip dinamis dalam tubuh Islam. Dia menyatakan bahwa banyak sebelum Francis Bacon prinsip induksi ilmiah ditekankan oleh Al-Qur’an, yang menyoroti pentingnya observasi dan eksperimen di tiba pada kesimpulan tertentu. Hal ini juga dapat menunjukkan bahwa fuqaha dan mufassirun Muslim memanfaatkan metode analisis linguistik dalam menafsirkan perintah Alquran dan sunnah Nabi (S). Al-Ghazalis Tahatut al-Falasifah mungkin risalah filosofis pertama yang memanfaatkan metode analisis linguistik untuk mengklarifikasi isu-isu filosofis tertentu.

Ada dibuat perbedaan antara hikmat (hikmah) dan pengetahuan dalam filsafat pra-Islam yang dikembangkan di bawah pengaruh pemikiran Yunani. Dalam Islam tidak ada perbedaan seperti itu. Mereka yang membuat perbedaan itu dipimpin Muslim berpikir ke arah Islami berpikir. Para filsuf seperti al-Kindi, al-Farabi dan Ibnu Sina dianggap hakims (filsuf) dan dalam kapasitas ini unggul ‘ulama’, dan fuqaha kesalahpahaman ini mengakibatkan serangan al-Ghazali pada filsuf. Islam adalah agama yang mengajak pengikutnya untuk latihan kecerdasan mereka dan memanfaatkan pengetahuan mereka untuk mencapai kebenaran hakiki (haqq). Pemikir Muslim mengadopsi jalan yang berbeda untuk mencapai tujuan ini. Mereka yang disebut filsuf mengabdikan diri untuk logika dan metode ilmiah dan sufi derogated mereka, meskipun beberapa dari mereka, seperti Ibnu Sina, al-Farabi dan al-Ghazali mengambil jalan ke jalan mistik dalam pencarian mereka dari kebenaran pada tahap tertentu . ‘Ilm mungkin tidak diterjemahkan sebagai pengetahuan belaka; harus ditekankan bahwa itu adalah juga gnosis atau ma’rifah. Satu mungkin menemukan unsur-unsur pengalaman mistik dalam tulisan-tulisan filsuf Muslim. Dalam tradisi filsafat Barat ada perbedaan antara pengetahuan tentang Ilahi dan pengetahuan yang berkaitan dengan dunia fisik. Tapi dalam Islam tidak ada perbedaan seperti itu. Ma’rifah adalah pengetahuan utama dan muncul dari pengetahuan tentang diri (Man ‘arafa nafsahu fa qad’ arafa Rabbbahu, ‘Satu yang menyadari diri seseorang sendiri menyadari Tuhannya’). Proses ini juga mencakup pengetahuan tentang dunia fenomenal. Oleh karena itu, kebijaksanaan dan pengetahuan, yang dianggap sebagai dua hal yang berbeda di dunia non-Muslim, adalah satu dan sama dalam perspektif Islam.

Dalam diskusi pengetahuan, pertanyaan penting muncul adalah bagaimana seseorang dapat mengatasi keraguannya mengenai doktrin tertentu tentang Tuhan, alam semesta, dan manusia. Hal ini umumnya percaya bahwa dalam Islam, sejauh keyakinan yang bersangkutan, tidak ada tempat untuk meragukan dan mempertanyakan keberadaan Tuhan, kenabian Muhammad dan perintah Ilahi, bahwa Islam mengharuskan pengajuan tegas untuk perintah nya. Kepercayaan umum ini adalah kesalahpahaman dalam terang penekanan Islam pada ‘aql.

‘Ilm disebut dalam banyak ayat-ayat Alquran sebagai’ cahaya ‘(nur), dan Allah juga digambarkan sebagai nur utama. Ini berarti bahwa ‘ilm dalam pengertian umum adalah identik dengan’ cahaya ‘dari Allah. Lampu ini tidak bersinar selamanya untuk semua orang percaya. Jika kadang-kadang tersembunyi oleh awan keraguan yang timbul dari pikiran manusia. Keraguan kadang-kadang ditafsirkan dalam Quran sebagai kegelapan, dan kebodohan juga digambarkan sebagai kegelapan di sejumlah ayat nya. Allah digambarkan sebagai nur, dan pengetahuan juga dilambangkan sebagai nur. Ketidaktahuan adalah kegelapan dan ma’rifah ringan. Dalam ayat al-kursi Allah berfirman: (Allah adalah Terang langit dan bumi … Allah adalah Master orang percaya dan Dia menuntun mereka keluar dari kegelapan menuju cahaya). Biasanya kegelapan ditafsirkan sebagai ketidakpercayaan dan ringan seperti iman kepada Allah. Ada begitu banyak orang-orang yang berjuang melawan kegelapan bisa mencapai ayat dalam Al-Quran serta tradisi para nabi yang menekankan cahaya itu.

Dalam ilm Islam ‘tidak terbatas pada perolehan pengetahuan saja, tetapi juga mencakup aspek sosial-politik dan moral. Pengetahuan tidak sekedar informasi; membutuhkan orang-orang percaya untuk bertindak atas keyakinan mereka dan berkomitmen untuk tujuan, yang bertujuan Islam di Mencapai.

Islam tidak pernah menyatakan bahwa hanya teologi berguna dan ilmu-ilmu empiris tidak berguna atau berbahaya. Konsep ini dibuat bersama oleh ulama semi-melek huruf, atau oleh timeservers di antara mereka yang ingin menjaga Muslim umum di kegelapan kebodohan dan iman buta sehingga mereka tidak akan mampu menentang penguasa yang tidak adil dan menolak ulama melekat pada pengadilan tiran . Sikap ini mengakibatkan kecaman tidak hanya ilmu pengetahuan empiris tetapi juga ‘ilm al-kalam dan metafisika, yang mengakibatkan penurunan Muslim dalam politik dan ekonomi. Bahkan saat ini segmen besar masyarakat Muslim, baik orang biasa dan banyak ulama menderita penyakit ini. Sikap yang tidak sehat dan anti-pengetahuan ini melahirkan beberapa gerakan, yang dianggap buku SD teologi sebagai cukup untuk seorang Muslim, dan berkecil asimilasi atau penyebaran pengetahuan empiris sebagai mengarah ke melemahnya iman.

Setelah penurunan penyelidikan filosofis dan ilmiah di timur Muslim, filsafat dan ilmu berkembang di Muslim barat karena usaha dari para pemikir asal Arab seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Tufail, Ibnu Bajja, dan Ibn Khaldun, bapak sosiologi dan filsafat sejarah. Filsafat Ibn Khaldun dari sejarah dan masyarakat adalah berbunga karya awal oleh para pemikir Muslim di bidang etika dan ilmu politik seperti yang dari Miskawaih, al-Dawwani, dan Nasir al-Din al-Tusi. Kredit untuk memberikan perhatian serius untuk filsafat sosial-politik pergi ke al-Farabi, yang menulis buku tentang masalah ini di bawah judul Madinat al-Fadilah, Ara ‘ahl al-Madinat al-Fadilah, al-Millah al-Fadilah, Fusul al-Madang, Sirah Fadilah, K. al-Siyasah al-Madaniyyah, dll

Muslim tidak pernah mengabaikan masalah-masalah ekonomi dan sosial-politik lainnya yang berkaitan dengan fisik serta realitas sosial. Mereka memberikan kontribusi kaya untuk peradaban manusia dan dianggap oleh penyelidikan berani dan bebas mereka di berbagai bidang pengetahuan bahkan dengan risiko yang dikutuk sebagai bidat atau lebih tepatnya orang-orang kafir. Percaya sejati dan teguh dalam keyakinan Islam, seperti al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibnu Bajja, al-Haytham, Ibn ‘Arabi dan Mulla Sadra, dan dalam beberapa kali Sayyid Ahmad Khan, Iqbal dan al-Maududi pun tak luput fatwa kufur oleh partisan imitasi buta yang memusuhi prinsip ijtihad, penelitian dan pemikiran kritis.

Seiring dengan astronom, matematikawan, ilmuwan alam Muslim dan dokter seperti Ibnu Sina, Zakariyya al-Razi, dan lain-lain yang berperan dalam pengembangan pengetahuan dan peradaban manusia, itu akan menjadi tidak adil untuk tidak menyebutkan kontribusi yang signifikan dari Ikhwan al-Safa (Majelis Purity) sekelompok ulama Syi’ah Ismailiyah-dan pemikir yang menulis risalah asli pada berbagai mata pelajaran filosofis dan ilmiah, upaya yang menandakan upaya pertama untuk mengkompilasi sebuah ensiklopedi dalam

Singkatnya, mungkin dibenarkan mengklaim bahwa teori Islam pengetahuan bertanggung jawab untuk mekar dari budaya penyelidikan bebas dan berpikir ilmiah rasional yang juga mencakup lingkup teori dan praktek.

  1. Epistemology in Islamic Thoughts

Meskipun ada anggapan bahwa filsafat Islam adalah perluasan dari filsafat Yunani, [18] sejarah menunjukkan bahwa hanya karena rantai yang menghubungkan dunia Islam dengan Yunani melalui asimilasi antara budaya. Karya filsuf Muslim seperti al-Kindi (d 260 H / 873), al-Farabi (d 339 H / 950), Ibnu Sina (d 428 H / 1037), al-Ghazali (d 505 H / 1111), dan Ibn Rusyd (d 595 H / 1198).

Filsafat kenabian, adalah merek dagang dari filsafat Islam yang tidak dapat ditemukan dalam karya-karya Yunani itu. Salah satu buku Ibnu Bajja (d 533 H / 1138 M) dan Ibnu Tufail (d 581 H / 1185 M) “Hayy bin Yaqzhan” asli. Pada sudut pandang ini, al-Qur’an membawa doktrin benar-benar baru untuk mengamati Tuhan dan alam semesta, juga hukum yang belum diperkenalkan oleh filsafat Yunani.

Dalam Al-Qur’an dan hadits, ada banyak ayat yang berkaitan dengan pengetahuan, baik pentingnya atau keterbatasan pengetahuan serta. [19] Pertanyaan apakah filsafat dan wahyu bisa dihubungkan bersama adalah karya besar dari filsuf Muslim seperti al Kindi . Filsuf lain Ibn Rusyd dalam bukunya “Fashl al-Maqal” (Treatise Tegas) menjelaskan bahwa tidak ada kontradiksi antara filsafat (hikmah) dan agama. [20]

Setelah berabad-abad dari menurunnya minat dalam pengetahuan rasional dan ilmiah, filsuf Gramedia Ibn Rusyd dan filsuf Islam lainnya dari bergerak membantu untuk mengembalikan kepercayaan di akal dan pengalaman, pencampuran metode rasional dengan iman ke dalam sistem terpadu keyakinan. Ibn Rusyd diikuti Aristoteles dalam mengenai persepsi sebagai titik awal dan logika sebagai prosedur intelektual untuk sampai pada pengetahuan yang dapat diandalkan alam, tapi ia menganggap iman dalam otoritas kitab suci sebagai sumber utama keyakinan agama.

Ilmu dalam filsafat Islam [21]
Islam mencoba untuk mensintesis akal dan wahyu, pengetahuan dan nilai-nilai, dalam pendekatan untuk mempelajari alam. Pengetahuan yang diperoleh melalui upaya manusia yang rasional dan melalui Al-Qur’an dipandang sebagai pelengkap: keduanya ‘tanda-tanda Allah’ yang memungkinkan manusia untuk mempelajari dan memahami alam. Antara abad kedua dan kedelapan AH (abad kedelapan dan kelima belas AD), ketika peradaban Islam berada di puncaknya, metafisika, epistemologi dan studi empiris alam menyatu untuk menghasilkan ledakan of’scientific semangat ‘. Para ilmuwan dan ulama seperti Ibn al-Haytham, al-Razi, Ibnu Tufail, Ibnu Sina dan al-Biruni ditumpangkan ide Plato dan Aristoteles akal dan objektivitas iman Islam mereka sendiri, sehingga menghasilkan sebuah sintesis yang unik dari agama dan filsafat. Mereka juga menempatkan penekanan besar pada metodologi ilmiah, memberikan pentingnya pengamatan sistematis, eksperimen dan membangun teori.

Awalnya, penyelidikan ilmiah ini disutradarai oleh praktek sehari-hari Islam. Misalnya, perkembangan astronomi dipengaruhi oleh fakta bahwa waktu salat Muslim didefinisikan astronomis dan arahnya didefinisikan secara geografis. Pada tahap selanjutnya, pencarian kebenaran untuk kepentingan diri sendiri menjadi norma, yang menyebabkan banyak penemuan-penemuan baru dan inovasi. Ilmuwan Muslim tidak mengakui batas-batas disiplin antara ‘dua budaya’ ilmu pengetahuan dan humaniora, dan sarjana individu cenderung sebagai aturan umum menjadi polymaths. Baru-baru ini, para sarjana Muslim telah mulai mengembangkan filsafat Islam kontemporer ilmu dengan menggabungkan konsep-konsep dasar Islam seperti ‘ilm (pengetahuan), khilafah (perwalian alam) dan istisla (kepentingan umum) dalam kerangka kebijakan ilmu pengetahuan yang terintegrasi.

Ilmu dan metafisika
Inspirasi Muslim untuk studi alam datang langsung dari Al-Qur’an. Al-Qur’an secara khusus dan berulang kali meminta umat Islam untuk menyelidiki fenomena alam secara sistematis, tidak hanya sebagai kendaraan untuk uunderstanding alam tetapi juga sebagai sarana untuk semakin dekat dengan Allah. Dalam Surah 10, misalnya, kita membaca:

“Dia itu yang telah membuat matahari cahaya bersinar dan bulan cahaya [tercermin], dan telah ditentukan untuk itu fase sehingga Anda mungkin tahu bagaimana menghitung tahun dan untuk mengukur [waktu] … di alternatif malam dan siang , dan dalam semua bahwa Allah telah menciptakan di langit dan di bumi, ada pesan memang untuk orang-orang yang bertakwa “(QS 10: 5-6).

Al-Qur’an juga mencurahkan sekitar sepertiga dari ayat-ayat untuk menggambarkan kebajikan alasan. Penyelidikan ilmiah, berdasarkan alasan, dengan demikian terlihat dalam Islam sebagai bentuk ibadah. Akal dan wahyu adalah metode komplementer dan terintegrasi untuk mengejar kebenaran.

Filsafat ilmu dalam Islam klasik adalah produk dari fusi metafisika ini dengan filsafat Yunani. Tempat ini lebih jelas daripada dalam teori Ibnu Sina pengetahuan manusia (lihat Ibnu Sina) yang, berikut al-Farabi, transfer skema Qur’an wahyu untuk filsafat Yunani. Dalam Al Qur’an, Sang Pencipta alamat satu orang – Nabi – melalui agen malaikat Gabriel; di Ibnu Sina skema Neo-Platonisme, kata ilahi ditularkan melalui akal dan pemahaman untuk apapun, dan setiap, orang yang peduli untuk mendengarkan. Hasilnya adalah campuran dari rasionalisme dan etika. Untuk sarjana dan ilmuwan Muslim, nilai-nilai yang obyektif dan baik dan jahat adalah karakteristik deskriptif dari realitas yang tidak kalah ‘ada’ dalam hal-hal daripada kualitas mereka yang lain, seperti bentuk dan ukuran. Dalam kerangka ini, semua pengetahuan, termasuk pengetahuan tentang Allah, dapat diperoleh dengan alasan saja. Kemanusiaan memiliki kekuatan untuk mengetahui serta bertindak dan dengan demikian bertanggung jawab untuk hanya dan tidak adil tindakan. Apa filosofi ini mensyaratkan baik dari segi studi alam dan membentuk perilaku manusia digambarkan oleh Ibnu Tufail dalam novel intelektualnya, Hayy ibn Yaqzan. Hayy adalah manusia yang terjadi secara spontan yang terisolasi di sebuah pulau. Melalui kekuasaannya dari pengamatan dan penggunaan kecerdasan, Hayy menemukan fakta umum dan khusus tentang struktur material dan spiritual alam semesta, menyimpulkan keberadaan Tuhan dan tiba di sistem teologis dan politik (lihat Epistemologi dalam filsafat Islam; Etika dalam filsafat Islam).

Sementara Mu’tazilah ulama memiliki perbedaan filosofis serius dengan lawan utama mereka, para teolog Asy’ariyah, kedua sekolah menyetujui studi rasional alam. Dalam bukunya al-Tamhid, Abu Bakr al-Baqillani mendefinisikan ilmu sebagai ‘pengetahuan dari objek, karena benar-benar’. Sementara bereaksi terhadap pelanggaran Mu’tazilah pada domain iman, kaum Asy’ariyah mengakui perlunya studi obyektif dan sistematis alam. Memang, beberapa ilmuwan terbesar dalam Islam, seperti Ibn al-Haytham (d. 1039), yang menemukan hukum dasar optik, dan al-Biruni (d. 1048), yang diukur lingkar bumi dan membahas rotasi bumi pada porosnya, adalah pendukung teologi Asy’ariyah (lihat Ash’ariyya dan Mu’tazilah).

Perhatian keseluruhan ilmuwan Muslim adalah penggambaran kebenaran. Ibn al-Haytham menyatakan, ‘kebenaran dicari untuk kepentingan diri sendiri’, dan al-Biruni dikonfirmasi dalam pengantar nya al-Qanun al-Mas’udi: ‘. Saya tidak menghindari kebenaran dari sumber apa pun datang’ Namun, ada perselisihan tentang cara terbaik untuk kebenaran rasional. Untuk Ibnu Sina, pertanyaan umum dan universal datang pertama dan menyebabkan pekerjaan eksperimental. Dia mulai nya al-Qanun fi’l-tibb (Kanon Kedokteran), yang merupakan teks standar di Barat sampai abad kedelapan belas, dengan diskusi umum tentang teori obat. Untuk al-Biruni, bagaimanapun, universal keluar dari praktis, karya eksperimental; teori yang dirumuskan setelah penemuan. Namun demikian baik, kritik adalah kunci untuk kemajuan menuju kebenaran. Ibn al-Haytham menulis, ‘adalah wajar untuk semua orang menganggap ilmuwan menguntungkan …. Namun, Allah tidak diawetkan ilmuwan dari kesalahan dan tidak dijaga ilmu dari kekurangan dan kesalahan ‘(lihat Sabra 1972). Inilah sebabnya mengapa para ilmuwan begitu sering tidak setuju di antara mereka sendiri. Mereka yang peduli dengan ilmu pengetahuan dan kebenaran, Ibn al-Haytham melanjutkan, ‘harus mengubah diri menjadi kritikus bermusuhan’ dan harus mengkritik ‘dari setiap sudut pandang dan dalam semua aspek’. Secara khusus, kekurangan dalam karya pendahulu seseorang harus kejam terkena akan. Ide-ide Ibn al-Haytham, al-Biruni dan Ibnu Sina, bersama dengan banyak ilmuwan Muslim lainnya, meletakkan dasar-dasar dari ‘semangat ilmiah’ seperti yang kita telah datang untuk tahu itu.

Metodologi
‘Metode ilmiah’ (lihat metode ilmiah), seperti yang dipahami saat ini, pertama kali dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim. Pendukung kedua Mu’tazilism dan Ash’arism menempatkan banyak penekanan pada pengamatan sistematis dan eksperimen. Desakan pada pengamatan akurat berlimpah ditunjukkan dalam zij, literatur buku pegangan astronomi dan meja. Tersebut terus diperbarui, dengan para ilmuwan memeriksa dan mengoreksi karya ulama sebelumnya. Dalam pengobatan, pengamatan klinis rinci dan sangat akurat Abu Bakar Muhammad al-Razi pada awal abad ketiga AH (abad kesembilan AD) memberikan kami dengan model universal. Al-Razi adalah orang pertama yang mengamati secara akurat gejala cacar dan dijelaskan banyak sindrom ‘baru’. Namun, itu tidak hanya pengamatan akurat yang penting; sama-sama signifikan adalah kejelasan dan presisi dimana pengamatan dijelaskan, seperti yang ditunjukkan oleh Ibnu Sina dalam tulisan-tulisannya.

Penekanan pada konstruksi model dan bangunan teori dapat dilihat dalam kategori sastra astronomi Islam dikenal sebagai ‘ilm al-haya, atau’ ilmu struktur (alam semesta) ‘, yang terdiri dari eksposisi umum prinsip-prinsip yang mendasari teori astronomi. Itu pada kekuatan dari kedua akurat observasi dan model pembangunan yang astronomi Islam melancarkan serangan ketat pada apa yang dianggap satu set ketidaksempurnaan di Ptolemaic astronomi (lihat Ptolemy). Ibn al-Haytham adalah orang pertama yang menyatakan dengan tegas bahwa pengaturan yang diusulkan untuk gerakan planet di Almagest yang ‘palsu’. Ibnu Shatir (d. 1375) dan astronom di observatorium terkenal di Maragha, Adharbayjan, dibangun pada abad ketiga belas oleh Nasir al-Din al-Tusi, mengembangkan beberapa Tusi dan teorema untuk transformasi model eksentrik menjadi yang epicyclic. Itu model matematis ini bahwa Copernicus digunakan untuk mengembangkan gagasan tentang heliosentris, yang memainkan peran penting dalam Eropa ‘revolusi ilmiah’.

Terlepas dari ilmu-ilmu eksakta, daerah yang paling tepat dan menarik di mana pekerjaan teoritis memainkan peran penting adalah obat. Dokter Muslim berusaha untuk meningkatkan kualitas materia medica dan penggunaan terapi mereka melalui pengembangan teori terus. Penekanan juga ditempatkan pada pengembangan terminologi yang tepat dan memastikan kemurnian obat, perhatian yang menyebabkan sejumlah bahan kimia awal dan prosedur fisik. Sejak penulis Muslim penyelenggara baik pengetahuan, teks murni farmakologi mereka sendiri sumber untuk pengembangan teori. Evolusi teori dan penemuan obat baru terkait pertumbuhan kedokteran Islam untuk kimia, botani, zoologi, geologi dan hukum, dan menyebabkan elaborasi luas klasifikasi Yunani. Pengetahuan farmakologi sehingga menjadi lebih beragam, dan menghasilkan jenis baru sastra farmakologis. Sebagai sastra ini dianggap subjek dari sejumlah perspektif disiplin ilmu yang berbeda dan berbagai macam arah baru, ada mengembangkan cara baru dalam memandang farmakologi; daerah baru dibuka untuk eksplorasi lebih lanjut dan penyelidikan lebih rinci. Pembuatan kertas membuat publikasi yang lebih luas dan lebih murah daripada menggunakan perkamen dan papirus, dan ini pada gilirannya membuat pengetahuan ilmiah jauh lebih mudah diakses oleh siswa.

Sementara para ilmuwan Muslim ditempatkan iman yang cukup besar dalam metode ilmiah, mereka juga menyadari keterbatasan. Bahkan sangat percaya pada realisme matematika seperti al-Biruni berpendapat bahwa metode penyelidikan adalah fungsi dari sifat investigasi: metode yang berbeda, semua sama-sama valid, diminta untuk menjawab berbagai jenis pertanyaan. Al-Biruni sendiri memiliki jalan lain untuk sejumlah metode. Dalam risalahnya tentang mineralogi, Kitab al-Jamahir (Kitab Batu Mulia), dia adalah yang paling tepat dari ilmuwan eksperimental. Namun, dalam pengantar studi tanah-melanggar nya India ia menyatakan bahwa ‘untuk melaksanakan proyek kami, belum memungkinkan untuk mengikuti metode geometrik’; Oleh karena itu ia resort untuk sosiologi komparatif.

Karya seorang sarjana dari kaliber dan perkembang-biakan al-Biruni pasti menentang klasifikasi sederhana. Menurut dia, pada mineralogi, geografi, kedokteran, astrologi dan berbagai macam topik yang berurusan dengan kencan festival Islam. Al-Biruni adalah produk tertentu dari filsafat ilmu yang mengintegrasikan metafisika dengan fisika, tidak atribut baik posisi superior atau inferior, dan menegaskan bahwa keduanya layak studi dan sama-sama valid. Selain itu, metode belajar penciptaan besar Allah – dari pergerakan bintang-bintang dan planet-planet dengan sifat penyakit, sengatan semut, karakter kegilaan, keindahan keadilan, kerinduan spiritual manusia, ekstasi dari mistik – semua sama-sama valid dan bentuk pemahaman di daerah masing-masing penyelidikan. Dalam kedua filosofi dan metodologi, Islam telah berupaya sintesis lengkap ilmu pengetahuan dan agama.

Polymaths seperti al-Biruni, al-Jahiz, al-Kindi, Abu Bakar Muhammad al-Razi, Ibnu Sina, al-Idrisi, Ibnu Bajja, Omar Khayyam, Ibnu Zuhr, Ibn Tufayl, Ibn Rusyd, al-Suyuti dan ribuan ulama lainnya tidak terkecuali tetapi aturan umum dalam peradaban Muslim. Peradaban Islam dari periode klasik adalah luar biasa untuk jumlah polymaths itu diproduksi. Ini terlihat sebagai kesaksian homogenitas filsafat Islam dari ilmu pengetahuan dan penekanan pada sintesis, penyelidikan interdisipliner dan banyaknya metode.

Upaya Revival
Pada akhir abad kedua puluh, ulama, ilmuwan dan filsuf di seluruh dunia Muslim berusaha untuk merumuskan versi kontemporer dari filsafat Islam ilmu. Dua gerakan yang dominan muncul. Yang pertama menarik inspirasi dari mistisisme Sufi (lihat Mistik filsafat dalam Islam) dan berpendapat bahwa pengertian ‘tradisi’ dan ‘suci’ harus merupakan inti dari pendekatan Islam terhadap ilmu pengetahuan. Kedua berpendapat bahwa isu-isu ilmu pengetahuan dan nilai-nilai dalam Islam harus diperlakukan dalam kerangka konsep yang membentuk tujuan dari masyarakat Muslim. Sepuluh konsep-konsep Islam yang mendasar diidentifikasi sebagai yang merupakan kerangka kerja yang penyelidikan ilmiah harus dilakukan, empat berdiri sendiri dan tiga pasang menentang: tauhid (kesatuan), khilafah (perwalian), ‘ibada (ibadah),’ ilm (pengetahuan), halal (terpuji) dan haram (tercela), ‘adl (keadilan) dan Zulm (tirani), dan istisla (kepentingan umum) dan Dhiya (limbah). Dikatakan bahwa, ketika diterjemahkan ke dalam nilai-nilai, sistem ini dari konsep-konsep Islam mencakup sifat penyelidikan ilmiah dalam totalitasnya; mengintegrasikan fakta dan nilai-nilai dan melembagakan sistem mengetahui bahwa didasarkan pada akuntabilitas dan tanggung jawab sosial. Hal ini terlalu dini untuk mengatakan apakah salah satu dari gerakan-gerakan ini akan berbuah nyata.

HOLISTICS-Integralistics Paradigma & Metodologi dalam Pemikiran Mulla Sadras ‘.
Upaya yang sangat canggih untuk mencari andexploring kebenaran dan realitas dibuat oleh Mulla Sadra (1236-1311 AD) .Dia adalah ulama Islam terkemuka yang sintetized dan menggabungkan beberapa pendekatan dan metodologi yang pernah membangun Sejarah Islam andhuman peradaban dalam harmonis & proporsional cara, seperti peripateticism (rationalty & empirisme / masyaiyah dari Palto & Aristolesfrom era Yunani, Al Kindi [801-873 AD], Al Farabi [865-925 AD], Ibnu Sina [980-1037 AD], dan Ibnu Rusyd [1126 -1198 AD]), al-Razy [1149-1209] dan iluminationism (isyraqiyah, oleh Sukhrawardi [1153-1191] dan Teosofi dan Mistisisme (Gnostik / Irfan) dari Ibn Arabi [1165-1240 AD], Nasirudin Al Thusi [1201 -1274] dan Al Qunawi [12090-1240 AD] dan Trancendent Teosofi dari Mulla Sadra (al Hikmah al muta’aliyah).

Mulla Sadras teori prinsip dan paradigma ontologis adalah: Empat Jouorney (al Asfar al Arba’ah), Gerakan Transubtantial (al Harakat al Jauhariyah), as-Shalat al-Wujud, Tasykik al-Wujud. Dalam Epistemolgy, Mulla Sadra, dan tentu saja lain beberapa Ulama, telah mengikuti Epistemologi Islam di Filsafat dan ‘Islamicate’ Ilmu (vis a vis ilmu barat-sekuler modern) seperti yang kita sebutkan sebelumnya.

Mulla Sadra (Sadr al-Din Muhammad al-Syirazi) (1571 / 2-1640) [22]

Sadr al-Din al-Syirazi (Mulla Sadra) mungkin filsuf paling penting dan berpengaruh di dunia Islam dalam empat ratus tahun terakhir. Penulis lebih dari empat puluh karya, ia adalah sosok yang berpuncak dari kebangkitan besar filsafat di Iran pada abad XVI dan XVII. Mengabdikan dirinya hampir secara eksklusif dengan metafisika, ia membangun sebuah filsafat kritis yang membawa bersama-sama Peripatetik, Illuminationist dan filsafat gnostik bersama dengan teologi Syiah dalam kompas dari apa yang disebut sebagai ‘metaphilosophy’, sumber yang terletak pada wahyu Islam dan pengalaman mistik realitas sebagai eksistensi.

Meta filsafat Mulla Sadra didasarkan pada keberadaan sebagai satu-satunya konstituen realitas, dan menolak setiap peran quiddities atau esensi di dunia luar. Keberadaan baginya sekaligus satu kesatuan dan proses dinamis diartikulasikan secara internal, sumber yang unik dari kedua kesatuan dan keberagaman. Dari titik awal yang mendasar ini, Mulla Sadra mampu menemukan solusi asli untuk banyak logis, metafisik dan teologis kesulitan yang ia warisi dari pendahulunya. Karya filosofis utamanya adalah Asfar (The Four Journeys), yang berjalan sembilan volume dalam edisi cetak hadir dan presentasi lengkap ide filosofisnya.

1 Keunggulan keberadaan

Sadr al-Din Muhammad bin Ibrahim bin Yahya al-Qawami al-Syirazi, dikenal berbagai sebagai Mulla Sadra, Sadr al-Muta’allihin, atau hanya Akhund, lahir di Shiraz di Iran tengah di AH 979-80 / AD 1571-2 . Ia belajar di Isfahan dengan, antara lain, Mir Damad dan Syekh Baha ‘al-Din al-‘Amili, Syaikh-e Baha’i, sebelum pensiun untuk beberapa tahun kesendirian spiritual dan disiplin di desa Kahak, dekat Qum . Di sini ia menyelesaikan bagian pertama dari karya besar, yang Asfar (The Four Journeys). Ia kemudian diundang oleh Allah-wirdi Khan, gubernur provinsi Fars, untuk kembali ke Shiraz, di mana ia mengajar selama sisa hidupnya. Dia meninggal di Basra di AH 1050 / AD 1640 saat ziarah ketujuh kaki ke Mekkah.

Safawi Iran menyaksikan kebangkitan yang patut dicatat dari belajar filsafat, dan Mulla Sadrawas angka kebangkitan ini yang paling penting. The Peripatetic (mashsha’i) filsafat Ibnu Sina telah dijabarkan dan menyegarkan pada awal Mongol periode oleh Nasir al-Din al-Tusi, dan ada ada sejumlah kontributor penting untuk sekolah ini di abad sebelum Mulla Sadra. Illuminationist (ishraqi) filsafat, berasal oleh Shihab al-Din al-Suhrawardi, juga pernah menjadi arus utama (lihat filsafat Illuminationist). Mistisisme spekulatif dari tasawuf dari Ibn al-‘Arabi juga telah berakar kuat dalam periode menjelang kesepuluh centuryAH (abad keenam belas Masehi), sementara teologi (kalam), teologi khususnya Syiah, telah semakin datang untuk diekspresikan dalam terminologi filosofis, suatu proses yang dimulai pada sebagian besar oleh al-Tusi (lihat Mistik filsafat dalam Islam; teologi Islam). Beberapa filsuf telah gabungan berbagai untaian dari warisan filosofis ini dalam tulisan-tulisan mereka, tapi itu Mulla Sadra yang mencapai perpaduan sejati keempat, membentuk apa yang disebut ‘metaphilosophy’ (al-Hikmah al-muta’aliya), sebuah istilah ia tergabung dalam judul magnum opus-nya, al-Hikma al-muta’aliya fi’l-Asfar al-‘aqliyya al-arba’a (The Transenden Kebijaksanaan Mengenai Empat Intelektual Journeys), yang dikenal hanya sebagai Asfar.

Mulla Sadra membuat keunggulan eksistensi (asalat al-wujud) landasan filsafatnya. Aristoteles (§§11-12) telah menunjukkan bahwa keberadaan yang paling universal predikat dan karenanya tidak dapat dimasukkan sebagai salah satu kategori, dan al-Farabi ditambahkan ke ini bahwa adalah mungkin untuk mengetahui esensi tanpa mengetahui apakah itu ada atau tidak, keberadaan sehingga menjadi tidak elemen konstitutif esensi atau atribut yang diperlukan, dan bahwa karena itu harus kecelakaan. Tapi itu Ibnu Sina yang kemudian menjadi sumber bagi kontroversi mengenai bagaimana accidentality eksistensi itu harus dipahami. Dia telah menyatakan bahwa dalam keberadaan-hakekat (wujud-mahiyya) atau hubungan eksistensi-esensi, eksistensi kecelakaan dari hakekat. Ibnu Rusyd mengkritik pandangan ini sebagai entailing kemunduran, karena jika theexistence hal yang bergantung pada penambahan kecelakaan itu, maka prinsip yang sama harus berlaku untuk keberadaan itu sendiri. Ini hanyalah argumen terhadap dikotomi keberadaan-hakekat, namun al-Suhrawardi telah ditambahkan ke ini argumen lain, menyatakan bahwa jika keberadaan adalah atribut dari hakekat, hakekat itu sendiri harus ada sebelum menarik atribut ini agar dengan demikian memenuhi syarat. Dari ini, al-Suhrawardi menyimpulkan kesimpulan yang lebih radikal bahwa keberadaan hanyalah sebuah konsep mental yang tanpa realitas yang sesuai, dan bahwa itu adalah hakekat yang Constitutesreality.

Itu pandangan ini, bahwa dari keunggulan hakekat (asalat al-mahiyya), yang memegang kekuasaan secara tertulis filosofis di Iran sampai saat Mulla Sadra. Memang, Mir Damad, guru Mulla Sadra, yang diadakan pandangan ini. Namun, Mulla Sadra sendiri mengambil pandangan yang berbeda, bahwa itu adalah keberadaan yang merupakan realitas dan bahwa itu adalah quiddities yang merupakan konstruksi mental. Dengan mengambil posisi keutamaan eksistensi, Mulla Sadra mampu menjawab keberatan Ibn Rusyd dan Illuminationists dengan menunjukkan bahwa keberadaan adalah disengaja untuk hakekat dalam pikiran sejauh itu bukan bagian dari esensinya. Ketika itu adalah kasus menghubungkan existentiality keberadaan, bagaimanapun, apa yang sedang dibahas adalah atribut penting; dan jadi pada titik ini kemunduran berhenti, untuk sumber atribut penting adalah esensi itu sendiri.

2 Ambiguitas sistematis keberadaan

Sebuah bersamaan teori Mulla Sadra bahwa realitas dan eksistensi adalah identik adalah bahwa keberadaan adalah satu tetapi dinilai dalam intensitas; untuk ini ia memberi nama tashkik al-wujud, yang telah berguna diterjemahkan sebagai ‘ambiguitas sistematis’ eksistensi. Al-Suhrawardi, berbeda dengan peripatetics, telah menegaskan bahwa quiddities yang mampu berbagai intensitas; misalnya, ketika warna, seperti biru, mengintensifkan itu bukan spesies baru ‘kebiruan’ yang menggantikan yang lama, tapi agak sama ‘biru’ diintensifkan. Mulla Sadra mengadopsi teori ini tapi diganti hakekat dengan adanya, yang baginya satu-satunya realitas. Ini memungkinkan dia untuk mengatakan bahwa itu adalah keberadaan yang sama yang terjadi dalam segala hal, tapi itu contoh eksistensial berbeda dalam hal of’priority dan posterioritas, kesempurnaan dan ketidaksempurnaan, kekuatan dan kelemahan ‘(membuat realitas mirip dengan cahaya al-Suhrawardi). Ia demikian dapat menjelaskan bahwa itu adalah keberadaan dan eksistensi sendiri yang memiliki hak milik menggabungkan ‘kesatuan dalam keragaman, dan keragaman dalam kesatuan’.

Realitas Oleh karena itu keberadaan murni, tetapi keberadaan yang memanifestasikan dirinya dalam berbagai modus, dan itu adalah mode yang menampilkan diri dalam pikiran sebagai quiddities. Bahkan istilah ‘dalam pikiran’, bagaimanapun, adalah hanya sebuah ekspresi yang menunjukkan modus tertentu menjadi, bahwa eksistensi mental (al-wujud al-dhihni), meskipun modus yang sangat dilemahkan. Semuanya sehingga dipahami oleh keberadaan, bahkan ‘ketiadaan’, yang harus untuk menjadi dikandung menganggap bagian yang paling kurus eksistensi untuk menjadi ada mental. Ketika realitas (atau lebih tepatnya modus eksistensi) menampilkan dirinya ke pikiran, pikiran abstrak yang hakekat dari itu – tidak mampu, kecuali dalam keadaan luar biasa, untuk memahami keberadaan intuitif – dan dalam pikiran hakekat menjadi, karena itu, yang realitas dan eksistensi kecelakaan. Namun, ini ‘eksistensi’ yang predikat pikiran hakekat adalah sendiri hanya gagasan atau konsep, salah satu inteligensi sekunder. Hal inilah yang merupakan konsep jelas yang paling universal dan paling mana Aristoteles disebut, dan yang al-Suhrawardi dianggap sebagai univocal. Namun dalam kenyataannya tidak ada dua ‘hal’, keberadaan dan hakekat, hanya eksistensi – bukan konsep, tetapi kenyataannya – dan begitu ‘keberadaan’ tidak dapat dianggap sebagai atribut nyata hakekat; untuk jika ini mungkin hakekat harus dianggap sebagai sudah ada, sebagai al-Suhrawardi keberatan.

3 Gerakan Substansial

Lain dari sifat kunci dari keberadaan untuk Mulla Sadra adalah transubstantiality nya, dilakukan melalui apa yang disebut gerak dalam substansi (al-haraka fi’l-Jawhar) atau gerak substansial (al-haraka al-jawhariyya). Peripatetics telah menyatakan bahwa substansi hanya perubahan tiba-tiba, dari satu substansi ke yang lain atau dari satu instant ke yang lain, di generasi dan korupsi (dan karena itu hanya di dunia sublunar), dan bahwa gerakan bertahap hanya terbatas pada kecelakaan (kuantitas, kualitas, tempat). Mereka juga menyatakan bahwa kelangsungan gerakan adalah sesuatu hanya dalam pikiran, yang senar bersama serangkaian potensial tidak terbatas perubahan sangat kecil – bukan dalam mode film – untuk menghasilkan ilusi gerakan, meskipun waktu sebagai perluasan adalah bagian yang benar dari pengalaman kami. Apa menimbulkan gerakan adalah substrat tidak berubah, bagian dari esensi yang adalah bahwa hal itu pada titik yang tak terbatas dalam ruang di beberapa instan dalam waktu; dengan kata lain, gerakan potensi di dalamnya dan bahwa melalui yang menjadi aktual. Mulla Sadra sepenuhnya menolak ini, dengan alasan bahwa realitas substansi ini, makhluk yang, harus sendiri dalam gerakan, untuk hasil bersih dari pandangan yang bergerak hanyalah konglomerasi statis peristiwa spatio-temporal. Gerakan dari potensi ke aktualitas hal ini sebenarnya gagasan abstrak dalam pikiran, sementara materi yang sendiri adalah dalam keadaan terus-menerus berubah terus-menerus mengalami perubahan substansial. Selain itu, perubahan substansial ini adalah properti tidak hanya dari makhluk elemental duniawi (yang terdiri dari tanah, air, udara dan api) tapi dari makhluk surgawi juga. Mulla Sadra menyamakan perbedaan antara kedua pemahaman gerakan untuk perbedaan antara disarikan, gagasan derivatif eksistensi dan keberadaan yang realitas itu sendiri.

Keberadaan dalam sistem filsafat Mulla Sadra, seperti yang telah terlihat, ditandai dengan ambiguitas sistematis (tashkik), diberi karakter yang sistematis oleh gerakan substansial, yang selalu dalam satu arah menuju kesempurnaan. Dengan kata lain, keberadaan dapat dipahami sebagai terus-menerus berlangsung eksistensi, yang dengan demikian merupakan satu kesatuan dengan internal dinamis terus berkembang. Apa yang memberi hal identitas mereka adalah esensi membayangkan yang kita abstrak dari modus eksistensi, sementara kenyataannya adalah selalu berubah; itu hanya ketika poin penting dicapai bahwa kita merasakan perubahan ini dan esensi baru terbentuk dalam pikiran kita, meskipun perubahan telah terus-menerus terjadi. Waktu adalah ukuran dari proses pembaharuan, dan bukan merupakan entitas independen sehingga peristiwa terjadi di dalamnya, melainkan merupakan dimensi persis seperti tiga dimensi spasial: dunia fisik adalah kontinum spatio-temporal.

Semua ini memungkinkan Mulla Sadra untuk memberikan solusi asli untuk masalah yang telah terus-menerus diadu filsuf terhadap teolog dalam Islam, bahwa dari keabadian dunia. Dalam sistem tubuhnya, dunia adalah kekal sebagai proses yang berkelanjutan dari terungkapnya keberadaan, tapi karena keberadaan dalam keadaan terus-menerus berubah karena perubahan substansial terus menerus, setiap manifestasi baru dari eksistensi di dunia muncul di waktu. Dunia – yaitu, setiap peristiwa spatio-temporal dari surga tertinggi ke bawah – dengan demikian temporal berasal, meskipun secara keseluruhan dunia juga kekal dalam arti bahwa ia tidak memiliki awal atau akhir, karena waktu bukanlah sesuatu yang ada secara independen dalam yang dunia pada gilirannya ada (lihat Keabadian).

4 Epistemologi

Ontologi radikal Mulla Sadra juga memungkinkan dia untuk menawarkan kontribusi asli untuk epistemologi, menggabungkan aspek teori Ibnu Sina pengetahuan (di mana Akal Aktif, sedangkan sisanya benar-benar transenden, mengaktualisasikan pikiran manusia dengan menanamkan dengan bentuk intelektual sesuai dengan keadaan dari persiapan untuk menerima bentuk-bentuk) dengan teori pengetahuan diri melalui pengetahuan dengan kehadiran dikembangkan oleh al-Suhrawardi. Epistemologi Mulla Sadra didasarkan pada identitas intelek dan dimengerti, dan identitas pengetahuan dan eksistensi. Teorinya tentang gerak substansial, di mana keberadaan adalah proses dinamis terus bergerak ke arah intensitas yang lebih besar dan kesempurnaan, telah memungkinkan dia untuk menjelaskan bahwa bentuk-bentuk baru, atau modus, eksistensi tidak menggantikan bentuk sebelumnya tetapi sebaliknya menggolongkan mereka. Pengetahuan, yang identik dengan keberadaan, ulangan proses ini, dan dengan mengakuisisi bentuk dimengerti berturut – yang dalam mode realitas menjadi dan tidak bentuk penting, dan dengan demikian intensifikasi berturut keberadaan – secara bertahap bergerak kecerdasan manusia terhadap identitas dengan Intelek Aktif. Intelek sehingga menjadi diidentifikasi dengan inteligensi yang menginformasikan itu.

Selanjutnya, untuk Mulla Sadra dimengerti sebenarnya adalah self-cerdas dan self-intellected, sejak dimengerti sebenarnya tidak dapat dianggap telah berhenti menjadi dipahami setelah dianggap luar hubungannya dengan intelek. Sebagai intelek manusia memperoleh lebih dimengerti, secara bertahap bergerak ke atas dalam hal intensifikasi dan kesempurnaan eksistensi, kehilangan ketergantungan pada quiddities, sampai menjadi satu dengan Intelek Aktif dan memasuki ranah keberadaan murni. Manusia dapat, tentu saja, biasanya hanya mencapai yang terbaik identifikasi parsial dengan Intelek Aktif selama mereka tetap dengan tubuh fisik mereka; hanya dalam kasus nabi bisa ada identifikasi lengkap, yang memungkinkan mereka untuk memiliki akses langsung ke pengetahuan untuk diri mereka sendiri tanpa perlu instruksi. Memang, hanya sedikit pikiran manusia mencapai identifikasi dengan Intelek Aktif bahkan setelah kematian.

5 Metodologi

Bahkan akun singkat doktrin utama Mulla Sadra akan memberikan beberapa gagasan tentang peran yang dimainkan dalam filsafat oleh pengalaman dari realitas yang menggambarkan. Memang ia dikandung dari Hikmah (kebijaksanaan) sebagai ‘datang untuk mengetahui esensi makhluk karena mereka benar-benar adalah’ atau sebagai ‘manusia menjadi dunia intelektual yang sesuai dengan dunia objektif’. Filsafat dan mistisisme, Hikmah dan tasawuf, yang baginya dua aspek dari hal yang sama. Untuk terlibat dalam filsafat tanpa mengalami kebenaran isinya membatasi filsuf ke dunia esensi dan konsep, sementara pengalaman mistik tanpa disiplin intelektual filsafat dapat menyebabkan hanya untuk sebuah negara yang tak terlukiskan ekstasi. Ketika dua berjalan beriringan, pengalaman mistik realitas menjadi isi intelektual filsafat.

Keempat perjalanan, bagian utama ke mana Asfar dibagi, sejajar sebuah divisi empat kali lipat dari perjalanan sufi. Pertama, perjalanan penciptaan atau makhluk (khalq) untuk Kebenaran (al-haqq), adalah yang paling filosofis; sini Mulla Sadra menjabarkan dasar ontologi, dan cermin panggung di jalan Sufi di mana ia berusaha untuk mengendalikan nafs-nya lebih rendah di bawah pengawasan Syaikh nya. Dalam perjalanan kedua, dalam Kebenaran dengan Kebenaran, tahap di mana Sufi mulai menarik manifestasi ilahi, Mulla Sadra berkaitan dengan zat sederhana, kecerdasan, jiwa dan tubuh mereka, termasuk oleh karena itu pembahasannya tentang ilmu-ilmu alam . Dalam perjalanan ketiga, dari Kebenaran penciptaan dengan Kebenaran, Sufi mengalami pemusnahan dalam Ketuhanan, dan Mulla Sadra berhubungan dengan teodisi; tahap keempat, perjalanan dengan Kebenaran dalam penciptaan, di mana ia memberikan laporan lengkap dan sistematis dari perkembangan jiwa manusia, asalnya, menjadi dan akhir, adalah di mana sufi mengalami kegigihan dalam pemusnahan, diserap dalam keindahan kesatuan dan manifestasi dari keragaman.

Mulla Sadra telah menggambarkan realisasi spiritual menyilaukan nya keutamaan eksistensi sebagai semacam ‘konversi’:

Pada hari-hari sebelumnya saya digunakan untuk menjadi pembela yang penuh gairah tesis bahwa quiddities adalah konstituen utama realitas dan eksistensi konseptual, sampai Tuhan memberi saya bimbingan rohani dan biarkan aku melihat demonstrasi-Nya. Tiba-tiba mata rohani saya terbuka dan saya melihat dengan sangat jelas bahwa kebenaran itu hanya bertentangan dari apa yang para filsuf pada umumnya telah mengadakan …. Akibatnya [saya sekarang memegang bahwa] eksistensi (wujudat) adalah realitas utama, sedangkan quiddities adalah ‘arketipe permanen’ (a’yan Thabita) yang belum pernah mencium aroma keberadaan. (Asfar, vol. 1, pengenalan).

Karena itu, tidak mengherankan bahwa Mulla Sadra adalah sangat berhutang budi kepada Ibn al-‘Arabi dalam banyak aspek filsafatnya. Ibnu Sina memberikan tanah yang metaphilosophy nya dibangun dan, karena itu, lensa melalui mana ia memandang filsafat Peripatetik. Namun, karyanya juga penuh kutipan dari Presocratics (terutama Pythagoras), Plato, Aristoteles, Neoplatonists (lihat Neoplatonisme dalam filsafat Islam) dan Stoa (diambil secara alami dari sumber-sumber Arab), dan ia juga mengacu pada karya-karya al -Farabi, dan Abu’l Hasan al-Amiri, yang telah prefigured teori Mulla Sadra dari kesatuan kecerdasan dan dipahami. Warisan filosofis ini kemudian diberi bentuk melalui illuminationism dari al-Suhrawardi, yang semesta nilai statis cahaya ia berubah menjadi satu kesatuan yang dinamis dengan menggantikan keutamaan eksistensi untuk keutamaan yang terakhir dari hakekat. Hal ini dalam membentuk ini bahwa pengaruh Ibn al-‘Arabi, yang Mulla Sadra mengutip dan komentar pada ratusan kasus, dapat paling sangat dirasakan. Tidak hanya itu jelas total pemecatan Mulla Sadra dari setiap peran hakekat dalam sifat realitas, tetapi dalam pentingnya yang baik dia dan Ibn al-‘Arabi berikan kepada dunia imaginal (‘alam al-mitsal,’ alam al- khayal).

Dalam psikologi Ibnu Sina, fakultas imaginal (al-quwwa al-khayaliyya) adalah situs untuk manipulasi gambar disarikan dari benda-benda material dan dipertahankan dalam communis sensus. Dunia imaginal pertama kali secara resmi diusulkan oleh al-Suhrawardi sebagai wilayah peralihan antara yang dari tubuh material dan bahwa entitas intelektual, yang independen dari materi dan dengan demikian bertahan tubuh setelah kematian. Ibn al-‘Arabi telah menekankan aspek kreatif kekuatan ini berasal oleh bentuk-bentuk kemauan imaginal hanya yang setiap bit nyata seperti, jika tidak lebih nyata daripada, perceptibles tapi yang terdapat dalam ada tempat. Untuk Mulla Sadra, dunia ini adalah tingkat eksistensi imaterial dengan mana dimungkinkan untuk jiwa manusia (dan memang bentuk-bentuk tertentu lebih tinggi dari jiwa hewani) untuk berhubungan, meskipun tidak semua gambar yang dibentuk oleh jiwa manusia yang selalu tulus dan karena itu bagian dari dunia imaginal. Untuk Mulla Sadra, sebagai juga untuk Ibn al-‘Arabi, dunia imaginal adalah kunci untuk memahami sifat kebangkitan tubuh dan akhirat, yang ada sebagai dunia material yang tetap nyata (mungkin bisa dikatakan lebih nyata daripada fisik dunia), di mana tubuh bertahan sebagai bentuk imaginal setelah kematian.

Filsafat selalu memiliki hubungan tegang dengan teologi dalam Islam, terutama dengan wacana yang terakhir dari iman (iman) dan ortodoksi. Karena itu, filsafat telah sering dilihat, biasanya oleh non-filsuf, sebagai sekolah dengan doktrin sendiri. Hal ini terjadi walaupun pernyataan filsuf diri bahwa apa yang mereka terlibat dalam adalah praktek tanpa akhir (untuk, seperti Ibnu Sina telah menyatakan bahwa apa yang diketahui manusia terbatas dan hanya bisa mungkin dipenuhi ketika asosiasi jiwa dengan tubuh terputus melalui kematian), bagian dari disiplin yang terdiri dalam menghindari taqlid, sebuah kepatuhan kritis untuk sekte (lihat Islam, konsep filsafat dalam). Ini adalah fitur penting dari metodologi Mulla Sadra bahwa ia selalu berusaha untuk melampaui kekhasan sistem apapun – Platonis, teologis Aristotelian, Neoplatonic, mistik atau – dengan berusaha untuk membuat melalui metaphilosophy nya instrumen dengan yang tingkat kesehatan semua argumen filosofis mungkin diuji. Ini adalah ukuran keberhasilan bahwa ia tetap sampai hari ini yang paling berpengaruh dari filsuf ‘modern’ di dunia Islam.

Kesimpulan
Untuk meringkas diskusi epistemologis ini, mari kita mengutip skema perbandingan dari Dr Haidar Bagir kuliah & kertas: Kritik Kontemporer Metodologi dalam Epistemologi Filsafat Islam, 7 p, sebagai berikut:

Knowledge :
  1. Empiris-diamati
  2. Rasional
1. empiris-diamati dunia

2. Rasional (Analitical; Alasan)

3. Realm Imaginal (khayal / barzakh)

4. Intuisi (hight Intelect, Qalb, Fuad)

5. Bahkan Sejarah

6. Teks Suci (wahyu / wahyu)

2. Limit of Knowledge Ilmu rasional (ratiocination) Tidak ada batas berharap untuk mengetahui Dzat al Wujud (Allah)
3.Structure of Knowledge Di era modern ada pandangan dipisahkan antara Jurusan & Object (Objektivitas) 1. Ilm al Husuli (peroleh Pengetahuan)

2. ilm al Hudhuri (pengetahuan presential) & Ilmu Laduni

3. Subyek & Obyek yang kesatuan

4. Validity of Knowledge
  1. Coherence logis
  2. Korespondensi
  3. Pragmatis Fungsi
1. Logical Coherence (Rasional-Bayani)

2. Korespondensi dengan Fakta dan Sejarah (demonstratif / Burhani)
3. Pragmatis Fungsi
4. Harmoni dengan Pedoman Ilahi
5. Irfani (illuminationist)
6. dll.

5. Main Division & Relation Filsafat teoritis
Filsafat praktis
Filsafat teoritis (al Hikmah Nazhariyah)
Filsafat praktis (al hikmah Amaliyah)
Prinsip : Filsafat Praktis (Ilmu-teknologi) harus bergantung pada, atau berdasarkan Teoritis Filsafat.

Oleh karena itu, Holistik Islam dan Integralistik Paradigma tentang epistemologi, ontologi dan aksiologi adalah prinsip-prinsip utama yang kita perlu meninjau dan merekonstruksi filosofi kami, ilmu kita, ideologi dan peradaban kita.

Menurut Mr Armahedi Mahzar di Refleksi integralis ada Cycle Evolusi dari tahap eksistensial dan Dynamic integral antara Realitas Ultimate (Allah, Allah SWT) dan Human Aktualitas dengan evolusi dan devolusi. Ini adalah prinsip: Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.Wallahu ‘alam.

Daftar karya Mulla Sadra [Sadr al-Din al-Syirazi]

(c.1628) al-Hikma al-muta’aliya fi-‘l-Asfar al-‘aqliyya al-arba’a (The Transenden Kebijaksanaan Mengenai Empat Intelektual Journeys), ed. R. Lutfi dkk, Teheran dan Qum. Shirkat Dar al-Ma’arif al-Islamiyyah, 1958-1969 ?, 9 jilid; vol. 1, pencetakan 2, dengan pengenalan oleh MR al-Muzaffar, Qum: Shirkat Dar al-Ma’arif al-Islamiyyah, 1967. (Ini adalah pekerjaan utama Mulla Sadra, sering dikenal hanya sebagai Asfar (The Four Journeys) Edisi penuh. termasuk glosses parsial oleh ‘Ali al-Nuri, Hadi al-Sabzawari,’ Ali al-Mudarras al-Zanuzi, Ismail al-Khwaju’Ial-Isfahani, Muhammad al-Zanjani dan Muhammad Husaynal-Tabataba’i.)

Mulla Sadra [Sadr al-Din al-Syirazi] (c.1628) Kitab al-masha’ir (Kitab Metafisika Penetrasi), ed., Trans. dan intro. H. Corbin, Le livre des penetrasi métaphysiques, Paris: Departemen d’Iranologie de l’Institut Franco-Iranien de Recherche, dan Teheran: Librairie d’Amerique et d’Orient Adrien-Maisonneuve, Bibliothèque Iranienne vol. 10, 1964; Porsi french re-diedit Lagrasse: Verdier, 1988; ed. dan trans. P. Morewedge, The Metafisika dari Mulla Sadra, New York: Masyarakat untuk Studi Filsafat Islam dan Ilmu, 1992. (Corbin adalah sinopsis dari ontologi Mulla Sadra, dengan bibliografi berguna tulisan Mulla Sadra dan pengenalan oleh Corbin Morewedge menyediakan. edisi Arab-Inggris paralel;. terjemahan didasarkan pada edisi Corbin tentang teks) Mulla Sadra [Sadr al-Din al-Syirazi] (c.1628) al-Hikma al-‘arshiyya (Kebijaksanaan Arsy), ed. dengan parafrase Persia oleh G.R. Ahani, Isfahan, 1962; trans. dan intro. J.W. Morris, The Wisdom of Takhta: Sebuah Pengantar Filsafat Mulla Sadra, Princeton, NJ: Princeton University Press, 1982. (Ringkasan berguna pandangan Mulla Sadra tentang teologi dan eskatologi, pengenalan untuk terjemahan bahasa Inggris memberikan umum informatif pengantar Mulla Sadra kerja.)

Referensi dan bacaan lebih lanjut

Barbour, I. (1966) Isu dalam Sains dan Agama, New York:. Harper & Row (survei Sangat mudah ilmu relationsbetween dan Kristen, dimulai pada periode modern.)

Barbour, I. (1974) Mitos, Model dan Paradigma, New York: Harper & Row. (Metodologi perbandingan ofscience dan agama, memanfaatkan terutama filsafat Thomas Kuhn ilmu. Sangat mudah.)

Barbour, I. (1990) Agama di Era of Science: The Gifford Lectures, 1989-1991, San Francisco, CA:

HarperCollins, vol. 1. (Menggabungkan dan bahan dari buku-buku sebelumnya update. Sebuah pengantar yang sangat baik.)

Bakar, O. (1996) ‘Ilmu’, di S.H. Nasr dan O. Leaman, Sejarah Filsafat Islam, London: Routledge, ch. 53, 926-46. (Diskusi dari beberapa pemikir utama dan prinsip-prinsip ilmu dalam Islam.)

Dani, AH (1973) Al-Biruni India, Islamabad:. University of Islamabad Press (. Penelitian Al-Biruni pada rakyat dan negara India)

Darwin, C. (1859) The Origin of Species, London:. John Murray (pernyataan klasik tesis Darwin.)

Draper, J.W. (1874) Sejarah Konflik antara Sains dan Agama, New York:. D. Appleton (Pemutusan sekali-populer Katolik gangguan dengan perkembangan ilmiah.)

Atap, L.J., Martin, N.G. dan Heath, AC (1990) ‘Keagamaan Afiliasi di Twins dan orang tua: Pengujian Model Warisan Budaya’, Perilaku Genetika 20 (1):. 1-21 (Menyediakan beberapa bukti untuk komponen genetik dalam perilaku keagamaan.)

Fakhry, M. (1983) Sejarah Filsafat Islam, London:. (. Sebuah pengantar umum untuk peran akal dalam pemikiran Islam) Longman, 2 edisi

Hill, D. (1993) Ilmu Islam dan Teknik, Edinburgh:. Edinburgh University Press (The karya klasik pada aspek praktis dari ilmu pengetahuan Islam.)

Hefner, P. (1993) Faktor Manusia: Evolution, Budaya, dan Agama, Minneapolis, MN:. (. Contoh penggunaan teologis dari teori evolusi) Fortress Press

Hourani, G. (1975) Essays on Filsafat Islam dan Ilmu, Albany, NY: Universitas Negeri New York

Press. (Koleksi penting dari artikel tentang isu-isu teoritis tertentu dalam filsafat ilmu.)

Hourani, G. (1985) Alasan dan Tradisi dalam Etika Islam, Cambridge:. Cambridge University Press (Sebuah diskusi tentang bentrokan antara akal dan tradisi dalam budaya Islam secara keseluruhan, terutama dalam etika.)

Ibnu Tufail (sebelum 1185) Hayy ibn Yaqzan (The Living Anak waspada), trans. S. Oakley, Peningkatan Alasan Manusia Dipamerkan di Kehidupan Hai Ebn Yokhdan, Zurich: Georg OLMS Verlag, 1983. (Terjemahan ini dari Hayy ibn Yaqzan pertama kali diterbitkan pada 1708.)

Kirmani, Z. (1992) ‘Sebuah Garis Kerangka Islam untuk Ilmu Kontemporer’, Journal of Islamic Science 8 (2):. 55-76 (. Sebuah upaya konseptualisasi ilmu pengetahuan modern dari sudut pandang Islam)

Izutsu Toshihiko (1971) Konsep dan Realitas Eksistensi, Studi di Humaniora dan Hubungan Sosial 13, Tokyo:. Keio Institute of Cultural dan Linguistic Studies (Meskipun prihatin terutama dengan ide-ide filosofis pokok pengikut abad kesembilan belas Mulla Sadra, Mulla Hadi al -Sabzawari, pekerjaan ini berisi penjelasan yang sangat berharga dari sejarah kontroversi keberadaan-esensi dalam metafisika, dan berhubungan dengan pandangan Mulla Sadra di banyak tempat) Leaman, O. (1985) Sebuah Pengantar Filsafat Islam Abad Pertengahan, Cambridge:. Cambridge University Press. (Pendekatan umum untuk peran filsafat dalam Islam.)

Leslie, J. (1989) Universes, London:. Routledge (Sebuah rekening diakses dari isu antropis atau fine-tuning.)

Lindberg, DC (1992) Awal Sains Barat: Tradisi Ilmiah Eropa di Philosophical, Keagamaan, dan Konteks Kelembagaan, 600 SM ke AD 1450, Chicago, IL:. (. Diakses) University of Chicago Press

Lindberg, DC dan Bilangan, RL (eds) (1986) Allah dan Alam: Esai Sejarah di betweenChristianity Encounter dan Ilmu, Berkeley, CA: University of California Press. (Kecam rekening ilmu historyof dan agama yang mengandaikan model peperangan.)

Merton, R. (1938) Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Masyarakat di Seventeenth-Century England, New York: Harper & Row, cetak ulang. 1970. (Presents tesis bahwa perkembangan ilmu pengetahuan didorong oleh puritanisme.)

Murphy, N. (1990) Teologi di Era Penalaran Ilmiah, Ithaca, NY: Cornell University Press (. Pada therelation antara metode teologis dan filsafat ilmu mengandaikan pengetahuan filsafat.).

Murphy, N. dan Ellis, G.F.R. (1996) Pada Moral Alam Semesta: Teologi, Kosmologi, dan Etika, Minneapolis, MN:. (.. Model Komprehensif untuk berhubungan ilmu alam dan sosial untuk teologi dan etika teknis Moderat) Fortress Press

Nasr, S.H. (1978) Sadr al-Din Syirazi dan Nya Transenden Teosofi: Latar Belakang, Life and Works, Teheran:. Imperial Academy of Philosophy (Bagian pertama dari yang direncanakan, tapi sejauh ini belum selesai, dua volume pekerjaan, volume kedua yang dimaksudkan untuk menangani ide-ide filosofis Mulla Sadra, berisi bibliografi terbaik karya Mulla Sadra).

Nasr, S.H. (1996) ‘Mulla Sadra: Ajaran-Nya’, di S.H. Nasr dan O. Leaman (eds) Sejarah Filsafat Islam, London:. Routledge, 643-52 (Ringkasan pendek pemikiran Mulla Sadra.)

Nasr, S.H. (1993) Kebutuhan untuk Ilmu Suci, Richmond: Curzon Press (. Argumen untuk signifikansi agama dalam setiap pemahaman ilmu).

Pinus, S. (1964) ‘Kritik Ibn al-Haytham dari Ptolemy’, di Actes du Xe Congres internationale d’histoire des ilmu, Paris: Ithaca (Salah satu karya yang paling penting dalam astronomi Islam.).

Peacocke, A.R. (1979) Penciptaan dan World of Science: The Bampton Lectures, 1978, Oxford:. Clarendon Press (survei menyeluruh dari masalah dalam hubungan sains kontemporer untuk teologi Kristen Perluas onissues evolusi dan penciptaan, dan pemesanan hirarkis ilmu. . Kurang diakses dari punjung.)

Peacocke, A.R. (1990) Teologi untuk Age Ilmiah, Oxford: Blackwell; edisi membesar, Minneapolis, MN: FortressPress, 1993. (Berkaitan top-down penyebab tindakan ilahi.)

Rahman, F. (1975) Filsafat Mulla Sadr (Sadr al-Din al-Syirazi), Albany, NY: Universitas Negeri New York Press. (Untuk saat ini, studi skala penuh hanya filsafat Mulla Sadra dalam bahasa Inggris.)

Ziai, H. (1996) ‘Mulla Sadra: Hidup-Nya dan Bekerja’, di SH Nasr dan O. Leaman (eds) Sejarah Filsafat Islam, London:. Routledge, 635-42 (esai biografis membahas pengaruh dan karya Mulla Sadra.)

Rolston, H. (1987) Sains dan Agama: Sebuah Survei Kritis, New York:. Random House (. Sebuah pengantar yang baik untuk lapangan; kurang dibaca dari Barbour, tapi estetis)

Russell, RJ, Murphy, N. dan Peacocke, A. (eds) (1994) Chaos dan Kompleksitas: Perspektif Ilmiah Aksi Ilahi, Negara Kota Vatikan: Observatorium Vatikan; didistribusikan oleh University of Notre Dame Press. (A serangkaian artikel tentang tindakan ilahi, dari berbagai tingkat teknis.) Sabra, AI (1972) ‘Ibn al-Haytham’, di C.C.

Gillispie (ed.) Dictionary of Scientific Biography, New York: Charles Scribner Sons, edisi 6. (Pengenalan yang sangat baik untuk pikiran dan karya Ibn al-Haytham.) Pakistan, 26 November-12 Desember 1973, Karachi:. Hamdard Academy (Berisi berbagai makalah membahas semua karya-karya besar dari al-Biruni.)

Saliba, G. (1991) ‘The Tradisi Astronomi dari Maragha: Sebuah Survei Sejarah dan Prospek Penelitian Masa Depan’, Arab Ilmu dan Filsafat 1 (1):. 67-100 (Studi dari periode sangat berkembang dengan baik penelitian astronomi di dunia Islam.)

Sardar, Z. (1989) Explorations in Sains Islam, London:. Mansell (. Beberapa perdebatan kontemporer tentang sifat ilmu ofIslamic)

Muda, MJL, Latham, JD dan polisi pengadilan, RB (1990) Agama, Belajar dan Ilmu Periode Abbasiyah, Cambridge: Cambridge University Press (Pekerjaan terkemuka pada masa paling penting bagi ilmu pengetahuan di dunia Islam.).

Putih, AD (1896) A History of the Warfare of Science dengan Teologi di Kristen, New York:. D. Appleton, 2 jilid (dimaksud dalam pengenalan dan § 2.) Routledge Encyclopedia of Philosophy, Versi 1.0, London: Routledge

_______________

Catatan kaki

 [1] Koento Wibisono, Dasar-Dasar Filsafat, (Jakarta: Penerbit Karunika Universitas Terbuka, 1989), p. 517.

[2] Peter D. Klein, Routledge Encyclopedia of Philosophy, (Routledge: London dan New York, 1998), versi 1.0.

[3] Dagobert D. Runes, Dictio

nary of Philosophy, (Totowa New Jersey: Adams & Co., 1971), p. 94.

[4] George Thomas White Patrick, Introduction to Philosophy, (London: George Allen & Unwin Ltd., 1954), p. 325.

  1. Wibisono, Op.Cit., p.517.

6 Doni Gahral Adian, Menyoal Objektifisme Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Teraju, 2002), p. 17.

7 Ibid., p. 19.

8 Murthadha Muthahhari, Mengenal Epistemology, translated from Iranian book: Mas’ale Syenokh, (Teheran:Intisyaarate Shadra, 1989), p. 180.

[8]

9 Ibid.

[10] Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Philosophical Instruction, An Introduction to Contemporary Islamic Philosophy, (New York: Binghamton, University Global Publications, 1999), p. 85-6.

[13] Nancey Murphy, Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1, London.

[14] Oliver Leaman, Routledge Encyclopedia of Islamic Philosophy, Version 1.0, (London and New York:Routledge, 1998), p. 2.

[15] Shams C. Innati, Routledge Encyclopedia of Islamic Philosophy, Version 1.0, (London: Routledge, 1998), p. 43-7.

[17] Dr. Wahid Akhtar, Islamic Concept of Knowledge,http://www.muslimphilosophy.com.

[18] For further information’s according to this discourse check Musa Kazhim in “Kekhasan Filsafat Islam”, an introduction to Majid Fakhry, Sejarah Filsafat Islam: Sebuah Peta Kronologis, (Bandung: Mizan, 2001). This book is transliteration from Majid Fakhry, A Short Introduction to Islamic Philosophy, Theology and Mysticism, (London: Oneworld Publication, Oxford, 1977).

[19] Sari Nusaibeh, “Epistemology”, in History of Islamic Philosophy, ed. S. H. Nasr and Oliver Leaman, (London and New York: Routledge, 1996), Part II, p. 824-40.

[20] Ibn Rushd star his risalah with provokating question according to legality of philosophy. See Ibn Rushd, Fashl Al-Maqal fima baina Al-Hikmah wa Al-Syari`ah min Al-Ittishal, (Kairo: tt.), p. 2.

[21] ZiauddinSardar,Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1.0, London: Routledge

[22] JOHN COOPERRoutledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1.0, London: Routledge

[1] Ini adalah  hipotesis dari Seyyed Hossein Nasr dalam bukunya; Islam and The Plight of Modern Man... (Revised and Enlarged Edition),  ABC International Group, Inc, Chicago, 2001, p.4-5

[2] Seyyed Hossein Nasr, Islam and The Plight of Modern Man, (Revised and Enlarged Edition),  ABC International Group, Inc, Chicago, 2001, p.4-5

[3] Mengenai kesalahan bertahap gambaran citra manusia moden di Barat,, lihatlah G. Durrand, Defiguration Philosophique et figure traditionelle de I’homme en Occident,” Eranos-Jahrbuch, XXXVIII, 1971, pp.45-93; Sherrard, The Rape of Man and Nature, Ipswich (UK), Golgooonoza Press, 1987. Chap. 2 and 3, pp 42-89; and S.H. Nasr, Knowledge and the Sacred, Albany (NY), the  State University of  New York Press, 1999. Chap. 5, pp. 160-188. For a treatment of this subject from the perspective of a Western Seeker who has turned to traditional Islam see J. Herlihy, The Search of The Trurth—contemporary Raflection of Traditional Islamic Themes, Kuala Lumpur, Dewan Pustaka Islam, 1990.

[4] Seyyed Hossein Nasr, Islam and The Plight of Modern Man, , (Revised and Enlarged Edition),  ABC International Group, Inc, Chicago, 2001, p.6

[5] http://en.wikipedia.org/wiki/Modernism#cite_note-1

[6] Pericles Lewis, Modernism, Nationalism, and the Novel (Cambridge University Press, 2000). pp 38-39.  [James] Joyce‘s Ulysses is a comedy not divine, ending, like Dante’s, in the vision of a God whose will is our peace, but human all-too-human…” Peter Faulkner, Modernism (Taylor & Francis, 1990). p 60., quoted from http://en.wikipedia.org/wiki/Modernism#cite_note-1, acsessed  at  August,  2010

[7] Gardner, Helen, Horst De la Croix, Richard G. Tansey, and Diane Kirkpatrick. Gardner’s Art Through the Ages (San Diego: Harcourt Brace Jovanovich, 1991). ISBN 0155037706. p. 953. quoted fromhttp://en.wikipedia.org/wiki/Modernism#cite_note-1, acsessed  at  August , 2010

[8] Adorno, TheodorMinima Moralia. Verso 2005, p. 218. quoted from http://en.wikipedia.org/wiki/Modernism#cite_note-1, acsessed  at  August , 2010

[9] Tradition and the individual talent” (1919), in Selected Essays. Paperback Edition. (Faber & Faber, 1999). quoted from http://en.wikipedia.org/wiki/Modernism#cite_note-1, acsesed in August 2010

[10] Childs, Peter. Modernism (Routledge, 2000). ISBN 0415196477. p. 17. , quoted from http://en.wikipedia.org/wiki/ Modernism#cite_note-1, Accessed on 2009-02-08

[11] F. Budi Hardiman, Sejarah Filsafat Barat Modern dari Machiavelli sampai Nietzsche, Gramedia, Jakarta, 2004. For next quotients it will mention by  F. Budi Hardiman,  Sejarah Filsafat Barat Modern…..

[12] F. Budi Hardiman,  Sejarah Filsafat Barat Modern

[13] F. Budi Hardiman,  Sejarah Filsafat Barat Modern…..

[14] F. Budi Hardiman,  Sejarah Filsafat Barat Modern…..

[15] Adopted from Nancey Murphy, Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1, London.

[16] lihat Origen; Augustine, in Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1, London [16]

[17] liha Tertullian, in Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1, London

[18] Lihat “ interpretation of Quantum mechanics”,  in Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1, London

[19] Lihat  “Chaos theory”, in Routledge Encyclopedia of Philosophy, Version 1, London

[20] Seyyed Hossein Nasr, The Plight of Modern Man, (Revised and Enlarged Edition), page 4, ABC International Group, Inc. Chicago, 2001. For next Quotations it will mention by Seyyed Hossein Nasr, The Plight of Modern Man

[21] Seyyed Hossein Nasr, The Plight of Modern Man, p. 4

[22] Seyyed Hossein Nasr, The Plight of Modern Man, p.5

[23] Armahedi Mazhar, “Kata Pengantar” (Introduction) in Hussein Heriyanto, Paradigma Holistik, p.xiii, Penerbit Teraju, Jakarta, 2003. p.xiii

[24] Descartes, R. Discourse and Methods (Translated by Jhon Veitch), J.M.  Dent & Sons Ltd, London, 1960.

[25] Armahedi Mahzar, Lecture Presentation of  master program of Islamic Philosophy at Islamic College for Advance Studies (ICAS) Jakarta, June 18, 2005. For the next quotation it will mention by  Armahedi Mahzar, Lecture Presentation…..

[26] Armahedi Mahzar, Lecture Presentation of  master program of Islamic Philosophy at Islamic College for Advance Studies (ICAS) Jakarta, June 18, 2005. For the next quotation it will mention by  Armahedi Mahzar, Lecture Presentation…..

[27] Mulyadhi Kartanegara,  Proposal Pusat Kajian Filsafat dan Tasawuf (PUSKAFIT) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2005. For next quotation it will mention by Mulyadhi Kartenegara, Proposal Pusat Kajian Filsafat dan Tasawuf,

[28] Mulyadhi Kartanegara,  Proposal Pusat Kajian Filsafat dan Tasawuf (PUSKAFIT) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2005. For next quotation it will mention by Mulyadhi Kartenegara, Proposal Pusat Kajian Filsafat dan Tasawuf,

[29]. Mulyadhi Kartenegara, Proposal Pusat Kajian Filsafat dan Tasawuf, (PUSKAFIT) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2005.

[30] Mulyadhi Kartanegara,  Proposal Pusat Kajian Filsafat dan Tasawuf (PUSKAFIT) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2005. For next quotation it will mention by Mulyadhi Kartenegara, Proposal Pusat Kajian Filsafat dan Tasawuf,

[31] Hussein Heriyanto, Paradigma Holistik, Teraju-Mizan Jakarta, 2003

[32] One of radical variant of Cartesian-Newtonian Paradigm is Positivism. Positivism paradigm placed language and the method of physical sciences as the only methods for scientific activity, including for social sciences and cultures. The concepts in psychology, sociology, politics and anthropology were said scientific if refer to basic principles of Newtonian physics.  Even for Egon G. Guba,, Cartesian-Newtonian paradigm is identical with positivism, since assumed with dualistic epistemology (determination between subject and object), Please read The Paradigm Dialog (edited by Egon G. Guba), Sage Publication, California, 1990.

[33] Dikutip dari harian KOMPAS news paper, October 25, 199..

[34] Giddens, A. Beyond left and Right, Polity  Press, Cambridge, 1984, p.4

[35] Hussein Heriyanto, Paradigma Holistik, Teraju-Mizan Jakarta, 2003

[36] Jalaluddin Rakhmat, Islam Aktual, Mizan Bandung, 1997

[37] Koento Wibisono, Dasar-Dasar Filsafat, (Jakarta: Penerbit Karunika Universitas Terbuka, 1989), p. 517

[38] Peter D. Klein, Routledge Encyclopedia of Philosophy, (Routledge): London and New York, 1998, version 1.0.

[39] Dagobert D. Runes, Dictionary of Philosophy, (Totowa New Jersey: Adams & Co., 1971), p. 94.

[40] George Thomas White Patrick, Introduction to Philosophy, (London: George Allen & Unwin Ltd., 1954), p. 325

[41] Koento Wibisono, Dasar-Dasar Filsafat, (Jakarta: Penerbit Karunika Universitas Terbuka, 1989), p. 517

[42] Doni Gahral Adian, Menyoal Objektifisme Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Teraju, 2002), p. 17

[43] Doni Gahral Adian, Menyoal Objektifisme Ilmu Pengetahuan, p.17

[44] Murthada Mutahhari, Mengenal Epistemology, Translated from Iranian Book: Mas’ale Syenokh  (Teheran, Intisyaarate Shadra, 1989), p.180

[45] Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Philosophical Instruction, An Introduction to Contemporary Islamic Philosophy, (New York: Binghamton, University Global Publications, 1999), p. 85-6. For the next quotation it will mention by Taqi Misbah Yazdi, Philosophical Instruction, An Introduction to Contemporary Islamic Philosophy.

[46] Taqi Misbah Yazdi, Philosophical Instruction, An Introduction to Contemporary Islamic Philosophy, p. ..

[47] Seyyed Hossein Nasr, Islamic Philosophy from its Origin to the Present, State University of New York Press, 2006

[48] Kita harus ingat bahwa Pythagoras mendirikan sebuah masyarakat religious di Croton yang berpusat di sekitar Apollo, dam dia menyediakan peraturan kehidupan seperti para Nabi lain para pendiri agama-agama. Lihatlah Kenneth S. Guthrie, kompilasi dan terjemahan., The Pythagorean Sourcebook and Library, (Grand Rapids, MI: Phanes, 1987); khususnya lihatlah “The Life of Pythagoras” oleh  lamblichus.pp.57ff. di mana di sana bahkan ada perbandingan bahwa Pythagoras sebagai makhluk ilahiyah dan diidentifikasikan sebagai Dewa Apollo itu sendiri (p.80). Lihat juga misalnya karya agunhg Peter Kingsley, Ancient Philosophy, Mystery and Magic (Oxford: Clarendon, 1995), yang terkait dengan baiuk Pythagoras maupun Empedocles

[49] Lihat Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom (Inverness, CA: The Golden Sufi Center, 1999); and Reality, (Inverness, CA: The Golden Sufi Center, 2004). Untuk kutipan berikutnya yang akan diambil dari Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom, and Peter Kingsley, Reality

[50] Dalam apa yang diikuti tentang  Parmenides, Seyyed Hossein Nasr telah menunjukkan dalam karya Kingsley, Reality. Pp. 31ff

[51] Lihat Seyyed Hossein “Spiritual Chivalry”, in ed. S.H. Nasr, Islamic Spirituality, Vol. 2 (New York: Crossroad, 1991), pp.304-15

[52] Lihat juga:  ‘Allamah Sayyid Muhammad Husayn Tabataba’I, Ali wa al-Hikmat al-ilahiyyah, in his Majmu a-yi rasa’il, Syayyid Hadi Khusrawshahi (ed). (Tehran: Daftar-i- Nashr-I farhang-I Islami, 1370, A.H. [solar], pp. 191ff

[53] Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom, p.33

[54] Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom p.40

[55] Martin Lings, The Secret of Shakespeare (New York: Inner Traditions International, 1984), p. 18

[56] Di dalam teks Islami, Nabi Idris atau Ukhnukh (Enoch), yang diidentikkan dengan Hermes, telah diberi gelar Abu al-Hukama,atau Bapak Para Filosof,.  Lihat “Hermes and Hermetic Writing in the Islamic World”in Nasr, Islamic Life anf Thought , (Chicago: ABC International Group, 2001), pp.102-19

[57] Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom.,p.46

[58] Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom.p.87

[59] Peter Kingsley, In the Dark Places of Wisdom p.62

[60] Ibid., p.320. See also Kingsley, Ancient Philosophy, Mysticism, and Magic, in Passim.

[61] Kingsley, Reality, P.323

[62] See, S.H. Nasr, An Introduction to Islamic Cosmological Doctrines  (Albany: State University of New York Press, 1993), Chapter 15, “Nature and The Visionary Recitals,” pp.263-74

[63] Lihat Huston Smith, Forgotten Truth (San Fransico: Harper, 1992), especially chapter 3, “Levels of Selfhood,” pp.60-95; also Rene Guenon, The Multiple States of being, Trans. Joscelyn Godwin (Burdett, NY: Larson, 1984).

[64] Lihat Huston Smith, Forgotten Truth  (San Francisco: Harper, 1992), especially chapter 3, “Levels of Reality,” pp. 34-59; and Chapter 4, “Levels of Selfhood,” pp.60-95; also Rene Guenon, The Multiple Stages of Being, Trans. Joscelyn Godwin (Burdett, NY: Larson, 1986).

[65] Kita hanya perlu membaca tentang ajaran besar tokoh bijaksana Sioux Elk Hitam untuk menyadari filosofi yang mendalam apa yang ada meskipun secara lisan antara orang-orang untuk siapa kenabian adalah realitas pusat kehidupan spiritual mereka. Lihat Joseph E. Browrn, The Pipe Suci (New York: Pengguin Metaphysical Library, 1986).

[66] Henry Corbin telah sangat peduli dengan issue ini dalam banyak karyanya yang kita akan beralih kemudian setelah volume ini.

[67] An New Worldview, http://www.centerfor sacredsciences.org,  accessed at October  2010

[68] Dalam Pandangan dunia Islami kita percaya bahwa alam semesta, manusia dan Tuhan adalah dalam SATU REALITAS (In Islamic worldview we believe that universe, man and God are in One Reality). Inilah konsep “Wahdat al-Wujud” dalam konsep ‘Arabi, or konsep “Al-Shalat al-Wujud” dalam istilah Mulla Sadra

[69] Dalam ajaran Mulla Sadra, ini diterangkan dengan konsep  “Itihad baina Aqil wa Ma’qul

[70] Resources and Link’s: As a starting point for further research on mysticism, science, and worldviews, we recommend the following resource: CSS Resources: Holos: Forum for a New Worldview: Holos Journalpublished by the Center for Sacred Sciences;  Articles : Science and Mysticism in the 20th Century by Joel, Questioning the Scientific Worldview by Tom McFarlane, The Illusion of Materialism by Tom McFarlaneOther Resources Books: The Need for a Sacred Science by Seyyed Hossein Nasr, The Structure of Scientific Revolutions by Thomas Kuhn, A Study of History by Arnold Toynbee, The Passion of the Western Mind by Richard Tarnas, The Social Construction of Reality by Peter Berger, Laws of Form by G. Spencer-Brown Audio:  Religious Diversity in America by Huston Smith and Diana Eck. A thirty-minute ReadAudio stream of a presentation sponsored by the Cambridge Forum a few weeks after 9/11/01. In the first half, Prof. Smith contrasts the traditional religious worldview with the modern materialistic worldview. In the second half, Prof. Eck discusses the present state of religious diversity in America and the different ways of dealing with these differences among us; Websites: The Center for Integral Science: (http://www.intergralscience.org), Laws of Form (http://www.lawsofform.org),

[71] Sub Judul ini adalah Article dari  Carl W. Ernst, University of North Carolina at Chapel Hill Middle East Studies Association Bulletin vol. 28, no. 2 (December 1994), pp. 176-81. Based on references bellows; Gai Eaton.  King of the Castle:  Choice and Responsibility in the Modern World.  216 pages.  2nd ed., Cambridge:  The Islamic Texts Society, 1990 [1977]; Martin Lings.  Symbol & Archetype:  A Study of the Meaning of Existence.  viii + 141 pages.  Index.  Cambridge:  Quinta Essentia, 1991.  ISBN 1-870196-04-X, 1-870196-05-8 paperback; Seyyed Hossein Nasr.  Traditional Islam and the Modern World.  London:  Kegan Paul International, 1990; Seyyed Hossein Nasr, ed.  Islamic Spirituality:  Manifestations.  World Spirituality, An Encyclopedic History of the Religious Quest, vol. 20.  xxviii + 548 pages.  Preface to the Series by Ewert Cousins, Introduction, Bibliography, Contributors, Photographic Credits, Index of Names.  New York:  The Crossroad Publishing Company, 1991.  ISBN 0-8245-0768-1.

[72] Huston Smith, “Is there a Perennial Philosophy?”, JAAR LV (1987):553-66; James S. Cutsinger, “The Knowledge that Wounds Our Nature:  The Message of Frithjof Schuon,” JAAR LX (1992):465-92.

[73] http://www.centerforsacredsciences.org/traditions.html

_______________

https://ahmadsamantho.wordpress.com/2015/11/23/menuju-paradigma-sains-islam-nusantara/#more-18668

PARIS ATTACKS FRIDAY 13 ; “Operasi Bendera Palsu” Oleh Kelompok Illuminati ?

Taut Posted on

Paris Attacks Hoax dan Operasi Bendera Palsu Yang Sudah Direncanakan

list of false flag in the world bendera palsu di dunia header

Paris Attacks Hoax dan Operasi Bendera Palsu Yang Sudah Direncanakan

france-paris-attacks 2015

Pada hari Jum’at, tanggal 13 alias Friday 13th di bulan November 2015 lalu, telah terjadi ledakan dan penembakan di beberapa tempat di Paris, Perancis. Membuat kepanikan di beberapa tempat, termasuk di gedung konser Bataclan Theatre, juga saat adanya pertandingan sepakbola antara Perancis vs Jerman, dan juga di sejumlah restaurant di kota Paris.

Teknik penyerangan ini dengan cara penembakan massal, bom, taktik tembak lari, penyanderaan dan serangan bunuh diri. Para militan berjumlah 7 orang, mereka memakai senapan serbu AK-47, geranat genggam dan sabuk peledak TATP.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/c/c4/Parisattacks.png/224px-Parisattacks.png

Peta lokasi serangan: 1: dekat Stade de France; 2: Rue Bichat dan rue Alibert (Le Petit Cambodge, Le Carillon); 3: Rue de la Fontaine-au-Roi (Casa Nostra); 4: Teater Bataclan; 5: Rue de Charonne (La Belle Équipe); Tanda Bintang: Bom bunuh diri terpisah (kecuali Bataclan).

Akibat penyerangan ini dilaporkan 129 orang tewas dan 352 orang terluka, 99 orang dari korban terluka dalam kondisi kritis.

Jumlah korban sebanyak 129 warga sipil, di Bataclan: 89 orang, di Le Carillon dan Le Petit Cambodge: 11 orang, di La Casa Nostra: 5 orang, di Stade de France: 6 orang dan di La Belle Équipe: 18 orang.

Sejauh ini korban luka sebanyak 352 orang termasuk 99 kritis.

Garis waktu serangan

  • 13 November:

21:16 – Bom bunuh diri pertama dekat Stade de France.
21:20 – Penembakan di Rue Bichat.
21:30 – Bom bunuh diri kedua di Stade de France.
21:45 – Empat pria memasuki teater Bataclan dan memulai penembakan.
21:50 – Penembakan di Rue de Charonne.
21:53 – Bom bunuh diri ketiga di Stade de France.
22:00 – Para sandera dibawa ke Bataclan.

  • 14 November:

00:58 – Kepolisian Perancis mengakhiri pengepungan di Bataclan, di mana 60–100 orang dijadikan sandera.

Hubungan Hari dan Tanggal Sial, “Friday 13th” dan “Knights Templar”

Hari Jumat tanggal 13 atau Jumat-13 atau Friday 13th di bulan apapun dan tahun berapapun, dianggap sebagai hari sial dalam banyak kepercayaan takhayul di Britania Raya, Eropa dan Amerika Serikat sejak dulu kala.

Di banyak negara lain, seperti Spanyol, Selasa-13 memiliki kepercayaan takhayul yang sama. Ketakutan pada hari Jumat tanggal 13 disebut sebagai paraskavedekatriaphobia atau paraskevidekatriaphobia. Hal ini merupakan bentuk khusus dari triskaidekafobia, atau fobia (ketakutan) terhadap angka 13.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/93/Papa_Clemens_Quintus.jpg

Paus Klemens V (Pope Clement V)

Pada tragedi “Paris Attacks” di hari Jum’at 13, November 2015 lalu, disebut oleh para pemerhati konspirasi sebagai “the latest of the West’s ‘ritual massacres’ ” .

Asal muasal yang asli dari Jumat-13 adalah kejadian pada hari Jumat, 13 Oktober 1307 (Friday, 13 October 1307) tanggal pada saat Philip IV dari Perancis yang dipimpin oleh Paus Klemens V (Pope Clement V), berhasil menangkap ratusanKsatria Templar atau Knights Templar.

Berikutnya, tujuh tahun kemudian di hari dan tanggal yang sama, Jumat 13 Maret di tahun 1314, terjadilah pembakaran di tiang Grand Master terhadap salah satu pimpinan Knights Templar yang bernama Jacques de Molay, di luar Katedral Notre Dame.

Itu sebabnya hari dan tanggal ini dipercaya oleh kaum ajaran sesat ini dipercaya harus melakukan ritual persembahan dan dikenal sebagai sebagai “Hari Persembahan” agar terhindar dari “Hari Sial”.

Gilanya, peristiwa ini tidak dimasukkan dalam sejarah sampai abad ke-20. Hal ini disebutkan dalam novel dan sejarah:

  • Tahun 1955 oleh Maurice Druon yang berjudul: “The Iron King (Le Roi de fer)”
  • Tahun 1989 oleh John J. Robinson yang berjudul: “Born in Blood: The Lost Secrets of Freemasonry”.
  • Tahun 20013 oleh Brown yang berjudul: “The Da Vinci Code”, dan
  • Tahun 2006 oleh Steve Berry yang berjudul: “The Templar Legacy”.

Siapa Knights Templar? Untuk yang satu ini, kita rehat sebentar dari Serangan Paris, dan akan dijelaskan sejarahnya secara singkat. Kini, Knights Templar atau The Crusaders pada masa sekarang, disebut sebagai “Ordo Bait Allah”. Padahal asal-muasal mereka sangatlah mengerikan, sebagai pembantai para kaum religius atau agamais, siapapun mereka.

Karena membunuh dan menganggap umat beragama sebagai musuh, itu artinya bahwa Knights Templar awalnya adalah para penganut Satanik (Satanism).

Mereka berasal dari Timur Tengah di daerah Jerusalem. Tepatnya di Al-Haram asy-Syarif atau Temple Mount, sebuah kompleks tempat dimana sekarang Masjid Al-Aqsa berdiri, Dome of the Rock berada sekaligus Tembok ratapan berada.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/4c/Israel-2013%282%29-Aerial-Jerusalem-Temple_Mount-Temple_Mount_%28south_exposure%29.jpg/320px-Israel-2013%282%29-Aerial-Jerusalem-Temple_Mount-Temple_Mount_%28south_exposure%29.jpg

Tampak kompleks Temple Mount dari sisi selatan

Mereka berhasil menguasai wilayah itu dari kaum religi dan berhasil mendudukinya setelah merampas dari pemuka Kristen dan Islam pada masanya dengan cara yang sangat biadab dan kejam dalam catatan sejarah.

Mereka adalah para penganut satanisme, penyihir aliran sesat, jago dalam hal pertukangan atau tukang batu, sekaligus sangat pintar, licik dan pandai dalam tak-tik perang.

Dideskripsikan pada masa lalu, pasukan ini ditakuti karena setiap kali membantai, mereka sangat sadis dan tak kenal siapapun dan apapun korbannya. Kebanyakan dari mereka yang dibantai adalah umat beragama, yaitu umat Kristen dan Muslim sebagai musuh mereka.

Dari anak kecil, wanita, orang tua dan lainnya mereka bunuh hingga dipotong kecil-kecil dan kadang dibuang ke sungai dan membuat sungai berwarna merah.

Peristiwa awal sejarah perjalanan the Knights Templar ini juga ditulis ulang dalam buku dari catatan sejarah pada masa lalu yang berjudul “The Holy Blood and the Holy Grail”oleh Michael Baigent, Richard Leigh dan Hendry Lincoln yang dirilis pada tahun 1982 lalu.

Lanjutan perjalanan dari sisa pasukan Knights Templar yang berhasil lolos dari raja Philip IV dari Perancis yang dipimpin oleh Paus Klemens V (Pope Clement V) tetap melanjutkan perjalanan menuju Skotlandia.

Kenapa mereka hijrah dari Jerusalem ke Skotlandia? Suatu ketika di pulau Inggris sedang terjadi perang antara Inggris dan Skotlandia. Kala itu panglima Skotlandia tewas terbunuh dan diambang kekalahan oleh pasukan Inggris.

blood on the river by knights templar

Lalu para komandan prajurit Skotlandia mendengar tentang pasukan Knights Templar ini. Kemudian mereka memanggilnya untuk membantu Skotlandia melawan Inggris dengan imbalan yang sesuai. Mendengar berita berikut imbalan itu, maka Knights Templar bergerak dari Jerusalem di Timur Tengah menuju Skotlandia.

Sungguh tak diduga berita itu bocor dan terdengar oleh pihak kerajaan Perancis yang pada masa itu memiliki religi Kristen yang kuat. Sebagian dari pasukan iblis ini pun berhasil dijebak dan ditangkap dalam perjalanannya ke Skotlandia. Sebagian lagi berhasil menghindar dan kabur untuk melanjutkan perjalanan ke Skotlandia.

Sesampainya di sana, para Uskup Agung Skotlandia terkejut dan menyatakan bahwa Knights Templar adalah Pasukan Iblis, para Uskup pun menolak bantuan mereka.

Namun apa boleh dibuat, Skotlandia semakin terdesak dan terdesak oleh pasukan Inggris. Oleh karena berbeda faham namun butuh, maka Pasukan Iblis itu akhirnya diubah namanya menjadi Knights Templar, dan diberikan lambang mirip salib berwarna merah agar tak terlalu terlihat mencolok dari asal dan tingkah laku mereka.

Lalu, mereka dimasukkan Kristen dan dibaptis agar pasukan Skotlandia tetap menjadi religius dan bersemangat untuk perang melawan Inggris. Setelah itu maka pasukan Knights Templar membantu pasukan Skotlandia yang akhirnya dimenangkan oleh pasukan Skotlandia yang dibantu pasukan Knights Templar dari Timur Tengah ini.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/03/Seal_of_Templars.jpg

A Seal of the Knights Templar

Setelah menang perang, salah satu kemauan Knights Templar adalah menjadi bangsawan dan anggota dewan di Skotlandia, maka keinginannya itu dikabulkan.

Knights Templar sejatinya adalah orang dari Timur Tengah berideologi satanisme dan merupakan turunan Yahudi yang membandel. Mereka adalah turunan dari Fira’un yang kaya raya denan harta yang melimpah hingga membuat banyak piramida. Ia dengan sekutunya selalu memburu para Nabi-Nabi untuk dibunuh.

Seperti sejarah yang sudah mencatatnya, hingga dalam kitab-kitab suci, ketika Nabi Musa dikejar oleh komplotan Fir’aun yang menganut satanisme ini untuk dibunuh, sehingga Nabi Musa sampai menyebrangi laut dengan cara mengetukkan tongkatnya, maka air laut pun mengering dan Nabi Musa beserta umatnya yaitu Yahudi yang religius terselamatkan menuju ke Timur Tengah.

https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/5/59/HPIM3597.JPG/278px-HPIM3597.JPG

Representation of a Knight Templar.

Hal serupa juga terjadi pada Nabi Ibrahim yang ditangkap lalu akan dibakar oleh turunan Fir’aun ini. Nabi Ibrahim pun berdoa agar api menjadi dingin. maka nabi Ibrahim terselamatkan dari nyala api besar yang berkobar membakar tubuhnya.

Hal ini terjadi juga kepada para Nabi-Nabi lain hingga Nabi Isa dan Nabi Muhammad. Mereka semua di fitnah dan diburu untuk dibunuh.

Namun perlu juga diingat, bahwa sejatinya umat Yahudi seperti umat agamais lainnya, ada yang pengikut setia para Nabi, dan ada pula yang kafir, bahkan tak pernah mengakui adanya Tuhan. Nah inilah keturunan Knights Templar dari darah Fir’aun!

Setelah turunan Knights Templar menjadi bangsawan dan anggota dewan di Skotlandia, maka mereka semakin banyak di Skotlandia.

Sampai posisi-posisi penting dan raja bisnis di Skotlandia juga dipegang turunan mereka. Dari sinilah terbentuk apa yang sekarang kita kenal sebagai kelompok  perkumpulan rahasia yang dikenal dengan nama “Freemasonry“.

Hingga suatu ketika raja Inggris meninggal dunia dan Inggris menjadi lemah. Keturunan Knights Templar yang tergabung dalam Freemasonry, akhirnya turunan mereka masuk juga ke wilayah Inggris hingga menjadi dewan di Inggris bahkan sampai menikah dengan keturunan kerajaan Inggris dan berkuasa.

Simbol Freemasonry

Akhirnya, seluruh dewan di Inggris dan sendi-sendi penting di Inggris, pengusaha-pengusaha besar bahkan sampai turunan kerajaan di Inggris adalah dari turunan Freemasonry yang berawal dari Knights Templar

Kelompok mereka semakin besar dan besar, semakin berpengaruh dan semakin berpengaruh, dan dikenal pada masa kini sebagai kelompok perkumpulan rahasia “Illuminati“. (lihat video singkat sejarah Knights Templar (bahasa Indonesia))

Apakah kini Anda sadar, mengapa sebabnya mereka memuja Piramida buatan Fir’aun? Lambang piramida segitiga? Berikut sebuah mata di puncaknya? Juga para dewa-dewa mereka dalam sosok bermuka anjing, kucing, kepala kerbau, kepala kambing, ular dan lainnya?

Mereka itulah sosok perwujudan jin jahat dan juga jin yang sangat pintar atau iblis (jin ifrit), sebagai tuhan mereka dalam ilmu SIHIR dengan melakukan persembahan-persembahan darah manusia, seperti tragedi 9/11 hingga Paris Attack dan akan ada persembahan-persembahan lainnya.

Oleh sebab itulah mereka memiliki DNA jahat, namun pintar dan licik, yang kini menjadi Yahudi dengan ideologi Zionist dan akhirnya berhasil membentuk negara Israel dengan mengorbankan ribuan liter darah orang Palestina dengan kekejamannya.

illuminati freemason level piramida

Sedangkan umat Yahudi yang religi atau agamais sejak dulu pengikut setia para Nabi dengan agama Hebrew, ditunggangi oleh mereka kaum Yahudi yang berfaham satanisme ini.

Itu sebabnya banyak Rabi-rabi Orthodok Yahudi seperti Rabi-Rabi kelompok Naturai Kerta tetap membela Palestina dan sangat marah kepada Zionist Israel karena mereka ditunggangi oleh kaumnya sendiri yang menganut satanisme.

Menurut pengakuan dari para Rabi Orthodok terutama yang sudah tua-tua, kaum Yahudi tidak boleh mendirikan negara, namun harus berbaur dengan masyarakat luas.

Mereka juga menyatakan bahwa dulu semasa kecil, mereka bergaul normal seperti anak-anak di berbagai negara, yaitu bermain bersama, bergaul bersama dan makan bersama tetangga dan kerabat mereka bangsa Arab.

Namun semenjak ideologi Zionist ada di Palestina, mereka kaum Yahudi dan Arab dipisahkan oleh fitnah ideologi Zionist agar ada kebencian, secara terus dan terus dan terus, sampai kini, sehingga mereka akhirnya terpecah dan berperang.

arab jews yahudi israel

Padahal, di Palestina ada juga bangsa Yahudi, beragama Hebrew, juga Kristen. Begitu pula di Israel, ada juga bangsa Arab, beragama Islam, juga Kristen.

Namun media seakan-akan memberitakan seolah mereka hanya satu ras, dan tidak ada pluralisme. Inilah bukti dari sisa-sisa adanya toleransi mereka sejak ribuan tahun lalu yang kini diacak-acak oleh Zionisme.

Kini kaum satanisme ini, terus dan terus membuat agama terkotak-kotak. Mereka menjadi donatur dan mendanai sempalan dan aliran dari agama-agama lama, menjadi agama-agama baru.

Zionislah yang paling suka dengan aliran dari agama-agama sempalan itu yang fanatik dan radikal. Merekalah guru besar penebar kebencian mirip ideologinya, Zion.

Kini berkat kelicikannya, mereka sudah masuk ke semua agama. Mereka mengadunya.

Padahal zaman para nabi, misalnya Nabi Isa (Yesus), hanya ada satu agama yaitu agama Nasrani, selain agama Hebrew, tak ada yang lain. Juga pada zaman Nabi Muhammad, selain agama Hebrew dan Nasrani, Islam hanya satu, tak ada Islam aliran apapun seperti masa kini.

Melalui para pemuka agama, mereka para satanisme mengambil peranan dengan cara mencuri hati mereka, mendanai mereka bahkan ikut masuk agama mereka dengan cara yang licik.

Inilah BUKTI bahwa agama yang diturunkan agar manusia menjadi penyayang, untuk kebaikan, kedamaian, kebenaran, keadilan, dan sifat baik lainnya, semakin lama semakin terpecah-pecah menjadi banyak sempalan, Kristen, Katolik, Protestan, Advent, Pantekosta. Dan semua merasa bahwa aliran mereka adalah yang PALING BENAR. Lalu siapakah yang salah?

israel insideIslam juga menjadi banyak aliran, Islam Sunni, Syiah, Wahabi, Suffi, Ahmadiyah, dan lain-lainnya, dan semua merasa bahwa aliran mereka adalah yang PALING BENAR. Lalu siapakah yang salah?

Apakah mereka para penghasut dari turunan Fir’aun dan Knights Templar, Freemason dan Illuminati, anda rasa tidak hebat, dalam menebar kebencian antar faham dan ras?

Agama lahir untuk mengerti dan toleransi terhadap perbedaan dan untuk menghormati perbedaan. Karena itulah Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai warna kulit, suku, ras dan peradaban serta kebudayaan. Zion-lah ideologi rasis penebar kebencian, kesombongan, fitnah dan dusta. Penebar provokasi, adu domba dan perselisihan. Mungkin Anda tak percaya, karena Anda tak akan pernah mau percaya oleh apapun yang anda tak tahu.

Apalagi pada masa kini, mereka turut disokong oleh pembentukan Persatuan Bangsa-Bangsa yang terdiri dari ratusan bangsa, dengan beberapa organisasi dibawahnya seperti WHO, FAO, UNICEF dan lainnya. Semua mereka kendalikan.

Ditambah, para pengusaha-pengusaha multi-perusahaan yang memiliki ratusan perusahaan terkemuka, nyaris semua dari turunan mereka. Para pengusaha multi-trilyun dollar ini bersatu dan membentuk lagi suatu kelompok rahasia yang bernama “The Bildeberg“. Komplit sudah kekuasannya atas planet ini. Apa lagi yang kurang?

Jaringan Bilderberg (klik untuk memperbesar)

Konser musik Death Metal yang bernama “Eagles of Death Metal”

Setelah mengetahui sejarah Knights Templar yang sebenarnya, kini kita kembali lagi ke masa kini, di Paris Jumat malam 13 November 2015 atau “Friday 13” itu, di gedung konser bernama Bataclan Theatre, sedang berlangsung konser musik Death Metal yang bernama “Eagles of Death Metal“.

Dilaporkan beberapa orang bersenjata melakukan penembakan massal di Bataclan, menewaskan sedikitnya 89 penonton konser dan melukai lebih dari 200 orang. Band rock dari Amerika yang bernama “Eagles of Death Metal” sedang bermain konser dan tiketnya terjual habis untuk sekitar 1.500 fans di Bataclan pada saat itu.

Eagles_of_Death_Metal members

Disebutkan bahwa band ini telah menjadi target dari Boikot anti-Israel, divestasi, dan gerakan sanksi (BDS), baik untuk tampil di Israel dan untuk anti-BDS dan pro-Israel karena pernyataan lirik mereka yang kuat.

Polisi kemudian menyerbu teater. Dua orang bersenjata bunuh diri dalam penyerbuan polisi dengan meledakkan rompi bunuh diri mereka memakai. Yang ketiga tewas akibat tembakan polisi sebelum ia bisa meledakkan rompinya.

Gitaris merangkap vokalis utama grup ini yang bernama Jesse Hughes, menamakan dirinya sebagai “The Devil” atau Iblis. Sangat kental hubungannya dengan “Friday 13th” dan hari sial ratusan Knights Templar yang pernah ditangkap oleh Philip IV dari Perancis.

Perlu diketahui bahwa kode keberadaan ordo Illuminati grup, selalu mengandalkan momen, logo, simbol dan angka dalam pergerakannya sebagai tanda atau kode, karena hal itu memang “bahasa” mereka untuk dapat diketahui oleh kelompok dan grup mereka yang lain.

Keanehan dan anomali di tempat kejadian

Hingga beberapa lama setelah beberapa tragedi di Paris tersebut, masih terjadi banyak keanehan, diantaranya:

  • Para pengunjung di tekmpat kejadian tidak dapat mengakses internet, padahal sinyal handphone tetap ada, mereka hanya bisa menelpon saja. Sepertinya akses ke internet diputus dengan sengaja.
  • Tidak ada banyak foto saat tragedi itu berlangsung, yang tersebar di internet hanya beberapa foto yang itu-itu saja dan itu pun dikeluarkan oleh para wartawan dari mainstream media tertentu.
  • Tidak ada rekaman dari kamera CCTV dari gedung-gedung juga tidak adanya rekaman dari CCTV jalanan.
  • Tidak ada banyak bukti video di tempat kejadian, kecuali lagi-lagi hanya dikeluarkan oleh para wartawan dari mainstream media tertentu.
  • Tidak adanya banyak foto hasil bidikan dari ribuan pengujung yang ada di tempat kejadian.
  • Tidak adanya foto atau video yang memperlihatkan mayat-mayat korban ditempat kejadian, yang di klaim telah terbunuh lebih dari 150 orang. Yang ada hanya satu atau dua mayat, dan itupun sudah ditutup oleh kain.

Paris Attacks anomaliesDengan adanya beberapa keanehan itu, maka timbul pertanyaan. Apakah dari ribuan masyarakat yang sedang berada di sana tidak ada yang membawa smartphone? Atau smartphone mereka hanyalah ponsel kuno yang tidak memiliki kamera seperti Nokia 5110?

Untuk Kesekian Kalinya, Memakai Operasi “False Flag” dan “Crisis Actor” dalam misinya

Dalam banyak tragedi dalam beberapa puluh tahun, kelompok jahat ini selalu memakai metode bendera palsu atau “false flag” dan “crisis actor”.

  • False Flag

false-flag-1Operasi Bendera Palsu atau False Flag Operationadalah operasi rahasia yang dilakukan oleh pemerintah, perusahaan atau organisasi, yang dirancang untuk muncul seolah-olah hal itu sedang dilakukan oleh entitas lain.

Nama ini berasal dari konsep militer yang mengibarkan warna bendera yang palsu atau salah, yaitu mengibarkan bendera negara lain dan bukan benderanya sendiri.

Operasi Bendera Palsu tidak terbatas pada operasi perang dan operasi kontra-pemberontakan (counter-insurgency operations), namun juga telah digunakan pada masa damai, misalnya selama strategi ketegangan di Italia.

Istilah ini berasal dari kapal-kapal perang kayu dimasa lalu, ketika salah satu kapal perang itu justru mengibarkan bendera musuhnya sebelum menyerang kapal lain dari pihak musuh mereka.

Operation False FlagJadi, yang dikibarkan dari kapal yang ikut menyerang adalah justru bendera musuhnya, dan bukan bendera negara yang sebenarnya.

Bendera musuh itu digantung dan dikibarkan, dan hal itu mengecohkan lawan. Maka sejak itu taktik tersebut dkenal sebagai “Serangan Bendera Palsu” atau “False Flag Attack”.

Memang, konsep ini sangat diterima dengan baik, bahwa aturan keterlibatan itu digunakan juga untuk Angkatan Laut, Angkatan Udara, Angkatan Darat ataupun peperangan di darat, namun pada masa itu semua melarang Serangan Bendera Palsuatau “False Flag Attack” ini.

Tapi apa yang terjadi pada kenyataannya? Para illuminatis tetap memakainya sebagai tipu daya dan fitnah kepada semua kelompok agama untuk mengadu-domba mereka! Sejak lama mereka selalu memakainya.

Dari tragedi bom di bus London, tragedi bom di kereta api, peristiwa 9/11, bom Boston Marathon, tragedi penembakan-penambakan di AS, hingga tragedi-tragedi memilukan di dunia lainnya termasuk banyak peperangan yang diawali dari operasi bendera palsu ini (baca: Inilah Puluhan “Operasi Bendera Palsu” (False Flag Operation) Yang Diakui Pemerintah Dunia)

  • Crisis Actor

Paris attaks crisis actor

Selain itu, mereka juga memakai Crisis Actor dalam mendukung misinya agar terlihat sangat dramatis dan menyeramkan.

Crisis Actor atau “Aktor Krisis” adalah orang-orang yang disewa untuk dipakai di tempat kejadian perkara (on the scene) yang hadir secara terencana sebagai korban-korban dari suatu peristiwa agar terlihat lebih tragis dan sangat memilukan.

Mereka dipasang di tempat kejadian perkara dan dapat ditempatkan sebagai korban langsung seperti badannya yang berdarah hingga memiliki organ yang putus.

Atau dapat pula sebagai layaknya badut yang terlihat pura-pura panik, menangis tersedu-sedu, menjadi pengunjung, ahli medis, polisi dan lainnya.

Aktor Krisis yang memiliki kecacatan fisik, misal tangan atau kaki yang putus, biasanya mereka digunakan dalam latihan militer di AS. Mereka dijadikan sebagai prajurit yang seakan terkena granat, pecahan mortir atau tembakan. Mereka dipakai dalam latihan perang agar para prajurit seakan benar-benar berada di zona perang yang dramatisir, dan mereka dibayar untuk hal ini.

Layaknya sebuah scene pada saat pembuatan sebuah  film, pada suatu tragedi di perkotaan, mereka disebar pada lingkup yang sudah direncanakan. Mereka terbukti memang sudah digunakan pada peristiwa atau tragedi sebelum Paris Attacks pada Jumat 13 November ini.

Mereka sudah terlihat sejak peristiwa pengeboman di Inggris, hingga tragedi WTC 9/11 sebagai nara sumber yang diwawancarai oleh stasiun-stasiun TV grup mereka.

Selain tragedi 9/11, mereka juga digunakan pada peristiwa tragedi penembakan Aurora, Sandy Hooks, Boston Marathon, hingga Paris Attacks ini. Apakah anda ingin ikut menjadi Aktor Krisis untuk tragedi berdarah Operasi Bendera Palsu berikutnya? Disini ada link tautan yang anda harus isi aplikasinya.

crisis actors boston bombings SMALL

Ditemukan Passport Teroris oleh Polisi Perancis

Ribuan polisi Perancis dikerahkan dalam tragedi Paris Attacks ini. Dua petugas polisiPerancis mengatakan bahwa mereka telah menemukan dua pasport asal Mesir & Suriah ditubuh salah satu pelaku bom bunuh diri yang menargetkan stadion sepak bola nasional Perancis.

Para militan terdiri dari 7 orang, mereka berasal dari: 3 orang dari Molenbeek, Belgia, lalu seorang bernama Omar Ismaël Mostefai, seorang bernama Ahmed Almuhamed dan sisanya 2 orang belum diketahui.

terrorist forget passwordPresiden Prancis Francois Hollande mengatakankelompok Negara Islam (ISIS) telah mengatur serangan, dan ISIS juga telah mengaku bertanggung jawab.

Identitas dan kebangsaan dari para penyerang belum dirilis. Para pejabat polisi menyatakan dengan syarat anonim, karena mereka tidak berwenang untukmemberikan nama-nam itu ke publik.

Penemuan passport ini sangat aneh, hal yang sama juga terjadi pada tragedi penembakan MH17 milik Malaysian Airlines, dimana passport-passport para penumpang ditemukan secara utuh tak rusak sedikitpun.

Dalam hal Paris Attack ini, passport berada di badan yang terkena bom, namun betapa bodohnya jika teroris ingin menjalankan misinya membawa identitas, apalagi passport.

Motif dari penyerangan ini akibat pertentangan ideologi bahwa Paris adalah ibu kota “penistaan dan kelaknatan”, juga sebagai balasan atas serangan udara Perancis di Suriah dan Irak. Selain itu kebijakan luar negeri PM François Hollande di negara-negara Muslim yang selalu merugikan. Hingga kini, berita dan penyelidikannya masih berlangsung.

Info tragedi ditulis lebih cepat dari info wartawan dan di Tweet oleh seseorang sebelum kejadian

Muncul pula rumors bahwa tragedi ini memang akan terjadi dan sudah diketahui oleh beberapa orang yang misterius. Semua itu diungkap dari wikipedia dan akun twiiter yang sudah terlebih dahulu menulisnya. Maka hal ini menimbulkan konspirasi dan banyak kecurigaan dari netizen yang kemudian menulisnya dan membahasnya di banyak forum di dunia maya pada saat itu.

Dilaporkan oleh banyak forum di internet bahwa akun di wikipedia dengan IP Address (82.45.236.70) adalah alamat koneksi internet dari Inggris yang dimiliki oleh VirginMedia Consumer Broadband UK.

soccer france-germany paris attacks

Kejadian Paris Attacks dilaporkan terjadi pada hari Jumat 13 November pukul 21:16 CET waktu setempat. Beberapa orang yang ingin mengetahui peristiwa ini merujuk ke wikipedia. Tulisan pertama ditulis pada pukul 21:22 oleh akun Gareth E Kegg, namun baru ditulis seadanya.

Dalam dua jam ke depannya, berita masih simpang-siur dan belum ada laporan resmi. Namun di wikipedia, uraian artikel itu ternyata sudah sedemikian detail. Awalnya banyak wartawan yang mencari tahu di internat bingung dan tak mengerti apa yang dimaksud dalam tulisan di wikipedia, karena terlihat hanya spekulasi dan masih tak jelas sumbernya.

Tapi beberapa jam sesudahnya, mereka dibuat bingung lagi karena apa yang tadinya mereka baca sebelumnya memang benar seperti apa yang akhirnya diberitakan. Darimana si penulis tahu secara detail? Karena tulisan di wikipedia yang sudah sedemikian detail ini, ditulis hanya 2 jam setelah tragedi!

Dari track record di wikipedia, pada pukul 23:06 telah ditulis peristiwa ini secara detail, lengkap dengan statement dari presiden Prancis, outline yang cukup lengkap dari tragedi ini termasuk titik-titik lokasi kejadian. Banyak wartawan bingung dibuatnya, bagaimana si penulis tahu hanya dua jam setelah kejadian!? Sedangkan banyak wartawan yang mencari informasi di lapangan tidak tahu. Namun setelah mereka mengakses wikipedia, mereka pun dibuat terkejut.

paris attacks wikipedia 01

Salah satu wartawan menulis dalam laporannya:

“I began reading the current version of the article and then decided to read a much earlier version. I chose the 23:18 version for this article, not overly consciously. At that point I did not understand very much.

By the time I got myself organized here, I saw that the earliest versions of the article had just been erased from Wikipedia’s change record. Everything before 00:00 was erased from the record, preventing access to the originals of the story. That aroused my suspicions immediately.

(That list of deleted versions was gotten again by going to the user page of the person who wrote the article, known only by his number 82.45.236.70. The list appeared there and the articles proved linkable and recoverable. You can reach them, until they’re taken down, by clicking on the list given in Footnote 1.)

The 23:18 version includes discussions of the hostage-taking, complete with an approximate number of hostages involved (60), as well as detailed accounts of events at several locations. It even has a detailed bibliography. How could your average Wikipedia author have done this incredible piece of work and in less than two hours? Obviously this was not your average Wikipedia author.”

Semua itu dapat terlihat dari rekam jejak penulisan mengenai Paris Attacks di wikipedia yang tak bisa dihapus.

Juga dari akun misterius di twitter yang sudah men-twit-nya sejak dua hari sebelum tragedi ini terjadi. Akun yang mengatasnamakan PZbooks (PZFeed Ebooks) yang masih misterius ini, akhirnya sudah di suspend oleh pihak berwajib.

paris attacks twitter 01

Ia menulis di twitternya pada tanggal 11 November, dua hari sebelum peristiwa terjadi. Namun setelah ditelusuri, ternyata ia hanya mengedit dari peristiwa dan tragedi sebelumnya.

Mungkin hal inilah yang menimbulkan kecurigaan dari pihak admin Twitter yang kemudian langsung menangguhkan dan menghapus akun bernama PZbooks tersebut.

Selain itu Presiden Russia Vladimir Putin juga memprediksikan akan ada “pembantaian” besar di Paris, Perancis. Namun menurutnya pembantaian itu dilakukan oleh kelompokNew World Order (NWO) besutan illuminati grup, bersama agen rahasia Amerika Serikat  CIA, intelijen Israel Mossad dan intelijen Inggris M16.

Netizen Dunia Maya Berbeda Pendapat

terrorist paris attacks passportNetizen sejagat internet pun terbelah menjadi dua kubu, yang percaya bahwa tragedi ini benar adanya seperti yang dirilis mainstream media besutan barat, dan satu kelompok lainnya yang tidak percaya dengan alasan bahwa “tragedi bohong” ini sudah beberapa kali digelar dan memang tak dapat dibuktikan kebenarannya akibat banyaknya keanehan dan keganjilan dalam “skenario-skenario”nya selama beberapa tahun belakangan ini.

Lalu bagaiman sikap warga Muslim di kota Paris selanjutya. Seorang ulama Islamic scholar author dan philosopher spesial di bidang agama Islamic eschatology, world politics, economics, dan modernsocio-economic/political issues. Mengunggah sebuah pesan video yang ditujukan kepada warga Muslim di Paris.

Ia menyatakan agar warga Muslim di Paris untuk pindah atau berhijrah, karena di kota itu susah bagi Muslim untuk manjalani hak-hak dalam kehidupan mereka. Seperti tidak bolehnya berhijab, atau tak bolehnya beribadah di Masjid. Jika ketahuan, kemungkinan mereka akan dipecat dari kantornya.

_____________

https://indocropcircles.wordpress.com/2015/11/16/paris-attacks-hoax-operasi-bendera-palsu-yang-sudah-direncanakan/

Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

Taut Posted on Updated on

8939_10152939599212652_623790380843776990_n

Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

Nusantara Islam is a distinctive Islam resulting from vivid, intense and vibrant interaction, contextualization, indigenization and vernacularization of universal Islam with Indonesian social, cultural and religious realities–this is Islam embedded. Nusantara Islamic orthodoxy (Ash’arite theology, Shafi’i school of law, and Ghazalian Sufism) nurtures the Wasatiyyah character–a justly balanced and tolerant Islam. Nusantara Islam, no doubt, is very rich with Islamic legacy–a shining hope for a renaissance of global Islamic civilization”.

Nahdlatul Ulama (NU) beberapa hari yang lalu menggelar Muktamar ke-33 tahun di Jombang, Jawa Timur. Gelaran yang sudah dimulai sejak 1 Agustus hingga 5 Agustus 2015 itu mengusung tema utama Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia.

Konsep Islam Nusantara belakangan nyaring digaungkan. Di mana konsep tersebut merupakan Islam khas ala Indonesia yang merupakan gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi lokal, budaya, dan adat istiadat di Tanah Air.

Istilah Islam Nusantara agaknya ganjil didengar, sama dengan Islam Malaysia, Islam Saudi, Islam Amerika, dan seterusnya, karena bukankah Islam itu satu, dibangun di atas landasan yang satu, yaitu Alquran dan Sunnah. Memang betul Islam itu hanya satu dan memiliki landasan yang satu, akan tetapi selain memiliki landasan nash-nash syariat (Alquran dan Sunnah), Islam juga memiliki acuan maqāṣīd al-syarīʻah (tujuan syariat). Maqāṣīd al-syarīʻah sendiri digali dari nash-nash syariah melalui sekian istiqrāꞌ(penelitian).

Azyumardi Azra, Cendekiawan Muslim Indonesia, Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ketika menjelaskan tentang apa sesungguhnya makna terdalam dari konsep Islam Nusantara. Bagi Azra, “Islam Nusantara adalah Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya dan agama di Indonesia. Ortodoksi Islam Nusantara (kalam Asy’ari, fikih mazhab Syafi’i, dan tasawuf Ghazali) menumbuhkan karakter wasathiyah yang moderat dan toleran. Islam Nusantara yang kaya dengan warisan Islam (Islamic legacy) menjadi harapan renaisans peradaban Islam global”.

Memang, filologi adalah salah satu pilar di antara pilar-pilar ilmu lain untuk menggali kekayaan sastra, budaya, dan tradisi intelektual Islam Nusantara. Dalam sebuah perbincangan via surat elektronik, Fachry Ali yang alumni FAH tahun 1984 itu menyapa Azra, katanya: “…Now, as the dean of the Adab Faculty, using your own phrase on the obligation of developing philology at the UIN, it has become your fardlu ‘ain to make a thorough study on this subject matter: a Ciputat intellectual history…“.

Said Aqil Siradj menegaskan bahwa Islam Nusantara bukanlah ajaran atau sekte baru dalam Islam sehingga tidak perlu dikhawatirkan. Menurut Kiai Said, konsep itu merupakan pandangan umat Islam Indonesia yang melekat dengan budaya nusantara. Ia menjelaskan, umat Islam yang berada di Indonesia sangat dekat dengan budaya di tempat mereka tinggal dan inilah yang menjadi landasan munculnya konsep Islam Nusantara.

Dalam konsep tersebut kata dia, menggambarkan umat Islam Indonesia yang menyatu dengan budaya hasil kreasi masyarakat yang tidak bertentangan dengan syariat Islam.

“Kita harus menyatu dengan budaya itu, selama budaya itu baik dan tidak bertentangan itu semakin membuat indah Islam, kita tidak boleh menentang atau melawannya. Terkecuali budaya yang bertentangan dengan syariat, seperti zinah, berjudi, mabuk dan lainnya,” terang Kiai Said beberapa waktu lalu.

Dalam sebuah perbincangan ringan dengan Komaruddin Hidayat (saat masih menjabat Rektor UIN), Susilo Bambang Yudhoyono (saat telah lengser sebagai Presiden RI ke-6) bersaksi bahwa masyarakat Muslim internasional sangat banyak berharap agar Indonesia menjadi prototype peradaban Islam di era kontemporer, mengingat karakter masyarakatnya yang multikultural, multietnik, moderat, dan jauh lebih toleran dibanding negara-negara Muslim lain. Itu pula yang mendorong Komarudin Hidayat menggebu-gebu dan bermimpi Indonesia memiliki ikon pendidikan tinggi Islam yang disegani dunia.

Gus Mus juga menjelaskan, NU membuat tema muktamar tentang Islam Nusantara. “Tapi geger, kaget-kaget bagi orang yang tidak pernah ngaji. Kalau pernah ngaji pasti tahu idhofah(penyandaran) mempunyai berbagai makna, dalam arti mengetahui kata Islam yang disandarkan dengan kata Nusantara,” jelasnya.

Gus Mus mencontohkan istilah “air gelas” apakah maknanya airnya gelas, apa air yang digelas, apakah air dari gelas, apa gelas dari air. padahal bagi santri di pesantren sudah diajari untuk memahami seperti itu.

Secara sederhana, Gus Mus menjelaskan maksud Islam Nusantara yakni Islam yang ada di Indonesia dari dulu hingga sekarang yang diajarkan Walisongo. “Islam ngono iku seng digoleki wong kono (Islam seperti itu yang dicari orang sana), Islam yang damai, guyub (rukun), ora petentengan (tidak mentang-mentang), dan yang rahmatan lil ‘alamin,” terangnya.

Walisongo menurut Gus Mus, memiliki ajaran-ajaran Islam yang mereka pahami secara betul dari ajaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW. “Walisongo tidak hanya mengajak bil lisan, tapi juga bil hal, tidak mementingkan formalitas, tetapi inti dari ajaran Islam,” tegas Gus Mus

Ulama kita zaman dahulu sudah terlalu banyak yang mereka lakukan. Di antaranya adalah melakukan penelitian dengan menjadikan nash-nash syariat, hukum-hukum yang digali dari padanya, ʻillat-ʻillat dan hikmah-hikmahnya sebagai obyek penelitian. Dari penelitian itu diperoleh kesimpulan bahwa di balik aturan-aturan syariat ada tujuan yang hendak dicapai, yaitu terwujudnya kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.

Kemaslahatan (maṣlaḥah) semakna dengan kebaikan dan kemanfaatan. Namun, yang dimaksud dengan maslahat dalam konteks ini adalah kebaikan dan kemanfaatan yang bernaung di bawah lima prinsip pokok (al-kulliyāt al-khams), yaitu hifẓ al-dīn, hifẓ al-ʻaql, hifẓ al-nafs, hifẓ al-māl, dan hifẓ al-ʻirḍ.

Ulama Uṣūl Fiqh membagi maslahat kepada tiga bagian. Pertama, maslahat muʻtabarah, yaitu maslahat yang mendapat apresiasi dari syariat melalui salah satu nashnya seperti kearifan dan kebijakan dalam menjalankan dakwah islamiah. Kedua, maslahat mulgāh, yaitu maslahat yang diabaikan oleh syariat melalui salah satu nashnya seperti menyamaratakan pembagian harta pusaka antara anak laki-laki dan anak perempuan. Ketiga, maslahat mursalah, yaitu kemaslahatan yang terlepas dari dalil, yakni tidak memiliki acuan nash khusus, baik yang mengapreasiasi maupun yang mengabaikannya seperti pencatatan akad nikah.

Tujuan negara dalam Islam sejatinya sejalan dengan tujuan syariat, yaitu terwujudnya keadilan dan kemakmuran yang berketuhanan yang Maha Esa, negara yang memiliki dimensi kemaslahatan duniawi dan ukhrawi seperti tersebut sesungguhnya sudah memenuhi syarat untuk disebut negara khilāfah, sekurang-kurangnya menurut konsep al-Mawardi. Dalam hal ini menurut beliau, “الامامة موضوعة لخلافة النبوة فى حراسة الدين وسياسة الدنيا”/kepemimpinan Negara diletakkan sebagai kelanjutan tugas kenabian dalam menjadi agama dan mengatur dunia.

Maqāṣīd al-syarīʻah sekurang-kurangnya penting diperhatikan dalam dua hal:

  1. Dalam memahami nuṣūṣ al-syarīah, nash-nash syariat yang dipahami dengan memperhatikan maqāṣīd al-syarīʻah akan melahirkan hukum yang tidak selalu tekstual tetapi juga kontekstual.
  2. Dalam memecahkan persoalan yang tidak memiliki acuan nash secara langsung. Lahirnya dalil-dalil sekunder (selain Alquran dan Sunnah) merupakan konsekuensi logsi dari posisi maslahat sebagai tujuan syariat. Di antara dalil-dalil sekunder adalahal-Qiyās, Istiḥsān, Sadd al-żarīʻah, ʻurf, dan maṣlaḥah mursalah seperti disinggung di atas.

Al-Qiyās ialah memberlakukan hukum kasus yang memiliki acuan nash untuk kasus lain yang tidak memiliki acuan nash karena keduanya memiliki ʻillat (alasan hukum) yang sama.

Istiḥsān ialah kebijakan yang menyimpang dari dalil yang lebih jelas atau dari ketentuan hukum umum karena ada kemaslahatan yang hendak dicapai.

Sadd al-żarīʻah ialah upaya menutup jalan yang diyakini atau didgua kuat mengantarkan kepada mafsadat.

ʻUrf adalah tradisi atau adat istiadat yang dialami dan dijalani oleh manusia baik personal maupun komunal. ʻUrf seseorang atau suatu masyarakat harus diperhatikan dan dipertimbangkan di dalam menetapkan hukum sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Mengabaikan ʻurfyang sahih seperti tersebut bertentangan dengan cita-cita kemaslahatan sebagai tujuan (maqāṣid) syariat.

Sebagian ulama mendasarkan posisi ʻurf sebagai hujjah syarʻiyyah pada fiman Allah,

خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين

Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (al-Aʻrāf: 199)

Dan sebagian yang lain mendasarkan pada hadis riwayat Ibn Masʻūd,

ما رآه المسلمون حسنا فهو عند الله حسن

Apa yang oleh kaum muslimin dipandang baik, maka baik pula menurut Allah.

Al-Sarakhsi mengungkapkan dalam kitab al-Mabsūṭ,

الثابت بالعرف كاالثابت بالنص

Yang ditetapkan oleh ʻurf sama dengan yang ditetapkan oleh nash.

Pada titik ini perlu ditegaskan bahwa Islam bukanlah budaya karena yang pertama bersifat ilahiah sementara yang kedua adalah insaniah. Akan tetapi, berhubung Islam juga dipratikkan oleh manusia, maka pada satu dimensi ia bersifat insaniah dan karenanya tidak mengancam eksistensi kebudayaan.

Selain nuṣūṣ al-syarīʻah dan maqāṣīd al-syarīʻah, Islam juga memiliki mabādiꞌ al-syarīʻah (prinsip-prinsip syariat). Salah satu prinsip syariat yang paling utama sekaligus sebagai ciri khas agama Islam yang paling menonjol adalah al-wasaṭiyyah. Hal ini dinyatakan langsung oleh Allah swt dalam firman-Nya,

وَكَذلِك جَعَلْناكُم أُمَّةً وَسَطا لِتَكُوْنُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ عَلَيْكَم شَهِيدًا.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…”(al-Baqarah: 143)

Wasaṭiyyah yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata moderasi memiliki beberapa makna. Salah satu maknanya adalah al-wāqiʻiyyah (realistis). Realistis di sini tidak berarti taslīm atau menyerah pada keadaan yang terjadi, akan tetapi berarti tidak menutup mata dari realita yang ada dengan tetap berusaha untuk menggapai keadaan ideal.

Banyak kaidah Fikih yang mengacu pada prinsip wāqiʻiyyah, di antaranya:

 الضرر يزال

اذا ضاق الامر اتسع واذا اتسع ضاق

درء المفاسد مقدم على جلب المصالح

النزول الى الواقع الأدنى عند تعذر المثل الأعلى

دارهم ما دمت فى دارهم، وحيهم ما دمت فى حيهم

Dakwah beberapa Wali Songo mencerminkan beberapa kaidah di atas. Secara terutama adalah Kalijaga dan Sunan Kudus. Sunan Kalijaga misalnya sangat toleran pada budaya lokal. Ia berkeyakinan bahwa masyarakat akan menjauh jika pendirian mereka diserang. Maka mereka harus didekati secara bertahap, mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis (penyesuaian antara aliran aliran) dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut tidak hanya kreatif, tapi juga sangat efektif (wa yadkhulūna fī dīn Allahi afwājān). Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.

Demikian juga dengan metode Sunan Kudus yang mendekati masyarakatnya melalui simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Ada cerita masyhur, suatu waktu, ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tabligh-nya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al-Baqarah yang berarti “Seekor Sapi”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Suatu pendekatan yang agaknya meng-copy pastekisah 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Perlu juga dikemukakan perbedaan prinsip antara Fikih ibadat (ritual) dan muamalat (sosial). Salah satu kaidah Fikih ibadat mengatakan “الله لا يعبد الا بما شرع”/Allah tidak boleh disembah kecuali dengan cara yang disyariatkan-Nya. Sebaliknya kaidah Fikih muamalat mengatakan, “المعاملات طلق حتى يعلم المنع”/Muamalat itu bebas sampai ada dalil yang melarang.

Paparan di atas dikemukakan untuk menjelaskan manhaj Islam Nusantara sebagaimana dibangun dan diterapkan oleh Wali Songo serta diikuti oleh ulama Ahli al-Sunnah di Negara ini dalam periode berikutnya.

Islam Nusantara ialah faham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat.

Satu lagi contoh penting dari bagaimana ulama Nusantara memahami dan menerapkan ajaran Islam adalah lahirnya Pancasila. Pancasila yang digali dari budaya bangsa Indonesia diterima dan disepakati untuk menjadi dasar negara Indonesia, meskipun pada awalnya kaum muslimin keberatan dengan itu, karena yang mereka idealkan adalah Islam secara eksplisit yang menjadi dasar negara. Namun, akhirnya mereka sadar bahwa secara substansial pancasila adalah sangat Islami. Sila pertama yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan tauhid dalam akidah keislaman. Sedangkan sila-sila yang lain merupakan bagian dari representasi syariat.

Seandainya kaum muslimin ngotot dengan Islam formalnya dan kelompok lain bersikeras dengan sekulerismenya barang kali sampai saat ini negara Indonesia belum lahir. Itulah pentingnya berpegang pada kaidah “درء المفاسد مقدم على جلب المصالح”/Menolak mudarat didahulukan daripada menarik maslahat.

Pemahaman, pengalaman, dan metode dakwah ulama Nusantara, sejauh ini,telah memberikan kesan yang baik, yaitu Islam yang tampil dengan wajah sumringah dan tidak pongah, toleran tapi tidak plin-plan, serta permai nan damai.

Saat ini, dunia Islam di Timur Tengah tengah dibakar oleh api kekerasan yang berujung pada pertumpahan darah. Ironisnya, agama Islam acapkali digunakan sebagai justifikasi bagi pengrusakan-pengrusakan tersebut. Maka cara berislam penuh damai sebagaimana di Nusantara ini kembali terafirmasi sebagai hasil tafsir yang paling memadai untuk masa kini.

Yang menjadi pekerjaan rumah bersama adalah bagaimana nilai-nilai keislaman yang telah dan sedang kita hayati ini, terus dipertahankan. Bahkan, kita harus berupaya ‘mengekspor’ Islam Nusantara ke seantero dunia, terutama ke bangsa-bangsa yang diamuk kecamuk perang tak berkesudahan, yaitu mereka yang hanya bisa melakukan kerusakan (fasād) tapi tidak kunjung melakukan perbaikan (ṣalāḥ). Tugas kita adalah mengenalkan Allah yang tidak hanya menjaga perut hamba-Nya dari kelaparan, tapi juga menenteramkan jiwa dari segala kekhawatiran,

فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ، الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوْعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ.

Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” (Quraisy: 3-4)

KH A Mustofa Bisri atau Gus Mus mengungkapkan, saat ini dunia sedang melirik Indonesia sebagai referensi keislaman, sudah tidak lagi melirik ke Islam di Timur-Tengah yang hingga kini masih terjadi banyak keributan.

“Sampean (kalian) jangan bingung, mana yang Islam mana yang bukan Islam. Sana kok membunuh orang, sini kok membunuh orang juga. Sana kok ngebom, sini kok ngebom. Itu Islam dengan sesama Islam, apa non-Islam dengan non-Islam?” ungkap Rais ‘Aam PBNU itu saat menyampaikan tausiyah di Pengajian Pitulasan Masjid Al-Aqsha Menara Kudus, kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Ahad (12/7) malam.

Kiai yang akrab disapa Gus Mus itu merasa bingung karena kondisi Islam di Timur Tengah selama ini sebagai kiblat Islam, khususnya Saudi Arabia, tetapi kenyataannya banyak pihak yang tidak cocok dengan Saudi Arabia.  “Kacau balau, antara politik dan agama sudah campur aduk ora karu-karuan. Akhirnya terjadi di negara-negara yang penduduknya mayoritas tidak muslim timbul Islamophobia. Ketika melihat orang Islam, pada ketakutan karena takut dibunuh, takut dibom,” sindir Gus Mus.

Pokoknya yang anti Islam semakin lama semakin meningkat gara-gara umat Islam yang tidak mencerminkan keislaman yang rahmatan lil alamin, tapi justru laknatan lil alamin,” tambah Gus Mus di hadapan ratusan hadirin

Karakter Islam Indonesia yang sedemikian memikat dunia itu tentunya tidak terbentuk tiba-tiba, melainkan diawali dengan lahirnya tradisi, budaya, dan kesusastraan Islam sufistis sejak awal abad ke-16. Michael Laffan, dalam bukunya The Makings of Indonesian Islam: Orientalism and the Narration of a Sufi Past (2011) menjelaskan bahwa wajah Islam Indonesia tidak mulai dibentuk pada masa kolonial seperti banyak diasumsikan oleh para sarjana. Ia adalah kelanjutan dan buah dari pertemuan beragam tradisi, budaya, intelektualitas, dan agama yang telah saling berinteraksi sejak awal masuknya Islam ke wilayah ini. Tradisi Arab, Cina, India, dan Eropa, semuanya berjalin berkelindan membentuk karakter wasathiyah seperti dijelaskan Azra di atas.

Kalau masyarakat Muslim dunia berharap agar karakter Islam Nusantara menjadi inspirasi perdamaian global, lalu siapa di sini yang akan menjadi “guardian”nya? siapa yang akan menjaga, merawat, mewarisi, mengkaji, dan menyebarkan gagasan-gagasan Islam kultural tersebut serta menerjemahkannya dalam ranah yang lebih praksis agar memberikan kontribusi riil terhadap peradaban dunia ?

Penjelasan Bagi Yang Kontra 

Wacana tentang Islam Nusantara telah memunculkan perdebatan di kalangan umat Islam. Katib Syuriyah PBNU, KH Afifuddin Muhajir, mencoba memberikan penjelasan tentang apa itu sebenarnya maksud dari Islam Nusantara.

Dalam tulisannya yang dimuat dalam situs resmi NU http://www.nu.or.id, KH Afifuddin Muhajir, menyebutkan bahwa istilah Islam Nusantara akhir-akhir ini mengundang banyak perdebatan sejumlah pakar ilmu-ilmu keislaman. Sebagian menerima dan sebagian menolak. Alasan penolakan mungkin adalah karena istilah itu tidak sejalan dengan dengan keyakinan bahwa Islam itu satu dan merujuk pada yang satu (sama) yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah.

Menurutnya, kadang suatu perdebatan terjadi tidak karena perbedaan pandangan semata, tetapi lebih karena apa yang dipandang itu berbeda. KH Afiffuddin memberikan jawaban bagi mereka yang menolak “Islam Nusantara”.

Seperti jamak diketahui, kata KH Afifuddin, Al-Quran sebagai sumber utama Agama Islam memuat tiga ajaran. Pertama, ajaran akidah, yaitu sejumlah ajaran yang berkaitan dengan apa yang wajib diyakini oleh mukallaf menyangkut eksistensi Allah, malaikat, para utusan, kitab-kitab Allah, dan hari pembalasan.

Kedua, ajaran akhlak/tasawuf, yaitu ajaran yang berintikan takhalli dan tahalli, yakni membersihkan jiwa dan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat terpuji. Ketiga, ajaran syariat, yaitu aturan-aturan praktis (al-ahkam al-‘amaliyah) yang mengatur perilaku dan tingkah laku mukallaf, mulai dari peribadatan, pernikahan, transaksi, dan seterusnya.

Yang pertama dan kedua, kata Guru utama fiqih dan ushul fiqih di Ma’had Aly Pesantren Salafiyah As-Syafi’iyyah, Sukorejo, Situbondo ini, sifatnya universal dan statis, tidak mengalami perubahan di manapun dan kapanpun. Tentang keimanan kepada Allah dan hari akhir tidak berbeda antara orang dahulu dan sekarang, antara orang-orang benua Amerika dengan benua Asia.

Demikian juga, bahwa keikhlasan dan kejujuran adalah prinsip yang harus dipertahankan, tidak berbeda antara orang Indonesia dengan orang Nigeria. Penipuan selalu buruk, di manapun dan kapanpun. Dalam segmen keyakinan dan tuntunan moral ini, Islam tidak bisa di-embel-embeli dengan nama tempat, nama waktu, maupun nama tokoh.

Sementara yang ketiga, yaitu ajaran syari’at, masih harus dipilah antara yang tsawabith/qath’iyyat dan ijtihadiyyat. Hukum-hukum qath’iyyat seperti kewajiban shalat lima kali sehari semalam, kewajiban puasa, keharaman berzina, tata cara ritual haji, belum dan tidak akan mengalami perubahan (statis) walaupun waktu dan tempatnya berubah.

Shalatnya orang Eropa tidak berbeda dengan salatnya orang Afrika. Puasa, dari dahulu hingga Kiamat dan di negeri manapun, dimulai semenjak Subuh dan berakhir saat kumandang azan Maghrib.

Dikatakannya, penjelasan Al-Quran dan As-Sunah dalam hukum qath’iyyat ini cukup rinci, detil, dan sempurna demi menutup peluang kreasi akal. Akal pada umumnya tidak menjangkau alasan mengapa, misalnya, berlari bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwa saat haji. Oleh karena itu akal dituntut tunduk dan pasrah dalam hukum-hukum qath’iyyat tersebut.

Sementara itu, hukum-hukum ijtihadiyyat bersifat dinamis, berpotensi untuk berubah seiring dengan kemaslahatan yang mengisi ruang, waktu, dan kondisi tertentu. Hukum kasus tertentu dahulu boleh jadi haram, tapi sekarang atau kelak bisa jadi boleh.  Al-Quran dan As-Sunah menjelaskan hukum-hukum jenis ini secara umum, dengan mengemukakan prinsip-prinsipnya, meski sesekali merinci. Hukum ini memerlukan kreasi ijtihad supaya sejalan dengan tuntutan kemaslahatan lingkungan sosial.

Para tabi’in berpendapat bahwa boleh menetapkan harga (tas’ir), padahal Nabi Muhammad SAW melarangnya. Tentu saja mereka tidak menyalahi As-Sunah.  Perbedaan putusan itu karena kondisi pasar yang berubah, yaitu bahwa pada masa Nabi SAW harga melambung naik karena kelangkaan barang dan meningkatnya permintaan, sedangkan pada masa tabi’in disebabkan keserakahan pedagang. (Nailul Authar, V, 220) Di sini, para tabi’in membedakan antara-apa yang disebut ekonomi modern dengan-pasar persaingan sempurna dari pasar monopoli atau oligopoli misalnya.

Para tabi’in juga memfatwakan larangan keluar menuju masjid untuk perempuan muda karena melihat zaman demikian rusak, banyak laki-laki berandal yang sering usil hingga berbuat jahil, (Al-Muntaqa Syarḥul Muhadzdzab, I, 342) padahal Nabi sendiri bersabda supaya jangan sampai perempuan dilarang keluar menuju masjid.

Dalam pengertian hukum yang terakhir ini kita sah dan wajar menambahkan pada ‘Islam’ kata deiksis, seperti Islam Nusantara, Islam Amerika, Islam Mesir, dan seterusnya. Makna Islam Nusantara tak lain adalah pemahaman, pengamalan, dan penerapan Islam dalam segmen fiqih mu’amalah sebagai hasil dialektika antara nash, syari’at, dan ‘urf, budaya, dan realita di bumi Nusantara.

Dalam istilah “Islam Nusantara”, tidak ada sentimen benci terhadap bangsa dan budaya negara manapun, apalagi negara Arab, khususnya Saudi sebagai tempat kelahiran Islam dan bahasanya menjadi bahasa Al-Qur’an. Ini persis sama dengan nama FPI misalnya, saya benar-benar yakin kalau anggota FPI tidak bermaksud bahwa selain mereka bukan pembela Islam.

Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order

Taut Posted on Updated on

Illuminate Global Conspirations

Strategi Kaum Pagan Menuju The New World Order

Sejarah dunia mencatat bahwa Dinasti Rotschild merupakan dinasti paling terkemuka di Eropa di abad pertengahan. Sir Meyer Amschel Rotschild merupakan sesepuh dinasti ini yang juga disebuta sebagai Rotschild I. Keluarga Yahudi ini tinggal di sebuah rumah besar di pojok Judenstrasse (Jalan Yahudi) di Bavaria (sekarang Jerman). Kuat dugaan, Rotschild I merupakan pewaris kelompok Templar yang dibasmi dari seluruh Eropa oleh Paus Clement IV dan Raja Perancis, King Philip le Bel, di tahun 1307. Pada 1314, Grandmaster terakhir Templar bernama Jaques de Molay dibakar hidup-hidup hingga menemui ajal. Saat dibasmi, Templar banyak yang menyelamatkan diri ke Skotlandia, satu-satunya wilayah di Eropa yang tengah diekskomunikasikan dari Gereja. Namun Skotlandia bukan satu-satunya tempat persembunyian Templar. Para Templar yang dikenal sebagai jago-jago perang dan juga intelijen di abad pertengahan ini juga banyak yang menyusup di sejumlah wilayah Eropa.

Mereka yang bersembunyi di Portugis, Spanyol, dan Itali, menanggalkan jubah Templarnya dan mengganti nama menjadi Knight of Christ. Yang di Malta menjadi Knights of Rhodes atau Knights of Malta. Ada pula yang lari bersembunyi di Bavaria dan menjelma menjadi Knights of Teutonik. Penangkapan dan pengadilan atas Templar di Bavaria dilakukan dengan penuh sandiwara dan tidak dilaksanakan dengan sepenuh hati. Sebab itu organisasi ini masih eksis selama beraba-dabad di Bavaria dan juga secara klandestin di Eropa—dan menemukan tokoh baru di wilayah baru ini, seorang Yahudi paganism kaya raya dan dekat dengan praktek-praktek klenik dan okultisme seperti halnya Templar, bernama Meyer Amschell Rotschild. Ada anggapan juga bahwa sesungguhnya Rotschild I ini malah seorang tokoh Templar Klandestin sejak awalnya.

Di tahun 1773, Rotschild I mengundang 12 keluarga Yahudi terkemuka dunia untuk berkumpul di kediamannya. Dalam pertemuan tersebut, Rotschild I mengeluarkan dan membacakan 25 butir strategi penguasaan dunia yang di dalam Kongres Zionis Internasional I di Basel Swiss (1897) disahkan menjadi agenda gerakan Zionis Internasional dengan nama Protocolat of Zions. Selain itu, Rotschild juga memanggil dan memperkenalkan seorang Yahudi dari Ingolstadt, Bavaria, anak dari seorang Rabi Yahudi yang menyembunyikan keyahudiannya dan mengaku sebagai seorang Yesuit Katolik bernama Adam Weishaupt. Orang ini tertarik pada pemikiranpemikiran ajaran sesat Dinasti Kerajaan Perancis terakhir, yang dalam The Holy Blood Holy Grail (1982) disebut sebagai Dinasti Merovingian.

Awalnya, Rotschild menugaskan Weishaupt untuk memimpin Coven of Golden Dawn (Fajar Keemasan), sebuah sekte mistik pribadi keluarga Rotschild yang masih aktif sampai dengan hari ini. Kemudian, di dalam pertemuan tersebut, Rotschild menunjuk Weishaupt untuk membentuk dan memimpin sebuah sekte mistik kuno Bavaria bernama Illuminati (Yang Tercerahkan, kaum Gnostis sendiri menyebut Maria Magdalena sebagai The Illuminatrix). Illuminati merupakan sekte Luciferian (iblis) yang memiliki arti Sang Pembawa Cahaya.

Di dalam struktur keanggotaan Illuminati, lapisan tertinggi berada dalam kelompok Areopagites atau Tribunal yang memegang kendali atas sekte. Mereka inilah yang berhak hadir dalam pertemuan-pertemuan rahasia. Nesta Helen Webster dalam World Revolution: The Plot Against Civilisation (1921) menyebut bahwa keahlian Illuminati adalah dalam seni menipu dan memanipulasi, yang memanjakan dan menggerakan mimpi-mimpi orang-orang lugu dan memprovokasi serta mengarahkan mimpi-mimpi orang fanatic dengan memuji-muji dan mendongkrak keangkuhan serta kesomboingan intelektualitas mereka. Illuminati mempermainkan ketidakseimbangan otak manusia, dengan mendorong ambisi dan nafsu kekuasaan serta memandang rendah idealisme dan nilai-nilai luhur. Syahwat kekuasaan merupakan mainan utama dari Illuminati sejak dulu hingga millennium ketiga ini.

Siapa pun yang terpengaruh akan provokasinya, secara sadar atau tidak, telah menjadi pelayan bagi kelompok pemuja setan ini. Webster menegaskan, “Tujuan utama Illuminati adalah untuk kekuasaan dan kekayaan. Mereka memiliki tujuan untuk menguasai seluruh dunia dan seluruh umat manusia dengan jalan menghancurkan pemerintahan yang religius maupun yang sekuler. Illuminati akan bertahta dalam satu tatanan dunia yang sama sekali baru yang dinamakan sebagai The New World Order.”

Guna menuju penguasaan dunia, Illuminati mempergunakan semboyan “Tujuan Menghalalkan Cara”. Walau demikian, ada dua senjata utama mereka untuk mempengaruhi atau menundukkan sasaran, terutama politikus, pejabat militer, dan juga para penguasa, termsuk anggota legislatif. Yakni dengan uang dan seks. Dalam tulisan ketiga akan dipaparkan kisah penyatuan sekte Illuminati dengan gerakan Freemasonry, keduanya gerakan Yahudi paganis, dan juga kisah tentang Baron Franz Friedrich Knigge yang pada tahun 1780 direkrut menjadi anggota dan sikap Comte de Virieu yang keluar dari sekte tersebut.

Hari Yang Sibuk Meminta Maaf ???

Posted on

Fitrah manusia itu seperti dua sisi mata uang : Wadag/Wadug dan Ruh. Ingin benda-benda, tapi juga ingin makna. Kalau makna thok kan kecut. Tapi kalau benda thok, kaya thok, nanti jadi PANJENENGANIPUN KEWAN. Berhari raya itu mudah, namun ber-Idul Fitri itu yang teramat sangat sulit !

Berhariraya; mencari benda, menikmati benda, pokoknya yang sifatnya memenuhi wadagiyah, itu gampang. Allah menyediakan alam yang kaya raya, tinggal WASYRABU, asal LAA TASRIFU. Kalau ada yang miskin apalagi faqir, berarti ada dua kemungkinan. Pertama, kita memang pilih zuhud, pilih menjadi zahid, ACUH BEIBEH terhadap segala keduniaan. Kedua, ini yang gawat, ada sistem pengaturan kekayaan Allah yang tidak adil. Jadi kalau ada milyaran manusia di bawah garis kemiskinan, bisa dipastikan bahwa para manajer sejarah ini terdiri dari binatang-binatang yang kerasukan SYAITHANIRRAJIIM.

Tindakan memaafkan itu dilandasi oleh tugas untuk QUU ANFUSAKUM WA AHLIIKUM NAARA. Lain soal kalau kita sukar memaafkan disebabkan oleh WATAK PENDENDAM dalam diri kita. Dalam mekanisme psikologisnya, kecenderungan yang biasanya malah justru mendorong orang ‘NGINCENG’ kita dari balik pohon, menunggu kita melanggar lalu lintas. Makin banyak kita melanggar, makin punya kesempatan pula me-NAHIY MUNKAR kita.

Nah, kalau persyaratan- persyaratan maknawi dan proses MAAF-MEMAAFKAN itu sudah lumayan dipenuhi, maka kebangetan-lah kita kalau lantas kita masih juga tak mau memaafkan. Lha, wong Tuhan saja punya banyak nama dan sifat memaafkan : AL-‘AFUW, AL-GHAFUR dan lain-lain.

Tetapi kita memang punya hobi mengeksploitir watak pengampun Allah. Kita tumpuk dosa setinggi-tingginya karena toh Allah Maha Pengampun. Kita terapkan THEOLOGY OF BALANCE, bikin pelanggaran sebanyak-banyaknya dan bikin pahala untuk mengimbanginya. Kita terlalu ber-‘DOL TINUKU’ secara kampungan dengan Allah. Padahal, sekali lagi, tujuan setiap muslim ialah bagaimana mencapai kepribadian yang tak lagi perlu mohon maaf; justru karena memang sudah tak punya kesalahan dan dosa lagi. Juga terhadap sesama manusia kita semoga akan pernah amat sedikit saja butuh saling memaafkan, karena saking sedikitnya kesalahan yang kita bikin. Insya Allah, filsafat permaafan bukanlah alat ‘PENGHAPUS DOSA’ (sehingga dosa perlu dibikin dulu), melainkan metode agar kita tak lagi menyelenggarakan dosa.

Cakrawala perjalanan muslim ialah KEADAAN BEBAS MAAF. Keadaan dimana maaf tak diperlukan, karena relatif tak kita lakukan hal-hal yang perlu dimintakan maaf dan dimaafkan. Jadi, IDUL FITRI BUKANLAH PENGHAPUS KESALAHAN YANG KITA ADAKAN TERLEBIH DAHULU, melainkan BERUSAHA TIDAK UNTUK MELAKUKAN KESLAHAN KEMBALI.

~~~~~~~~
SELAMAT MENEGUHKAN ISTIQAMAH DAN MEMBANGUN PERADABAN BERSAMA DENGAN KELUARGA MASING-MASING

by KKC